PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 30 Desember 2012

PROMOSI KESEHATAN ANAK PRASEKOLAH

Dr. Suparyanto, M.Kes


PROMOSI KESEHATAN ANAK PRASEKOLAH, REMAJA DAN LANSIA

1.    Anak Pra Sekolah
1)    Definisi Anak PraSekolah
Anak Prasekolah adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun,mereka biasanya
mengikuti program prasekolah baik di taman kanak-kanak, kelompok bermain maupun tempat penitipan anak.Joyce Engel (1999)

Anak usia prasekolah adalah usia mainan, karena pada masa itu anak
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk untuk bermain dengan mainannya.
( Elizabeth,2005 )

Pada usia ini berkembang rasa inisiatif anak. prilaku yang nampak adalah anak banyak bertanya, banyak meniru aktivitas orang lain dan mencoba melakukan tugas tertentu. Anak mulai menunjukkan inisiatif misalnya mandi, membereskan mainannya sendiri, membantu adiknya dan sebagainya.

Pada usia ini anak juga mulai melibatkan diri dalam aktivitas bersama. Anak pada usia ini juga mulai menghadapi tuntutan oleh lingkungannya untuk berprilaku dalam batas tertentu. Ini dapat menimbulkan krisis, sehingga anak dapat mengalami kekecewaan. Bersama munculnya inisiatif, anak juga mulai merasakan rasa bersalah yang dapat mengahambatnya untuk maju. Bila lingkungan tidak kondusif terhadap inisiatif anak maka rasa bersalah akan menjadi lebih dominan dalam kehidupan anak selanjutnya

2)    Ciri-ciri Anak Prasekolah
1. Ciri Sosial
a)    Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat, tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat menyesuaikan diri secara social
b)    Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti
c)    Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak yang lebih besar
2. Ciri Emosional
a)    Anak TK cenderung mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.
b)    Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali memperebutkan perhatian guru.

3. Ciri kognitif anak prasekolah
a)    Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa
b)    Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat, kesempatan, mengagumi dan kasih sayang

3)    Cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten:
a)    Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.
b)    Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.
c)    Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan kesempatan dalam banyak hal.
d)    Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai kegiatan secara mandiri.
e)    Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam berbagai tingkah laku.
f)     Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh lingkungannya.
g)    Kagumilah apa yang dilakukan anak.
h)   Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan hangat dan dengan ketulusan hati. Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973)

2.    Pendidikan Anak Usia Dini
1)    Definisi PAUD
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

2)    Tujuan diselenggarakannya PAUD:
a)    Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
b)    Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar di sekolah.

Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun

3)    Lembaga yang Berkaitan Dengan PAUD
a)    DepKes
b)    BKKBN
c)    DepAg
d)    DepDagri
e)    DepDikNas

Di dukung sarana , tenaga, Dana, Pola, pembinaan, Sistem Evaluasi dll.
Program Paud dalam bentuk Taman kanak- kanak dan Radhatul Alfan ( RA )
PAUD diselenggarakan melalui pendidikan jalur Formal, non formal, informal.
a)    Formal         : TK, RA
b)    Non Formal : kelompok bermain, TPA
c)    Informal       : Pendidikan keluarga, atau pendidikan yang diselengarakan oleh
                             lingkungan.

Berbagai Bentuk Pelayanan PAUD di Masyarakat.

Nama Layanan
Tatanan
Usia yang diLayani
Bina Keluarga Balita
( BKB )
Rumah, Sarana Desa
Ibu dan Anak balita
Taman penitipan Anak (TPA)
Bagi Masyarakat berpenghasilan Rendah
1,5 bulan – 5 tahun
Kelompok Bermaian, Sanggar Kegiatan Belajar ( SKB )
Di rumah / berpindah-indah
3-6 Tahun
Taman kanak-kanak
( TK ) /
Raudhatul Anfal ( RA )
Sekolah
Kelompok A : 4-5 tahun
Kelompok B : 5-6 tahun
Taman pendidikan Al-Quran ( TPQ )
Masjid, Mushola
-
POSYANDU
Tempat serbaguna di Desa
0-5 tahun


4)    Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
a)    Infant (0-1 tahun)
b)    Toddler (2-3 tahun)
c)    Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
d)    Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

5)    Pentingnya pelayanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
a)    PAUD sebagai titik sentral strategi pembangunan sumber daya manusia dan sangat fundamental.
b)    PAUD memegang peranan penting dan menentukan bagi sejarah perkembangan anak selanjutnya, sebab merupakan fondasi dasar bagi kepribadian anak.
c)    Anak yang mendapatkan pembinaan sejak dini akan dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan fisik maupun mental yang akan berdampak pada peningkatan prestasi belajar, etos kerja, produktivitas, pada akhirnya anak akan mampu lebih mandiri dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
d)    Merupakan Masa Golden Age (Usia Keemasan). Dari perkembangan otak manusia, maka tahap perkembangan otak pada anak usia dini menempati posisi yang paling vital yakni mencapai 80% perkembangan otak.
e)    Cerminan diri untuk melihat keberhasilan anak dimasa mendatang. Anak yang mendapatkan layanan baik semenjak usia 0-6 tahun memiliki harapan lebih besar untuk meraih keberhasilan di masa mendatang. Sebaliknya anak yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai membutuhkan perjuangan yang cukup berat untuk mengembangkan hidup selanjutnya.


3.    Screning Anak Sekolah
1)    Pengertian
Skrining perkembangan merupakan prosedur yang didesain untuk mengidentifikasi anak yang harus mendapatkan penilaian yang lebih intensif. Skrining digunakan untuk mendeteksi deviasi yang tak terduga dari perkembangan normal yang tidak seharusnya ada.

Tujuan utama dari skrining adalah untuk mengidentifikasikan secepatnya disabilitas perkembangan pada anak yang beresiko tinggi sehingga penanganan dapat dilakukan pada usia dini dimana penanganan paling efektif. Skrining bukan merupakan tes yang hanya dilakukan pada satu waktu, tetapi lebih merupakan proses dan prosedur yang digunakan pada periode waktu tertentu.

Tes skrining yang ideal harus mempunyai sensitivitas (mendeteksi hampir semua masalah pada anak) dan spesifitas (dapat mendeteksi anak dengan keterlambatan) yang tinggi. Tes tersebut juga harus dapat mengukur apa yang seharusnya terukur (validitas), memberikan hasil yang sama pada penggunaan berulang oleh pemeriksa yang berbeda, murah dan cepat digunakan. Skrining perkembangan yang ideal tidak sepenuhnya ada.

Perlu dipisahkan antara skrining perkembangan, penilaian perkembangan maupun survailans perkembangan. Penilaian perkembangan ditujukan kepada pemeriksaan yang lebih detail dari perkembangan yang tertunda. Di satu sisi, survailans perkembangan merupakan tes yang berkelanjutan, fleksibel, dan proses yang komprehensif dimana termasuk aktifitas yang berhubungan pada deteksi dari masalah perkembangan dan promosi perkembangan selama kunjungan primer kesehatan anak. Survailans perkembangan termasuk identifikasi dari keadaan keluarga, observasi anak, skrining, dan imunisasi.

Terdapat tiga pendekatan pada proses skrining, yaitu skrining perkembangan informal, skrining perkembangan rutin dan skrining perkembangan terfokus. Skrining perkembangan informal berdasarkan observasi pada saat pemeriksaan rutin anak dan menanyakan orang tua mengenai perhatian mereka terhadap perkembangan anaknya. Ahli anak, bagaimanapun juga perlu membiasakan diri dengan berbagai variasi milestone perkembangan anak pada berbagai tingkat usia. Hal ini bukanlah tugas mudah untuk para klinisi umum. Nilai batas atas normal telah dipergunakan sebagai panduan untuk mengidentifikasikan keterlambatan. Sebagai tambahan, beberapa penelitian juga melaporkan bahwa ahli anak seringkali tidak akurat dalam memprediksikan status perkembangan anak.

Skrining perkembangan formal dilakukan secara sistematis dengan menggunakan insrumen skrining yang telah terstandarisasi. Bagaimanapun juga pendekatan ini membutuhkan waktu yang banyak dan orang yang terlatih. Dan tidak dapat pula menjamin untuk dapat menurunkan insiden dari masalah perkembangan pada populasi anak dengan resiko rendah.

Skrining perkembangan yang terfokus melibatkan dua kelompok anak, yaitu a.Anak dengan orang tua yang memberi perhatian yang lebih pada
perkembangan anak dan guru atau dokter yang mencurigai adanya masalah,

b.Neonatus dengan kondisi resiko tinggi untuk terjadinya keterlambatan
perkembangan  contohnya:
a)    BBLR (<1500 g="g" span="span">
b)    Kondisi neurologis
c)    Perdarahan intraventrikular Gr. III or IV
d)    Periventricular leukomalacia
e)    Hipoksia iskemik ensefalopati
f)     Apgar skor 0-3 pada menit 10, 15 and 20
g)    Meningitis
h)   Kejang persistent
i)     Apnea
j)      Hyperbilirubinemia
k)    Kejang dengan hipoglikemi
l)     Septikemia

4.    Usaha Kesehatan Sekolah (UKS )
1)    Definisi UKS
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah Usaha Kesehatan Masyarakat yang ditujukan kepada masyarakat sekolah, yaitu : anak didik, guru, dan karyawan sekolah lainnya.(Indan. 2000).

Prioritas pelaksanaan UKS diberikan kepada SD mengingat SD merupakan dasar dari sekolah-sekolah lanjutannya (Indan. 2000).

2)    Alasan diadakannya UKS
a)    Golongan masyarakat usia sekolah (6-18 tahun) merupakan bagian yang besar dari penduduk Indonesia (kurang lebih 29 %), di perkirakan 50 % dari jumlah tersebut adalah anak-anak sekolah.
b)    Masyarakat sekolah yang terdiri atas murid, guru serta orang tua murid merupakan masyarakat yang paling peka (sensitif) terhadap pengaruh modernisasi dan tersebar merata diseluruh Indonesia.
c)    Anak-anak dalam taraf pertumbuhan dan perkembangan sehingga masih mudah dibina dan dibimbing.
d)    Pendidikan kesehatan melalui masyarakat sekolah ternyata paling efektif diantara usaha-usaha yang ada untuk mencapai kebiasaan hidup sehat dari masyarakat pada umumnya

3)    Tujuan Upaya Kesehatan Sekolah
a)    Umum : Mempertinggi nilai kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta rehabilitasi anak-anak sekolah dan lingkungannya sehingga didapatkan anak-anak yang sehat jasmani, rohani, dan sosialnya.
b)    Khusus : Mencapai keadaan sehat anak-anak sekolah dan lingkungannya sehingga dapat memberikan kesempatan tumbuh dan berkembang secara harmonis serta belajar secara efisien dan optimal.

4)    Kegiatan-kegiatan Usaha kesehatan sekolah
1. Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat (Health school living).
a)    Bangunan dan perlengkapan sekolah yang sehat.
b)    Kebersihan ruangan dan halaman sekolah.
c)    Tersedianya kakus dan air yang memenuhi syarat kesehatan.
d)    Hubungan yang baik antara guru, murid dan masyarakat/orang tua murid

2. Pendidikan Kesehatan
a)    Pendidikan tentang kesehatan perorangan dan lingkungan.
b)    Pendidikan tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
c)    Pendidikan tentang makanan sehat dan hidup yang teratur.
d)    Pendidikan tentang sikap yang baik dan kebiasaan –kebiasaan yang rapi.
e)    Pendidikan tentang pencegahan kecelakaan.

3. Usaha Pemeliharaan kesehatan disekolah
a)    Pemeriksaan kesehatan perorangan dan lingkungan secara berkala.
b)    Usaha pencegahan dan pemberantasan penyakit menular (vaksinasi dan sebagainya).
c)    Usaha kesehatan gigi sekolah.
d)    Mengirimkan anak-anak yang memerlukan perawatan khusus ke pihak yang lebih ahli.
e)    PPPK dan pengobatan sederhana.

5.    Remaja
1)    Definisi
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa.
Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metode coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya.

2)    Perkembangan Remaja
a. Remaja awal (11/12 – 13/14)
Praremaja ini mempunyai masa yang sangat pendek, kurang lebih hanya 1 tahun. Untuk wanita 11/12 – 12/13 tahun untuk laki – laki, 12/13 – 13/14 tahun. Diakatakan sebagai fase negative, terlihat tingkah laku yang cenderung negative. Perkembangan fungsi – fungsi tubuh, terutama seks, juga mengganggu

b. Remaja tengah (13/14 – 17 tahun)
Perubahan - perubahan fisik terjadi sangat pesat dan mencapai puncaknya. Ketidak seimbangan emosional dan ketidak stabilan dalam banyak hal terdapat pada masa ini. Ia mencari identitas diri karena pada masa ini, statusnya tidak jelas. Pola – pola hubungan sosial mulai berubah.

c. Remaja Akhir (17 – 20/21 tahun)
Dirinya ingin menjadi pusat perhatian, ia ingin menonjolkan diri, caranya lain dengan remaja awal. Ia idealis, menggunai cita tinggi, bersemangat dan mempunyai energy yang besar. Ia berusaha memantapkan identitas diri, dan tidak ingin mencapai ketidak tergantungan emosional.

3)    Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja pada masa dewasa sebelum menjadi individu dewasa yang matang :
a)    Menerima citra tubuh
b)    Menerima identitas seksual
c)    Mengembangkan system nilai personal
d)    Membuat persiapan untuk hidup sendiri
e)    Menjadi mandiri dan bebas dari orang tua
f)     Mengembangkan mengambil keputusan
g)    Mengembangkan identitas seseorang yang dewasa

4)    Peran Remaja dalam Masyarakat
Kontek kultur dan sub kultur ini merupakan segi lain yang sangat perlu diperhatikan dalam menganalisis masalah – masalah remaja, di samping yang sudah dibicarakan yaitu yang menyangkut masalah diri dalam diri remaja itu sendiri.

a. Masyarakat Transisi
Salah satu cirri masyarakat Indonesia adalah tempat sebagian besar remaja tinggal adalah masyarakat transisiyang sedang beranjak dari keadaannyayang tradisional menuju kondisi yang lebih modern.

b. Remaja Dan Masyarakat Transisi
Keadaan masyarakat transisi seperti yang diuraikan diatas (diindonesia terjadi pasca-reformasi) oleh emire dukleim dikatakan akan membawa individu anggota masyarakat kepada keadaan anomie. Anomie menurut durkleim adalah normlessmess, yaitu suatu system social tanpa adanya petunjuk atau pedoman untuk mengatur tingkah laku. Yang ada adalah keadaan eksternal sepertidalam keadaan hokum rimba yang terdapat dalam masyarakat yang tiba – tiba dilanda perang. Kebiasaan – kebiasaan dan aturan yang biasa berlaku tiba – tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya adalah individualisme dimana individu – individu bertindak pada kepentingannya masing – masing.

c. Remaja Sebagai Anggota Keluarga
Dalam masyarakat yang modern, masalah penerusan nilai – nilai dalam keluarga menjadi lebih rumit. Bermacam – macam norma dan nilai yang ada, tidak terbendung lagi masuk kedalam masyarakat yang bentuknya yang masih tradisional hanya mengenai sejumlah norma dan nilai yang terbatas. Teknologi informasi menyebabkan masuknya norma dan nilai baru dari luar dan perkembangan – perkembangan dalam masyarakatsendiripun menyebabkan timbulnya norma dan nilai baru. Pada gilirannya, norma dan nilai – nilai yang baru ini masuk kedalam lingkungankeluarga sehingga terjadilah bermacam konflikdan kesenjangan dalam keluarga.

d. Remaja Di Sekolah
Sekolah adalah pendidikan sekunder. Bagi anak yang sudah sekolah, lingkungan yang setiap hari dimsukinya selain lingkungan rumah adalah sekolahnya. Perkembangan jiwa remaj di sekolah berpengaruh sangat besar karena sepertiga dari wakti setiap hari dilewatkan di sekolah. Factor yang berpengaruh di lingkungan sekolah bukan hanya guru dan sarana serta prasarana pendidikan saja. Lingkungan bergaul antar temanpun besar pengaruhnya. Apabila sekolah tersebut berada dikeramaian kota dapat berpengaruh sangat besar karena anak – anak yang akan kesekolah mendapat berbagai rangsangan sosial. Misalnya;pusat perbelanjaan yang menawarkan barang yang mewah,pengangguran yang menawarkan obat terlarang, dan pedagang kaki lima yang menawaarkan video porno.

e. Remaja Dalam Masyarakat
Masyarakat sebagai lingkungan tersier (ketiga) adalah lingkungan yang terluas bagi remaja dan sekaligus paling banyak menawarkan pilihan. Terutama dengan maju pesatnya teknologikomunikasi massa, maka hampir tidak ada batas geografis, etnis, politis maupun sosial antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

6.    Pendidikan Seks
1)    Definisi
Pendidikan Seks adalah upaya untuk memberikan pengetahuan  tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta komitmen agama agar tidak terjadi “penyalahgunaan” organ reproduksi tersebut.

Pendidikan Seks terdiri dari dua segi:
a)    Pengetahuan secara biologis yang termasuk dalam pengetahuan alat-alat reproduksi perempuan dan laki-laki, proses reproduksi yaitu kehamilan dan kelahiran, serta pengetahuan dan pemahaman cara penularan PMS dan HIV/AIDS.
b)    Pengetahuan dengan pendekatan sosial/psikologis yang membahas soal seks, perkembangan diri, soal kontrasepsi, mengenal perilaku seksual beresiko dan hak-hak manusia untuk keselamatan kita serta keputusan untuk melakukan hubungan seks.

2)    Tujuan Pendidikan Seks
Pendidikan seks selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek  psikologis dan moral. Pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak asasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga.

Tujuan dari pendidikan seks bagi  remaja antara lain :
a)    Untuk membekali diri tentang pengetahuan yang berkaitan dengan segala sesuatu yang menyangkut dengan pribadi wanita khususnya yang berkaitan dengan urusan kewanitaan, seperti masa subur, kehamilan, penyakit kelamin, akibat dari pergaulan bebas, dan sebagainya.
b)    Jika pendidikan seks bagi remaja tidak diberikan, maka terdapat kecenderungan bahwa mereka akan melakukan hal-hal yang mengarah kepada perbuatan zina, karena pada masa remaja merupakan masa mulai berkembang dan berfungsinya organ tubuh khususnya organ yang mengarah kepada berfungsinya alat kelamin. Secara otomatis mereka akan terdorong ingin tahu tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seks dan terdorong ingin ikut mencobanya. Bagi remaja yang kurang memiliki pengetahuan tentang seks dan usaha menanggulanginya, maka akan sangat mudah terjerumus ke jalan yang tersesat, bahkan mereka besar kemungkinan akan mengalami hamil sebelum nikah atau terjerumus kepada jalan menuju perzinaan. Sebagai contoh dengan pergaulan yang kurang terkendali terhadap teman kencannya, akhirnya mereka melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah, dan ditambah iman yang kurang kuat, akhirnya mereka justru masuk ke lembah prostitusi.
c)    Pendidikan seks bagi remaja diberikan memiliki tujuan utama yaitu agar mereka memiliki bekal yang cukup tentang hal-hal yang berkaitan dengan hubungan seks, pergaulan bebas, serta memahami akibat dari semua perbuatan tersebut.

3)    Dampak dari Pergaulan Bebas
Beberapa bahaya dari pergaulan bebas dapat di jabarkan antara lain :
a)    Beberapa penyakit yang siap mendatangi seperti, herpes, HIV/ AIDS, Raja singa, dan penyakit lainnya. Penyakit ini tentu sudah diketahui sangat membahayakan dan sampai sekarang masih belum ada obatnya.
b)    Hamil di luar pernikahan akan menimbulkan permasalahan baru, apabila masih kuliah atau sekolah tentu saja orang tua akan sangat kesal. Maka akan takut untuk jujur kepada orang tua akhirnya memutuskan untuk melakukan dosa baru yaitu aborsi ataupun bunuh diri.
c)    Apabila menikah di usia muda, permasalahan yang belum siap di hadapi akan datang, seperti masalah keuangan, masalah kebiasaan, masalah anak.
d)    Nama baik keluarga akan tercoreng. Keluarga akan menghadapi masalah yang di buat dari efek buruk dari seks bebas ini.
e)    Apabila hamil dan pasangan tidak mau bertanggung jawab, apa yang akan lakukan? Akan banyak pikiran buruk yang akan mengganggu , seperti ingin bunuh diri, berpikir tidak rasional yang mengakibatkan gangguan mental atau gila.

4)    Cara Penangulangan
Ada beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk menanggulangi perilaku yang menyimpang:
a)    Selalu menegakkan tata aturan baik aturan agama maupun aturan dalam keluarga yang mengarah kepada batas menutup aurat. Remaja yang memiliki iman yang kuat, memahami ajaran Islam secara sempurna akan memiliki budi pekerti yang baik dan memiliki kemampuan untuk menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Demikian juga aturan dalam keluarga, bahwa orang tua selalu mengajarkan agar berpakaian yang rapi dan sopan sehingga tidak mengundang fitnah.
b)    Anak selalu diberi bimbingan tentang seks dan fungsinya, serta cara menanggulangi diri dari penyimpangan seks yang dianggap tabu dan melanggar syariat Islam. Pendidikan seks bagi remaja, diberikan jika mereka benar-benar siap dan ingin mengetahui tentang seks dan problematikanya. Oleh karena itu selain diberikan tentang pendidikan seks dan fungsi reproduksi, juga diberikan upaya penanggulangan secara Islam, yaitu menghindarkan diri dari segala sesuatu yang mengundang fitnah dan kesesatan.
c)    Selalu dibiasakan menjaga diri dalam keluarga, sehingga mereka mampu memiliki iman yang kuat dan budi pekerti yang luhur. Dalam hal ini peran orang tua dituntut agar menjadi teladan yang baik bagi anggota keluarganya, khususnya bagi anak-anaknya yang sedang menginjak remaja. Mereka harus selalu diberi bimbingan tentang perilaku yang baik dan menghindarkan diri dari perilaku yang tidak sopan dan mengarah kepada pergaulan bebas, karena hal itu sangat dilarang oleh Islam.
d)    Memberi pengetahuan dan bimbingan tentang perkembangan biologisnya khususnya menyangkut seks dan auratnya yang sedang dialami anak-anak mereka, sehingga anak-anak tersebut tidak akan mengalami salah pergaulan yang mengarah kepada pelanggaran seksualitas. Dengan pengetahuan seperti ini, mereka akan semakin siap dan mampu menjaga diri serta memiliki pengetahuan yang cukup untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang cerah, khususnya persiapan untuk berumah tangga.
e)    Selalu menanamkan pemahaman bahwa dibolehkannya melakukan hubungan seks dengan lawan jenisnya jika telah melaksanakan akad nikah atau perkawinan, karena hal ini memiliki tujuan yang utama yaitu membentuk keluarga bahagia san sejahtera. Dalam hal ini remaja dibekali tentang larangan hubungan seks sebelum nikah, dan dibekali pula kewajiban-kewajiban seorang wanita jika telah memiliki suami atau telah sah menjadi suami istri.
f)     Memberi penjelasan kepada anak usia remaja bahwa pemenuhan hasrat seks tidak sekedar mendapatkan kesenangan saja, tetapi agar ditanamkan pula bahwa seks merupakan kodrat Tuhan yang harus kita lakukan dengan mengikuti aturan yang telah ditentukan agar tetap berada dalam jalan kebenaran

7.    HIV AIDS dan Narkoba
1)    Pengertian HIV dan AIDS
HIV (Human Immuno–Devesiensi) adalah virus yang hanya hidup dalam tubuh manusia, yang dapat merusak daya kekebalan tubuh manusia.
AIDS (Acguired Immuno–Deviensi Syndromer) adalah  kumpulan gejala menurunnya gejala kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit dari luar.

2)    Bahaya AIDS
Orang yang telah mengidap virus AIDS akan menjadi pembawa dan penular AIDS selama hidupnya, walaupun tidak merasa sakit dan tampak sehat. AIDS juga dikatakan penyakit yang berbahaya karena sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang bisa mencegah virus AIDS. Selain itu orang terinfeksi virus AIDS akan merasakan tekanan mental dan penderitaan batin karena sebagian besar orang di sekitarnya akan mengucilkan atau menjauhinya. Dan penderitaan itu akan bertambah lagi akibat tingginya biaya pengobatan. Bahaya AIDS yang lain adalah menurunnya sistim kekebalan tubuh. Sehingga serangan penyakit yang biasanya tidak berbahaya pun akan menyebabkan sakit atau bahkan meninggal.

3)    Gejala-Gejala AIDS
Sejak pertama seseorang terinfeksi virus HIV, maka virus tersebut akan hidup dalam tubuhnya, tetapi orang tersebut tidak menunjukkan gejala penyakit namun terlihat betapa sehat, aktif, produktif seperti biasa.

Adapun gejala-gejala AIDS itu sendiri adalah :
a)    Berat badan turun dengan drastis.
b)    Demam yang berkepanjangan(lebih dari 38 0C)
c)    Pembesaran kelenjar (dileher), diketiak, dan lipatan paha)yang timbul tanpa sebab.
d)    Mencret atau diare yang berkepanjangan.
e)    Timbulnya bercak-bercak merah kebiruan pada kulit
f)     Sesak nafas dan batuk yang berkepanjangan.
g)    Sariawan yang tidak sembuh-sembuh.

Semua itu adalah gejala-gejala yang dapat kita lihat pada penderita AIDS, yang lama-kelamaan akan berakhir dengan kematian.

4)    Penularan AIDS
Sebelumnya virus AIDS tidak mudah menular virus influensa. Kita tidak usak terlalu mengucilkan atau menjauhi penderita AIDS, karena AIDS tidak akan menular dengan cara – cara seperti di bawah ini :
a)    Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan seksual ).
b)    Bersenggolan atau berjabat tangan dengan penderita.
c)    Bersentuhan dengan pakaian dan lain-lain barang bekas penderita AIDS.
d)    Makan dan minum.
e)    Gigitan nyamuk dan serangga lain.
f)     Sama-sama berenang di kolam renang

Menularnya AIDS dapat terjadi melalui cara-cara sbb :
a)    Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap HIV
b)    Transfusi darah yang mengandung virus HIV
c)    Melalui alat suntik, akupuntur, tato, dan alat tindik yang sudah di pakai orang yang mengidap virus AIDS
d)    Hubungan pranatal, yaitu pemindahan virus dari ibu hamil yang mengidap virus AIDS kepada janin yang dikandungnya.
e)    Mereka yang sering melakukanhubungan seksual diluar nikah, seperti wanita dan pria tuna susila dan pelanggannya.
f)     Mereka yang mempunyai bayak pasangan seksual misalnya : Homo seks ( melakukan hubungan dengan sesama laki-laki ), Biseks ( melakukan hubungan seksual dengan sesama wanita ), Waria dan mucikari.
g)    Penerima transfusi darah
h)   Bayi yang dilahirkan dari Ibu yang mengidap virus AIDS.
i)     Pecandu narkotika suntikan.
j)      Pasangan dari pengidap AIDS

5)    Cara pencegahan  AIDS
a)    Hindarkan hubungan seksual diluar nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang pasangan seksual, tidak berhubungan dengan orang lain.
b)    Pergunakan kondom bagi resiko tinggi apabila melakukan hubungan seksual.
c)    Ibu yang darahnya telah diperiksa dan ternyata mengandung virus, hendaknya jangan hamil. Karena akan memindahkan virus AIDS pada janinnya.
d)    Kelompok resiko tinggi di anjurkan untuk menjadi donor darah.
e)    Penggunaan jarum suntik dan alat lainnya ( akupuntur, tato, tindik ) harus dijamin sterilisasinya.

Adapun usaha-usaha yang dapat dilakukan pemerintah dalam usaha untuk mencegah penularan AIDS yaitu, misalnya : memberikan penyuluhan-penyuluhan atau informasi kepada seluruh masyarakat tentang segala sesuatau yang berkaitan dengan AIDS, yaitu melalui seminar-seminar terbuka, melalui penyebaran brosur atau poster-poster yang berhubungan dengan AIDS, ataupun melalui iklan diberbagai media massa baik media cetak maupun media elektronik.penyuluhan atau informasi tersebut dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, kepada semua lapisan masyarakat, agar seluarh masyarakat dapat mengetahui bahaya AIDS, sehingga berusaha menghindarkan diri dari segala sesuatu yang bisa menimbulkan virus AIDS.

6)    Definisi Narkoba
Narkoba sebelumnya dikenal dengan istilah:
NAZA: Narkotika dan Zat Adiktif
NAPZA: Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif
NARKOBA di Indonesia merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat Narkoba adalah zat kimia yang dapat mengubah keadaan psikologi seperti perasaan, pikiran, suasana hati serta perilaku jika masuk ke dalam tubuh manusia baik dengan cara dimakan, diminum, dihirup, suntik, intravena, dan lain sebagainya.

Narkoba dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :
a)    Narkotika - untuk menurunkan kesadaran atau rasa.
b)    Psikotropika - mempengaruhi psikis dari pengaruh selektif susunan syaraf pusat otak.
c)    Obat atau zat berbahaya.

Menurut UU No. 22 Tahun 1997 Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis.Zat tersebut menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, menghilangkan rasa, mengurangi hingga menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (adiktif). WHO sendiri memberikan definisi tentang narkotika sebagai berikut: "Narkotika merupakan suatu zat yang apabila dimasukkan ke dalam tubuh akan memengaruhi fungsi fisik dan/atau psikologi (kecuali makanan, air, atau oksigen)."

7)    Jenis & Macam Narkoba / Narkotika
Seperti yang kita tahu bahwa Narkoba adalah bahan atau zat adiktif yang berbahaya bagi tubuh, yang dampaknya  bisa mengubah perasaan , mood dan emosi bagi si pemakai.

Dari segi efek dan dampak yang ditimbulkan pada para pemakai narkoba dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan:
1. Depressants
Obat-obatan ini memperlambat sistem saraf pusat.Obat ini bisa membuat orang merasa santai, kurang tegang, dan kurang menyadari peristiwa sekelilingnya. Contohnya adalah:
a)    Alkohol
b)    Heroin
c)    Inhalants 
d)    Sleeping Pills 
e)    Ketamine 
f)     Pain killers ( obat penghilang rasa sakit).

2. Stimulant
Obat ini dapat mempercepat sistem saraf pusat, dapat membantu orang merasa lebih waspada dan meningkatkan kinerja fisik.Stimulant diambil untuk membuat orang merasa senang dan penurunan nafsu makan.contoh adalah:
a)    Tembakau
b)    Kokain dan kokain jenis bubuk (Crack)
c)    Amphetamine 
d)    Methamphetamine

3. Hallucinogens
Obat ini kadang-kadang disebut "mengubah pikiran" atau halusinasi.Obat ini dapat meningkatkan kesadaran seseorang dari pandangan, sentuhan, rasa dan pendengaran.Dapat mendengar suara lembut.Hallucinogens juga dapat merubah suasana hati seseorang. Contohnya adalah:
a)    Marijuana   
b)    Ecstasy            
c)    LSD (Lysergic  Acid Diethylamide)

4. Obat jenis lainnya
a)    Steroids
b)    Herbal

Narkotika banyak sekali macamnya, ada yang berbentuk cair, padat, serbuk, daun-daun, dan lain sebagainya. Di bawah ini diuraikan sedikit mengenai macam-macam narkotika, yaitu:
a.    Opioid: Bahan opioid adalah saripati bunga opium. Zat yang termasuk kelompok opioid antara lain: Heroin, disebut juga diamorfin (INN) bisa ditemukan dalam bentuk pil, serbuk, dan cairan.
b.    Codein, biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan bening
c.    Comerol, sama dengan codein biasanya dijual dalam bentuk pil atau cairan bening
d.    Putaw
e.    Kokain: Kokain merupakan alkaloid yang berasal dari tanaman Erythroxylon coca.Jenis tanamannya berbentuk belukar.Zat ini berasal dari Peru dan Bolivia.
f.     Ganja (Cannabis /Cimeng): Ganja merupakan tumbuhan penghasil serat.Akan tetapi, tumbuhan ini lebih dikenal karena kandungan narkotikanya, yaitu tetrahidrokanabinol (THC).Semua bagian tanaman ganja mengandung kanaboid psikoaktif. Cara menggunakan ganja biasanya dipotong, dikeringkan, dipotong kecil-kecil, lalu digulung menjadi rokok.Asap ganja mengandung tiga kali lebih banyak karbonmonoksida daripada rokok biasa.

Adapun zat lain yang memiliki dampak yang sama bahayanya dengan narkotika jika disalahgunakan, yaitu psikotropika. Jenis-jenis yang termasuk zat ini antara lain Ectasy
a)    Shabu-shabu
b)    Benzodiazepin (Pil Nipam, BK, dan Magadon).

8)    Dampak Penyalahgunaan Narkoba / Narkotika
Berikut dampak positif dan negatif penggunaan narkoba:
1. Dampak Negatif
Dampak narkoba, jika disalahgunakan, seperti halnya singkatan kata tersebut.(NARKOBA: narkotika dan obat/bahan berbahaya), memang sangatlah berbahaya bagi manusia.Narkoba dapat merusak kesehatan manusia baik secara fisik, emosi, maupun perilaku pemakainya.Bahkan, pada pemakaian dengan dosis berlebih atau yang dikenal dengan istilah over dosis (OD) bisa mengakibatkan kematian.Namun sayang sekali, walaupun sudah tahu zat tersebut sangat berbahaya, masih saja ada orang-orang yang menyalahgunakannya.

a.Dampak narkoba terhadap fisik.
Pemakai narkoba akan mengalami gangguan-gangguan fisik sebagai berikut:
a)    Berat badannya akan turun secara drastis.
b)    Matanya akan terlihat cekung dan merah.
c)    Mukanya pucat.
d)    Bibirnya menjadi kehitam-hitaman.
e)    Tangannya dipenuhi bintik-bintik merah.
f)     Buang air besar dan kecil kurang lancar.
g)    Sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas.

b.Dampak narkoba terhadap emosi
Pemakai narkoba akan mengalami perubahan emosi sebagai berikut:
a)    Sangat sensitif dan mudah bosan.
b)    Jika ditegur atau dimarahi, pemakai akan menunjukkan sikap membangkang.
c)    Emosinya tidak stabil.
d)    Kehilangan nafsu makan.

c.Dampak narkoba terhadap perilaku
Pemakai narkoba akan menunjukkan perilaku negatif sebagai berikut:
a)    Malas
b)    Sering melupakan tanggung jawab
c)    Jarang mengerjakan tugas-tugas rutinnya
d)    Menunjukan sikap tidak peduli
e)    Menjauh dari keluarga
f)     Mencuri uang di rumah, sekolah, ataupun tempat pekerjaan
g)    Menggadaikan barang-barang berharga di rumah
h)   Sering menyendiri
i)     Menghabiskan waktu ditempat-tempat sepi dan gelap, seperti di kamar tidur, kloset, gudang, atau kamar mandi
j)      Takut akan air
k)    Batuk dan pilek berkepanjangan
l)     Sering menguap
m)  Mengaluarkan keringat berlebihan
n)   Sering mengalami mimpi buruk
o)    Mengalami nyeri kepala
p)    Mengalami nyeri/ngilu di sendi-sendi tubuhnya

2. Dampak Positif
Walaupun begitu setiap kehidupan memiliki dua sisi mata uang.Di balik dampak negatif, narkotika juga memberikan dampak yang positif.Jika digunakan sebagaimana mestinya, terutama untuk menyelamatkan jiwa manusia dan membantu dalam pengobatan, narkotika memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Berikut dampak positif narkotika:
1.Opioid
Opioid atau opium digunakan selama berabad-abad sebagai penghilang rasa sakit dan untuk mencegah batuk dan diare.

2.Kokain
Daun tanaman Erythroxylon coca biasanya dikunyah-kunyah untuk mendapatkan efek stimulan, seperti untuk meningkatkan daya tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.

3.Ganja (ganja/cimeng)
Orang-orang terdahulu menggunakan tanaman ganja untuk bahan pembuat kantung karena serat yang dihasilkannya sangat kuat.Biji ganja juga digunakan sebagai bahan pembuat minyak.

9)    Gejala-Gejala Pecandu Narkoba
Kecanduan terhadap Narkoba adalah gangguan dalam otak yang disebabkan penyalahgunaan Narkoba sehingga menyebabkan pengulangan perilaku yang berlebihan dari orang yang tidak atau susah berhenti terhadap obat-obatan walaupun dengan resiko berbahaya bagi tubuhnya.

Jika mereka berhenti mengkonsumsi obat-obatan, maka tubuh dari si pecandu akan menderita berlebih secara fisik dan mereka mau tidak mau harus memenuhi perasaan ketagihan tersebut dengan cara apapun. 

Seorang Pecandu Narkoba sudah tidak mampu lagi mengendalikan dirinya sendiri, mereka hanya sendirian tanpa perlu berfikir akan teman, keluarga atau lingkungan sekitarnya, banyak pecandu narkoba yang meninggal akibat penggunaan dosis yang berlebih atau Over Dosis.

Gejala Kecanduan Narkoba terhadap seorang Pecandu :
a)    Gelisah dan sulit untuk tidur
b)    Keringat berlebih
c)    Bulu kuduk berdiri ( seperti melihat hantu)
d)    Pilek
e)    Keram perut atau Diare
f)     Pupil mata membesar
g)    Mual dan ingin muntah
h)   Peningkatan tekanan darah, nadi dan suhu tubuh.

Penggunaan bahan kimia Narkoba dalam jangka waktu panjang  akan mengganggu system kerja syarat di otak, contohnya Glumate adalah neurotransmitter atau syarat yang berfungsi untuk menangkap pembelajaran, memahami, memori dan prilaku seseorang.  Jaman sekarang, narkoba tidak hanya merasuki pada lingkungan remaja saja, anak-anakpun sudah banyak yang mengalami  kecanduan juga.

10) .Upaya Penanggulangan Pecandu Narkoba
1. Preventif
a)    Pendidikan Agama sejak dini.
b)    Pembinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
c)    Menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak
d)    Orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anak.
Anak-anak diberikan pengetahuan sedini mungkin tentang narkoba, jenis, dan dampak negatifnya

2. Tindakkan Hukum
Dukungan semua pihak dalam pemberlakuan Undang-Undang dan peraturan disertai tindakkan nyata demi keselamatan generasi muda penerus dan pewaris bangsa. Sayangnya KUHP belum mengatur tentang penyalah gunaan narkoba, kecuali UU No :5/1997 tentang Psikotropika dan UU no : 22/1997 tentang Narkotika. Tapi kenapa hingga saat ini penyalah gunaan narkoba semakin meraja lela ?Mungkin kedua Undang-Undang tersebut perlu di tinjau kembali relevansinya atau menerbitkan kembali Undang-Undang yang baru yang mengatur tentang penyalahgunaan narkoba ini.

3. Rehabilitasi
Didirikan pusat-pusat rehabilitasi berupa rumah sakit atau ruang rumah sakit secara khusus untuk mereka yang telah menderita ketergantungan. Sehubungan dengan hal itu, ada beberapa alternative penanggulangan yang dapat kami tawarkan :
a)    Mengingat penyalah gunaan narkoba adalah masalah global, maka penanggulangannya harus dilakukan melalui kerja sama international.
b)    Penanggulangan secara nasional, yang teramat penting adalah pelaksanaan Hukum yang tidak pandang bulu, tidak pilih kasih. Kemudian menanggulangi masalah narkoba harus dilakukan secara terintegrasi antara aparat keamanan ( Polisi, TNI AD, AL, AU ) hakim, jaksa, imigrasi, diknas, semua dinas/instansi mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah. Kemudian dikalangan Dinas Pendidikan Nasional juga harus berani melakukan test urine kepada para siswa SLTP-SLTA, dan barang siapa terindikasi positif narkoba agar dikeluarkan dari sekolah dan disalurkan ke pusat rehabilitasi. Di sekolah- sekolah agar dilakukan razia tanpa pemberitahuan sebelumnya terhadap para siswa yang dapat dilakukan oleh guru-guru setiap minggu.Demikian juga dikalangan mahasiswa di perguruan tinggi.
c)    Khusus untuk penanggulangan narkoba di sekolah agar kerja sama yang baik antara orang tua dan guru diaktifkan. Artinya guru bertugas mengawasi para siswa selama jam belajar di sekolah dan orang tua bertugas mengawasi anak-anak mereka di rumah dan di luar rumah. Temuan para guru dan orang tua agar dikomunikasikan dengan baik dan dipecahkan bersama, dan dicari upaya preventif penanggulangan narkoba ini dikalangan siswa SLTP dan SLTA.
d)    Pihak Departemen Kesehatan bekerjasama dengan POLRI untuk menerbitkan sebuah booklet yang berisikan tentang berbagai hal yang terkait dengan narkoba. Misalnya apakah narkoba itu, apa saja yang digolongkan kedalam narkoba, bahayanya, kenapa orang mengkomsumsi narkoba, tanda- tanda yang harus diketahui pada orang- orang pemakai narkoba cara melakukan upaya preventif terhadap narkoba. Disamping itu melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai instansi tentang bahaya dan dampak negative dari narkoba.Mantan pemakai narkoba yang sudah sadar perlu dilibatkan dalam kegiatan penyuluhan seperti itu agar masyarakat langsung tahu latar belakang dan akibat mengkomsumsi narkoba.
e)    Kerja sama dengan tokoh-tokoh agama perlu dieffektifkan kembali untuk membina iman dan rohani para umatnya agar dalam setiap kotbah para tokoh agama selalu mengingatkan tentang bahaya narkoba.

8.    Lansia
1)    Definisi Lansia
Menua/ Lansia adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan – lahan kemampuan  jaringan  untuk  memperbaki  diri  atau mengganti  dan mempertahankan fungsi  normalnya  sehingga  tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang di derita          (Nugroho, 2000).

Menurut WHO penggolongan lansia meliputi:
a)    Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b)    Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun
c)    Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun
d)    Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

2)    Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
a. Perubahan Fisiologis
Perubahan dari  tingkat  sel  sampai  kesemua sistem organ tubuh, diantaranya  sistem pernapasan,  pendengaran,  penglihatan, kardiovaskuler,  sistem pengaturan suhu tubuh,  muskuloskeletal, gastro intestinal, genitourinaria, endokrin dan integumen.

b. Perubahan Psikologis
Perubahan  psikologis  pada  lansia  meliputi  short  term memory,  frustasi,  kesepian,  takut kehilangan  kebebasan,  takutmenghadapi  kematian,  perubahan  keingginan,  depresi,  dankecemasan (Maryam, 2008). Perubahan  psikis  pada  lansia  adalah  besarnya  individualdifferences pada  lansia.  Lansia  memiliki  kepribadian  yang berbeda  dengan  sebelumnya.  Penyesuaian  diri  lansia  juga sulit karena  ketidakinginan  lansia  untuk  berinteraksi  dengan lingkungan ataupun pemberian batasan untuk dapat  berinteraksi(Hurlock, 2000).

c. Perubahan sosial
Umumnya lansia banyak yang melepaskan partisipasi  sosial mereka, walaupun pelepasan itu dilakukan secara terpaksa. Oranglanjut usia yang memutuskan hubungan dengan dunia sosialnyaakan  mengalami  kepuasan.  Pernyataan  tadi merupakandisaggrement  theory.  Aktivitas  sosial  yang  banyak  pada  lansiajuga mempengaruhi baik buruknya kondisi fisik dan sosial lansia.

Menurut  Setiabudhi  (1999), permasalahan  sosial  lansia secara umum yaitu :
a)    Masih besarnya  jumlah lansia yang berada di  bawah garis kemiskinan.
b)    Makin  melemahnya  nilai  kekerabatan  sehingga  anggota keluarga  yang  berusia  lanjut  kurang diperhatikan,  dihargaidan  dihormati,  berhubung  terjadi perkembangan  polakehidupan keluarga  yang secara  fisik lebih mengarah pada bentuk keluarga kecil.
c)    Lahirnya  kelompok masyarakat  industri  yang memiliki  ciri kehidupan  yang lebih  bertumpu  kepada  individu  dan menjalankan kehidupan berdasarkan perhitungan untung rugi, lugas  dan  efisien  yang  secara  tidak  langsung  merugikan kesejahteraan lansia.
d)    Masih  rendahnya  kuantitas  tenaga  professional  dalam pelayanan  lansia  dan  masih  terbatasnya  sarana  pelayanan pembinaan kesejahteraan lansia.
e)    Serta  belum  membudayanya  dan  melembaganya  kegiatan pembinaan kesejahteraan lansia.

d. Perubahan Ekonomi
Menurut   Kuntjoro  (2002)  Pada  umumnya  perubahan  ini diawali  ketika  masa  pensiun.  Meskipun  tujuan  ideal  pensiunadalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan haritua, namun  dalam  kenyataannya  sering  diartikan  sebaliknya,karena pensiun sering diartikan sebagai  kehilangan penghasilan,kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri. Reaksisetelah orang memasuki masa pensiun lebih tergantung dari modelkepribadiannya.

9.    Posyandu Lansia
1)    Definisi Posyandu Lansia
Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.
Posyandu lansia adalah merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat atau /UKBM yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan itu sendiri khususnya pada penduduk usia lanjut. Pengertian usia lanjut adalah mereka yang telah berusia 60tahun keatas.

2)    Tujuan Posyandu Lansia
a)    Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga     terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansia
b)    Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan     swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut.

3)    Sasaran Posyandu Lansia
1. Sasaran Langsung
a)    Kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun)
b)    Kelompok usia lanjut (60 tahun keatas)
c)    Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun ke atas)

2. Sasaran tidak langsung
a)    Keluarga dimana usia lanjut berada.
b)    Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut.
c)    Masyarakat luas.

4)    Mekanisme Pelayanan Posyandu Lansia
Berbeda dengan posyandu balita yang terdapat sistem 5 meja, pelayanan yang diselenggarakan dalam posyandu lansia tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah kabupaten maupun kota penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia sistem 5 meja seperti posyandu balita, ada juga hanya menggunakan sistem pelayanan 3 meja, dengan kegiatan sebagai berikut :
a)    Meja I : Pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan dan atau tinggi badan
b)    Meja II : Melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh (IMT). Pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana dan rujukan kasus juga dilakukan di meja II ini.
c)    Meja III : Melakukan kegiatan penyuluhan atau konseling, disini juga bisa dilakukan pelayanan pojok gizi.

5)    Kendala Pelaksanaan Posyandu Lansia
 Beberapa kendala yang dihadapi lansia dalam mengikuti kegiatan posyandu  antara lain :
a. Pengetahuan lansia yang rendah tentang manfaat posyandu.
Pengetahuan lansia akan manfaat posyandu ini dapat diperoleh dari pengalaman pribadi dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan menghadiri kegiatan posyandu, lansia akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara hidup sehat dengan segala keterbatasan atau masalah kesehatan yang melekat pada mereka. Dengan pengalaman ini, pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia

b. Jarak rumah dengan lokasi posyandu yang jauh atau sulit dijangkau
Jarak posyandu yang dekat akan membuat lansia mudah menjangkau posyandu tanpa harus mengalami kelelahan atau kecelakaan fisik karena penurunan daya tahan atau kekuatan fisik tubuh. Kemudahan dalam menjangkau lokasi posyandu ini berhubungan dengan faktor keamanan atau keselamatan bagi lansia. Jika lansia merasa aman atau merasa mudah untuk menjangkau lokasi posyandu tanpa harus menimbulkan kelelahan atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau motivasi lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan demikian, keamanan ini merupakan faktor eksternal dari terbentuknya motivasi untuk menghadiri posyandu lansia.

c. Kurangnya dukungan keluarga untuk mengantar maupun mengingatkan lansia untuk datang ke posyandu.
Dukungan keluarga sangat berperan dalam mendorong minat atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabila selalu menyediakan diri untuk mendampingi atau mengantar lansia ke posyandu, mengingatkan lansia jika lupa jadwal posyandu, dan berusaha membantu mengatasi segala permasalahan bersama lansia.

d.Sikap yang kurang baik terhadap petugas posyandu.
Penilaian pribadi atau sikap yang baik terhadap petugas merupakan dasar atas kesiapan atau kesediaan lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu. Dengan sikap yang baik tersebut, lansia cenderung untuk selalu hadir atau mengikuti kegiatan yang diadakan di posyandu lansia. Hal ini dapat dipahami karena sikap seseorang adalah suatu cermin kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek. Kesiapan merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara-cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya suatu respons

6)    Pelayanan Posyandu Lansia
Pelayanan kesehatan pada posyandu lansia meliputi kesehatan fisik dan mental emosional, dengan KMS mencatat dan memantau untuk mengetahui lebih awal penyakt atau ancaman masalah kesehatan yang dihadapi dan perkembangannya. Nach berikut saya sampaikan 10 jenis pelayanan di posyandu lansia :
a)    Pemeriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari, meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan / minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air kecil dan besar.
b)    Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional, dengan menggunakan pedoman metode 2 menit ( bisa dilihat KMS usia lanjut)
c)    Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indek massa tubuh
d)    Pengukuran tekanan darah dengan menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.
e)    Pemeriksaan hemoglobin menggunakan Talquist, Sahli, atau Cuprisulfat.
f)     Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adannya penyakit gula.
g)    Pemeriksaan adanya zat putih telur / protein dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.
h)   Pelaksaan rujukan ke puskemas bila mana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan pada nomor 1 hingga 7.
i)     Penyuluhan bisa dilakukan didalam atau diluar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau kelompok usia lanjut.
j)      Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi kelompok usia lanjut yang tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan

10. Senam Lansia
1)    Definisi
Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang dilakukan secara tersendiri atau berkelompok dengan maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut  (Santosa, 1994).
Senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia yang dilakukan dengan maksud meningkatkan kemampuan meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut.

2)    Manfaat Senam Lansia.
Manfaat dari olahraga bagi lanjut usia menurut Nugroho (1999; 157) antara lain
a)    Memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia
b)    Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan (adaptasi)
c)    Fungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam fungsinya terhadap  bertambahnya tuntutan, misalya sakit.Sebagai Rehabilitas Pada lanjut usia terjadi penurunan masa otot serta kekuatannya, laju denyut jantung maksimal, tolerasnsi latihan, kapasitas aerobik dan terjadinya peningkatan lemak tubuh. Dengan melakukan olahraga seperti senam lansia dapat mencegah atau melambatkan kehilangan fungsional tersebut. Bahkan dari berbagai penelitian menunjukan bahwa latihan/olah raga seperti senam lansia dapatmengeliminasi berbagai resiko penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit arteri koroner dan kecelakaan. (Darmojo 1999;81)

3)    Jenis-jenis senam lansia
a.    Senam kebugaran lansia
b.    Senam otak
c.    Senam osteoporosis
d.    Senam hipertensi
e.    Senam diabetes mellitus
f.     Olahraga rekreatif/jalan santai.

Semua senam dan aktifitas olahraga ringan tersebut sangat bermanfaat untuk menghambat proses degeneratif/penuaan. Senam ini sangat dianjurkan untuk mereka yang memasuki usia pralansia (45 thn) dan usia lansia (65 thn ke atas).
Senam lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia setelah latihan teratur. Tingkat kebugaran dievaluasi dengan mengawasi kecepatan denyup jantung waktu istirahath yaitu kecepatan denyut nadi sewaktu istirahat. Jadi supaya lebih bugar, kncepatan denyut jantung sewaktu istirahat harus menurun.  (Poweell, 2000)

4)    Keikutsertaan Senam Lansia
Keikutsertaan senam lansia adalah dimana lansia mengikuti kegiatan senam lansia  secara  teratur,  terukur  serta terencana  dantujuannya untuk meningkatkan kemampuaan fungsional raga.

Faktor–faktor  yang mempengaruhi lansia  dalam mengikuti  kegiatan  posyandu  lansia  (senam lansia)adalah :
1.   Pengetahuan lansia
Pengetahuan  lansia  akan manfaat  senam lansia  ini  dapat diperoleh  dari  pengalaman  pribadi  dalam kehidupan  sehariharinya. Lansia  yang  menghadiri  kegiatan  posyandu,  akan mendapatkan penyuluhan tentang bagaimana cara  hidup sehat dengan  segala  keterbatasan  atau  masalah  kesehatan  yang melekat  pada  mereka.  Pengalaman  serta  pengetahuan  lansia menjadi  pendorong  minat  atau  motivasi  mereka  untuk  selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia (senam lansia)

2.  Jarak
Jarak  lokasi  yang  dekat  akan  membuat  lansia  mudah menjangkau lokasi senam tanpa harus mengalami kelelahan ataukecelakaan  fisik  karena  penurunan  daya  tahan  atau  kekuatanfisik  tubuh.  Kemudahan  dalam  menjangkau  lokasi  ini
berhubungan  dengan  faktor  keamanan  atau  keselamatan  bagilansia.  Jika  lansia  merasa  aman  atau  merasa  mudah  untuk menjangkau  lokasi  tanpa  harus menimbulkan  kelelahan  atau masalah yang lebih serius, maka hal ini dapat mendorong minat atau  motivasi  lansia  untuk  mengikuti  kegiatan  posyandu.Keamanan  merupakan  faktor  eksternal  dari  terbentuknya motivasi untuk mengikuti senam lansia.

3. Dukungan keluarga
Dukungan  keluarga  sangat  berperan  dalam  mendorong minat  atau  kesediaan  lansia  untuk  mengikuti  kegiatan  senamlansia. Keluarga bisa menjadi motivator kuat bagi lansia apabilaselalu  menyediakan  diri  untuk  mendampingi  atau  mengantarlansia,  mengingatkan lansia jika lupa jadwal senam lansia, danberusaha  membantu  mengatasi  segala  permasalahan  bersamalansia. Meningkatkan kemampuan fungsional  raga.

 4.  Sikap lansia
Penilaian  pribadi  atau  sikap  yang  baik  terhadap  petugas merupakan  dasar  atas  kesiapan  atau  kesediaan  lansia  untukmengikuti  kegiatan  senam  lansia.  Dengan  sikap  yang  baiktersebut,  lansia  cenderung  untuk  selalu  hadir  atau  mengikutikegiatan yang diadakan di posyandu lansia dalam hal ini senamlansia.  Hal  ini  dapat  dipahami  karena sikap seseorang adalahsuatu  cermin  kesiapan  untuk  bereaksi  terhadap  suatu  obyek.Kesiapan  merupakan  kecenderungan  potensial  untuk  bereaksidengan  cara-cara  tertentu  apabila  individu  dihadapkan  padastimulus yang menghendaki adanya suatu respons.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Prawiro harjo, Sarwono.2007. “Ilmu Kebidanan”. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
2.    Elizabet B, 1980. “Psikologogi perkembangan ” Jakarta : Aerlangga
3.    Hatono,Kartini.2006. “Psikologi Wanita”. Bandung: Mandar Maju
4.    Mar’at, samsunuwiyati. 2005. “Psikologi perkembangan” Bandung : PT Remaja Rosda Karya
5.    BKKBN,2005. http//:www.BKKBN/2005.co.id
6.    Mudijanah, desti, 2001. Kebutuhan akan informasi dan pelayanan kesehatan remaja. http://www.KTI.destimudijanah/Kebutuhan Akan Informasi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja.com
7.    Rawin,2011. Remaja. http://www.rawin/network/remaja.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar