PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 19 Desember 2010

UJI VALIDITAS KUESIONER PENELITIAN

Dr. Suparyanto, M.Kes

UJI VALIDITAS KUESIONER PENELITIAN

PENGERTIAN
  • Uji Validitas Kuesioner Penelitian: adalah prosedur untuk memastikan apakah kuesioner yang akan dipakai untuk mengukur variabel penelitian valid atau tidak
  • Kuesioner yang valid berarti kuesioner yang dipergunakan untuk mengumpulkan data itu valid. Valid berarti kuesioner tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur.
  • Kuesioner ada yang sudah baku, karena telah teruji validitas dan reliabilitasnya, tetapi banyak juga yang belum baku. Jika kita menggunakan kuesioner yang sudah baku, tidak perlu dilakukan uji validitas lagi, sedangkan kuesioner yang belum baku perlu dilakukan uji validitas.
  • Kuesioner yang valid harus mempunyai validitas internal dan eksternal. Kuesioner yang valid harus mempunyai validitas internal atau rasional, bila kriteria yang ada dalam kuesioner secara rasional (teoritis) telah mencerminkan apa yang diukur, sedangkan kuesioner yang mempunyai validitas eksternal bila kriteria didalam kuesioner disusun berdasarkan fakta-fakta emperis yang telah ada (eksternal)
  • Validitas internal kuesioner harus memenuhi: construct validity (validitas kontruks) dan content validity (validitas isi)

Validitas konstruks adalah kerangka dari dari suatu konsep. Untuk mencari kerangka konsep dapat ditempuh dengan:
  1. Mencari definisi konsep yang dikemukakan oleh para ahli yang tertulis dalam literatur
  2. Jika dalam literatur tidak didapatkan definisi konsep yang ingin diukur, peneliti harus mendifinisikan sendiri konsep tersebut (dengan bantuan para ahli)
  3. Menanyakan definisi konsep yang akan diukur kepada calon responden atau orang yang mempunyai karakteristik yang sama dengan responden.
  • Validitas isi kuesioner ditentukan oleh sejauh mana isi kuesioner tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. Misal konsep yang mau diteliti terdiri dari tiga aspek, maka kuesioner yang dibuat harus menanyakan tentang ketiga aspek tersebut, jika hanya menanyakan satu aspek saja berarti kuesioner tersebut tidak memiliki validitas isi yang tinggi.
  • Validitas eksternal adalah validitas yang diperoleh dengan cara mengkorelasikan kuesioner baru dengan tolok ukur eksternal yang sudah valid, misal skala pengukur motivasi untuk berprestasi yang diciptakan oleh Mehrabian (1973) yang sudah teruji kevalidanya. Jika kita mau menciptakan kuesioner baru, maka hasil pengukurannya harus dikorelasikan dengan kuesioner yang sudah vailid dengan menggunakan uji korelasi, bila korelasinya tinggi dan signifikan berarti kuesioner yang baru memiliki validitas yang memadai.

PENGUJIAN VALIDITAS KUESIONER

PENGUJIAN VALIDITAS KONSTRUK (CONSTRUCT VALIDITY)
  • Untuk menguji validitas konstruk, maka dapat digunakan pendapat dari para ahli (judment experts). Untuk itu kuesioner yang telah dibuat berdasakan teori tertentu, dikonsultansikan kepada ahlinya (minimal tiga) untuk mendapatkan tanggapan atas kuesioner yang telah kita buat, saran para ahli dapat tanpa perbaikan, dengan perbaikan atau dirombak total
  • Setelah pengujian konstruk selesai, perlu diteruskan dengan uji coba kuesioner tersebut para populasi yang mempunyai kriteria serupa, setelah data ditabulasi maka pengujian validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor, yaitu mengkorelasikan antar skor item kuesioner.

PENGUJIAN VALIDITAS ISI (CONTENT VALIDITY)
  • Pengujian validitas isi dilakukan dengan membandingkan antara isi kuesioner dengan isi yang terdapat dalam konsep, misalkan seorang dosen memberi ujian dengan soal yang telah diajarkan berarti dosen tersebut telah memberi soal yang memenuhi validitas isi.
  • Untuk pengujian validitas konstruksi dan validitas isi dapat dilakukan dengan uji coba kuesioner tersebut pada responden yang mempunyai karakteristik sama, kemudian hasil masing-masing item kuesioner dikorelasikan dengan skor total (korelasi product moment)

PENGUJIAN VALIDITAS EKSTERNAL
  • Validitas eksternal kuesioener diuji dengan cara membandingkan antara kriteria yang ada pada kuesioner dengan fakta-fakta emperis yang terjadi di lapangan, misalkan kuesioner untuk mengukur kinerja pegawai di Puskesmas, maka kriteria kinerja yang ada pada kuesioner tersebut perlu dibandingkan dengan catatan emperis kinerja yang ada di Puskesmas, bila terdapat kesamaan antara kinerja di kuesioner dengan fakta di lapangan maka dapat dikatakan kuesioner tersebut mempunyai validitas eksternal yang tinggi.

CARA MENGUJI VALIDITAS KUESIONER
  1. Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur
  2. Melakukan uji coba kuesioner tersebut pada sejumlah responden, disarankan jumlah responden untuk uji coba minimal 30 responden (mendekati kurve normal)
  3. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban
  4. Menghitung korelasi antara masing-masing item dalam kuesioner dengan skor total, dengan menggunakan teknik korelasi product moment

Dengan bantuan software komputer, nilai “r” masing-masing item dalam kuesioner dapat dihitung, misalkan ada 10 item kuesioner dengan hasil “r” sebagai berikut:
1 = 0,884
2 = 0,893
3 = 0,931
4 = 0,811
5 = 0,920
6 = 0,705
7 = 0,827
8 = 0,893
9 = 0,867
10 = 0,564

Angka “r” hitung dari komputer harus dibandingkan dengan “r” tabel (angka kritik)
Cara melihat angka kritik dalam tabel adalah dengan melihat baris N-2,dimana N adalah jumlah responden, misalkan jumlah responden 10 orang, maka jalur yang dilihat adalah baris 10 – 2 = 8, untuk taraf signifikansi 5 % angka kritiknya adalah 0,632 sedangkan untuk taraf signifikansi 1 % angka kritiknya adalah 0,765

CARA MENENTUKAN VALIDITAS
  • Bila kita menggunakan taraf signifikansi 5% maka angka kritisnya adalah 0,632, kemudian masing-masing “r” hitung item dalam kuesioner dibandingkan dengan “r” kritis. Item dalam kuesioner dikatakan valid jika hasil “r” hitung lebih besar dari “r” kritis
  • Berarti dari 10 item kuesioner diatas, item nomer 1 s/d 9 dinyatkan valid karena nilai ‘r’ hitung lebih besar dari nilai “r” kritis, sedang item nomer 10 dinyatakan tidak valid karena “r” hitung lebih kecil dari “r” kritis
  • Untuk item yang tidak valid, tidak dapat digunakan sebagai item kuesioner, dan harus diganti dengan item kuesioner lain yang valid. Oleh karena itu kita harus membuat item kuesioner cadangan, agar dapat digunakan kalau ada item kuesioner yang tidak valid.

REFERENSI
  1. Sugiyono, 2010, Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta
  2. Singarimbun, 1989, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES






103 komentar:

  1. mau tanya Pak...
    kalo angket itu hanya melalui proses validasi secara konstruk dan isi dan tidak melalui proses uji coba apakah itu sudah memenuhi syarat validasi???

    trimakasih...

    BalasHapus
  2. Untuk saudara Ratna: anket atau kuesioner dikatakan mempunyai validitas tinggi jika telah memenuhi semua komponen validitas: baik internal maupun eksternal, namun jika ada keterbatasan dalam pelaksanaanya, perlu dijelaskan dalam metode penelitiannya.

    BalasHapus
  3. Nadia Nurotul Fuadah10 April 2011 21.22

    hatur nuhun dok..
    tulisannya sangat membantu ^^

    BalasHapus
  4. tanya pak
    saya bingung melakukan uji validitas dan reabilitas, apakah sama tujuannya?atau keduanya harus dilakukan?saya sudah melakukan ujicoba sebanyak 2 kali pada kuesioner saya dan sudah dilakukan uji reabilitasnya, kemudian apakah masih perlu melakukan uji validitas?
    terima kasih

    BalasHapus
  5. @Iza Kurniawi: uji validitas tidak sama dengan uji reliabilitas, uji validitas bertujuan untuk menguji isi, konstruk dari kuesiner, intinya apakah kuesioner yang akan kita gunakan sudah sesuai untuk mengukur variabel penelitian kita, sedangkan uji reliabilitas untuk menguji apakah jika respondon diberi kuesioner beberapa kali hasilnya apakah sama, jika sama berarti kuesioner kita reliabel,Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk kuesioner yang belum baku, artinya baru saja kita buat sendiri, sedang untuk kuesioner yg telah baku (diambil dari kuesioner buatan para ahli), tidak perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas lagi, kuesioner yg baku telah diuji oleh para ahli yang membuatnya. Trims....sukses ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. dok, saya sedang menyusun skripsi dan saya menggunakan alat ukur adaptasi, apakah saya harus melakukan uji reliabilitas?Jika tidak, adakah saran buku yang bisa saya baca untuk menguatkan keputusan saya tidak melakukan uji reliabilitas?terimakasih :D

      Hapus
  6. Sepakat Pak, sering para peneliti menggunakan kuisioner baru, namun tidak melakukan uji kelayakan terhadap kuisioner yang dibuat. dan ada juga dosen yang meminta uji validitas, padahal itu sudah baku (psikologi test). Kadang aneh juga sih. minta ijin Pak add urlnya ke blog saya. Thanks.

    BalasHapus
  7. Thanks dok, tulisannya mampu meghilangkan sumbatan di kepalaku hehe.. sekarang jadi lebih paham sedikit..

    BalasHapus
  8. Salam Pak.
    saya sedang melakukan penelitian tentang perilaku konsumen dengan menggunakan kuesioner Pak.yang jadi pertanyaan saya,apakah semua kuesioner (khususnya yang bukan dari ahli) WAJIB melakukan uji validitas dan reliabilitas Pak.Ketika dilakukan uji validitas, namun ternyata ada pertanyaan kita yang tidak valid padahal pertanyaan tersebut memuat informasi yang penting bagi kita, apa yang kita lakukan Pak?terimakasih banyak Pak. Sukses terus buat Pak dokter.

    BalasHapus
  9. @stian: kuesioner yang belum baku harus diuji validitas dan reliabilitas sebelum penelitian, jika ada pertanyaan yang tidak valid harus diganti, caranya dengan mengubah pertanyaan yang lebih mudah dimengerti dan tidak membinggungkan dan membuat tafsir ganda. Sukses juga buat Stian.

    BalasHapus
  10. pak mau tnya,,,
    klo dlm kuesioner kita pertnyaan dengn variasi umur,jumlah anak,dan peryaan dengn jwban pasti hrus duji juga ato tdk pak

    BalasHapus
  11. Pak dokter saya mau tanya.....
    Apakah kuesioner yg dgunakan untuk mdukung data kualitatif (hasil interview) jg hrs dvalidasi?Dan kalau populasi dalam penelitian sgt terbatas, apakah validasi kuesioner ttp dapat dilakukan dgn sampel sedikit misalnya <10?
    Terimakasih
    ---Tika---

    BalasHapus
  12. maaf pak, saya mau nanya
    saya lagi buat skripsi yang akan menggunakan kuesioner untuk data primer
    saya membuat kuesioner, dengan indikator variabel2ny yang Serupa dengan penelitian sebelumnya, namun pertanyaan2nya saya buat sendiri / modifikasi dari kuesioner penelitian lain, karena tidak menemukan kuesioner dari penelitian sebelumnya
    apakah kuesioner saya masih perlu uji validitas dan realibilitas ??
    dapatkah kuesioner diuji sekaligus dengan menggunakan sampel yang kita pakai untuk penelitian ?
    jadi proses penyebarannya cukup sekali
    atau memang harus terpisah penyebarannya
    jadi ada dua kali uji validitas & realibilitas
    satu untuk menguji kuesioner yang dibuat dan satu untuk hasildari kuesioner yang disebarkan ke responden penelitian ?
    mohon penceerahannya pak
    terimakasih

    BalasHapus
  13. @Tika: pada prinsipnya semua kuesioner yang belum baku harus dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas, uji tsb dilakukan bukan pada responden penelitian, tetapi pada kelompok lain yang memmpunyai karakteristik yang sama. uji tsb biasanya cukup pada jumlah responden 10. Trims

    BalasHapus
  14. @tmania: kuesioner yang telah dimodifikasi harus dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas kembali. uji tsb boleh dilakukan pada kelompok responden penelitian dengan syarat jaraknya dengan penelitian harus relatif lama (responden sudah lupa dengan pertanyaan pada kuesioner yang pernah diberikan. Trims

    BalasHapus
  15. untuk pegujian pendahuluan kuisionernya itu perlu berapa responden ya pak ?
    saya punya 3 var indpndn dan 1 dpendednya

    kalau saya coba sebarin secara online ke teman2 saya apakah tidak apa2 ?

    BalasHapus
  16. #Imania: studi pendahuluan bisa dilakukan pada 10 responden lain yang mempunyai karakteristik sama dengan responden kita, caranya dapat melalui OL internet

    BalasHapus
  17. maaf pak, saya jadi tanya2 lagi
    saya sudah menyebarkan kuisionernya pak
    dari 4 variabel masing2 saya buat 10 pertanyaan
    saya sudah mendapat 30 responden
    dan dari hasil uji dengan r tabel 30 responden pada alpha 0,05 = 0,306 saya dapati var 1 ada 4 item tidak valid, var 2 ada 1, var 3 ada 3, dan var 4 ada 2
    langkah selanjutnya gimana pak
    apakah saya harus mengganti semua yang tidak valid itu, agar pertanyaan setiap variabel tetap 10 ?
    atau saya terus dengan pertanyaan yang sudah ada, dan nantinya ketika sudah mendapat hasil dari responden sebenarnya, item2 yang tidak valid tidak ikut diperhitungkan dalam analisisnya ?
    apakah ada referensi yang menyebutkan suatu variabel minimal harus ada berapa pertanyaan ?
    dan setiap variabel jumlah pertanyaannya harus sama ?

    maaf pertanyaannya banyak pak
    saya senang bertanya disini karena jawabannya cepat
    makasih sebelumnya pak

    BalasHapus
  18. @tmania: kusioner yang tidak valid, harus diganti atau disempurnakan, kemudian diuji lagi sampai valid, atau langsung diganti dengan pertanyaan lain yang valid, jumlah pertanyaan masing2 parameter harus sama, kecuali ada pertimbangan lain. Trims

    BalasHapus
  19. Trims Atas Kesempatannya...
    Dalam hal ini saya melakukan pemobobotan dari suatu sistem yang saya buat, berdasarkan tingkat kepentingan dengan menggunakan AHP (Analitical Hirarkhi Procces)sebagai sistem pengolahan data. Dan data diperoleh dari kuisioner dengan menggunakan responden para ahli dibidang dibidang tertentu bukan dengan jumlah populasi.
    Yang saya ingin tanyakan:
    1. berapakah jumlah responden ahli yang saya butuhkan? dan bisakan saya memperoleh refrensi/ sumber jelas terkait pengenaan jumlah respoden oleh para ahli.
    2. apakah kuisioner yg saya buat harus di uji reabilitasnya karna dari sistem dalm AHP sudah ada uji realibilitas dan konsitensinya..

    mohon pencerahannya.. terima kasih..
    regards
    Ivan- Mahasiswa

    BalasHapus
  20. maaf pak, saya ada pertanyaan...
    bolehkah kita menggunakan skala sikap / angket yang dibuat oleh penulis skripsi lain???

    BalasHapus
  21. @Mollyda: boleh menggunakan kuesioner yang daimbil dari skripsi lain, dengan catatan sumbernya harus ditulis, sehingga tidak plaqiat. Trims

    BalasHapus
  22. Pak apakah jumlah pertanyaan masing-masing variabel harus sama?

    BalasHapus
  23. @Gandi Siregar: sebaiknya jumlah soal masing2 parameter sama, boleh tidak sama jika ada pembobotan. Trims

    BalasHapus
  24. mohon maaf pak, saya mau tanya, kalau untuk sekitar 80 item pertanyaan apakah 103 responden sudah cukup?karena untuk mendukung penelitian kualitatif. Kemudian kalau menggunakan skala campuran antara skala pilihan(multiple choice) dan likert, apakah uji validitas dan reliabilitasnya dijadiin satu atau dipisah2?terimakasih:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Listianing: jumlah responden sudah cukup, sebaiknya diuji sendiri2 antara multiple choice dan Likert. Trims

      Hapus
    2. lalu bagaimana merekap hasil kuisoner dengan skala campuran sehingga dapat dimasukkan dalam perangkat lunak SPSS 17? apakah dengan memasukkan hasil pilihan atau dengan pemberian label pada pilahan jawaban sehingga tipe data yang digunakan adalah nominal? terima kasih pak

      Hapus
  25. Maaf,pak dokter,saya mau tanya,dok.
    kalau untuk kuesioner yg kita sadur dari penelitian luar negeri dan berbahasa inggris, apakah setelah diterjemahkn ke bhs indonesia kita boleh lgsg memakainya atau dilakukan uji validitas dan reabilitas lg,dok?
    terima kasih,dok.

    _arin_

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebaiknya dilakukan uji validitas lagi, karena menterjemahkan sama dengan memodifikasi, bisa diartikan lain oleh responden. Trims

      Hapus
  26. maaf Pak..sy mau tanya..yg menyatakan jumlah minimum responden adalah 30, itu di buku mana ya? mohon jawabannya, Pak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. 30 adalah batas ideal, banyak buku yang menyatakan itu, silakan baca di perpustakaan. Trims

      Hapus
    2. mw tanya pak,,
      kalo kita sudah menguji validitas pernyataan uji coba angket,,kemudian diperoleh pernyataan yang valid. selanjutnya pernyataan yang tidak valid kita perbaiki lagi guna menjadi instrumen untuk penelitian.nah pertanyaan saya adalah apakah skor validitas (4,3,2,1) harus diubah menjadi skor ordinal? dan apakah semua pernyataan (valid/tidak valid)harus diuji reabilitasnya saja? atau hanya pernyataan yang valid saja yang diuji reabilitasnya?

      Hapus
  27. maaf pak, bisa bantu saya, ada contoh kisioner penelitian ketaatan berobat penderita tuberkulosis

    BalasHapus
  28. pak, bolehkah saya minta petunjuk, apakah bisa saya membuat tabel uji validitas dengan ms.excel, tanpa mgunakan program spss? selain itu kuesioner yg sudah saya sebar menggunakan 3 choices dan terdiri dr 15 butir soal. apakah itu sudah layak disebut sebagai kuesioner yg baik? karena setelah saya hitung bnyk mendapatkan hasil yg drop, padahal dr jawaban responden saya logikanya seharusnya soal tsb adlh valid. trims pak.

    BalasHapus
  29. maaf pak mau tanya seandainya uji validitas kalo d ambil cuma sepertiganya dri sampel bsa tdak??
    jumlah sampel sya da 30 orng..
    klo bsa da bukunya ga pak?? mengenai pendapat tersbt..
    terima kasih pak..

    BalasHapus
  30. pak, sy mau bertanya.
    penelitian sy kan ttg prilaku. sampelnya itu penderita hipertensi yg rawat jalan di rmh sakit. sy hendak melakukan uji kuesioner. tp sy bingung krn di daerah penelitian sy hnya ada 1 rmh sakit. bisa nggak sampel utk uji validitas sy ambil yg dr puskesmas?
    trimakasih pak

    BalasHapus
  31. pak.. saya menggunakan data rangking konjoin. perlu uji valid dan reliabel gak pak???????
    kalo perlu pakai uji ap?? soalnya semua uji reliabel sdh saya coba dan hasilnya tetap 0

    BalasHapus
  32. Pak,saya mau tanya...saya melakukan penelitian dg korelasi.
    1. Dalam menghitung validitas, skor 4,3,2,1 itu diganti skor diskrit,itu kenapa?apakah harus?
    2. Dalam menghitung reliabilitasnya,,apakah semua item valid dan tidak valid dihitung atau hanya item yang valid saja?
    3. Mengapa dalam penelitian korelasi, jumlah responden harus minimal 30 responden?alasannya apa?
    terima kasih

    BalasHapus
  33. @rere,
    jika ada item yang tidak valid maka item tersebut dibuang tidak diikutkan dalam analisa selanjutnya(reliabilitas,normalitas,regresi,korelasi). . ,
    lainnya kurang tahu

    anonim
    untuk sampel penghitunganya bisa dengan rumus slovin,
    dan bila kurang dari batas ideal (30) maka bisa menggunakan sampel jenuh atau seluruh populasi,
    populasi ini berdasarkan yang kita teliti,
    kalau penderita hipertensi rumah sakit A maka populasinya rumah sakit A
    kalau penderita hipertensi kabupaten A
    maka populasinya kabupaten A

    @lia
    yang saya tahu biasanya kuisioner menggunakan 2,4 atau lima(skala likert) pilihan jawaban,
    mungkin pertanyaan yang anda ajukan kurang bisa dicerna,
    untuk penghitungan dengan excel bisa dilakukan dengan data anylize

    BalasHapus
  34. maaf pak, mau tanya..
    kalau kuesioner diambil dari penelitian sebelumnya apakah perlu diuji kembali validitas dan reliabilitas? bagaimana jika misalnya setelah dijui kembali ada yang tidak reliabel atau valid?

    makasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas kembali jika telah dilakukan, untuk kepentingan KTI perlu dilampirkan hasil uji validitas dan realibilitas penelitian yang lalu

      Hapus
    2. maaf pak,,,saya mo nanya ...
      1. Perlukah instrumen penelitian diuji validitas dan reliabilitasnya oleh peneliti?
      2. Mengapa instrumen penelitian harus diuji validitas dan reliabilitasnya?

      Hapus
  35. Pak, Misalnya saya membuat kuesioner dengan 5 item pertanyaan. Terdapat 1 item yang TIDAK VALID. Apakah boleh dengan menghapuskan pertanyaan yang tidak valid tersebut dan menggunakan 4 item VALID dalam penelitian sesungguhnya. atau harus menguji ulang 4 item VALID tersebut. Terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuesioner yang tidak valid harus dibuang, kemudian diganti kuesioner lain yang valid, boleh tetap menggunakan 4 kuesioner yang valid, asal ke 4 kuesioner tsb telah memenuhi parameter definisi operasional variabel yang telah dibuat. Trims

      Hapus
  36. pak, saya mau tanya..

    ada jumlah minimal item pertanyaan ga untuk 1 variabel..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada batasan minimal untuk membuat kuesioner, prinsip kuesioner itu telah cukup untuk mengambil data sesuai dengan tujuan penelitian. Misalkan untuk mengambil data umur, cukup satu pertanyaan: Berapa tahun usia anda sekarang? Trims

      Hapus
  37. dok, kalau wawancara, apakah perlu dilakukan uji validitas?

    _rizky

    BalasHapus
  38. selamat pagi pak,
    yang ingin saya tanyakan apakah ada ketentuan/rumus untuk menentukan jumlah responden yang di uji validitas?
    jika ada, bagaiman rumusnya dan sumbernya? karena dibeberapa skripsi yg saya lihat ada yang menggunakan seluruh dampel dan ada yang sebagian sampel saja.
    sampel dalam penelitian saya adalah 85 responden.
    mohon bantuan bapak.
    trimakasih

    BalasHapus
  39. saya mau tanya dok,,
    untuk uji validitas saya ambil 20 sampel,,
    tapi saya tidak tau apa alasannya mengapa mengambil 20 sampel ..
    apakah dalam pengambilan sampel untuk uji vakiditas ada persyaratannya dok ???

    -dede-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak ada batasan baku tentang jumlah sampel, baik untuk uji validitas maupun penelitian, aturan umumnya adalah untuk validitas jumlah sample sekitar 10, sedang untuk penelitian sekitar 30. kalau jumlah sample saudara berjumlah 20, menurut hemat kami sudah baik. Trims

      Hapus
  40. Pak saya mau tanya, yang dimaskud penelitian sebelumnya itu seperti apa pak? Apa harus dengan judul yang sama? Apa boleh dengan tempat yang berbeda namun masalahnya sama? Trims

    BalasHapus
    Balasan
    1. @adilla: maaf saya kurang mengerti apa yang anda tanyakan, tolong diperjelas, penelitian sebelumnya tentang masalah apa? trims

      Hapus
    2. Tentang penggunaan alat kontrasepsi, variabel yang saya gunakan sama dengan peneliti sebelumnya namun Peneliti sebelumnya mengambil di lokasi x dan saya di lokasi y

      Hapus
    3. @adilla: betul begitu, yang dimaksud adalah penelitian dengan masalah dan judul yang sama, tempatnya berbeda tidak masalah, kuesioner yang digunakan boleh sama, tidak perlu diuji lagi, namun perlu mencantumnya hasil uji validitas dan uji reliabilitas dari penelitian sebelumnya. trims

      Hapus
  41. Dok saya mau bertanya, apakah kuesioner dalam bahasa indonesia yg telah diadaptasi dari kuesioner yang telah baku dlm b.inggris, apa harus diuji validitas dan reabilitasnya kembali ya dok? terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Ririn: sebaiknya diuji validitas lagi, sebab telah dilakukan modifikasi (translate), ada kekuatiran makna dan isinya berubah. Trims

      Hapus
  42. selamat malam pak

    mau bertanya, untuk uji kuisioner apakah bisa dilakukan dengan responden di tempat yang sama dengan tempat penelitian? dan berapa jumlah sampel ideal yang diperlukan untuk uji kuisioner tersebut?

    jumlah sampel penelitian saya sebanyak 133 orang.

    mohon penjelasannya pak. terima kasih.

    BalasHapus
  43. dok, saya mau tanya
    sampel penelitian saya 133 responden, untuk uji coba kuisioner, boleh atau tidak jika sampel uji kuisioner diambil dari sebagian sampel penelitian? dan berapa jumlah sampel ideal untuk uji kuisioner?

    terima kasih dok. mohon penjelasannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Responden uji validitas, sebaiknya diambilkan dari kelompok lain yang mempunyai karakteristik sama dengan responden penelitian, jumlah responden sekitar 10. trims

      Hapus
  44. Dok, mau tanya:
    Apakah uji validasi masih perlu padahal sudah divalidasi oleh pakar (kontennya), sedang konstruk, internal/eksternal belum ditambah lagi sampel sangat terbatas jumlahnya cuma ada 35 responden dari 46 jumlah populasi (guru IPA) asumsi saya guru lain tidak bisa di jadikan uji validasi sebab berbeda karakter. Mhn dijawab, trim's.

    BalasHapus
  45. pak, klo analisis butir soal esay apa rumusnya berbeda dengan multiple choice, kalau memang berbeda untuk analisi butir esay rumusnya bagaimana,? trims

    BalasHapus
  46. pak ada tidak sumber buku yang menyatakan jlh responden utk uji validitas. krn harus da referensi utk skripsi saya ini pak.
    sblumnya trims ya pak.

    BalasHapus
  47. Salam hormat Pak,
    Saya mau bertanya. Responden penelitian saya nantinya adalah ibu-ibu Pns di Provinsi SU. Sebelumnya, saya melakukan uji coba kuesioner kepada ibu-ibu Pns yakni 30 orang di Provinsi J dan 30 orang di Provinsi JW. Apakah hasil validitas uji coba kuesioner tersebut bisa saya laporkan menjadi 60 orang (gabungan) atau tidak dapat digabung karena tempat ujinya berbeda?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jumlah responden 30 orang sudah cukup untuk uji validitas, dan digabung juga boleh, jadi boleh dua-duanya. Trims

      Hapus
  48. Selamat siang dok, saya mahasiswa yang sedang melakukan penelitian untuk skripsi. Saya ingin menanyakan mengenai uji validitas, untuk uji validitas digunakan responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan sampel. Apa yang dimaksud dengan karakteristik yang sama? Karakteristik apa yang ditekankan disini?
    Jika kuesioner yang saya gunakan ditujukan untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku mengenai sebuah program kesehatan, dan program tersebut hanya baru dijalankan di tempat penelitian saya. Apa yang harus saya lakukan? Apakah boleh saya memilih responden untuk validasi dari sampel saya? Ataukah saya mengambil responden untuk validasi dari tempat terdekat lain yang di tempat tersebut karakteristik umur, suku, keadaan tempat tinggal sama dengan sampel, walaupun tidak menjalankan program yang saya teliti ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Responden dengan karakteristik yang sama, misalnya jika responden siswa SMA, berarti harus dicari responden siswa SMA lain yg bukan calon responden penelitian, itu yang dimaksud dengan karakteristik yang sama. trims

      Hapus
    2. Karakteristik tersebut apakah dipengaruhi tempat juga? contohnya sampel dari ibu di kelurahan A, apakah responden validasi yg lebih dipilih adalah ibu di kelurahan B yang letaknya lebih dekat?
      Terimakasih jawabannya dok.

      Hapus
    3. Bukan karakteristik kelurahannya yang lebih penting, tetapai karakteristik ibunya, misalnya: pendidikananya, agamanya, pekerjaananya dan lain2 yang sama. Namun karakteristik juga dipengaruhi tempat, jika faktor itu secara teori berpengaruh. Trims

      Hapus
    4. dok bisa poskan tutorial bagaimana uji aliditas tidak?
      saya masih bingung menggunakan softwarenya

      Hapus
  49. maaf pak.. mau nanya mengenai penentuan nilai r tabelnya. ?
    saya pake program spss , nilai r tiap itemnya ada dan nilai r tabelnya saya tdk tau yang mana.... mohon bantuannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nilai r tabel dilihat di tabel, tabel ada di buku buku tentang Metodologi Penelitian. Trims

      Hapus
  50. selamat siang dok, saya mau tanya, responden saya ada ada 54 lalu saya gunakan 30 untuk uji validitas. lalu untuk melihat r tabel, N yang saya gunakan itu 30 atau 30-2 ya dok. terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, silahkan check di tabel, berapa harganya, terus bandingkan dengan r hitung. Trims

      Hapus
  51. misi bapak saya mau konsultasi tentang uji validitas angket,
    saya punya soal angket 20, saya uji validitas angket berkali2 tapi saya uji ke-20 soal itu setiap pengujian, dengan catatan soal yang tadinya tidak valid saya perhalus dulu bahasanya baru saya gunakan,
    apakh boleh? kalau boleh knpa? adakah sumber bukunya?
    apakh alsan koresponden bs saya jadikan sbg salah satu dasar untuk pngujian berulang kali itu?
    mksh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuesioner setelah dilakukan uji validitas dan ternyata tidak valid, item tsb tidak boleh digunakan, jadi bisa dibuaang atau direvisi dulu kemudian diuji lagi sampai valid, baru bisa digunakan. trims

      Hapus
  52. Pak Suprayanto, saya ingin bertanya
    apakah ada dasar atau teori yang mengatakan jika butir pertanyaan untuk masing-masing variabel harus sama? Karena saya pernah melihat beberapa skripsi yang jumlah butir pertanyaannya tidak sama untuk masing-masing variabel.
    dan pengecualian apa saja yang bisa membuat jumlah pertanyaan itu boleh tidak sama?
    Mohon dengan sangat ya pak jawabannya bisa dikirim ke email saya rahmaannisa10@gmail.com

    Terima kasih banyak pak atas bantuannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Rahma Annisa: kalau tidak ada alasan atau teori yang melandasi, sebaiknya dalam membuat kuesioner tiap variabel dibuat sama jumlahnya, atau dibobot dengan dasar teori yang ada. Trims

      Hapus
  53. selamat pagi pak suparyanto, saya ingin bertanya apakah bisa menggunakan responden <10?
    terimakasih pak atas bantuan nya .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idealnya jumlah responden sekitar 30, jadi kalau bisa lebih dari 10, kecuali memeng adanya itu. trims

      Hapus
  54. selamat pagi pak suparyanto, saya ingin bertanya jika menggunakan responden <10 bisa tidak pak?

    BalasHapus
  55. selamat siang dok, responden saya ada ada 54 lalu saya gunakan 30 untuk uji validitas. Yang ingin saya tanyakan untuk melihat r tabel, N yang saya gunakan itu 30 atau 30-2 ya dok? terima kasih.

    BalasHapus
  56. selamat siang bapak
    saya mau bertanya,untuk rentang waktu berapa lama menyebar angket lagi apabila responden uji angket tersebut orang yang sama?
    terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya batasannya responden tsb telah lupa dengan kuesioner yang pernah diberikan, namaun berapa lama, batasannya tidak jelas. Trims

      Hapus
  57. Selamat sore Dok, saya mahasiswa yang hendak melakukan uji validitas kuesioner, Bolehkah saya minta referensinya yang menyatakan boleh menggunakan 10 sampel saja untuk uji validitas dan reliabilitas kuesioner untuk keperluan daftar pustaka,
    terimakasih

    BalasHapus
  58. selamat malam dok...
    saya mau tanya saya mau meneliti tentang emosi marah pada pasien hipetensi..
    instrumen marah udah pernah diuji validitas dan reliabilitas nya pada subjek lain/bukan hipertensi...
    apakah saya perlu mengujinya lagi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika kuesionernya tidak dilakukan perubahan, dan pernah dilakukan uji validitas dan dinyatakan valid, tidak perlu dilakukan uji lagi, namun dalam KTI, sebutkan sumbernya yang menyatakan kuesioner tsb telah diuji validitas. Trims

      Hapus
  59. malam dok...bagaimana jika kita tidak dapat menemukan responden yang memiliki karakteristik yang sama dengan populasi /sampel dengan penelitian kita apakah angket tersebut bisa tidak di uji cobakan????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika calon responden banyak (populasi) bisa diambil dari populasi yang sama, dengan cacatan tidak diambil lagi sebagai sample penelitian. trims

      Hapus
  60. Selamat siang dok, saya mau tanya?
    apakah uji validitas dan reliabilitas pada kuesioner bisa digunakan untuk satu sampel saja?
    pertanyaan pada kuesioner ini pernah di uji validitas dan reliabilitas dengan 30 sample (dan valid dan tepat). sekarang saya gunakan kuesioner tersebut untuk penelitian saya, tapi sampel saya cuma 1. Nah, apakah saya harus melakukan uji validitas dan reliabilitas ulang untuk kuesioner tersebut? makasih atas bantuannya dok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuesioner yang sudah pernah dilakukan uji validitas tidak perlu dilakukan uji ulang, dengan catatan tidak diadakan perubahan atau modifikasi. trims

      Hapus
    2. Selamat pagi dok. Kalau kuesioner yg saya pakai mengenai supervisi kepala ruang ttg tindakan keperawatan, dan saya hanya mengganti pada tindakan keperawatanny saja tnpa mengubah arti apapun mengenai supervisi tsb, apakah perlu diuji validitas dan reliabilitas lagi dok? mohon pencerahannya. Terima kasih.

      Hapus
    3. Perlu dilakukan uji validitas dan reliabitas lagi karena diadakan perubahan. Trims

      Hapus
  61. Selamat malam dok,saya mau tanya...
    Jika saya menggunakan kuesioner yg sudah baku dr peneliti sebelumnya dengan judul yang sama, apakah karakteristik respondennya juga harus sama dengan karakteristik responden dari peneliti sebelumnya tersebut?
    Terimakasih.

    BalasHapus
  62. Benar harus sama, karena kuesiner itu valid pada responden yang sama. Trims

    BalasHapus
  63. mau tanya pak,, dari 40 butir quesioner saya hanya 14 yang valid,, apakah datanya bisa dipakai ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Quesioner yang boleh dipakai untuk penelitian adalah yang valid saja, yang tidak valid harus dirubah dulu, kemudian di uji validitas lagi sampai valid. trims

      Hapus
    2. salam pak dok,, saya mau tanya,,, dalam penelitian saya menyebarkan kuisioner yang didalamnya terdapat 49 item pernyataan. apakah pada saat uji validitas 49 item tersebut diuji bersamaan atau dipisahkan sesuai dengan dimensi ukurnya masing-masing.? terima kasih

      Hapus
  64. selamat pagi pak. saya mau bertanya apakah kuesioner yang sudah di uji validasi kemudian hasil validasi tersebut kita berikan kepada responden yang kita teliti apakah jawaban dari responden yang kita teliti di test kembali validasi nya atau tidak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika kuesioner telah dilakukan uji validitas dan hasilnya valid, kuesioner tsb bisa langsung digunakan dan hasilnya tidak perlu dilakukan uji validitas lagi. Trims

      Hapus
  65. Selamat pagi dok, saya sedang menyusun kti. Saya mau tanya, dalam kti saya, saya membuat kuesioner mengenai perilaku tetapi hanya komponen tindakan saja. Kalau hanya tindakan apakah perlu di lakukan uji validitas dan reliabilitas? Atau bagaimana dok?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas sebelum kuesioner diberikan pada responden. Trims

      Hapus
  66. Dok saya ingin bertanya. jumlah sample dalam penelitian saya ada 50 responden. Nah pas diuji validitas 30 sample ada 3 item pernyataan tidak valid. Terus saya coba semuanya sampel jadi 50 sampel responden dan ternyata valid. Kalo ca
    ra nya seperti itu boleh ga dok. Mohon jawabnnya. Terimakasih

    BalasHapus