PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 22 April 2012

SIKAP MASYARAKAT TERHADAP ODHA

Dr. Suparyanto, M.Kes


SIKAP MASYARAKAT TERHADAP ODHA

KONSEP SIKAP (ATTITUDE)
      1. Pengertian Sikap
 Menurut ( Azwar. S, 2003:5 ) sikap adalah bentuk evaluasi atau perasaan seseorang terhadap suatu objek yaitu perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut.
         Menurut ( Notoatmodjo. S, 2003:124 ) sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkahlaku yang terbuka.
         Menurut ( Sumijatun, 2011:38 ) sikap adalah cara berfikir atau merasakan dalam kaitannya dengan sejumlah persoalan.
         Menurut Thurstone  yang dikutip walgito (2003: 109) sikap adalah sebagai suatu tingkatan afeksi baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis.
         Dari bermacam-macam pendapat tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa sikap itu merupakan pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon dalam cara yang tertentu yang dipilihnya.                  
      2. Berbagai Tingkatan Sikap                                           
    Menurut ( Notoatmodjo. S, 2003: 126 ) sikap terdiri dari berbagai   tingkatan yakni :
a.       Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan    memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b.      Merespon (responding)
          Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan  menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang di berikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.
c.       Menghargai (valuing)
          Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu  masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.             
d.      Bertanggung jawab (responsible)
          Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
      3. Struktur  Sikap
Menurut ( Azwar S, 2003: 23 ) dalam struktur sikap terdiri  atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu :
        a. Komponen kognitif yaitu komponen yang berisi kepercayaan   seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.


              b.  Komponen Afektif
                       Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.
              c.  Komponen Konatif
    Komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana bersikap atau kecenderungan bersikap yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Pengertian kecenderungan bersikap menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk sikap yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk sikap yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan oleh seseorang.
      4. Ciri-ciri Sikap
                Menurut ( Purwanto. H, 1998: 63) ciri-ciri sikap itu terdiri  dari:
a.      Sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan obyeknya. Sifat ini membedakannya dengan sifat motif-motif biogenetis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat.
b.      Sikap dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari dan  karena itu pula sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu.
c.       Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu obyek. Dengan kata lain,sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu obyek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas.
      5. Proses Pembentukan Sikap
             Menurut ( Azwar. S, 2003:30 ) faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosi dalam diri individu. Berikut ini akan diuraikan peranan masing-masing faktor dalam membentuk sikap manusia.
a.       Apa yang telah dan sedang dialami seseorang ikut membentuk  dan mempengaruhi penghayatan seseorang terhadap stimulus. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan, seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis.
b.      Pengaruh orang lain yang dianggap penting. Orang lain di sekitar  kita merupakan salah satu komponen yang ikut mempengaruhi sikap. Pada umumnya individu cenderung memiliki sikap yang konformis atau searah dengan sikap yang dianggap penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

c.Pengaruh kebudayaan
                     Kebudayaan dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai     pengaruh besar terhadap pembentukan sikap seseorang.
d.      Media Massa
                      Media massa sebagai sarana komunikasi yang berupa televisi, radio, surat kabar, majalah dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan kepercayaan dan opini seseorang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pesan-pesan yang berisi sugesti dan tugas yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa oleh informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
                e.   Lembaga pendidikan dan agama
   Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.


                f.  Pengaruh faktor emosional
              Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama.
6. Perubahan Dan Pengubahan Sikap
         Menurut Walgito (2003: 117) ada beberapa teori yang menerangkan tentang perubahan dan pengubahan sikap, seperti:
a. Teori Bimo Walgito
Mengemukakan bahwa sikap itu terbentuk karena faktor pengalaman individu/pribadi yang mempunyai peranan sangat penting dalam rangka pembentukan sikap individu yang bersangkutan. Namun demikian pengaruh luar itu sendiri berjumlah cukup menyakinkan untuk dapat menimbulkan atau membentuk sikap tersebut, sekalipun diakui bahwa faktor pengalaman adalah faktor yang penting. Karena itu dalam pembentukan sikap faktor individu sendiri akan ikut serta mentukan terbentuknya sikap, dan apakah sesuatu dari luar itu dapat diterima atau tidak. Karena itu secara garis besar pembentukan atau perubahan sikap itu akan ditentukan oleh dua faktor yang pokok, yaitu:
1. Faktor individu itu sendiri (faktor dalam)
Bagaimana individu menanggapi dunia luarnya bersifat selektif, ini berarti bahwa apa yang datang dari luar tidak semuanya begitu saja diterima, tetapi individu mengadakan seleksi mana yang akan diterima, dan mana yang akan ditolaknya. Hal ini berkaitan erat dengan apa yang telah ada dalam diri individu dalam menanggapi pengaruh dari luar tersebut, karena itu faktor individu justru merupakan faktor penentu bagaimana langkah untuk pembentukan atau pengubahan sikap.
2. Faktor luar (faktor eksteren)
Yang dimaksud faktor luar adalah hal-hal atau keadaan yang ada diluar diri individu yang merupakan stimulus untuk pembentukan atau mengubah sikap. Dalam hal ini dapat terjadi dengan langsung, dalam arti individu yang lain, antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan kelompok. Disamping itu dapat secara tidak langsung, yaitu dengan perantara alat-alat komunikasi, misal media massa   baik yang elektronik maupun yang non-elektronik.
              a. Perubahan sikap yang secara tidak langsung atau tidak sengaja   diberikan, yaitu dengan memberikan situasi yang memungkinkan dapat mengubah atau membentuk sikap yang baru yang memungkinkan dapat menimbulkan perubahan atau pembentukan sikap yang dikehendaki.


             b.  Perubahan Sikap yang langsung
         Hubungan secara langsung ini dapat dengan sengaja diberikan, misal adanya komunikator yang dengan sengaja memberikan sesuatu dengan tujuan untuk membentuk atau mengubah sesuatu sikap tertentu, dalam arti adanya hubungan yang langsung antara komunikator, yang ingin mengubah atau membentuk sikap dengan komunikan, ingin menjadi sasaran yang ingin diubah atau dibentuk sikapnya. Bila hal ini yang ditempuh, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan pemikiran, yaitu mengenai (a) pesan atau message,(b) komunikator , dan (c) komunikan.
1)      Pesan atau message
Pesan merupakan materi yang akan diberikan kepada pihak komunikan, dengan pengharapan agar apa yang diberikan itu dapat diterima oleh pihak komunikan secara baik. Mengenai masalah ini ada beberapa hal yang perlu pemikiran, yaitu sumber dan isi pesan. Sumber pesan akan memberikan suatu tanggapan tertentu terhadap materi yang dikemukakan. Sekalipun materinya sama, tetapi kalau sumbernya berbeda akan membawa perbedaan pula dalam menanggapi materi tersebut. Disini sebenarnya menyangkut masalah taraf kepercayaan terhadap materi yang diberikan. Materi dapat datang dari berbagai macam sumber, misal dari buku-buku, dari keadaan masyarakat, dari camat, dari bupati, dan sebagainya. Makin dapat dipercaya sumber materi tersebut, maka materi itu akan dapat lebih diterima daripada sumber yang kurang dapat dipercaya. Karena itu masalah sumber dari pesan atu materi yang disampaikan kepada komunikan perlu mendapatkan perhatian dengan sebaik-baiknya.
   Mengenai isi pesan sebaiknya jangan terlalu jauh dari kerangka acuan atau kerangka kehidupan, norma-norma dan sebagainya dari pihak komunnikan. Bila isi pesan jauh dari kerangka kehidupan pihak komunikan, maka perlu pemikiran secara masak cara membawakan atau cara pendekatan kepada pihak komunikan. Sebab bila isi pesan terlau jauh dari kerangka acuan atau kerangka kehidupan dari komunikan, ada kemungkinan terjadi efek bumerang dari apa yang diharapkan. Peristiwa ini telah diadakan eksperiment oleh Volkart dan Kelly (Iih Sherif dan Sherif, 1957). Disamping itu pesan atau materi akan dapat dengan mudah diterima oleh oleh pihak komunikan bila materi telah mendapat dukungan orang banyak, atau banyak orang yang telah melaksanakan atau menerima ide tersebut. Jadi disini soal mayoritas akan memengang peranan. Karena itu dalam keadaan tertentu perlu diberikan ilustrasi sampai sejauh mana pandukung dari hal baru atau suatu pesan itu yang diberikan kepada komunikan. Makin banyak pendukung dari suatu gagasan, akan makin lebih dapat diterima gagasan tersebut daripada tanpa adanya pendukung, karena itu perlu ada penonjolan mengenai pendukung terhadap gagasan tersebut.
2)      Komunikator
Suatu pesan atau materi yang sama, tetapi yang membawakan berbeda akan terdapat perbedaan dalam menerima materi tersebut. Disini nampak bahwa pihak komunikator ikut menentukan diterima tidaknya atau sampai sejauh mana kadar penerimaan materi dari pihak komunikan. Karena itu komunikator memegang peranan penting dalam rangka pengubahan atau pembentukan siakp secara langsung.
Persoalan yang nampak di sini ialah soal tingkat kepercayaan dari komunikator terhadap komunikan. Bila komunikator mempunyai taraf kepercayaan  yang berbeda, akan membawa pengaruh yang berbeda pula terhadap penerimaan materi yang dibawakannya. Menurut Hovland dan kawan-kawan masalah kredibilitas ini tergantung pada masalah expertness dan trustworthness. Expertness dapat diperoleh melalui latihan atau pendidikan, pengalaman, posisi, sedangkan trustworthness dapat diperoleh melalui posisi atau status, sifat-sifat pribadi juga. Melalui soal kepercayaan ini dapat dilihat melalui evaluasi para audien atau komunikan dan juga dapat dilihat dari perubahan sikap yang ada. Karena itu bila seseorang menghendaki agar pesan itu dapat diterima oleh komunikan soal kepercayaan dari komunikator perlu mendapatkan pemikiran. Disamping itu masalah lain yang perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan komunikator ialah teknik atau cara membawakan atau menyajikan pesan. Karena dengan cara yang berbeda akan dapat menimbulkan perbedaan dalam cara menanggapi atau penerimaan pesan yang diberikannya.
3)      Komunikan
         Komunikan inilah yang menjadi sasaran komunikator untuk diberikan sesuatu pesan yang berwujud pandangan, pendapat, norma-norma dan sebagainya, dengan upaya agar apa yang diberikan itu dapat diterima dengan baik oleh komunikan, sehingga akhirnya diharapkan akan dapat mengubah sikapnya.     
b. Teori Rosenberg
           Teori Rosenberg dikenal dengan teori affective-cognitive consistency dalam hal sikap, dan teori ini kadang-kadang juga disebut teori dua faktor. Rosenbeg (Iih. Secord & Backman 1964) yang memusatkan perhatianya pada hubungan komponen kognitif dan komponen afektif. Dalam beberapa pendapat diajukan komponen-komponen ini, tetapi bagaimana hubungan antara keduanya belum dikupas oleh para ahli. Menurut Rosnberg (Iih. Secord & Backman 1964) pengertian kognitif dalam sikap tidak hanya mencangkup tentang pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan objek sikap, melainkan juga mencangkup kepercayaan atau beliefs tentang htbungan antara objek sikap itu dengan sistem nilai yang ada dalam diri individu.
           Komponen afektif berhubungan dengan bagaimana perasaan yang timbul pada seseorang yang menyertai sikapnya, dapat positif tetapi juga dapat negatif terhadap objek sikap. Bila seseorang mempunyai sikap positif terhadap objek sikap, maka ini berarti adanya hubungan pula dengan nilai-nilai positif yang lain yang berhubungan dengan objek sikap tersebut, demikian juga dengan sikap yang negatif. Ini berarti menurt Rosnberg (Iih. Secord & Backman 1964) bahwa komponen afektif akan selalu berhubungan dengan komponen kognitif, hubungan tersebut dalm keadaaan konsisten. Rosnberg berpendapat bahwa adanya hubungan yang konsisten antara komponen afektif dengan komponen kognitif ini berarti bila seseorang mempunyai sikap yang positif terhadap sesuatu objek, maka indeks kognitifnya juga akan tinggi, demikian sebaliknya.
         Suatu hal yang penting penerapan teori Rosnberg ini ialah dalam kaitanya dengan pengubahan sikap. Karena hubungan komponen afektif dengan komponen kogntif konsisten, maka bila komponen afektifnya berubah maka komponen kognitifnya berubah, komponen kognitifnya juga akan berubah. Pada umumnya kognitifnya, hingga akhirnya komponen afektifnya akan berubah. Dalam rangka dahulu. Dengan berubahnya komponen afektif akan berubah pula komponen kognitifnya, yang ada pada akhirnya akan berubah pula sikapnya (Iih. Secord & Backman 1964).

      7. Pengukuran Sikap
                       Menurut ( Azwar S, 2003: 95 ) salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran (measurement) sikap. Ada beberapa metode pengukuran sikap antara lain dengan pertanyaan langsung, pengungkapan langsung dan skala sikap.
                      Pengungkapan sikap dalam bentuk self report merupakan metode yang dianggap paling baik. Hal ini dilakukan dengan menggunakan daftar pernyataan-pernyataan yang harus dijawab oleh individu dan disebut sebagai skala sikap.
                 Skala sikap (attitude scale) yaitu berupa kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai suatu obyek sikap. Respon subyek pada setiap pernyataan itu kemudian dapat disimpulkan mengenai arah dan intensitas sikap seseorang. Salah satu sifat skala sikap adalah isi pernyataannya yang dapat berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukurnya bagi responden. Walaupun responden dapat mengetahui bahwa skala tersebut bertujuan mengukur sikap namun pernyataan tidak langsung ini biasanya tersamar dan mempunyai sifat proyektif. Respon individu terhadap stimulus (pernyataan-pernyataan) sikap yang berupa jawaban setuju atau tidak setuju itulah yang menjadi indikator sikap seseorang. Respon tampak yang dapat diamati langsung dari jawaban yang diberikan seseorang merupakan bukti satu-satunya yang kita peroleh dan itulah yang menjadi dasar untuk menyimpulkan sikap seseorang.
      8.  Sikap Masyarakat pada ODHA
               Menurut Pertiwi, 2009 Sikap negatif yang dilakukan masyarakat terhadap ODHA ( Orang Dengan HIV/AIDS ) ini disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat dengan jelas cara-cara penularan HIV, masyarakat hanya mengetahui HIV/AIDS itu merupakan sebatas penyakit menular, penderitanya berbahaya, dan fakta AIDS sebagai penyakit mematikan. Dari kurangnya informasi atau pemahaman itulah maka timbulah sikap negatif masyarakat pada ODHA dengan digosipkan, dan diremehkan dari masyarakat yang percaya bahwa HIV/AIDS adalah buah dari kehancuran moral dan penderitanya adalah ancaman terhadap “kemurnian” akhlak atau moralitas yang secara sepihak merampas hak-hak pribadi yang dimiliki oleh individu, hak untuk dapat hidup secara normal seperti masyarakat lainnya.
a.     Mengapa muncul sikap negatif pada ODHA
Menurut ( Kristina 2005 yang dikutip dari Jessica. S, 2004) sikap negatif pada ODHA ini muncul di masyarakat biasanya terjadi ketika kasus HIV/AIDS baru merebak dan masyarakat masih awam sekali menghadapinya. Keadaan ini biasanya dialami oleh masyarakat-masyarakat yang untuk pertama kali menghadapi HIV/AIDS. Misalnya sering terjadi bahwa seorang ibu rumah tangga yang positif HIV/AIDS digosipkan, diremehkan dan ada juga yang  tidak mau tinggal dalam satu lingkungan dengan ODHA. Sebetulnya sikap negatif ini muncul karena masyarakat belum memahami benar mengenai HIV/AIDS.

 9. Faktor-faktor Pendukung HIV/AIDS Dihubungkan  Dengan Sikap  Negatif
                                                         
      Menurut (Kristina 2005 yang dikutip dari Hasbullah, 1999) faktor-faktor pendukung HIV/AIDS dihubungkan dengan sikap negatif, karena:
a.       HIV/AIDS adalah penyakit yang mengancam kehidupan
b.      Masyarakat takut terjangkit oleh HIV
c.       ODHA seringkali dianggap bertanggungjawab terhadap   infeksi yang mereka alami
d.      Agama atau kepercayaan mengarahkan beberapa orang untuk percaya bahwa orang dengan HIV/AIDS adalah akibat dari kesalahan moral (seperti melakukan hubungan seks dengan siapa saja atau perilaku seks yang menyimpang)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar