PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 06 Oktober 2011

KONSEP KONSELING

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP KONSELING

PENGERTIAN KONSELING
  • Konseling adalah suatu hubungan professional antara seorang konselor terlatih dan seorang klien. Hubungan ini biasanya dilakukan orang per orang. Hubungan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan hidupnya, belajar mencapai tujuan yang ditentukan sendiri melalui pilihan – pilihan yang bermakna dan penyelesaian masalah emosional atau antar pribadi (Yulifah, 2009: 82).
  • Konseling adalah proses pemberian informasi obyektif dan lengkap, dilakukan secara sistematik dengan paduan keterampilan komunikasi interpersonal, teknik bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan menentukan jalan keluar/ upaya untuk mengatasi masalah tersebut (Saifuddin, 2001: 39).
  • Konseling adalah proses pemberi bantuan seseorang kepada orang lain dalam membuat suatu keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman terhadap fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan klien (Saraswati, 2002: 15).

TUJUAN KONSELING
  • Tujuan konseling dimaksudkan sebagai pemberian layanan untuk membantu masalah klien, karena masalah klien yang benar – benar telah terjadi akan merugikan diri sendiri dan orang lain, sehingga harus segera dicegah dan jangan sampai timbul masalah baru (Yulifah, 2009: 84).

TAHAPAN KONSELING
  • Lima langkah/tahapan dalam konseling adalah sebagai berikut (YPKP, Depkes RI & IBI, 2006).
1.Membina hubungan melalui membangun rapport-tahap awal.
  • Membina hubungan yang ramah, dapat dipercaya, dan menjamin kerahasiaan.
  1. Mengucapkan salam.
  2. Mempersilakan klien duduk.
  3. Menciptakan situasi yang membuat klien merasa nyaman.
2.Identifikasi masalah.
  • Beberapa klien mungkin akan menyampaikan secara langsung permasalahannya saat konselor menanyakan maksud dan tujuan klien mendatangi konselor. Namun tidak jarang, konselor harus menggunakan keterampilannya untuk mampu menangkap permasalahan yang dihadapi dari cerita/penjelasan klien. Selama identifikasi masalah konselor harus menjadi pendengar yang baik dan mengamati tanda – tanda nonverbal.
3.Penyelesaian masalah.
  • Berikan informasi setepat dan sejelas mungkin sesuai dengan persoalan yang diajukan, termasuk berbagai alternatif jalan keluar. Hindari memberikan informasi yang tidak dibutuhkan klien.
4.Pengambilan keputusan.
  • Mendorong dan membantu klien untuk menentukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya.
5.Menutup/menunda konseling
  • Bila klien terlihat puas, ucapkan salam penutup. Bila diskusi dengan klien belum selesai dan klien belum mampu mengambil keputusan, tawarkan klien untuk mengaturr pertemuan selanjutnya.

KETERAMPILAN YANG HARUS DIMILIKI KONSELOR 

1.Keterampilan observasi
  • Dalam mengobservasi sesuatu hal penting yang perlu diperhatikan :
  1. Pengamatan obyektif adalah berbagai tingkah laku yang kita lihat dan dengar.
  2. Interpretasi/penafsiran adalah kesan yang kita berikan terhadap apa yang kita lihat (amati) dan kita dengar.
2.Keterampilan mendengar
  • Terdapat empat bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai dengan situasi yang dihadapi yaitu :
  1. Mendengar pasif (diam), dilakukan bila klien dan keluarga sedang menceritakan masalahnya.
  2. Memberi tanda perhatian verbal dan non verbal, seperti hmm, yaa, oh begitu, lalu, terus, atau sesekali mengangguk.
  3. Mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi.
  4. Mendengar aktif, yaitu dengan memberikan umpan balik/merefleksikan isi ucapan dan perasaan klien dan keluarga.
3.Keterampilan bertanya
  • Semua jenis pertanyaan dapat dikelompokkan menjadi :
  1. Pertanyaan tertutup, pertanyaan yang menghasilkan jawaban ya atau tidak.
  2. Pertanyaan terbuka, pertanyaan biasanya memakai kata tanya bagaimana atau apa, mengapa. (Yulifah, 2009).

KONSELING KELUARGA
  • Konseling keluarga merupakan penerapan konseling pada situasi khusus
  • yang berfokus pada masalah-masalah yang berhubungan dengan situasi keluarga dan penyelenggaraannya melibatkan anggota keluarga (Latipun, 2001: 174-175).
  • Konseling keluarga bagian yang penting karena memandang keluarga tidak hanya dilihat sebagai faktor menimbulkan masalah, dimana tiap anggota keluarga merupakan sistem yang saling mempengaruhi sehingga untuk merubah masalah yang dialami diperlukan perubahan dalam sistem keluarganya dan penyelesaian masalah akan efektif jika melibatkan anggota keluarga yang lain (Latipun, 2001).

TUJUAN KONSELING KELUARGA
  • Tujuan konseling keluarga oleh para ahli dirumuskan secara berbeda sesuai dengan pendekatan yang dilakukan, pada umumnya adalah :
  1. Memfasilitasi komunikasi pikiran dan perasaan antar anggota.
  2. Mengganti gangguan dan tidak fleksibelnya peran dan kondisi.
  3. Memberi pelayanan sebagai model.
  4. Pendidikan peran yang ditujukan kepada anggota keluarga yang lain. (Yulifah, 2009).

PENDEKATAN KONSELING KELUARGA
  • Pelaksanaan konseling keluarga dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu:
1.Pendekatan sistem keluarga .
  • Menurut Murray bowen, anggota keluarga itu bermasalah jika keluarga itu tidak berfungsi (Disfunctioning family).Karenanya dalam keluarga terdapat kekuatan yang dapat membuat anggota keluarga bersama-sama melawan yang mengarah pada individualitas.
2.Pendekatan Conjoint.
  • Menurut Satir Latipun (2001) menyatakan bahwa anggota keluarga menjadi bermasalah jika tidak mampu melihat dan mendengarkan keseluruhan yang dikomunikasikan anggota keluarga yang lain.
3.Pendekatan struktural.
  • Menurut Latipun (2001) menyatakan bahwa masalah keluarga sering terjadi karena struktur keluarga dan pola transaksi yang dibangun tidak tepat, dimana batas-batas subsistem dan sistem keluarga itu tidak jelas, sehingga untuk mengatasi suatu masalah perlu dirumuskan kembali struktur keluarga dengan memperbaiki transaksi dan pola hubungan yang lebih sesuai.

BENTUK KONSELING KELUARGA
  • Dalam pelaksanaannya konseling keluarga berbentuk :
1.Memandang klien sebagai pribadi dalam konteks sistem.
  • Pada bentuk ini klien merupakan bagian dari sistem keluarga sehingga masalah yang dialami dan pemecahannya tidak bisa mengesampingkan peran keluarga.
2.Berfokus pada saat ini.
  • Bentuk konseling ini adalah mengatasi masalah yang dihadapi klien saat ini bukan masa lampau. Konseling disesuaikan dengan keperluannya dimana seluruh anggota keluarga harus ikut serta dalam konseling karena mereka tidak hanya berbicara tentang keluarganya tetapi juga terlibat dalam penyusunan rencana perubahan dan tindakannya (Luddin, 2010).

PROSES DAN TAHAPAN KONSELING KELUARGA
  • Dalam mengatasi masalah keluarga terjadi beberapa tahapan konseling (Luddin, 2010) :
1.Sesi pengenalan.
  • Pada sesi ini terjadi perkenalan antara petugas dengan keluarga dan identifikasi masalah.
2.Sesi pengajaran.
  • Pada sesi ini keluarga mendapatkan pendidikan dalam bentuk perilaku.
3.Sesi model.
  • Pada sesi ini keluarga melihat cara mengimplementasikan perilaku yang telah dipelajari pada sesi pengajaran.
4.Sesi terapis/trial.
  • Pada sesi ini keluarga mencoba mengimplementasikan model perilaku yang telah didapat.
5.Sesi penerapan dan evaluasi.
  • Pada sesi ini keluarga menerapkan apa yang telah didapat dan petugas mengevaluasi dengan cara melakukan kunjungan rumah.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN KONSELING
  • Menurut Luddin (2010), faktor yang mempengaruhi keberhasilan konseling keluarga yaitu:
1.Usia klien
  • Klien berusia dewasa dimungkinkan lebih sulit dilakukan modifikasi persepsi dan tingkah lakunya dibandingkan dengan klien berusia belasan tahun, karena berhubungan dengan fleksibelitas kepribadiannya.
2.Jenis kelamin
  • Jenis kelamin terutama berkaitan dengan perilaku model, faktor modeling sangat penting dalam upaya pembentukan tingkah laku baru.
3.Tingkat pendidikan.
  • Pendidikan seseorang mempengaruhi cara pandangnya terhadap diri dan lingkungan, sehingga akan berbeda cara menyikapi proses berlangsungnya konseling pada klien yang berpendidikan tinggi dengan yang pendidikan rendah.
4.Intelegensi
  • Intelegensi pada prinsipnya mempengaruhi kemampuan penyesuaian diri dan cara pengambilan keputusan. Klien yang berintelegensi tinggi akan banyak berpartisipasi, lebih cepat, dan tepat dalam membuat suatu keputusan.
5.Status sosial ekonomi.
  • Status sosial ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku. Individu yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi yang baik akan mempunyai sikap dan pandangan yang positif tentang masa depannya dibandingkan keluarga yang status ekonominya rendah.
6.Sosial budaya
  • Yang termasuk dalam sosial budaya adalah pandangan keagamaan dan kelompok etnis.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahmadi, A. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta
  2. Ali, Z. 2006. Pengantar Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC
  3. Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
  4. Departemen Kesehatan RI. 2007. Komunikasi Efektif Buku Bantu Bidan Siaga. Jakarta: Depkes RI
  5. Hidayat, A.A.A. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika
  6. Krisnatuti, D. 2008. Diet Sehat untuk Penderita Diabetes Melitus. Jakarta : Penebar Swadaya
  7. Latipun. 2001. Psikologi Konseling (Edisi 3). Malang: Universitas Muhamadiyah Malang.
  8. Luddin, Abu Bakar. 2010. Dasar – Dasar Konseling. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
  9. Mahdiana. 2010. Mengenal Penyakit Stroke, Diabetes, Jantung. Jakarta: Gramedia
  10. Mansjoer, A. dkk. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Amedia Aesculapius
  11. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
  12. Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta
  13. Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat: Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta
  14. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
  15. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
  16. Price, S. A. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC
  17. Ramayulis, R dkk. 2009. Menu dan Resep untuk Penderita Diabetes Melitus. Jakarta: Penebar Plus
  18. Saifuddin, Abdul Bari. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternitas dan Neonatal. Jakarta: Depkes RI.
  19. Saraswati, Lukman. 2002. Pelatihan Keterampilan Komunikasi Interpersonal. Jakarta: Gunung Mulia.
  20. Smeltzer, S. C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC
  21. Sudiharto. 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Pendekatan Keperawatan Transkultural. Jakarta: EGC
  22. Suparyanto. 2011. Konsep Dasar Pengetahuan. http://dr-suparyanto.blogspot.com/konsep-dasar-pengetahuan.html. Diakses tanggal 21 Maret 2011 pukul 12.30
  23. Syafiie, I. K. 2007. Pengantar Filsafat. Bandung: Refika Aditama
  24. Tambayong, J. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
  25. Tjokroprawiro A. (1994) Diabetes Mellitus Klasifikasi, Diagnosis, dan Dasar- Dasar Terapi. Edisi 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  26. Triaseka, 2007, Diabetes Mellitus, http://www.parenting.ueuo.com/ tanggal diakses 20 April 2011).
  27. Yulifah, Rita. 2009. Komunikasi Dan Konseling Dalam Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar