PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Jumat, 06 Mei 2011

MUTU PELAYANAN KIA (KESEHATAN IBU DAN ANAK)

Dr. Suparyanto, M.Kes

MUTU PELAYANAN KIA (KESEHATAN IBU DAN ANAK)

Mutu Pelayanan KIA
  • Agar pelaksanaan program KIA dapat berjalan lancar, aspek peningkatan mutu pelayanan Program KIA tetap diharapkan menjadi kegiatan prioritas di tingkat Kabupaten/ Kota. Peningkatan mutu Program KIA juga dinilai dari besarnya cakupan program di masing-masing wilayah kerja.Untuk memantau cakupan pelayanan KIA tersebut dikembangkan Sistem PWS KIA. Dengan diketahuinya lokasi rawan kesehatan ibu dan anak, maka wilayah kerja tersebut dapat diperhatikan dan dicarikan pemecahan masalahnya. Untuk memantau cakupan pelayanan KIA tersebut dekembangkan sistem PWS KIA.
Dengan melakukan PWS KIA diharapkan :
  1. Cakupan pelayanan dapat ditingkatkan dengan menjangkau seluruh sasaran di suatu wilayah kerja.
  2. Penyajian PWS KIA dapat dipakai sebagai alat advokasi, informasi dan komunikasi kepada sektor terkait, khususnya aparat setempat yang berperan dalam pendataan dan penggerakan sasaran.
  3. PWS KIA dapat digunakan untuk memecahkan masalah teknis dan non teknis.
  4. Hasil analisis PWS KIA di tingkat puskesmas dan kabupaten/ kota dapat digunakan untuk menentukan puskesmas dan desa/ kelurahan yang rawan. (Depkes, 2009)

PRINSIP DAN STRATEGI PENGELOLAAN PROGRAM KIA
  • Pengelolaan program KIA pada prinsipnya bertujuan memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA, secara efektif dan efisien. Pemantapan pelayanan KIA dewasa ini diutamakan pada kegiatan pokok sebagai berikut:
  1. Peningkatan pelayanan antenatal disemua fasilitas pelayanan dengan mutu yang baik serta jangkauan yang setinggi-tingginya.
  2. Peningkatan pertolongan persalinan yang lebih ditujukan kepada peningkatan pertolongan oleh tenaga professional secara brangsur.
  3. Peningkatan deteksi dini resiko tinggi ibu hamil, baik oleh tenaa kesehatan maupun dimasyarakat oleh kader dan dukun bayi serta penanganan dan pengamatannya secara terus-menerus. (Wijoyo, Djoko. 2008).

INDIKATOR KIA

1). Pelayanan Antenatal (ANC)

a).Definisi
  • Adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga professional untuk ibu selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan (Wijoyo, Djoko. 2008).
b).Tujuan asuhan kehamilan (antenatal care) adalah:
  1. Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi.
  2. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi.
  3. Mengenali secara dini adanya ketidak normalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
  4. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
  5. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dengan trauma seminimal mungkin.
  6. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kehamilan bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal. (Syafrudin. 2009).

2). Kunjungan KI
  • Adalah kunjungan ibu hamil pertama kali pada masa kehamilan (Wijoyo, Djoko. 2008).
3). Kunjungan K4
  • Adalah kontak ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang keempat atau lebih, untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang ditetapkan, dengan syarat:
  • Minimal satu kali kontak pada triwulan I.
  • Minimal satu kali kontak pada triwulan II.
  • Minimal dua kali kontak pada triwulan III. (Wijoyo, Djoko. 2008)
4). Kunjungan Neonatal
  • Adalah kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal dua kali untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan neonatal, baik di dalam gedung puskesmas maupun diluar gedung puskesmas (termasuk bidan di desa, polindes dan kunjungan rumah).
  • Kunjungan neonatal terdiri dari:
  1. KN 1 = kontak neonatal dengan tenaga profesinal pada umur 0-7 hari.
  2. KN 2 = kontak neonatal dengan tenaga professional pada umur 8-28 hari. (Wijoyo, Djoko. 2008)
5). Cakupan Akses
  • Adalah persentasi ibu hamil disuatu wilayah, dala kurun waktu tertentu, yang peeernah mendapat pelayanan antenatal sesuai standar paling sedikit satu kali selam kehamilan (Wijoyo, Djoko. 2008).
6). Sasaran Ibu Hamil
  • Adalah jumlah semua ibu hamil di suatu wilayah dalam kurun waktu satu tahun (Wijoyo, Djoko. 2008).
7). Cakupan ibu hamil K4
  • Adalah presentase ibu hamil disuatu wilayah dalam kurun waktu tertentu yang pernah mendapat pelayanan antenatal sesuai standart paling sedikit empat kali (Wijoyo, Djoko. 2008).
8). Ibu Hamil Beresiko
  • Adalah ibu hamil yang mempunyai faktor resiko dan resiko tinggi kecuali ibu hamil normal (Wijoyo, Djoko. 2008).
9). Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan

a). Definisi
  • Adalah persentase ibu bersalin disuatu wilayah dalam kurun waktu tertentu, yang ditolong persalinannya oleh tenaga kesehatan (Wijoyo, Djoko. 2008).
b). Upaya peningkatan mutu pelayanan
  1. Meningkatan kapasitas manajemen tenaga kesehatan terutama tenaga bidan dalam Asuhan Persalinan Normal.
  2. Bidan desa harus proaktif dalam pelayanan kesehatan didesanya masing-masing.
  3. Menjalin kemitraan yang baik antara bidan dan dukun.
10). Cakupan Penjaringan Ibu Hamil Beresiko Oleh Masyarakat
  • Adalah persentase ibu hamil berisiko yang ditemukan oleh kader dan dukun bayi, dan kemudian dirujuk ke puskesmas atau tenaga kesehatan dalam kurun waktu tertentu (Syafrudin. 2009).
11). Cakupan Penjaringan Ibu Hamil Berisiko oleh Tenaga Kesehatan
  • Adalah persentase ibu hamil berisiko yang ditemukan baik oleh tenaga kesehatan maupun oleh kader atau dukun bayi yang telah dipastikan oleh tenaga kesehatan, yang kemudian ditinjak lanjuti (dipantau secara intensif dan ditangani sesuai kewenangan dan/atau dirujuk ketingkat pelayanan yang lebih tinggi), dalam kurun waktu tertentu (Syafrudin. 2009).
12). Penjaringan (deteksi) Dini Kehamilan Berisiko
  • Adalah menemukan ibu hamil berisiko yang dapat dilakukan oleh kader, dukun bayi, dan tenaga kesehatan (Wijoyo, Djoko. 2008).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Assaf. 2009. Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : EGC.
  2. Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
  3. Effendy, Ferry dan Makhfudi. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika.
  4. Hidayat, A. Alimul Aziz. 2003. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
  5. Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  6. Juliana, Erna. 2008. Manajemen Pelayanan Kebidanan. Jakarta : EGC.
  7. Laksono. 2005. KTI Kebidanan. http://www.scribd.com/doc/46253269/tingkat-kepuasan-pasien-terhadap-pelayanan-KIA-Di-puskesmas-KTI-KEBIDANAN. 27 Februari 2011.
  8. Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  9. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  10. Rangkuti, Freddy. 2008. Measuring Customer Satisfaction. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
  11. Syafrudin. 2009. Sosial Budaya Dasar. Jakarta: TIM.
  12. Syaifuddin. 2002. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu. http://blogjoeharno.blogspot.com/2008/03/faktor-faktor yang mempengaruhi mutu.html. 27 Februari 2011.
  13. Wijoyo, Djoko. 2008. Manajemen Kesehatan Ibu dan Anak. Surabaya : Duta Prima Airlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar