PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 14 Juli 2011

APA ITU REMAJA

Dr. Suparyanto, M.Kes

APA ITU REMAJA

PENGERTIAN REMAJA
  • Istilah adolescence atau remaja berasal dan kata Latin adolescere (kata bendanya, adolescentia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa” (Elizabeth, 2004).
  • Sedangkan menurut kesepakatan PBB pada tahun 1974, WHO memberikan definisi remaja yang bersifat konseptual.
  • Dalam konsep tersebut dikemukakan tiga kriteria, yaitu : biologik, psikologik, dan sosial ekonomi, sehingga secara bertahap berbunyi :
  1. Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.
  2. Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
  3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

BATASAN REMAJA
  • Menurut ( Santrock, 2003 ) Remaja dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu antara lain :
a. Remaja Awal (Early Adolescense)
  • Adalah masa yang ditandai dengan berbagai perubahan tubuh yang cepat, sering mengakibatkan kesulitan dalam menyesuaikan diri, dan pada saat ini remaja mulai mencari identitas diri.
b. Remaja Pertengahan (Middle Adolescense)
  • Ditandai dengan bentuk tubuh yang sudah menyerupai orang dewasa. Oleh karena itu, remaja sering kali diharapkan dapat berperilaku seperti orang dewasa, meskipun belum siap secara psikologi. Pada masa ini sering terjadi konflik, karena remaja sudah mulai ingin bebas mengikuti teman sebaya yang erat kaitannya dengan pencarian identitas, sedangkan lain pihak tergantung dengan orang tua.
c. Remaja Akhir (Late Adolescense)
  • Ditandai dengan pertumbuhan biologis yang sudah melambat, tetapi masih berlangsung ditempat-tempatlain. Emosi, minat, konsentrasi, dan cara berfikir remaja akhir muali stabil. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah sudah mulai meningkat.

KARAKTERISTIK MASA REMAJA
  • Karakteristik perkembangan yang normal terjadi pada remaja dalam menjalankan tugas perkembangan mencapai identitas diri, antara lain : menilai diri secara objektif dan merencanakan untuk mengaktualisasikan kemampuannya.
  • Dengan demikian, pada fase ini, seseorang remaja akan :
  1. Menilai rasa identitas pribadi
  2. Meningkatkan minat pada lawan jenis
  3. Menggabungkan perubahan seks sekunder kedalam citra tubuh
  4. Memulai perumusan tujuan okupasional
  5. Memulai pemisahan diri dari otoritas keluarga

CIRI-CIRI MASA REMAJA
  • Hurclock (1994) mengemukakan berbagai ciri-ciri dari remaja sebagai berikut :
a. Masa Remaja adalah Masa Peralihan
  • Yaitu peralihan dari satu tahap perkembangan keperkembangan berikutnya secara berkesinambungan. Pada masa ini remaja bukan seorang anak juga bukan seorang dewasa. Masa ini merupakan masa sangat strategis, karena member waktu kepada remaja untuk membentuk gaya hidup dan menentukan pola perilaku, nilai-nilai, dan sifat-sifat yang sesuai dengan yang diinginkan.
b. Masa Remaja adalah Masa terjadi Perubahan
  • Sejak awal remaja, perubahan fisik terjadi dengan pesat; perubahan perilaku dan sikap juga berkembang. Ada empat perubahan besar yang terjadi pada remaja, yaitu perubahan emosi, peran, minat, pola perilaku (perubahan sikap menjadi ambivalen).
c. Masa Remaja adalah Masa yang Penuh Masalah
  • Masalah remaja sering menjadi masalah yang sulit untuk diatasi. Hal ini terjadi karena remaja belum terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain. Akibatnya, terkadang terjadi penyelesaian yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
d. Masa Remaja adalah Masa Mencari Identitas
  • Identitas diri yang dicari remaja adalah berupa kejelasan siapa dirinya dan apa peran dirinya di masyarakat. Remaja tidak puas dirinya sama dengan kebanyakan orang, ia ingin memperlihatkan dirinya sebagai individu, sementara pada saat yang sama ia ingin mempertahankan dirinya terhadap kelompok sebaya.
e. Masa Remaja sebagai Masa yang Menimbulkan Ketakutan
  • Ada stigma dari masyarakat bahwa remaja adalah anak yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya, cenderung berperilaku merusak, sehingga menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi kehidupan remaja. Stigma ini akan membuat masa peralihan remaja ke dewasa menjadi sulit, karena orang tua yang memiliki pandangan seperti ini akan selalu mencurigai remaja, sehingga menimbulkan pertentangan dan membuat jarak antara orang tua dengan remaja.
f. Masa Remaja sebagai Masa yang Tidak Realistis
  • Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca matanya sendiri, baik dalam melihat apa adanya, tetapi menginginkan sebagaimana yang ia harapkan.
g. Masa remaja adalah ambang masa dewasa
  • Dengan berlalunya usia belasan, remaja yang semakin matang berkembang dan berusaha member kesan sebagai seseorang yang hampir dewasa. Ia akan memusatkan dirinya pada perilaku yang dihubungkan dengan status orang dewasa, misalnya dalam berpakaian dan bertindak.
h. Masa Remaja sebagai Periode yang Penting
  • Perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada masa awal remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya menbentuk sikap, nilai dan minat baru.

TAHAP PERKEMBANGAN REMAJA

a. Remaja Awal ( Umur 12-15 tahun)
  • Pada tahapan ini, remaja mulai berfokus pada pengambilan keputusan, baik di dalam rumah ataupun di sekolah. Remaja mulai menunjukkan cara berpikir logis, sehingga sering menanyakan kewenangan dan standar di masyarakat maupun di sekolah. Remaja juga mulai menggunakan istilah istilah sendiri dan mempunyai pandangan, seperti : olahraga yang lebih baik untuk bermain, memilih kelompok bergaul, pribadi seperti apa yang diinginkan, dan mengenal cara untuk berpenampilan menarik.
b. Remaja Menengah ( Umur 15-18 tahun )
  • Pada tahap ini terjadi peningkatan interaksi dengan kelompok, sehingga tidak selalu tergantung pada keluarga dan terjadi eksplorasi seksual. Dengan menggunakan pengalaman dan pemikiran yang lebih kompleks, pada tahap ini remaja sering mengajukan pertanyaan, menganalisis secara lebih menyeluruh, dan berpikir tentang bagaimana cara mengembangkan identitas “Siapa saya ?”. Pada masa ini remaja juga mulai mempertimbangkan kemungkinan masa depan, tujuan, dan membuat rencana sendiri.
c. Remaja akhir ( Umur 18-21 tahun )
  • Pada tahap ini remaja lebih berkonsentrasi pada rencana yang akan datang dan meningkatkan pergaulan. Selama masa remaja akhir, proses berpikir secara kornpleks digunakan untuk memfokuskan diri, masalah-masalah idealisme, toleransi, keputusan untuk karier dan pekerjaan, serta peran orang dewasa dalam masyarakat ( Hurlock, 1994 ).

PSIKOLOGI REMAJA
  • Menurut Monks (2005), perkembangan psikologis adalah suatu proses yang menuju kedepan dan tidak dapat diulang kembali dengan proses yang dinamis, dimana proses tersebut antara individu dan sifat lingkungan akhirnya menemtukan tingkah laku apa yang akan diaktualisasidan dimanifestasi. Perkembangan psikologis ini disebabkan oleh faktor-faktor umum yang mempengaruhi proses perkembangan atau perubahan yang terjadi dalam diri pribadi seseorang. Menurut Kartono (2003) perkembngan psikologi diketahui dari tingkah laku manusia yang ditemukan atau dimulai dengan periode masa bayi, anak bermain, anak sekolah, masa remaja, sampai periode adolesens menjelang dewasa.
  • Dilihat dari ilmu psikologi, memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka.
  • Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi – dimensi tersebut.
a. Dimensi Biologis
  • Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba – tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.
  • Pada masa pubertas, hormon seorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH).
  • Pada anak wanita, kedua hormone tersebut merangsang pertumbuhan esterogen dan progesterone, sedangkan pada anak pria, luteinizing hormone yang juga dinamakan Interstitial Cell Stimulating Hormone (ICSH) yang merangsang pertumbuhan testosterone.
b. Dimensi Kognitif
  • Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal. Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah – masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berfikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah membayangkan banyak alternative pemecahan masalah beserta kemungkinan akibatnya atau hasilnya. Kapasitas berfikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berfikir multidimensi seperti ilmuwan.
  • Pada kenyataan, dinegara – negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa diakibatkan system pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berfikir anak. Penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasaan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berfikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi.
c. Dimensi Moral
  • Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi dilingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukannilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah – masalah populer yang berkenaan dengan
  • lingkungan mereka, misalnya : politik, kemanusiaan, perang, keadaan social . Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolute yang diberikan pada mereka selama ini.
  • Kemampuan berfikir dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada disekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekontruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru.
d. Dimensi Psikologis
  • Seorang psikolog mengungkapkan bahwa sangat penting untuk membuat perbedaan anatara psikologis laki – laki dan perempuan, karena keduanya secara fisiologis memang memiliki perbedaan lebih lanjut, ia membangun kasus yang berhubungan dengan peran neurohormon (hormone perilaku) terhadap perbedaan otak perempuan dan laki – laki. Peran Neurohormon tersebut mendominasi sebagai neurotransmitter, sehingga “bermain” dalam perkembangan fungsi otak.
  • Pengaruh neurohormon berkaitan dengan perbedaan struktur antara laki – laki dan perempuan termasuk area dan sirkuit otak yang terlibat saat diberi tugas tertentu. Perbedaan hormone dicatat sebagai fakta bahwa proses rangsangan otak perempuan dan laki – laki ketika mendengar, melihat dan mengukur perasaan orang lain terjadi dengan cara berbeda.
  • Struktur otak menentukan fungsi dan erat hubungannya dengan peran neurohormon. Misalnya hipotalamus yang terlihat dalam fungsi memori dan emosi, biasanya lebih besar pada otak perempuan daripada otak laki – laki. Disisi lain pusat otak yang berkaitan dengan serangan naluriah, biasanya lebih besar dari otak laki-laki. Beberapa neuhormon yang mempengaruhi otak dalam kehidupan seeorang perempuan adalah esterogen, progesterone, dan oksitosin ( Kartono, 2003 ).
TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA
  • Menurut ( Hurlock,1989 )tugas perkembangan masa remaja, antara lain :
  1. Mengembangkan perilaku sosial yang bertanggung jawab.
  2. Persiapan tentang tugas- tugas dan tanggung jawab kehidupan berkeluarga.
  3. Menerima keadaan tubuhnya dan menggunakan secara efektif.
  4. Memperoleh kebebasan emosional dari orang tua.
  5. Untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi.
  6. Memiliki dan mempersiapkan diri untuk mandiri dan pekerjaan.
  7. Mempersiapkan diri untuk perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
  8. Mengembangkan dan membentuk konsep-konsep moral.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Alimul, A. 2008. Metode Penelitian Keperawatan Tekhnik Analisa data. Jakarta : Salemba Medika
  2. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
  3. Candra Dewi, N. 2009. Bagaimana Mekanisme Pernapasan pada manusia. Jakarta : PT. Intan Pariwara
  4. Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika
  5. Hurlock, E. 2004. Psikologi perkembangan. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga
  6. Istiqomah, U. 200. Upaya Menuju Generasi Tanpa Rokok. Surakarta: Seti Aji
  7. Monks. 1994. Psikologi perkembangan. Edisi kesembilan. Yogyakarta: UGM
  8. Niven, N. 2002. Psikologi Kesehatan. Jakarta : EGC
  9. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
  10. Notoatmodjo, S., 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta
  11. Notoatmodjo, S., 2009. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
  12. Nursalam. 2003. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba medika.
  13. Nursalam.,2008. Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba medika.
  14. Purwanto, H. 1999. Pengantar Perilaku Manusia. Jakarta: EGC
  15. Rakhmat, J. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  16. Rasmun . 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga. Jakarta : Sagung Seto.
  17. Sugiyono. 2002. Statistik Untuk Penelitian. Bandung :Alfabeta
  18. Widayatun, T. 2009. Ilmu Perilaku. Jakarta: Sagung Seto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar