PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 31 Maret 2013

SEKILAS TENTANG MINAT

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG MINAT

1. Pengertian Minat
Minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian dan pencapaian (Djemari Mardapi, 2008)

2. Minat terbagi menjadi 3 aspek, yaitu: (Hurlock, 1995 : 117)
1). Aspek kognitif
Berdasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang pernah dipelajari baik di rumah, sekolah dan masyarakat serta dari berbagai jenis media massa. Menurut Notoatmojo 2003 sumber informasi adalah keseluruhan makna, dapat diartikan sebagai pemberitahuan seseorang adanya informasi baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif dibawa oleh sumber informasi tersebut apabila arah sikap tertentu. Pendekatan ini biasanya digunakan untuk menggunakan kesadaran masyarakat terhadap suatu inovasi yang berpengaruh perubahan perilaku, biasanya digunakan melalui media massa.

2). Aspek afektif
Konsep yang membangun aspek kognitif, minat dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan yang ditimbulkan minat. Berkembang dari pengalaman pribadi dari sikap orang yang penting yaitu: orang tua, guru dan teman sebaya terhadap kegiatan yang  berkaitan dengan minat tersebut dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.

3). Aspek Psikomotorik
Berjalan dengan lancar tanpa perlu pemikiran lagi, urutannya tepat. Namun kemajuan tetap memungkinkan sehingga keluwesan dan keunggulan meningkat meskipun ini semua berjalan lambat.

3. Faktor- faktor yang mempengaruhi timbulnya minat menurut crow and crow (1973) yaitu:
1.    Dorongan dari dalam diri individu, misal dorongan untuk makan, ingin tahu seks, dorongan untuk bekerja atau mencari penghasilan, minat terhadap produksi makanan dan lain-lain.
2.    Motif sosial, dapat menjadi faktor yang membangkitkan minat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu misal minat terhadap pakaian timbul karena ingin mendapat persetujuan atau penerimaan dan perhatian orang lain.
3.    Faktor emosional, minat mempunyai hubungan yang erat dengan emosi. Bila seseorang mendapatkan kesuksesan pada aktivitas akan menimbulkan perasaan senang, dan hal tersebut akan memperkuat minat terhadap aktivitas tersebut, sebaliknya suatu kegagalan akan menghilangkan minat terhadap hal tersebut.

4. Macam- macam Minat
Minat dapat digolongkan menjadi beberapa macam, ini sangat tergantung pada sudut pandang dan cara penggolongan misalnya berdasarkan timbulnya minat, berdasarkan arahnya minat, dan berdasarkan cara mendapatkan atau mengungkapkan minat itu sendiri.

1. Berdasarkan timbulnya, minat dan dapat dibedakan menjadi minat primitif dan minat kiltural. Minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak atau nyaman, kebebasan beraktivitas dan seks. Minat kultural atau minat sosial adalah minat yang timbulnya karena proses belajar, minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan diri kita. Sebagai contoh: keinginan untuk memiliki mobil, kekayaan, pakaian mewah dan lain-lain (Witherington,1982). Beberapa kondisi yang mempengaruhi minat yaitu:

a. Status ekonomi
Apabila status ekonomi, orang cenderung memperluas minat mereka mencakup hal yang semula belum mampu  mereka laksanakan. Sebaliknya kalau status ekonomi mengalami kemunduran karena tanggung jawab keluarga  atau usaha yang kurang maju, maka cenderung untuk mempersempit minat mereka.

b. Pendidikan
Semakin tinggi dan semakin besar pula kegiatan  yang bersifat intelek yang dilakukan. Seperti yang di kutip  notoatmojo, 1997 dari L.W. Green mengatakan bahwa “Jika ada seseorang yang mempunyai pengetahuan yang baik, maka ia mencari pelayanan yang lebih kompeten atau lebih aman baginya”. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pelayanan kesehatan akan mempengaruhi pemanfaatan fasilitas pelayanan yang ada sehingga berpengaruh  pada kondisi kesehatan  mereka.

c.Tempat tinggal
Di mana orang tinggal banyak dipengaruhi oleh keinginan yang biasa mereka penuhi pada kehidupan sebelumnya masih dapat dilakukan atau tidak.

2. Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi minat instrinsik dan ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ini merupakan minat yang lebih mendasar atau minat asli sebagai contoh: seseorang belajar karena memang pada ilmu pengetahuan atau senang membaca, bukan karena ingin mendapatkan pujian atau penghargaan. Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut, apabila tujuannya sudah tercapai ada kemungkinan minat tersebut hilang, sebagai contoh: seseorang yang belajar dengan tujuan agar menjadi juara kelas dan lulus ujian saringan SIPENMARU, setelah menjadi juara kelas atau lulus ujian saringan SIPENMARU minat belajarnya menjadi turun (Joner, 1965)

3. Berdasarkan cara mengungkapkan minat dapat dibedakan menjadi empat yaitu: Expressed interest, manifest interest, tested interest, inventoried interest (Super & Crites, 1965).
a. Expressed interest adalah minat yang diungkapakan dengan cara meminta kepada subyek untuk menyatakan atau menuliskan kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas yang di senangi dan paling tidak disenangi. Dari jawabannya dapatlah diketahui minatnya.

b. Manifest interest adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan mengetahui hobinya.

c. Tested interest adalah minat yang diungkapkan cara menyimpulkan dari hasil jawaban tes objektif yang diberikan, nilai-nilai yang tinggi pada suatu objek atau masalah biasanya menunjukkan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut.

d. Inventoried interest adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat-alat yang sudah distandardisasikan dimana biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada subjek apakah ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah aktivitas atau sesuatu objek yang ditanyakan.

5. Metode Pengukuran Minat
Ada beberapa metode yang digunakan untuk mengadakan pengukuran minat, menurut Nurkancana dan Sumartana (Dalam Tomi Darmawan, 2007) metode pengukuran minat yaitu:

a. Observasi
Pengukuran minat dengan metode observasi mempunyai 1 keuntungan karena dapat mengamati dalam kondisi yang wajar, jadi tidak dibuat-buat. Observasi dapat dilakukan dalam setiap situasi dan pencatatan hasil-hasil observasi dapat dilakukan selama observasi berlangsung.

b. Interview
Pelaksanaan interview biasanya lebih baik dilakukan dalam situasi yang tidak formal, sehingga mencakapkan akan dapat  berlangsung lebih bebas.

c. Angket atau kuesioner
Angket atau kuesioner jauh lebih efisien dan penggunaan waktu, isi pertanyaan dalam kuesioner pada prinsipnya tidak jauh berbeda pertanyaan interview. Minat diukur dengan menggunakan kuesioner atau dengan menggunakan wawancara. Dalam TRA (Theory of Reasoned Action), minat merupakan bagian dari intense sehingga belum Nampak kegiatannya dan tidak dapat dilakukan observasi secara langsung (Fishben, 1975). Hasil pengukuran minat menurut Azjen (1996), dapat dikategorikan menjadi minat tinggi (67-100%), minat sedang (34-66%) dan minat rendah (0-33%) (referensi kesehatan, 2010).

d. Inventori
Adalah suatu metode untuk mengadakan pengukuran sejenis kuesioner, perbedaannya dalam kuesioner responden menulis jawaban yang relatif panjang, sedangkan inventori responden memberi jawaban dengan membertanda cek, lingkaran atau tanda yang lain yang berupa jawaban-jawaban singkat (Arihdya, 2010).

Pengukuran minat dengan menggunakan skala likert. Skala likert ini pada umumnya dibuat seperti checklist terdiri dari pernyataan positif dan pernyataan negatif dengan 4 pilihan jawaban. Interpretasi penilaiannya adalah sebagai berikut:

Pernyataan positif:
Sangat setuju           (SS)    nilainya adalah 4
Setuju                        (S)       nilainya adalah 3
Tidak Setuju             (TS)     nilainya adalah 2
Sangat tidak setuju             (STS) nilainya adalah 1

Pernyataan negatif:
Sangat setuju (SS)              nilainya adalah 1
Setuju            (S)       nilainya adalah 2
Tidak setuju  (TS)     nilainya adalah 3
Sangat tidak setuju (STS)  nilainya adalah 4 (A. Aziz Alimul Hidayat, 2012)

Kemudian hasilnya di analisis dan di presentasekan dengan criteria:
a.         Minat tinggi               : 67-100%
b.         Minat sedang            : 34-66%
c.         Minat lemah/rendah            : 0-33% (Hidayat, 2009)

6. Kriteria Minat
Menurut Nursalam (2003), minat seseorang dapat digolongkan menjadi:
1.    Rendah, Jika seseorang tidak menginginkan obyek minat
2.    Sedang, Jika seseorang menginginkan obyek minat akan tetapi tidak dalam waktu segera
3.    Tinggi, Jika seseorang sangat menginginkan obyek minat dalam waktu segera.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Hidayat, Aziz Alimul. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta: Salemba Medika.
2.    Hidayat, Aziz Alimul. 2012. Metode Penelitian Kebidanan & Teknik analisis data. Jakarta : Salemba Medika
3.    Arikunto. Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta
4.    Notoatmodjo. Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta
5.    Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
6.    Arum, Dyah Noviawati Setya, DKK. 2011. Panduan Lengkap Pelayanan KB terkini. Yogyakarta : Mutia Medika
7.    Shaleh, Abdul Rahman, DKK. 2004. Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam. Jakarta : Prenada Media
8.    Nursalam. 2011. Kosep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu  Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
9.    Mubarak, Wahid Iqbal, DKK. 2009. Ilmu Kesehatan Masyarakat : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Medika
10. Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. 2011. Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Jombang : Permenkes
11. Pendit. Brahm U. 2007. Ragam Metode Kontrasepsi. Jakarta : EGC
12. Mardapi. Djemari. 2008. Teknik Penyusunan Instrumen Tes dan Nontes. Yogyakarta : Mitra Cendekia
13. Varney. Helen. DKK. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC
14. Surjaningrat. Suwardjono. 2006. Keluarga Berencana & Kesehatan Reproduksi. 2006. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar