PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 10 Maret 2012

BERAT BAYI LAHIR

Dr. Suparyanto, M.Kes


BERAT BAYI LAHIR

Pada umumnya bayi dilahirkan setelah dikandung kurang lebih 40 minggudalam rahim ibu. Pada waktu lahir bayi mempunyai berat badan sekitar 3 Kg dan panjang badan 50 cm (Solihin Pudjiadi, 2003:11). Secara umum berat bayi lahir yang normal adalah antara 3000 gr sampai 4000 gr, dan bila di bawah atau kurang dari 2500 gr dikatakan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Menurut Jumiarni dkk(1995:73), BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahirankurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram). Dahulu bayi ini diakatakan prematurkemudian disepakati disebut low birth weight infant atau Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Karena bayi tersebut tidak selamanya prematur atau kurang bulan tetapidapat cukup bulan maupun lebih bulan.Menurut Jumiarni dkk (1995:74) klasifikasi bayi menurut umur kehamilan dibagi dalam 3 kelompok yaitu bayi  kurang bulan adalah bayi dengan masakehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari), bayi cukup bulan adalah bayi denganmasa kehamilan dari 37 minggu sampai dengan 42 minggu (259 -293 hari), dan bayi lebih bulan adalah bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih. Daripengertian di atas maka bayi dengan BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
Prematur murni dan Dismaturitas.
1). Prematur murni adalah neonatus dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggudan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan,atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan. Penyebabnyaberasal dari berbagai faktor ibu, faktor janin maupun faktor lingkungan.
2). Dismaturitas atau Kecil untuk masa kehamilan adalah bayi lahir dengan beratbadan kurang dari berat badan sesungguhnya untuk masa kehamilan. Hal inikarena janin mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan danmerupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilan (KMK).
Bayi berat lahir rendah merupakan masalah penting dalam pengelolaannyakarena mempunyai kecenderungan ke arah peningkatan terjadinya infeksi, kesukaran mengatur nafas tubuh rehingga mudah untuk menderita hipotermia. Selain itu bayi dengan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) mudah terserang komplikasi tertentu seperti ikterus, hipoglikomia yang dapat menyebabkan kematian. Kelompok bayi berat lahir rendah yang dapat di istilahkan dengan kelompok resiko tinggi, karena pada bayi berat lahir rendah menunjukan angka kematian dan kesehatan yang lebih tinggi dengan berat bayi lahir cukup.WHO memperkirakan bahwa angka prevalensi BBLR di negara maju terbesarantara 3 – 7 % dan di negara berkembang berkisar antara 13 – 38 %. Untuk Indonesia belum ada angka pesat secara keseluruhan, hanya perkiraan WHO pada tahun 1990 adalah 14 % dari seluruh koheren hidup (Sjahmien Moehji, 2003:20).

2.1.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi berat bayi lahir
Berat badan lahir merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatuproses yang berlangsung selama berada dalam kandungan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir adalah sebagai berikut :
1. Faktor Lingkungan Internal
Yaitu meliputi umur ibu, jarak kelahiran, paritas, kadar hemoglobin, statusgizi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, dan penyakit pada saat kehamilan.
2. Faktor Lingkungan Eksternal
Yaitu meliputi kondisi lingkungan, asupan zat gizi dan tingkat sosial ekonomi ibuhamil.
3. Faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC) (Sri Kardjati. 1985:21).
Faktor yang secara langsung atau internal mempengaruhi berat bayi lahirantara lain sebagai berikut :
1. Usia Ibu hamil
Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 20tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkandengan kehamilan pada wanita yang cukup umur (Sitorus, 1999:13). Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain itu semakin muda usia ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan. Meski kehamilan dibawah umur sangat berisiko tetapi kehamilan diatas usia 35 tahun juga tidak dianjurkan, sangat berbahaya. Mengingat mulai usia ini sering muncul penyakit seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, atau penyakit degeneratif pada persendian tulang belakang dan panggul. Kesulitan lain kehamilan diatas usia 35 tahun ini yakni bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang ditakutkan bayi lahir dengan membawa kelainan (Sitorus, 1999:15). Dalam proses persalinan sendiri, kehamilan di usia lebih ini akan menghadapi kesulitan akibat lemahnya kontraksi rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada usia antara 20-30 tahun.
2. Jarak Kehamilan/Kelahiran
Menurut anjuran yang dikeluarkan oleh badan koordinasi keluarga berencana(BKKBN) jarak kelahiran yang ideal adalah 2 tahun atau lebih, kerena jarak kelahiranyang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya. Ini merupakan salah satu faktor penyebab kelemahan dan kematian ibu serta bayi yang dilahirkan. Menurut Sitorus, (1999:16), bahwa risiko proses reproduksi dapat ditekan apabila jarak minimal antara kelahiran 2 tahun.
3. Paritas
Paritas secara luas mencakup gravida/jumlah kehamilan, prematur/jumlahkelahiran, dan abortus/jumlah keguguran. Sedang dalam arti khusus yaitu jumlah atau banyaknya anak yang dilahirkan. Paritas dikatakan tinggi bila seorang ibu/wanita melahirkan anak ke empat atau lebih. Seorang wanita yang sudah mempunyai tiga anak dan terjadi kehamilan lagi keadaan kesehatannya akan mulai menurun, sering mengalami kurang darah (anemia), terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan letak bayi sungsang ataupun melintang.
4. Kadar Hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil sangat mempengaruhi berat bayi yangdilahirkan. Menurut Sitorus, (1999:63), seorang ibu hamil dikatakan menderitaanemia bila kadar hemoglobinnya dibawah 11 gr/dl. Data Depkes RI diketahui bahwa lebih dari 50% ibu hamil menderita anemia.Anemia pada ibu hamil akan menambah risiko mendapatkan bayi berat lahirrendah (BBLR), risiko perdarahan sebelum dan pada saat persalinan, bahkan dapatmenyebabkan kematian ibu dan bayinya, jika ibu hamil tersebut menderita anemia
berat (Depkes RI, 2002:31). Hal ini disebabkan karena kurangnya suplai darah nutrisi akan oksigen pada placenta yang akan berpengaruh pada fungsi plesenta terhadap janin.
5. Status Gizi Ibu Hamil
Status gizi ibu pada waktu pembuahan dan selama hamil dapat mempengaruhipertumbuhan janin yang sedang dikandung (Solihin Pudjiadi, 2003:8). Selain itu giziibu hamil menentukan berat bayi yang dilahirkan, maka pemantauan gizi ibu hamil sangatlah penting dilakukan. Pengukuran antropometri merupakan salah satu cara
untuk menilai status gizi ibu hamil. Ukuran antropometri ibu hamil yang palingsering digunakan adalah kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran lingkar lengan atas (LLA) selama kehamilan.Sebagai ukuran sekaligus pengawasan bagi kecukupan gizi ibu hamil bisa dilihat dari kenaikan berat badannya (Sitorus, 1999:41). Ibu yang kurus dan selamakehamilan disertai penambahan berat badan yang rendah atau turun sampai 10 kg,
mempunyai resiko paling tinggi untuk melahirkan bayi dengan BBLR. Sehingga ibuhamil harus mengalami kenaikan berat badan berkisar 11-12,5 Kg atau 20% dari berat badan sebelum hamil.Sedang Lingkar Lengan Atas (LLA) adalah antropometri yang dapatmenggambarkan keadaan status gizi ibu hamil dan untuk mengetahui resiko Kekurangan Energi Kalori (KEK) atau gizi kurang. Ibu yang memiliki ukuranLingkar Lengan Atas (LLA) di bawah 23,5 cm berisiko melahirkan bayi BBLR(Depkes RI:15). Pengukuran LLA lebih praktis untuk mengetahui status gizi ibuhamil karena alat ukurnya sederhana dan mudah dibawa kemana saja, dan dapatdipakai untuk ibu dengan kenaikan berat badan yang ekstrim.
6. Pemeriksaan Kehamilan
Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasimasalah yang timbul selama kehamilan, sehingga kdsehatan selama ibu hamil dapat terpelihara dan yang terpenting ibu dan bayi dalam kandungan akan baik dan sehat sampai saat persalinan. Pemeriksaan kehamilan dilakukan agar kita dapat segera
mengetahui apabila terjadi gangguan / kelainan pada ibu hamil dan bayi yangdikandung, sehingga dapat segera ditolong tenaga kesehatan (Depkes RI, 2000:7).
Menurut Sitorus (1999:7) pemeriksaan kehamilan harus dilakukan secaraberkala, yaitu :
1) Setiap 4 minggu sekali selama kehamilan 28 minggu
2) Setiap 2 minggu sekali selama kehamilan 28 – 36 minggu
3) Setiap minggu atau satu kali seminggu selama kehamilan 36 minggu sampai masa melahirkan.Selain dari waktu yang telah ditentukan di atas ibu harus memeriksakan diri apabila terdapat keluhan lain yang merupakan kelainan yang ditemukan.
7. Penyakit Saat Kehamilan
Penyakit pada saat kehamilan yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir diantaranya adalah Diabetes melitus (DM), cacar air, dan penyakit infeksi TORCH.Penyakit DM adalah suatu penyakit dimana badan tidak sanggup menggunakan gula sebagaimana mestinya, penyebabnya adalah pankreas tidak cukup produksi
insulin/tidak dapat gunakan insulin yang ada. Akibat dari DM ini banyak macamnya diantaranya adalah bagi ibu hamil bisa mengalami keguguran, bayi lahir mati, bayi mati setelah lahir (kematian perinatal) karena bayi yang dilahirkan terlalu besar, menderita edem dan kelainan pada alat tubuh bayi (Sitorus, 1999:88).
Penyakit infeksi TORCH adalah suatu istilah jenis penyakit infeksi yaitu Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakit ini sama bahayanya bagi ibu hamil yaitu dapat menganggu janin yang dikandungnya. Bayi yang dikandung tersebut mungkin akan terkena katarak mata, tuli, Hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, paru-paru, dan limpa). Bisa juga  mengakibatkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak, r`dang iris mata, dan beberapa jenis penyakit lainnya (Sitorus, 1999:97).
Faktor-faktor yang mempengaruhi berat bayi lahir secara tidak langsung /eksternal dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Faktor lingkungan yang meliputi kebersihan dan kesehatan lingkungan sertaketinggian tempat tinggal.
2. Faktor ekonomi dan sosial meliputi jenis pekerjaan, tingkat pendidikan danpengetahuan ibu hamil.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Bari S.*2000. Buku Acuan Nasional Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta: YBP-SP
Ali Khomson. 2003. Pangan Dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta: Ladang PustakaJakarta
Courtney Moore Marie. 1997. Buku Pedoman Diet Dan Nutrisi Edisi II. Jakarta:Hipokrates
Depkes RI. 2000. Pedoman Umum Gizi Seimbang (Panduan Untuk Petugas). Jakarta:Departemen Kesehatan
______. 2002. Gizi Seimbang Menuju Hidup Sehat Bagi Bayi Ibu Hamil Dan Ibu Menyusui (Pedoman Petugas Puskesmas). Jakarta: DKKS RI
Elizabeth Tara. 2001. Buku Pintar Kesehatan Kehamilan. Jakarta: Ladang PustakaJakarta
Eko Budiarto. 2001. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.Jakarta: EGC
I Dewa Nyoman Supariasa, dkk. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: BukuKedokteran EGC
Jumiarni, dkk. 1985. Asuhan Perawatan Perinatal. Jakarta: Penerbit BukuKedokteran EGO
Samsudin dan Arjatmo Tjokronegoro. 1986. Gizi Ibu dan Bayi: Peningkatan Mutu.Jakarta: FKUI
Singgih Santosa. 2000. Buku Pelatihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: ElexMedia Komputindo
______. 2004. SPSS Versi 10.0. Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta:Elex Media Komputindo
Singarimbun, M dan Effendi. 1989. Metodologi Survey. Jakarta: LP3ES
Sitorus, Ronald H. Dkk 1999. Pedoman Perawatan Kesehatan Ibu dan Janin Selama Kehamilan. Bandung: CV. Pionir Jaya Bandung.
Sjahmien Moehji. 2003. Ilmu Gizi II. Penanggulangan Gizi Buruk. Jakarta: Papas Sinar Sinanti Bhratara.
Soekidjo Notoatmodjo. 2002. Metodologi Penelitan Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Solihin Pudjiadi. 2003. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Sunita Almatsier. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Sugiyono. 2002a. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
_______. 2004b. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. EdisiRevisi V. Jakarta: Rineka Cipta
Sri Karjati,. 1985. Aspek Kesehatan dan Gizi Anak Balita. Jakarta: Yayasan OborIndonesia.
Widjaya, MC. 2003. Gizi Tepat untuk Perkembangan Otak dan Kesehatan Balita.Jakarta: Kawan Pustaka
Winarno, FG. 1990. Gizi dan Makanan Bagi Bayi dan Anak Sapihan. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan.
Yayah K Husnaini. dkk. 1987. Keadaan Gizi dan Kesehatan Ibu Hamil. KMS Ibu Hamil. Medika.



1 komentar: