PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Jumat, 29 Maret 2013

KONTRASEPSI MOP (METODE OPERASI PRIA) SELAYANG PANDANG

Dr. Suparyanto, M.Kes


KONTRASEPSI MOP (METODE OPERASI PRIA) SELAYANG PANDANG

PENGERTIAN KONTRASEPSI

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen (Prawirohardjo, 2005).
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan dapat bersifat sementara maupun permanen, dan upaya ini dapat dilakukan dengan menggunakan cara, alat atau obat - obatan (Atikah dkk, 2010).
Kontrasepsi adalah menghindari atau mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma (Suratun dkk, 2008).

TUJUAN KONTRASEPSI

1. Tujuan umum
Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan KB yaitu dihayatinya Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).

2. Tujuan pokok
Penurunan angka kelahiran yang bermakna, untuk mencapai tujuan tersebut maka ditempuh kebijaksanaan mengkategorikan tiga fase untuk mencapai sasaran:
a. Fase menunda perkawinan atau kesuburan
Fase menunda kehamilan pertama, sebaiknya dilakukan oleh pasangan yang istrinya belum mencapai usia 20 tahun. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin 100%. Kontrasepsi yang cocok adalah pil KB, AKDR, dan cara sederhana.

b. Fase menjarangkan kehamilan
Umur terbaik bagi ibu untuk melahirkan adalah usia antara 20 - 30 tahun. Kriteria kontrasepsi yang diperlukan yaitu efektivitas tinggi, reversibilitas tinggi karena pasangan masih mengharapkan punya anak lagi. Kontrasepsi yang cocok yaitu AKDR, KB suntik, pil KB, atau implant.

c. Fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan
Sebaiknya keluarga setelah mempunyai 2 anak dan umur istri lebih 30 tahun tidak hamil lagi. Dapat menggunakan kontrasepsi yang mempunyai efektivitas tinggi, kerena jika terjadi kegagalan hal ini dapat menyebabkan terjadinya kehamilan dengan resiko tinggi bagi ibu dan anak. Kontrasepsi yang cocok adalah metode kontap, AKDR, implant, KB suntik, dan pil KB (Suratun dkk, 2008).

MACAM- MACAM METODE KONTRASEPSI

1. Metode sederhana
1)    Tanpa alat atau obat: Metode kalender, metode suhu basal, metode lendir serviks, metode simpto - termal, coitus interuptus.
2)    Dengan alat : Kondom pria, diafragma atau kap, tablet berbusa (vaginal tablet), jelli dan cairan berbusa.

2. Metode modern
1)    Pil
2)    Suntikan
3)    Implant
4)    AKDR (alat kontasepsi dalam rahim)

3. Metode mantap dengan cara operasi (Kontrasepsi Mantap)
1)    Pada wanita : metode operasi wanita (MOW) atau tubektomi.
2)    Pada pria : metode operasi pria (MOP) / vasektomi (Hanafi, 2004).

4. Ciri - ciri kontrasepsi yang ideal :
1)    Berdaya guna
2)    Aman
3)    Murah
4)    Mudah didapatkan
5)    Efek samping minimal

5. Syarat-syarat kontrasepsi :
1)    Aman pemakaiannya dan dipercaya.
2)    Tidak ada efek samping yang merugikan.
3)    Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan.
4)    Tidak menganggu hubungan persetubuhan.
5)    Tidak memerlukan bantuan medis atau kontrol yang ketat selama pemakaiannya.
6)    Cara penggunaannya sederhana dan tidak rumit.
7)    Harga murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat.
8)    Dapat diterima oleh pasangan suami istri (Atikah dkk, 2010).


6. Faktor yang mempengaruhi keputusan pemilihan kontrasepsi :
a. Faktor sosial - budaya
Tren saat ini tentang jumlah keluarga, dampak jumlah keluarga tempat individu tumbuh dan berkembang terhadap individu tersebut, pentingnya memiliki anak laki - laki dimata masyarakat karena akan meneruskan nama keluarga, apakah masyarakat menghubungkan secara langsung antara jumlah anak yang dimiliki seorang laki - laki dan kejantanannya, nilai dalam masyarakat tentang menjadi seorang "wanita" hanya bila ia dapat "memberi" anak kepada pasangannya.

b. Faktor pekerjaan dan ekonomi
Kemungkinan perpisahan yang lama karena melakukan wajib militer, kebutuhan untuk mengalokasi sumber - sumber ekonomi untuk pendidikan atau sedang memulai suatu pekerjaan atau bidang usaha, kemampuan ekonomi untuk menyediakan calon anak - anaknya dengan makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan dimasa depan.
c. Faktor keagamaan
Pembenaran terhadap prinsip - prinsip pembatasan keluaraga dan konsep dasar tentang keluarga berencana oleh semua agama.

d. Faktor hukum
Peniadaan semua hambatan hukum untuk pelaksanaan keluaraga berencana sejak diberlakukannya undang - undang negara Connecticut tentang pembatasan penggunaan alat kontrasepsi, yang bertujuan mencegah konsepsi dinyatakan tidak sesuai konstitusi oleh Majelis Tertinggi pada tahun 1965.

e. Faktor fisik
Kondisi - kondisi yang membuat wanita tidak bisa hamil karena alasan kesehatan, usia dan waktu "jam biologis" yang akan habis, gaya hidup tidak sehat, penggunaan obat teratogenik.

f. Faktor hubungan
Stabilitas hubungan, masa krisis, dan penyesuaian yang panjang dengan hadirnya anak.

g. Faktor psikologis
Kebutuhan untuk memiliki anak untuk dicintai dan mencintai orang tuanya, pemikiran bahwa kehamilan dianggap bukti bahwa kita dicintai, keyakinan yang salah bahwa anak akan menyatukan kembali hubungan yang retak, rasa takut untuk mengasuh dan membesarkan anak, ancaman terhadap gaya hidup yang dijalani jika menjadi orang tua.

h. Status kesehatan saat ini dan riwayat genetik
Adanya keadaan atau kemungkinan munculnya kondisi atau penyakit yang dapat ditularkan terhadap bayi misalnya HIV, AIDS (Varney, 2006).

7. Faktor - faktor yang mempengaruhi penilaian individu atau    pasangan terhadap pemilihan metode kontrasepsi :
1)    Keinginan untuk mengendalikan kehamilan secara permanen atau sementara.
2)    Efektivitas metode yang digunakan, keefektifan metode kontrasepsi sangat beragam. Jumlah wanita yang tidak menginginkan kehamilannya kemudian mengalami kehamilan selama bulan pertama penggunaan metode kontrasepsi adalah 53%.
3)    Pengaruh media (penekanan pada aspek positif dan negatif atau efek samping metode kontrasepsi).
4)    Efek samping dan pertanyaan yang mungkin muncul tentang keamanan suatu metode.
5)    Kemungkinan manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari setiap metode.
6)    Kemampuan suatu metode untuk mencegah penyakit (HIV, penyakit menular seksual, kanker).
7)    Perkiraan lamanya penggunaan metode kontrasepsi.
8)    Biaya.
9)    Frekuensi hubungan seksual.
10) Jumlah pasangan seksual.
11) Faktor sosial (tren sosial saat ini terkait penggunaan berbagai metode).
12) Faktor keagamaan (apakah metode tertentu dikenakan sanksi oleh badan - badan keagamaan yang dianut individu atau pasangan) (Varney, 2006).

KONSEP DASAR METODE OPERASI PRIA (MOP)

1. Pengertian Metode Operasi Pria (MOP)
MOP merupakan suatu metode kontrasepsi operatif minor pada pria yang sangat aman, sederhana dan sangat efektif, memakan waktu operasi yang singkat dan tidak memerlukan anastesi umum (Hanafi, 2004).

MOP adalah metode sterilisasi dengan cara mengikat saluran sperma (vas deferens) pria (Atikah dkk, 2010).

MOP merupakan tindakan pada kedua saluran bibit pria yang mengakibatkan orang atau pasangan yang bersangkutan tidak akan mendapat keturunan lagi (Prawirohardjo, 2005).

MOP adalah alat kontrasepsi jenis sterilisasi melalui pembedahan dengan cara memotong saluran sperma yang menghubungkan testikel (buah zakar) dengan kantung sperma sehingga tidak ada lagi kandungan sperma di dalam ejakulasi air mani pria (Verawati, 2012).
2. Profil MOP
1)    Sangat efektif, merupakan metode kontrasepsi pria yang permanen.
2)    Tidak ada efek samping jangka panjang, sehingga tidak berpengaruh terhadap kemampuan maupun kepuasan hubungan seksual.
3)    Tindakan bedah yang aman dan sederhana, hanya memerlukan beberapa menit dan menggunakan bius lokal.
4)    Efektif setelah 20 ejakulasi atau 3 bulan, sebelum itu pasangan     harus menggunakan kondom.
5)    Konseling dan informed consent mutlak diperlukan (Saifuddin, 2006).

3. Keuntungan MOP
Efektif, karena tingkat kegagalannya kecil dan merupakan metode kontrasepsi yang permanen.
1)    Aman, morbiditas rendah dan hampir tidak ada mortalitas (kesakitan).
2)    Sederhana, sehingga pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit.
3)    Cepat, hanya memerlukan waktu 5 - 10 menit.
4)    Menyenangkan bagi akseptor karena memerlukan anastesi lokal saja.
5)    Biaya rendah, yang paling penting adalah persetujuan pasangan.
6)    Secara kultural, sangat dianjurkan di negara - negara dimana wanita merasa malu        untuk ditangani oleh dokter pria atau     kurang tersedia dokter wanita dan paramedis wanita (Hanafi, 2004).

4. Kerugian MOP
1)    Diperlukan suatu tindakan operatif, harus dilakukan pembedahan dan harus menunggu sampai sel mani menjadi negatif.
2)    Kadang - kadang menyebabkan komplikasi seperti perdarahan atau infeksi.
3)    Kontrasepsi mantap pria belum memberikan perlindungan total sampai semua spermatozoa yang sudah ada di dalam sistem reproduksi distal dari tempat oklusi vas deferens dikeluarkan.
4)    Problem psikologis yang berhubungan dengan perilaku seksual mungkin bertambah   parah setelah tindakan operatif yang menyangkut sistem reproduksi pria (Hanafi, 2004).

5. Indikasi MOP
MOP merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga (Saifuddin, 2006).

6. Kontraindikasi MOP
a. Infeksi kulit lokal, misalnya scabies.
b. Infeksi traktus genetalia.
c. Kelainan skrotum dan sekitarnya :
1)    Varicocele, yaitu pembesaran vena di dalam skrotum.
2)    Hydrocele besar (penumpukan cairan).
3)    Hernia inguinalis, yaitu prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital.
4)    Orchiopexy, yaitu fiksasi testis yang tidak turun pada skrotum.
5)    Luka parut bekas operasi hernia.
6)    Skrotum yang sangat tebal.
d. Penyakit sistemik :
1)    Penyakit - penyakit perdarahan.
2)    Diabetes mellitus.
3)    Penyakit jantung koroner yang baru.
4)    Riwayat perkawinan, psikologis atau seksual yang tidak stabil (Hanafi, 2004).

7. Syarat MOP :
1)    Harus secara sukarela artinya klien telah mengerti da memahami segala akibat prosedur  vasektomi selanjutnya memutuskan pilihannya atas keinginan sendiri dengan mengisi dan menandatangani persetujuan tindakan.
2)    Bahagia artinya klien terikat dalam perkawinan yang syah dan telah mempunyai anak minimal 2 orang dengan umur anak terkecil minimal 2 tahun.
3)    Sehat artinya melalui pemeriksaan oleh dokter klien di anggap sehat dan memenuhi persyaratan medis untuk dilakukan prosedur tindakan vasektomi (Anggraini, 2012).

8. Perawatan pra MOP
Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui indikasi, kontraindikasi dan hal - hal lain yang diperlukan untuk kepentingan calon peserta kontap, sebaiknya dilakukan oleh yang akan melakukan pembedahan:

a. Anamnesis
1)    Identitas calon peserta serta pasangannya.
2)    Umur peserta.
3)    Jumlah anak hidup dan umur anak terkecil yang ada.
4)    Metode kontrasepsi yang pernah digunakan istri serta metode kontrasepsi yang saat ini digunakannya.
5)    Riwayat penyakit yang pernah diderita.
6)    Perilaku seksual calon peserta dan pasangannya.
7)    Adakah pengalaman perdarahan yang terlalu lama apabila luka.

b. Pemeriksaan fisik
Lakukan pemeriksaan fisik dengan lengkap termasuk tanda vital, kardiovaskuler, paru - paru, ginjal, serta genetalia. Apabila ditemukan keadaan yang abnormal lakukan rujukan sesuai dengan keluhan dan kelainan yang ditemukan.

c. Pemeriksaan laboraturium
1)    Pemeriksaan urine lengkap (minimal protein dan reduksi).
2)    Pemeriksaan darah lengkap minimal hemoglobin, leukosit, blooding time dan closing time.
Hasil pemeriksaan pra operasi harus disimpulkan, untuk menetapkan ada tidaknya kontraindikasi tindakan pembedahan.

9. Persiapan pra operasi
1)    Jelaskan secara lengkap mengenai tindakan MOP termasuk mekanisme dalam mencegah kehamilan dan efek samping yang mungkin terjadi.
2)    Berikan nasehat untuk perawatan luka bekas pembedahan kemana minta pertolongan bila terjadi kelainan atau keluhan sebelum waktu kontrol.
3)    Berikan nasehat tentang cara menggunakan obat yang diberikan sesudah tindakan pembedahan.
4)    Klien dianjurkan membawa celana khusus untuk menyangga skrotum.
5)    Anjurkan calon peserta puasa sebelum operasi atau sekurang - kurangnya 2 jam sebelum operasi.
6)    Datang ke klinik dengan diantar anggota keluarga atau teman yang telah dewasa.
7)    Rambut pubis yang cukup panjang digunting pendek dan dibersihkan dengan sabun dan air serta dilanjutkan dengan cairan antiseptik.

10. Perawatan pasca operasi
a. Akseptor diminta untuk beristirahat dengan berbaring selama      15 menit sebelum dibenarkan pulang.
b. Amati perdarahan dan rasa nyeri pada luka.
c. Beri nasehat sebelum pulang :
1)    Istirahat selama 1 - 2 hari dengan tidak bekerja berat dan naik sepeda.
2)    Menjaga bekas luka operasi jangan basah dan kotor, gunakan celana dalam yang bersih.
3)    Anjurkan untuk menghabiskan obat yang diberikan sesuai dengan petunjuk dokter.
4)    Datang ke klinik 1 minggu kemudian, 1 bulan dan 3 bulan kemudian untuk pemeriksaan.
5)    Segera kembali apabila terjadi perdarahan, badan panas, nyeri yang hebat atau ada muntah dan sesak nafas.
6)    Boleh berhubungan seksual dengan istri tetapi harus menggunakan alat kontrasepsi kondom, paling tidak 15 kali senggama atau sampai hasil pemeriksaan sperma nol. Setelah itu boleh berhubungan bebas tanpa kondom.
d.   Komplikasi yang Terjadi
Komplikasi atau gangguan yang mungkin timbul pasca operasi adalah:
1)    Perdarahan, apabila perdarahan sedikit cukup diobservasi aja tetapi bila perdarahan agak banyak segera dirujuk ke RS yang memiliki fasilitas lengkap. Setiap ada pembengkakan di daerah skrotum harus dicurigai adanya perdarahan.
2)    Hematoma, biasanya terjadi bila di daerah skrotum diberi beban yang terlalu berat seperti naik sepeda, duduk terlalu lama, naik kendaraan dijalan yang rusak.
3)    Infeksi bisa terjadi pada kulit, epididimis atau orkitis.
4)    Granuloma sperma, dapat terjadi 1 -  2 minggu setelah operasi dirasakan adanya benjolan kenyal dan agak nyeri yang terjadi pada ujung proksimal vas deferen atau pada epididimis. Terjadi sekitar 0,1% dari kasus.
5)    Kegagalan masih mungkin dijumpai 0 - 2,2%, umumnya <1 span="">

11. MOP dianggap gagal bila :
1)    Pada analisa sperma setelah 3 bulan pasca operasi atau 10- 15      kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa.
2)    Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azosperma.
3)    Istri (pasangan) hamil (Saifuddin, 2006).

12. Kondisi yang memerlukan perhatian khusus bagi tindakan MOP
1)    Infeksi kulit pada daerah operasi.
2)    Infeksi sistemik yang sangat mengganggu kondisi kesehatan klien.
3)    Hidrokel atau varikokel yang besar, yaitu pembesaran vena di dalam skrotum.
4)    Hernia inguinalis, yaitu prolaps sebagian usus ke dalam anulus inguinalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital.
5)    Undesensus, yaitu gangguan perkembangan yang ditandai dengan gagalnya penurunan salah satu atau kedua testis secara komplit kedalam skrotum.
6)    Anemia berat, gangguan pembekuan darah atau sedang menggunakan anti koagulansia (Saifuddin, 2006).

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA PARTISIPASI SUAMI DALAM MOP.

1. Faktor pribadi
Faktor-faktor pribadi yang masuk ke pengambilan keputusan seseorang berkaitan dengan pemilihan metode kontrasepsi meliputi minat, usia, usia anak terkecil, frekuensi hubungan kelamin.
1)    Motivasi: Motivasi adalah kecenderungan hati ataukeinginan yang tinggi untuk melakukan sesuatu.
2)    Usia: Usia seorang pria dapat mempengaruhi kecocokan dan akseptabilitas metode-metode kontrasepsi tertentu (Pendit, 2007).
3)    Usia anak terkecil: Usia anak terkecil suatu pasangan dapat mempengaruhi pemilihan metode dalam dua cara.
4)    Frekuensi hubungan kelamin: Frekuensi seseorang dapat memengaruhi dirinya atau pasangannya untuk menggunakan metode kontrasepsi tertentu (Pendit, 2007).

2. Faktor kesehatan umum
Klien dan penyedia layanan harus secara bersama-sama menilai kesehatan umum, riwayat reproduksi ( termasuk riwayat pemakaian kontrasepsi ), riwayat infeksi PMS serta penyakit radang panggul, dan kontraindikasi klien terhadap berbagai metode.
1)    Infeksi pemakaian kontrasepsi: seseorang yang telah terinfeksi virus hubungan kelamin memiliki pertimbangan khusus dalam memilih metode. Seseorang tersebut bisa menularkan virus kepada pasangannya (Pendit, 2007)

3. Faktor ekonomi dan aksesibilitas
1)    Biaya: walaupun pengelola program dan para pembuat keputusan sering mempertimbangkan biaya kontrasepsi berdasarkan biaya penyediaan suatu metode per tahun perlindungan yang diberikan oleh metode tersebut untuk setiap pasangan, pemakai individual lebih memperhatikan keterbatasan anggaran harian mereka sendiri (Glasier dan Gebbie, 2005).

4. Faktor budaya
Sejumlah faktor budaya dapat memengaruhi klien dalam memilih metode kontrasepsi.
2)    Kesalahan persepsi mengenai suatu metode: Banyak klien membuat keputusan mengenai berdasarkan informasi yang salah yang diproleh dari teman dan keluarga atau dari kampanye pendidikan yang membingungkan.
3)    Kepercayaan religius dan budaya: Di beberapa daerah, kepercayaanreligius atau budaya dapat memengaruhi kliendalam memilih metode.
4)    Tingkat pendidikan: Tingkat pendidikan tidak saja memengaruhi kerelan menggunakan keluarga berencana, tetapi juga pemilihan suatu metode. Beberapa studi (38-40) tlah memperlihatkan bahwa metode kalender lebih banyak digunakan oleh pasangan yang lebih berpendidikan (Pendit, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

1.    Anggraini, Yetti, dkk. 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Jakarta : Rohima Pres
2.    Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
3.    Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
4.    Aunillah, Nurla Isna. 2011. Cara Menjadi Istri Yang Pintar Memuliakan Suami.Sabil. Yogyakarta.
5.    Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.
6.    Budisantoso, Saptono Iman. 2008. Faktor - faktor Yang Berhubungan Dengan Partisipasi Pria Dalam Keluarga Berencana. http://eprints.undip.ac.id/18622/1/SAPTONO_IMAN_BUDISANTOSO.pdf. diakses pada tanggal 16 Januari 2013.
7.    BKKBN.2011. Laporan Hasil Pelayanan Kontrasepsi. http://prov.static.bkkbn.go.id/bali.bkkbn.go.id/program/Resume%20Laporan%20Final%20(Hasil%20Penelitian%20KTD).pdf. di akses pada tanggal 16 Januari 2013.
8.    BKKBN.2005. PENCAPAIAN 2010 02 PER KABKOTA. http://jatim.bkkbn.go.id/cms_bkkbn/files/PENCAPAIAN-2010_02-PER_KABKOTA.pdf. diakses pada tanggal 17 Januari 2013.
9.    BKKBN.2006. Kelebihan dan Kekurangan Kontrasepsi.
10. http:// jatim.bkkbn.go.id/2009/05/kb-kontrasepsi/. Diakses pada tanggal 17 Januari 2013.
11. BKKBN.Vasektomi. http://www.bkkbn-jatim.go.id/bkkbn-jatim/html/vasek.htm.
12. diakses pada tanggal 17 Januari 2013.
13. Ekarini, Madya Bakti. 2008. Rendahnya Partisipasi Pria Dalam Keluarga Berencana. http://eprints.undip.ac.id/18291/1/1.pdf. diakses pada tanggal 17 Januari 2013.
14. Glasier, A dan Ailsa, G. 2006. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC.
15. Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
16. Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.
17. Hidayat, Aziz Alimul. 2010. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Surabaya: Health Books Surabaya.
18. Manuaba, Ida Bagus Gede. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita Edisi 2. Jakarta: EGC.
19. Mubarak, Wahit Iqbal. 2011. PromosiKesehatan Untuk Kebidan. Jakarta : Salemba Medika.
20. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
21. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
22. Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
23. Nursalam, 2007. Manajemen Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
24. Pendit, B. 2007. Ragam Metode Kontrasepsi. Jakarta: ECG.
25. Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP – SP.
26. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP – SP.
27. Proverawati, Atikah, dkk. 2010. Panduan Memilih Kontrasepsi. Yogyakarta : Nuha Medika.
28. Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: YBP - SP.
29. Suratun, dkk. 2008. Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Trans Info Medika.
30. Suyanto. 2011. Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Yogyakarta : Nuha Medika.
31. Varney, Helen, dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4. Jakarta : EGC.
32. Verawaty, Sri Noor & Rahayu, Lisdyawati. 2012. Merawat dan Menjaga Kesehatan Seksual Wanita. Bandung : Grafindo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar