PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Jumat, 25 April 2014

AIR BERSIH DAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI

Dr. Suparyanto, M.Kes



AIR BERSIH DAN BAKTERI ESCHERICHIA COLI
2.3.2    Syarat Air Bersih
A.  Persyaratan Fisika
Air yang berkualitas baik harus memenuhi persyaratan fisik seperti berikut :
1.  Jernih atau tidak keruh (kekeruhan)
Air yang keruh disebabkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari bahan tanah liat. Semakin banyak kandungan koloid maka air semakin keruh. Derajat kesatuan dinyatakan dengan satuan unit.
2.  Tidak berwarna (warna)
Air untuk keperluan rumah tangga harus jernih. Air yang berwarna berarti mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi kesehatan.
3.  Rasa
Secara fisika, air bisa dirasakan oleh lidah. Air yang terasa asam, manis, pahit, atau asin menunjukkan bahwa kualitas air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam organik maupun asam anorganik.
4.  Tidak berbau
Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan-bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi (penguraian) oleh mikroorganisme air.

5.  Temperatur normal (suhu)
Air yang baik harus memiliki temperatur sama dengan tempertur udara (20°C sampai dengan 60°C). Air yang secara mencolok mempunyai temperatur di atas atau di bawah temperatur udara berarti mengandung zat-zat tertentu (misalnya fenol yang terlarut di dalam air cukup banyak) atau sedang terjadi proses tertentu (proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang menghasilkan energi) yang mengeluarkan atau 17  menyerap energi dalam air.
6.  Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS)
TDS biasanya tersdiri atas zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Bila TDS bertambah maka kesadahan akan naik. Efek TDS ataupun kesadahan terhadap kesehatan tergantung pada spesies kimia penyebab masalah tersebut.
B. Persyaratan Kimia
Kualitas air tergolong baik bila memenuhi persyaratan kimia menurut berikut ini :
1.  pH netral
Derajat keasaman air harus netral, tidak boleh bersifat asam maupun basa. Air yang mempunyai pH rendah akan bersifat asam, sedangkan pH tinggi akan bersifat basa. Air yang murni mempunyai pH = 7, pH di bawah 7 akan bersifat asam sedangkan pH di atas 7 akan bersifat basa.
2.  Tidak mengandung bahan kimia beracun
Air yang berkualitas baik tidak mengandung bahan kimia beracun  seperti sianida, sulfida, fenolik.
3.  Tidak mengandung ion-ion logam
Air yang berkualitas baik tidak mengandung garam atau ion logam seperti Fe, Mg, Ca, K, Hg, Zn, Mn, Cl, Cr, dan lain-lain.
4.  Kesadahan rendah
Tingginya kesadahan berhubungan dengan garam-garam yang terlarut di dalam air terutama garam Ca dan Mg.
5.  Tidak mengandung bahan organik
Kandungan bahan organik dalam air dapat terurai menjadi zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Bahan-bahan organik itu seperti, NH_4,   dan .
C. Persyaratan Mikrobiologi
Persyaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air dapat diketahui melalui uji bakteriologis. Pada umumnya uji bakteriologis yang harus dipenuhi oleh air sebagai berikut (Pitojo dan Purwantoyo, 2003) :
1.  Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya bakteri Escherichia coli, Shigella dysenteriae, Salmonella typhi, Salmonella parathypi, Vibrio cholerae. Bakteri-bakteri ini mudah tersebar melalui air (transmitted by water).
2.  Tidak mengandung bakteri non-patogen, seperti Actinomycetes, Phytoplankton coliform, Ciadocera, Coliform, Fecal streptococci, Iron bakteri.
D. Persyaratan Radioaktif
Apapun bentuk radioaktivitas efeknya adalah sama, yakni menimbulkan kerusakan pada  sel yang terpapar (Purbowarsito 2011).



2.4  Escherichia coli
Bakteri merupakan mikroorganisme bersel tunggal yang memiliki kemiripan dengan sel tanaman, tetapi tidak memiliki klorofil. Bakteri berbentuk batang dikenal dengan nama bacil, sedangkan yang berbentuk bulat digolongkan dalam bentuk coccus. Bentuk bakteri spiral dikenal sebagai sprillum (Purnawijayanti 2001, h. 53). Bakteri Escherichia coli merupakan bakteri fakultatif anaerobik bersifat Gram negatif, berbentuk batang termasuk dalam family Enterobacteriaceae. Bakteri yang ditemukan oleh Theodor Escherich ini dapat ditemukan dalam usus besar pada manusia dan hewan sebagai flora normal. Pertama dijumpai pada tahun 1885, bakteri ini kemudian dikenal bersifat komensal maupun berpotensi patogen. Bakteri Escherichia terdiri dari 2 spesies yaitu: Escherichia coli dan Escherichia hermanii. Eschericia coli bersifat unik karena dapat menyebabkan infeksi pada usus (Jawetz et al 1994, h. 163). Kebanyakan tempat yang sering mengalami infeksi klinis adalah saluran air kemih, sistem biliary dan tempat lain dalam rongga perut tetapi beberapa tempat anatomi (bakteremia, kelenjar prostat, paru-paru, tulang, meningen) dapat menjadi tempat penyakit (Brooks G F et al  2005, h. 357). Bila Escherichia coli masuk di organ lain misalnya saluran kemih, akan menyebabkan penyakit yaitu infeksi saluran kemih (Arisman 2012, h. 93).
2.4.1   Klasifikasi Bakteri Escherichia coli
Escherichia coli dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom        : Bacteria
Filum              : Proteobacteria
Kelas              : Gamma Proteobacteria
Ordo                : Enterobacteriales
Famili             : Enterobacteriaceae
Genus            : Escherichia
Spesies         : Escherichia coli
2.4.2    Morfologi Escherichia coli
Escherichia coli adalah kuman berbentuk batang pendek Gram negatif dengan ukuran 0,4 – 0,7 µm X 1 - 4 µm, sebagian besar gerak positif dan beberapa strain mempunyai kapsul (Jawetz et al 1994, h. 163). Tumbuh pada suasana aerobic atau fakultatif an-aerobic. Escherichia coli mempunyai sifat menekan pertumbuhan bakteri “proteolitik” yang lain dalam usus, memproduksi polipeptida yang bersifat baktericidal yang disebut “Colicin” yang bisa membunuh bakteri lainnya yang tidak bertanggung jawab, produksi vitamin B komplek dalam usus manusia, Colicin mirip Marcescim pada bakteri Serratia (Ratnasari, E dan Rosmiyyati, A 2011).
suhu e coli 150x150 Efek Pendinginan & Pemanasan pada Populasi Bakteri E. Coli
Gambar 2.1 Escherichia coli
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/29/Shigella_stool.jpg
Gambar 2.2 Pewarnaa Gram Escherichia coli

2.4.3   Fisiologi
Escherichia coli tumbuh baik hampir pada semua media yang biasa dipakai di laboraturium Mikrobiologi, pada media yang dipergunakan untuk isolasi bakteri enterik, sebagian besar strain Escherichia coli tumbuh sebagai koloni yang meragi laktosa. Escherichia coli bersifat mikroaerofilik. Beberapa strain bila ditanam pada agar darah menunjukkan hemolisis tep beta pada media EMB menghasilkan warna kemilau “metallic sheen green”. Beberapa tes biokimia yang dipakai untuk diagnostik bakteri Escherichia coli (Dikutip dari G.I. Barrow and R.K.A. Feltham 1993, hh. 135-136).
                                  Tabel 2.1 : Tes Uji biokimia
TES
REAKSI
Motilitas
-/+
Pigmen Kuning
-
Pigmen Merah
-
MacConkay
+
Simmons’ citrate
-
Christensen’s citrate
-/+
Urea
-
Gelatin hydrolysis
-
Growth in KCN medium
-
H2S (PbAc paper)
-
H2S from TSI
-
Gluconate
-
Malonate
-
ONPG
-/+
Phenylalanine
-
Arginine dihydrolase
-/+
Lysin dihydrolase
-/+
Ornithine decarboxylase
-/+
Selenite reduction
-/+
Casein hydrolysis
-
DNase production
-
Carbohydrates (water pepton medium), Gas Glucosa
-/+
Adonitol
-
Arabinose
+
Cellobiose
-
Dulcitol
-/+
Glycerol
+
Inositol
-
Lactosa
-/+
Maltosa
+
Mannitol
+
Raffinose
-/+
Rhamnose
+
Salicin
-/+
Sorbitol
+
Sucrosa
-/+
Trehalose
+
Xylose
+
Starch
-
MR tes (37°C) 2hari
+
MR tes (37°C) 4hari
+
VP tes (37°C) 2hari
-
VP tes (37°C) 4hari
-
Indole
+
Sumber : G.I. Barrow and R.K.A.Feltham 1993


2.4.4    Habitat
Habitat Escherichia coli hidup sebagai flora normal pada usus manusia dan hewan, tapi dapat ditemukan pada tumbuhan, sayuran atau buah-buahan yang tercemar. Escherichia coli flora normal keluar melalui tinja, bila keluar usus (bila sering) akan menjadi patogen yang dapat menyebabkan infeksi saluran kencing. Lainnya dapat menyebabkan meningitis, septicemia, endocarditis, dermatitis. Escherichia coli yang patogen diusus dilihat dari antigennya, misalnya Entero Pathogenic Escherichia coli (EPEC). Perbedaannya dengan Escherichia coli adalah dengan melihat perbedaan struktur antigennya (O Ag dan K Ag). Escherichia coli mempunyai komponen Antigen yaitu : Somatik Ag (O Ag), ada badan bakteri dan bersifat termostabil; Capsuler Ag (K Ag), pada bagian luar bakteri bersifat termolabil; Flagella Ag (H Ag), bersifat termolabil (tidak tahan panas) (Ratnasari, E dan Rosmiyyati, A   2011).
2.4.5    Epidemiologi         
Epidemiologi Escherichia coli enterohemoragik (EHEC) kini merupakan emerging cause keracuanan makanan di Amerika serikat dan Kanada. Reservoir utama Escherichia coli enterohemoragik (EHEC) adalah ternak lembu dan sapi. Di Amerika Serikat, diperkirakan telah terjadi 100.000 kasus pencemaran akibat shiga-toxin-producing Escherichia coli pertahun, dan hampir 50% didominasi oleh galur selain O157:H7. Sementara, Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) dan galur lain menyebabkan angka kesakitan hingga lebih dari 150.000 setahun. Pada tingkat dunia, Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) telah mengakibatkan lebih dari 600 juta kasus diare setahun dengan korban meninggal 700.000 anak balita, terutama di negara berkembang. Traveller’s diarrhoea juga disebabkan oleh Escherichia coli (Arisman 2012, h. 93).
2.4.6    Patogenesis
Patogenesis Escherichia coli sejauh ini, ada 4 kelas Escherichia coli yang bersifat enterovirulen. Keempat kelas tersebut adalah Escherichia coli entero patogenik (EPEC), Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC), Escherichia coli enteroinvasif (EIEC), dan Escherichia coli enterohemoragik (EHEC). Escherichia coli enteropatogenik (EPEC) menyebabkan diare yang parah pada bayi, meskipun mekanismenya belum dapat dijelaskan. Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) menghasilkan dua jenis toksin yang bersifat stabil dan agak labil terhadap panas dan menyebakan diare pada anak dan bayi, yaitu penyakit mirip dengan kolera (di daerah endemis kolera) dan traveller’s diarrhoea (ditularkan lewat air dan makanan). Escherichia coli enteroinvasif (EIEC) menginvasi dan berproliferasi di dalam sel epitel mukosa sehingga tidak jarang menimbulkan colonic epithelial cell death.
1.  Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC)
Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) adalah penyebab utama traveller’s diarrhea dan infantile diarrhea di negara berkembang. Diare pada kasus ini berupa watery diarrhea, dengan gradasi keparahan berkisar dari ringan sampai parah. Patogenesis diare oleh famili Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) berkaitan dengan enterotoksin yang dihasilkannya. Toksin itu sendiri terbagi menjadi heat labile toxins (struktur dan fungsi mirip sekali dengan toksin yang disekresikan oleh Vibrio cholera) dan heat stable toxins.


2.  Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
Escherichia coli enteroinvasif (EIEC) dapat menginfeksi sel-sel epitel mukosa usus sehingga menyebabkan terjadinya watery diarrhea, disentri, demam, muntah, kram, dan nyeri perut hebat, serta tenesmus. Tinja kerap mengandung darah (lekosit dan eritrosit).
3.  Escherichia coli enteropatogenik (EPEC)
Escherichia coli enteroaggregatif (EAEC), dan diffusely adherent Escherichia coli (DAEC) menyebabkan diare berair dan disentri.
4.  Escherichia coli enterohemoragik (EHEC)
 Mampu mengeluarkan shiga like toxins, yang menyebabkan dua macam sindrom, yaitu hemorrhagic colitis dan hemolytic uremic syndrome (HUS) diare berdarah. Toksin ini pula yang bertanggung jawab terhadap gejala sisa sistemik (systemic sequale) akibat penyakit ini (Arisman 2012, hh. 93-94).
2.4.7    Gejala klinis
Inkubasi berlangsung selama 12 jam hingga 3 hari. Gejala timbul 18-48 jam setelah menyantap makanan yang tercemar berupa nyeri dan diare, terkadang disertai oleh demam serta muntah. Beberapa faktor dalam pencegahan infeksi Escherichia coli, seperti keasaman lambung, keutuhan flora, dam motilitas usus. Bayi yang diberikan ASI kemungkinan untuk mengalami diare akibat bakteri tersebut kecil sekali karena di dalam ASI terkandung faktor pelindung (Arisman 2012, hh. 94-95).
1.  Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC)
Periode inkubasi Escherichia coli enterotoksigenik (ETEC) berkisar dari 1-2 hari, kemudian berlanjut dengan timbulnya diare berair (watery diarrhea), tanpa disertai darah, lendir, atau lekosit. Menyebabkan mual hingga muntah, tetapi sebagian besar penderita tidak disertai demam. Penyakit ini bersifat self-limited, biasanya gejala ini akan lenyap sendiri dalam kurun waktu kurang dari 5 hari.
2.  Escherichia coli enteropatogenik (EPEC)
Escherichia coli enteropatogenik (EPEC) yang menyerang terutama bayi dan anak, menyebabkan diare berair. Jika keadaan ini menjadi parah pada anak-anak, akan terjadi dehidrasi yang (seandainya situasi berubah kronik) mengarah pada gagal pertumbuhan.
3.  Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
Gejala yang ditimbulkan oleh Escherichia coli enteroinvasif (EIEC) berkisar dari diare berair ringan (mild watery diarrhea) hingga kolitis hemoragik yang parah. Setelah masa inkubasi 1-5 hari dilalui, diare berair terjadi dan kerap diikuti oleh kram perut serta muntah. Pada kebanyakan pasien, diare berdarah biasanya muncul 1-2 hari setelah gejala pertama timbul, tetapi tidak terkait dengan keberadaan lekosit dalam tinja. Demam sering kali menjangkit sepertiga kasus, sementara penyakit ini berlangsung selama 4-10 hari.
4.  Escherichia coli enterohemoragik (EHEC)
Escherichia coli enterohemoragik (EHEC) tak mungkin diisolasi dari tubuh penderita ketika HUS telah terjadi. Hemolytic-uremic syndrome terdiri atas trias mikroangiopati akibat anemia hemolitik, trombositopenia, dan insufiensi ginjal. Sindrom ini biasanya terjadi pada minggu kedua (kisaran 2-14 hari) perjalanan penyakit, bahkan tidak jarang timbul setelah diare sembuh. Ketika HUS terjadi, penderita tampak pucat, sangat lemah, gelisah, serta oliguri atau anuri pada pemeriksaan. Gagal ginjal kronis (GGK) akan terjadi pada sebanyak 10% penderita HUS. Hemolytic-uremic syndrome adalah penyebab kematian pada 3-5 % penderita GGK (Arisman 2012, hh. 94-95).
2.4.8    Pemeriksaan Laboratoris
Untuk isolasi dan identifikasi kuman Escherichia coli dari bahan pemeriksaan klinik dipakai metode dan media sesuai dengan metode untuk kuman enterik lain. Deteksi sebagian besar strain Escherichia coli patogen memerlukan metode khusus untuk mengidentifikasi toksin yang dihasilkan. Sampai saat ini metode yang ada masih memerlukan tes dengan binatang percobaan dan kultur jaringan yang cukup mahal dan kurang praktis. Beberapa metode baru berdasarkan tes imunologi dan teknik hibridasi DNA sudah dikembangkan, tetapi belum beredar di pasaran luas, misalnya: tes Elisa (enzyme-linked immunosorbent assay) particle agglutination methods Co-agglutination  dengan protein A Staphylococus aureus yang telah berikatan dengan antibodi terhadap enterotoksin Escherichia coli, hibridasi DNA-DNA pada koloni kuman atau langsung pada specimen tinj (Jawetz et al 1994, h. 165).
2.4.9   Penanganan
Penanganan keracunan makanan yang dilatarbelakangi oleh famili Escherichia coli pada prinsipnya serupa dengan pengobatan gastroenteritis bakterial lain, terutama yang bersifat suportif, yaitu mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Pada kasus ringan-sedang cukup diberi ORT (Oral Rehydration Therapy). Jika ORT tak dapat diberikan atau dehidrasi sudah berada pada tingkat yang parah, berikan cairan intravena. Obat antimotilitas tidak diperkenankan, sementara pemberian antibiotik harus menanti hasil biakan. Pengobatan sementara (presumptive therapy) dengan menggunakan antibiotik tidak dianjurkan karena potensi kejadian HUS yang besar, terutama jika berhadapan dengan E.coli 0157:H7 (CS. Wong, 2000). Profilaksis traveler’s diarrhea dengan bismuth subsalisilat, trimetoprim, dan sulfametoksazol pada anak tidak dianjurkan karena potensi akumulasi asam salisilat serta reaksi alergi. Selain itu, belum ada bukti kajian ilmiah terhadap manfaat penggunaan antibiotik untuk pengobatan EHEC dan EIEC (Arisman 2012, h. 96).
2.4.10 Pengobatan
Kuman Escherichia coli yang diisolasi dari infeksi di dalam masyrakat biasanya sensitif terhadap obat-obat antimikroba yang digunakan untuk organisme negatif Gram, meskipun terdapat juga strain-strain resisten, terutama pada pasien dengan riwayat pengobatan antibiotika sebelumnya. Pada pasien-pasien dengan diare, perlu dijaga keseimbangan cairan dan elektrolitnya.
2.4.11 Pencegahan
Anak yang menderita diare akibat E.coli serotipe 0157:H7 tidak diperbolehkan kembali berkumpul dengan teman sebaya sebelum diare membaik dan dua kultur tinja negatif. Bagi mereka yang sering berpergian ke wilayah endemis, traveler’s diarrhea akan tercegah jika mereka tidak  mengkonsumsi es, selada, sayuran mentah, dan buah yang tidak dikupas sendiri. Selain itu, hindari minuman berkarbon dan usahakan tidak mengkonsumsi daging setengah matang (Arisman 2012, h. 97).

DAFTAR PUSTAKA
Arisman 2012, Keracunan Makanan: Buku Ajar Ilmu Gizi, EGC, Jakarta.

Arikunto, S 2010, Prosedur Penelitian, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

Brooks G F, Butel JS, Morse SA. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical 2005. Microbiology. revisi edition. United States: The McGraw-Hill Companies Inc.

Chandra, B. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

Chandra, B 2007, ‘’ Pengantar Kesehatan Lingkungan ’’, EGC, Jakarta.

Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, 2012. Tentang Data Kasus Diare Yang Terjadi Di Jombang.

dr. Suparyanto, M.Kes 2013. Sekilas Tentang Penyakit Diare. Diakses pada tanggal 24 Maret 2014. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2013/05/sekilas-tentang-penyakit-diare.html.

G.I. Barrow and R.K.A. Feltham, 1993. Cowan and Steel Manul For The Identification Of Medical Bacteria. Third Edition. Cambridge University Press.

Effendi Hefni, 2003. Telaah Kualitas Air, Yogyakarta : Kanisius. p 17
Hidrosfer Perairan Darat. 2011. Diakses pada tanggal 9 Februari 2014. http://geoenviron.wordpress.com/2011/12/23/ hidrosfer_perairan-darat

Jawetz E., J. L. Melnick, E. A. Adelberg, G. F. Brooks, J. S. Butel, L. N. Ornston, 1994, Mikrobiologi Kedokteran, ed. 20, University of California, San Francisco.

Katiho.Angela Suryani ,Woodford B.S Joseph, Nancy S.H Malonda. n.d. Gambaran Kondisi Fisik Sumur Gali di Tinjau dari Aspek Kesehatan Lingkungan dan Perilaku Pengguna Sumur Gali di Kelurahan Sumompo Kecamatan Tuminting Kota Manado Diakses pada tanggal 05 Januari 2014. 

ndri.2012.Sungai adalah. Diakses pada tanggal 08 Januari 2014 http://www.pusat-definisi.com/2012/11/sungai-adalah.htm. 

Noor.Djauhari.2012.Genetika Sungai. Diakses pada tanggal 5 Februari 2014. http://Geografi-geografi.blogspot.com/2012/03/ genetika-sungai.html.

Notoatmodjo, S 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, edk rev, Rineka Cipta, Jakarta.

Nursalam, 2011, Konsep Dan Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan, edk rev2, Selemba Medika, Jakarta Selatan.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/Menkes/PER/IV/2010. Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Diakses pada tanggal 10   November 2013http://www.depkes.go.id/index..
                 
Peraturan pemerintah No.82 tahun 2001 tentang pengelolaan kuliatas air dan pengendalian pencemaran air. http://www.slideshare.net/ignoramus/pp-no-82-th-2001-ttg-pengelolaan-kualitas-air-dan-pengendalian-pencemaran-air. Diakses pada tanggal 12 November 2013.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.416/MEN.KES/PER/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air.

Pitojo, s. Purwantoyo, E. 2003. Deteksi Pencemaran Air Minum. Aneka Ilmu. Demak

Purnawijayanti, A 2001,  Sanitasi, Higiene, dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan, Yogyakarta

Purbowarsito, H 2011,”Uji Bakteriologis Air Sumur”, skripsi, universitas Airlangga Surabaya.

Ratnasari.E & Rosmiyyati.A. 2011. Buku Praktikum Bakteriologi, D3 Analis Kesehatan STIKes ICME Jombang

Rekompak n.d -Pedoman Perencanaan Pengadaan Air Bersih Pedesaan Program JRF-Rekompak. Diakses Pada Tanggal 30 Desember 2013 http://www. rekompakjrf.org/download/Pedoman%20Desain%20Penyediaan%20Air%20 Bersih(26-4-10).pdf.

Rismunandar, 2001. Air Fungsi dan Kegunaanya Bagi Pertanian, Bandung : SinarBaru Algaesindo. p 2

Siska 2012. Definisi sungai, danau, rawa, air tanah,dan laut Diakses pada tanggal 19 Desember 2013.http://matakristal. com/definisi-sungai-danau-rawa-air-tanah-dan-laut.

Sugianto Tantri, 2012. Identifikasi Bakteri Patogen. Diakses Pada Tanggal 30 Januari 2013. http://tantri-sugianto.blogspot.com/2012/07/v-behaviorurl defaul tvmlo.html.

Suriawiria, U 2008, Mikrobiologi Air, PT. Alumni, Bandung.


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar