PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 02 April 2011

KONSEP DASAR KB (KELUARGA BERENCANA)

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP DASAR KB (KELUARGA BERENCANA)

PENGERTIAN KB

  • Keluarga berencana adalah suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi (Manuaba, 2003).
  • Keluarga berencana menurut WHO adalah tindakan yang memakai individu atau pasangan suami istri untuk :
  1. Mendapatkan obyek-obyek tertentu
  2. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan
  3. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan
  4. Mengatur interval diantara kehamilan
  5. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri
  6. Menentukan jumlah anak dalam keluarga (Hanafi, 2004)

TUJUAN UMUM KELUARGA BERENCANA
  • Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial – ekonomi suatu keluarga dengan cara mengatur kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya (Mochtar, 2002)

Menurut WHO (2003) tujuan KB terdiri dari :
  1. Menunda / mencegah kehamilan. Menunda kehamilan bagi PUS (Pasangan Usia Subur) dengan usia istri kurang dari 20 tahun dianjurkan untuk menunda kehamilannya. Alasan menunda / mencegah kehamilan :
  2. Umur dibawah 20 tahun adalah usia yang sebaiknya tidak mempunyai anak dulu karena berbagai alasan.
  3. Prioritas penggunaan kontrasepsi pil oral, karena peserta masih muda.
  4. Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih tinggi frekuensi bersenggamanya, sehingga mempunyai kegagalan tinggi.
  5. Penggunaan IUD (Intra Uterine Divice) bagi yang belum mempunyai anak pada masa ini dapat dianjurkan, terlebih bagi calon peserta dengan kontra indikasi terhadap pil oral.

CIRI-CIRI KONTRASEPSI YANG DIANJURKAN
  1. Reversibilitas yang tinggi artinya kembalinya masa kesuburan dapat terjamin hampir 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak.
  2. Efektivitas yang tinggi, karena kegagalan akan menyebabkan terjadinya kehamilan dengan risiko tinggi dan kegagalan ini merupakan kegagalan program.
  3. Menjarangkan kehamilan. Periode usia istri antara 20 – 30 / 35 tahun merupakan periode usia paling baik untuk melahirkan, dengan jumlah anak dua orang dan jarak antara kelahiran adalah 2 – 4 tahun. Ini dikenal sebagai catur warga.
Alasan menjarangkan kehamilan :
  1. Umur antara 20 – 30 tahun merupakan usia yang terbalik untuk mengandung dan melahirkan.
  2. Segera setelah anak pertama lahir, maka dianjurkan untuk memakai IUD (Intra Uterine Divice) sebagai pilihan utama.
  3. Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tinggi namun disini tidak atau kurang berbahaya karena yang bersangkutan pada usia mengandung dan melahirkan yang baik.
  4. Di sini kegagalan kontrasepsi bukanlah kegagalan program.

CIRI-CIRI KONTRASEPSI YANG DIPERLUKAN :
  1. Efektivitas cukup tinggi
  2. Reversibilitas cukup tinggi karena peserta masih mengharapkan punya anak lagi.
  3. Dapat dipakai 2 sampai 4 tahun yaitu sesuai dengan jarak kehamilan anak yang direncanakan.
  4. Tidak menghambat air susu ibu (ASI), karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi sampai umur 2 tahun dan akan mempengaruhi angka kesakitan dan kematian anak.

MENGHENTIKAN / MENGAKHIRI KEHAMILAN / KESUBURAN
  • Periode umur istri diatas 30 tahun, terutama diatas 35 tahun, sebaiknya mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 orang anak.
  • Alasan mengakhiri kesuburan :
  1. Ibu-ibu dengan usia diatas 30 tahun dianjurkan untuk tidak hamil atau tidak punya anak lagi, karena alasan medis atau alasan lainnya.
  2. Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap.
  3. Pil oral kurang dianjurkan karena usia ibu yang relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya akibat sampingan dan komplikasi.

MACAM-MACAM KB

1). Metode sederhana meliputi :
  • Tanpa alat yaitu KB alamiah (Metode kalender (Ogino-Knaus), Metode Suhu Basal (Termal), Metode lendir serviks (Billings), Metode Simpto-Termal) dan Coitus Interuptus (Hanafi, 2001).
  • Dengan alat yaitu Mekanis (Barrier) [Kondom Pria, Barier intra-vaginal (Diafragma),Kap Serviks (Cervical cap), Spons (Sponge), Kondom wanita] dan kimiawi [Spermisid (Vaginal cream, Vaginal foam, Vaginal Jelly, Vaginal suppositoria, Vaginal tablet (busa), Vaginal soluble film].

2). Metode modern
  • Kontrasepsi hormonal yaitu Per-oral [Pil Oral Kombinasi (POK), Mini-pil, Morning-after pill], Injeksi atau suntikan [DMPA, NET-EN, Microspheres, Microcapsules] dan Sub-kutis : Implant (Alat kontrasepsi bawah kulit = AKBK), Implant Non-biodegradable (Norplant, Norplant-2, ST-1435, Implanon), Implant Biodegradable (Capronor, Pellets).
  • Intra uterie devices (IUD, AKDR)
  • Kontrasepsi mantap : pada wanita (tubektomi) dan pada pria (vasektomi). (Hanafi, 2004)

KONSELING KB

1). Konseling Awal
  • Konseling awal sangat diperlukan untuk calon yang baru pertama datang dan dimaksudkan untuk mengenalkan klien kepada semua cara KB atau pelayanan kesehatan, prosedur klinik, kebijakan, dan bagaimana pengalaman klien pada kunjungannya itu. Bila konseling awal dilakukan dengan baik, maka dapat membantu klien dalam memilih cara KB yang cocok bagi klien. Dalam konseling awal diberitahukan secara singkat tentang cara-cara KB yang tersedia di klinik. Jawab pertanyaan klien dengan jelas dan terarah.

  • Hal-hal yang penting diperhatikan dalam pelaksanaan konseling awal :
  1. Tanyakan kepada klien cara apa yang disukainya, dan apa yang ia ketahui mengenai cara tersebut
  2. Uraikan secara ringkas
  3. Bagaimana cara kerjanya
  4. Manfaat dan kerugiannya

2). Konseling awal secara individual atau berkelompok berisikan :
  1. Suasana pelayanan yang nyaman melalui penerimaan yang hangat dan kekeluargaan.
  2. Penyuluhan mengenai cara-cara KB.
  3. Penyuluhan mengenai keefektifan menyusui untuk KB bagi ibu yang baru melahirkan.
  4. Keterangan mengenai apa yang diinginkan oleh klien selama kunjungan tersebut.

3). Konseling Metode Khusus
  • Konseling khusus mengenai metode KB yang memberi kesempatan kepada klien untuk :
  1. Mengajukan pertanyaan tentang cara KB tertentu dan membicarakan pengalamannya.
  2. Mendapat informasi lebih rinci tentang cara KB yang tersedia yang ingin dipilihnya.
  3. Mendapat bantuan untuk memilih metode KB yang cocok.
  4. Penerangan lebih jauh tentang bagaimana menggunakan metode tersebut dengan aman, efektif, dan memuaskan.

4). Selama konseling ini, petugas memberi pelayanan adalah :
  1. Menanyakan kepada klien cara apa yang ingin dipilih dan apa yang ia ketahui tentang cara tersebut. Dengan cara demikian pemberi pelayanan dapat mengoreksi dan informasi yang salah yang muncul di masyarakat untuk selanjutnya memberikan informasi yang benar.
  2. Memberitahukan dan mendiskusikan cara kerja setiap metode KB, keefektifannya, manfaat dan kerugiannya.
  3. Membantu klien untuk mulai memilih suatu metode
  4. Menasehati klien perlunya evaluasi lebih lanjut.
  5. Memberi kesempatan kepada klien untuk bertanya lebih lanjut atau ada hal lain yang masih merisaukan.
  6. Menjelaskan secara singkat dan jelas bagaimana menggunakan metode tersebut dan memungkinkan efek samping yang timbul
  7. Meminta klien mengulang instruksi untuk menyakinkan bahwa ia benar-benar telah mengerti.
  8. Membicarakan dengan klien apa harus kembali atau follow up. Penekanan dititik beratkan pada penyediaan alat, nasehat tentang efek samping, bagaimana mengenal adanya masalah sedini mungkin, bagaimana bila ingin mengganti alat kontrasepsi.

5). Konseling Kunjungan Ulang
  • Bila klien datang untuk mendapatkan obat baru atau pemeriksaan ulang maka penting untuk berpijak pada konseling yang dulu.
  • Secara khusus, kunjungan ulang memberikan kesempatan untuk :
  1. Membesarkan hati klien atas keputusannya untuk ber-KB
  2. Mengetahui apakah klien puas dan apakah masih menggunakan cara KB
  3. Menyakinkan bahwa cara yang dipakai klien telah benar dan bila benar cocok, untuk mengulangi intruksi pemakaiannya.
  4. Menyediakan suplai (bahan secukupnya).
  5. Menjawab pertanyaa klien.
  6. Membesarkan hati klien dan mengobati efek samping yang kecil bila perlu.
  7. Memeriksa komplikasi medis dan merujuk untuk evaluasi medis bila diperlukan.
  8. Mencari perubahan-perubahan kesehatan pada saat itu atau keadaan hidupnya yang bisa menjurus untuk berganti cara atau berhenti menggunakan cara KB

6). Kunjungan ulang yang pertama tergantung pada jenis KB yang dipakai. Sebagai contoh, dibawah ini diberikan jadwal yang dianjurkan
  • Pil oral: 3 bulan
  • AKDR : 3 – 6 minggu
  • KB suntik: 2 – 3 bulan, tergantung jenisnya.
  • Norplant: Bila tidak ada keluhan, tidak perlu melakukan kontrol rutin sampai akhir 5 tahun. (Saifudin, 2006)

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul. 2003. Metode Penelitian Keperawatan. PT.Rineka Cipta. Jakarta.
  2. Alimul. 2007 Metode Penelitian Kebidanan dan Tehnik Analisis Data. Jakarta Salemba Medika.
  3. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta.
  4. BKKBN. 2005. Journal of Akseptor KB di Indonesia (Internet). Available from : (http://www.bkkbn.com) (Accessed March 15, 2008).
  5. Depkes RI 2008. Pelayanan Kontrasepsi Available from : (http//.www.depkes-ri.co.id) (Accessed March 15, 2010).
  6. Everett.2008. KB dan Masalah Kesehatan Reproduksi. Jakarta:EGC
  7. Hartanto.2003. Buku Acuan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : ISBN
  8. Hanafi. 2001. Buku Acuan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : ISBN
  9. Hidayati. 2009. Buku Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta:Salemba Medika
  10. Kumala.2005. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
  11. Kardianan.2009. Journal of Pelayanan Kontrasepsi (Internet). Available from : (http//.www.info-kia.com.id) (Accessed 15 Juli 2009).
  12. Kurniawan.2008. Ilmu Perilaku. Jakarta:PT. Rineka Cipta
  13. Mitrianti.2009. Peran dan Faktor Yang Mempengaruhi. http://www.pt.bangun setya wacana. Diakses tanggal 15 Juli 2009
  14. Mochtar, Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri : Obstetri Operatif, Obstetri Sosial. EGC. Jakarta.
  15. Nazir. 2005. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia
  16. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta. Jakarta.
  17. Nursalam. 2003. Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta.
  18. Pardede.2002. Jenis Pelayanan Kontrasepsi.Jakarta: Salemba Medika
  19. Rhenald.2001. Kesehatan Reprodukssi da Masalahnya. Jakarta: PT Rhineka Cipta
  20. Soetjiningsih.2002.Tumbuh Kembang.Jakarta:EGC
  21. Saifudin.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta.
  22. Sugiyono. 2006. Statistik Untuk Kesehatan. ALFABETA. Bandung.
  23. Suhaemi.2006.Kontrasepsi Implant. http//www.suhaemi.web.block. Akses 20 Maret 2010
  24. Sulistyo.2009. Farmakologi dan Terapi. Jakarta:FKUI
  25. Winknjosastro.2008.Ilmu Kandungan. YBPSP. Jakarta
  26. Wiranti.2009. Karakteristik Pola Menstruasi. Availabel online at (http://www.anknya.wordpress.com/wp-loging/php) (Accessed Juni 15, 2009).


.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar