PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih
Tampilkan postingan dengan label LABORATORIUM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LABORATORIUM. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 April 2014

PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN

Dr. Suparyanto, M.Kes



2.3 Metode Pemeriksaan Hemoglobin
2.3.1 Metode  Cyanmeth
Prinsip metode ini adalah darah diencerkan dengan larutan drabkin sehingga terjadi hemolisis eritrosit dan konversi hemoglobin menjadi hemoglobinsianida (cyanmethemoglobin). Larutan yang terbentuk selanjutnya diperiksa dengan sperktrofotometer (atau colorimeter), yang absorbansinya sebanding dengan kadar hemoglobin dalam darah.
Metode fotometrik cyanmethemoglobin merupakan metode estimasi kadar hemoglobin yang yang paling akurat. Jika semua fasilitas tersedia metode ini yang sebaiknya digunakan (Chairlain & Estu 2011, h. 264).
2.3.2 Metode Sahli
Prinsip metode ini adalah hemoglobin diubah menjadi hematin asam kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standart warna pada alat hemoglobinometer. Dalam penetapan kadar hemoglobin, metode sahli memeberikan hasil 2% lebih rendah dari pada metode lain (Dacie & Lewis 1996, h. 50)  .
Metode Sahli merupakan metode estimasi kadar hemoglobin yang tidak teliti, karena alat hemoglobinometer tidak dapat distandarkan  dan pembandingan warna secara visual tidak teliti. Metode sahli juga kurang teliti  karena karboxyhemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin tidak dapat diubah menjadi hematin asam (Gandasoebrata 2010, hh. 13-14).
2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Metode Cyanmeth dengan Metode Sahli
1. Kelebihan Metode Cyanmeth
a. Pemeriksaan akurat.
b. Reagent dan alat untuk mengukur kadar hemoglobin dapat dikontrol dengan larutan standart yang stabil.
2.  Kekurangan Metode Cyanmeth
a. Alat untuk mengukur absorbansi (spektrofotometer atau photometer) mahal dan membutuhkan listrik.
b. Larutan drabkin yang berisi sianida bersifat racun.
 3. Kelebihan Metode Sahli
a. Alat (Hemoglobinometer) praktis dan tidak membutuhkan listrik.
b. Harga alat (Hemoglobinometer) murah.
4. Kekurangan Metode Sahli
a. Pembacaan secara visual kurang teliti.
b. Alat (Hemoglobinometer) tidak dapat distandarkan.
c.Tidak semua bentuk hemoglobin dapat diubah menjadi hematin asam.




DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi 2010, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,  Rineka Cipta, Jakarta.

Bakta, Imade 2012, Hematologi Klinik Ringkas, EGC, Jakarta.

Chairlain & Estu Lestari 2011, Pedoman Teknik Dasar Untuk Laboratorium Kesehatan, EGC, Jakarta.

Dacie sir john V & S, M Lewis 1996, Practical Haematology, Churchill Livingstone, London.

Gandasoebrata, R 2010, Penuntun Laboratorium Klinik, cetakan ke-16, Dian rakyat, Jakarta.

Hadayani, Wiwik & Andi Sulistyo Hariwibowo 2008, Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi, Salemba Medika, Jakarta.

Hidayat, Aziz Alimul a 2012, Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta.

Hoffbrand A,V, Pettit J,E & Moss P,A,H 2012, Kapita Selekta Hematologi, EGC, Jakarta.

Kee, Joyce LeFever 2008, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium & Diagnostik, EGC, Jakarta.

Kosasih, E.N & A.S kosasih 2008, Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik, Karisma publishing group, Tangerang.

Mehta, Atul & Victor Hoffbrand 2008, At a Glance Hematologi, Erlangga, Jakarta.

Murray, Robert K, Daryl K Granner, Peter A Mayes & Victor W. Rodwell 2003 , Biokimia Harper, EGC,  Jakarta.

Nasir, ABD, Abdul Munith & M, E Ideputri 2011, Buku Ajar Metodologi Penelitian Kesehatan, Nuha Medika, Yogyakarta.

Notoatmodjo, Soekidjo 2005, Metodelogi Penelitian Kesehatan, Rineka cipta, Jakarta.

Nursalam 2008, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.

Pagana, Kathleen Deska & Timothy J.Pagana 2006, Mosbby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Test, Mosby Elesevier, Inggris.

Proverawati, Atikah 2011, Anemia dan Anemia Kehamilan, Nuha Medika, Yogyakarta.

Sacher, A Ronald & Richard a McPherson 2012, Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, EGC, Jakarta.

Saryono 2009, Biokimia Respirasi, Nuha Medika, Yogyakarta.

WHO 1968, Haemoglobin Concentration for The Diagnostic of Anemia and Assesment of Severity, dilihat 28 februari 2014, www.who.int/umnis/indicators/haemoglobiin.pdf

Yepi, Hardi Rustam 2010, Struktur Molekul Protein, dilihat 19 Februari 2014, http://Sciencebiotech.net/struktur-molekul-protein/



 

Minggu, 10 Januari 2010

LABORATORIUM KLINIK: PEMERIKSAAN DARAH (BLOOD ANALYSIS)

Dr; Suparyanto, M.Kes
LABORATORIUM KLINIK: PEMERIKSAAN DARAH (BLOOD ANALYSIS)

PENGAMBILAN SPESIMEN

  • Alat: pipet, spuit, lancet, tourniquet, kapas alkohol 70%
  • Wadah: tertutup, bersih, kering, berlabel
Cara pengambilan:
  • Dewasa: ujung jari tengah, manis
  • Anak: tumit, ibu jari kaki bag pinggir
  • Darah vena: vena cubiti
Antikoagulan:
  • EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetate) → 1½ mg/ml
  • Larutan Oxalat → 0,2 ml/ml darah

PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE SAHLI

  • Prinsip: Hb → asam hematin (oleh HCl) → warna as hematin dibandingkan dengan standart
  • Tujuan: menetapkan kadar Hb dlm darah
  • Reagen: lar HCl 0,1N, aquadest
Alat:
  1. Gelas berwarna sbg standart
  2. Tabung hemometer
  3. Pengaduk dari gelas
  4. Pipet Sahli, pipet Pasteur
  5. Kertas saring

Cara pemeriksaan:
  • Tab hemometer diisi lar HCl 0,1N → sampai tanda 2
  • Hisap darah kapiler dng pipet Sahli smpi tanda 20 μl
  • Hapus kelebihan darah dng kertas tisu
  • Masukan darah kedalam tabung hemometer
  • Bilas darah dengan larutan HCl didlm tabung

Cara pemeriksaan:
  • Tunggu 5 menit → pembentukan as. Hematin
  • Tambah aquadest → sampai warna sama dengan standart → baca dalam gr/dl
Nilai Normal:
  • Laki-laki: 14 – 18 gr/dl
  • Wanita : 12 – 16 gr/dl

PEMERIKSAAN HITUNG LEUKOSIT

  • Prinsip: darah diencerkan dan dicat dengan larutan Turk → lalu dihitung jumlah leukosit dalam volume tertentu
  • Tujuan: menghitung jumlah lekosit dalam darah
  • Alat yg digunakan:
  1. Pipet leukosit
  2. Kamar hitung (Improved Neubauer)
  3. Mikroskop
  4. Counter tally
  5. Reagen: Larutan Turk

Cara pemeriksaan:
  • Hisap darah EDTA dng pipet lekosit → sampai tanda 0,5
  • Hapus kelebihan darah dng kertas tisu
  • Hisap lar. Turk sampai tanda 11
  • Kocok darah dan larutan ± 2 – 3 menit
  • Buang lar 3 – 4 tetes → masukan kedalam kamar hitung
  • Hitung leukosit dengan mikroscop → lap 1,3,7,9 → hasil x 50
  • Nilai Normal: 5.000 – 10.000 / mm3

PEMERIKSAAN HITUNG ERITROSIT

  • Prinsip: darah diencerkan dan dicat dengan larutan Hayem → lalu dihitung jumlah eritrosit dalam volume tertentu
  • Tujuan: menghitung jumlah eritrosit dalam darah
  • Alat yg digunakan:
  1. Pipet eritrosit
  2. Kamar hitung (Improved Neubauer)
  3. Mikroskop
  4. Counter tally
  • Reagen: Larutan Hayem

Cara pemeriksaan:
  • Hisap darah EDTA dng pipet eritrosit → sampai tanda 0,5
  • Hapus kelebihan darah dng kertas tisu
  • Hisap lar. Hayem sampai tanda 101
  • Kocok darah dan larutan ± 2 – 3 menit
  • Buang lar 3 – 4 tetes → masukan kedalam kamar hitung
  • Hitung leukosit dengan mikroscop → lap A, B, C, D dan E → hasil x 10.000

Nilai Normal:
  • Pria : 4,5 – 5,5 juta/ mm3
  • Wanita : 4 – 5 juta/ mm3

PEMERIKSAAN HITUNG TROMBOSIT

  • Prinsip: darah diencerkan dan dicat dengan larutan Rees Echer → lalu dihitung jumlah trombosit dalam volume tertentu
  • Tujuan: menghitung jumlah trombosit dalam darah
  • Alat yg digunakan:
  1. Pipet eritrosit
  2. Kamar hitung (Improved Neubauer)
  3. Mikroskop
  4. Counter tally
  • Reagen: Larutan Rees Ecker

Cara pemeriksaan:
  • Hisap darah EDTA dng pipet lekosit → sampai tanda 0,5
  • Hapus kelebihan darah dng kertas tisu
  • Hisap lar. Rees Echer sampai tanda 101
  • Kocok darah dan larutan ± 2 – 3 menit
  • Buang lar 3 – 4 tetes → masukan kedalam kamar hitung
  • Hitung trombosit dengan mikroscop → lap 1,3,7,9 → hasil x 500
  • Nilai Normal: 150.000 – 400.000 / mm3

PEMERIKSAAN LAJU ENDAP DARAH (LED)

  • Prinsip (Cara Westergren) →darah EDTA didiamkan dlm waktu tertentu, maka sel sel darah akan mengendap
  • Tujuan: Untuk mengetahui kecepatan eritrosit mengendap dalam waktu tertentu
  • Alat yang digunakan:
  1. Tabung Westergren
  2. Rak Westergren
  3. Penghisap
  4. Pencatat waktu
  5. Pipet berskala
  6. Spuit 5cc
  7. Botol kecil

  • Reagen: Natrium sitrat 3,8%
Cara Pemeriksaan:
  • Sediakan botol yang telah diberi 0,4cc Na Sitrat 3,8%
  • Hisap darah vena 1,6cc dan masukan kedalam botol yg telah diisi Na sitrat 3,8%
  • Campur baik-baik
  • Hisap campuran tsb kedlm tab Westergren → sampai tanda 0
  • Biarkan pipet tegak lurus dalam rak Westergren
  • Baca tingginya plasma selama 1 dan 2 jam
Nilai Normal
  • Laki-laki : 0 – 10 mm/jam
  • Wanita : 0 – 20 mm/jam

PEMERIKSAAN HITUNG JENIS LEUKOSIT

  • Prinsip: terdapat perbedaan daya serap terhadap zat asam
  • Tujuan: menghitung jumlah tiap-tiap jenis leukosit dalam darah
  • Alat yang digunakan:
  1. Mikroskop
  2. Obyek glass
  3. Lancet steril
  4. Pencatat waktu
  5. Rak pengecatan
  6. Rak pengering
  7. Minyak imersi
  8. Kaca penggeser
  9. Pinsil kaca

Reagen:
  • Larutan Wright
  • Larutan buffer pH 6,4
Cara Pemeriksaan
  • Buat hapusan darah tepi
  • Cat hapusan dengan lar. Wright → 2 menit
  • Tetesi dengan lar buffer sama banyak → selama 5 menit
  • Siram dengan aquadest
  • Keringkan dan baca dengan mikroskop

Harga Normal:
  1. Eosinofil : 1 – 3 %
  2. Basofil : 0 – 1 %
  3. Batang : 2 – 6 %
  4. Segmen : 50 – 70 %
  5. Limfosit : 20 – 40 %
  6. Monosit : 2 – 8 %

PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO

  • Prinsip: aglutinasi sel darah merah dengan anti serum tertentu
  • Tujuan: untuk mengetahui golongan darah seseorang
  • Alat yang diperlukan:
  1. Obyek glass
  2. Lancet
  3. Kapas alkohol

Reagen:
  • Serum anti A, Serum anti B, Serum anti AB
Cara Pemeriksaan:
  • Taruh pada masing-masing obyek glass serum anti A, B dan AB
  • Tetesi serum dengan darah dan aduk
  • Lihat penggumpalan yang terjadi

Hasil:
GOL. DARAH ANTI A ANTI B
A      +      -
B      -      +
AB       +      +
O      -      -

WAKTU PERDARAHAN
(BLEEDING TIME)

Prinsip :
  • Ialah pemeriksaan terhadap fungsi pembuluh darah (kapilaria) jumlah dan fungsi trombosit (ekstrinsik faktor)
Cara Pemeriksaan
  • Cuping telinga ditusuk pinset → dihitung sampai darah berhenti
Harga Normal : 1 – 7 menit

WAKTU PEMBEKUAN
(CLOTING TIME)

Prinsip :
  • Dengan pemeriksaan waktu pembekuan dapat dilihat adanya kelainan / kekurangan dari faktor intrinsik
Cara pemeriksaan
  • Darah dimasukan tabung reaksi → dihitung waktunya sampai beku
Harga Normal : 5 – 15 menit

PEMERIKSAAN PAPANICOLAOU SMEAR

Prinsip :
  • Mendeteksi adanya sel sel ganas pada hapusan sekret vagina / servik
Cara Pemeriksaan:
  • Px tidak boleh irigasi vagina, memasukan obat pervagina, tidak coitus 24 – 48 jam sebelumnya
  • Pemeriksaan dilakukan diantara waktu mens dengan posisi litotomi
  • Dengan spekulum, ambil permukaan servik dengan spatula → bahan difiksasi dlm obyek glass

Hasil:
  1. Kelas 1: tidak ada sel atipikal/abnormal
  2. Kelas 2: sel atipikal, tidak terbukti maligna
  3. Kelas 3: dugaan, tp tdk disimpulkan maligna
  4. Kelas 4: dugaan kuat maligna
  5. Kelas 5: kesimpulan maligna

PEMERIKSAAN JAMUR

Prinsip :
  • Larutan KOH 10 % atau 20 % akan melisiskan kulit, rambut, kuku sehingga bila mengandung jamur akan terlihat adanya Hypha atau spora
Cara pemeriksaan: dilihat dibawah mikroskop

PEMERIKSAAN SEREBRO SPINAL

  • Cairan serebro spinal diperoleh dari lumbal pungsi pada ruang antar lumbal L3-4 atau L4-5.
  • Tekanan pertama diukur, kemudian cairan diaspirasi dan dimasukan dalam tabung pemeriksaan yang steril.
  • Data analisa cairan spinal sangat penting dalam mendiagnosa penyakit medulla spinalis dan otak

Volume :
  • Bayi : 40 – 60 ml
  • Anak : 80 – 120 ml
  • Dewasa : 100 – 160 ml
S el Darah
     Putih / mm3      Merah / mm3
Neonatus      0.15       0.5
Anak      0.10      0.1
Dewasa      0.5      0.1

Chlorida :
  • Neonatus : 108 – 122 mmol / l
  • Dewasa : 112 – 130 mmol / l

Glukosa :
  • Neonatus : 1.1 – 2.2 mmol / l
  • Bayi/anak : 3.9 – 5.0 mmol / l
  • Dewasa : 2.8 – 4.4 mmol / l

  • Protein Total : 15 – 45 mg / 100 ml
  • Albumin : 52 %
  • Alpha 1 globulin : 5 %
  • Alpha 2 globulin : 14 %
  • Beta globulin : 10 %
  • Gamma globulin : 19 %

REFERENSI

  1. Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry
  2. Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC
  3. Wirahadikusumah, 1985, Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid, Bandung, ITB
  4. Harjasasmita, 1996, Ikhtisar Biokimia Dasar B, Jakarta, FKUI
  5. Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul, Bandung, Alfabeta
  6. Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia, Bandung, UI Press




    LABORATORIUM KLINIK: PEMERIKSAAN AIR SENI (URINE ANALYSIS)

     Dr, Suparyanto, M.Kes

    JENIS URINE
       
    • Urine sewaktu: urine yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan (sewaktu-waktu)
    • Untuk pemeriksaan warna, kejernihan, bilirubin, pH

    • Urine pagi: urine yang dikeluarkan pd waktu pagi hari setelah bangun tidur
    • Untuk pemeriksaan: berat jenis, protein, sedimen

    PENGAMBILAN URINE

    WADAH
    • Bermulut lebar dan dapat ditutup rapat
    • Harus bersih dan kering
    • Wadah diberi label: nama, nomor dan tanggal


    VOLUME
    • 20 ml, kecuali untuk berat jenis = 50 ml
    • Harus segera diperiksa, jika ditunda simpan di lemari es (4oC), atau dalam termos es

    WARNA URINE

    Prinsip:
    • warna urine diuji pada ketebalan 7-10cm dengan cahaya tembus

    Tujuan:
    • mengetahui warna urine

    Persiapan:
    • Px dilarang makan/minum obat yang memberi warna urine: B-komplek, rifampisin, piramidon dll

    Alat yang diperlukan: tabung reaksi

    Cara pemeriksaan:
    • Isi tabung reaksi dengan urine ¾ nya
    • Dilihat dlm posisi miring dng penerangan matahari

    Pelaporan:
    • Tidak berwarna, kuning muda, kuning kemerahan, putih susu
    • Nilai normal: kuning muda – kuning tua

    KEJERNIHAN

    • Prinsip: memeriksa kejernihan urine secara langsung
    • Tujuan: menentukan apakah urine telah keruh pada saat dikeluarkan atau setelah didiamkan
    • Persiapan: pasien jangan terlalu banyak makan protein

    Cara pemeriksaan:
    • Masukan urine kedlm tabung reaksi, ¾ nya
    • Dilihat dng latar belakang hitam, dengan sinar matahari
    • Dilihat kejernihanya, apakah ada kekeruhan

    • Pelaporan: jernih, agak keruh, keruh atau sangat keruh
    • Nilai normal: Tidak berwarna/jernih

    PEMERIKSAAN BERAT JENIS URINE

    • Prinsip: memeriksa berat jenis urine dengan alat urinometer
    • Tujuan: mengetahui kepekatan urine
    • Alat yang diperlukan:
    1. Urinometer
    2. Gelas ukur 50 ml
    3. Termometer 0o-50oc

    Cara pemeriksaan:
    • Baca dan catat suhu tera yang tercantum pada alat urinometer, kemudian baca suhu kamar
    • Tuang urine ke gelas ukur 50 cc
    • Masukan urinometer kedlm gelas ukur, usahakan bebas terapung
    • Baca berat jenis setinggi miniskus bawah (3 angka dibelakang koma)

    Perhitungan:
    • Jika suhu urinometer berbeda dengan suhu kamar, lakukan koreksi → perbedaan 3oC, suhu kamar melebihi sushu tera → berat jenis ditambah 0,001, dibawahnya dikurangi 0,001
    • Contoh: suhu tera 30oC, urine 33oC → urinometer 1,004 → berat jenis urine 1,004 + 0,001 = 1,005
    • Nilai normal: 1,003 – 1,030

    PEMERIKSAAN DERAJAT KEASAMAN URINE

    • Prinsip: perubahan warna kertas lakmus dalam suasana keasaman tertentu
    • Tujuan: mengetahui pH urine
    • Alat yang dipakai: kertas lakmus merah – biru

    Cara pemeriksaan:
    • Kertas lakmus merah atau biru dibasahi urine
    • Tunggu 1 menit, perhatikan perubahan warna yang terjadi
    Pelaporan:
    • Urine asam: lakmus biru → merah
    • Urine basa: lakmus merah → biru
    • Urine netral: lakmus merah/biru tidak berubah warna

    PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE

    • Prinsip: Berat jenis unsur organik – anorganik > BJ urine → dengan sentrifuge zat-zat tsb akan mengendap
    • Tujuan: menentukan unsur sedimen organik – anorganik dlm urine secara mikroskopis
    • Persiapan px: dilarang makan obat sulfa

    Cara pemeriksaan:
    • Kocok urine dalam botol agar sedimen merata
    • Masukan urine dalam tabung sentrifuge 10 –15 cc → sentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 2000 rpm
    • Tuang bagian atas urine → tinggal 0,5 – 1 cc → kocok kembali sedimen
    • Tuang dalam obyek glass, tutup dengan cover glass → periksa dibawah mikroskop

    Hasil yang mungkin ditemukan:
    • Sel epitel, eritrosit, lekosit, silinder, kristal, jamur, trikomonas, spermatozoa
    Nilai normal:
    • Eritrosit: 0 – 1 / LP
    • Leukosit: 0 – 3 / LP
    Lain lain:
    • + : bila jumlahnya sedikit
    • ++ : bila jumlahnya banyak
    • +++ : bila jumlahnya banyak sekali

    PEMERIKSAAN PROTEIN URINE

    • Prinsip: terjadi endapan urine jika direaksikan dengan asam sulfosalisilat
    • Tujuan; menentukan adanya protein dalam urine
    • Alat yang diperlukan:
    1. Tabung reaksi dan rak
    2. Pipet

    Cara pemeriksaan:
    • 2 tabung reaksi A & B diisi urine 2cc
    • Tabung A + 8 tetes asam sulfosalisilat 20 % → goyang perlahan agar campur
    • Kekeruhan dilihat dengan latar belakang gelap, bandingkan dengan tabung B

    Hasil:
    1. Negatif : tidak ada kekeruhan
    2. Positif + : kekeruhan ringan tanpa butiran
    3. Positif ++ : kekeruhan dengan butiran
    4. Positif +++ : kekeruhan dengan kepingan
    5. Positif ++++ : kekeruhan dengan gumpalan

    PEMERIKSAAN BILIRUBINE URINE

    • Prinsip: oksidasi pigmen empedu oleh asam → biliverdin (hijau) atau bilisianin (biru) atau choletelin (ungu)
    • Tujuan; mengetahui adanya bilirubin dalam urine
    • Persiapan px; dilarang minum obat pyridin

    Alat yang digunakan:
    1. Corong kaca,
    2. Kertas saring,
    3. Tabung reaksi dan rak
    4. Reagen:
    5. Barium klorit 10 %
    6. Reagen Fouchet

    Cara pemeriksaan
    • Masukan urine dlm tabung reaksi 5cc + 5cc barium klorit 20 %
    • Campur lalu saring dengan kertas saring
    • Kertas saring dengan endapan dikeringkan


    • Tetesi endapan dengan reagen fouchet 2-3 tetes
    • Perhatikan perubahan warna
    • Hasil:
    • Positif : ada warna hijau
    • Negatif : tidak ada warna hijau

    PEMERIKSAAN REDUKSI URINE

    • Prinsip: glukosa dapat mereduksi ion cupri dalam larutan alkalis → terjadi perubahan warna dari hijau → merah
    • Tujuan: menentukan adanya glukose dalam urine
    • Persiapan px:
    • Dilarang minum obat vit.C, salisilat, sterptomisin → memberi hasil positif palsu

    Alat yang digunakan:
    1. Tabung reaksi
    2. Pipet
    3. Lampu spiritus
    4. Penjepit tabung
    5. Reagen:
    6. Fehling
    7. Benedict

    Cara pemeriksaan (Metode Benedict):
    • Masukan 2,5cc reagen benedict kedlm tabung reaksi
    • Tambahkan urine 4 tetes
    • Panaskan dalam air mendidih 5 menit atau dengan api spiritus 2 menit, jaga jangan sampai mendidih
    • Angkat tabung dan baca hasilnya

    Hasil:
    1. Negatif : tetap biru atau kehijauan
    2. Positif +: hijau kekuningan keruh
    3. Positif ++: kuning keruh
    4. Positif +++: Jingga atau lumpur keruh
    5. Positif ++++: Merah bata keruh

    PEMERIKSAAN GALLI MAININI TEST

    • Prinsip: menemukan spermatozoa dlm urine katak jantan yg dirangsang oleh HCG urine
    • Tujuan: mengetahui kehamilan dng menggunakan katak jantan
    • Persiapan: katak jantan yg dipergunakan tidak boleh mengandung sperma → dng pipet diambil cairan di lubang pengeluaran → periksa mikroskop → jika ada sperma tidak boleh dipakai

    Alat yg digunakan:
    • Spuit 5cc, Kaca obyek, Mikroskop
    Cara pemeriksaan:
    • Urine 5cc disuntikan sc di perut 1 ½ cm didepan cloaca → lepas ditoples berisi air
    • 1 jam kmdn → periksa urine katak, jika tdk ada sperma → periksa 1 jam lagi
    • Jika ada sperma GM (+), jika tidak GM (-)

    PEMERIKSAAN TES KEHAMILAN IMUNOLOGIK

    • Tujuan: untuk mengetahui kehamilan dengan tes serologi
    • Prinsip:
    1. Reaksi hambatan aglutinasi antara antibodi HCG dengan lateks (reagen) oleh HCG
    2. Lateks akan diendapkan oleh antibodi HCG
    3. Adanya HCG bebas dalam urine → antibodi akan dinetralkan → sehingga pengendapan tidak terjadi

    Alat yg diperlukan:
    • Kaca obyek, pipet, pengaduk
    Reagen:
    • Antibodi HCG serum, HCG-lateks (antigen)
    Cara pemeriksaan:
    • 1 tetes urine + 1 tetes anti serum → pada kaca obyek →aduk
    • Tambah 1 tetes antigen → goyang → baca
    Hasil
    • Positif: tidak ada penggumpalan
    • Negatif: ada penggumpalan

    REFERENSI

    1. Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry
    2. Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC
    3. Wirahadikusumah, 1985, Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid, Bandung, ITB
    4. Harjasasmita, 1996, Ikhtisar Biokimia Dasar B, Jakarta, FKUI
    5. Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul, Bandung, Alfabeta
    6. Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia, Bandung, UI Press
    7. Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas,Jakarta,Depkes
     

        PENGANTAR PEMERIKSAAN LABORATORIUM KLINIK (Introduction of Clinical Analysis Laboratories)

        Dr. Suparyanto, M.Kes

        LABORATORIUM

        • Laboratorium : adalah tempat untuk melakukan pemeriksaan
        • Syarat untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang baik :
        • Bahan yang akan diperiksa ( sample ) harus memenuhi syarat
        • Alat yang akan dipakai harus mendapatkan ketepatan ( accuracy ) dan ketelitian yang cukup
        • Kemampuan petugas pemeriksa
        • Methode yang diperiksa

        PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN

        Prinsip :
        • Hb darah dirubah menjadi asam hematin dengan pertolongan larutan HCl lalu kadar asam hematin ini diukur dengan membandingkan warna dengan warna standart secara visual
        Harga Normal :
        • Laki laki : 13.4 - 17.7 g%
        • Perempuan : 11.4 - 15.1 g%

        PEMERIKSAAN LED (LAJU ENDAP DARAH)

        Prinsip :
        • Darah vena dengan antikoagulan tertentu dimasukan kedalam tabung tertentu dan dicatat kecepatan pengendapan dari eritrosit eritrosit.
        Harga Normal :
        • Laki laki : 2 - 13 mm/jam
        • Perempuan : 2 – 20 mm/jam

        PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH ABO

        Prinsip :
        • Darah vena direaksikan dengan anti A dan anti B, jika didalam eritrositnya mangadung antigen A atau B akan terjadi penggumpulan

        GOL. DARAH ANTI A ANTI B
        A             +             -
        B             -              +
        AB          +             +
        O            -              -

        PEMERIKSAAN HITUNG ERITROSIT

        Prinsip :
        • Darah diencerkan serta dicat dengan suatu larutan Hayem lalu sel selnya dihitung dalam kamar penghitung dibawah mikroskop
        Harga normal :
        • Laki laki : 4.330.000 – 5.950.000 / mm
        • Perempuan : 3.900.000 – 4.820.000 / mm

        PEMERIKSAAN HITUNG LEUKOSIT

        Prinsip :
        • Darah diencerkan serta dicat dengan suatu larutan Turk lalu sel selnya dihitung dalam kamar penghitung dibawah mikroskop
        Harga normal
        • Laki laki : 4.700 – 10.300 / mm
        • Wanita : 4.300 – 11.300 / mm

        PEMERIKSAAN HITUNG TROMBOSIT

        Prinsip :
        • Darah diencerkan serta dicat dengan suatu larutan Rees Ecker lalu sel selnya dihitung dalam kamar penghitung dibawah mikroskop
        Harga normal
        • 150.000 – 350.000 mm3

        PEMERIKSAAN WAKTU PERDARAHAN (BLOODING TIME)

        Prinsip :
        • Ialah pemeriksaan terhadap fungsi pembuluh darah (kapilaria) jumlah dan fungsi trombosit (ekstrinsik faktor)

        Harga Normal : 1 – 7 menit

        PEMERIKSAAN WAKTU PEMBEKUAN (CLOTTING TIME)

        Prinsip :
        • Dengan pemeriksaan waktu pembekuan dapat dilihat adanya kelainan / kekurangan dari faktor intrinsik
        Harga Normal :
        • 5 – 15 menit

        PEMERIKSAAN TES KEHAMILAN

        Prinsip :
        • Urin hamil: HCG dan antibodi HCG
        • Lateks + anti HCG jadi menggumpal
        • Reaksi hambatan aglutinasi (aglutinasi-inhibisi) antara hormon Human chorionic Gonadotropin (HCG) dalam urine dengan lateks.
        • Dengan adanya HCG bebas dalam urine maka antibodi HCG akan dinetralkan sehingga tidak terjadi penggumpalan.
        Hasil :
        • Positive : tidak menggumpal
        • Negative : menggumpal

        PEMERIKSAAN PROTEINURIA

        Prinsip :
        • Protein + asam sulfosalisilat jadi menggendap
        Hasil :
        1. Negative : tidak keruh
        2. Positive + : keruh ringan tanpa butiran
        3. Positive ++ : keruh dengan butiran
        4. Positive +++ : keruh berkeping
        5. Positive ++++ : keruh + gumpalan

        PEMERIKSAAN REDUKSI URINE

        Prinsip :
        • Glukosa mereduksi ion cupri berubah jadi cupro (merah)
        Hasil :
        1. Negative : biru kehijauan
        2. Positive + : Hijau kekuningan
        3. Positive ++ : kuning keruh
        4. Positive +++ : jingga keruh
        5. Positive ++++ : merah keruh

        PEMERIKSAAN pH URINE

        Prinsip :
        • Perubahan warna pada kertas lakmus bila dalam keadaan keasaman tertentu
        Hasil :
        1. Reaksi urine asam : jika lakmus biru berubah jadi merah
        2. Reaksi urine basa : jika lakmus merah berubah jadi biru
        3. Reaksi urine netral : jika lakmus merah / biru , tidak berubah warna

        PEMERIKSAAN SEDIMEN URINE

        Prinsip :
        • Penggendapan unsur organik dan anorganik dengan sentrifuge
        Hasil :
        1. Sel epitel
        2. Eritrosit
        3. Leukosit
        4. Silinder : hialin, granular
        5. Kristal : oksalat, tripel posfat, asam urat
        6. Jamur
        7. Trichomonas
        8. Spermatozoa

        PEMERIKSAAN BILIRUBIN URINE

        Prinsip :
        • Oksidasi bilirubin oleh asam menjadi biliverdin (hijau) atau bilisianin (biru) atau choletelin (ungu)
        Hasil :
        • Positive ada hijau
        • Negative  tidak ada warna hijau

        PEMERIKSAAN PAP SMEAR

        Prinsip :
        • Mendeteksi adanya sel sel ganas pada hapusan sekret vagina / servik
        Hasil
        • Keganasan ditemukan/ ada sel ganas

        PEMERIKSAAN JAMUR

        Prinsip :
        • Larutan KOH 10 % atau 20 % akan melisiskan kulit, rambut, kuku sehingga bila mengandung jamur akan terlihat adanya Hypha atau spora

        PEMERIKSAAN CAIRAN SEREBRO SPINAL

        • Cairan serebro spinal diperoleh dari lumbal pungsi pada ruang antar lumbal L3-4 atau L4-5.
        • Tekanan pertama diukur, kemudian cairan diaspirasi dan dimasukan dalam tabung pemeriksaan yang steril.
        • Data analisa cairan spinal sangat penting dalam mendiagnosa penyakit medulla spinalis dan otak

        Volume :
        • Bayi : 40 – 60 ml
        • Anak : 80 – 120 ml
        • Dewasa : 100 – 160 ml
        S el Darah
                             Putih / mm3       Merah / mm3
        Neonatus       0.15                 0.5
        Anak             0.10                 0.1
        Dewasa         0.5                   0.1

        Chlorida :
        • Neonatus : 108 – 122 mmol / l
        • Dewasa : 112 – 130 mmol / l

        Glukosa :
        • Neonatus : 1.1 – 2.2 mmol / l
        • Bayi/anak : 3.9 – 5.0 mmol / l
        • Dewasa : 2.8 – 4.4 mmol / l

        • Protein Total : 15 – 45 mg / 100 ml
        • Albumin : 52 %
        • Alpha 1 globulin : 5 %
        • Alpha 2 globulin : 14 %
        • Beta globulin : 10 %
        • Gamma globulin : 19 %

        REFERENSI

        1. Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry
        2. Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC
        3. Wirahadikusumah, 1985, Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid, Bandung, ITB
        4. Harjasasmita, 1996, Ikhtisar Biokimia Dasar B, Jakarta, FKUI
        5. Toha, 2001, Biokimia, Metabolisme Biomolekul, Bandung, Alfabeta
        6. Poedjiadi, Supriyanti, 2007, Dasr-Dasar Biokimia, Bandung, UI Press