PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 13 Agustus 2011

STRES, PENANGGANAN DAN PENGUKURAN

Dr. Suparyanto, M.Kes

STRES, PENANGGANAN DAN PENGUKURAN

1.Pengertian Stres
  • Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Indri, 2007) stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntunan fisik dari tubuh (kondisi penyakit, latihan,dll) atau oleh kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk melakukan coping.
  • Menurut Selye (dalam Indri, 2007) stres diawali dengan reaksi waspada (alarm reaction) terhadap adanya ancaman yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis seperti meningkatnya denyut jantung, yang kemudian diikuti dengan reaksi penolakan terhadap stressor dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga (exhaustion) jika individu merasa tidak mampu untuk bertahan.
  • Stres adalah respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stresor), yang mengancam dan menggangu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping) (Santrock, 2003).
  • Atkinson (dalam Indri, 2007) mengemukakan bahwa stres mengacu pada peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Lazarus (dalam Indri, 2007) menjelaskan bahwa stres juga dapat diartikan sebagai :
  1. Stimulus, yaitu stres merupakan kondisi atau kejadian tertentu yang menimbulkan stres atau disebut juga dengan stresor.
  2. Respon, yaitu stres merupakan suatu respon atau reaksi individu yang muncul karena adanya situasi tertentu yang menimbulkan stres. Respon yang muncul dapat secara fisiologis seperti : jantung berdebar, gemetar dan pusing serta psikologis seperti : takut, cemas, sulit berkonsentrasi dan mudah tersinggung.
  3. Proses, yaitu stres digambarkan sebagai suatu proses dimana individu secara aktif dapat mempengaruhi dampak stres melalui strategi tingkah laku.
  • Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. Stres membutuhkan koping dan adaptasi. Sindrom adaptasi umum atau teori Selye, menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebut positif atau negatif. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa memerhatikan stresor atau penyebab tertentu (Isaacs, 2004 dalam A’at, 2008).
  • Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan). Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis, perilaku, dan subjektif terhadap stres, konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres, semua sebagai suatu sistem (WHO, 2003 dalam A’at, 2008).
  • Stres menurut Dadang Hawari (2008) merupakan respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik), tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis.
  • Empat variabel psikologik yang dianggap mempengaruhi mekanisme respons stres (Papero, 1997 dalam A’at, 2008):
  1. Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stresor yang mengurangi intensitas respons stres.
  2. Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.
  3. Persepsi: pandangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons stres.
  4. Respons koping: ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat ansietas dapat menambah atau mengurangi respons stres.
  • Berdasarkan berbagai definisi diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa stres adalah keadaan yang disebabkan oleh adanyan tuntutan internal maupun eksternal (stimulus) yang dapat membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu sehingga individu akan bereaksi baik secara fisik maupun secara psikis (respon) dan melakukan usaha-usaha penyesuaian diri terhadap situasi tersebut (proses).

2. Penggolongan Stres
  • Selye (dalam Indri, 2007) menggolongkan stres menjadi dua golongan. Penggolongan ini didasarkan atas persepsi individu terhadap stres yang dialaminya.
1. Distress (stres negatif)
  • Selye menyebutkan distress merupakan stres yang merusak atau bersifat tidak menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir atau gelisah. Sehingga individu mengalami keadaan psikologis yang negatif, menyakitkan, dan timbul keinginan untuk menghindarinya.
2. Eustress (stres positif)
  • Selye menyebutkan bahwa eustress bersifat menyenangkan dan merupakan pengalaman yang memuaskan. Hanson (dalam Indri, 2007) mengemukakan frase joy of stress untuk mengungkapkan hal-hal yang bersifat positif yang timbul dari adanya stres. Eustress dapat meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan, kognisi, dan performansi individu. Eustress juga dapat meningkatkan motivasi individu untuk menciptakan sesuatu, misalnya menciptakan karya seni.
3. Stresor
  • Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Indri, 2007) kondisi fisik, lingkungan dan sosial yang merupakan penyebab dari kondisi stres disebut dengan stressor. Istilah stresor diperkenalkan pertama kali oleh Selye (dalam Indri, 2007). Situasi, kejadian, atau objek apapun yang menimbulkan tuntutan dalam tubuh dan penyebab reaksi psikologis ini disebut stressor (Berry, 1998 dalam Indri, 2007). Pikiran ataupun perasaan individu sendiriyang dianggap sebagai suatu ancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor. Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang tersebut terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya. Namun, tidak semua orang mampu melakukan adaptasi dan mengatasi stresor tersebut sehingga timbul keluhan-keluhan diantaranya stres (Hawari, 2008).
  • Beberapa contoh stresor psikososial menurut Dadang Hawari (2008) antara lain sebagai berikut:
a. Perkawinan
  • Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini, lembaga perkawinan adalah lembaga yang paling banyak menderita. Salah satu faktor yang menyebabkan krisis perkawinan adalah ketidaksetiaan atau perselingkuhan sehingga menyebabkan perceraian.
b. Problem Orangtua
  • Salah satu problem orangtua pada zaman sekarang adalah bahwa yang penting bukan berapa banyak jumlah anak (kuantitas), melainkan yang utama adalah kualitas dari anak yang diasuhnya. Orang tua juga akan mengalami problem manakala anak terlibat kenakalan remaja, pergaulan bebas, kehamilan diluar nikah, aborsi dan penyalahgunaan narkotika.
c. Hubungan Interpersonal (Antar Pribadi)
  • Hubungan antar sesama manusia (perorangan/ individual) yang tidak baik dapat merupakan sumber stres. Misalnya hubungan yang tidak serasi, tidak baik atau buruk dengan kawan dekat atau kekasih, antara sesama rekan, antara bawahan dan atasan, pengkhianatan dan lain sebagainya.
d. Pekerjaan
  • Kehilangan pekerjaan (PHK, Pensiun) yang berakibat pada pengangguran akan berdampak pada gangguan kesehatan bahkan bisa sampai pada kematian. Dengan meningkatnya pengangguran, maka terlalu banyak beban pekerjaan sementara waktu yang tersedia sangat sempit, hal ini dapat pula menyebabkan stres.
e. Lingkungan Hidup
  • Kondisi lingkungan hidup yang buruk besar pengaruhnya bagi kesehatan seseorang. Misalnya masalah perumahan, polusi, penghijauan dan lain-lain yang merupakan sarana dan prasarana pemukiman hendaknya memenuhi syarat kesehatan lingkungan dan terciptanya suasana kehidupan yang bebas dari gangguan kriminalitas.
f. Keuangan
  • Masalah keuangan dalam kehidupan sehari-hari ternyata merupakan salah satu stresor utama. Misalnya, pendapatan lebih kecil dari pengeluaran, terlibat hutang, kebangkrutan usaha, soal warisan dan lain sebagainya.
g. Hukum
  • Keterlibatan seseorang dalam masalah hukum dapat merupakan sumber stres. Misalnya, tuntutan hukum, pengadilan, penjara dan lain sebagainya. Selain itu tidak ditegakkannya supremasi hukum yang berdampak pada ketidakadilan dapat pula merupaka sumber stres. 
h. Perkembangan
    • Yang dimaksudkan disini adalah tahapan perkembangan baik fisik maupun mental seseorang (siklus kehidupan). Misalnya masa remaja, masa dewasa, menopause, usia lanjut dan lain sebagainya yang secara alamiah akan dialami oleh setiap orang. Dan apabila tahapan perkembangan tersebut tidak dapat dilampaui dengan baik (tidak mampu beradaptasi), yang besangkutan dapat mengalami stres.
    i. Penyakit Fisik atau Cidera
    • Berbagai penyakit fisik terutama yang kronis dan atau cidera dapat menyebabkan stres pada diri seseorang, sebagai contoh misalnya penyakit jantung, paru-paru, stroke, kanker, HIV/ AIDS, kecelakaan dan lain sebagainya.
    j. Faktor Keluarga
    • Anak dan remaja dapat pula mengalami stres yang disebakan karena kondisi keluarga yang tidak harmonis. Sikap orang tua terhadap anak yang dapat menimbulkan stres antara lain:
    1. Hubungan kedua orangtua yang dingin, atau penuh ketegangan, atau acuh tak acuh.
    2. Kedua orangtua jarang dirumah dan tidak ada waktu untuk bersama dengan ank-anak.
    3. Komunikasi antara orangtua dan anak yang tidak serasi (communication gap).
    4. Kedua orangtua berpisah atau bercerai.
    5. Salah satu orangtua menderita gangguan jiwa atau kelainan kepribadian.
    6. Orangtua dalam mendidik anak kurang sabar, pemarah, keras, otoriter dan lain sebagainya.
    k.Trauma
    • Seseorang yang mengalami bencana alam, kecelakaan transportasi (darat, laut dan udara), kebakaran, kerusuhan, peperangan, kekerasan, penculikan, perampokan, perkosaan, kehamilan diluar nikah dan lain sebagainya merupakan pengalaman yang traumatis yang pada gilirannya yang bersangkutan dapat mengalami stres.

    4. Mekanisme Terjadinya Stres
    • Mekanisme respon tubuh terhadaps stres diawali dengan adanya rangsang yang berasal dari luar maupun dari dalam tubuh individu itu sendiri dan diteruskanpada sistim limbik yang meliputi hiphotalamus sebagai pusat pengatur adaptasi. Hipothalamus memiliki efek yang sangat kuat hampir seluruh sistim visceral tubuh kita dikarenakan hampir semua bagian di otak memiliki hubungan dengannnya. Oleh karean hubungan inilah maka hiphotalamus dapat merespon rangsang psikologis dan emosional. 
    • Peran hipothalamus terhadap stres meliputi empat fungsi spesifik. Fungsi tersebut adalah:
    1. Menginisiasi aktifitas sistim saraf autonom
    2. Merangsang hipofise anterior memproduksi hormon ACTH
    3. Memproduksi ADH
    4. Merangsang kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroksin
    • Hipothalamus saat stres akan mensekresi CRF (corticotrophin releasing factor) yang memacu hipofise anterior untuk memproduksi ACTH (adenocorticotrophic hormone). Pelepasan ACTH menyebabkan kelenjar adrenal mensekresi beberapa hormon, meliputi kortisol, dan adrenalin. Adanya sekresi kortisol menimbulkan respon kewaspadaan yang merupakan salah satu respon tubuh terhadap stres. Sebagai akibat dari cara penyelamatan diri tekanan darah meningkat secara perlahan, produksi seks hormon (estrogen dan progesteron) di tekan sedemikian rupa sehingga tidak berkompetisi mendapatkan energi akibatnya terjadi gangguan sistim reproduksi meliputi gangguan siklus haid (oligomenore) (Hager, 2002).

    5. Tipe Kepribadian Yang Rentan Terkena Stres
    • Tipe kepribadian yang beresiko tinggi terkena stres (yaitu tipe ”A”) Rosenmen & Chesney (dalam Hawari, 2008) menggambarkannya antara lain dengan ciri-ciri sebagai berikut:
    1. Ambisius, agresif dan kompetitif (suka akan persaingan).
    2. Kurang sabar, mudah tegang, mudah tersinggung dan marah (emosional).
    3. Kewaspadaan berlebihan, kontrol diri kuat, percaya diri berlebihan.
    4. Cara bicara cepat, bertindak serba cepat, hiperaktif, tidak dapat diam.
    5. Bekerja tidak mengenal waktu (workaholik).
    6. Pandai berorganisasi, memimpin dan memerintah.
    7. Lebih suka bekerja sendirian bila ada tantangan.
    8. Kaku terhadap waktu, tidak dapat tenang, serba tergesa-gesa.
    9. Mudah bergaul, pandai menimbulkan perasaan empati, dan bila tidak tercapai maksudnya mudah bersikap bermusuhan.
    10. Tidak mudah terpengaruh, kaku (tidak fleksibel).
    11. Bila berlibur pikirannya ke pekerjaanya, tidak dapat santai.
    12. Berusaha keras agar segala sesuatunya terkendali.
    • Sedangkan orang dengan kepribadian tipe ”B” adalah kebalikan dari tipe ”A” yang tersebut diatas.

    6. Tanda dan Gejala Stres
    • Neil Hibler (dalam Hager, 2002) menjelaskan tanda-tanda emosional, perilaku, dan fisik dari stres terhadap diri manusia meliputi :
    a. Tanda emosional
    1. Apati, meliputi : perasaan sedih, tidak bisa menikmati liburan
    2. Kecemasan : gelisah, merasa tidak pasti, merasa tidak berguna
    3. Kelelahan mental : sulit berkonsentri
    b. Tanda perilaku
    1. Menghindar : terpakuk pada diri sendiri, tidak menerima tanggung jawab
    2. Melakukan hal sampai ekstrim : alkoholisme, obat, berbelanja boros
    3. Masalah administratif : kelambanan, penampilan buruk, higiene buruk
    4. Masalah hukum : kekerasan yang tidak terkendali
    c.Tanda fisik

    1). Reaksi fisik akibat stres menurut Ayodya (2002) antara lain :
    1. Otot-otot tegang
    2. Jantung berdebar-debar lebih cepat dan tidak teratur
    3. Pernapasan lebih cepat dan pendek
    4. Berkeringat
    5. Kewaspadaan yang berlebihan
    6. Perubahan nafsu makan
    7. Otot melemah atau bergetar
    8. Rasa mual
    9. Sulit tidur
    10. Gugup
    11. Sakit kepala
    12. Gangguan pencernaan
    13. Sembelit atau diare
    14. Resah dan gelisah terus menerus
    2). Kelelahan fisik
    • Timbulnya penyakit-penyakit, seperti nyeri kepala, insomnia, perubahan nafsu makan, peningkatan atau penurunan berat badan, gangguan menstruasi.

    d .Beberapa tanda yang ditunjukkan remaja ketika mengalami stres
    1. Remaja tiba-tiba malas dan tidak lagi berminat terhadap kegiatan atau hal-hal yang disukai.
    2. Sering merasa cemas tanpa sebab yang jelas, selalu khawatir, tegang dan tidak dapat santai serta selalu gelisah.
    3. Sulit tidur, tidak dapat tidur nyenyak, terbangun dalam malam hari dan sering mengalami mimpi buruk.
    4. Nafsu makan meningkat atau sebaliknya kehilangan nafsu makan.
    5. Mudah marah, mudah kesal, mudah menangis karena hal-hal kecil.
    6. Khusus remaja putri mengalami gangguan menstruasi.
    7. Reaksi Tubuh Terhadap Stres
    • Stres yang ringan dapat memacu seseorang untuk berusaha lebih berpikir dan berusaha lebih cepat dan keras sehingga dapat menjawab tantangan hidup sehari-hari. Tetapi stres yang berkelanjutan dan berat jika tidak ditanggulangi akan dapat membahayakan kesehatan (Vinosa, 2007). 
    • Walter canon (dalam Indri, 2007) memberikan deskripsi mengenai bagaimana reaksi tubuh terhadap suatu peristiwa yang mengancam. Ia menyebut reaksi tersebut sebagai fight-or-flight response karena respon fisiologis mempersiapkan individu untuk menghadapai atau menghindari situasi yang mengancam tersebut. 
    • Fight-or-flight response menyebabkan individu dapat berespon dengan cepat terhadap situasi yang mengancam. Akan tetapi bila arousal yang tinggi terus menerus muncul dapat membahayakan kesehatan individu.
    • Sarafino (dalam Indri, 2007) mempelajari akibat yang diperoleh bila stresor terus menerus muncul. Ia kemudian menemukan istilah General Adaptation Syndrome (GAS) yang terdiri dari rangkaian tahapan reaksi fisiologis terhadap stresor:
    1. Alarm Reaction
    • Tahapan pertama ini mirip dengan fight-or-flight response. Pada tahap ini arousal yang terjad pada tubuh organisme berada di bawah normal yang untuk selanjutnya meningkat diatas normal. Pada akhir tahap ini, tubuh melindungi organisme terhadap stresor. Tapi tubuh tidak dapat mempertahankan intesitas arousal dari alarm reaction dalam waktu yang sangat lama.
    2. Stage of Resistance
    • Arousal masih tinggi, tubuh masih terus bertahan untuk melawan dan beradaptasi dengan stresor. Respon fisiologis menurun, tetapi masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal.
    3. Stage of Exhaustion
    • Respon fisiologis masih terus berlangsung. Hal ini dapat melemahkan sistim kekebalan tubuh dan menguras energi tubuh. Sehingga terjadi kelelahan pada tubuh. Stresor yang terus terjadi akan mengakibatkan penyakit dan kerusakan fisiologis dan dapat menyebabkan kematian.
    • Reaksi tubuh terhadap stres menurut Dadang Hawari (2008) antara lain :
    1. Daya pikir
    • Kemampuan bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala pusing.
    2. Ekspresi wajah
    • Wajah seseorang yang stres nampak tegang, dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum/tertawa dan kulit muka kedutan (tic facialis).
    3. Mulut
    • Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa tercekik.
    4. Sistem Pernafasan
    • Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitan pada saluran pernafasan mulai dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan berat dikarenakan otot-otot rongga dada (otot-otot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma (asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas paru-paru juga mengalami spasme.
    5. Sistem Kardiovaskuler
    • Sistem jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faalnya karena stres. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar (dilatation) atau menyempit (constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu sebahagian atau seluruh tubuh terasa panas (subfebril) atau sebaliknya terasa dingin.
    6. Sistem Pencernaan
    • Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih; hal ini disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah kedokteran disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi pada usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau sebaliknya sering diare.
    7. Sistem Perkemihan.
    • Orang yang sedang menderita stres faal perkemihan (air seni) dapat juga terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya, meskipun ia bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).
    8. Sistem Endokrin
    • Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stres adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus). Gangguan hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).
    9. Rambut
    • Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-kecoklatan serta kusam. Ubanan (rambut memutih) terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.
    10. Mata
    • Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
    11. Telinga
    • Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).
    12. Kulit
    • Pada orang yang mengalami stres reaksi kulit bermacam-macam. Pada kulit dari sebagian tubuh terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembapan kulit juga berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain daripada itu perubahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan, juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
    13. Sistem Otot dan Tulang
    • Stres dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang (musculoskeletal). Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu keluhan-keluhan pada tulang persendian sering pula dialami, misalnya rasa ngilu atau rasa kakubila menggerakkan anggota tubuhnya. Masyarakat awam sering mengenal gejala ini sebagai keluhan ”pegel linu”.
    14. Libido
    • Kegairahan seseorang di bidang seksual dapat pula terpengaruh karena stres. Yang bersangkutan seringkali mengeluh libido menurun atau sebaliknya meningkat tidak sebagaimana mestinya. Selain keluhan pada orang yang bersangkutan dampak dari gangguan libido ini dapat pula dirasakan oleh pasangannya.

    8. Penanganan Stres

    1. Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah
    • Menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003) penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
    1. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
    2. Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.

    2.Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar (Santrock, 2003):

    1. Strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
    2. Strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stres
    • Menurut Ebata & Moos (dalam Santrock, 2003) individu yang menggunakan strategi mendekat untuk menghadapi stres adalah remaja yang berusia lebih tua, lebih aktif, menilai stresor utama yang muncul sebagai sesuatu yang dapat dikendalikan dan sebagai suatu tantangan, dan memiliki sumber daya sosial yang dapat digunakan. Sedangkan, individu yang menggunakan strategi menghindar mudah merasa tertekan dan mengalami stres, memiliki stresor yang lebih kronis, dan telah mengalami kejadian-kejadian yang lebih negatif dalam kehidupannya selama tahun sebelumnya.

    3. Berpikir positif dan self-efficacy
    • Menurut Bandura (dalam Santrock, 2003) self-efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata-rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif.
    • Bagi beberapa orang, melihat segala sesuatu dengan terlalu cermat dapat mengakibatkan merasa tertekan. Secara keseluruhan, dalam kebanyakan situasi, orientasi yang berdasar pada kenyataan atau khayalan yang sedikit di atas rata-rata dapat menjadi yang paling efektif (dalam Santrock, 2003).

    4.Sistem dukungan
    • Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar (dalam Santrock, 2003 ), keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.
    5. Berbagai strategi penanganan stres
    • Dalam penanganan stres dapat menggunakan berbagai strategi coping, karena stres juga disebabkan tidak hanya oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai faktor (Susman, 1991 dalam Santrock, 2003).

    9. Pengukuran Stres
    • Instrumen yang dapat digunakan untuk mengukur skala stres adalah Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang biasanya digunakan untuk mengukur skala kecemasan karena kecemasan merupakan salah satu emosi yang paling menimbulkan stres yang dirasakan oleh banyak orang (Wangmuba, 2009). Disamping itu, salah satu respon individu dalam menghadapi stres adalah perasaan cemas (Herlambang, 2008). HARS terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik (Hawari, 2008).
    1. Perasaan cemas, ditandai dengan : cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, dan mudah tersinggung.
    2. Ketegangan yang di tandai oleh : merasa tegang, lesu, tidak dapat istirahat tenang, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah.
    3. Ketakutan ditandai oleh : ketakutan pada gelap, ketakutan ditinggal sendiri, ketakutan pada orang asing, ketakutan pada binatang besar, ketakutan pada keramaian lalu lintas, ketakutan pada kerumunan orang banyak.
    4. Gangguan tidur ditandai oleh : sukar untuk tidur, terbangun malam hari, tidur tidak nyenyak, bangun dengan lesu, mimpi buruk atau menakutkan.
    5. Gangguan kecerdasan ditandai oleh: sukar konsentrasi, daya ingat buruk, daya ingat menurun.
    6. Perasaan depresi (murung) di tandai oleh : kehilangan minat, sedih, bangun dini hari, kurangnya kesenangan pada hobi, perasaan berubah-ubah sepanjang hari.
    7. Gejala somatik (otot) ditandai oleh : nyeri pada otot, kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.
    8. Gejala sensorik (sistem saraf) ditandai oleh : tinitus (telinga berdenging), penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemah, perasaan di tusuk-tusuk.
    9. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) ditandai oleh : takikardia (denyut jantung cepat), berdebar-debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lemah seperti mau pingsan, detak jantung menghilang (berhenti sekejap).
    10. Gejala pernafasan di tandai oleh : rasa tertekan atau sempit didada, perasaan tercekik, merasa nafas pendek/ sesak, sering menarik nafas panjang.
    11. Gejala Gastrointestinal (pencernaan) ditandai oleh : sulit menelan, mual, perut melilit, nyeri lambung sebelum atau sesudah makan, perut terasa kembung atau penuh, muntah, defekasi lembek, berat badan menurun, dan kontipasi (sukar buang air besar)
    12. Gejala Urogenital (perkemihan dan kelamin) ditandai oleh : sering kencing, tidak dapat menahan kencing, tidak datang bulan (tidak ada haid), darah haid berlebihan, darah haid sangat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid sangat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang, impotensi.
    13. Gejala Saraf Autonom ditandai oleh : mulut kering, muka merah dan kering, mudah berkeringat, pusing/ sakit kepala, bulu kuduk berdiri.
    14. Perilaku sewaktu wawancara, ditandai oleh : gelisah, tidak tenang, jari gemetar, mengerutkan dahi atau kening, muka tegang, otot tegang, nafas pendek dan cepat, muka memerah.

    Cara penilaian :
    • Dari 14 kelompok gejala, masing-masing kelompok diberi penilaian angka (skor) antara 0-4, yang artinya adalah:
    1. Skor 0 : tidak ada gejala sama sekali
    2. Skor 1 : 1 dari gejala yang ada
    3. Skor 2 : separuh dari gejala yang ada
    4. Skor 3 : lebih dari separuh gejala yang ada
    5. Skor 4 : semua gejala ada
    • Penilaian hasil yaitu dengan menjumlahkan nilai skor kelompok gejala 1 sampai dengan 14 dengan ketentuan sebagai berikut:
    1. Skor kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
    2. Skor 14-20 = kecemasan ringan
    3. Skor 21-27 = kecemasan sedang
    4. Skor 28-41 = kecemasan berat
    5. Skor 42-56 =kecemasan berat sekali

    DAFTAR PUSTAKA

    1. A’at, Sriati. (2008). Tinjauan Tentang Stres. Retrieved January 03, 2009, from Http://www.recaucesunpad.ac.id
    2. Agus. (2007). Amenore Primer dan Sekunder. Retrieved December 20, 2008, from Http://cpddokter.com
    3. Agus, Rahmadi. (2008). Beberapa Penyebab Terganggunya Siklus Haid. Retrieved March 06, 2009, from Http://eramuslim.com
    4. Alimul H, Aziz. (2003). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika
    5. Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Asdi Mahasatya
    6. Arju. (2008). Gangguan siklus Haid. Retrieved March 06, 2009, from Http://tabloidnova.com
    7. Aryana, Ahmad. (2009). Remaja dan Stres. Retrieved March 12, 2009, from Http://id.answer.yahoo.com
    8. Ayodya, L.Riyadi. (2002). Seri Kesehatan Bimbingan Dokter Pada Stres. Jakarta: Dian Rakyat
    9. Bernike. (2008). Stres Pada Remaja. Retrieved March 12, 2009, from Http://remajaelim1.blogspot.com
    10. Budiarto, Eko. (2004). Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC
    11. Hager, W. David. (2002). Stres dan Tubuh Wanita. Batam: Interaksara
    12. Hawari, Dadang. (2008). Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI
    13. Herlambang. (2008). Stres dan Gangguan Hormonal. Retrieved December 20, 2008, from Http://www.jambi-independent.co.id
    14. Indri, Kemala Nasution. (2007). Stres Pada Remaja. Retrieved January 03, 2009, from Http://libraryusu.ac.idh
    15. Iskandar, Sugi Suhardi. (2007). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gangguan Siklus Haid. Retrieved March 06, 2009, from Http://www.kompas.com
    16. Mansjoer, Arif. (2002). Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius
    17. Notoatmodjo, Soekidjo. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
    18. Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
    19. Potter&Perry. (2005). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Jakarta: EGC
    20. Santrock. (2003). Perkembangan Remaja. Retrieved March 06, 2009, from Http://lussysf .multiply.com./journal/journal/item/67
    21. Sastroasmoro, Sudigdo. (2002). Dasar-dasar Mentodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Sagung Seto
    22. Teddy, Rochantor. (2008). Penyebab Terganggunya Siklus Haid. Retrieved March 06, 2009, from Http://www.jambi-independence.co.id
    23. Tim Konsultasi Kesehatan. (2009). Fisiologi Haid. Retrieved March 12, 2009, from Http://indonesiaindonesia.com
    24. Usman, Said. (2008). Masa Depan Ginekologi Remaja dalam Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia. Retrieved March 06, 2009, from Http://www.obgyn-unsri.org
    25. Vinosa. (2007). Menilik Beberapa sumber Stres Pada Remaja. Retrieved March 12, 2009, from Http://vinosa.wordpress.com
    26. Windhu, Purnomo. (2008). Handout & Bahan Kuliah Metodologi Penelitian. Surabaya
    27. Winkjosastro, Hanifa. (2005a). Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
    28. Winkjosastro, Hanifa. (2005b). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo


    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar