PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Jumat, 09 Juli 2010

KONSEP PEMBERIAN ASI (AIR SUSU IBU)

Dr. Suparyanto, M.Kes

KONSEP PEMBERIAN ASI

  • ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama enam bulan pertama. Sesudah umur enam bulan, bayi memerlukan makanan pelengkap karena kebutuhan gizi bayi meningkat dan tidak seluruhnya dapat dipenuhi oleh ASI. Produksi ASI dirangsang oleh isapan bayi dan keadaan ibu yang tenang. Disamping itu perlu diperhatikan kesehatan ibu pada umumnya, status gizi dan perawatan payudara. Penyuluhan tentang cara- cara pemberian ASI yang menjamin kelancaran produksi ASI sejak lahir sangat diperlukan ibu, terutama bagi ibu-ibu yang melahirkan untuk pertamakali. ASI dapat terus diberikan hingga anak umur 2 tahun (Mangunkusumo, 2003).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lama Pemberian ASI

Menurut Arifin Siregar (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI, diantaranya adalah :

(1). Pengetahuan
  • Pengertian: Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003:121).

  • Penelitian Rogers 1974 (dalam Notoatmodjo, 2003) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu :
  1. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui stimulus (objek) terlebih dahulu.
  2. Interest (merasa tertarik), dimana orang tersebut mulai tertarik kepada stimulus.
  3. Evaluation (menimbang-nimbang) baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.
  4. Trial, dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
  5. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

  • Namun demikian dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut di atas. Apabila penerimaan pelaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan kesadaran dan sikap-sikap yang positif, maka perilaku tersebut bersifat langgeng (long lasting), sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama.

Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda.

Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :
Tahu (know)
  • Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Memahami (comprehension)
  • Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

Aplikasi (application)
  • Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

Analisis (analysis)
  • Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

Sintesis (synthesis)
  • Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

Evaluasi (evaluation)
  • Evaluasi ini berkaita dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan : 

Pendidikan kesehatan
  • Pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan adanya pesan tersebut makan diharapkan masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik (Notoatmodjo, 2003:56).

Sumber informasi
  • Seseorang yang mempunyai sumber informasi yang lebih banyak akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas. Informasi itu sebenarnya ada dimana-mana, antara lain di rumah, pasar, sekolahan, lembaga organisasi, media cetak, media elektronik, tempat pelayanan kesehatan dan masih banyak lagi. Ledakan pengetahuan menimbulkan informasi. Adanya ledakan pengetahuan sebagai akibat perkembangan dalam bidang ilmu penelitian akan semakin banyak pengetahuan yang bermunculan. Selanjutnya dengan adanya pengetahuan akan menimbulkan kesadaran dan pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki itu. Hasil atau perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng, karena didasari pada kesadaran mereka sendiri (Notoatmodjo, 2003).

Pengalaman
  • Sesuatu yang pernah dialami seseorang akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal (muliacom.2008). Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat, karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang emosi, penghayatan akan lebih mendalam dan lebih lama membekas. (Azwar,2008:31).

Umur/Usia
  • Usia dan umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun (Hurlock, 1998). Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan kematangan jiwanya. Semakin tua seseorang semakin konstruksi dengan menggunakan koping terhadap masalah yang dihadapi. Makin mudah seseorang akan mempengaruhi konsep klien.

Pekerjaan
  • Dengan adanya pekerjaan seseorang akan memerlukan banyaknya waktu dan tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian masyarakat yang sibuk hanya memiliki sedikit waktu untuk memperoleh informasi (Notoatmodjo, 1997).

Lingkungan
  • Lingkungan adalah seluruh kondisi di sekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan perilaku orang atau kelompok. Lingkungan adalah input ke dalam diri seseorang sebagai faktor internal atau faktor eksternal (Nursalam, 2001:125).

Budaya
  • Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan (muliacom.2008).

(2). Pendidikan
  • Pengertian: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (http://id.wikipedia. org/wiki/pendidikan/2003).

  • Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan.

  • Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni :
  1. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, masyarakat) dan pendidik (pelaku pendidikan).
  2. Proses (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain).
  3. Output (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
  • Sedangkan pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan (Notoatmodjo, 2003 : 16).

  • Pendidikan adalah upaya persuasi atau pembelajaran kepada masyarakat agar masyarakat mau melakukan tindakan-tindakan (praktik) untuk memelihara (mengatasi masalah-masalah), dan meningkatkan kesehatannya. Perubahan atau tindakan pemeliharaan atau peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan dan didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran. Sehingga perilaku tersebut diharapkan akan berlangsung lama (long lasting) dan menetap (langgeng), karena didasari oleh kesadaran (Notoatmodjo, 2005 : 26).

  • Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (http://id.wikipedia. org/wiki/pendidikan/2003)

Jenjang pendidikan
  • Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang (http://id.wikipedia.org/wiki/ pendidikan/2003).

Pendidikan anak usia dini
  • Mengacu Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

SD (Sekolah Dasar)
  • Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 6 (enam) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama)
  • Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar yang harus dilaksanakan minimal 3 tahun.

SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas)
  • Pendidikan yang ditempuh selama 3 tahun. Pendidikan ini merupakan lanjutan dari SLTP.

Pendidikan tinggi
  • Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA (http://id.wikipedia. org/wiki/pendidikan/2003).

Materi Pendidikan
  • Materi pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-nilai hidup, nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat. Penyajiannya tidak boleh pendidikan sifatnya memaksa terhadap anak didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektif ilmiah. Dalam pendidikan yang ada di Indonesia seharusnya berjalan di atas sistem tersebut agar Indonesia menjadi lebih baik (http://id. wikipedia.org/wiki/pendidikan/2003).

Jalur Pendidikan
  • Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan (http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan/ 2003).

Pendidikan formal
  • Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi. 

Pendidikan non-formal
  • Pendidikan non-formal meliputi pendidikan keluarga dan lingkungan lanjutan. 

Pendidikan informal
  • Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.

Jenis Pendidikan
  • Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan (http://id. ikipedia.org/wiki/ 2008/03/pendidikan) (diakses, 4 Juni 2009, jam 07.35 WIB).
  • Pendidikan umum
  • Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perlunasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pendidikan kejuruan
  • Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), jenis ini termasuk ke dalam pendidikan formal.

Pendidikan akademik
  • Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan profesi
  • Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki satu profesi atau menjadi seorang profesional. Salah satu yang dikembangkan dalam pendidikan tinggi dalam keprofesian adalah yang disebut program diploma, mulai dari D-1 sampai dengan D-4 dengan berbagai konsentrasi bidang ilmu keahlian. Konsentrasi pendidikan profesi dimana para mahasiswa lebih diarahkan kepada minat menguasai keahlian tertentu. Dalam bidang keahlian dan keprofesian khususnya Desain Komunikasi Visual terdapat Jurusan seperti Desain Grafis untuk D-4 dan Desain Multimedia untuk D-3 dan Desain Periklanan (D-3). Dalam proses belajar mengajar dalam pendidikan keprofesian akan berbeda dengan jalur kesarjanaan (S-1) pada setiap bidang studi tersebut.

Pendidikan vokasi
  • Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan keagamaan
  • Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan/atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus
  • Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).

Kualitas Pendidikan
  • Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia, yaitu :
  • Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini, intervensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.

  • Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya yang merupakan icon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan (http://id. wikipedia.org/wiki/2008/03/ pendidikan) (diakses, 4 Juni 2009, jam 07.35 WIB).

(3). Pekerjaan
  • Pengertian: Pekerjaan dalam arti luas adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia, sedangkan dalam arti sempit istilah pekerjaan digunakan untuk suatu tugas atau kerja yang menghasilkan uang bagi seseorang (Wikipedia bahasa Indonesia).
  • Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak dicapainya, dan orang berharap bahwa aktivitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya.

  • Pekerjaan ialah kegiatan fisik dan mental manusia untuk menghasilkan barang atau jasa bagi orang lain maupun dirinya yang dilakukan atas kemauan sendiri dan atau dibawah perintah orang lain dengan menerima upah atau tidak. Dalam pengertian ini tercakup setiap pekerjaan yang dijalankan atas dasar borongan dalam suatu perusahaan, baik oleh orang yang menjalankan sendiri maupun orang yang membantunya.
  • Pengertian Pekerjaan berdasarkan Klasifikasi Jabatan Nasional adalah sekumpulan kedudukan yang memiliki persamaan kewajiban atau tugas-tugas pokoknya. Satu pekerjaan dapat diduduki oleh satu orang atau beberapa orang yang tersebar di berbagai tempat.

  • Jadi nyatalah bahwa keinginan untuk mempertahankan hidup merupakan salah satu sebab yang terkuat yang dapat menjelaskan mengapa seseorang bekerja. Melalui kerja kita memperoleh uang dan uang tersebut dapat dipakai untuk memuaskan semua tipe kebutuhan. Kebutuhan itu baik kebutuhan fisiologis dasar, seperti makan, minum, tempat tinggal, pakaian dan sejenisnya. Maupun kebutuhan-kebutuhan sosial, kebutuhan yang timbul dalam hubungan atau interaksi seseorang dengan lingkungan.
  • Sementara yang dimaksud dengan tenaga kerja / pekerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan baik fisik maupun non fisik didalam hubungan kerja maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau kebutuhannya sendiri.

  • Selama ini pengertian dan pemahaman masyarakat tentang pekerjaan cenderung menunjuk pada jenis pekerjaan di lapangan kerja formal. Mereka yang dianggap bekerja hanya terbatas pada pegawai atau karyawan yang mempunyai kantor, setiap hari berangkat kerja, dan menerima gaji pada akhir bulan. Padahal dalam lapangan kerja informal kenyataannya banyak menampung dan menyerap tenaga kerja justru kurang mendapat perhatian dari para pencari kerja. Lapangan kerja informal biasanya dijadikan pilihan terakhir setelah mereka gagal memasuki lapangan kerja formal.

  • Lapangan Kerja Dibedakan Menjadi 2: Lapangan kerja dapat dibedakan menjadi lapangan kerja formal dan lapangan kerja informal. Lapangan kerja formal adalah lapangan kerja yang keberadaannya diatur dan dilindungi oleh peraturan ketenagakerjaan, misalnya Pegawai Negeri Sipil (PNS), ABRI, karyawan perusahaan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

  • Pegawai Negeri Sipil adalah pegawai yang bekerja pada instansi Pemerintah berdasarkan peraturan Pegawai Negeri Sipil, termasuk didalamnya adalah Pegawai Negeri Sipil di Departemen, Pemerintah Daerah, BUMN, dan lain-lain. Sementara Pegawai Swasta adalah pekerja / pegawai yang bekerja pada perusahaan swasta berdasarkan peraturan ketenagakerjaan, termasuk di dalamnya pegawai bank swasta dan perusahaan swasta.

  • Sistem penerimaan pegawai / karyawan dalam lapangan kerja formal sangat memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Tingkat pendidikan.
  2. Pengalaman kerja.
  3. Keahlian / kompetensi.
  4. Performance / penampilan.
  5. Usia.

  • Seseorang dalam melakukan pekerjaan formal biasanya diatur dengan peraturan yang berlaku secara umum maupun khusus bagi instansi atau perusahaan yang bersangkutan. Untuk memperoleh kesempatan menduduki jabatan yang lebih tinggi atau mencapai posisi puncak, pegawai atau karyawan harus melalui tahapan yang telah dirumuskan dalam jenjang karier atau struktur jabatan dan memenuhi persyaratan-persyaratan yang berlaku.

  • Sementara lapangan kerja informal adalah lapangan kerja yang keberadaannya atas usaha sendiri dan upah tidak terjangkau oleh peraturan ketenagakerjaan, termasuk didalamnya usaha mandiri, pedagang, peternak, petani, nelayan, tukang kayu atau bangunan, tukang jahit, jasa profesi mandiri, dan sebagainya.

  • Setiap tenaga kerja dapat memasuki lapangan kerja informal karena jenis pekerjaan ini tidak menuntut persyaratan khusus atau spesifik. 
  • Modal utama untuk bekerja dalam lapangan kerja informal adalah :
  1. Tekad
  2. Kemauan dan kesungguhan.
  3. Ketrampilan

  • Dengan modal itulah maka faktor-faktor lain bersifat mendukung kelanjutan usaha dapat diupayakan seperti modal, ketrampilan, relasi, pengalaman, dan lain-lain.
  • Dalam melakukan pekerjaan informal seseorang akan menangani seluruh proses kerja, ia akan bertindak sebagai perencana, pelaksana, sekaligus sebagai pengontrol karena semua itu akan menjadi kewenangan dan tanggung jawabnya. Mereka bekerja secara bebas sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

  • Banyak kisah sukses dari tokoh-tokoh terkenal yang dimulai dengan merintis usaha pada sektor informal. Dengan berkembangnya usaha yang dikelola mereka dapat menciptakan lapangan kerja yang menyerap pekerja dalam jumlah besar. Berdasarkan keberhasilan mereka dalam mengatasi usaha atau melakukan pekerjaannya sangat tergantung pada mereka sendiri.

  • Jenis-jenis Pekerjaan di Tinjau Secara Umum
  • Setiap orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jenis-jenis pekerjaan dapat dibedakan berdasarkan hasil dari pekerjaannya,yaitu barang dan jasa

Pekerjaan yang menghasilkan barang
  • Jenis pekerjaan ini menghasilkan barang yang dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti makanan minuman dan perabot rumah tangga, dan lain-lain.

  • Perhatikan contoh dan jenis-jenis pekerjaan serta hasilnya dibawah ini :
  • Petani menghasilkan padi, jagung, dan lain-lain.
  • Pengrajin menghasilkan meja, kursi dan kerajinan lain-lain.
  • Peternak menghasilkan telur,daging,dan susu.

Pekerjaan yang menghasilkan jasa.
  • Jenis pekerjaan ini menghasilkan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kita membutuhkan pendidikan, layanan kesehatan, layanan transportasi, dan lain-lain. Dokter merupakan pekerjaan yang menghasilkan jasa dalam bidang kesehatan.

  • Perhatikan contoh jenis pekerjaan serta jasanya berikut ini :
  1. Guru berjasa dalam pendidikan.
  2. Dokter berjasa dalam kesehatan.
  3. Sopir berjasa dalam layanan transportasi.

  • Jenis pekerjaan lain yang menghasilkan jasa ialah montir, sopir, pengacara, polisi tentara, jaksa, hakim, pegawai negeri, perias pengantin, dan perawat. Sumber (Disnaker Jatim, 2009).

Faktor Psikologis
  • Faktor psikologis dapat dicontohkan seorang wanita yang takut kehilangan daya tarik, mereka beranggapan bahwa menyusui akan merusak penampilan. Padahal setiap ibu yang mempunyai bayi payudaranya selalu berubah, walaupun menyusui atau tidak menyusui. Selain itu ibu yang mengalami tekanan batin di saat menyusui dapat mendesak si ibu untuk mengurangi frekuensi dan lama menyusui bayinya.

Faktor Fisik Ibu
  • Alasan yang cukup sering bagi ibu menyusui adalah karena ibu sakit. Keadaan yang paling sering dialami ibu adalah terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu merasa sakit waktu bayinya menyusu. Bendungan itu disebabkan karena ASI tidak terhisap seluruhnya oleh bayi setiap kali menyusu, hal ini dapat diatasi dengan jalan mengurut buah dada berlahan-lahan atau dengan memompa kelebihan ASI selain itu luka-luka di puting susu dan kelainan pada puting susu ibu juga menjadi faktor kesukaran ibu dalam memberikan ASI.

Faktor Kesehatan Anak
  • Pada waktu anak sakit juga akan terjadi kesukaran dalam pemberian ASI karena anak menolak untuk menyusu. Berbagai macam cacat bibir juga dapat menimbulkan kesukaran bagi bayi untuk menyusu. Akan tetapi hal ini dapat diatasi dengan jalan memompakan ASI ke dalam botol kemudian diberikan kepada bayi melalui botol.

Kurangnya Petugas Kesehatan
  • Karena kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI. Penyuluhan kepada masyarakat mengenai manfaat pemberian ASI akan meningkatkan pemahaman masyarakat.

Faktor Informasi
  • Peningkatan sarana komunikasi dan transportasi yang memudahkan periklanan susu buatan, menimbulkan tumbuhnya kesediaan menyusui dan lamanya baik di desa dan perkotaan, distribusi, iklan dan promosi susu buatan berlangsung terus dan bahkan meningkat tidak hanya di televisi, radio dan surat kabar melainkan juga di tempat-tempat praktek swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat.

Faktor Lain
  • Ada beberapa keadaan yang tidak memungkinkan ibu untuk menyusui bayinya walaupun produksinya cukup, seperti

  • Adanya penyakit yang diderita ibu menyusui sehingga ibu dilarang untuk memberikan ASI kepada bayinya, yang dianggap baik untuk kepentingan ibu ( seperti : gagal jantung, Hb rendah ).
  • Masih sering dijumpai di rumah sakit ( rumah sakit bersalin ) pada hari pertama kelahiran oleh tenaga kesehatan dan sebagian besar ibu melahirkan di rumah sendiri, hampir setengah dari bayinya diberi susu buatan atau larutan glukosa.


DAFTAR PUSTAKA


  1. Arikunto, S. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogya : Rineka Cipta.
  2. Arikunto, S. 2009. Manajemen Penelitian. Yogya : Rineka Cipta.
  3. Budiasih, Kun Sri. 2008. Handbook Ibu Menyusui. Bandung : PT Karya Kita.
  4. Darwis, Sudarwan Danim. 2008. Metode Penelitian Kebidanan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Hal : 174.
  5. Depkes RI. 2005. Manajemen Laktasi. Jakarta.
  6. Depkes RI. 2009. Petunjuk pelaksanaa peningkatan ASI. Dikutip dari http://depkes.go.id/Ptunjuk Pelaksanaa peningkatan ASI.htm. Diakses pada tanggal 11 Maret 2010.
  7. Evawani, 2008. Rendahnya Penggunaan ASI. www.Kuliah Bidan Diakses pada tanggal 15 Maret 2010
  8. Hidayat , Aziz H. 2007. Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
  9. Hidayat, Aziz H. 2007. Metodologi Penelitian Kebidanan dan Tehnik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
  10. Ikatan Dokter Anak Indonesia.2008. Bedah ASI. Jakarta : FKUI
  11. Karen Hogg, Britten Jane dkk. 2005. Menyusui cara Mudah, Praktis & Nyaman. Jakarta : Arcan.
  12. Kristiyansari, Weni.2009. ASI, Menyusui dan Sadari. Yogjakarta : Nuha Medika
  13. Machfoedz, I. 2006. Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Keperawatan dan Kebidanan. Yogya : Fitramaya.
  14. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  15. Nindya, Stefani. 2001. Dampak Pemberian ASI Eksklusif terhadap Penurunan Kesuburan Seorang Wanita. [Jurnal online]. www.kalbe.co.id [ 26 April 2009]
  16. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  17. Pratiknya, Ahmad Watik. 2000. Dasar – dasar Metodologi Penelitian Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : PT Raja Grafindo.
  18. Purwanti, Sri Hubertin.2004. Kondep Penerapan ASI Eksklusif. Jakarta : EGC.
  19. Reyanto, A. 2009. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Yogya Muha Medika.
  20. Saleha, Siti.2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika.
  21. Siregar, Arifin. 2004. Pemberian ASI eksklusif dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhinya. [jurnal online]. http://library.usu.ac.id [ 11Maret 2010]
  22. Siregar, Arifin. 2004. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Oleh Ibu Melahirkan. [jurnal online]. http://library.usu.ac.id [11 Maret 2010]
  23. Sugiono. 2009. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar