PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 19 Oktober 2010

PATOFISIOLOGI GINJAL

Dr. Suparyanto, M.Kes

PATOFISIOLOGI GINJAL

FUNGSI GINJAL
  • Organ vital yang mempertahankan kestabilan lingkungan interna tubuh (ECF)
  • Ginjal mengatur keseimbangan: cairan tubuh, elektrolit, asam basa dengan cara filtrasi darah
  • Reabsorpsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit
  • Mengekresikan kelebihan air, elektrolit, asam basa sebagai urine

  • Ginjal juga berfungsi mengekskresi sisa metabolisme (urea, kreatinine dan asam urat), metabolit (hormon) dan zat kimia asing (obat)
Ginjal mensekresi (fungsi endokrin):
  1. Renin (penting untuk pengaturan tekanan darah)
  2. 1,25 dihidroksi vit D3 (penting untuk mengatur kalsium)
  3. Eritropoietin (penting untuk sintesis eritrosit)

MEKANISME RENIN – ANGIOTENSIN – ALDOSTERON
  • Mekanisme yang bertanggung jawab dalam mempertahankan tekanan darah dan perfusi jaringan dengan mengatur homeostasis ion Na
  • Hipotensi dan hipovolemia → hipoperfusi ginjal → tekanan perfusi ↓ dalam arteriole aferen dan ↓ hantaran NaCl ke makula densa → keduanya menyebabkan sekresi renin dari sel JG (Juksta Glomerulus atau sel Granular) pada dinding arteriole aferen

  • Renin di sirkulasi menyebabkan pecahnya Angiotensinogen substrat (dihasilkan hati) →Angiotensin 1
  • Angiotensin 1 → diubah menjadi Angiotensin 2 oleh ACE (Angiotensin Converted Enzim) yang dihasilkan Paru dan Ginjal
  • Angiotensin 2 → punya 2 efek:
  1. Vasokontriksi arteriole dan
  2. Pe↑ reabsorbsi air dan ion Na → tekanan darah naik

BAGAN MEKANISME RENIN ANGIOTENSIN ALDOSTERON



MEKANISME ADH
  • Mekanisme ADH berperan penting dalam regulasi metabolisme air dan mempertahankan osmolalitas darah normal → dengan merangsang rasa haus dan mengatur ekskresi air melalui ginjal dan osmolalitas urine
  • Volume ECF↓ dan pe↑ osmoraritas ECF → merangsang sekresi ADH (hipofisis posterior)

  • ADH → aliran darah ke medulla ginjal↓ → hipertonisitas interstitial medulla↑ → kemampuan memekatkan urine↑ → urine↓
  • ADH → permeabilitas duktus koligen thd air ↑ → konsentrasi urine ↑ → urine↓

RENAL BLOOD FLOW
  • RBF atau aliran darah ginjal adalah 1000 – 1200 ml/menit atau 20 – 25% dari curah jantung
  • RPF atau aliran plasma ginjal sekitar 660 ml/menit
  • GFR (Glomerulus Filtration Rate) → indek fungsi ginjal = 125 ml/menit pada pria dan 115 ml/menit (wanita)
  • GFR akan menurun 1ml/menit/tahun setelah umur 30 tahun

PROSEDUR DIAGNOSTIK PENYAKIT GINJAL

Metode Biokimia:
  • Pemeriksaan Kimia Urine
  • Laju Filtrasi glomerulus
  • Tes Fungsi Tubulus

Metode Morfologik:
  • Pemeriksaan Mikroskopik Urine
  • Pemeriksaan Bakteriologik Urine
  • Pemeriksaan radiologi
  • Biopsi Ginjal

PROTEINURIA
  • Ekskresi protein normal dalam urine kurang dari 150 mg/hari → jika lebih Patologis
Penyebab Proteinuria:
  • Fungsional
  • Aliran keluar (prarenal)
  • Glomerulus
  • Tubulus

  • Proteinuria fungsional (sementara) → terdapat pada kasus ginjal normal, akibat ekskresi protein berlebihan pd kasus: demam, latihan berat, akibat posisi berdiri (proteinuria ortostatik)
  • Proteinuria prarenal: akibat ekskresi protein BM rendah (produksi protein berlebih) → pada kasus Multiple Mieloma → dimana jumlah protein yg difiltrasi melebihi kemampuan reabsorbsi tubulus

  • Proteinuria menetap → terdapat pada penyakit sistemik dan ginjal
  • Proteinuria glomelural adalah peningkatan permeabilitas glomelural akibat hilangnya jumlah atau ukuran sawar glomerulus (lapisan glomerulus: endotel, membran basal dan epitel) → yang dapat lolos protein dgn BM rendah

  • Penyakit tubulointerstisial dapat mengganggu absorpsi protein tubular yang mengakibatkan proteinuria (pielonefritis kronik, asidosis tubulus ginjal, sindrom Fanconi, Nekrosis Tubulus Akut (ATN))
  • Sindrom neprotik → hilangnya protein sebanyak 3,5 g/hr atau lebih dalam urine

HEMATURIA
  • Hematuria → adanya darah dalam urine
  • Hematuria sering merupakan tanda adanya penyakit ginjal (glumerulonefritis) atau penyakit saluran kemih bagian bawah (infeksi, batu, trauma dan neoplasma)

BATU GINJAL
  • Jenis batu ginjal tersering: kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran
  • Yang merangsang pembentukan batu: statis urine, infeksi atau pemakaian kateter menetap
  • Batu asam urat terbentuk dalam urine asam dan uropati obstruktif akibat kristalisasi asam urat
  • Pencegahan pembentukan batu: minum air yang banyak

BERAT JENIS URINE
  • Pengukuran berat jenis urine → dipergunakan untuk memperkirakan osmolalitas urine
  • BJ 1,010 → berhub dengan osmolilitas darah normal
  • BJ urine min yang diencerkan: 1,001
  • BJ urine max yg pekat: 1,040
  • Pada gagal ginjal progresif → pertama, ginjal kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine → lalu kehilangan kemampuan mengencerkan urine → BJ urine bertahan 1,010 pd saat gagal ginjal stadium akhir

GFR
  • GFR → indeks fungsi ginjal yang terpenting dan diukur secara klinis dengan uji bersihan creatinin
  • Kadar kreatinin serum (normal: 0,7 – 1,5 mg/dl) dan BUN (normal: 10 – 20 mg/dl) berbanding terbalik dengan GFR dan dapat digunakan untuk penilaian krisis gagal dan insufisiensi ginjal
  • BUN (Blood Urea Nitrogen) kurang akurat dibanding kreatinin → karena asupan protein dalam diet dan keadaan katabolisme dapat mempengaruhi BUN

TEST FUNGSI TUBULUS
  • Fungsi tubulus adalah: reabsorbsi selektif dari cairan tubulus dan sekresi kedalam lumen tubulus
Test fungsi tubulus proksimal:
  • Tes ekskresi fenolsulfonftalein
  • Para Amino Hipurat (PAH)
Tes fungsi tubulus distal:
  • Tes pemekatan, pengenceran, pengasaman dan konservasi Na

SEDIMEN URINE
  • Unsur abnormal urine: eritrosit, leukosit, bakteri, silinder (protein yang terbentuk dalam tubulus dan duktus koligen)
  • Silinder diberi nama berdasarkan elemen seluler yg melekat (eritrosit, leukosit, bakteri, sel tubulus)
  • Silinder punya nilai diagnostik yg tinggi karena berasal dari ginjal
  • Silinder granular yg lebar → gagal ginjal
  • Bakteriuria → >105 CFU/ml (Coloni Form Unit)

USG
  • USG → memberikan info tentang ukuran dan anatomi ginjal, termasuk kista dan dilatasi kalix
  • USG Doppler → menilai aliran dalam arteri dan vena ginjal
  • CT scan dan MRI (Magnetic Resonance Image) → menggambarkan sistem ginjal

RADIOGRAFI
  • Radiografi polos → ukuran ginjal dan batu radioopak
  • Kontras IV (IVP) → garis bentuk ginjal dan saluran kemih
  • Sistouretrogram tanpa kontras →dx reflux vesikuloureteral
  • Angiografi ginjal →kontras radioopak lewat kateter a. Femoralis

BIOPSI
  • Diagnosis histologi → membutuhkan biopsi ginjal
  • Biopsi perkutaneus dilakukan dengan jarum pemotong melalui punggung dengan bantuan ultrasonik

REFERENSI
  • Price, Wilson (2005), Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Jakarta: EGC, edisi 6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar