PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 04 November 2010

PATOFISIOLOGI IMUNOLOGI 2

Dr. Suparyanto, M.Kes

PATOFISIOLOGI IMUNOLOGI 2

REAKSI MERUGIKAN OBAT
  • >10% Pasien yang minum obat, mengalami efek merugikan yang tidak terduga dari pengobatannya
  • Hal ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendasar dan menyebabkan pemborosan bahan material yang serius dan merugikan manusia
  • Respon merugikan berkaitan dengan obat → mencerminkan toksisitas yang disebabkan oleh dosis pemakaian atau kecepatan pemberianya
  • Reaksi idiosinkratik pada beberapa individu merupakan respon “personal” yang tidak dapat diperkirakan → mencerminkan pola unik metabolisme obat
  • Reaksi-reaksi yang menyerupai peristiwa imunologis dijumpai pada obat-obat (morfin, tiamin, polimiksin, tubokurarin) yang menyebabkan pelepasan histamin langsung dari sel mast dan basofil manusia → menyebabkan biduran dan urtikaria ditempat suntikan
  • Contoh reaksi hipersensitivitas tipe 1 → adalah alergi penicillin.
  • Reaksi yang merugikan terhadap pinisillin merupakan contoh hapten yang berikatan dengan protein tubuh
  • Agen yang mensensitisasi dapat menyebabkan: anafilaktik, urtikaria, reaksi IH, serum sikness dan dermatitis kontak
  • Respon IgE terhadap antigen yang disuntikan (mis:penisilin) mungkin terjadi pada sebagian individu, risiko reaksi urtikaria dan sistemik cepat, tidak terbatas pada populasi atopik
  • Uji kulit (skin test) menggunakan produk penisiloil polilisin (PPL) sekarang digunakan secara luas untuk menilai adanya hipersensitivitas terhadap penisilin
  • Hati → tempat metabolisme obat yang utama dan menunjang reaksi merugikan yang paling berat pada terapi
  • Jumlah terbanyak dari reaksi obat yang merugikan pada kulit terdiri dari makula (bintik merah datar) atau papula (bintik merah meninggi) yang terasa gatal dan cenderung bersatu menjadi suatu erupsi morbiliformis (mirip rubela)
  • Pengawasan ketat adanya tanda-tanda dini reaksi obat yang merugikan → memudahkan penghentian obat pencetus → membatasi morbiditas
  • Tindakan terbaik adalah menemukan adanya riwayat penyakit alergi sebelumnya yang memberi petunjuk adanya risiko tinggi

DEFISIENSI IMUN
  • Defisit kekebalan humoral (antibodi) mengganggu pertahanan melawan bakteri virulen, banyak bakteri seperti ini yang berkapsul dan merangsang pembentukan nanah
  • Host yang mengalami gangguan fungsi antibodi mudah menderita infeksi berulang di gusi, telinga bagian tengah, selaput otak, sinus paranasal dan struktur bronkopulmonal
  • Pemeriksaan imunoglobulin serum dengan alat nefelometri, sekarang telah banyak digunakan untuk mengukur kadar IgG, IgA, IgM dan IgD pada serum manusia
  • Imunodefisiensi humoral mencolok pada beberapa penyakit keganasan: mieloma multiple, leukemia limfositik kronik, dan perlu mendapat perhatian bila sel tumor menginfiltrasi struktur limforetikuler
  • Fungsi sel T yang tidak sempurna, pada banyak penyakit, juga sebagai “defek primer” atau disebabkan oleh beberapa gangguan seperti: AIDS, sarkoidosis, penyakit Hodgkins, neoplasma non-Hodgkins dan uremia
  • Fungsi sel T yang gagal → terjadi bila timus gagal berkembang (sindrom DiGeorge) → diperbaiki dengan transplantasi jaringan timus fetus
  • Perhatian yang serius terhadap setiap orang yang menderita defisiensi sel T yang jelas adalah pd ketidakmampuanya untuk membersihkan sel-sel asing termasuk leukosit viabel dari darah lengkap yang ditransfusikan

AIDS
  • AIDS (acquired immunodeficiency syndrome): adalah penyakit retrovirus yang ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan infeksi oportunistik, neoplasma skunder dan kelainan neurologik
  • AIDS disebabkan retrovirus RNA HIV-1, juga HIV-2 di Afrika Barat
  • Target utama HIV-1 adalah reseptor CD4+ yang terdapat di membran sel T helper, makrofag, sel dendritik (saraf) dan limfoid
  • Virus HIV masuk ke sel T helper melalui perlekatan gp 120 (epitop virus HIV) ke reseptor sel CD4+ → mengambil alih metabolisme sel T, untuk mensintese virus baru
  • Penularan HIV: melalui seks (homoseks atau heteroseks), transfusi darah, penyalah gunaan obat terlarang IV, plasenta
  • Uji penapisan standart adalah ELISA (enzyme-linked immuno sorbent assay) dan uji konfirmasi yang tersering adalah Western blot
  • Tanda utama infeksi HIV adalah deplesi progresif sel-sel T CD4+, termasuk sel T helper dan makrofag
  • Pada sistem imun yang masih utuh, jumlah normal sel T CD4+ berkisar dari 600 sampai 1200/mm3
  • Pada infeksi HIV, respon imun seluler maupun humoral ikut terlibat

FASE KLINIS HIV/AIDS
  1. Fase infeksi akut primer (serokonversi)
  2. Fase asimptomatik
  3. Fase simptomatik dini
  4. Fase simptomatik lanjut
  • Setelah fase awal infeksi HIV, individu mungkin tetap seronegatif selama beberapa bulan (masa jendela/ window period) saat ia mungkin menularkan virus kepada orang lain
  • Infeksi akut terjadi pada tahap serokonversi dari status antibodi negatif menjadi positif
  • Pada tahap post serokonversi: banyak pasien mengalami penyakit mirip-influenza, ruam atau limfadenopati yang berkaitan dengan penurunan limfosit T CD4+
  • Fase asimptomatik infeksi HIV → merupakan suatu periode laten klinis (tahunan) dengan sistem imun relatif utuh, namun replikasi virus HIV terus berlangsung terutama di jaringan limfoid
  • Fase simptomatik dini: ditandai dengan limfadenopati generalisata persisten (PGL) dengan gejala: demam menetap, keringat malam, diare, penurunan BB → fase awal penyakit AIDS
  • Fase simptomatik lanjut: imunodefisiensi bertambah parah disertai penyulit infeksi oportunistik, infeksi HIV ke SSP dan timbulnya neoplastik
  • Pasien HIV dengan hitung sel T CD4+ < 200/mm3, baik asimptomatik atau simptomatik diklasifikasikan sebagai pengidap AIDS
  • Pasien AIDS rentan infeksi protozoa, bakteri, jamur dan virus karena menurunya surveilans dan fungsi sistem imun
  • Pneumonia Pneumocystic carinii (PPC) adalah infeksi oportunitik serius yang paling sering didiagnosis pada pasien dengan AIDS, yaitu fase akhir infeksi HIV
  • Timbulnya keganasan merupakan gambaran yang sering dijumpai pada pasien AIDS, termasuk sarkoma kaposi (SK), limfoma tipe sel B derajat tinggi, dan karsinoma serviks invasif
  • Sarkoma Kaposi; merupakan tumor berwarna ungu di semua organ, tetapi paling khas di kulit
  • Infeksi SSP oleh HIV menimbulkan ensefalitis yang menyebabkan sindrom demensia (complex dementia AIDS), neuropati perifer, dan mielopati pada sebagian besar pasien dalam fase lanjut penyakit.
  • Waktu median dari serokonversi sampai kematian akibat AIDS adalah sekitar 11 tahun
  • Bayi yang lahir dari ibu positif HIV → memperlihatkan antibodi positif hingga umur 10 – 18 bulan, karena itu status HIV anak tidak dipakai uji ELISA atau Western blot, tetapi menggunakan: uji antigen p24 atau RNA HIV
  • Antibodi HIV bayi mengindikasikan ibu bayi tersebut positif HIV
  • Angka penularan HIV dari ibu ke bayi dpt dikurangi dengan obat antiretrovirus (zidovudin oral) selama kehamilan, zidovudin IV sewaktu persalinan termasuk SC, dan sirup zidovudin untuk bayi dan pemberian susu formula pada bayi, bukan ASI
  • Anak dengan AIDS perkembangan penyakitnya lebih cepat dan parah dibanding dewasa

REFERENSI
  • Price, Wilson (2005), Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Jakarta: EGC, edisi 6


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar