PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Minggu, 22 Mei 2011

PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR)

Dr. Suparyanto, M.Kes

PEMILIHAN ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR)

  • Menurut kamus besar Bahasa Indonesia memilih adalah menentukan diantara hal-hal yang ada ( KBBI, 2010). Menurut WHO (World Health Organisation) dan dr. Hanafi faktor-faktor dalam pemilihan Kontrasepsi Dalam Rahim adalah :
  • Faktor pasangan – Motivasi dan Rehabilitasi
  1. Umur
  2. Paritas
  3. Usia anak terkecil
  4. Tujuan reproduksi
  5. Frekuensi hubungan kelamin
  6. Hubungan dengan pasangan (dukungan suami)
  7. Pengaruh orang lain
  8. Kenyamanan metode

  • Faktor kesehatan – Kontraindikasi absolut atau relatif
  1. Status kesehatan
  2. Riwayat haid
  3. Riwayat keluarga
  4. Pemeriksaan fisik
  5. Pemeriksaan panggul

  • Faktor metode kontrasepsi – Penerimaan dan Pemakaian berkesinambungan
  1. Efektivitas
  2. Efek samping minor
  3. Kerugian
  4. Komplikasi-komplikasi yang potensial
  5. Biaya.

1. Umur istri
  • Umur dalam hubungannya dengan pemakaian kontrasepsi berperan sebagai faktor intrinsik. Umur berhubungan dengan struktur organ, fungsi faaliah, komposisi biokimiawi termasuk sistem hormonal seorang wanita. Perbedaan fungsi faaliah, komposisi biokimiawi, dan sistem hormonal pada suatu periode umur menyebabkan perbedaan pada kontrasepsi yang dibutuhkan. Masa reproduksi (kesuburan) dibagi menjadi 3, yaitu:
  1. Masa menunda kehamilan (kesuburan)
  2. Masa mengatur kesuburan (menjarangkan)
  3. Masa mengakhiri kesuburan (tidak hamil lagi).

2. Paritas
  • Paritas seorang wanita dapat mempengaruhi cocok tidaknya suatu metode secara medis. Secara umum AKDR tidak dianjurkan bagi wanita nulipara pemasangannya lebih sulit, angka ekspulsi lebi tinggi dari pada wanita yang pernah melahirkan, dan kemungkinan pemakaian AKDR mengganggu kesuburan di masa depan. Oleh karena iti, program harus secara cermat meneliti wanita nulipara yang meminta AKDR dan memberitahu mereka mengenai pilihan kontrasepsi yang sesuai.

3. Usia anak terkecil
  • Usia anak terkecil suatu pasangan dapat mempengaruhi pemilihan metode dalam dua cara. Di daerah-daerah tempat angka kematian bayi tertinggi, sebagian pasangan dengan anak yang masih kecil dan tidak lagi menginginkan anak menunda pemakaian metode kontrasepsi permanen sampai mereka cukup yakin bahwa anak mereka akan bertahan hidup. Seorang wanita yang baru malahirkan mungkin mengandalakn efek kontrasepsi dari menyusui atau memilih metode komplementer yang dapat digunakan sewaktu menyusui.

4. Tujuan reproduksi
  • Tujuan reproduksi dari suatu pasangan, apakah mereka akan menjarangkan anak mereka atau membatasi jumlah keluarga jelas memiliki pengaruh pada pemilihan metode. Pasangan yang sudah tidak lagi menginginkan anak mungkin memilih metode yang sangat efektif, bekerja lebih lama, atau prmanen karena lebih cocok dengan kebutuhan mereka. Pasangan ingin memiliki anak di masa depan mungkin puas dengan metode yang kurang efektif kerena mengetahui bahwa kegagalan metode hanya mempengaruhi penentuan waktu rencana reproduktif mereka dan tidak mempengaruhi jumlah anak yang diinginkan secara keseluruhan. Pemakai juga perlu mempertimbangkan apakah metode yamg dipilih dapat menurunkan kesuburan nantinya.

5. Frekuensi hubungan kelamin
  • Frekuensi seorang wanita berhubungan kelammin dapat mempengaruhi bukan saja resiko kehamilan yang tidak direncanakan, melainkan juga kerelaan dirinya atau pasangannya untuk menggunkan metode kontrsepsi tertentu. Pasangan dengan frekuensi hubungan kelamin yang tinggi mungkin akan berpendapat bahwa metode yang sangan efektif akan paling sesuai. Sebaliknya pasangan yang jarang berhubungan kelamin mungkin akan mendasarkan keputusan pemilihan kontrasepsi mereka pada faktor-faktor selain kemudahan penggunaan. Seperti seorang wanita yang jarang berhubungan memilih metode sawar dibandingkan metode hormonal karena kemungkinan efek samping dari metode hormonal tersebut.

6. Hubungan dengan pasangan
  • Hubungan seorang wanita dengan pasangannya juga dapat menjadi faktor dalam menentukan metode tertentu. Karena pada banyak masyarakat pasangan tidak saling berkomunikasi mengenai keluarga berencana, pihak wanitalah yang sering kali harus memperoleh dan menggunakan kontrasepsi bila ingin mengontrol kesuburannya.

7. Pengaruh orang lain
  • Anggota keluarga, sanak saudara, tetangga dan teman sering kali memiliki pengaruh yang bermakna dalam pemakaian metodee kontrasepsi oleh suatu pasangan.

8. Kemudahan Metode
  • Dalam memilih suatu metode, seorang wanita harus mengetahui bagaimana penggunaan metode akan mempengaruhi gaya hidup mereka. Kadang-kadang suatu metode tidak dapat diterima oleh seorang wanita hanya karena metode tersebut dapat mengganggu kegiatan rutinnya.

9. PengenalanTerhadap Anatomi Reproduktif
  • Untuk menggunakan metode kontrasepsi tertentu, wanita harus mengenal anatomi reproduktif mereka dan merasa nyaman menyentuh genetalia mereka. Contohnya ialah wanita yang akan mampu manggunakan diafragma atau spons secara benar dan konsisten hanya apabila ia merasa nyaman untuk menyentuh vaginanya dan mengetahui pentingnya penempatan alat di atas serviks

DAFTAR PUSTAKA

  1. Asnawi, Natsir. 2009. Social Support and Behavior Toward Others (Dukungan Sosial dan Perilaku Terhadap Orang Lain): Suatu Tinjauan Psikologi. http://natsirasnawi.blogspot.com/2009/03/social-support-and-behavior-toward.html. Diakses tanggal 4 Maret 2011 jam 19.00
  2. Brahm. 2006. Ragam Metodel Kontrasepsi. Jakarta : EGC
  3. Djarwanto. 1996. Mengenal Beberapa Uji Statistik dalam Penelitian. Jogjakarta : Liberti
  4. Suparyanto. 2011. Konsep Dasar Keluarga Berencana. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/04/konsep-dasar-kb-keluarga-berencana.html . diakses 27 April 2011
  5. . 2011. Konsep Intra Uterine Device. http://dr.suparyanto.blogspot.com/2011/04/konsep-iud-inta-uterune-divice.html. diakses 27 April 2011
  6. . 2011. Konsep Kontrasepsi. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/04/konsep-kontrasepsi.html. diakses 27 April 2011
  7. Farida, Umi. 2008. Hubungan Antara Dukungan Suami dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi Pasca Persalinan. STIKES Aisyiyah Jogjakarta.
  8. Glasier, Anna. 2002. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi edisi 4. Jakarta : EGC
  9. Hanafi, H. 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
  10. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
  11. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika
  12. KBBI, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php . Diakses Sabtu, 19 Februari 2011.
  13. Manuaba, ADA Bagus Gde. 1998. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan
  14. Mas Bow. 2009. Apa Itu Dukungan Sosial?. http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-dukungan-sosial.html. Diakses 4 Maret 2011.
  15. Notoatmodjo, Soekidjo. Dr. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta : PT Rineka Cipta.
  16. Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
  17. Radita. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi yang Digunakan Pada Pasangan Usia Subur. Universitas Diponegoro Semarang
  18. Sugiyono. 2010. Statisti Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
  19. Suzzane, E. 2007. Buku Saku Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduksi. Jakarta : EGC
  20. Wahyuni, 2002. Peran Suami Pada Istri Terhadap Pemakaian Alat Kontrasepsi di Desa Kepatuhan Tualang Sidoarjo. http://digilib.itb.ac.id. Diakses 31 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar