PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Rabu, 27 Maret 2013

KONTRASEPSI KONDOM SELAYANG PANDANG

Dr. Suparyanto, M.Kes


KONTRASEPSI KONDOM SELAYANG PANDANG

PENGERTIAN KONTRASEPSI

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya ini dapat bersifat sementara maupun bersifat permanen, dan upaya ini dapat dilakukan dengan menggunakan cara, alat atau obat-obatan. (Proverawati, 2010).

Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan dapat bersifat sementara, dan dapat pula bersifat permanen (Prawirohardjo, 2005). Secara umum, menurut cara pelaksanaannya kontrasepsi dibagi menjadi dua yaitu:
1.    Cara temporer, yaitu menjarangkan kelahiran selama beberapa tahun sebelum menjadi hamil lagi.
2. Cara permanen, yaitu mengakhiri kesuburan dengan cara mencegah kehamilan secara permanen. (Proverawati, 2010)

Kontrasepsi ideal setidaknya memiliki ciri-ciri: berdaya guna, aman, murah, estetik, mudah didapatkan, tidak memerlukan motivasi yang terus-menerus, efek samping minimal.
Adapun syarat-syarat alat kontrasepsi sebagai berikut:
1.    Aman pemakaiannya dan dipercaya
2.    Tidak ada efek samping yang merugikan
3.    Lama kerjanya dan dapat diatur menurut keinginan
4.    Tidak mengganggu hubungan persetubuhan
5.    Tidak memerlukan bantuan medis atau control yang ketat selama pemakaiannya
6.    Cara penggunaannya sederhana atau tidak rumit
7.    Harga murah dan dapat dijangkau oleh masyarakat
8.    Dapat diterima oleh pasangan suami istri. (Proverawati, 2010).

METODE KB YANG DAPAT DIGUNAKAN
Pada umumnya  cara / metode Kontrasepsi dapat dibagi menjadi 3 kategori:

1. Metode sederhana
a. Kondom
Suatu kantong karet tipis, berwarna atau tidak berwarna, dipakai untuk menutupi penis yang ereksi sebelum dimasukkan ke dalam vagina sehingga mani tertampung didalamnya dan tidak masuk vagina, dengan demikian mencegah terjadinya pembuahan. (Yetti, Martini, 2012).

b. Spermiside
Bahan aktif untuk membunuh sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan kedalam vagina 5 menit sebelum senggama. (Yetti, Martini, 2012).

c. Koitus Interuptus (senggama terputus)
Dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi selama hubungan seksual, dengan air mani yang ejakulasi di luar dan jauh dari vagina. (Yetti, Martini,  2012).

d. Pantangan berkala
Dimana ada saat puncak kesuburan yang tidak boleh melakukan hubungan seksual, lebih tepatnya hari ke 14 setelah menstruasi adalah puncak kesuburan seorang wanita. (Yetti,  Martini,  2012).

2. Metode efektif
a. Hormonal
1. Kontrasepsi Hormonal Oral
Kontrasepsi berupa pil atau obat yang berbentuk tablet berisi hormon esterogen atau progesteron. Adapun jenisnya, yaitu Pil Oral Kombinasi adalah pil kontrasepsi yang mencegah terjadinya ovulasi dan mempunyai efek lain terhadap traktus genetalis, seperti menimbulkan perubahan – perubahan pada lender serviks, pada motilas tuba fallopi dan uterus.

Mini Pil adalah kontrasepsi yang mengandung progesterone saja, tanpa esterogen. Dosis progestinnya kecil yaitu 0,5 mg atau kurang. Mini pil bukan menghambat ovulasi karena selama memakan pil mini ini kadang – kadang masih dapat terjadi. Efek utamanya adalah terhadap lender serviks dan endometrium sehingga nidasi blasto kista tidak dapat terjadi.

Morning After Pill (Post Coital Pill) adalah pil atau obat yang harus dimulai dalam waktu beberapa jam atau diberikan esok paginya. Karena digunakan segera setelah senggama, kontrasepsi ini bertujuan untuk mencegah nidasi. Berfungsi untuk mencegah terjadinya kehamilan karena suatu hubungan seks tanpa pengaman dimasa subur wanita. (Yetti, Martini, 2012).

2. Suntikan KB
Merupakan kontrasepsi berupa cairan yang disuntikkan kepada klien dengan interval tertentu menurut obat suntiknya. Jadwal waktu suntikan berikutnya diperhitungkan dengan pedoman: Depoprovera, interval 12 minggu; Norigest, setiap 10 minggu; Cyclofem, interval 4 minggu. (Yetti, Martini, 2012).

3. AKBK (Alat Kontrasepsi Bawah Kulit) / Susuk KB
Suatu alat kontrasepsi yang mengandung levonogastrel yang dibungkus dalam silatic-silicone (polydimethylsiloxane) dan disusukkan dibawah kulit lengan bagian dalam. Norplant berjarak 5 tahun yang terdiri atas 6 kapsul dan Implanon dapat dipergunakan sedikitnya selama 3 tahun. (Yetti, Martini, 2012).

b. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380A atau ML Cu 250) yang dipasang di dalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih (Yetti, Martini, 2012)

c. Metode KB Darurat
Kontrasepsi yang dapat diberikan pada hubungan seks yang tidak terlindungi dalam waktu 72 jam sampai 7 hari, sehingga dapat menghindari kehamilan. (Yetti, Martini, 2012).

3. Metode mantap dengan cara operasi (Kontrasepsi Mantap)
a. Pada Pria Vasektomi
Vasektomi adalah tindakan memotong dan menutup saluran mani (vas deferens) yang menyalurkan sel mani keluar dari pusat produksinya di testis.

b. Pada Wanita Tubektomi
Tubektomi adalah tindakan medis berupa penutupan tuba Fallopi / tuba Uterin dengan maksud tertentu untuk tidak mendapatkan keturunan dalam jangka panjang sampai seumur hidup.

Salah satu peranan penting bidan adalah untuk meningkatkan jumlah penerimaan dan kualitas metode KB kepada mastarakat. Sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan bidan, metode KB yang dapat dilaksanakan adalah:

a. Metode sederhana
1. Kondom
Suatu kantong karet tipis, berwarna atau tidak berwarna, dipakai untuk menutupi penis yang ereksi sebelum dimasukkan ke dalam vagina sehingga mani tertampung didalamnya dan tidak masuk vagina, dengan demikian mencegah terjadinya pembuahan. (Yetti, Martini, 2012).

2. Pantang berkala
Dimana ada saat puncak kesuburan yang tidak boleh melakukan hubungan seksual, lebih tepatnya hari ke 14 setelah menstruasi adalah puncak kesuburan seorang wanita. (Yetti, Martini, 2012).

3. Pemakaian spermiside
Bahan aktif untuk membunuh sperma, berbentuk cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan kedalam vagina 5 menit sebelum senggama. (Yetti, Martini, 2012).

4. Senggama terputus
Dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi selama hubungan seksual, dengan air mani yang ejakulasi diluar dan jauh dari vagina. (Yetti, Martini, 2012).

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPERAN DALAM PEMILIHAN KONTRASEPSI
Beberapa faktor yang mempengaruhi akseptor dalam memilih metode kontrasepsi antara lain sebagai berikut:
1. Faktor pasangan dan motivasi, meliputi:
1.    Umur
2.    Gaya hidup
3.    Frekuensi senggama
4.    Jumlah keluarga yang di inginkan
5.    Pengalaman dengan metode kontrasepsi yang lalu

2. Faktor kesehatan meliputi:
1.    Status kesehatan
2.    Riwayat haid
3.    Riwayat keluarga
4.    Pemeriksaan fisik dan panggul

3. Faktor metode kontrasepsi
1.    Efektifitas
2.    Efek samping
3.    Biaya 

KONSEP KONDOM

1. Sejarah kondom
Kondom adalah bentuk kontrasepsi yang pertama kali di temukan. Kondom dibuat dari banyak bahan yang tidak lazim, dan pada awalnya lebih di anggap sebagai perlindungan terhadap penyakit menularseksual dari pada sebagai pencegah kehamilan. Pria mesir yang di laporkan pertama kali  memakai kondom untuk melindungi dirinya sendiri terhadap infeksi pada tahun 1350-1220 SM.

Selanjutnya pada tahun 1564 M, seorang ahli anatomi berkebangsaan Italia bernama Gabrielle Fallopius sebagai penemu kondom yang terbuat dari linen sebagai perlindungan terhadap sifilis.Selama masa Casanova pada tahun 1700-an, kondom di pakai tidak hanya untuk melindungi diri terhadap infeksi tetapi juga kehamilan.Di masa lalu, kondom di buat dari kandung kemih hewan, sutra berminyak, kertas dan kulit.(Suzanne, 2007).

2. Penjelasan metode
Kondom dibuat dari selubung lateks yang dipasang dan membungkus keseluruhan panjang penis dan ereksi. Kondom merupakan barang disposal, hanya boleh sekali pakai, dan tersedia dalam berbagai warna dan penampilan. Kondom bekerja sebagai sawar yang mencegah pertemuan sperma dan ovum dan terjadinya kehamilan. (Suzanne, 2007).

Kondom berasal dari bahasa Latin condus yang berarti baki atau nampanpenampung. Kondom merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari lateks. Untuk mencegah kehamilan, kondom di pasang pada penis atau pada vagina saat melakukan hubungan  seksual. Sperma yang di keluarkan saat ejakulasi tidak masuk ke rahim tapi tertampung didalam kondom, dengan begitu sel sperma tidak akan pernah bertemu dengan sel telur sehingga tidak terjadi fertilisasi. Namun keberhasilan metode kontrasepsi ini dalam mencegah kehamilan tidak 100%, ada kemungkinan kondom bocor atau pemakaiannya yang kurang tepat. (yetti, 2012).

3. Pengertian kondom
Kondom adalah suatu kantong karet yang tipis, berwarna atau tak berwarna, dipakai untuk menutupi penis yang ereksi sebelum di masukkan ke dalam vagina sehingga mani tertampung di dalamnya dan tidak masuk ke vagina, dengan demikian mencegah terjadinya pembuahan. Kondom lateks dan polyretan merupakan kondom yang efektif untuk mencegah penularan HIV dan mengurangi resiko penyakit menular yang efektif untuk mencegah penularan HIV dan resiko penularan penyakit menular seksual. Selaput kondom yang terbuat dari bahan alami,sebagai alat mencegah kehamilan. (Yetti dkk, 2012).

Kondom adalah salah satu alat kontrasepsi pria berbentuk sarung tipis yang di ujungnya tertutup rapat untuk menampung sperma. Kondom ini terbuat dari bahan karet atau lateks atau bahan lainnya seperti plastik. Namun kondom yang ada di Indonesia saat ini adalah yang terbuat dari karet atau lateks yang mampu mencegah pertemuan sperma dengan sel telur saat melakukan hubungan suami istri. Selain itu secara klinis bahan ini efektif mampu mencegah penularan penyakit akibat hubungan seksual.

4. Efektifitas
Efektivitas kondom bervariasi pada pemakaian yang cermat dan konsisten efektifitasnya dapat mencapai 98% atau serendah-rendahnya 85%. Efektifitas yang rendah cenderung terjadi pada pria dan wanita yang berusia muda dan lebih subur dan kurang pengalaman dalam menggunakan metode ini. (Suzanne, 2007).
Pemakai kondom bukanla: ”Safe Sex” tetapi “safer sex” karena dari penelitian sebagai berikut:
1.    Kondom tidak mengurangi resiko penurunan human papilloma virus(HPV) atau Trichomonas vaginalis
2.    Penularan Syphilis berkurang menjadi 29% , dan angka pengurangannya bias mencapai 50- 71%
3.    Penularan Gonorhea dan Chlamydia berkurang hamper 50%
4.    Penularan Herpes Genitalis berkurang sekitar 40%
5.    Transmisi HIV berkurang hampir 85%

Pro pemakaian kondom:
1.    Merupakan salah satu metode KB yang mampu mengurangi resiko transmisi Penyakit menular seksual.
2.    Harga murah dan dapat di jangkau
3.    Tidak ada efek samping, kecuali yang alergi terhadap latex.
4.    Tidak perlu resep dokter
5.    Kecil, gampang di bawa dan disposable

Kontra terhadap kondom:
1.    Beberapa mengeluh kurang sensisitif
2.    Memutuskan foreplay, saat akan memakainya
3.    Membutuhkan konsistensi dan kerajinan dalam memakainya
4.    Angka kegagalan yang cukup tinggi (sekitar 14%). (Yetti dkk, 2012).

5. Macam-macam kondom
a. Kulit
1.    Terbuat dari membrane usus biri-biri (caecum)
2.    Tidak meregang atau mengkerut
3.    Menjalarkan panas tubuh, sehingga di anggap tidak mengurangi sensitivitas selama senggama
4.    Lebih mahal
5.    Jumlahnya <1 dari="" jenis="" kondom="" semua="" span="">

b. Lateks
1.    Paling banyak di pakai
2.    Murah
3.    Elastis

c. Plastik
1.    Sangat tipis (0,025-0,035 mm)
2.    Juga menghantarkan panas tubuh
3.    Lebih mahal dari kondom latex

d. Vibrator wolftooth condom
Kondom silicon getar yang bisa digunakan untuk memberikan sensasi seksual pada saat berhubungan intim maupun sebagai alat kontrasepsi, kondom sangat elastis atau bias ditarik sesuai ukuran penis. Vibrator wolftooth condom berukuran 5 inci (panjang 13 cm dan ketebalan kondom 1 cm).

e. Silicone condom
Kondom silicon yang biasa digunakan untuk keperluan seksual, bisa di gunakan ada penis atau vibrator. Silicon condom berfungsi untuk menahan ejakulasi pada pria, sebagai alat kontrasepsi dan bisa di gunakan untuk sensasi pada saat berhubungan intim, berukuran panjang 12 cm dengan ketebalan 0,3 cm.

f. Vibrating condom
Kondom silicon getar yang bisa digunakan untuk menstimulasi vagina atau klitoris wanita, juga berfungsi sebagai alat kontrasepsi. Vibrating condom memiliki panjang 12 cm dengan ketebalan 0,3 cm.

g. Condom duri mutiara kondom berduri dan bermutiara yang bisa di pasang pada penis pria ataupun pada vibrator, kondom duri mutiara berfungsi untuk menggelitik dinding vagina ketika penis sudah berada didalamnya, kondom duri mutiara juga berfungsi untuk menahan ejakulasi pada pria sebagai alat kontrasepsi dan juga bisa digunakan untuk sensasi saat berhubungan intim, berukuran panjang 14 cm dengan tebal 0,4cm.

h. Crystal condom
Kondom silicon duri yang bisa di gunakan untuk memberikan sensasi gelitikan pada dinding vagina. Crystal condom elastic, memiliki panjang 13cm dengan ketebalan 0,5cm

i. Kondom lele
Kondom latex bergerigi yang bisa digunakan untuk pria sebagai alat kontrasepsi, bisa juga untuk memberikan sensasi pada saat berhubungan intim, kondom juga bisa digunakan pada alat vibrator. (Yetti, Marini, 2012).

JENIS-JENIS KONDOM MENURUT SIFATNYA

Fungsi kondom sebenarnya bukan sekedar sebagai alat KB atau pengaman saja, tetapi kondom juga dapat digunakan sebagai sebagai bagian dari foreplay agar suasana bercinta menjadi berbeda, yaitu:

1. Kondom dengan aroma dan rasa
Sensasi : Bisa memilih aroma favorit, seperti coklat, strawberi, durian, pisang dan mint.

2. Kondom berulir (ribbed condom)
Sensasi : jenis satu ini memiliki keunikan dibentuknya yang berulir untuk menambah kenikmatan pasangan.

3. Kondom ekstra tipis (ektra thin)
Sensasi:tipe satu ini berbahan karet dengan ukuran yang sangat tipis.

4. Kondom bintik (dotted condom)
Sensasi: tipe ini dengan bintik-bintik disekitarnya yang bisa menimbulkan efek mengejutkan bagi wanita

5. Kondom ekstra pengaman (extra safe)
Sensasi: jenis ini memiliki tambahan lubrikan, serta mengandung perlindungan ekstra untuk mencegah kehamilan.

6. Kondom wanita
Sensasi : kondom yang juga berbahan lateks atau poliuretan, sehingga elastic dan fleksibel, kondom ini lebih menimbulkan sensasi atau rangsangan, terutama bagi pria yang kurang suka memakai kondom.

7. Kondom twist
Sensasi : tipe ini didesain secara khusus untuk menstimulasi area sensitif pasangan.

8. Kondom getar
Sensasi: kondom ini dilengkapi dengan cincin getar di bagian ujungnya. Kondom yang menggunakan baterai khusus untuk menggerakkan cincin getarnya ini bisa bertahan hingga 30 menit.

10. Kondom baggy
Sensasi : tipe ini bentuknya agak membesar dibagian ujung serta memiliki ulir dibagian badannya, untuk memaksimalkan gerakan saat bercinta.

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN KONDOM

a. Keuntungan kondom
  1. Mencegah kehamilan
  2. Memberi perlindungan terhadap penyakit-penyakit akibat hubungan  seksual (PHS).
  3. Dapat diandalkan
  4. Relatif murah
  5. Sederhana, ringan, disposable
  6. Tidak memerlukan pemeriksaan medis, supervise atau follow-up
  7. Reversibel
  8. Pria ikut serta aktif dalam program KB

b. Kerugian kondom
  1. Angka kegagalan relatif tinggi
  2. Perlu menentukan sementara aktivitas dan spontanitas hubungan seks guna memasang kondom
  3. Perlu dipakai, hati-hati dan terus menerus pada setiap senggama
  4. Dianggap merepotkan
  5. Dianggap mengganggu koitus
  6. Membutuhkan perencanaan ke depan
  7. Kehilangan sensitivitas
  8. Kondom lateks tidak dapat digunakan bersamaan dengan penggunaan lubrikan berbahan dasar minyak

INDIKASI KONDOM
1. Pria
  1. Penyakit genetalia
  2. Sensitivitas penis terhadap secret vagina
  3. Ejakulasi prematur

2. Wanita
  1. Vaginitis, termasuk yang dalam pengobatam
  2. Kontraindikasi terhadap kontrasepsi oral dan IUD
  3. Untuk membuktikan bahwa tidak ada semen yang dilepaskan di dalam vagina                   
  4. Metode temporer: 1, Belum mengadakan senggama secara teratur; 2, Selama haid; 3, Selama siklus pertama dari kontrasepsi oral dosis rendah; 4, Gagal menggunakan kontrasepsi oral secara benar/tepat; 5, Selama periode awal postpartum; 6, Keengganan psikologis atau religious untuk menggunakan suatu kontrasepsi

3. Pasangan pria dan wanita
  1. Pengendalian dari pihak pria lebih diutamakan
  2. Senggama yang jarang
  3. Penyakit kelamin (aktif atau tersangka)
  4. Herpes genitalis atau kondiloma akuminata
  5. Metode sementara sebelum menggunakan kontrasesi oral atau IUD

KONTRA INDIKASI KONDOM
  1. Alergi terhadap lateks
  2. Masalah ereksi seperti gagal mempertahankan ereksi.

SYARAT-SYARAT STANDAR KONDOM

1. Test elektronik
  1. Untuk menemukan lubang kecil atau lubang jarum pada kondom
  2. Dasar test ini: karet tidak menghantarkan arus listrik

2. Test pengisian air
  1. Untuk menemukan ada tidaknya lubang pada kondom
  2. Kondom diisi dengan 300 cc air, diikat, dan di letakkan pada kertas absorbent atau kain

3. Kekuatan kondom
  1. Ini merupakan faktor terpenting dari kondom
  2. Untuk menentukan kekuatan kondom di lakukan

4. Test pengisian udara
  1. Kondom diisi dengan 20-50 liter udara
  2. Test ini menguji kekuatan seluruh kondom

5. Umur kondom
Dilakukan pemasangan dari kondom pada 70±2˚C selama 166±2 jam, lalu didiamkan pada suhu 23±5˚C selama 12-96 jam, lalu kondom dibuka dan diperiksa ada tidaknya kerusakan.

6. Kemasan kondom
  1. Kemasan kondom harus kedup udara karena udara dapat merusak karet
  2. Demikian pula dengan panas dan cahaya, yang bila disertai adanya udara dapat mempercepat kerusakan karet

7. Ukuran kondom
a. Ada 2 kelas ukuran kondom
Kelas I: panjang 160 mm, lebar 52±2mm
Kelas II: panjang 150 mm, lebar 48±2mm

b. Umumnya ukuran standart kondom adalah
Panjang: minimal 160 mm
Lebar: 45-55 mm, tebal: 0,007- 0,16 mm. (Yetti dkk, 2012).

FAKTOR SUAMI TIDAK MENGGUNAKAN KONDOM

Kontrasepsi kondom sering kali di asosiasikan sebagai ketidak bersihan seseorang, seks gelap, ketidak setiaan dan berbagai perilaku immoral, di gunakan untuk “ pria yang suka jajan wanita di jalan ”  bukan dirumah sehingga timbul citra negative dari kondom. (Yetti, Martini, 2012).

Kontrasepsi kondom dianggap tabu sehingga ada perasaan malu saat membeli karena kondom hanya di peruntukkan untuk pencegahan infeksi menular seksual. (Sarwono, 2006).

Selain itu suami atau masyarakat memandang sisi negatif dari kondom yaitu:
1. Kenikmatan berkurang sewaktu hubungan intim, terutama transmisi kehangatan tubuh,sehingga tidak ada sensasi dalam hubungan seksual,dan tidak ada keharmonisan.

2. Efek samping dari pemakaian kondom, yang lebih sering terjadi yaitu alergi dari karet/lateks dari kondom itu sendiri.(Suzanne, 2007).

3. Kecemasan
Kebanyakan masyarakat tidak menggunakan alat kontrasepsi kondom karena takut terjadi kebocoran, terlepas selama koitus dan robek  karena tidak membuang udara di dalam kondom, atau karena kontak dengan minyak bayi yang menyebabkan kondom bocor, serta kondom robek saat di pasang hal ini dapat terjadi karena goresan kuku atau cincin. (Suzanne, 2007).

4. Informasi penggunaan dari media massa
Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa menggunakan kondom hanya di gunakan untuk jajan(melakukan hubungan seksual illegal) dan juga di gunakan untuk mencegah penyakit menular seksual saja,dan di gunakan untuk pekerja seks komersial saja.
Selain itu ada sejumlah faktor dapat mempengaruhi keputusan dalam pemakaian alat kontrasepsi kondom pada suami antara lain:

5. Faktor sosial budaya
Kebudayaan, masyarakat yang masih memegang teguh budaya setempat tidak akan mau menerima begitu saja segala sesuatu yang tidak sesuai dengan budaya yang selama ini diyakini, jadi kadang seseorang akan berpikir dua kali saat akan mengambil suatu tindakan. Lingkungan, lingkungan yang kondusif dimana masyarakatnya sangat terbuka dan mudah menerima hal-hal baru akan dapat membuat seseorang mengambil sikap positif yang tepat sesuai yang diinginkan, akan tetapi timbul ketidaksamaan gender yang menganggap di lingkungannya yang hanya boleh menggunakan alat kontrasepsi hanya istri saja.

Dukungan dan peran serta keluarga dalam keikut sertaan akseptor kontrasepsi kondom dapat meningkatkan kesiapan akseptor. Peran serta istri dapat ditunjukkan dengan berbagai cara antara lain: dengan memberikan ketenangan kepada suami, dan bekerja sama dalam pemasangan. (Varney, 2007).

6. Faktor penghasilan suami
Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan. Walaupun jika dihitung dari segi keekonomisannya, kontrasepsi kondom lebih murah dari KB suntik atau pil atau kontrasepsi lain, tetapi kadang orang melihatnya dari berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali pasang. Kalau patokannya adalah biaya setiap kali pasang, mungkin kondom tampak jauh lebih mahal. Tetapi kalau dilihat masa/jangka waktu penggunaannya, tentu biaya yang harus dikeluarkan untuk pemasangan kondom akan lebih murah dibandingkan KB suntik ataupun pil .

Maka dari itu Jika pengpenghasilan suami tinggi maka suami akan menggunakan alat kontrasepsi kondom yang dalam pemakaiannya hanya di gunakan sekali pakai,  dan apabila penghasilan suami rendah, maka suami akan lebih memilih kontrasepsi yang lebih murah dan di gratiskan oleh pemerintah contohnya pil. (varney, 2007).

Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan. Adapun tingkat menurut upah minimal regional penghasilan rendah < Rp1200.000,- / bulan,  tinggi > Rp.1200.000,- / bulan. (UMR, 2011)

7. Faktor pengetahuan
Adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui pasca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Wawan, 2010).

8. Faktor pendidikan.
Pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh, mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (varney, 2007).

Adapun jenjang pendidikan akseptor yang diteliti menurut Depdiknas, 2012:
  1. Pendidikan Rendah (SD – SMP)
  2. Pendidikan Tinggi (SMA –PT (Perguruan Tinggi)

Makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki tentang kondom dan idak memandang negative tentang kondom, sebaliknya pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai bagi yang dikenakan tentang kondom. Orang yang mempunyai pendidikan tinggi juga akan yang lebih rasional.

9. Faktor fisik
Kondisi-kondisi yang membuat suami tidak sehat dan keinginan seks berkurang, dan timbul impotent yaitu kebiasaan suami yang sering mengkonsumsi rokok dan tidak ada kegiatan berolah raga. Impotent merupakan dimana seorang pria tidak dapat melakukan hubugan seksual dengan pasangannya dengan baik di sebabkan karena keadaan penis yang kurang baik dan tidak berfungsi secara normal. Penyebab dari impotent yaitu kebiasaan merokok yang intens sehingga rokok racun atau zat berbahaya yang ada dalam rokok yaitu nikotin menumpuk dan terakumulasi dalam tubuh yang menyebabkan peredaran darah tidak lancar dalam tubuh dan menyebabkan impotent. (varney, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Anggraini, Yetti dkk. 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Rehima. Press, Yogyakarta
  2. Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian.Rieneka Cipta. Jakarta
  3. Aunillah, Nurla Isna. 2011. Cara Menjadi Istri Yang Pintar Memuliakan Suami.Sabil. Yogyakarta.
  4. Bagus, Ida. 2002. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.ARCAN. Jakarta
  5. BKKBN. 2007. Peran Suami Dalam Kespro Dan KB-http://www.BKKBN.go.id/peran_suami dalam_kespro_KB_2007  diakses tanggal 28-1-2013, hari Senin, Jam 15.53
  6. Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC
  7. Dinkes Jatim, 2011. Profil Kesehatan Jawa Timur Tahun 2011- http://www.depkes.go.id/profil_Kesehatan_Prov_Kab/Profil_Kesehatan_jawa_timur_2011.pdf di akses tanggal 12-1-2013 , jam 09.07, hari Sabtu
  8. Dinkes Kabupaten Jombang. 2009. Profil Kesehatan Kabupaten Jombang-http://www.depkes .go.id/download/profil /Kabupaten_Jombang_2009.pdf  di akses tanggal tanggal 6-1-2013, hari Minggu
  9. Dinkes Kabupaten Jombang, 2010. Profil Kabupaten Jombang Tahun 2010-http://www.depkes.go.id /download/profil /Kabupaten_Jombang_2010.pdf diakses tanggal 6-1-2013 hari Minggu
  10. Dinkes Kabupaten Jombang, 2011. Profil Kabupaten Jombang Tahun 2011-http://www.depkes.go.id/download/profil/Kabupaten_Jombang_2011.pdf diakses tanggal 6-1-2013, hari Minggu
  11. Everet, Suzanne. 2007. Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduksi. EGC. Jakarta
  12. Glassier, Anna. 2000. Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC
  13. Hidayat, Alimul Aziz. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Rieneka Cipta. Jakarta
  14. Kemenkes RI. 2012. Profil Data Kesehatan Indonesia-http://www.depkes.go.id/download/Profil_Data_Kesehatan_Indonesia_Tahun_2011.pdf di akses tanggal 14-1-2013,hari Senin,jam 14.25
  15. Kullusaba, Darkan. 2012. Pengertian Ekonomi- Http: // thedarkancokullusaba.      blogspot. com/ 2012/ 09/pengertian- ekonomi. Html, di akses tanggal 7-2-2012, hari Kamis,  jam 10.15
  16. Nurlaila, Anda. 2012. Di Jawa Timur KB Suntik Paling Favorit-http://ads.viva.co.id/ads/ di akses 12-1-2013,hari Sabtu, Jam 09.07
  17. Notoadmojo. 2003. Pendidikan Secara Umum- Http: //www. Cara-terbaru. Com/2012/11/Pendidikan Secara Umum.html, di akses tanggal 7-2-2013, jam 10.00, hari Kamis
  18. Notoatmodjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan Manusia. Rieneka Cipta. Jakarta
  19. Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.Rieneka Cipta. Jakarta
  20. Pemprovjatim. Provinsi Jatim, 2013. Upah Minimum Regional (UMR) 2013 – http: //www. Pemprovjatim go. id/ profil/ Provinsi_ Jatim_2013, di akses tanggal 10-2-2013, jam 07.39, hari minggu
  21. Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta
  22. Proverawati. Atikah. 2010. Panduan Memilih Kontrasepsi.Nuha Medika, Yogyakarta
  23. Sarjana. 2012. Media Massa Menurut Para Ahli-Http: //www. Sarjana. Com/2012/12/Pengertian-media-massa-menurut-para-ahli. Html, diakses tanggal 7-2-2013, jam 10.10, hari Kamis
  24. Saryono, 2010. Metodologi Penelitian Kebidanan D3, D4, S1, S2. Nuha Medika. Yogyakarta
  25. Varney, Hellen. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. EGC. Jakarta
  26. Wawan, A.2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Nuha Medika. Yogyakarta
  27. Widyatun, Tri Rusmini. 1999. Ilmu Perilaku. Fajar Interpratama. Jakarta
  28. Wikipedia. 2013. Kesehatan Jiwa dan Fisik- Http: //www. Id. Wikipedia. 2013 di akses tanggal 7-2-2013, jam 10.15,hari Kamis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar