PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PENYAKIT DIARE

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT DIARE

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari.

Pada umumnya masalah penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan yang masih merupakan masalah kesehatan terbesar di Indonesia baik dikarenakan masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, dan masih banyak faktor penyebab munculnya penyakit diare tersebut.

Kebersihan lingkungan merupakan suatu yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan pada umumnya. Banyaknya penyakit-penyakit lingkungan yang menyerang masyarakat karena kurang bersihnya lingkungan disekitar ataupun kebiasaan yang buruk yang mencemari lingkungan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan penyakit yang dibawa oleh kotoran yang ada di lingkungan bebas tersebut baik secara langsung ataupun tidak langsung yaitu melalui perantara. Penyakit diare merupakan suatu penyakit yang telah dikenal sejak jaman Hippocrates. Sampai saat ini, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia.

Diare merupakan penyakit berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian dan dapat menimbulkan letusan kejadian luar biasa (KLB). Penyebab utama kematian pada diare adalah dehidrasi yaitu sebagai akibat hilangnya cairan dan garam elektrolit pada tinja diare (Depkes RI, 1998).Tentang penatalaksanaan dan pencegahan diare,selama ini persepsi yang sering muncul di masyarakat tentang diare adalah karena proses pembuangan zat-zat sisa yang tidak diperlukan oleh tubuh dan tidak memerlukan penanganan karena akan sembuh dengan sendirinya.

Oleh karena itu dengan mempelajari perilaku dari masyarakat ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam kehidupan kita sehari-hari akan pentingnya hidup bersih dan sehat dan segera melakukan tindakan pengobatan bagi masyarakat yang telah terinfeksi diare.

1.2. Tujuan
1)    Mendiskripsikan tentang faktor apa saja yang bisa menimbulkan penyakit diare.
2)    Mendiskripsikan tentang siapa saja yang bisa terkena penyakit diare
3)    Mendiskripsikan bagaimana penyakit bisa menular dari satu penderita ke penderita yang lain
4)    Mendiskripsikan melalui apa saja penyakit diare bisa menular
5)    Mendeskripsikan bagaimana cara mencegah penyakit diare
6)    Mendiskripsikan bagaimana cara memberantas penyakit diare
7)    Mendiskripsikan bagaimana penatalaksanaan serta pengobatan penyakit diare

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Faktor Agent
Diare terjadi akibat adanya rangsangan terhadap saraf otonom di dinding usus sehingga menimbulkan reflex mempercepat peristaltik usus, rangsangan ini dapat ditimbulkan oleh :
1)    Infeksi oleh bakteri pathogen, misalnya bakteri E.Colie
2)    Infeksi oleh kuman thypus (kadang-kadang) dan kolera
3)    Infeksi oleh virus, misalnya influenza perut dan ‘travellers diarre’
4)    Akibat dari penyakit cacing (cacing gelang, cacing pita)
5)    Keracunan makanan dan minuman
6)    Gangguan gizi
7)    Pengaruh enzyme tertentu
8)    Pengaruh saraf (terkejut, takut, dan lain sebagainya)

2.2. Faktor Host
Diare bisa menyerang siapa saja tidak mengenal usia,baik bayi,anak,maupun dewasa akan tetapi penderita diare terbesar biasanya terjadi pada anak

2.3. Faktor Environment
Pemukiman kumuh merupakan kawasan yang menjadi tempat berkembannya diare.Kondisi yang ventilasinya buruk,dan sanitasi lingkungannya tidak baik merupakan ciri dari permukiman kumuh.Lingkungan yang buruk di sertai dengan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk berperilaku sehat menjadikan kawasan kumuh sebagai kawasan yang rawan akan penyebaran penyakit.Lingkungan yang buruk menjadikan penyebab berkembangbiaknya berbagai virus penyakit menular,penyakit menular yang di jumpai adalah diare.Kelangkaan air bersih menjadi sebab utama pemicu penyakit ini ,gaya hidup yang jorok,tidak memperhatikan sanitasi usus rentan terhadap serang virus diare.

2.4. Port Of Entry and Exit
Diare merupakan penyakit menular yang di sebabkan oleh bakteri,virus ataupun parasit yang ditularkan melalui makanan,air ataupun apapun yang telah tercemar oleh kotorann penderita karena perilaku hidup yang kurang bersih 



2.5. Transmisi
Bakteri yang menyebabkan diare dapat menular dari satu penderita ke penderita yang lain melalui kontak langsung dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti:
1)    Makanan dang minuman yang sudah terkontaminasi,baik sudah di cemari oleh serangga/kontaminasi oleh tangan kotor
2)    Bermain dengan mainan yang terkontaminasi,apalagi pada bayi sering memasukkan tangan,mainan atau apapun ke dalam mukutnya
3)    Pengunaan sumber air yang tercemar dan tidak memasak air dengan benar
4)    Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih
5)    Tidak mencuci tanggan sebelum dan setelah makan
6)    Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air bersih.

BAB 3 PEMBAHASAN

3.1. Pencegahan
Dalam pencegahan diare, beberapa upaya yang mudah dilakukan yaitu :
1)    Penyiapan makanan yang higienis seperti menjaga kebersihan dari makanan atau minuman yang kita makan, tutuplah makanan rapat rapat agar terhindar dari lalat dan kebersihan perabotan makan ataupun alat bermain si kecil.
2)    Penyediaan air minum yang bersih yaitu dengan cara merebus air minum hingga mendidih
3)    Sanitas air yang bersih
4)    Kebersihan perorangan
5)    Cuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan, mengolah makanan juga setelah buang air besar. Karena penularan kontak langsung dari tinja melalui tangan/ serangga.
6)    Biasakan buang air besar pada tempatnya (WC, toilet, jamban)
7)    Tempat buang sampah yang memadai yaitu memisahkan sampah kering dengan yang basah
8)    Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan
9)    Lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara menjaga kebersihan lingkungan sekitar
10) Sikap keluarga dalam pencegahan diare, antara lain yaitu: menyediakan makanan yang higienis, mencuci tangan dengan sabun, menutup makanan, memasak air sampai mendidih

3.2. Pemberantasan
Penyebaran bakteri,virus,ataupun parasit yang dapat menyebabkan diare adalah dengan cara melakukan upaya promotif dan prefentif pada masyarakat seperti :
1)    Menjaga kebersihan lingkungan hidup agar tetap bersih
2)    Memastikan bahwa makanan yang di konsumsi dalam keadaan yang bersih,higienis
3)    Memenuhi kebutuhan standar sanitasi air

3.3. Pengobatan/Penatalaksanaanikan
Penatalaksanaan diare  antara lain :
1)    Lakukan observasi awal penyebab diare..
2)    Anak penderita diare ringan tetap dapat mengkonsumsi makanan biasa, termasuk susu. ASI tetap dapat diberikan
3)    Anak penderita diare sedang dapat dirawat di rumah dengan pengawasan ekstra.
4)    Untuk diare berat dengan gejala-gejala dehidrasi berat harus diberi cairan infus.
5)    Banyak minum (paling sedikit 55 cc air setiap jam) untuk menggantikan cairan yg hilang melalui diare.
6)    Lanjutkan makanan padat, jika bayi sudah biasa makan makanan padat.
7)    Jika ada muntah, makanan padat biasanya tidak diberikan sampai muntah ini berhenti. Tetapi tawarkan cairan yang bening (sari buah yang diencerkan atau cairan rehidrasi, jika dianjurkan oleh dokter) atau untuk anak yg sudah lebih besar, tawarkan es lilin yang dibuat dari sari buah yang diencerkan.
8)    Ketika tinja mulai normal kembali, biasanya setelah dua atau tiga hari, dokter akan menganjurkan anda untuk kembali ke diet bayi yang biasanya, tetapi tetap membatasi susu dan produk susu lainnya (kecuali asi atau susu formula untuk satu atau dua hari lebih lama.
9)    Pada diare yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, pada bayi yang minum susu botol, dokter mungkin menganjurkan perubahan susu formulanya.

Pengobatan untuk membantu meringankan gejala :
a. Loperamide (“Imodium”)
Petunjuk penggunaan: untuk mengawali, konsumsi dua butir tablet. Kemudian gunakan satu tablet tiap kali anda buang air besar (jangan konsumsi lebih dari 8 tablet dalam jangka waktu 24 jam). Jangan berikan obat ini pada bayi, anak-anak dan wanita hamil.

b. Bismuth subsalicylate (“Pepto-bismol”)
Pentunjuk penggunaan: apabila anda menggunakan tablet, minum dua butir tablet tiap 30 menit hingga diare berkurang. Jangan mengkonsumsi lebih dari 16 tablet dalam jangka waktu 24 jam. Apabila anda menggunakan obat cair, minum 6 sendok teh (30 mls) setiap 30 menit hingga diare berkurang. Jangan mengkonsumsi obat lebih dari 8 kali dalam jangka waktu 24 jam. Jangan berikan pada bayi dan anak-anak. (Suririnah, 2007)

BAB 4 PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari .

4.2. Saran
Sebagai tenaga kesehatan kita harus bisa memberikan suatu upaya promotif serta prefentif kepada seluruh masyarakat agar bersedia untuk mengubah perilakunya menjadi perilaku hidup bersih dan sehat agar semua masyarakat terhidar dari penyakit diare ataupun penyakit menular lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

1)    http://www. epidemiologiunsri.blogspot.com
2)    http://www.anneahira.com/penyakit.htm
3)    http://www.mumps.cdc

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar