PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 08 Oktober 2020

MEREKA SAUDARA KITA: HORMATI DAN SAYANGILAH

MEREKA SAUDARA KITA: HORMATI DAN SAYANGILAH

 

Oleh:

Yan Karta Sakamira

8 Oktober 2020

 

Saudaraku sesama muslim, jika kita bisa toleran kepada kaum non muslim, seharunya kita harus lebih bisa toleran kepada saudara sesama muslim, kenapa?

 

Allah berfirman:

 

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS: Ali Imrân, 103)

 

Allah memerintahkan kepada kita sesama muslim untuk bersatu (jangan bercerai-berai), saling menghormati, karena kita bersaudara, jika kita bermusuhan dengan saudara kita (sesama muslim), berarti kita tidak taat kepada Allah.

 

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

 

 وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS: Ali Imrân, 105)

 

Imam ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: “Yang dimaksudkan oleh Allah Azza wa Jalla ialah: Wahai orang-orang yang beriman! janganlah menjadi seperti orang-orang Ahli Kitab, yang berpecah belah dan berselisih dalam agama, perintah dan larangan Allah Azza wa Jalla , sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas berupa bukti-bukti dari Allah Azza wa Jalla . Mereka berselisih di dalamnya. Mereka memahami kebenaran tetapi mereka sengaja menentangnya, menyelisihi perintah Allah Azza wa Jalla dan membatalkan ikatan perjanjian yang dibuat oleh Allah Azza wa Jalla dengan lancang.

 

Jika kita saling bermusuhan, saling berdebat, saling menyalahkan terhadap saudara kita sesama muslim, itu artinya kita akan mengulang kesalahan yang telah dilakukan oleh ahli kitab.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

 اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى هَهُنَا. يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ : بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

 

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak boleh tidak menzaliminya, merendahkannya dan tidak pula meremehkannya. Taqwa adalah di sini. – Beliau menunjuk dadanya sampai tiga kali-. (kemudian beliau bersabda lagi:) Cukuplah seseorang dikatakan buruk bila meremehkan saudaranya sesama muslim. Seorang Muslim terhadap Muslim lain; haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Muslim)

 

Hadist diatas sangat jelas memerintahkan kepada kita untuk saling toleran, saling menghormati kepada saudara kita sesama muslim, kita dilarang saling menghujat, saling merendahkan, saling meremehkan kepada sesama saudara kita muslim, jika kita melakukannya, berarti kita tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

 

 لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 

“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara”. (Muttafaq ‘Alaih)

 

Jika saudara kita sesama muslim melakukan suatu kesalahan (dalam beribadah), maka tunjukan (koreksilah) dengan cara yang santun, artinya jangan sampai membuat mereka tersinggung, marah atau merasa direndahkan (diremehkan).

 

Allah berfirman:

 

 وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

 

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orangtua, kerabat, anak-anak yatim, dan orangorang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (QS: Al-Baqarah, 83)

 

Allah berfirman,

 

فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا

 

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut.” (QS: Ath Thaha, 44)

 

Nabi Musa diperintah Allah untuk mengingatkan Fir’aun dengan cara yang santun dan lemah lembut. Mengingatkan kepada orang yang arogan seperti Fir’aun saja harus santun, apalagi kepada saudara kita sesama muslim.

 

Salah satu perkataan yang kurang santun adalah suka mengolok-olok kepada saudara kita sesama muslim yang menurut kita keliru (kalau kita tidak mau dikatakan merasa paling benar). Padahal Allah memerintahkan kepada kita agar tidak suka mengolok-olok orang (kuatir orang yang diolok-olok ternyata lebih baik).

 

Allah berfirman:

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

 

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan Bertaqwalah (takutlah) terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS: Al Hujurat, 10)

 

 

Allah juga berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS: Al Hujurat, 11)

 

Selain mengolok-olok, hal lain yang perlu kita hindari adalah mencari-cari kesalahan orang lain, seharusnya kita sibuk mencari kekurangan kita sendiri, bukan mencari kesalahan orang lain.

 

Allah Ta’ala berfirman,

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS: Al-Hujurat, 12)

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

 

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”(HR: Bukhari 6064, Muslim 2563)

 

Sekali lagi mengingatkan, jika kita suka mencari-cari kesalahan orang lain (terutama dalam beribadah) berarti kita tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

 

Sesama muslim bersaudara, jadi sudah seharusnya kita saling menghormati dan saling toleran, jangan berdebat, jangan bermusuhan. Biasakan toleransi terhadap perbedaan masalah furu’ yang didasari oleh dalil

 

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa: Ibnu Mas’ud mendengar seorang laki-laki yang membaca sebuah ayat, namun bacaan tersebut lain dengan apa yang ia dengar dari Nabi. Maka Ibnu Mas’ud membawa laki-laki tersebut kepada Rasulullah, dan mengadukannya. Melihat ulah Ibnu Mas’ud, wajah Rasulullah saw mengisyaratkan ketidaksenangan, seraya bersabda: “Kalian berdua betul. Bacalah dan jangan berselisih, karena kaum sebelum kalian berselisih, maka mereka binasa.” (HR: Bukhari)

 

Hadist diatas sangat jelas memerintahkan kepada kita untuk saling menghormati, jangan berselisih, jaga toleransi. Kalau kita bisa toleransi kepada non muslim, kepada saudara sesama muslim harus lebih bisa.

 

Semoga bermanfaat. Aamiin


 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar