PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 29 November 2009

MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN (HEALTH SERVICES MANAGEMENT)

Dr. Suparyanto, M.Kes

DEFINISI PUSKESMAS

  • Puskesmas adalah unit pelaksana pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan
  • Maksud unit pelaksana adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan yang melaksanakan tugas teknis operasional
  • Maksud pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal

VISI PUSKESMAS

Visi Puskesmas adalah: “Mewujudkan Kecamatan Sehat”
Indikator kecamatan sehat:
  1. Indikator lingkungan sehat
  2. Indikator perilaku sehat
  3. Indikator pelayanan kesehatan yang bermutu
  4. Indikator derajat kesehatan yang optimal

MISI PUSKESMAS

  1. Menggerakan pembangunan kecamatan yang berwawasan kesehatan
  2. Mendorong kemandirian masyarakat dan keluarga untuk hidup sehat
  3. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau
  4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungannya

FUNGSI PUSKESMAS

  • Menggerakan pembangunan berwawasan kesehatan
  • Memberdayakan masyarakat dan memberdayakan keluarga
  • Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama

MANAJEMEN PUSKESMAS
1. Model PIE (Planning, Implementing, Evaluation)
   Model ini adalah yang paling sederhana, karena hanya meliputi 3 fungsi manajemen yaitu:
  1.    Planning atau Perencanaan
  2.    Implementing atau implementasi dan
  3.    Controling atau pemantauan
2. Model POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controling) dengan rincian fungsi manajemen sebagai berikut:
  1.  Planning atau perencanaan
  2.  Organizing atau pengorganisasian
  3. .Actuating atau penggerakan dan
  4.  Controling atau pemantauan

3.Model P1 – P2 – P3
  1. P1 = Perencanaan, berbentuk perencanaan tingkat puskesmas
  2. P2 = Penggerakan Pelaksanaan, berbentuk Minilokakarya puskesmas
  3. P3 = Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian, berbentuk Penilaian Kinerja Puskesmas

P1: Perencanaan
  1. Rencana Usulan Kegiatan
  2. Rencana Pelaksanaan Kegiatan
P2: Pelaksanaan dan Pengendalian
  1. Pengorganisasian
  2. Penyelenggaraan
  3. Pemantauan
P3: Pengawasan dan Pertanggungjawaban
  1. Pengawasan internal dan eksternal
  2. Pertanggungjawaban

4.Model ARRIF (Analisis, Rumusan, Rencana, Implementasi dan Forum Komunikasi)
   Model ini digunakan oleh jajaran Depkes, khususnya yang bergerak di bidang partisipasi masyarakat
   Manajemen ARRIF menghasilakan profil PSM di tingkat Kecamatan, Kabupaten/Kota, Propinsi

5.Model ARRIME (Analisis, Rumusan, Rencana, Implementasi, Monitoring dan Evaluasi)
   Model ini sebenarnya sama dengan ARRIF, hanya fungsi forum komunikasi dipecah menjadi monitoring dan evaluasi





INDIKATOR KEBERHASILAN

  • Makin baiknya fungsi penggerak pembagunan kesehatan berwawasan kesehatan, yang ditandai dengan makin tingginya IPTS (Indeks Potensi Tatanan Sehat) yang berarti makin banyak tatanan yang berpotensi sehat
  • Makin baiknya fungsi pemberdayaan masyarakat, yang ditandai dengan makin tumbuh dan berkembangnya UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat), BPP (Badan Penyantun Puskesmas), atau BPKM (Badan Peduli Kesehatan Masyarakat)

  • Makin baiknya fungsi pemberdayaan keluarga yang ditandai dengan makin tingginya IPKS (Indeks Potensi Keluarga Sehat) yang berarti makin banyak keluarga yang berpotensi sehat
  • Makin baiknya fungsi pelayanan kesehatan, ditandai dengan makin tinggi cakupan program dan kualitas pelayanan

LOKAKARYA MINI BULANAN
  • Pertemuan yang diselenggarakan setiap bulan di Puskesmas yang dihadiri oleh seluruh staff di Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Bidan di desa serta dipimpin oleh Kepala Puskesmas
  • Proses penggalangan kerjasama tim Puskesmas dengan pendekatan sistem

Masukan
  • Laporan hasil kegiatan bulan lalu
  • Informasi: hasil rapat dinas kab /kota, rapat kecamatan, kebijakan, program dan konsep baru

Proses .
  • Analisis hambatan dan masalah, Analisis sebab masalah,
  • Merumuskan alternatif pemecahan masalah

Keluaran
  • Rencana kerja bulan yang baru

LOKAKARYA MINI TRIBULANAN
  • Pertemuan yang diselenggarakan setiap 3 bulan sekali di Puskesmas yang dihadiri oleh instansi lintas sektor tingkat kecamatan, Badan Penyantun Puskesmas (BPP), staf Puskesmas dan jaringannya, serta dipimpin oleh camat
  • Proses penggalangan kerjasama tim lintas Sektor Puskesmas dengan pendekatan sistem

Masukan
  • Laporan pelaksanaan program kesehatan dan dukungan sektor terkait
  • Inventarisasi masalah/hambatan dari masing­masing sektor dalam pelaksanaan program kesehatan
  • Pemberian informasi baru

Proses
  • Analisis hambatan dan masalah pelaksanaan program kesehatan
  • Analisis hambatan dan masalah dukungan dari masing-masing sector
  • Merumuskan cara penyelesaian masalah

Keluaran
  • Rencana kerja tribulan yang baru
  • Kesepakatan bersama (untuk hal-hal yang dipandang perlu)

SUPERVISI

Pengawasan dibedakan atas dua macam yakni pengawasan internal dan eksternal.
  1. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan langsung.
  2. Pengawasan eksternal dilakukan oleh masyarakat, dinas kesehatan kabupaten/kota serta berbagai institusi pemerintah terkait.
  • Pengawasan mencakup aspek administratif, keuangan dan teknis pelayanan. Apabila pada pengawasan ditemukan adanya penyimpangan, baik terhadap rencana, standar, peraturan perundang-undangan maupun berbagai kewajiban yang berlaku, perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku

POLINDES
  • Suatu tempat yang didirikan oleh masyarakat atas dasar musyawarah, sebagai kelengkapan dari pembangunan kesehatan masyarakat desa, untuk memberikan pelayanan KIA dan KB.
  • Dikelola BDD kerjasama dengan dukun bayi serta dibawah pengawasan dokter Puskesmas

  • Pertolongan persalinan yang ditangani: persalinan normal, faktor risiko sedang
  • Kriteria faktor risiko sedang:
  • Umur Ibu <20th atau >35Th
  • Tinggi badan <145 cm Jarak antar dua kehamilan <2 th Jumlah paritas >3

Kriteria faktor risiko tinggi:
  1. Perdarahan selama kehamilan
  2. Panas tinggi atau infeksi
  3. Eklamsi
  4. Kelainan letak bayi dalam kandungan

PERSYARATAN POLINDES
  1. Adanya BDD
  2. Adanya peralatan: bidan kit, IUD kit, imunisasi, TB, Infus set, obat sederhana & uterotonika, buku KIA-KB, inkubator
  3. Memenuhi syarat rumah sehat: air bersih, ventilasi cukup, penerangan cukup, SPAL, pekarangan bersih, ukuran minimal: 3x4m2
  4. Lokasi terjangkau roda 4
  5. Ada tempat bersalin, post partum, 1 TT

TUJUAN POLINDES
Tujuan Umum:
  • Memperluas jangkauan, meningkatkan mutu dan mendekatkan pelayanan KIA-KB kepada masyarakat desa

Tujuan Khusus:
  1. Meningkatkan jangkauan dan mutu ANC dan persalinan normal di desa
  2. Meningkatkan pembinaan dukun desa
  3. Meningkatkan konsultasi dan penyuluhan
  4. Meningkatkan pelayanan kesehatan bayi dan anak oleh bidan

KEGIATAN POLINDES
  1. ANC
  2. Persalinan normal
  3. Pelayanan kesehatan bufas dan buteki
  4. Pelayanan kesehatan neonatal, bayi, balita, anak prasekolah, imunisasi
  5. Pelayanan KB
  6. Pertolongan pertama persalinan risiko tinggi
  7. Menampung rujukan dukun bayi dan merujuk ke fasilitas kes yg lebih mampu
  8. Melatih dan membina dukun bayi
  9. Penyuluhan kesehatan
  10. Mencatat dan melaporkan kegiatan ke Puskesmas

POLINDES
  1. Pembinaan oleh dokter Puskesmas
  2. Pembiayaan: ditetapkan berdasarkan musyawarah desa
  3. Perizinan: bidan harus punya SIPB
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar