PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 10 Juli 2010

KEPUTIHAN

Dr. Suparyanto, M.Kes


KEPUTIHAN

Pengertian keputihan
  • Keputihan adalah semacam Silim yang keluar terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-kuningan. Jika Silim atau lendir ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi persoalan.(Handayani, 2008)
  • Keputihan adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang di keluarkan dari alat–alat genital yang tidak berupa darah (Sarwono, 2005)
  • Keputihan di definisikan sebagai cairan dari kelamin perempuan (vagina ) yang berlebihan selain air kencing atau darah. Sifatnya bisa normal atau tidak normal (Indriatmi, 2007)
  • Keputihan adalah semua pengeluaran cairan alat genetalia yang bukan darah. Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan (Manuaba, 2005)
  • Keputihan adalah gejala penyakit yang ditandai oleh keluarnya cairan dari organ reproduksi dan bukan berupa darah. Keputihan yang berbahaya adalah keputihan yang tidak normal (Blankast, 2008)

Keputihan pada Ibu Hamil
  • Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina yang berwarna putih yang biasanya keluar menjelang haid atau pada masa kehamilan. Keputihan biasanya terjadi menjelang ovulasi, badan lelah atau akibat rangsangan seksual (Purwantyastuti, 2004)

  • Keputihan muncul dikarenakan adanya peningkatan hormonal selama kehamilan. Dalam hal ini vagina akan mengeluarkan cairan berwarna putih seperti susu, encer dan tidak berbau. Cairan akan bertambah banyak seiring dengan bertambahnya usia kehamilan anda. Hal ini merupakan hal yang wajar, untuk itu kebersihan dan kelembaban disekitar area vagina harus tetap terjaga, juga pakailah pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat. Namun jika keputihan disertai gatal-gatal dan berbau segera periksa ke dokter anda. Karena dengan kondisi ini kemungkinan terjadi adanya infeksi, jika tidak segera mendapatkan pengobatan dapat menyebabkan perlunakan dalam leher rahim dan akan timbul kontraksi sebelum waktunya. (Kusumawati, 2008)

  • Seorang wanita lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan pada kondisi pencernaan. Semua ini berpengaruh terhadap peningkatan risiko terjadinya keputihan, khususnya yang disebabkan oleh infeksi jamur. Selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan terjadinya keputihan pada janin. ( Ocvyanti, 2008)

Klasifikasi keputihan
  • Ada dua jenis keputihan yaitu :
  1. Keputihan tidak normal (patologis)
  2. Keputihan normal (fisiologis)
  • Perbedaan keputihan fisiologis dan yang patologis. Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang– kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedang pada keputihan patologis terdapat banyak leukosit. (Sarwono, 2005)

Gejala keputihan
  • Keputihan normal mempunyai ciri – ciri :
  1. Cairan yang keluar encer
  2. Berwarna bening atau krem
  3. Tidak berbau
  4. Tidak gatal
  5. Jumlahnya sedikit

  • Disebut keputihan tidak normal jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Cairan yang keluar bersifat kental
  2. Berwarna putih susu, kuning atau hijau
  3. Terasa gatal
  4. Berbau tidak sedap
  5. Menyisakan bercak pada pakaian dalam
  6. Jumlahnya banyak

Faktor Penyebab keputihan


Infeksi vagina oleh jamur (candida albicans) atau parasit (tricomonas)
  • Jenis infeksi yang terjadi pada vagina yakni, bacterial vaginosis, trikomonas, dan kandidiasis. Bakterial vaginosis merupakan gangguan vagina yang sering terjadi ditandai dengan keputihan dan bau tak sedap. Hal ini di sebabkan oleh lactobacillus menurun, bakteri patogen (penyebab infeksi) meningkat, dan pH vagina meningkat.

Faktor hygiene yang jelek
  • Kebersihan daerah vagina yang jelek dapat menyebabkan timbulnya keputihan. Hal ini terjadi karena kelembaban vagina yang meningkat sehingga bakteri patogen penyebab infeksi mudah menyebar.

Pemakaian obat-obatan (antibiotik, kortikosteroid, dan pil KB) dalam waktu lama.
  • Karena pemakaian obat- obatan khususnya antibiotik yang terlalu lama dapat menimbulkan sistem imunitas dalam tubuh. Sedangkan penggunaan KB mempengaruhi keseimbangan hormonal wanita. Biasanya pada wanita yang mengkonsumsi antibiotik timbul keputihan.

Stres
  • Otak mempengaruhi kerja semua organ tubuh, jadi jika reseptor otak mengalami stress maka hormonal di dalam tubuh mengalami perubahan keseimbangan dan dapat menyebabkan timbulnya keputihan. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwantyastuti (2004) yang mengatakan bahwa wanita bisa mengalami gangguan siklus menstruasi / keputihan yang disebabkan oleh stres.
  • Penyebab lain keputihan adalah alergi akibat benda-benda yang dimasukkan secara sengaja atau tidak sengaja ke dalam vagina, seperti tampon, obat atau alat kontrasepsi, rambut kemaluan, benang yang berasal dari selimut, celana dan lainnya. Bisa juga karena luka seperti tusukan, benturan, tekanan atau iritasi yang berlangsung lama. Karena keputihan, seorang ibu bahkan bisa kehilangan bayinya. (Suryana, 2009)

Akibat keputihan pada kehamilan
  • Keputihan akibat infeksi yang terjadi pada masa kehamilan akan meningkatkan risiko persalinan prematur dan janinnya juga berisiko mengalami infeksi.(Atiwicaksono, 2008)
  • Namun jika keputihan disertai gatal-gatal dan berbau segera periksa ke dokter anda. Karena dengan kondisi ini kemungkinan terjadi adanya infeksi, jika tidak segera mendapatkan pengobatan dapat menyebabkan perlunakan dalam leher rahim dan akan timbul kontraksi sebelum waktunya. (Kusumawati, 2008)

  • Misalnya, pada infeksi chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur). Infeksi virus herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur candida sp dapat meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virusHPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan. (Dwiana, 2008)

Cara mengatasi keputihan

a. Tanpa Obat
  • Menjaga agar daerah genetalia senantiasa bersih serta memperhatikan sabun yang di gunakan sebaiknya sabun yang tidak berparfum
  • Hindari mandi dengan berendam
  • Menggunakan celana dalam dari bahan katun, tidak menggunakan celana dalam yang ketat.
  • Menghindari beraktivitas yang terlalu lelah, panas dan keringat yang berlebih.
  • Liburan untuk mengurangi stres karena stres merupakan suatu faktor timbulnya keputihan.

b. Dengan obat
  • Konsultasi dengan dokter karena dokter akan memberikan obat-obatan sesuai dengan jenis keputihan yang dialami.
  • Keputihan sangat tidak mengenakan, terlebih bagi wanita hamil. 
  • Untuk keputihan normal tidak perlu dilakukan terapi khusus. Yang penting, bagaimana membersihkan organ intim secara benar dan teratur. Umumnya, cukup dengan sabun khusus vagina dan air bersih serta menjaga agar pakaian dalam tetap kering dan bersih. 
  • Sedangkan keputihan yang tidak normal harus segera mendapatkan pengobatan media. 
  • Keputihan yang terjadi selama kehamilan, misalnya disebabkan oleh infeksi jamur Candida sp, pengobatan yang paling aman adalah dengan menggunakan obat lokal berbahan krim atau sejenis kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina. 
  • Keputihan yang dialami wanita hamil akibat infeksi bakteri diberikan obat dalam bentuk kapsul atau tablet yang aman dikonsumsi. Pada infeksi niceriagonorrhoeae, ada obat dalam bentuk kapsul yang dapat diminum. Sebaiknya, segera periksakan kandungan jika terjadi keputihan. 
  • Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan alat khusus untuk mendapatkan gambaran alat kelamin secara lebih baik, seperti melakukan kolpokopi yang berupa optik untuk memperbesar gambaran leher rahim, liang senggama, dan bibir kemaluan. 
  • Selain pengobatan medis, biasanya orang akan menggunakan daun sirih untuk mengurangi keputihan. Caranya, dengan meminum air daun sirih yang telah direbus terlebih dahulu. Cara ini cukup aman bagi ibu hamil dan bayinya. (Suryana, 2009)
  • Dan yang terpenting bila suatu keputihan yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa (antibiotika dan anti jamur) harus dipikirkan keputihan tersebut disebabkan oleh suatu penyakit keganasan seperti kanker leher rahim. Ini biasanya ditandai dengan cairan banyak, bau busuk, sering disertai darah tak segar. (Blankast, 2008 )

DAFTAR PUSTAKA

  1. Blankast, Ariev. (2008). Mengatasi Keputihan dengan Herbal, http://gealgeol.com/2008/08/27/agar-keputihan-tak-berulang.html. di akses 20 Mei 2009
  2. Caprnito, Lynda Juall. 2006. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
  3. Handayani, Tri Asih. (2008). Memberantas dan mengobati keputihan, http://sangwanita.blogspot.com. Di akses 16 Mei 2009
  4. Kartono, (2006). Perilaku Manusia. PT Refika Aditama. Bandung
  5. Kusumawati, (2008). Kehamilan dan persalinan. TUGU PUBLISER.Yogyakarta.
  6. Majalah Kesehatan Keluarga edisi desember 2007
  7. Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta. Media Aesculapius.
  8. Manuaba, Ida bagus Gde, (2005). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta.
  9. Morgan. 2002. Kecemasan Pada Ibu Hamil. Http// .www.Info-online.com.diakses pada tanggal 15 juli 2009.
  10. Narbuko,Kholid. (2005). Metodologi Penelitian. Jakarta. Bumi Aksara
  11. Notoatmodjo,Soekidjo Dr Prof. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. PT Rineka Cipta.
  12. Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instumen Penelitian Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
  13. Ocvyanti, Dwiana. (2009). Dunia Bunda www. Dunia bunda.com. di akses15 Mei 2009
  14. Prawirohardjo, Sarwono. (2005). Ilmu Kandungan, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  15. Prawirohardjo,Sarwono. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  16. Purwantiastuti, (2004). Penyakit terapi dan obatnya. Intisari Mediatama.
  17. Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta. Graha Ilmu.
  18. Solihah. 2006. Kecemasan Selama Persalinan. Jakarta : ISBN
  19. Sugiyono. 2007. Statistik Untuk Kesehatan. Bandung : ALFABETA.
  20. Suryana, Hadi. (2009). Keputihan_dapat_sebabkan_keguguran, Http ://lifestyle. Okezone. Come / read/2009/01/20/27/184444/27. di akses 23 Mei 2009

    KONSEP LANJUT USIA (LANSIA)

    Dr. Suparyanto, M.Kes

    KONSEP LANJUT USIA (LANSIA)

    Definisi Lansia
    • Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun, tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000).

    • Usia lanjut adalah sesuatu yang harus diterima sebagai suatu kenyataan dan fenomena biologis. Kehidupan itu akan diakhiri dengan proses penuaan yang berakhir dengan kematian (Hutapea, 2005).

    • Usia lanjut adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari (Azwar, 2006).
    • Menua secara normal dari system saraf didefinisikan sebagai perubahan oleh usia yang terjadi pada individu yang sehat bebas dari penyakit saraf “jelas” menua normal ditandai oleh perubahan gradual dan lambat laun dari fungsi-fungsi tertentu (Tjokronegroho Arjatmo dan Hendra Utama,1995).

    • Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides 1994). Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000).

    Batasan Lansia
    • Menurut WHO, batasan lansia meliputi:
    1. Usia Pertengahan (Middle Age), adalah usia antara 45-59 tahun
    2. Usia Lanjut (Elderly), adalah usia antara 60-74 tahun
    3. Usia Lanjut Tua (Old), adalah usia antara 75-90 tahun
    4. Usia Sangat Tua (Very Old), adalah usia 90 tahun keatas

    Menurut Dra.Jos Masdani (psikolog UI)
    • Mengatakan lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa. Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian:
    1. Fase iuventus antara 25dan 40 tahun
    2. Verilitia antara 40 dan 50 tahun
    3. Fase praesenium antara 55 dan 65 tahun
    4. Fase senium antara 65 tahun hingga tutup usia

    Tipe-tipe Lansia
    • Pada umumnya lansia lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah sendiri daripada tinggal bersama anaknya. Menurut Nugroho W ( 2000) adalah:
    1. Tipe Arif Bijaksana: Yaitu tipe kaya pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, ramah, rendah hati, menjadi panutan.
    2. Tipe Mandiri: Yaitu tipe bersifat selektif terhadap pekerjaan, mempunyai kegiatan.
    3. Tipe Tidak Puas: Yaitu tipe konflik lahir batin, menentang proses penuaan yang menyebabkan hilangnya kecantikan, daya tarik jasmani, kehilangan kekuasaan, jabatan, teman.
    4. Tipe Pasrah: Yaitu lansia yang menerima dan menunggu nasib baik.
    5. Tipe Bingung: Yaitu lansia yang kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, pasif, dan kaget.

    Teori-teori Proses Penuaan
    (1). Teori Biologi
    • Teori genetic dan mutasi (Somatik Mutatie Theory)
    • Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang terprogramoleh molekul-molekul atau DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi.

    Teori radikal bebas
    • Tidak setabilnya radikal bebas mengakibatkan oksidasi-oksidasi bahan organik yang menyebabkan sel-sel tidak dapat regenerasi.

    Teori autoimun
    • Penurunan sistem limfosit T dan B mengakibatkan gangguan pada keseimbangan regulasi system imun (Corwin, 2001). Sel normal yang telah menua dianggap benda asing, sehingga sistem bereaksi untuk membentuk antibody yang menghancurkan sel tersebut. Selain itu atripu tymus juga turut sistem imunitas tubuh, akibatnya tubuh tidak mampu melawan organisme pathogen yang masuk kedalam tubuh.Teori meyakini menua terjadi berhubungan dengan peningkatan produk autoantibodi.

    Teori stress
    • Menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kesetabilan lingkungan internal, dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah dipakai.

    Teori telomer
    • Dalam pembelahan sel, DNA membelah denga satu arah. Setiap pembelaan akan menyebabkan panjang ujung telomere berkurang panjangnya saat memutuskan duplikat kromosom, makin sering sel membelah, makin cepat telomer itu memendek dan akhirnya tidak mampu membelah lagi.

    Teori apoptosis
    • Teori ini disebut juga teori bunuh diri (Comnit Suitalic) sel jika lingkungannya berubah, secara fisiologis program bunuh diri ini diperlukan pada perkembangan persarapan dan juga diperlukan untuk merusak sistem program prolifirasi sel tumor. Pada teori ini lingkumgan yang berubah, termasuk didalamnya oleh karna stres dan hormon tubuh yang berkurang konsentrasinya akan memacu apoptosis diberbagai organ tubuh.

    (2). Teori Kejiwaan Sosial
    • Aktifitas atau kegiatan (Activity theory)
    • Teori ini menyatakan bahwa pada lanjut usia yang sukses adalah mereka yang aktif dan ikut bnyak kegiatan social.

    Keperibadian lanjut (Continuity theory)
    • Teori ini menyatakan bahwa perubahan yang terjadi pada seseorang yang lanjut usia sangat dipengaruhi tipe personality yang dimilikinya.

    Teori pembebasan (Disengagement theory)
    • Dengan bertambahnya usia, seseorang secara berangsur-angsur melepaskan diri dari kehidupan sosialnya atau menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Keadaan ini mengakibatkan interaksi lanjut usia menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas.

    (3). Teori Lingkungan
    • Exposure theory: Paparan sinar matahari dapat mengakibatkat percepatan proses penuaan.
    • Radiasi theory: Radiasi sinar y, sinar xdan ultrafiolet dari alat-alat medis memudahkan sel mengalami denaturasi protein dan mutasi DNA.
    • Polution theory: Udara, air dan tanah yang tercemar polusi mengandung subtansi kimia, yang mempengaruhi kondisi epigenetik yang dpat mempercepat proses penuaan.
    • Stress theory: Stres fisik maupun psikis meningkatkan kadar kortisol dalam darah. Kondisi stres yang terus menerus dapat mempercepat proses penuaan.

    Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
    • Banyak kemampuan berkurang pada saat orang bertambah tua. Dari ujung rambut sampai ujung kaki mengalami perubahan dengan makin bertambahnya umur. Menurut Nugroho (2000) perubahan yang terjadi pada lansia adalah sebagai berikut:

    (1)Perubahan Fisik

    Sel
    • Jumlahnya menjadi sedikit, ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra seluler, menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, dan hati, jumlah sel otak menurun, terganggunya mekanisme perbaikan sel.

    Sistem Persyarafan
    • Respon menjadi lambat dan hubungan antara persyarafan menurun, berat otak menurun 10-20%, mengecilnya syaraf panca indra sehingga mengakibatkan berkurangnya respon penglihatan dan pendengaran, mengecilnya syaraf penciuman dan perasa, lebih sensitive terhadap suhu, ketahanan tubuh terhadap dingin rendah, kurang sensitive terhadap sentuhan.

    Sistem Penglihatan.
    • Menurun lapang pandang dan daya akomodasi mata, lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarak, pupil timbul sklerosis, daya membedakan warna menurun.

    Sistem Pendengaran.
    • Hilangnya atau turunnya daya pendengaran, terutama pada bunyi suara atau nada yang tinggi, suara tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun, membran timpani menjadi atrofi menyebabkan otosklerosis.

    Sistem Cardiovaskuler.
    • Katup jantung menebal dan menjadi kaku,Kemampuan jantung menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kehilangan sensitivitas dan elastisitas pembuluh darah: kurang efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi perubahan posisidari tidur ke duduk (duduk ke berdiri)bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65mmHg dan tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistole normal ±170 mmHg, diastole normal ± 95 mmHg.

    Sistem pengaturan temperatur tubuh
    • Pada pengaturan suhu hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu thermostat yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi beberapa factor yang mempengaruhinya yang sering ditemukan antara lain: Temperatur tubuh menurun, keterbatasan reflek menggigildan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.

    Sistem Respirasi.
    • Paru-paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik nafas lebih berat, kapasitas pernafasan maksimum menurun dan kedalaman nafas turun. Kemampuan batuk menurun (menurunnya aktifitas silia), O2 arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO2 arteri tidak berganti.

    Sistem Gastrointestinal.
    • Banyak gigi yang tanggal, sensitifitas indra pengecap menurun, pelebaran esophagus, rasa lapar menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan menurun, peristaltik lemah, dan sering timbul konstipasi, fungsi absorbsi menurun.

    Sistem Genitourinaria.
    • Otot-otot pada vesika urinaria melemah dan kapasitasnya menurun sampai 200 mg, frekuensi BAK meningkat, pada wanita sering terjadi atrofi vulva, selaput lendir mongering, elastisitas jaringan menurun dan disertai penurunan frekuensi seksual intercrouse berefek pada seks sekunder.

    Sistem Endokrin.
    • Produksi hampir semua hormon menurun (ACTH, TSH, FSH, LH), penurunan sekresi hormone kelamin misalnya: estrogen, progesterone, dan testoteron.

    Sistem Kulit.
    • Kulit menjadi keriput dan mengkerut karena kehilangan proses keratinisasi dan kehilangan jaringan lemak, berkurangnya elastisitas akibat penurunan cairan dan vaskularisasi, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya, perubahan pada bentuk sel epidermis.

    System Muskuloskeletal.
    • Tulang kehilangan cairan dan rapuh, kifosis, penipisan dan pemendekan tulang, persendian membesar dan kaku, tendon mengkerut dan mengalami sclerosis, atropi serabut otot sehingga gerakan menjadi lamban, otot mudah kram dan tremor.

    Perubahan Mental
    • Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah:
    1. Perubahan fisik.
    2. Kesehatan umum.
    3. Tingkat pendidikan.
    4. Hereditas.
    5. Lingkungan.
    6. Perubahan kepribadian yang drastis namun jarang terjadi misalnya kekakuan sikap.
    7. Kenangan, kenangan jangka pendek yang terjadi 0-10 menit.
    8. Kenangan lama tidak berubah.
    9. Tidak berubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal, berkurangnya penampilan, persepsi, dan ketrampilan, psikomotor terjadi perubahan pada daya membayangkan karena tekanan dari factor waktu.

      Perubahan Psikososial
      • Perubahan lain adalah adanya perubahan psikososial yang menyebabkan rasa tidak aman, takut, merasa penyakit selalu mengancam sering bingung panic dan depresif.
      • Hal ini disebabkan antara lain karena ketergantungan fisik dan sosioekonomi.
      • Pensiunan, kehilangan financial, pendapatan berkurang, kehilangan status, teman atau relasi
      • Sadar akan datangnya kematian.
      • Perubahan dalam cara hidup, kemampuan gerak sempit.
      • Ekonomi akibat perhentian jabatan, biaya hidup tinggi.
      • Penyakit kronis.
      • Kesepian, pengasingan dari lingkungan social.
      • Gangguan syaraf panca indra.
      • Gizi
      • Kehilangan teman dan keluarga.
      • Berkurangnya kekuatan fisik.

      Menurut Hernawati Ina MPH (2006) perubahan pada lansia ada 3 yaitu perubahan biologis, psikologis, sosiologis.
      (1). Perubahan biologis meliputi :
      • Massa otot yang berkurang dan massa lemak yang bertambah mengakibatkan jumlah cairan tubuh juga berkurang, sehingga kulit kelihatan mengerut dan kering, wajah keriput serta muncul garis-garis yang menetap.
      • Penurunan indra penglihatan akibat katarak pada usia lanjut sehingga dihubungkan dengan kekurangan vitamin A vitamin C dan asam folat, sedangkan gangguan pada indera pengecap yang dihubungkan dengan kekurangan kadar Zn dapat menurunkan nafsu makan, penurunan indera pendengaran terjadi karena adanya kemunduran fungsi sel syaraf pendengaran.
      • Dengan banyaknya gigi geligih yang sudah tanggal mengakibatkan ganguan fungsi mengunyah yang berdampak pada kurangnya asupan gizi pada usia lanjut.
      • Penurunan mobilitas usus menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti perut kembung nyeri yang menurunkan nafsu makan usia lanjut. Penurunan mobilitas usus dapat juga menyebabkan susah buang air besar yang dapat menyebabkan wasir .
      • Kemampuan motorik yang menurun selain menyebabkan usia lanjut menjadi lanbat kurang aktif dan kesulitan untuk menyuap makanan dapat mengganggu aktivitas/ kegiatan sehari-hari.
      • Pada usia lanjut terjadi penurunan fungsi sel otak yang menyebabkan penurunan daya ingat jangka pendek melambatkan proses informasi, kesulitan berbahasa kesultan mengenal benda-benda kegagalan melakukan aktivitas bertujuan apraksia dan ganguan dalam menyusun rencana mengatur sesuatu mengurutkan daya abstraksi yang mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari yang disebut dimensia atau pikun.
      • Akibat penurunan kapasitas ginjal untuk mengeluarkan air dalam jumlah besar juga berkurang. Akibatnya dapat terjadi pengenceran nutrisi sampai dapat terjadi hiponatremia yang menimbulkan rasa lelah.
      • Incotenensia urine diluar kesadaran merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar yang sering diabaikan pada kelompok usia lanjut yang mengalami IU sering kali mengurangi minum yang mengakibatkan dehidrasi.

      (2). Kemunduran psikologis
      • Pada usia lanjut juga terjadi yaitu ketidak mampuan untuk mengadakan penyesuaian–penyesuaian terhadap situasi yang dihadapinya antara lain sindroma lepas jabatan sedih yang berkepanjangan.

      (3). Kemunduran sosiologi
      • Pada usia lanjut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pemahaman usia lanjut itu atas dirinya sendiri. Status social seseorang sangat penting bagi kepribadiannya di dalam pekerjaan. Perubahan status social usia lanjut akan membawa akibat bagi yang bersangkutan dan perlu dihadapi dengan persiapan yang baik dalam menghadapi perubahan tersebut aspek social ini sebaiknya diketahui oleh usia lanjut sedini mungkin sehingga dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin.

      Perawatan Lansia
      • Perawatan pada lansia dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan yaitu:

      Pendekatan Psikis.
      • Perawat punya peran penting untuk mengadakan edukatif yang berperan sebagai support system, interpreter dan sebagai sahabat akrab.

      Pendekatan Sosial.
      • Perawat mengadakan diskusi dan tukar pikiran, serta bercerita, memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan klien lansia, rekreasi, menonton televise, perawat harus mengadakan kontak sesama mereka, menanamkan rasa persaudaraan.

      Pendekatan Spiritual.
      • Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan dan Agama yang dianut lansia, terutama bila lansia dalam keadaan sakit.

      DAFTAR PUSTAKA

      1. Almatsier, S.2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: EGC
      2. Arikunto, S.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.
      3. Arikunto,S.2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.Yogyakarta:Rineka Cipta.
      4. Azwar, A.2006. Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi Petugas Kesehatan. Depkes: Jawa Timur
      5. Darmawan. 2008.Lansia Sebaiknya Jangan Kelebihan atau Kekurangan gizi.www. Keluarga Berencana & Kependudukan.com tanggal 5 januari 2009 jam 14.00.
      6. Darmojo, dkk.2006. Geriatri Ilmu Usia Lanjut.FKUI:Jakarta
      7. Alimul, AH..2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba medika : Jakarta
      8. Hermana.2006. Trik Menjaga Stamina di Usia Lanjut. http://www.infosehat.go.id, diperoleh tanggal 3 januari 2009 jam 15.17
      9. Hernawati, I. 2006. Pedoman Tatalaksana Gizi Usia Lanjut Untuk Tenaga,Kesehatan.Depkes:Jakarta
      10. Hudak ; Gallo. 1998. Ilmu Keperawatan Kritis. Vol 1. Jakarta: EGC
      11. Hutapea, Ronald. 2005. Sehat dan Ceria Diusia Senja. PT Rhineka Cipta: Jakarta
      12. Maryam, S dkk, 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya .Salemba Medika:Jakarta
      13. Nasrul, E.1998.Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2.Jakarta:EGC
      14. Notoadmodjo, S.2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
      15. Nugroho, W.2000.Keperawatan Gerontik & Geriatric. Edisi 3. EGC. Jakarta
      16. Nugroho, W. 2008.Gerontik dan Geriatik. EGC: Jakarta
      17. Nursalam.2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:
      18. Pedoman Skripsi Tesis & Instrument Penelitian Keperawatan. Salemba Medika.Jakarta
      19. Nursalam.2008. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan:
      20. Pedoman Skripsi Tesis & Instrument Penelitian Keperawatan. Salemba Medika.Jakarta
      21. Nursalam, & Siti, Pariani.2001. Pendekatan Riset Keperawatan. Salemba. Jakarta.
      22. Reviana, C.2003. Status Gizi dan Pola Penyakit pada LanjutUsia.www.titin@litbang.depkes.go.id tanggal 5 januari 2009 jam 15.00
      23. Sastroasmoro, & Ismael, S.1995. Dasar-Dasar Metodologi Peneliian Klinik. EGC. Jakarta.
      24. Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta
      25. Imam, S Dkk.2005.Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang
      26. Sugiono.2006.Statistik Untuk Penelitian. Bandung :Alfabeta
      27. Supariasa, I Dewa Nyoman.2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC
      28. Tjokronegroho, Arjatmo dan Hendra, Utama .1995.Kecerdasan pada Usia Lanjut dan demensia . FKUI: Jakarta
      29. Yuniar, Rosmalina.2001. Gizi lansia, http://www.digilib.ui.com, diperoleh tanggal l5 januari 2009 jam 15.00
      30. Zakiah, Handayani.2007. Motivasi Keluarga, Pemenuhan Gizi, Lanjut Usia.wwwt.top gdlnode-gdl-res.com diperoleh tanggal 3 januari 2009 jam 15. 19