PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 14 Oktober 2012

SEKILAS TENTANG MASA NIFAS

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG MASA NIFAS
  

1.    DEFINISI/PENGERTIAN NIFAS
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari. S, dkk, 2002)
Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu. (Rustam Mochtar, 1998 ).

2.    MACAM-MACAM NIFAS
a.    Puerperium Dini (Dalam 24 jam pertama )
            Kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b.    Puerperium Intermedial (Minggu pertama postpartum ).
            Kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.
c.    Remote Puerperium (Minggu kedua sampai dengan minggu keenam ).       Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna

3.    LARANGAN DAN HIMBAUAN PADA IBU SAAT NIFAS
Larangan/Kebiasaan yang tidak dianjurkan pada ibu nifas
a.    Berpantang makanan
b.    Merokok/mengkonsumsi obat-obatan yang dapat membahayakan kesehatan ibu
c.    Penggunaan bebat perut yang berlebihan
d.    Menggunakan kantong es/pasir untuk menjaga uterus berkontraksi
e.    Memisahkan ibu dan bayi terlalu lama
Hinbauan yang dianjurkan pada ibu nifas
a.    Mobilisasi sedini mungkin. Setelah melahirkan ibu harus istirahat terlentang selama 8 jam kemudian boleh miring kekiri dan kekanan. Hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan  hari ke 4 atau 5 diperbolehkan pulang.
b.    Diet seimbang/nutrisi cukup,  Sebaiknya makan – makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur mayur dan buah – buahan.
c.    Personal Hygiene, Kebersihan diri selain memberikan rasa nyaman juga dapat mencegah terjadinya infeksi.
d.    Istirahat cukup: Untuk mencegah kelelahan yang berlebihan karena kurang  istirahat akan mempengaruhi produksi ASI, memperlambat proses involusi dan memperbanyak perdarahan dan dapat menyebabkan depresi.
e.    Perawatan payudara: Dianjurkan sekali supaya ibu menyusukan bayinya karena sangat baik untuk   kesehatan bayinya.
f.     Latihan/senam: Senam berfungsi untuk memperkuat otot-otot perut,tonus otot jalan lahir dan dasar panggul.



4.    TANDA DAN BAHAYA NIFAS
  1. Perdarahan lewat jalan lahir
  2. Keluar cairan berbau dari jalan lahir
  3. Demam lebih 2 hari
  4. Bengkak di muka tangan atau kaki, kadang disertai sakit kepala dan kejang-kejang
  5. Payudara bengkak,kemerahan dan nyeri
  6. Mengalami gangguan jiwa

5.    CARA PERAWATAN PERINEUM PADA MASA NIFAS
Perawatan luka perineum menurut APN adalah sebagai berikut:
  1. Menjaga agar perineum selalu bersih dan kering.
  2. Menghindari pemberian obat trandisional.
  3. Menghindari pemakaian air panas untuk berendam.
  4. Mencuci luka dan perineum dengan air dan sabun 3-4 x sehari.
  5. Kontrol ulang maksimal seminggu setelah persalinan untuk pemeriksaan       penyembuhan luka.

Waktu Perawatan Perineum
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah:
  1. Saat mandi
  2. Setelah buang air kecil
  3. Setelah buang air besar

 Tujuan Perawatan Luka
  1. Mencegah infeksi dari masuknya mikroorganisme ke dalam kulit dan membran mukosa
  2. Mencegah bertambahnya kerusakan jaringan
  3. Mempercepat penyembuhan dan mencegah perdarahan
  4. Membersihkan luka dari benda asing atau debris

6.    KEBUTUHAN GIZI BAGI IBU NIFAS
  1. Mengkonsumsi tambahan kalori 500 kalori tiap hari
  2. Makan dengan diet berimbang ( cukup protein,mineral dan vitamin )
  3. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari
  4. Minum tablet besi selama 40 hari pasca melahirkan
  5. Minum kapsul vitamin A (200.000 IU)

7.    FREKUENSI DAN WAKTU SENGGAMA PASCA MELAHIRKAN
  1. Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan nyeri pada vagina/liang sanggama.
  2. Ada budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai masa Waktu tertentu, misalnya 40 hari/6 minggu setelah persalinan.

8.    SENAM/LATIHAN PADA SAAT NIFAS
  1. Pengertian senam nifas
Senam nifas adalah latihan jasmani yang dilakukan oleh ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih dimana fungsinya adalah untuk mengembalikan kondisi kesehatan, untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan memperbaiki regangan pada otot-otot setelah kehamilan, terutama pada  otot-otot bagian punggung, dasar panggul dan perut (Anggriyana 2010).

  1. Tujuan senam nifas
Senam nifas dapat dilakukan oleh ibu-ibu pasca persalinan, dimana senam nifas  mempunyai tujuan untuk :
a)    Membantu mencegah pembentukan bekuan (thrombosis) pada pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat dan tidak bergantung.
b)    Mengencangkan otot perut, liang senggama, otot-otot sekitar vagina maupun otot-otot dasar panggul.
c)    Memperbaiki regangan otot perut.
d)    Untuk relaksasi dasar panggul.
e)    Memperbaiki tonus otot pinggul.
f)     Memperbaiki sirkulasi darah.
g)    Memperbaiki regangan otot tungkai.
h)   Memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan

  1. Kontra indikasi
Senam nifas seyogyanya tidak dilakukan oleh ibu yang menderita anemia atau yang            mempunyai riwayat penyakit jantung dan paru-paru.

  1. Pelaksanaan senam nifas
Sebelum melakukan senam nifas, sebaiknya tenaga kesehatan mengajarkan kepada ibu  untuk melakukan  pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan dapat dilakukan dengan melakukanlatihan pernapasan dan dengan cara menggerak-gerakkan kaki dan tangan secara santai. Hal ini bertujuan untuk menghindari kekejangan otot selama melakukan gerakan senam nifas. Senam nifas sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, kemudian dilakukan secara teratur setiap hari. Namun, pada umumnya para ibu sering merasa takut melakukan gerakan demi gerakan setelah persalinan. Padahal 6 jam setelah persalinan normal atau 8 jam setelah operasi sesar, ibu sudah boleh melakukan mobilisasi dini, termasuk senam nifas.  Bentuk latihan senam antara ibu pasca melahirkan normal dengan yang melahirkan   dengan cara sesar tidak sama. Pada ibu yang melahirkan dengan cara sesar, beberapa jam  setelah keluar dari kamar operasi, latihan pernapasan dilakukan untuk memepercepat penyembuhan luka. Sementara latihan untuk mengencangkan otot perut dan memperlancar  sirkulasi darah dibagian tungkai dapat dilakukan 2-3 hari setelah ibu dapat bangun dari tempat tidur. Sedangkan pada persalinan normal, bila keadaan ibu cukup baik, maka  gerakan senam dapat dilakukan.

  1. Macam-macam Senam Nifas
Menurut Brayshaw (2008) macam senam nifas dapat dibedakan menjadi berikut :
a)    Senam pascanatal setelah persalinan normal
b)    Senam sirkulasi: Jenis senam ini harus dilakukan sesering mungkin setelah persalinan. Senam ini bertujuan untuk mempertahankan dan/atau meningkatkan sirkulasi ibu pada masa pascapartus segera ketika ia mungkin berisiko mengalami trombosis vena atau komplikasi sirkulasi ini. Senam ini dapat dilakukan di tempat tidur beberapa kali  setelah bangun tidur dan harus dilanjutkan sampai ibu mampu mobilisasi total dan tidak ada edema pergelangan kaki (Brayshaw, 2008).

c)    Senam kaki: Duduk atau berbaring dengan posisi lutut lurus. Tekuk lalu regangkan scara perlahan  sedikitnya 12 kali, ingat untuk lebih memilih gerakan dorsifleksi bukan plantarfleksi untuk mencegah kram. Pertahankan posisi lutut dan paha, putar kedua pergelangan sebesar mungkin putaranya, sedikitnya 12 kali untuk satu arah.

d)    Mengencangkan kaki: Duduk atau berbaring dengan kaki lurus. Tarik kedua kaki ke atas pada pergelangan kaki dan tekankan bagian belakang lutut ke tempat tidur. Tahan posisi ini dalam hitungan 5, bernapaslah secara normal, lalu relaks. Ulangi gerakan sebanyak 10 kali (Brayshaw, 2008).

e)    Napas dalam: Pernafasan diafragma membantu mengembalikan aliran vena melalui kerja pemompaan diafragma pada vena kava inferior dan harus diulangi beberapa kali sehari sampai ibu  dapat mobilisasi (Brayshaw, 2008).

f)     Dalam posisi apa pun, tarik napas dalam sebanyak 3 atau 4 kali (tidak boleh lebih)  untuk memungkinkan ventilasi penuh paru-paru.



  1. Dasar panggul
Senam dasar panggul menguatkan otot dasar panggul pascapartus, tujuannya mengembalikan fungsi penuhnya sesegera mungkin dan membantu mencegah masalah   atau prolaps urine jangka panjang. Namun, kontraksi dan relaksasi otot-otot ini juga   membantu meredakan ketidaknyamanan pada perineum, rasa ini mungkin timbul akibat persalinan, dan tujuan pemulihan dengan meningkatkan sirkulasi lokal dan mengurangi edema. (Brayshaw, 2008).

a)    Latihan dasar panggul
Kencangkan anus seprti menhakan defekasi, kerutkan uretra dan vagina juga seperti menahan berkemih, kemudian lepaskan ketiganya. Tahan dengan kuat selama mungkin sampai 10 detik, bernapas secara normal. Relaks dan istirahat selama 3 detik. Ulangi  dengan perlahan sebanyakmungkin sampai maksimum 10 kali.
Ulangi senam dengan mengencangkan dan mengendurkan, gerakanlebih cepat sampai 10 kali tanpa menahan kontraksi. Jumlah pengulangan akan bertambah secara bertahap  bila ibu hanya menyanggupi beberapa kali melakukan senam ini pada awalnya, namun  ibu perlu diberi tahu bahwa hal ini normal (Brayshaw, 2008).

  1. Senam abdomen
Selama kehamilan, korset abdomen mengalami peregangan mencapai kira-kira dua kali  lipat dari panang semula pada akhir minggu masa kehamilan. Seluruh otot abdomen memerlukan latihan untuk mencapai panjang dan kekuatan semula, namun otot yang  terpenting karena perannya dalam menjaga kestabilan panggul ialah otot transversus. Latihan transversus dapat dimulai kapan pun ibu merasa mampu dan harus dilakukan sering sambil ibu melakukan aktivitasnya bersama bayi (Brayshaw, 2008)

a)    Senam transversus (Gambar 2.2)
Berbaring dan kedua lutut ditekuk dan kaki datar menapak di tempat tidur. Letakkan  kedua tangan di abdomen bawah di depan paha. Tarik napas dan pada saat akhir hembuskan napas, Kencangkan bagian bawah abdomen di bawah umbilicus dan tahan dalam hitungan 10, lanjutkan dengan bernapas normal. Ulangi sampai 10 kali.

  1. Senam dasar panggul dan transversus
Kerja otot dasar panggul dan transversus akan bertambah dengan mengombinasikan kedua latihan tersebut (Sapsford et al, 2001). Aktivitas bersama ini terutama bermanfaatpada masa pascanatal, khusunya bila gerakan otot dasar panggul sulit dimulai. Caranya ibu dapat mengontraksikan transversus terlebih dahulu lalu otot dasar panggul atau sebaliknya. Penting untuk menggunakan kontraksi kombinasi ini secara fungsional selama melakukan aktivitas untuk melindungi sendi panggul dan tulang belakang. Seorang ibu baru melakukan banyak tugas yang melibatkan gerakan mengangkat misalnya, ketika sedang mengganti popok bayi, meletakkan bayi ke tempat tidur, menyusui. Ibu juga perlu diingatkan untuk menggunakan otot dasar panggul dan transversus sebelum mulai melakukan tugas apa pun (Brayshaw, 2008)

  1. Mengangkat panggul (Gambar 2.3)
Senam mengangkat panggul dapat dilakukan pada awal pascapartum, dan khususnya bermanfaat bila ibu memiliki riwayat nyeri punggung postural. Berbaring telentang dan kedua lutut ditekuk dan kaki ditapakkan ke lantai, kencangkan otot-otot abdomen, kencangkan juga otot panggul dan tekan sedikit area belakang lantai. Tahan posisi ini sampai hitungan lima. Ulangi gerakan ini gerakan ini 5 kali, tingkatkan hingga pengulangan mencapai hitungan 10 kali atau lebih pada minggu-minggu selanjutnya. Ulangi latihan ini dengan lebih berirama (pelvic rocking), untuk membantu meredakan kekauan yang timbul akibat pengaruh postural atau nyeri punggung yang mungkin timbul setelah persalinan.

Latihan ini dapat dilakukan dengan berbagai posisi, misanlya, posisi duduk dan berdiri lebih nyaman dibandingkan berbaring apabila ibu tinggal di rumah dan sibuk .

  1. Pemeriksaan rektus
Kira-kira pada hari ketiga, otot rektus harus diperiksa untuk mengetahui kemungkinan  diastasis yang berlebihan. Bidan adalah sosok yang tepat untuk mengkaji diastasis ketika sedang mempalpasi fundus. Ibu dalam posisi berbaring telentang dengan satu bantal di bawah kepala, tekuk lutut, dan kaki datar di tempat tidur.

Dengan jari tangan bidan menekan ke abdomen yakni di bawah atau di atas umbilikus, ibu diminta untuk mengangkat kepala dan bahunya dari bantal dan mengarahkannya ke lutut.  Bila tidak terdapat diastasis, otot rektus akan terasa mengencang pada kedua sisi jari. Bila otot rektus tidak teraba walaupun dengan dua atau lebih jari dimasukkan dan otot rekti yang mencuat, hanya senam transversus dan mengangkat panggul yang boleh dilakukan dan dapat dilatih beberapa kali sehari. Setelah beberapa hari, pengkajian area rektus dapat   diulangi. Bila celah masih menunjukkan lebar yang bermakna dan tidak juga berkurang, ibu harus dirujuk ke ahli fisioterapi kesehatan wanita (Brayshaw, 2008).

  1. Senam stabilitas batang tubuh (Gambar 2.4)
a)    Dengan posisi duduk dan kaki datar diatas lantai serta tangan diatas otot abdomen bawah, tarik otot dasar panggul dan tranversus serta naik kan satu lutut sehingga kaki beberapa inci di atas lantai. Tahan selama lima detik. Ulangi sebanyak lima kali gerakan (Gambar 2.5)

b)    Dengan posisi berbaring miring, tekuk kedua lutut kearah atas depan, tarik otot tranversus serta angkat lutut atas, dengan cara memutar paha ke arah luar sementara tumit saling berdekatan.
      .
c)    Dengan posisi berbaring miring dan lutut kaki yang bawah di tekuk ke arah belakang, tarik abdomen bagian bawah dan naikkan kaki yang atas ke arah atap sejajar dengan tubuh. Tahan gerak kan selama 5 detik (Gambar 2.6)         
     
d)    Dengan posisi berbaring telentang, tekuk kedua lutut ke atas dan kaki datar di atas lantai

Letak kan tangan di atas abdomen depan paha, tarik abdomen bawah dan biarkan lutut kanan sedikit ke arah luar dengan sedikit mengendalikan untuk memastikan bahwa pelvis tetap pada posisi nya dan punggung tetap datar (Gambar 2.7
   
Dengan posisi berbaring telentang, tekuk kedua lutut ke atas dan kaki datar di atas lantai. Letak kan tangan di atas abdomen depan paha, tarik abdomen bawah dan secara perlahan luruskan tumit salah satu kaki dengan tetap mempertahankan punggung datar setinggi panggul. Hentikan bila panggul mulai bergerak (Gambar 2.8)

  1. Senam pascanatal setelah persalinan dengan bantuan
Ibu yang baru menjalani persalinan dengan forcep atau ekstraksi vakum akan mengalamipenjahitan dan kemungkinan memar serta edema. Ibu ini akan ragu-ragu melakukan senam, namun harus diharuskan untuk melakukan senam sirkulasi (khususnya bila mereka pernah mengalami anestesi epidural) dan senam dasar panggul ringan yang akan membantu penyembuhan perineum. Senam transversus harus diperkenalkan kapan pun ibu siap (Brayshaw, 2008).
Posisi istirahat yang nyaman adalah berbaring miring dengan bantal diletakkan di antara kedua kaki (Gambar 2.9) dan posisi berbaring telungkup (banyak ibu lupa bahwa ia sudah bisa telungkup lagi), dengan satu buah bantal diletakkan di bawah pinggang dan lainnya di bawah kepala dan bahu (Gambar 2.10). Menyusui akan lebih nyaman dengan posisi miring daripada duduk (Brayshaw, 2008).

  1. Senam pascanatal dan saran setelah seksio sesarea
Ibu harus diajarkan bagaimana naik turun tempat tidur dengan menekuk kedua lutut terlebih dahulu, tarik otot abdomennya dan berguling ke depan, dengan dorongan tangan  dan kaki. Ia akan mampu berpindah ke arah atas atau bawah. Ibu tidak diperkenankan langsung duduk dari posisi berbaring, namun tetap berguling ke samping. Gerakan ini juga   cara termudah untuk bangun dari tempat tidur - kencangkan bagian transverses dan dorong ke posisi duduk di samping tempat tidur (Brayshaw, 2008). Napas dalam diikuti dengan huffing (ekspirasi paksa singkat), akan membantu mengeluarkan sekresi di paru-paru yang mungkin dapat terjadi setelah pemberian anestesi umum. Bila ibu perlu batuk, ia harus menekuk lututnya dan menahan lukanya  dengan tekanan tangan atau bantal, sementara ibu bersandar atau duduk di tepi tempat  tidur (Gambar 2.11). posisi ini mencegah regangan berlebihan pada sutura, meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi rasa nyeri (Brayshaw, 2008).

  1. Senam pascanatal setelah bayi lahir mati atau kematian neonatus
Ibu yang baru mengalami kesedihan karena bayi lahir mati atau kematian neonatus, atau mereka yang bayinya menderita sakit parah, mungkin dirawat di ruang khusu dan  cenderung tidak mengikuti senam pascanatal. Dukungan yang khusus perlu diberikan  agar ibu mau melakukan senam ini serta saran tentang aktivitas normalnya sehari-hari. Mereka biasanya cenderung ingin mempraktekan dalam sesi tunggal. Sediakan leaflet yang tidak menyinggung tentang bayi, misalnya tentang menyusui, mengganti popok. Ibu  ini, biasanya kembali bekerja lebih awal dari perencanaan semula dan memerlukan   redukasi senam otot dasar panggul dan abdomen, khususnya ketika harus melakukan   aktivitas fungsional. Mereka menginginkan pertemuan tindak lanjut dengan ahli  fisioterapi setelah beberapa minggu kemudian, karena sangat tidak tepat baginya  mengikuti kelas pascanatal (Brayshaw, 2008).

  1. Senam yang harus dihindari

Dua latihan yang lazim “senam abdomen”, yaitu menaikkan kedua kaki bersamaan dan sit-up dengan kaki lurus. Latihan ini berisiko tinggi untuk siapa pun dan mungkin dapat  mengakibatkan cedera kompresi terhadap diskus vertebralis atau kerusakan otot dan ligamen (Donovan et al, 1988). Terdapat risiko tambahan bagi ibu pascanatal karena terdapat peregangan otot kelenturan ligamen (Brayshaw, 2008).



DAFTAR PUSTAKA

1.    Mochtar Rustam,1998,Sinopsis Obstetri fisiologi dan Obstetri Patologi,Penerbit EGC,Jakarta
2.    Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
3.    Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta.2010.
4.    Pegangan Fasilitator Kelas Ibu Hmil, Dep,Kes.RI.2009
5.    Brayshaw. E. 2007. Senam hamil dan nifas. EGC. Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar