PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 20 Juni 2010

ANTI MIKROBA, ANTI VIRUS, ANTI KANKER

Dr. Suparyanto, M.Kes

ANTI MIKROBA, ANTI VIRUS, ANTI KANKER

Apa Itu Anti Mikroba?
  • AM → obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia
  • Antibiotik → zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat membasmi mikroba jenis lain
  • Saat ini banyak AB dibuat secara semi sintetik atau sintetik penuh
  • AB diharapkan mempunyai toksisitas selektif tinggi → artinya sangat toksik bagi mikroba tapi sangat tidak toksik bagi hostpes

Aktivitas Anti Mikroba
  • Aktivitas bakteriostatik: AM yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba
  • Aktivitas bakteriosid: AM yang bersifat membunuh mikroba
  • Kadar Hambat Minimal (KHM): kadar minimal yang diperlukan AM untuk menghambat pertumbuhan mikroba
  • Kadar Bunuh Minimal (KBM): kadar minimal yang diperlukan AM untuk membunuh mikroba

Spektrum Anti Mikroba
  • AM spektrum sempit → AM yang efektif untuk beberapa mikroba saja, misal: penisillin (gram positif) dan streptomisin (gram negatif)
  • AM spektrum luas → AM yang efektif untuk banyak mikroba, misal: tetrasiklin (gram pos, gram neg, riketsia, chlamidya), kloramfenikol (gram negatif, riketsia, klamidia, treponema)

Mekanisme Kerja Antimikroba
  • Mengganggu metabolisme sel mikroba
Contohya: Sulfonamid, trimetropin, asam p-aminosalisilat (PAS) dan sulton
  • Menghambat sintesis dinding sel mikroba
Contoh: penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, sikloserin
  • Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba
Contohnya: polimiksin, golongan polien, antiseptik
  • Menghambat sintesis protein sel mikroba
Cohtohnya: aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol
  • Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba
Contohnya: rifampisin, golongan kuinolon

Resistensi Antimikroba
  • Resistensi (kebal) AM → suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh AM
  • Sifat ini merupakan mekanisme alamiah untuk bertahan hidup mikroba

Efek Samping Antimikroba
Reaksi Alergi →
  • Dianggap sebagai antigen
  • Reaksi tubuh hipersensitivitas
  • Tidak tergantung dosis obat
  • Gejala bervariasi

Reaksi Idiosinkrasi →
  • Reaksi abnormal yang diturunkan secara genetik
  • Contoh → pemberian primaquin pada suku negro akan menyebakan anemia hemolitik akibat kurangnya enzim G6PD

Reaksi Toksik
  • Umumnya toksik selektif (relatif)
  • Relatif tidak toksik → penisilin
  • Aminoglikoside → toksik thd n. octavus
  • Tetrasiklin → toksik pertumbuhan tulang, gigi, hepatotoksik

Faktor Superinfeksi
  • Adanya faktor/penyakit yang mengurangi daya tahan pasien
  • Pengunaan AM yang lama
  • Luasnya spectrum AM

Tindakan superinfeksi:
  • Stop AM
  • Biakan penyebab superinfeksi
  • Memberi AM yang sesuai thd superinfeksi

Sebab Kegagalan Infeksi
  • Dosis yang kurang
  • Masa terapi yang kurang
  • Adanya faktor mekanik: abses, benda asing, jaringan nekrotik, sekuester tulang, batu saluran kemih, mukus yang banyak → prinsip harus dihilangkan
  • Kesalahan etiologi: AM efektif untuk bakteri →tidak efektif untuk: virus, jamur, parasit
  • Faktor farmakokinetik: tidak semua bagian tubuh dapat ditembus oleh obat
  • Pilihan AM yang kurang tepat
  • Faktor pasien: KU jelek, ketahanan menurun, gizi jelek

Penggunaan Antimikroba
  • Gambaran klinik penyakit infeksi
  • Penyakit infeksi ringan tidak perlu AM segera → memberi kesempatan Host untuk merangsang mekanisme kekebalan
  • Gejala deman tidak selalu disebabkan mikroba → dapat oleh virus, jamur, parasit, reaksi obat
  • AM hanya diperlukan pada infeksi yang telah berjalan beberapa hari dan cenderung memburuk
  • Memilih AM berspektrum luas tidak dibenarkan → hasil belum tentu lebih efektif daripada spektrum kecil
  • AM generasi ke3: sepalosporin, fluoroquinolin, aminoglikosida → sebaiknya tidak digunakan rutin
  • Kondisi pasien perlu dipertimbangkan, misal penyakit ginjal, hati hindari tetrasiklin

Macam Antibiotik
  • Golongan Penicilin: Benzatin Penisilin (Penisilin G), Fenoksimetil Penisilin (Penisilin V), metisilin, Nafsilin, Oksasilin, Kloksasilin, Dikloksasilin, Flukloksasilin, Ampisilin, Amoksilin, Karbenisilin, Tikarsilin, Aziosilin, Meziosilin, Piperasilin
  • Sulfonamid dan Kotrimoksasol
  • Antiseptik saluran kemih: Metanamin, Asam nalidiksat, Nitrofurantoin
  • Tuberkulostatik: Streptomisin, Isoniazid, Rifampisin, Etambutol, Pirazinamid, PAS, Sikloserin, Kanamisin, Kapreomisin, Etionamid
  • Leprostatik: Sulfon, Rifampisin, Klozamisin, Amitiozon,
  • Sefalosporin:
  • Generasi 1: Sefolotin, Sefapirin, Sefazolin, Sefaleksin, Sefradin, Sefadroksil
  • Generasi 2: Sefamandol, Sefoksitin, Sefaklor, Sefuroksim, sefonisid, Seforanid
  • Generasi 3: Sefotaksim, Moksalaktam, Sefriakson, Sefoperazon
  • Betalaktam: Aztreonam, Asam Klavulanat, Sulbaktam, Dinatrium Tikarsilin/Kalium Klavulanat, Natrium Ampisilin/Natrium Sulbaktam
  • Tetrasiklin: Klortetrasiklin, Oksitetrasiklin, Tetrasiklin, Demekloksiklin, Doksisiklin, Minosiklin
  • Kloramfenikol: Kloramfenikol, Tiamfenikol
  • Aminoglikoside: Streptomisin, Gentamisin, Kanamisin, Amikasin, Tobramisin, Netilmisin, Neomisin,
  • Eritromisin dan Makrolit
  • Linkomisin dan Klindamisin
  • Polimiksin
  • Basitrasin
  • Natrium Fusidat
  • Mupirosin
  • Spektinomisin
  • Vankomisin
  • Golongan Kuinolon

ANTI VIRUS

  • Amantadin: mengambat proses perakitan virus Influenza A
  • Asiklovir: menghambat DNA polimerase virus → khusus virus Herpes
  • Gansiklovir: mekanisme belum jelas → untuk CMV (Cyto Megalo Virus) →virus Herpes
  • Ribavirin: menghambat virus saluran nafas: Virus Influenza A dan B

  • Zidovudin: Azidotimidin → sebagai inhibitor kompetitif reverse transcriptase dari HIV dan Retrovirus
  • Idoksuridin: mengalami fosforilasi dan masuk ke DNA sel → untuk Virus herpes dan pox
  • Inosipleks: Inosine pranobex → sebagai imunomodulator

ANTI KANKER

  • Kanker: adalah penyakit sel dengan ciri gangguan atau kegagalan mekanisme pengatur multiplikasi dan fungsi homeostasis lainnya pada organisme multiseluler
  • Sifat: tumbuh berlebih (tumor), invasif, metastatik, hereditas, pergeseran metabolisme: pembentukan makromolekul dari nukleosida dan asam amino, serta peningkatan katabolisme KH untuk energi sel

  • Obat antikanker sangat spesialistik →batas keamananya begitu sempit, sehingga hanya dibenarkan digunakan oleh dokter ahli saja
  • Penggunaan yang kurang cermat, hanya menambah penderitaan dan pemborosan biaya saja

Golongan Obat Anti Kanker
  • Cell Cycle Specific (CCS) → memperlihatkan toksisitas selektif terhadap fase tertentu dari siklus sel
Contoh: Vinkristin, Vinblastin, Merkaptopurin, Hidroksiuria, Metotreksat, Asparaginase

  • Cell Cycle Non Specific (CCNS)
Contoh: Alkilator, Antibiotik antikanker (Daktinomisin, Daunorubisin, Doksorubisin, Plikamisin, Mitomisisn), Sisplatin, Prokarbazin, Nitrosourea

  • Alkilator → pembentukan ion karbonium yang sangat reaktif pada perusakan fungsi DNA
Contoh: Makloretamin, Siklofosfamid, Mustar Urasil, Trietilin melamin, busulfan, Karmustin

  • Anti Metabolit → menghambat sintesis DNA sel kanker
Contoh: S-fluorourasil, Sitarabin, 6-Merkaptopurin, Metotreksat

  • Produk alamiah: Vinblastin (VLB), Vinkristin (VCR), Daktinomisin, Mitomisin, L-asparaginase
  • Hormon: Prednison, Progestin, Estrogen, Androgen
  • Isotop Radioaktif: Fosfor dan Iodium

Efek Anti Kanker
  • Mengganggu Hemopoetik dan gastroiintestinal: Lekopenia, trombositopenia, anemia; Anoreksia, mual, muntah, diare, stomatitis aftosa
  • Kulit: eritema, urtikaria, erupsi makulopapular, sindrome Stevens Johnson
  • Menyebabkan Nepropati hiperuresemik, Gagal Ginjal

Efek Non Terapi
  • Bersifat Teratogenik pada binatang → jangan diberikan pada kehamilan trimester1

Imunosupressan
  • Obat yang menekan respon imune
  • Digunakan pada tensplantasi Organ (ginjal, hati, kulit, kornea, jantung)
  • Contoh: prednison, vinkristin, siklofospamid, Azatioprin, Metotreksat, Siklosporin
Referensi

  1. Deglin, Vallerand, 2005, Pedoman Obat Untuk Perawat, Jakarta, EGC
  2. Ganiswarna, 1995, Farmakologi dan Terapi, Jakarta, FKUI
  3. Kee, Hayes, 1996, Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan, Jakarta, EGC


    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar