PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 21 Juli 2011

PERKEMBANGAN BALITA, PROSES DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Dr. Suparyanto, M.Kes

PERKEMBANGAN BALITA, PROSES DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

DEFINISI PERKEMBANGAN
  • Perkembangan (development) adalah pola perubahan yang dimulai sejak pembuahan, yang berlanjut sepanjang rentang hidup (Santrock, 2007).
  • Perkembangan (development) adalah peningkatan kemampuan dalam hal struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks (Heru.S, 2009).
  • Perkembangan ialah pola gerakan atau perubahan yang berlangsung sepanjang semasa hidup, dan dipengaruhi oleh proses-proses biologis, kognitif, dan sosialemosional yang saling mempengaruhi (Santrock, 2002).
  • Perkembangan merupakan hal yang terartur dan mengikuti rangkaian tertentu yang terarah dan berlangsung terus menerus, dalam pola yang konsisten dan kronologis (Potter & Perry, 2005).

FAKTOR –FAKTOR PERKEMBANGAN
  • Menurut Soetjiningsih, secara umum faktor yang berpengaruh pada perkembangan adalah sebagai berikut :
a. Genetic
  • Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui intruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang. Termasuk faktor genetik antara lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis kelamin, dan suku.
b. Faktor lingkungan pada waktu masih di dalam kandungan (faktor prenatal).
  • Faktor prenatal yang berpengaruh antara lain:
1. Gizi ibu pada waktu hamil
  • Gizi ibu hamil yang jelek sebelim terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menyebabkan bayi BBLR (berat badan lahir rendah) atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan. Disamping itu dapat pula menyebabkan hambatan pertumbuhan otak janin, anemia pada bayi baru lahir, mudah terkena infeksi, abortus, dan sebagainya.
2. Factor mekanis
  • Trauma dan cairan air ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan. Demikian pula pada posisi janin pada uterus dapat mengakibatkan talipes, dislokasi panggul, tortikolis congenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
3. Toksin atau zat kimia
  • Masa organogenesis adalah masa yang sangat peka terhadap zat-zat teratogen. Misalnya obat-obatan seperti thalidomide, phenitoin, methadion, obat-obat anti kanker. Demikian pula dengan ibu hamil yang perokok berat atau peminum alcohol kronis dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya.
4. Endokrin
  • Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin adalah somamotropin, hormon plasenta, hormon tiroid, insulin dan peptide-peptida lain dengan aktivitas mirip insulin. Cacat bawaan sering terjadi pada ibu diabetes yang tidak mendapat pengobatan, umur ibu kurang dari 18 tahun/lebih dari 35 tahun, defesiensi yodium pada waktu hamil.
5. Radiasi
  • Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya. Sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat mengakibatkan cacat bawaan pada anaknya.
6. Infeksi
  • Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH (Toxoplasmosis. Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex). Sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, lues, HIV, polio, campak, dan virus hepatitis.
7. Stress
  • Stress yang dialami ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
8. Imunitas
  • Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
9. Anoksia embrio
  • Menurunnya oksigenjanin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan berat badan lahir rendah.

c. Faktor lingkungan setelah lahir (faktor postnatal)
  • Lingkungan postnatal dapat digolongkan menjadi :
1. Lingkungan biologis, meliputi:
  1. Ras: Pertumbuhan somatic juga dipengaaruhi oleh ras/suku bangsa.
  2. Jenis kelamin: Dikatakan anak laki-laki lebih sering sakit dibandingkan anak perempuan tetapi belum diketahui secara pasti penyebabnya.
  3. Umur: Umur yang paling rawan adalah masa balita, oleh karena itu masa itu anak mudah sakit dan mudah terkena kurang gizi. Disamping itu masa balita merupakan dasar pembentukan kepribadian anak.
  4. Gizi: Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak berebeda dengan orang dewasa karena makanan bagi anak dibutuhkan juga untuk pertumbuhan dimana pengaruhi oleh ketahanan makanan keluarga.
  5. Perawatan kesehatan: Perawatan kesehatan yang teratur dan menimbang anak secara rutin setiap bulan akan menunjang tumbuh kembang anak.
  6. Kepekaan terhadap penyakit: Dengan memberikan imunisasi maka diharapkan anak terhindar dari penyakit-penyakit yang sering menyebabkan cacat atau kematian.
  7. Penyakit kronis: Anak yang mengalami penyakit menahun akan terganggu perkembangan, dan pendidikannya, disamping itu anak menjadi mudah stress akan penyakitnya.
  8. Fungsi metabolisme: Karena danya perbedaan yang mendasar pada proses metabolisme pada berbagai umur maka kebutuhan akan berbagai nutrien harus didasarkan perhitungan yang tepat.
  9. Hormon: Hormone yang berpengaruh pada tumbuh kembang natara lain adalah somamotropin, tiroid, hormone seks, insulin dan hormone yang dihasilkan kelenjar adrenal.

2.Faktor fisik, meliputi :

a. Cuaca
  • Musim kemarau yang panjang dapat berdampak pada tumbuh kembang anak akibat gagalnya panen banyak anak menderita kurang gizi.
b. Sanitasi
  • Sanitasi lingkungan memiliki peran cukup dominan dalam penyediaan lingkungan yang mendukung kesehatan anak dan tumbuh kembangnya. Kebersihan diri dan lingkungan yang kurang akan menyebabkan anak mudah sakit
c. Keadaan rumah
  • Struktur bangunan, ventilasi, cahaya, dan kepadatan hunian
d. Radiasi
  • Tumbuh kembang anak dapat terganggu karena danya radiasi tinggi.

3. Faktor psikososial, meliputi:

a. Stimulasi
  • Merupakan hal yang penting dalam tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat stimulus teratur lebih cepat berkembang dari pada yang kurang/tidak mendapat stimulus.
b. Motivasi belajar
  • Motivasi belajar dapat ditumbulkan secaraa dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar misalnya lingkungan sekolah yang tidak terlalu jauh, suasana yang menyenangkan.
c. Ganjaran atau hukuman yang wajar
  • Ganjaran akan menimbulkan motivasi yang besar dan kuat bagi anak untuk mengulangi tingkah lakunya jadi jika anak berbuat benar berilah ganjaran sepeerti pujian, ciuman, atau tepuk tangan.
d. Kelompok sebaya
  • Untuk proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya. Tetapi perhatian orang tua tetap dibutuhkan untuk memantau dengan siapa anak bergaul.
e. Stress
  • Stress juga dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak misalnya akan menari diri, rendah diri, terlambat bicara, dan nafsu makan menurun
f. Sekolah
  • Dengan adanya program pemerintah yang memikirkan perkembangan anak sejak dini dengan mulai digalakkannya pendidikan anak usia dini maka, diharapkan generasi penerus akan lebih baik lagi
g. Cinta dan kasih saying
  • Salah satu hak anak adalah untuk dicintai dan dilindungi. Anak memerlukan kasih sayang dan perlakuan adil dari orang tuanya.
h. Kualitas interaksi anak-orang tua.
  • Interaksi timbal balik antara orang tua dan anak akan menimbulkan keakraban dalam keluarga. Anak akan terbuka dengan kedua orang tuanya sehingga komunikasi dua arah bisa berlangsung optimal.

4. Faktor keluarga dan adat istiadat, meliputi:

a. Pekerjaan atau pendapatan keluarga
  • Yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhhan anak baik primer ataau sekunder
b. Pendidikan orang tua
  • Dengan pendidikan orang tua yang baik maka orang tua dapaat menerima segela informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan, dan pendidikannya
c. Jumlah saudara
  • Jumlah anak yang banyak pada keluaraga dengan social ekonomi cukup akan mengkibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak
d. Jenis kelamin dalam keluarga
  • Pada masyrakat tradisional wanita mempunyai status yang lebih rendah disbanding laki-laki sehingga angka kematian bayi, dan malnutrisi masih tinggi pada wanita.
e. Stabilitas rumah tangga
  • Stabilitas dan keharmonisan rumah tangga mempengruhi tumbuh kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga yang harmonis dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
f. Kepribadian orang tua
  • Kepribadian ayah dan ibu yang terbuka tentu akan mempengaruhi pola tumbuh kembang anak
g. Adat-istiadat
  • Adat istiadat yang berlaku ditiap daerah akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Demikian pula dengan norma-norma yang berlaku dimasyarakat
h. Agama
  • Pengajaran agama harus suadah ditanamkan pada anak sedini mungkin, karena dengan pengetahuan agama yang baik akanmenuntun anak untuk berbuat kebaikan dan kebajikan.
i. Urbanisasi dan kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak dan anggaran.

PROSES PERKEMBANGAN
  • Pola perkembangan manusia dihasilkan oleh hubungan dari beberapa proses biologis, kognitif, dan sosioemosional.
a. Proses Biologis
  • Meliputi perubahan pada sifat fisik individu. Plasma pembawa sifat keturunan (genes) diwarisi dari orang tua, perkembangan otak, pertambahan tinggi dan berat, perubahan pada keterampilan motorik, perubahan hormon pubertas, dan penurunan jantung semuanya mencerminkan peran prose biologis dalam perkembangan.
b. Proses Kognitif
  • Meliputi perubahan pada pemikiran, intelegensi, dan bahasa individu. Memandang benda berwarna yang berayun-ayun diatas tempat tidur bayi, merangkai satu kalimat yang terdiri ats dua kata, menghafal syair, dan memecahkan suatu teka-teki silang semuanya mencerminkan peran proses kognitif dalam perkembangan.
c. Proses sosioemosional
  • Meliputi perubahan pada relasi individu dengan orang lain, perubahan pada emosi, dan perubahan pada kepribadian. Senyum seorang bayi dalam merespons sentuhan ibunya, serangann agresif seorang anak laki-laki kecil terhadap teman mainnya, kegembiraan seorang remaja atas pesta dansa semuanya mencerminkan peran proses sosioemosional dalam perkembangan (Santrock, 2007)

PERIODE PERKEMBANGAN
  • Klasifikasi periode perkembangan yang paling luas digunakan meliputi urutan sebagai berikut :
a. Periode prakelahiran (prenatal period)
  • Periode dari pembuahan hingga kelahiran. Periode ini merupakan masa pertumbuhan yang luar biasa dari satu sel tunggal menjadi organisme yang sempurna dengan kemampuan otak dan perilaku yang dihasilkan kira-kira dalam periode 9 bulan.
b. Masa bayi (Infancy)
  • Periode perkembangan yang terentang dari kelahiran hingga 18 atau 24 bulan. Masa bayi adalah suatu masa yang sangat tergantung pada orang dewasa. Banyak kegiatan psikologis hanyalah permulaan misalnya bahasa, pemikiran simbolis, koordinasi sensorimotor dan belajar social.
c. Masa awal anak-anak (early childhood)
  • Periode perkembangan yang terentang dari akhir masa bayi hingga usia kira-kira 5 atau 6 tahun, periode ini kadang-kadang disebut “tahun-tahun prasekolah”. Selama masa ini anak-anak kecil belajar semakin mandiri dan menjaga diri mereka sendiri, mengembangkan keterampilan kesiapan bersekolah (mengikuti perintah, mengidentifikasi huruf), dan meluangkan waktu berjam-jam bermain dengan teman sebaya. Kelas satu secara umum menandai akhir akhir masa akhir masa awal anak-anak.
d. Masa pertengahan dan akhir anak-anak (middle end late childhood)
  • Periode perkembangan yang terentang dari usia kira-kira 6 hingga 11 tahun yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Keterampilan-keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, dan berhitung telah dikuasai. Anak secara formal berhubungan dengan dunia yang lebih luas dan kebudayaanya. Prestasi menjadi tema yang lebih sentral dari dunia anak dan pengendalian diri mulai meningkat.
e. Masa remaja (adolescence)
  • Periode perkembangan transisi dari masa anak-anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira-kira 10-12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Masa remaja bermula dengan perubahan fisik yang cepat, pertambahan tinggi dan berat badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, dan perkembangan pinggang dan dalamnya suara. Pada masa perkembangan ini pencapaian kemandirian dan identitas sangat menonjol, pemikiran semakin logis, abstrak, dan idealistis dan semakin banyak waktu diluangkan diluar rumah.
f. Masa awal dewasa (early adulthood)
  • Periode perkembangan yang bermula pada akhir usia belasan tahun atau awal usia duapuluhan tahun dan berakhir pada usia tigapuluhan tahun. Ini adalah masa pembentukan kemandiran pribadi dan ekonomi, masa perkembangan karir, dan bagi banyak orang, masa pemilihan pasangan, belajar hidup dengan seorang secara akrab, memulai keluarga, dan mengasuh anak-anak.
g. Masa pertengahan dewasa (Middle adulthood)
  • Periode perkembangan yang bermula pada usia kira-kira 35 hingga 45 tahun dan terentang hingga usia enampuluhan tahun. Ini adalah masa untuk memperluas keterlibatan dan tanggung jawab pribadi dan social, membantu generasi berikutnya menjadi individu yang berkompeten, dewasa dan mencapai serta mempertahankan kepuasaan dalam karir seseorang
h. Masa akhir dewasa (late adulthood)
  • Periode perkembangan yang bermula pada usia enampuluhan atau tujuhpuluhan tahun dan berakhir pada kematian. Ini adalah masa penyesuaian diri atas berkurangnya kekuatan dan kesehatan. (Santrock, 2007)

TEORI PERKEMBANGAN MASA
  • Perkembangan anak merupakan topic yang rumit dan memiliki banyak aspek. Tidak ada satu teori pun yang dapat menjelaskan seluruh aspek perkembangan anak. Tiap teori menyumbang satu keping penting bagi perkembangan anak. Lima perspektif teoritis dalam perkembangan:
a. Teori Psikoanalisis
  • Menggambarkan perkembangan sebagai sesuatu yang biasanya tidak disadari (diluar kesadaran) dan diwarnai oleh emosi. Ahli teori psikoanalisis juga menekankan bahwa pengalaman dini dengan orang tua secara signifikan membentuk perkembangan. Karakteristik ini ditekankan dalam teori psikoanalisis dari Sigmund Freud. Freud menyatakan bahwa manusia melalui lima tahap perkembangan, tiga perkembangan dimasa anak-anak :
  1. Tahap oral, terjadi selama 18 bulan pertama kehidupan dimana kesenangan bayi terpusat disekitar mulut
  2. Tahap anal terjadi antara umur 1,5 tahun dan 3 tahun dimana kesenangan terbesar anak melibatkan anus atau fungsi pembuangan yang dihubungkan dengannya
  3. Tahap phallic terjadi anatar umur 3 hingga 6 tahun kesenangan berfokus pada alat kelamin saat anak laki-laki dan perempuan menyadari bahwa manipulasi diri itu menyenangkan.
  4. Tahap latency yang terjadi antara sekitar usia 6 tahun hingga masa puber. Selama masa ini anak menekan keinginan seksual dan mengembangkan keterampilan social dan intelektual.
  5. Tahap genital yang terjadi mulai masa puber dan seterusnya. Tahap genital adalah saat kebangkitan seksual, sumber kesenangan seksual menjadi seseorang diluar keluarga.

  • Dalam teori Erikson terdapat delapan tahap perkembangan sepanjang hidup manusia, dan tiga tahap perkembangan dimasa awal anak-anak yaitu :
  1. Kepercayaan versus ketidakpercayaan dialami pada tahun pertama kehidupan. Rasa percaya melibatkan rasa nyaman secara fisik dan tidak ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan.
  2. Otonomi versus rasa malu dan ragu-ragu, tahap ini terjadi pada masa bayi akhir dan masa awal kanak-kanak (1-3 tahun). Mereka mulai menyatakkan kemandirian mereka, dan menyadari keinginan mereka. Jika anak terlalu dibatasi atau dihukum dengan keras, mereka mungkin memunculkan rasa malu dan ragu-ragu.
  3. Inisiatif versus rasa bersalah terrjadi selama tahun prasekolah. Begitu anak prasekolah memasuki dunia social yang lebih luas mereka menghadapi lebih banyak tantangan dan anak diminta untuk memikirkan tanggung jawab. Mengembangkan rasa tanggung jawab meningkatkan inisiatif. Meskipun demikian rasa bersalah yang tidak nyaman dapat muncul, jika anak tidak bertanggung jawab.
  4. Kerja keras versus rasa inferior terjadi sekitar tahun sekolah dasar. Inisiatif anak membawa mereka berhubungan dengan banyak pengalaman baru. Diwaktu yang sama pula anak menjadi lebih antusias mengenai belajar dibandingkan dengan akhir periode anak-anak yang penuh imajinasi.
  5. Identitas versus kebingungan identitas yang dialami selama masa remaja. Pada masa ini individu dihadapkan pada penemuan diri, tentang siapa diri mereka sebenarnya dan kemana mereka akan melangkah dalam hidup ini.
  6. Keintiman versus isolasi yang dialami seseorang selama masa dewasa awal. Pada masa ini individu menghadapi tugas perkembangan yaitu membentuk hubungan dengan orang lain. Jika para dewasa muda membentuk persahabatan yang sehat dan hubungan akrab dengan orang lain keintiman akan tercapai jika tidak adalah isolasi diri.
  7. Generativitas versus stagnasi yang dialami seseorang pada masa dewasa tengah. Pada tahap ini kepedulian utamanya adalah membantu generasi yang lebih muda dalam mengembangkan dan mengarahakan kehidupan menjadi berguna.
  8. Integritas versus kepuasan yang dialami seseorang pada masa dewasa akhir. Dalam tahap ini seseorang bercermin pada masa lalu dan menyimpulkan bahwa ia telah menjalani hidup dengan baik, atau sebaliknya.

b. Teori Kognitif
  • Teori perkembangan kognitif Piaget menyatakan bahwa anak secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat tahap perkembangan kognitif. Piaget juga percaya bahwa kita melalui emapat tahap dalam memahami dunia, dan dua diantaranya dimasa anak-anak.
  1. Tahap sensorimotor yang berlangsung mulai dari lahir hingga usia 2 tahun dan merupakan tahap perkembangan pertama Piaget. Dalam tahap ini, anak membangun pemahaman mengenai dunia ini dengan mengkoordinasikan pengalaman sensoris dengan tindakan fisik dan motorik.
  2. Tahap praoperasional berlangsung sekitar usia 2 hingga 7 tahun, pada tahap ini anak menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar, dan lukisan. Kata-kata dan gambar ini mencerminkan meningkatkan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik.
  3. Tahap operasional konkrit yang berlangsung mulai dari sekitar 7 hingga 11 tahun. Dalam tahap ini anak dapat melakukan operasi dan penalaran logis menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan.
  4. Tahap operasional formal yang muncul antara 11 hingga 15 tahun. Pada tahap ini individu lebih melampaui pengalaman konkret dan berpikir dalam istilah yang abstrak dan lebih logis. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin terjadi didepan. Dalam memecahkan masalah mereka lebih sistematis.

c. Teori Perilaku dan Sosial-Kognitif
  • Merupakan jenis teori perilaku yang mempertimbangkan pikiran seseorang. Teori tersebut menyatakan bahwa perilaku, lingkungan, dan orang/kognisi merupakan factor penting dalam perkembangan.

d. Teori Etologi
  • Teori etologi ini memandang bahwa perilaku sangat dipengaruhi oleh biologi dan evolusi. Teori ini juga menekankan bahwa kepekaan kita terhadap jenis pengalaman yang beragam berubah sepanjang rentang kehidupan. Dengan kata lain, ada periode kritis atau sensitive bagi beberapa pengalaman. Jika kita gagal mendapat pengalaman selama periode sensitive tersebut.

e. Teori Ekologis
  • Merupakan pandangan Bronfenbrenner bahwa perkembangan dipengaruhi oleh sistem lingkungan, berkisar dari lima konteks kasar mengenai interaksi langsung dengan orang-orang hingga konteks budaya berdasar luas. Lima sistem dalam teori Bronfenbrenner yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronisistem.

DAFTAR PUSTAKA


  1. Adallila, S. 2010. Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini. http://sadidadallila.wordpress.com (diakses 17 Mei 2011)
  2. Ahmad, Rofiq. 2008. Perkembangan Menurut DDST II. http://rofiqahmadwordpress.com (diakses 18 Mei 2011)
  3. Alimul, Aziz. 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta
  4. Arikunto. S, 2003. Prosuder Penelitian. Rineka: Jakarta
  5. Aspi, J. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia dan Target Capaian PAUD. http://www.tunasbangsaku-tk/. (diakses 9 Mei 2011)
  6. Dirjen PNFI. 2009. Depdiknas Siapkan Standarisasi PAUD. http://www.aspijatim.blogspot.com (diakses 9 Mei 2011)
  7. Fakhruddin, A.U. 2010. Sukses menjadi Guru TK-PAUD. Bening. Yogyakarta
  8. Hasan, M. 2009. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Diva Press. Yogyakarta
  9. Hasan, Iqbal. 2010. Analisa Data Penelitian Dengan Statistik. Bumi Aksara: Bandung
  10. Kharimaturrohmah. 2009. Laporan UNESCO Mengenai Pendidikan Untuk Semua. http://www.fpaudi.org/index. (diakses 17 Mei 2011)
  11. Nursalam, 2003. Konsep Ilmu Keperawatan Pedoman Skirpsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta
  12. Notoatmojo, S. 2005. Prosuder Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta
  13. Potter & Perry, 2005. Perkembangan Anak. EGC: Jakarta
  14. Santoso, Heru. 2009. Petunjuk Praktis Denver Developmental Screening Test. EGC: Jakarta
  15. Santrock, J.W. 2002. A Tropical Approuch to Life-Span Development Perkembangan Masa Hidup. Boston, Mc. Graw Hill
  16. Santrock, J. W. 2007. Perkembangan Anak. Boston, Mc. Graw Hill
  17. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. EGC: Jakarta
  18. Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta: Bandung
  19. Suyanto. 2009. Riset Kebidanan. Mitra Cendika Press: Yogyakarta
  20. Dosen Prodi STIKES Aisyiyah Yogyakarta. 2009. Jurnal Kebidanan Dan Keperawatan. STIKESAYO: Yogyakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar