PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 14 Oktober 2012

SEKILAS TENTANG MENYUSUI BAYI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SIKILAS TENTANG MENYUSUI BAYI

1.    Definisi Menyusui
Menyusui artinya memberikan makanan kepada bayi yang secara langsung dari payudara ibu sendiri. Menyusui adalah proses alamiah dimana berjuta-juta ibu melahirkan di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang pemberian ASI. Walaupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini,melakukan hal yang sifatnya alamiah tidaklah selalu mudah untuk dilakukan oleh para ibu-ibu menyusui.(Utami Roesli,2000)

Air susu ibu ( ASI ) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan  protein, laktose, dan garam – garam  organik yang  disekresi  oleh  kedua belah  kelenjar  payudara ibu,sebagai makanan utama bagi bayi ( Sotjiningsih, 2007 ).

ASI (Air Susu Ibu) merupakan sebuah cairan berwarna putih yang menyerupai susu, yang banyak sekali mengandung nutrisi yang bersumber dari ibu, ketika ibu tersebut sedang hamil dan biasanya dikeluarkan pada saat bayi lahir. (http://seputar-ASI.com)

ASI adalah makanan bayi yang terbaik. Produksi ASI akan lebih cepat dan lebih banyak bila dirangsang sedini mungkin dengan cara menetekkan sejak bayi lahir hingga selama mungkin. Pada hari-hari pertama, yang keluar adalah colostrum yang jumlahnya sedikit. Tidak perlu khawatir bahwa bayi akan kurang minum, karena bayi harus kehilangan cairan pada hari-hari pertama dan absorbsi usus juga sangat terbatas. (Ilmu Kebidanan, YBP–SP, 2005 : 226)

Air susu ibu (ASI) adalah sebuah cairan tanpa tanding ciptaan Allah untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. Pada saat yang sama, ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan-makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan tekhnologi masa kini tidak mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.

2.    Cara Dan Posisi Menyusui Yang Benar
Langkah-langkah menyusui yang benar
1)    Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar putting, duduk atau berbaring dengan santai.
2)    Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.
3)    Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu.
4)    Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.

Cara pengamatan teknik menyusui yang benar
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu.
 Apabila bayi telah menyusui dengan benar maka akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai berikut :
1)    Bayi tampak tenang.
2)    Badan bayi menempel pada perut ibu.
3)    Mulut bayi terbuka lebar.
4)    Dagu bayi menmpel pada payudara ibu.
5)    Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk.
6)    Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan.
7)    Puting susu tidak terasa nyeri.
8)    Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus.
9)    Kepala bayi agak menengadah.



3.    Tanda Bayi Sudah Kenyang
1)    Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warnanya jernih  sampai kuning muda.
2)    Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan “berbiji”.
3)    Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup. Bayi yang selalu tidur bukan pertanda baik.
4)    Bayi setidaknya menyusu 10–12 kali dalam 24 jam.
5)    Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui.
6)    Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai menyusu.
7)    Bayi bertambah berat badannya. (Abdul Bari Saifuddin, 2002 : N–26)

4.    ASI Eksklusif
ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 6 (enam) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat.
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan  gizi bayi selama 6 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan  kemampuan pencernaan bayi.  ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan.

5.    Perbedaan ASI, Kolostrum, Dan Susu Formula
  1. ASI,
 Kandungan ASI  :Lemak sangat penting dalam memberikan asupan energy kepada bayi, dan juga membantu bayi dalam mengatur suhu.
Ada dua macam lemak yang terkandung di dalam ASI yaitu lemak linoleat dan asam alda linoleat  yang  nantinya akan diproses oleh tubuh bayi menjadi AA dan DHA yang dominan membantu  pertumbuhan otak bayi.
Laktosa berperan dalam membangun system syaraf dan juga asupan energy bagi bayi untuk beraktifitas. Laktosa akan dioleh oleh tubuh menjadi galaktosa dan glukosa sebagai bahan  utama pertumbuhan syaraf. ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk: menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat pathogen, merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin.
Oligosakarida adalah bahan bioaktif yang terkandung di dalam ASI yang memiliki fungsi sebagai prebiotik, zat ini dapat meningkatkan jumlah bakteri baik yang hidup di dalam pencernaan bayi secara alami.
Protein adalah zat utama dalam pembentukan struktur otak bayi sehingga dapat meningkatkan kecerdasan bayi.
 ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan  kemampuan  pencernaan bayi, suhu tepat, aman dan bersih, dan  menghindarkan bayi dari alergi dan diare
 Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat.
 Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral, seperti calsium, magnesium.
 ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.
 ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi.
 Asi praktis dan ekonomis, dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. Disamping itu asi juga bebas dari kesalahan dalam penyediaan dan penyajian.
 Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi.
  1. Colostrum
Berdasarkan waktu diproduksi, ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu :
a)    Colostrum
Colustrum bewarna kekuningan yang keluar pertama kali setelah bayi lahir mengandung protein yang terdiri dari lactalbumin, lactalglobin,casein, minyak, mineral, vitamin A dan Ig a. Kandungan Ig a dalam kolustrum jauh lebih besar dibandingkan dengan yang terkandung dalam asi. Kolustrum menjamin bayi baru lahir dapat beradaptasi dan berhasil melewati masa trasnsisi.
Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mammae yang mengandung  tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mammae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak. Disekresi oleh kelenjar mammae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi. Volumenya berkisar 150–300 ml/24 jam.
Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya. Protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh  terhadap infeksi.  Lebih banyak mengandung antibodi  yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama.
Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum. Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah. Bila dipanaskan menggumpal,dan PH lebih alkalis. Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin. Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna, yang akan  menambah kadar antibodi pada bayi.

b)    Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi  ASI mature. Disekresi dari hari ke 4–hari ke 10 dari masa laktasi,  tetapi ada pula dari berpendapat bahwa ASI mature  baru akan terjadi pada minggu ke 3–5. Volumenya semakin bertambah.
c)    Air Susu Mature
                        ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3–5 komposisi ASI nya baru konstan. Tidak menggumpal bila dipanaskan. Volume : 300–850 ml/24jam. (http://library.usu.fkm_arifin4.id)

  1. Susu Formula
 Dibuat dari susu hewan.
 Proses pembuatannya di pabrik.
 Tidak semua anak bisa menggunakan susu formula ada resiko alergi dan diare.
 Harus menyiapkan botol susu dan steril.
 Tidak bisa langsung diberikan harus dibuat dulu beda dengan ASI.
 Di dalam susu formula mungkin  akan menemukan zat-zat serupa, namun tidak semua dapat anda jumpai seperti oligosakarida yang hanya terkandung di dalam ASI.
 Susu formula tidak dapat menggantikan ASI secara sempurna karena beberapa kandungan ASI tidak dapat digantikan oleh susu formula.

6.    Cara Pencegahan dan Penanganan Bayi Gumoh
Gumoh adalah kondisi yang seringkali menimpa hampir setiap bayi. Para orang tua kerap gelisah apabila bayinya sebentar-sebentar muntah, tak lama setelah mendapatkan ASI.
Namun sebenarnya kondisi ini tidak perlu terlalu dikhwatirkan. Pasalnya, gumoh jarang sampai menandakan masalah serius. Selama bayi Anda tampak nyaman dan tidak mengalami masalah berat badan, hal itu tampaknya tidak menjadi problem serius.
Menurut penelitian para ahli, hampir 50 persen bayi pernah mengalami gumoh atau refluks asam (dalam bahasa medis disebut gastroesophageal reflux) dalam tiga bulan pertama setelah kelahiran. Refluks asam adalah kondisi di mana isi cairan dari lambung dimuntahkan/dialirkan kembali (refluxs) ke dalam esofagus.
Gumoh pada bayi akan mencapai puncaknya pada usia 4 bulan, dan sebagian besar bayi berhenti hingga sampai usia 12 bulan.  Tetapi bila gumoh terlalu sering dialami oleh bayi, memang harus diwaspadai. Bisa jadi ini adalah gejala gastroesophageal reflux disease (GERD), sehingga perlu mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Berikut ini adalah beberapa cara untuk mencegah dan menangani  gumoh pada bayi:
  1. Posisikan bayi tegak. Memberi makan bayi dalam posisi tegak bisa mencegah terjadinya muntah. Setelah itu, kondisikan bayi dalam posisi duduk selama kurang lebih 15-30 menit. Hindari bermain aktif dengan bayi selama memberi makan  dan  jangan  mengayun-ayun bayi ketika masih ada makanan di dalam mulutnya.
  2. Sedikit tapi sering. Terlalu lama menyusui atau memberinya dalam jumlah banyak  dapat  memicu bayi muntah. Jika Anda menyusui, sebaiknya batasi setiap sesi dalam menyusui. Jika Anda memberikan susu melalui botol, tawarkan dalam jumlah yang sedikit dari pada biasanya. Disendawakan, lalu minum lagi dengan cara ini, udara tidak sempat “mampir” ke lambung.
  3. Atasi sendawa pada bayi. Sering bersendawa selama dan setelah menyusui dapat membangun atau membentuk udara di dalam perut bayi. Untuk mengatasinya, posisikan bayi dalam keadaan duduk dengan menopangnya pada salah satu tangan, sementara tangan yang lain menepuk punggung bayi secara pelan.
  4. Periksa nipple (dot) pada botol susu. Jika Anda menggunakan botol, pastikan lubang pada nipple (dot) botol sudah dalam ukuran yang tepat. Jika terlalu besar, susu akan mengalir terlalu cepat. Sementara jika terlalu kecil, bayi Anda mungkin akan frustrasi. Tepat tidaknya ukuran lubang pada botol susu bayi, bisa terlihat dari tetesan susu ketika botol dibalikan. Jika tetesan susu sedikit, maka ukurannya sudah benar.
  5. Posisi menyusu harus sesuai. Pastikan seluruh bibirnya menutup puting susu serta daerah berwarna hitam di sekitarnya (aerola). Dengan begitu, kemungkinan udara yang masuk dan tertelan selama menyusu bisa diperkecil.
  6. Hindari meletakkan bayi di kursi bayi karena akan meningkatkan tekanan pada perut.
  7. Hindari merangsang aktivitas yang berlebihan setelah bayi menyusu.
  8. Hindari memberikan ASI/susu ketika bayi sangat lapar, karena bayi akan tergesa-gesa saat minum sehingga akan menimbulkan udara masuk.
  9. Jika menyusui, posisi bayi dimiringkan. Kepalanya lebih tinggi dari kaki sehingga membentuk sudut 45 derajat. Jadi cairan yang masuk bisa turun ke bawah.
  10. Jangan mengangkat bayi saat gumoh atau muntah. Segera mengangkat bayi saat gumoh adalah berbahaya, karena muntah atau gumoh bisa turun lagi, masuk ke paru dan akhirnya malah mengganggu paru. Bisa radang paru. Sebaiknya, miringkan atau tengkurapkan anak. Biarkan saja ia muntah sampai tuntas jangan ditahan.
  11. Biarkan saja jika bayi mengeluarkan gumoh dari hidungnya. Hal ini justru lebih baik daripada cairan kembali dihirup dan masuk ke dalam paru-paru karena bisa menyebabkan radang atau infeksi. Muntah pada bayi bukan cuma keluar dari mulut, tapi juga bisa dari hidung. Hal ini terjadi karena mulut, hidung, dan tenggorokan punya saluran yang berhubungan. Pada saat muntah, ada sebagian yang keluar dari mulut dan sebagian lagi dari hidung. Mungkin karena muntahnya banyak dan tak semuanya bisa keluar dari mulut, maka cairan itu mencari jalan keluar lewat hidung.
  12. Hindari bayi tersedak. Bila si bayi tersedak dan muntahnya masuk ke saluran pernapasan alias paru-paru. ini disebut aspirasi dan berbahaya. Lebih bahaya lagi jika si bayi tersedak susu yang sudah masuk ke lambung karena sudah mengandung asam dan akan merusak paru-paru. Untuk mencegah kemungkinan tersedak, agar setiap kali bayi muntah selalu dimiringkan badannya. Akan lebih baik jika sebelum si bayi muntah (saat menunjukkan tanda-tanda akan muntah) segera dimiringkan atau ditengkurapkan atau didirikan sambil ditepuk-tepuk punggungnya.
  13. Kalau gumoh berlebihan, tengkurapkan bayi. Udara yang terperangkap di lambung akan lebih mudah keluar. Juga, masuknya cairan ke paru-paru bisa dicegah.
  14. Bila bayi gumoh terus secara berlebihan, sebaiknya konsultasikan ke petugas kesehatan (bidan).

7.    Cara Perawatan Payudara
Sejak kehamilan 6–8 minggu terjadi perubahan pada payudara berupa pembesaran payudara, terasa lebih padat, kencang, sakit dan tampak jelas gambaran pembuluh darah di permukaan kulit yang bertambah serta melebar. Kelenjar montgomery daerah areolla tampak lebih nyata dan menonjol.
Perawatan payudara pada ibu hamil tidak hanya dilakukan sebelum melahirkan, tetapi juga dilakukan setelah melahirkan. Perawatan yang dilakukan terhadap payudara bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga memperlancar pengeluaran ASI.

Perawatan payudara yang diperlukan :
  1. Mengganti BH sejak hamil usia 2 bulan dengan ukuran lebih sesuai dan dapat menopang perkembangan payudara. Biasanya diperlukan BH dengan ukuran 2 nomor lebih besar.
  2. Latihan gerakan otot badan yang berfungsi menopang payudara untuk menunjang produksi ASI dan mempertahankan bentuk payudara setelah selesai masa laktasi.
  3. Menjaga kebersihan sehari-hari, termasuk payudara, khususnya daerah puting dan areolla.
  4. Setiap mandi, puting susu dan areola tidak disabuni untuk menghindari keadaan kering dan kaku akibat hilangnya ”pelumas” yang dihasilkan kelenjar montgomery.
  5. Lakukan persiapan puting susu agar lentur, kuat, dan tidak ada sumbatan sejak usia kehamilan 7 bulan, setiap hari sebanyak 2 kali.

Pelaksanaan perawatan payudara hendaknya dimulai sedini mungkin, yaitu 1–2 hari setelah bayi dilahirkan dan dilakukan dua kali sehari. Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan dalam perawatan payudara.
  1. Siapkan alat dan bahan berikut :
  2. Minyak kelapa
  3. Gelas susu
d)    Air panas dan air dingin dalam wadah/ baskom kecil
e)    Waslap/ sapu tangan dari handuk
f)     Handuk bersih

Lakukan langkah-langkah pengurutan payudara
1)    Pengurutan pertama
Terdiri dari empat gerakan, yang dilakukan pada kedua payudara selama lima menit. Berikut tahap-tahap yang dilakukan pada pengurutan pertama :
  1. Licinkan kedua tangan dengan minyak.
  2. Tempatkan kedua telapak tangan di antara kedua payudara.
  3. Lakukan pengurutan, dimulai ke arah atas, lalu telapak tangan kiri ke arah sisi kiri dan telapak kanan ke arah sisi kanan.
  4. Lakukan terus pengurutan ke bawah/ ke samping. Selanjutnya, pengurutan melintang. Telapak tangan mengurut ke depan, lalu kedua tangan dilepas dari payudara.
  5. Ulang gerakan 20–30 kali tiap satu payudara.

2)    Pengurutan kedua
Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, kemudian dua atau tiga jari tangan kanan membuat gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara dan berakhir pada putting susu. lakukan dua kali gerakan pada setiap payudara.
3)    Pengurutan ketiga
  1. Sokong payudara dengan satu tangan, sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi ke arah putting susu. lakukan gerakan ini sekitar 30 kali.
  2. Sokong payudara dengan satu tangan sedangkan tangan lain mengurut payudara dengan posisi tangan mengepal (tinju) dari arah tepi ke arah putting susu. lakukan gerakan ini sekitar 20–30 kali.

4)    Pengompresan
Lakukan tahap pengompresan. Sebelumnya, siapkan alat dan bahan berupa dua buah wadah/ baskom kecil yang masing-masing diisi dengan air hangat dan air dingin serta dua buah waslap/ sapu tangan dari bahan handuk. Selanjutnya, kompres kedua payudara dengan waslap hangat selama dua menit, lalu ganti dengan kompres waslap dingin selama satu menit. Kompres bergantian selama tiga kali berturut-turut dan akhiri dengan kompres air hangat.

5)    Pengosongan ASI
Pengosongan ini dimaksudkan untuk mencegah pembendungan ASI. Berikut ini tahap-tahap yang harus dilakukan.
  1. Sediakan  gelas untuk menampung air susu (jika air susu akan disimpan, gunakan yang steril).
  2. Keluarkan asi susu dengan meletakkan ibu jari dan telunjuk kira-kira 2,5–3 cm dari putting susu.
  3. Letakkan jari-jari tersebut sedemikian rupa sehingga penampungan air susu berada di bawahnya.
  4. Tekan payudara ke arah dada dan perhatikan agar jari-jari jangan diregangkan. Angkat payudara yang agak besar dahulu, lalu tekankan arah ke arah dada.
  5. Gerakan ibu jari dan telunjuk ke arah putting susu untuk menekan dan mengosongkan tempat penampungan susu pada payudara tanpa rasa sakit.
g)    Ulangi gerakan itu untuk mengosongkan daerah penampungan air susu. gunakan kedua tangan pada masing-masing payudara.
Catatan :
  1. Hindari gerakan yang dapat mememarkan putting susu.
  2. Hindari penarikan putting susu dan payudara keluar karena dapat merusak jaringan-jaringan payudara.
  3. Hindari penggesekan di atas payudara karena dapat menimbulkan rasa panas pada kulit payudara.

Selesai melakukan perawatan payudara, pakailah bra atau HB yang menyangga payudara dengan sempurna. Diharapkan dengan melakukan perawatan payudara, proses menyusui dapat berjalan dengan lancar.

8.    Mastitis Dan Cara Menyusui Saat Mastitis
Mastitis adalah peradangan pada payudara, bisa salah satu payudara atau kedua-duanya. Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan  pada mamma, terutama pada primipara. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga melalui peredaran darah. Tanda-tandanya adalah rasa panas dingin disertai dengan kenaikan suhu, penderita merasa lesu, dan tidak ada nafsu makan. Penyebab infeksi biasanya Staphylococcus Aurens. Mamma membesar, nyeri, dan pada suatu tempat kulit merah, membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak lekas diberi pengobatan, bisa terjadi abses.

Pencegahan :
Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan puting susu dengan sabun sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu yang memberi pertolongan kepada ibu yang menyusui bayinya harus bebas dari infeksi dengan stafilokokkus. Bila ada retak atau luka pada puting, sebaiknya bayi jangan menyusu pada mamma yang bersangkutan sampai luka itu sembuh. Air susu ibu dikeluarkan dengan pijatan.
Pengobatan :
Segera setelah mastitis ditemukan, pemberian susu kepada bayi dari mamma yang sakit dihentikan, dan diberi antibiotika. Dengan tindakan-tindakan ini terjadinya abses sering kali dapat dicegah. Karena biasanya infeksi disebabkan oleh Staphylococcus Aurens, penisillin dalam dosis cukup tinggi dapat diberikan. Sebelum pemberian penisillin dapat diadakan pembiakan air susu, supaya penyebab mastitis benar-benar diketahui. Bila ada abses, nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan. Sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses, agar  nanah  bisa keluar terus. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan. Sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses, agar nanah bisa keluar terus. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus itu. (Prawirohardjo, 2007 : 689–690)

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://www.ayahbunda.co.id/Artikel/Gizi+dan+Kesehatan/beda.bab.bayi.asi.ekslusif
  2. http://pakarbayi.com/perbedaan-asi-dan-susu-formula.html
  3. http://health.kompas.com/read/2011/11/04/09223688/Tips.Mencegah.Gumoh.pada.Bayi.
  4. http://yandra08.blogspot.com/2008/12/perawatan-payudara.html
  5. http://seputar-ASI.com
  6. http://library.usu.fkm_arifin4.id
  7. http://ummukautsar.wordpress.com
  8. Ilmu Kebidanan, YBP–SP, 2005 : 226)
  9. Manuaba, Ida Bagus Gde. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Bidan. EGC : Jakarta.
  10. Mellyna Huliana, Perawatan Ibu Pasca Melahirkan, Jakarta
  11. Saminem. (2003). Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Normal. Akademi Kebidanan Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya.
  12. Sotjiningsih, 2007. Perawatan Ibu Nifas. EGC: Jakarta
  13. Wiknjosastro, Hanifa. (2009). Ilmu Kandungan Cetakan 5. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo : Jakarta.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar