PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih
Tampilkan postingan dengan label Kuliah KMB Gangguan Sistem Pencernakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah KMB Gangguan Sistem Pencernakan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2011

SIROSIS HEPATIS (CIRROSIS HEPATIS)

Dr. Suparyanto, M.Kes

SIROSIS HEPATIS (CIRROSIS HEPATIS)

BATASAN
  • Sirosis hepatis adalah : suatu fase lanjut dari penyakit hati dimana seluruh kerangka hati menjadi rusak disertai dengan bentukan bentukan regenerasi nodul

GEJALA KLINIS
  • Dibagi dua stadium :
  1. Sirosis kompensata dengan gejala klinis yang belum tampak
  2. Sirosis dekompensata dengan gejala klinis yang jelas

  • Diagnosis sirosis kompensata biasanya diketahui secara kebetulan pada saat check up hepatitis kronis, keluhanya berupa :
  1. Penurunan nafsu makan, Mual, Kembung, Sebah
  2. Kelemahan
  3. Malaise

Kegagalan parenkim hati ditandai dengan :
  1. Produksi protein yang rendah
  2. Gangguan mekanisme pembekuan darah
  3. Gangguan keseimbangan hormon
  4. Dengan ditemukan tanda : eritema palmaris, spider nevi, ginekomastia, atrofi testis, gangguan siklus haid .
  5. Hipoproteinemia menyebabkan : edema dan asites

  • Hipertensi portal umumnya timbul jika tekanan sistem portal > 10 mmHg yang ditandai dengan: splenomegali, asites
  • Ikterus meningkat pada proses yang aktif
  • Penderita sirosis biasanya dirawat bila timbul penyulit berupa: perdarahan saluran makan bagian atas akibat pecahnya varises esofagus, asites yang hebat, dan ikterus yang dalam

PENATALAKSANAAN
  1. Jika telah terjadi sirosis prosesnya tidak dapat dibendung, yang dapat dilakukan adalah mencegah terjadinya penyulit, membatasi kerja fisik, tidak minum alkohol, dan menghindari obat yang bersifat hepatotoksik
  2. Jika ada edema dan asites diusahakan:
  3. Istirahat mengurangi aktivitas fisik
  4. Diit TKTP, rendah garam: 300 – 500 mg/hari
  5. Pembatasan cairan: 1 liter / hari
  6. Tindakan parasentesis baru dapat dikerjakan bila dijumpai asites cukup besar dan menimbulkan kesulitan pernafasan

KOMPLIKASI
  1. Hematemesis melena
  2. Ensefalopati hepatik
  3. Infeksi saluran nafas / cerna
  4. Trombosis vena porta
  5. Hepatoma



HEPATITIS

Dr. Suparyanto, M.Kes

HEPATITIS

GEJALA KLINIS
  • Umumnya melalui 4 tahap :
1. Masa tunas / inkubasi :
  • Virus Hb A : 14 – 45 hari
  • Virus Hb B : 40 – 180 hari
  • Virus Hb NANB : 15 – 60 hari
  • Virus delta : 40 – 180 hari

2. Masa prodormal / preikterik : 3 – 10 hari
  • Rasa lesu / lemah badan
  • Panas
  • Mual sampai muntah
  • Anoreksia
  • Nyeri perut kanan

3. Masa ikterik : 1 – 2 minggu
  • Urine berwarna coklat
  • Sklera kuning → sampai seluruh badan
  • Hepatomegali ringan yang nyeri tekan

4.Masa penyembuhan : 3 – 4 bulan
  • Ikterus berangsur kurang → hilang dalam 2–6 minggu
  • Menghilangnya gejala : anoreksia, lemah badan dan hepatomegali
  • Virus Hb B : 60 % dapat menjadi fulminan (Fulminant hepatitis atau Fulminant Hepatic Failure) → prognose jelek → fatal

LABORATORIUM

1. Masa Prodormal :
  • Leukosit sedikit menurun
  • Transaminase serum meningkat 10 – 100 kali harga normal sebelum timbul ikterik (SGOT : L = 10 – 34 u/l W = 10 – 31 u/l) (SGPT : L= 9 – 43 u/l W = 9 – 36 u/l)
  • Akhir masa prodormal : timbul bilirubiuria → mendahului ikterus

2. Masa Ikterik :
  • Ikterus pada sclera baru tampak bila : bilirubin serum > 2,5 mg/dl
  • Hiperbilirubinemia mencapai puncak → 10 mg / dl dalam 2 minggu dan berangsur turun dalam masa penyembuhan
  • Transaminase serum lebih dulu mencapai puncak dari pada bilirubin, tetapi lebih lambat mencapai normal
  • Alkali fosfatase meningkat sedikit (3 kali Normal) (L : 80 – 306 u / l W = 65 – 306 u / l)

DIAGNOSIS
  • Berdasarkan gejala kilnis dan hasil laboratorium

PENATALAKSANAAN
  1. Istirahat baring → selama masih banyak keluhan
  2. Mobilisasi dimulai → jika keluhan mulai berkurang, hasil laboratorium mulai menurun )
  3. Aktivitas normal → setelah keluhan hilang dan hasil lab. Normal
  4. Diet khusus tidak ada → usahakan TKTP
  5. Pengobatan spesifik belum ada
  6. Roboransia

PENCEGAHAN
  1. Memakai sarung tangan jika kontak dengan tinja / darah penderita
  2. Skrening donor darah
  3. Pemakaian jarum suntik disposable
  4. Imunisasi

PROGNOSIS
  1. Sebagian besar sembuh sempurna
  2. Hb B : 90 % sembuh sempurna, 5 – 10 % menjadi kronik (> 6 bulan) → jangka panjang menjadi sirosis atau hepatoma




Sabtu, 06 Agustus 2011

DIARE

Dr. Suparyanto, M.Kes

DIARE

1.Pengertian Diare
  • Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami buang air besar yang sering dan masih memiliki kandungan air berlebihan. Di Dunia ke-3, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, membunuh lebih dari 1,5 juta orang per tahun (Utami, 2005).
  • Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Soetjiningsih, 2004).
  • Diare atau gastroenteritis (GE) adalah suatu infeksi usus yang menyebabkan keadaan faeces bayi encer dan/atau berair, dengan frekuensi lebih dari 3 kali perhari, dan kadang disertai muntah. Muntah dapat berlangsung singkat, namun diare bisa berlanjut sampai sepuluh hari. Kondisi ini dapat merupakan gejala dari luka, penyakit, alergi (fructose, lactose), penyakit dari makanan atau kelebihan vitamin C dan biasanya disertai sakit perut, dan seringkali mual dan muntah. Ada beberapa kondisi lain yang melibatkan tapi tidak semua gejala diare, dan definisi resmi medis dari diare adalah defekasi yang melebihi 200 gram per hari (Safitri, 2006).

2.Penyebab Diare
  1. Virus (penyebab diare tersering dan umumnya karena Rotavirus) gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, tidak ada darah lendir, berbau asam.
  2. GE (Gastro enteritis atau flu perut) terbanyak karena virus.
  3. Bakteri. Berak-berak dengan darah/lendir, sakit perut. Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.
  4. Parasite (Giardiasis). Berak darah positif atau negatif dan lendir, sakit perut perlu antiparasite agar parasit yang ada didalam perut mati sehingga diare dapat teratasi.
  5. Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotika. Bila diare terjadi saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter anda.
  6. Alergi susu formula, diare biasanya timbul beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut, biasanya pada alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.
  7. Infeksi dari bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain; misalnya infeksi saluran kencing, infeksi telinga, campak dll.
  8. Pengolahan makanan yang salah
  9. Konsumsi alkohol yang berlebihan, terutama dalam seseorang yang tidak cukup makan.
  10. Tumbuhnya gigi pada anak sering disertai diare. Hal ini diduga berhubungan dengan kondisi psikologis anak.
  11. Kepekaan terhadap suatu makanan dalam diet. Diet yang salah misalnya mengurangi makan dan mengkonsumsi obat-obat pelangsing dapat menyebabkan diare.
  12. Terlalu banyak buah, sari buah (terutama apel atau anggur) atau makan jenis pencahar lainnya.

Menurut Nelson (2003) faktor penyebab diare, antara lain :

a. Faktor infeksi
  • Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada balita. Jenis infeksi yang umumnya menyerang adalah sebagai berikut :
  1. Infeksi bakteri oleh kuman E.colly, salmonella, dan vibrio cholerae (kolera).
  2. Infeksi basil (disentri)
  3. Infeksi virus, entero virus dan adeno virus.
  4. Infeksi parasit oleh cacing (Asculis)
  5. Infeksi jamur (candidiasis)
  6. Infeksi akibat orang lain (radang tonsil dan radang tenggorokan).

b. Faktor Malabsorsi

1). Malabsorbsi karbohidrat
  • Kepekaan balita ke dalam laktobacillus ke dalam susu formula menyebabkan diare, tinja berbau sangat asam, sakit di daerah perut jika sering terkena diare maka pertumbuhan anak akan terganggu.
2). Malabsorbsi lemak
  • Dalam makanan terdapat lemak yang disebut trigliserida dengan bantuan kelenjuar limpase mengubah lemak menjadi unisel yang siap absorbinya di usus. Jika tidak ada lipase akan terjadi kerusakan mukosa usus. Diare dapat muncul karena lemak tidak terserat dengan baik.
c). Faktor makanan
  • Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, sayuran mentah dan kurang matang.
d). Faktor psikologis
  • Rasa takut, cemas dan tegang jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis.

3.Jenis Diare
  • Karakteristik diare :
a. Mayor (harus terdapat satu atau lebih)
  1. Feses lunak, cair atau
  2. Peningkatan frekuensi defekasi
b. Minor (mungkin terdapat)
  1. Dorongan
  2. Kram atau nyeri abdomen
  3. Frekuensi bising usus meningkat
  4. Peningkatan dalam keenceran atau volume feses. (Lynda Juall, 2006).

  • Penatalaksanaan diare bergantung pada jenis klinis penyakitnya, yang dengan mudah ditentukan saat anak pertama kali sakit. Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan. Empat jenis klinis diare antara lain:
  1. Diare akut bercampur air (termasuk kolera) yang berlangsung selama beberapa jam/hari: bahaya utamanya adalah dehidrasi, juga penurunan berat badan jika tidak diberikan makan/minum
  2. Diare akut bercampur darah (disentri): bahaya utama adalah kerusakan usus halus (intestinum), sepsis (infeksi bakteri dalam darah) dan malnutrisi (kurang gizi), dan komplikasi lain termasuk dehidrasi.
  3. Diare persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih lama): bahaya utama adalah malnutrisi (kurang gizi) dan infeksi serius di luar usus halus, dehidrasi juga bisa terjadi.
  4. Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor): bahaya utama adalah infeksi sistemik (menyeluruh) berat, dehidrasi, gagal jantung, serta defisiensi (kekurangan) vitamin dan mineral (Safitri, 2006).
4. Gejala Diare
  1. Tinja yag encer : tinja tampak seperti air cucian beras atau air tajin
  2. Lebih sering buang air besar : frekuensi buang air besar meningkat sehingga mengakibatkan dehidrasi yang disertai keadaan turgor kulit menurun, mata cekung.
  3. Tinja berlendir
  4. Muntah : timbulnya muntah disebabkan karena asam lambung meningkat.
5. Pencegahan Diare
  • Diare tidak selalu dapat dicegah, tetapi resikonya dapat dikurangi :
  1. Teruskan Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
  2. Melarutkan sari buah yg diberikan kepada bayi; membatasi jumlah total pemberian sari buah (beberapa bayi dan anak kecil diketahui mengalami diare khronis akibat meminum sekitar 1 liter sari apel atau anggur setiap harinya).
  3. Menerapkan perilaku mencuci tangan dengan sabun pada saat yang tepat. Waktu yang tepat di sini menunjukkan pada aktivitas berkontak langsung dengan benda-benda yang kotor.
  4. Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
  5. Ingat untuk menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan. Juga kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.

6. Penatalaksanaan Diare

a. Untuk bayi yang menyusui ASI
  1. Hentikan makanan padat
  2. Berikan cairan suplemen cairan jernih
  3. Lanjutkan menyusu ASI
b. Untuk bayi menyusu formula
  1. Hindari cairan cairan carbohidrat tinggi (mis: minuman ringan gelatin,jus jeruk, minuman berkafein,kaldu ayam atau daging)
  2. Gunakan larutan rehidrasi oral (mis: Pedialite, lytran, reselite, resol). Berikan 60-80 ml/kg selama lebih dari dua jam untuk diare ringan sampai sedang.
  3. Secara bertahap tambahan pada diet reguler (kecuali produk susu setelah 36 sampai 48 jam setelah 3 sampai 5 hari, secara bertahap tambahkan susu skim pada susu encer sampai menjadi susu kental.
  4. Secara bertahap kenalkan formula (formula encer pada formula kental)
  5. Jelaskan diet BRATT (banana, rice, aplecouce, teh dan touse) untuk mengatasi efek diare

c. Penatalaksanaan diare yang lain, antara lain :
  1. Lakukan observasi awal penyebab diare..
  2. Anak penderita diare ringan tetap dapat mengkonsumsi makanan biasa, termasuk susu. ASI tetap dapat diberikan.Jika anak terlihat kembung setelah minum susu sapi atau formula, hubungi DSA. Diskusikan kemungkinan mengganti susu. Biasanya susu yang digunakan yaitu susu free-lactose (FL). Cairan khusus (pengganti cairan tubuh) umumnya belum diperlukan pada anak penderita diare ringan.
  3. Anak penderita diare sedang dapat dirawat di rumah dengan pengawasan ekstra dan petunjuk dari DSA-nya.
  4. Jangan membuat sendiri cairan ini. Takaran dan kandungan dari oralit sangat kompleks.
  5. Untuk diare berat dengan gejala-gejala dehidrasi berat harus diberi cairan infus.
  6. Banyak minum (paling sedikit 55 cc air setiap jam) untuk menggantikan cairan yg hilang melalui diare.
  7. Lanjutkan makanan padat, jika bayi sudah biasa makan makanan padat.
  8. Jika ada muntah, makanan padat biasanya tidak diberikan sampai muntah ini berhenti. Tetapi tawarkan cairan yang bening (sari buah yang diencerkan atau cairan rehidrasi, jika dianjurkan oleh dokter) atau untuk anak yg sudah lebih besar, tawarkan es lilin yang dibuat dari sari buah yang diencerkan.
  9. Ketika tinja mulai normal kembali, biasanya setelah dua atau tiga hari, dokter akan menganjurkan anda untuk kembali ke diet bayi yang biasanya, tetapi tetap membatasi susu dan produk susu lainnya (kecuali asi atau susu formula untuk satu atau dua hari lebih lama.
  10. Pada diare yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, pada bayi yang minum susu botol, dokter mungkin menganjurkan perubahan susu formulanya.
  11. Pengobatan untuk membantu meringankan gejala :
a.  Loperamide (“Imodium”)
  • Petunjuk penggunaan: untuk mengawali, konsumsi dua butir tablet. Kemudian gunakan satu tablet tiap kali anda buang air besar (jangan konsumsi lebih dari 8 tablet dalam jangka waktu 24 jam). Jangan berikan obat ini pada bayi, anak-anak dan wanita hamil.
b. Bismuth subsalicylate (“Pepto-bismol”)
  • Pentunjuk penggunaan: apabila anda menggunakan tablet, minum dua butir tablet tiap 30 menit hingga diare berkurang. Jangan mengkonsumsi lebih dari 16 tablet dalam jangka waktu 24 jam. Apabila anda menggunakan obat cair, minum 6 sendok teh (30 mls) setiap 30 menit hingga diare berkurang. Jangan mengkonsumsi obat lebih dari 8 kali dalam jangka waktu 24 jam. Jangan berikan pada bayi dan anak-anak. (Suririnah, 2007)
7. Kriteria Dehidrasi Karena Diare
  • Derajat dehidrasi dinilai dari tanda dan gejala yang menggambarkan kehilangan cairan tubuh. Pada tahap awal, yang ada hanya mulut kering dan rasa haus. Seiring meningkatnya dehidrasi, muncul tanda-tanda seperti: meningkatnya rasa haus, gelisah, elastisitas (turgor) kulit berkurang, membran mukosa kering, mata tampak cekung, ubun-ubun mencekung (pada bayi), dan tidak adanya air mata sekalipun menangis keras.
a. Dehidrasi minimal atau tanpa dehidrasi (kehilangan < 3% cairan tubuh) 
  1. Status mental: baik, waspada 
  2. Rasa haus: minum baik, mungkin menolak cairan 
  3. Denyut nadi: normal 
  4. Kualitas kecukupan isi nadi: normal 
  5. Pernapasan: normal 
  6. Mata: normal 
  7. Air mata: ada 
  8. Mulut dan lidah: lembap (basah) 
  9. Elastisitas kulit: cepat kembali setelah dicubit 
  10. Pengisian kapiler darah: normal 
  11. Suhu lengan dan tungkai: hangat 
  12. Produksi urin: normal sampai berkurang 
b.Dehidrasi ringan sampai sedang (kehilangan 3 – 9% cairan tubuh) 
  1. Status mental: normal, lesu, atau rewel 
  2. Rasa haus: haus dan ingin minum terus 
  3. Denyut nadi: normal sampai meningkat 
  4. Kualitas kecukupan isi nadi: normal sampai berkurang 
  5. Pernapasan: normal; cepat 
  6. Mata: agak cekung 
  7. Air mata: berkurang 
  8. Mulut dan lidah: kering 
  9. Elastisitas kulit: kembali sebelum 2 detik 
  10. Pengisian kapiler darah: memanjang (lama) 
  11. Suhu lengan dan tungkai: dingin 
  12. Produksi urin: berkurang 
c. Dehidrasi berat (kehilangan > 9% cairan tubuh)
  1. Status mental: lesu, sampai tidak sadar
  2. Rasa haus: minum sangat sedikit, sampai tidak bisa minum
  3. Denyut nadi: meningkat, sampai melemah pada keadaan berat
  4. Kualitas kecukupan isi nadi: lemah, sampai tidak teraba
  5. Pernapasan: dalam
  6. Mata: sangat cekung
  7. Air mata: tidak ada
  8. Mulut dan lidah: pecah-pecah
  9. Elastisitas kulit: kembali setelah 2 detik
  10. Pengisian kapiler darah: memanjang (lama), minimal
  11. Suhu lengan dan tungkai: dingin, biru
  12. Produksi urin: minimal (sangat sedikit) (Safitri, 2006)

d. Penanganan Dehidrasi Karena Diare Di Rumah

1). Pemberian makanan bayi
  • Jika ibu menyusui, ASI terus diberikan dan diberikan lebih sering. Bayi dengan susu formula boleh diberikan cairan rehidrasi oral selama 12 jam pertama, setelah itu dilanjutkan dengan pemberian susu formula lebih sedikit dari jumlah yang biasa diberikan, namun diberikan lebih sering.
2). Cairan Rehidrasi Oral (CRO)/Clear fluid
  • Anak dengan diare harus terus minum CRO atau clear fluid. CRO yang kita kenal bisanya oralit (dalam bentuk kantung sachet dengan atau tanpa rasa tambahan) atau CRO khusus anak (yang tersedia dalam kemasan botol plastik dengan aneka rasa). Cairan tersebut dapat dibeli di apotek atau toko obat, tapi bila tidak tersedia dapat diberikan CRO lain seperti yang disebutkan di bawah ini. Untuk bayi hingga usia sembilan bulan, pembuatan CRO harus menggunakan air mendidih yang telah didinginkan.
  • Cara membuat CRO
  1. Oralit satu sachet dilarutkan dengan dua gelas (400 ml) air
  2. CRO khusus anak (kemasan botol) siap digunakan
  3. Larutan gula satu sendok makan gula dilarutkan dengan dua gelas (200 ml) air
  4. Limun (bukan yang rendah kalori) satu gelas limun dilarutkan dgn 4 gelas (800mL) air
  5. Jus Buah satu gelas jus dilarutkan dengan empat gelas (800 ml) air . Perhatian : Minuman mengandung gula harus diencerkan, karena terlalu banyak gula pada bayi kecil dapat memperberat diare. (Safitri, 2006)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul Aziz.2003. Metode dan Riset Keperawatan. PT.Rineka Cipta. Jakarta.
  2. Amirudin. 2007. Praktik Menyusui di Dunia. http://www.nakita.com. diakses tanggal 7 Maret 2009
  3. Arikunto, S, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
  4. BKKBN, 2008. Cakupan ASI Eksklusif. http://www.Pikiran-Rakyat.com. diakses tanggal 7 Maret 2009.
  5. Dinkes, Jatim. 2007. Standar Pelayanan Minimal. http://www.dinkes-jatim.com. diakses tanggal 7 Maret 2009.
  6. Heather. 2001. Promosi ASI Eksklusif. http://www.info-balita.com.id diakses tanggal 7 Maret 2009.
  7. Jensen. 2005. Kebutuhan Cairan Ibu Menyususi. http://www.Pikiran-Rakyat.com. diakses tanggal 7 Maret 2009.
  8. Kristina.2007. ASI Eksklusif dan Diare. http://www.info ibu.com. diakses tanggal 7 Maret 2009
  9. Linda, Juall.2006. Diagnosa Keperawtan. Jakarta:EGC
  10. Lita. 2007. Rendahnya Pemberian ASI. http://www.Pikiran-Rakyat.com. diakses tanggal 7 Maret 2009.
  11. Nazir. 2005. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia
  12. Markum.2003.Diare Pada Balita. http://www.info ibu.com. diakses tanggal 7 April 2009
  13. Notoatmodjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  14. Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  15. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta
  16. Nursalam, 2003. Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
  17. Pekey. 2007. Prevalensi Pemberian ASI. http://www.Pikiran-Rakyat.com. diakses tanggal 7 April 2009.
  18. Safitri.2006. ASI Eksklusif. http://www.info ibu.com. diakses tanggal 7 Maret 2009
  19. SKRT.2004. Angka Kejadian Diare. Jakarta:PT. Rineka Cipta
  20. Suciningsih.2004.Susu Formula dan Diare. http://www.kompas.com. diakses tanggal 7 Maret 2009
  21. Sugiyono. 2006. Statistik Untuk Kesehatan. ALFABETA. Bandung
  22. Supariasa.2001. Pemantauan Status Gizi. Jakarta:EGC
  23. Suradi, 2006. ASI Menyelamatkan Jiwa Bayi. http://www.kompas.com. diakses tanggal 7 Maret 2009
  24. Suririnah. 2007.Faktor Penyebab Diare. http://WWW. Info-Balita.com.id diakses pada tanggal 7 Maret 2009
  25. Tarmudji.2003.Faktor Pemberian ASI Eksklusif. Jakarta:Salemba Medika
  26. Utami, Roesli. 2004. ASI dan Manfaatnya. http://www.Pikiran-Rakyat.com. diakses tanggal 7 Maret 2009.
  27. Utami. 2005. Diare Pada Balita. . http: // WWW. Info-kia.com. id diakses pada tanggal 7 Maret 2009
  28. Warta.2006. Diare. http: // WWW. Info-balita.com. id diakses pada tanggal 7 Maret 2009





Minggu, 22 November 2009

KOLESISTITIS (RADANG EMPEDU)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Kolesistitis adalah radang kandung empedu

ETIOLOGI :
  • Batu empedu
  • Infeksi : E. coli, Salmonella typhi
  • Trauma
  • Pembedahan

GAMBARAN KLINIS:
  • Kolik bilier dengan penjalaran ke pundak bahu kanan
  • Mual dan muntah
  • Menggigil dan rigor
  • Demam
  • Nyeri tekan kuadran kanan atas
  • Kandung empedu teraba
  • Ikterus

PENATALAKSANAAN:
  • Rehidrasi intravena
  • Analgetik
  • Antibiotika
  • Kolesistektomi (kontroversial)

KOLELITIASIS

BATASAN :
  • Batu kandung / saluran empedu
GEJALA KLINIS :
  • Sering tanpa gejala
  • Ikterus yang berfluktuasi
  • Kolangitis : Trias Charcot : nyeri, demam dan ikterus
  • Nyeri pada kuadran kanan atas
  • Kandung empedu teraba

PENATALAKSANAAN
  • Pada kolangitis : rehidrasi iv, analgesik, antibiotika
  • Pembedahan

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

PANKREATITIS (RADANG PANKREAS)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
Pankreatitis adalah radang pankreas

ETIOLOGI :
  • Penyakit saluran empedu
  • Idiopatik
  • Alkoholik
  • Obat obatan : steroid, thiazide, estrogen, tetrasiklin
  • Infeksi virus : Mumps, hepatitios, varisela
  • Tumor pankreas

GEJALA KLINIS:
  • Nyeri epigastrik atau kuadran kanan atas, yang menjalar ke punggung dan menghilang bil;a membungkuk ke arah depan
  • Mual muntah
  • Dispepsia
  • Diare
  • Demam
  • Takikardia
  • Ikterus

PENATALAKSANAAN:
  • Analgesik untuk menghilangkan nyeri
  • Infus untuk mengatasi syok
  • Dekompresi nasogastrik untuk mengatasi ileus
  • Antasida & antagonis H2 untuk mengatasi ulkus peptikum
  • Antibiotika untuk mengatasi infeksi

KARSINOMA KANDUNG EMPEDU

ETIOLOGI:
  • Berkaitan dengan batu empedu
  • Sering timbul pada usia > 70 tahun
  • Wanita 3 x lebih sering dari pada pria

GAMBARAN KLINIS:
  • Nyeri epigastrium
  • Penurunan BB
  • Ikterus

DIAGNOSIS :
  • USG
  • CT scaning

PENATALAKSANAAN :
  • Pembedahan
  • Prognosis sangat buruk, rata rata bertahan 6 bulan

KARSINOMA PANKREAS

ETIOLOGI :
  • Merokok
  • Konsumsi kopi masih kontroversi
  • Pankreatitis kronik masih kontroversi
  • Diabetes mellitus masih kontroversi

GAMBARAN KLINIS :
  • Nyeri , biasanya epigastrik dan menjalar ke posterior
  • Berat badan menurun
  • Ikterus
  • Anoreksia, mual, muntah

DIAGNOSIS :
  • USG
  • CT scaning
  • Biopsi jarum halus diambil dari massa pankreas

PENATALAKSANAAN :
  • Pembedahan
  • Kemoterapi: 5-flourouracil

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

HEPATOMA (KANKER HATI)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Hepatoma adalah proses keganasan pada hati disebut juga : Karsinoma hepatoseluler atau Kanker Hati Primer
  • Merupakan tumor ganas nomer 2 didunia

PATOFISIOLOGI
  • Masih belum jelas
  • Diduga berhubungan dengan :Virus Hepatitis B, Bahan Hepatokarsinogenik :Aflatoksin, Alkohol, Steroid anabolik, Kontrasepsi oral

GEJALA KLINIS:
  • Fase dini : asimtomatik
  • Fase lanjut : tidak ada tanda yang khas
  • Nyeri abdomen
  • Kelemahan
  • Penurunan BB
  • Anoreksia
  • Rasa penuh setelah makan
  • Mual dan muntah

PEMERIKSAAN FISIK:
  • Ikterus
  • Hepatomegali yang berdungkul dungkul
  • Asites
  • Splenomegali, spider nevi, eritema palmaris, edema

PENATALAKSANAAN:
  • Fase dini: tumor masih setempat, pembedahan merupakan pilihan utama
  • Fase lanjut: pembedahan tidak berarti, hanya diberikan obat paliatif dengan sitostatika, kematian biasanya 2 – 6 bulan setelah diagnosis ditegakan.

KOMPLIKASI:
  • Metastasis
  • Ruptur

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

CIRRHOSIS HEPATIS (SIRROSIS HATI)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Sirosis hepatis adalah : suatu fase lanjut dari penyakit hati dimana seluruh kerangka hati menjadi rusak disertai dengan bentukan bentukan regenerasi nodul

GEJALA KLINIS:
  • Dibagi dua stadium :
  1. Sirosis kompensata dengan gejala klinis yang belum tampak
  2. Sirosis dekompensata dengan gejala klinis yang jelas
  • Diagnosis sirosis kompensata biasanya diketahui secara kebetulan pada saat check up hepatitis kronis, keluhanya berupa :
  1. Penurunan nafsu makan, Mual, Kembung, Sebah
  2. Kelemahan
  3. Malaise

  • Kegagalan parenkim hati ditandai dengan :
  • Produksi protein yang rendah
  • Gangguan mekanisme pembekuan darah
  • Gangguan keseimbangan hormon
  • Dengan ditemukan tanda : eritema palmaris, spider nevi, ginekomastia, atrofi testis, gangguan siklus haid .
  • Hipoproteinemia menyebabkan : edema dan asites

  • Hipertensi portal umumnya timbul jika tekanan sistem portal > 10 mmHg yang ditandai dengan: splenomegali, asites
  • Ikterus meningkat pada proses yang aktif
  • Penderita sirosis biasanya dirawat bila timbul penyulit berupa: perdarahan saluran makan bagian atas akibat pecahnya varises esofagus, asites yang hebat, dan ikterus yang dalam

PENATALAKSANAAN:
  • Jika telah terjadi sirosis prosesnya tidak dapat dibendung, yang dapat dilakukan adalah mencegah terjadinya penyulit, membatasi kerja fisik, tidak minum alkohol, dan menghindari obat yang bersifat hepatotoksik
  • Jika ada edema dan asites diusahakan :
  • Istirahat mengurangi aktivitas fisik
  • Diit TKTP, rendah garam : 300 – 500 mg/hari
  • Pembatasan cairan : 1 liter / hari
  • Tindakan parasentesis baru dapat dikerjakan bila dijumpai asites cukup besar dan menimbulkan kesulitan pernafasan

KOMPLIKASI:
  • Hematemesis melena
  • Ensefalopati hepatik
  • Infeksi saluran nafas / cerna
  • Trombosis vena porta
  • Hepatoma

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

HEPATITIS (RADANG HATI/ LIVER)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Hepatitis virus akut adalah : penyakit radang hati akut karena infeksi virus hepatotropik

ETIOLOGI :
  • Virus A, virus B, virus non A non B, virus delta, virus Epstein Barr, virus citomegalo.

PATOFISIOLOGI :
  • Cara penularan melalui fecal-oral (HAV) maupun parenteral (HBV)

GEJALA KLINIS;
  • Umumnya melalui 4 tahap:
  • Masa tunas / inkubasi :
  • Virus Hb A : 14 – 45 hari
  • Virus Hb B : 40 – 180 hari
  • Virus Hb NANB : 15 – 60 hari
  • Virus delta : 40 – 180 hari

  • Masa prodormal / preikterik: 3 – 10 hari
  • Rasa lesu / lemah badan
  • Panas
  • Mual sampai muntah
  • Anoreksia
  • Nyeri perut kanan

  • Masa ikterik: 1 – 2 minggu
  • Urine berwarna coklat
  • Sklera kuning, sampai icterus seluruh badan
  • Hepatomegali ringan yang nyeri tekan

  • Masa penyembuhan: 3 – 4 bulan
  • Ikterus berangsur kurang dan akan hilang dalam waktu 2–6 minggu
  • Menghilangnya gejala : anoreksia, lemah badan dan hepatomegali

  • Virus Hb B: 60 % dapat menjadi fulminan (Fulminant hepatitis atau Fulminant Hepatic Failure), jika terjadi maka prognose jelek dan sering berakibat fatal

LABORATORIUM:

Masa Prodormal :
  • Leukosit sedikit menurun
  • Transaminase serum meningkat 10 – 100 kali harga normal sebelum timbul ikterik (SGOT : L = 10 – 34 u/l W = 10 – 31 u/l) (SGPT : L= 9 – 43 u/l W = 9 – 36 u/l)
  • Akhir masa prodormal : timbul bilirubiuria yang mendahului ikterus

Masa ikterik :
  • Ikterus pada sclera baru tampak bila : bilirubin serum > 2,5 mg/dl
  • Hiperbilirubinemia mencapai puncak yaitu 10 mg / dl dalam 2 minggu dan berangsur turun dalam masa penyembuhan
  • Transaminase serum lebih dulu mencapai puncak dari pada bilirubin, tetapi lebih lambat mencapai normal
  • Alkali fosfatase meningkat sedikit (3 kali Normal) (L : 80 – 306 u / l W = 65 – 306 u / l)

DIAGNOSIS; Berdasarkan gejala kilnis dan hasil laboratorium

PENATALAKSANAAN:
  • Istirahat baring, selama masih banyak keluhan
  • Mobilisasi dimulai, jika keluhan mulai berkurang, hasil laboratorium mulai menurun )
  • Aktivitas normal, setelah keluhan hilang dan hasil lab. Normal
  • Diit khusus tidak ada, usahakan TKTP
  • Pengobatan spesifik belum ada
  • Roboransia

PENCEGAHAN:
  • Memakai sarung tangan jika kontak dengan tinja / darah penderita
  • Skrening donor darah
  • Pemakaian jarum suntik disposable
  • Imunisasi

PROGNOSIS:
  • Sebagian besar sembuh sempurna
  • Hb B : 90 % sembuh sempurna, 5 – 10 % menjadi kronik (> 6 bulan)  jangka panjang menjadi sirosis atau hepatoma

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

PERITONITIS (RADANG PERITONIUM)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Peritonitis adalah keradangan pada peritonium

ETIOLOGI;
  • Bakterial
  • Kemikal: cairan lambung, empedu dan pankreas akibat perforasi

GEJALA KLINIS:
  • Nyeri perut yang mendadak, mula mula disuatu tempat, lama lama meluas keseluruh abdomen
  • Rasa mual dan muntah
  • Panas badan tinggi
  • Tidak dapat defekasi dan flatus ( peristaltik melemah / berhenti )
  • Shock hipovolemik atau septik
  • Perut distensi dengan pernafasan yang tertinggal
  • Defans muskuler
  • Peristaltik menghilang

PENATALAKSANAAN:
  • Mengatasi shock beri infus Na Cl 0,9 %
  • Pemasangan pipa lambung untuk dekompresi
  • Pemasangan kateter urine
  • Antibiotika
  • Penangganan penyulit : O2 , asidosis
  • Pembedahan

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

APPENDICITIS (RADANG USUS BUNTU)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Appendicitis adalah infeksi akut pada appendiks

GEJALA KLINIS;
  • Sering dimulai dengan nyeri didaerah epigastrium, setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di fossa iliaca dekstra
  • Disusul anorexia, mual dan muntah
  • Suhu badan sub febris sampai panas tinggi 40 oC
  • Nyeri dengan rangsangan peritoneal di daerah Mc. Burney
  • Nyeri tekan daerah Mc. Burney
  • Nyeri saat jalan atau batuk
  • Defance muskuler
  • Rebound penomena : menekan perut bagian kiri dan dilepas mendadak
  • Rovsing sign : menekan daerah colon descenden / transversum, udara akan menekan caecum, menimbulkan rasa sakit
  • Tes horn sign : menarik testis kanan
  • Psoas sign : mengangkat tungkai kanan dalam extensi
  • Obsturator sign : fleksi dan endorotasi sendi coxae
  • Rectal toucher : nyeri pada jam 10 – 11

PENATALAKSANAAN: operasi appendiktomi

PERI APPENDIKULER INFILTRAT
  • Pembukusan appendik yang meradang oleh omentum dan organ organ intra abdominal, yang merupakan mekanisme pembelaan diri. Sehingga terbentuk suatu massa di fossa iliaca kanan

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

SINDROMA MALABSORBSI

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Sindroma malabsorbsi adalah berbagai kelainan yang menimbulkan malabsorbsi intestinal dari elektrolit, karbohidrat, protein, lemak dan vitamin

GEJALA KLINIS:
  • Steatore
  • Rasa tidak enak pada perut
  • Distensi abdomen
  • Penurunan BB
  • Anemia

ETIOLOGI;
  • Kelainan mukosa
  • Kongenital
  • Infeksi
  • Gangguan kelenjar pencernaan
  • Obstruksi limfatik
  • Penyakit ekstra intestinal : DM. Penyakit Addison

PEMERIKSAAN:
  • Tes fungsi usus halus :
  • Tes malabsorbsi karbohidrat
  • Tes malabsorbsi lemak
  • Tes malabsorbsi protein
  • Tes malabsorbsi garam empedu
  • Test malabsorbsi vitamin B12
  • Biopsi usus halus
  • Radiologi dengan barium

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

CARCINOMA COLORECTAL

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Carcinoma colorectal adalah proses keganasan dari mukosa kolon rectum

PATOFISIOLOGI:
  • Penyebab pasti belum diketahui
  • Faktor predisposisi :Riwayat kanker dalam keluarga, Polip usus, Kolitis ulcerosa, Kebiasaan makan tinggi lemak rendah serat

GEJALA KLINIS:
  • Dispepsia
  • Anemia
  • Penurunan BB
  • Anoreksia
  • Malaise
  • Nyeri perut
  • Benjolan perut
  • Keadaan darurat : perdarahan, perforasi, obstruksi

DIAGNOSIS
  • Anamnesa adanya pola perubahan BAB yang disertai darah terutama pada penderita usia > 40 tahun
  • Anemia
  • Mass abdomen
  • Pembesaran kelenjar limfe
  • Pembesaran hati
  • Pemeriksaan tambahan :Rectal toucher, Foto dengan kontras, Recto – sigmoidoscopi, Biopsi

PENATALAKSANAAN
  • Operasi : reseksi usus
  • Kemoterapi : dengan 5-fluorourasil untuk kasus yang inoperabel

KOMPLIKASI
  • Perforasi
  • Peritonitis
  • Perdarahan
  • Obstruksi
  • Abses
  • Fistula

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

HEMOROID INTERNA

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Hemoroid interna adalah: pelebaran, pemanjangan dan berkelok-keloknya vena pada pleksus hemoroidalis superior

ETIOLOGI
  1. Obstruksi sitem portal: serosis hepatis, trombosis v. porta, tumor abdomen, kehamilan
  2. Idiopatik: genetik, vena porta tidak mempunyai klep, diare

GEJALA KLINIS
  1. Perdarahan per anum yang berupa darah segar, tanpa disertai rasa nyeri, terutama sehabis defekasi
  2. Prolap yang berasal dari tonjolan hemoroid sesuai dengan gradasinya
  3. Nyeri sebagai adanya infeksi atau trombus
  4. Anemia

GRADASI HEMOROID INTERNA
  • Gradasi 1 : terdapat dilatasi dari pleksus hemoroidalis tanpa adanya prolap
  • Gradasi 2 : adanya prolaps yang keluar sewaktu penderita defekasi dan dapat kembali kadalam saluran anus tanpa manipulasi.
  • Gradasi 3: prolaps hanya dapat direposisi dengan bantuan manuil
  • Gradasi 4: prolaps tidak dapat kembali, walaupun dengan bantuan manuil.

PENATALAKSANAAN
  • Gradasi 1 dan 2 dilakukan pengobatan konservative dengan medikamentosa atau penyuntikan dengan bahan sklerotan :Fenol oli 5 % : 3 – 5 cc tiap tonjolan atau Kinin uretan 5 % : 0,5 cc tiap tonjolan
  • Gradasi 3 dan 4 operasi

KOMPLIKASI
  • Perdarahan
  • Trombosis
  • Prolaps

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

TRAUMA ABDOMEN

Dr. SUPARYANTO, M.Kes

MACAM TRAUMA:
  • Trauma tumpul
  • Trauma tajam

TRAUMA TUMPUL
  • Dapat mengakibatkan perdarahan organ padat: limpa, hati, pankreas, ginjal dan perforasi organ berongga
  • Perhatikan keadaan luar dinding perut:Luka lecet, hematom
  • Fraktur costae
  • Distensi perut tambah hebat
  • Melihat tanda shock dan anemi akibat perdarahan abdomen
  • Melihat tanda tanda peritonitis
  • Adakah muntah campur darah dan melena

TRAUMA TAJAM
  • Bila pada eksplorasi ternyata luka menembus fascia dan otot dinding perut, maka dianggap menembus peritonium dan perlu laparotomi percobaan
  • Bila tampak usus atau omentum atau organ lain diperlukan laparotomi
  • Luka tusuk rongga dada (thorak) dibawah puting susu, dianggap juga sebagai trauma abdomen perlu observasi apakah ada tanda akut abdomen

PENATALAKSANAAN
  • Observasi yang seksama dan terus menerus, bila dicurigai adanya kerusakan, segera kita persiapkan pembedahan
  • Pembedahan laparotomi, dengan tindakan sesuai kausa

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

ILEUS

Dr. SUPARYANTO, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Ileus adalah suatu keadaan dimana perjalanan pencernaan makanan terhenti atau terhambat

MACAM ILEUS
  1. Ileus Obstruktif : ileus yang disebabkan adanya sumbatan saluran pencernaan.
  2. Ileus Paralitik : ileus yang disebabkan gerakan (peristaltik) usus yang menghilang, disini tidak ada sumbatan

ETIOLOGI
  • Ileus obstruktif :
  • Corpus alienum, Galstone ileus, Cacing yang menggerombol, Tumor usus, Atresia / stenose usus, Pendesakan tumor pancreas, kandungan, Perlekatan / streng ileus, Invaginasi, Volvulus ( mluntir )

Ileus paralitik :
  • Iritasi peritonium: peritonitis, trauma, pasca bedah
  • Vaskuler: strangulasi, mesenteric thrombosis / emboli
  • Iritasi ekstra peritonial: perdarahan , infeksi.

Berdasar letak obstruksi dibedakan:
  1. Obstruksi tinggi: bila sumbatan di lambung sampai ileum
  2. Obstruksi rendah: bila sumbatan di colon sampai anus

GEJALA KLINIS
ILEUS OBSTRUKTIF:
  • Nyeri perut yang bersifat kolik
  • Mual dan muntah
  • Perut kembung ( distensi ) disertai konstipasi
  • Ditemukan darm kontur (gambaran usus) dan darm steifung (gambaran peristaltik usus)
  • Bising usus meningkat
  • Pada pemeriksaan foto : ditemukan gambaran Harring bone appearance atau step leader fenomena

PENATALAKSANAAN
  • Resusitasi cairan dan elektrolit
  • Pemasangan selang nasogastrik dan kateter urine
  • Antibiotik
  • Pembedahan, tergantung kausa

GEJALA KLINIS
ILEUS PARALITIK
  • Distensi yang hebat tanpa rasa nyeri ( kolik )
  • Mual dan mutah
  • Tak dapat defekasi dan flatus, sedikitnya 24 – 48 jam
  • Pada palpasi ringan perut, ada nyeri ringan, tanpa defans muskuler
  • Bising usus menghilang
  • Gambaran radiologis : semua usus menggembung berisi udara

PENATALAKSANAAN
  • Infus cairan dan elektrolit
  • Melakukan dekompresi : pemasangan sonda lambung
  • Antibiotika
  • Pemberian obat yang merangsang peristaltik : golongan vitamin B1

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

HERNIA

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Hernia adalah suatu tonjolan yang abnormal dari organ organ intra abdominal keluar cavum abdomen dan masih diliputi oleh peritoneum

MACAM HERNIA
  1. Hernia externa : yaitu hernia yang tonjolanya tampak atau dapat dilihat dari luar, antara lain :Hernia inguinalis lateralis ( Hernia indirecta ), Hernia inguinalis medialis ( Hernia directa ),Hernia femoralis, Hernia umbilikalis, Hernia supra umbilikalis, Hernia cicatricalis
  2. Hernia interna : yaitu hernia yang tonjolanya tidak tampak dari luar, tonjolan ke fossa intra abdomen, antara lain :Hernia obturatoria, Hernia diafragmatika, Hernia foramen Winslowi, Hernia pada ligament Treitz

PATOFISIOLOGI:
  • Hernia inguinalis indirekta ( lateralis ) : tonjolan keluar melalui anulus internus kanalis inguinalis ke skrotom, dan sebagian besar mempunyai dasar kongenital.
  • Hernia inguinalis directa ( medialis ) : tonjolan keluar melalui segitiga Haselbach, dan merupakan hernia yang didapat ( acquisita ).
  • Hernia femoralis lebih banyak dijumpai pada wanita karena perubahan fisik dan biokemis yang terjadi pada wanita hamil.

SEGITIGA HASELBACH
  • Segitiga Haselbach adalah tempat keluarnya Hernia Direks, dibatasi oleh: Ligamen Inguinalis (inferior), Tepi otot rectus (medial)dan Pembuluh Epigastrika inferior (lateral)
  • Anulus internus adalah tempat keluarnya hernia indirek



GEJALA KLINIS:
  • Penderita mengeluh ada benjolan pada perut bagian bawah atau pelipatan paha.
  • Benjolan tsb timbul bila mengejan, batuk, berdiri, berjalan, menangis dan menghilang bila penderita tidur.
  • Benjolan bentuknya ellips atau seperti botol
  • Jika benjolan tidak kelihatan, penderita disuruh mengejan maka keluar benjolan dari arah lateral ke medial, kadang sampai skrotom.

  • Bila isi hernia tidak dapat masuk kembali disebut Hernia iresponibilis
  • Bila terjadi penjepitan isi hernia oleh anulus (cincin hernia) disebut Hernia inkarserata
  • Bila terjadi gangguan vaskularisasi dari isi hernia karena penjepitan disebut : Hernia strangulata

DIAGNOSE BANDING
  1. Hidrokel testis
  2. Limfadenopati
  3. Varikokel
  4. Abses inguinal

KOMPLIKASI
  • Hernia inkarserata
  • Hernia strangulata
  • Ileus obstruksi

PENATALAKSANAAN:
  • Simptomatis : untuk nyeri diberi analgesik, untuk dehidrasi diberi infus RL, dan untuk profilaksis keradangan pada hernia inkarserata / strangulata diberikan ampicillin
  • Herniotomi : membuang kantong hernia, ini terutama pada anak anak, karena dasarnya adalah kongenital tanpa adanya kelemahan dinding perut.

  • Herniorraphy : membuang kantong hernia disertai tindakan plastik untuk memperkuat dinding perut bagian bawah dibelakang kanalis inguinalis.
  • Bila penderita menolak operasi atau ada kontraindikasi pembedahan, disarankan memakai sabuk hernia (Truss), dipakai pagi hari waktu aktif dan dilepas waktu malam.

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

TYPHUS ABDOMINALIS

Dr. SUPARYANTO, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Infeksi akut dengan demam, yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi

PATOFISIOLOGI:
  • S typhi termasuk gram negatif, dapat hidup lama di air kotor, makanan yg tercemar, alas tidur yg kotor. Per oral kuman berkembang di usus halus dan colon kemudian menyebabkan radang plaque peyer lalu masuk saluran limfe kemudian masuk darah dan terjadi(bakterimi 1. Bakteremi, kuman berkembang di sistem retikuloendotelial sampai terjadi bakteremi 2 dan menimbulkan gejala

  • Ulkus ileum menimbulkan perdarahan sampai dapat terjadi perforasi
  • Monosit memfagositosis S. typhi serta membebaskan pirogen endogen yang menyebabkan demam tinggi

GEJALA KLINIS:
  • Masa tunas 14 hari
  • Gejala klinis bervariasi, tidak khas
  • Demam, bradikardi relatif, nyeri kepala, nyeri perut, obstipasi
  • Nyeri tekan perut kanan bawah, hepatomegali, spenomegali, meteorismus
  • Kesadaran menurun, delirium
  • Penyembuhan, demam turun, gejala menghilang

DIAGNOSIS:
  • Leukosit normal/leukopenia/leukositosis
  • Anemia ringan
  • Dua minggu pertama biasanya biakan darah positif
  • Biakan tinja biasanya positif pada minggu ke 2 & 3
  • Reaksi widal 4 x lipat pada pemeriksaan ulang akan menyokong Diagnosa
  • Titer Widal diatas 1:200 akan menyokong Diagnosa

PENATALAKSANAAN:
  • Tirah baring
  • Diit lunak, pantang sayur dan buah
  • Antimikroba:Kloramfenikol 4x500mg, Tiamfenikol 4x500mg, Kotrimoksasol 2x2tab, Ampisilin/amoksilin 100mg/KgBB
  • Antipiretika seperlunya
  • Vit B. komplek dan C
  • Mobilisasi bertahan setelah bebas demam

KOMPLIKASI:
  • Perdarahan intestinal
  • Perforasi intestinal
  • Ileus paralitik
  • Renjatan septik
  • Pielonefritis
  • Kolesisititis
  • Pneumonia
  • Miokarditis

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

COLITIS

Dr. SUPARYANTO, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Tidak ada batasan yang jelas, tergantung masing masing cabang ilmu, secara umum dapat dikatakan : radang atau gangguan pada colon

ETIOLOGI;
  • Infeksi : amoeba, basiler, tuberculose, parasit lain
  • Non infeksi : radiasi, iskemik, racun, toksin

AMOEBIASIS COLON

PENGERTIAN:
  • Penyakit infeksi usus besar yang disebabkan oleh Entamoeba histolitika

PATOFISIOLOGI;
  • E. histolitika terdapat dua bentuk : kista dan tropozoit yang bergerak
  • Penularan dalam bentuk kista melalui fecal oral route, dalam usus halus dinding kista pecah kemudian mengeluarkan tropozoit yang tumbuh besar dalam colon. Dalam colon mengeluarkan enzim yang dapat merusak dinding colon serta menimbulkan ulkus yang berbentuk seperti botol, sampai mukosa dan otot dinding colon, dengan tepi ulkus menebal dan meradang. Ulkus tersering di sekum, colon asdenden, sigmoid dan apendik ( semua bagian colon dapat terkena )

GEJALA KLINIS:
  • Karier ( cyst passer ): Amoeba tidak mengadakan invasi ke dinding usus
  • Tidak ada gejala
  • Gejala ringan : kembung, flatulensi, obstipasi, diare

  • Disentri amoeba ringan :Kembung, Nyeri perut ringan, Demam ringan, Diare ringan: dengan feses bau busuk, campur darah dan lendir, Keadaan umum penderita baik
  • Disentri amoeba sedang :Kram perut, Demam, Badan lemah, Hepatomegali yang nyeri spontan
  • Disentri amoeba berat :Diare > 15 kali / hari yang disertai dengan banyak darah, Demam tinggi, Mual, Anemia
  • Disentri amoeba kronik :Gejala mirip disentri amoeba ringan, Diselingi periode normal tanpa gejala, Berlangsung ber bulan bulan / tahunan, Diare biasanya karena kelelahan, demam atau makanan yang sulit dicerna

DIAGNOSIS:
  • Pemeriksaan tinja untuk ditemukan amoeba

PENATALAKSANAAN:
  1. Perbaiki keadaan umum , bila perlu infus / tranfusi
  2. Simptomatik
  3. Anti amoebisid : metronidasol, klorokuin, emetin

KOMPLIKASI:
  1. Intestinal: perdarahan, perforasi, peritonitis,
  2. Ekstraintestinal: amubiasis hati, abses hati, amubiasis kulit, abses otak

SHIGELOSIS DISENTRI BASILER

PENGERTIAN:
  • Penyakit diare yang disebabkan oleh : Shigella, contohnya Sh. Dysenteriae, Sh. Flexneri, Sh. Boydii, Sh. Sonnei

PATOFISIOLOGI:
  • Ditularkan melalui makanan / minuman yang tercemar basil Shigella
  • Shigella mengeluarkan toksin yang menimbulkan radang mukosa kolon serta menimbulkan ulkus, Terutama menyerang colon bagian distal atau sigmoid

GEJALA KLINIS:
  • Penyakit mendadak dengan masa inkubasi 2 hari
  • Diare sedikit sedikit bercampur lendir dengan warna kemerahan
  • Demam
  • Nyeri kepala
  • Nyeri perut hebat
  • Muntah
  • Pada kasus yang berat tampak toksik
  • Dehidrasi dan shock

DIAGNOSIS:
  • Pemeriksaan tinja untuk ditemukan Shigella

PENATALAKSANAAN:
  • Memperbaiki keadaan umum
  • Obat simptomatik
  • Diit lunak
  • Anti shigellosis :Sulfonamid, Tetrasiklin, Neomisin, Kanamisin, Ampisilin

KOMPLIKASI:
  • Shock hipovolemik, asidosis, hipoproteinemi
  • Jarang: perforasi, peritonitis, prolap recti

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

KOLERA

dr. SUPARYANTO, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Penyakit diare akut yang disebabkan oleh Vibrio cholerae

PATOFISIOLOGI;
  • V. cholerae termasuk kuman gram negative, Terdiri : 2 biotipe : V. cholerae klasik dan V. El Tor. Penularan melalui air dan makanan yang tercemar. Berkembang biak di usus halus dan mengeluarkan eksotoksin, Eksotoksin merangsang mukosa usus yang menyebabkan eksresi air dan elektrolit sehingga terjadi diare (jika melampui daya absorbsi colon).
  • Diare berlebihan akan menyebabkan dehidrasi , hipovolemi, asidosis dan hipokalemia

GEJALA KLINIS:
  • Masa tunas 12 jam – 6 hari
  • Diare : belasan sampai puluhan kali sehari. Penderita tidak dapat menahan faesesnya. Feses berupa air bekas cucian beras (rice water stools) dan berbau ikan (amis), biasanya tidak disertai nyeri perut
  • Muntah, dimana muntahan dan feses banyak mengandung V. cholerae

GEJALA DEHIDRASI:
  • Dehidrasi ringan:Turgor kulit sedikit berkurang, Tachikardia, Haus
  • Dehidrasi sedang :Turgor kulit jelas berkurang, Tachicardia, Hipotensi, Nadi lemah, Haus
  • Dehidrasi berat :Turgor kulit sangat berkurang, Shock, Stupor atau koma, Mata cekun

GEJALA SHOCK:
  • Tekanan darah turun, Nadi cepat dan kecil, Penderita gelisah, Berkeringat dingin, Cyanosis, Oliguria sampai anuria

GEJALA HIPOKALEMI:
Kelemahan otot bergaris, terutama extremitas, Aritmia jantung sampai cardiac arrest, Ilius paralitik

GEJALA ASIDOSIS:
  • Terjadi akibat bikarbonat banyak keluar melalui feses, dengan gejala: Kegelisahan, Pernapasan cepat dan dalam (pernafasan Kussmaul, Oedema paru (dyspnoe, cyanosis, sputum berbuih dan rhonchi)dan Muntah

PENATALAKSANAAN:
  • Rehidrasi per oral dengan oralit atau IV dengan larutan RL
  • Pada dehidrasi ringan dan sedang : rehidrasi oral sebanyak 750 cc tiap jam selama 4 jam
  • Pemberian selanjutnya sesuai dengan volume tinja

PENATALAKSANAAN:

Rehidrasi secara IV : Berdasar gejala klinis :
  • Dehidrasi ringan : 2 % BB
  • Dehidrasi sedang : 5 % BB
  • Dehidrasi berat : 8 % BB

Berdasar berat jenis plasma :

Bj plasma - 1, 025
-----------------------x BB x 4 = .... cc
0,001

  • Antibiotika: tetrasiklin 4 x 500 mg selama 3 hari

KOMPLIKASI:
  • Akibat kekurangan cairan :Shock, Nekrosis tubuli ginjal (akibat hipovolemi dan hipokalemi), Ileus paralitik (akibat hipokalemi), Aritmia (akibat hipokalemi),Edema paru (akibat asidosis)
  • Akibat kelebihan cairan : payah jantung kongestif akut
  • Abortus spontan dapat terjadi pada wanita hamil

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.

GASTROENTERITIS

Dr. SUPARYANTO, M.Kes

PENGERTIAN:
  • Gastroenteritis adalah suatu sindroma klinis akut berupa diare dan atau mutah atau kembung, sering disertai panas, keadaan umum yang terganggu, dan biasanya disebabkan oleh infeksi

PATOFISIOLOGI:
  • Kerusakan mukosa usus, yang merupakan sebab dan akibat sejumlah faktor yang multi komplek

ETIOLOGI:
  1. Sebab enteral: infeksi enteral, intoksikasi makanan
  2. Sebab parenteral: infeksi parenteral (saluran nafas, saluran kemih, telinga dan lain lain)

GEJALA KLINIS:
  • Diare akut yang ditandai meningkatnya BAB, bentuk dan konsistensi tinja yang lain dari biasanya dengan atau tanpa dehidrasi

DERAJAT DEHIDRASI;
  1. Dehidrasi ringan :Rasa haus, Oliguria ringan
  2. Dehidrasi sedang :Turgor kulit turun, Ubun ubun besar cekung, Mata cekung
  3. Dehidrasi berat :Gangguan susunan saraf pusat, Somnolen , sopor, koma, Gangguan pulmo kardiovaskuler, Nafas Kussmaul, Renjatan ( shock )

PENATALAKSANAAN:

Cara Rehidrasi pada anak :
  • Dehidrasi berat :
  • Tahap Resusitasi : 1-2 jam, IV cairan RL : 10 tetes / kg / menit dalam 1–2 jam , jika renjatan belum teratasi beri plasma darah 10cc / kg

  • Dehidrasi sedang: Tahap penangganan sisa defisit : 3 – 7 jam, IV cairan ( D5 : RL = 4 : 1 + 5 cc KCl 15 %) : 3 tetes / kg / menit dalam 7 jam sampai 8 tetes / kg / menit dalam 3 jam
  • IG oralit : 3 tetes / kg / menit

  • Dehidrasi ringan : Tahap rumatan : 15 – 20 jam, Oral oralit : 10 cc / kg / jam

FARMAKOLOGIS:
  1. Antimikrobial hanya diberikan pada kasus :Bayi sangat muda, Gizi kurang, Penyakit lain sebagai penyulit
  2. Antidiare non antimikrobial seperti : pektin, kaolin, papaverin tidak banyak bermanfaat

KOMPLIKASI:
  1. Diare berkepanjangan ( Prolonged diarrhea ): diare > 1 minggu
  2. Diare kronik (Chronic diarrhea) : diare > 2 minggu

REFERENSI:
  • Lab/UPF Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya, 1988, Pedoman Diagnosis dan Terapi Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soetomo 1988, Surabaya, Percetakan RSUD Dr. Soetomo
.