PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 04 Mei 2013

SEKILAS TENTANG STRESS

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG STRESS

1. Pengertian stress
Istilah stress secara historis telah lama digunakan untuk menjelaskan suatu tuntutan untuk beradaptasi dari seseorang, ataupun reaksi seseorang terhadap tuntutan tersebut. Menurut H. Handoko, stress adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang (Luk Lukaningsih, 2011 : 69).

Selye (1936) telah menggambarkan bahwa stress adalah suatu sindrom biologik atau badaniah. Selye menekankan bahwa stress merupakan suatu reaksi penyesuaian diri suatu sindrom penyesuaian umum terhadap rangsangan yang berbeda-beda (Luk Lukaningsih, 2011 : 70).

Pandangan dari Patel (1996), stress merupakan reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan (chalenge) yang penting, ketika dihadapkan pada ancaman (threat), atau ketika harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak realistis dari lingkungannya (Nasir, 2011 : 75).

Andrew M. Colman (2001) menjelaskan bahwa stress psikologik dan fisik merupakan ketegangan yang disebabkan oleh fisik, emosi, sosial, ekonomi, pekerjaan atau keadaan, peristiwa, atau pengalaman yang sulit untuk mengelola atau bertahan (Nasir, 2011 : 75).

Jadi, stress adalah suatu reaksi yang timbul dari seseorang akibat suatu kondisi ketegangan sehingga mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang.

2. Penyebab stress
Stresor (Patel, 1996) adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya respon stress. Stresor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial juga muncul pada situasi kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya (Nasir, 2011: 79).
Brantley (1988) dalam Nasir (2011: 79) secara garis besar mengelompokkan stresor menjadi dua, yaitu :

a. Stresor mayor
Berupa major live events yang meliputi peristiwa kematian orang yang disayangi, masuk sekolah untuk pertama kali, dan perpisahan.

b. Stresor minor
Biasanya berawal dari stimulus tentang masalah hidup sehari-hari, misalnya ketidaksenangan emosional terhadap hal-hal tertentu sehingga menyebabkan munculnya stress

Menurut Luk Lukaningsih (2011 : 76-78) terdapat beberapa sumber dan macam-macam stresor antara lain sebagai berikut :
a. Kondisi biologik
Berbagai penyakit infeksi, trauma fisik dengan kerusakan organ biologik, mal nutrisi, kelelahan fisik, kekacauan fungsi biologik yang continue.

b. Kondisi psikologik
1)    Berbagai konflik dan frustasi yang berhubungan dengan kehidupan modern
2)    Berbagai kondisi yang mengakibatkan sikap atau perasaan rendah diri (self devaluation) seperti kegagalan mencapai sesuatu yang sangat di idam-idamkan
3)    Berbagai keadaan kehilangan seperti posisi, keuangan, kawan, atau pasangan hidup yang sangat dicintai
4)    Berbagai kondisi kekurangan yang dihayati sebagai sesuatu cacat yang sangat menentukan seperti penampilan fisik, jenis kelamin, usia, intelegensi, dan lain-lain
5)    Berbagai kondisi perasaan bersalah terutama yang menyangkut kode moral etika yang dijunjung tinggi tetapi gagal dilaksanakan.
c. Kondisi sosio kultural
1)    Berbagai fluktuasi ekonomi dan segala akibatnya (menciutkan anggaran rumah tangga, pengangguran, dan lain-lain)
2)    Perceraian, keretakan rumah tangga akibat konflik, kekecewaan dan sebagainya
3)    Persaingan yang keras dan tidak sehat
4)    Diskriminasi dan segala macam keterkaitannya akan membawa pengaruh yang menghambat perkembangan individu dan kelompok
5)    Perubahan sosial yang cepat apabila tidak diimbangi etika dan moral konvensional yang memadai akan terasa ancaman. Dalam kondisi terburuk nilai materialistik akan mendominasi nilai moral spiritual yang akan menimbulkan benturan konflik yang mungkin sebagian terungkap, sedangkan sebagian lainnya menjadi beban perasaan individu dan kelompok.

3. Faktor yang mempengaruhi stress
Menurut Nasir (2011: 86-88) beberapa faktor yang dianggap sebagai pemicu timbulnya stress yang biasa disebut faktor presipitasi antara lain sebagai berikut :

a. Faktor fisik atau biologis
Berikut ini beberapa faktor fisik yang dapat menyebabkan stress antara lain genetika, case history, pengalaman hidup, tidur, diet, postur tubuh dan penyakit.

b. Faktor psikologis
Berikut ini adalah beberapa faktor psikologis yang dapat memicu terjadinya stress antara lain persepsi, emosi, situasi psikologis, pengalaman hidup.

c. Faktor lingkungan
Berikut ini adalah beberapa faktor lingkungan yang dapat memicu terjadinya stress antara lain seperti dari faktor lingkungan fisik, biotik dan sosial.

4. Pengukuran tingkat stress
Menurut Hardjana (1994) dalam Sriati (2008) tingkat stress adalah hasil penilaian terhadap berat ringannya stress yang dialami seseorang. Tingkatan stress ini diukur dengan menggunakan Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) oleh Lovibond (1995). Psychometric Properties of The Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS) terdiri dari 42 item.

DASS adalah seperangkat skala subyektif yang dibentuk untuk mengukur status emosional negatif dari depresi, kecemasan dan stress. DASS 42 dibentuk tidak hanya untuk mengukur secara konvensional mengenai status emosional, tetapi untuk proses yang lebih lanjut untuk pemahaman, pengertian, dan pengukuran yang berlaku di manapun dari status emosional, secara signifikan biasanya digambarkan sebagai stress.

DASS dapat digunakan baik itu oleh kelompok atau individu untuk tujuan penelitian. Tingkatan stress pada instrumen ini berupa :
1)    Normal (0-29)
2)    Ringan (30-59)
3)    Sedang (60-89)
4)    Berat (90-119)
5)    Sangat berat (>120)

5. Proses terjadinya stress
Stress adalah reaksi dari tubuh (respons) terhadap lingkungan yang dapat memproteksi diri kita yang juga merupakan bagian dari sistem pertahanan yang membuat kita tetap hidup. Stress adalah kondisi yang tidak menyenangkan dimana manusia melihat adanya tuntutan dalam suatu situasi sebagai beban atau diluar batasan kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan tersebut (Nasir, 2011: 75).

Pandangan dari Patel (1996), stress merupakan reaksi tertentu yang muncul pada tubuh yang bisa disebabkan oleh berbagai tuntutan, misalnya ketika manusia menghadapi tantangan-tantangan (chalenge) yang penting, ketika dihadapkan pada ancaman (threat), atau ketika harus berusaha mengatasi harapan-harapan yang tidak realistis dari lingkungannya (Nasir, 2011: 75).

Dengan demikian, bisa diartikan bahwa stress merupakan suatu sistem pertahanan tubuh dimana ada sesuatu yang mengusik integritas diri, sehingga mengganggu ketentraman yang dimaknai sebagai tuntutan yang harus diselesaikan. Disamping itu, keadaan stress akan muncul apabila ada tuntutan yang luar biasa sehingga mengancam keselamatan atau integritas seseorang (Nasir, 2011: 75).

6. Jenis stress
Stress melibatkan perubahan fisiologis yang kemungkinan dapat dialami sebagai perasaan yang baik anxiousness (distress) atau pleasure (eustress). Menurut Nasir (2011: 76) terdapat dua jenis stress yaitu antara lain sebagai berikut:

a. Stress yang baik (eustress)
Stress yang baik (eustress) adalah sesuatu yang positif. Stress dikatakan berdampak baik apabila seseorang mencoba untuk memenuhi tuntutan untuk menjadikan orang lain maupun dirinya sendiri mendapatkan sesuatu yang baik dan berharga. Dengan stress yang baik, semua pihak merasa diuntungkan. Dengan begitu, stress yang baik akan memberikan kesempatan untuk berkembang dan memaksa seseorang mencapai performanya yang lebih tinggi.

Stress yang baik terjadi jika setiap stimulus mempunyai arti sebagai hal yang memberikan pelajaran bagi kita, betapa suatu hal yang dirasakan seseorang memberikan arti sebuah pelajaran, dan bukan sebuah tekanan. Tahu diri sendiri, tahu menempatkan diri, dan tahu membawa diri akan menempatkan kita pada suasana yang baik dan menyenangkan, terutama dalam menghadapi suatu stimulus internal maupun eksternal.

b. Stress yang buruk (distress)
Stress yang buruk (distress) adalah stress yang bersifat negatif. Distress dihasilkan dari sebuah proses yang memakni sesuatu yang buruk, dimana respon yang digunakan selalu negatif dan ada indikasi mengganggu integritas diri sehingga bisa diartikan sebagai sebuah ancaman. Distress akan menempatkan pikiran dan perasaan kita pada tempat dan suasana yang serba sulit. Hal tersebut dikarenakan cara memandang suatu masalah hanya dilihat dari sisi yang sempit dan merugikan saja. Belum pernah dieksplorasi betapa sebuah kejadian ini membawa makna yang luas sebagai suatu pelajaran yang berharga dan bermakna untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain.

Sementara itu, menurut Korchin dalam Nasir (2011) mengatakan bahwa stress tidak  hanya berupa kondisi yang menekan, baik dari keadaaan fisik atau psikis seseorang, maupun reaksi-reaksinya terhadap tekanan tersebut, melainkan keterkaitan antara ketiga hal tersebut. Terdapat empat jenis stress, antara lain sebagai berikut :

a. Frustasi
Kondisi dimana seseorang merasa jalan yang akan ditempuh untuk meraih tujuan dihambat.

b. Konflik
Kondisi ini muncul ketika dua atau lebih perilaku saling berbenturan, dimana masing-masing perilaku tersebut butuh untuk diekspresikan atau malah saling memberatkan.

c. Krisis
Kondisi yang dijumpai ternyata merupakan kondisi yang tidak semestinya serta membutuhkan adanya suatu penyesuaian.

d. Tekanan
Kondisi dimana terdapat suatu harapan atau tuntutan yang sangat besar terhadap seseorang untuk melakukan perilaku tertentu.

7. Tahapan stress
Gejala-gejala stress pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stress timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya (Luk Lukaningsih, 2011 : 87-88).

Robert J. Amberg dalam Yosep (2010: 52-54) membagi tahapan-tahapan stress sebagai berikut :

a. Stress tahap I
Tahapan ini merupakan tingkat stress yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut :
1)    Semangat besar
2)    Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya
3)    Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya.
Tahapan ini biasanya menyenangkan dan orang lalu bertambah semangat, tapi tanpa disadari cadangan energinya sedang menipis.

b. Stress tahap II
Dalam tahapan ini dampak stress yang semula menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan adalah sebagai berikut :
1)    Merasa letih sewaktu bangun pagi
2)    Merasa mudah lelah sesudah makan siang
3)    Merasa lelah menjelang sore hari
4)    Terkadang gangguan dalam sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang pula jantung berdebar-debar
5)    Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher)
6)    Perasaan tidak bisa santai.

c. Stress tahap III
Pada tahap ini keluhan keletihan semakin nampak disertai dengan gejala-gejala :
1)    Gangguan usus lebih terasa (sakit perut, mulas, sering ingin ke belakang)
2)    Otot-otot terasa lebih tegang
3)    Perasaan tegang yang semakin meningkat
4)    Gangguan tidur (sukar untuk tidur, sering terbangun malam dan sukar tidur kembali, atau bangun terlalu pagi)
5)    Badan terasa gemetar, rasa-rasa mau pingsan (tidak sampai jatuh pingsan).

d. Stress tahap IV
Tahapan ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih buruk yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1)    Untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sangat sulit
2)    Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit
3)    Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan sosial, dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat
4)    Tidur semakin sukar, mimpi-mimpi menegangkan, dan seringkali terbangun dini hari
5)    Perasaan negativistik
6)    Kemampuan berkonsentrasi menurun tajam
7)    Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti mengapa.

e. Stress tahap V
Tahapan ini merupakan keadaan yang lebih mendalam dari tahap IV diatas, yaitu :
1)    Keletihan yang mendalam (physical dan psychological exhaustion)
2)    Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja terasa kurang mampu
3)    Gangguan sistem pencernaan (sakit maag dan usus) lebih sering, sukar buang air besar atau sebaliknya feses cair dan sering ke belakang
4)    Perasaan takut yang semakin menjadi mirip panik.

f. Stress tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan puncak yang merupakan keadaan gawat darurat. Tidak jarang penderita dalam tahapan ini dibawa ke ICCU. Gejala-gejala pada tahapan ini yaitu sebagai berikut :
1)    Debaran jantung terasa sangat keras, hal ini disebabkan zat adrenalin yang dikeluarkan, karena stress tersebut cukup tinggi dalam peredaran darah.
2)    Nafas sesak
3)    Badan gemetar, tubuh dingin dan keringat bercucuran
4)    Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalipun tidak kuasa lagi, pingsan atau collaps.

8. Respon stress
Taylor (1991) dalam Nasir (2011: 88-89) menyatakan bahwa stress dapat menghasilkan berbagai respon. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa respon-respon tersebut dapat berguna sebagai indikator terjadinya stress pada individu dan mengukur tingkatan stress yang dialami individu. Respon stress dapat terlihat dalam berbagai aspek sebagai berikut:

a. Respon fisiologis
Dapat ditandai dengan meningkatnya tekanan darah, detak jantung, nadi, dan sistem pernapasan.

b. Respon kognitif
Dapat terlihat melalui terganggunya proses kognitif individu, seperti pikiran menjadi kacau, menurunnya daya konsentrasi, pikiran berulang, dan pikiran tidak wajar.

c. Respon emosi
Dapat muncul sangat luas, menyangkut emosi yang mungkin dialami individu, seperti takut, cemas, malu, marah, dan sebagainya.

d. Respon tingkah laku
Dapat dibedakan menjadi fight, yaitu melawan situasi yang menekan dan flight yaitu menghindari situasi yang menekan.

Hans Seyle (1946) dalam Nasir (2011: 89-90) menyebutkan ada dua respon fisiologis tubuh terhadap stress, yaitu :

a.Local adaptation syndrom (LAS)
Tubuh menghasilkan banyak respon setempat terhadap stress. Respon setempat ini termasuk pembekuan darah dan penyembuhan luka, akomodasi mata terhadap cahaya, dan sebagainya. Respon berjangka pendek.

Berikut ini adalah karakteristik LAS:
1)    Respon yang terjadi hanya setempat dan tidak melibatkan semua sistem
2)    Respon yang bersifat adaptif, diperlukan stresor untuk menstimulasikannya
3)    Respon bersifat jangka pendek dan tidak terus menerus
4)    Respon bersifat restoratif

b. General adaptation syndrom (GAS)
Merupakan respon fisiologis dari seluruh tubuh terhadap stress. respon yang terlibat di dalamnya adalah sistem saraf otonom dan sistem endokrin. GAS terbagi menjadi tiga tahap berikut ini:

1. Reaksi alarm (waspada)
Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh  dan pikiran untuk mengahadapi stresor. Terjadi reaksi psikologis fight or flight dan reaksi fisiologis. Tanda fisik seperti curah jantung meningkat, peredaran darah cepat, serta darah di perifer dan gastrointestinal mengalir ke kepala dan ekstremitas. Banyak organ tubuh terpengaruh, gejala stress mempengaruhi denyut nadi, ketegangan otot, dan daya tahan tubuh menurun. Fase alarm Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh  dan pikiran untuk mengahadapi stresor. Terjadi reaksi psikologis fight or flight dan reaksi fisiologis.

Fase alarm Melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh seperti pengaktifan hormon yang berakibat meningkatnya volume darah, yang pada akhirnya menyiapkan individu untuk bereaksi. Hormon lainnya dilepas untuk meningkatkan kadar gula darah yang bertujuan untuk menyiapkan energi untuk keperluan adaptasi. Teraktivasinya epineprin dan norepineprin mengakibatkan denyut jantung meningkat dan terjadi peningkatan aliran darah ke otot. Selain itu, juga terjadi peningkatan pengambilan oksigen dan meningkatnya kewaspadaan mental. Aktivitas hormonal yang luas ini menyiapkan individu untuk melakukan respon melawan atau menghindar. Bila stresor masih menetap maka individu akan masuk ke dalam fase resistensi

2. Fase resistance (resistansi/melawan)
Individu mencoba berbagai macam mekanisme penanggulangan psikologis dan pemecahan masalah serta mengatur strategi. Tubuh berusaha menyeimbangkan kondisi fisiologis sebelumnya pada keadaan normal, dan tubuh mencoba mengatasi faktor-faktor penyebab stress. Bila teratasi, gejala stress akan menurun dan tubuh kembali stabil, termasuk hormon, denyut jantung, tekanan darah dan curah jantung. Individu tersebut terjadi karena individu berupaya beradaptasi terhadap stresor, jika ini berhasil tubuh akan memperbaiki sel-sel yang rusak. Bila gagal, maka individu akan jatuh pada tahap terakhir dari GAS yaitu fase kehabisan tenaga.

3. Fase exhaustion (kelelahan)
Merupakan fase perpanjangan stress yang belum dapat tertanggulangi pada fase sebelumnya. Energi untuk penyesuaian telah terkuras. Akibatnya, timbul gejala penyesuaian diri terhadap lingkungan seperti sakit kepala, gangguan mental, penyakit arteri koroner, dan sebagainya. Bila usaha melawan tidak dapat lagi diusahakan, maka kelelahan dapat mengakibatkan kematian. Pada tahap ini cadangan energi telah menipis atau habis, akibatnya tubuh tidak mampu lagi menghadapi stress. Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan diri terhadap stresor inilah yang berdampak pada kematian individu tersebut.

9. Mekanisme koping pada stress
Menurut Keliat (1999) dalam Nasir (2011: 4-6) koping dapat dikaji melalui berbagai aspek, salah satunya adalah aspek psikososial. Menurut Riyadi (2009: 51-53) beberapa mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah sebagai berikut:

a. Denial
Menghindari realita yang tidak menyenangkan dengan mengabaikan atau menolak untuk mengakuinya.

b. Kompensasi
Proses dimana individu memperbaiki penurunan citra diri berupaya mengganti dengan menonjolkan kelebihan lain yang dimilikinya.

c. Displacement
Memindahkan emosi atau perasaan kepada seseorang atau obyek lain yang lebih netral atau kurang berbahaya.

d. Proyeksi
Menyatakan harapan, pikiran, perasaan, motivasi sendiri sebagai harapan, pikiran, perasaan, motivasi orang lain.

e. Reaction Formation
Mengembangan perilaku dan pola sikap tertentu yang disadari, berlawanan dengan perasaan dan keinginannya.

f. Isolasi
Memisahkan atau mengeluarkan dari komponen perasaan tentang pikiran, kenangan atau pengalaman tertentu.

g. Introyeksi
Bentuk identifikasi yang lebih mendalam dimana individu mengambil atau memasukkan nilai dari orang lain yang dicintai atau benci menjadi struktur egonya.

h. Rasionalisasi
Memberikan alasan atau penjelasan yang masuk akal agar perilaku, pikiran atau perasaan yang tidak dapat diterima atau dibenarkan oleh orang lain.

i. Subtitusi
Mengganti tujuan bernilai lebih tinggi yang tidak dapat dicapai dengan tujuan lain yang hampir sama tetapi nilainya lebih rendah.

j. Identifikasi
Suatu proses dimana seseorang berusaha seperti orang yang dikagumi dengan meniru cara berpikir dan perilakunya.

k. Undoing
Suatu tindakan atau komunikasi tertentu yang bertujuan menghapuskan atau meniadakan tindakan sebelumnya.

l. Sublimasi
Perubahan bentuk ekspresi dorongan atau rangsangan yang terhambat ke ekspresi yang lebih dapat diterima oleh masyarakat secara sosial.

m. Regresi
Dalam menghadapi stress, perilaku, perasaan dan cara berpikir mundur kembali ke ciri tahap perkembangan sebelumnya.

n. Represi
Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran atau memori yang menyakitkan atau bertentangan dengan kesadaran.

Menurut Lazarus dan Folkman (1984) dalam Nasir (2011 : 93-94), dalam melakukan koping ada dua strategi yang bisa dilakukan, yaitu :

a.Koping yang berfokus pada masalah (problem focused coping)
Problem focused coping yaitu usaha mengatasi stress dengan cara mengatur atau mengubah masalah yang dihadapi dan lingkungan sekitarnya yang menyebabkan terjadinya tekanan. Problem focused coping ditujukan dengan mengurangi demans dari situasi yang penuh dengan stress atau memperluas sumber untuk mengatasinya. Strategi yang dipakai dalam problem focused coping antara lain adalah sebagai berikut:

1. Confrontative coping
Usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang agresif, tingkat kemarahan yang cukup tinggi, dan pengambilan resiko.

2. Seeking social support
Usaha untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan bantuan informasi dari orang lain.

3. Planful problem solving
Usaha untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan dengan cara yang hati-hati, bertahap, dan analitis.

b. Emotion focused coping
Emotion focused coping yaitu usaha mengatasi stress dengan cara mengatur respon emosional dalam rangka menyesuaikan diri dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh suatu kondisi atau situasi yang dianggap penuh tekanan. Emotion focused coping ditujukan untuk mengontrol respon emosional terhadap situasi stress.

Strategi yang digunakan dalam emotional focused coping antara lain sebagai berikut:

1. Self control
Usaha untuk mengatur perasaan ketika menghadapi situasi yang menekan.

2. Distancing
Usaha untuk tidak terlibat dalam permasalahan, seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi apa-apa atau menciptakan pandangan-pandangan yang positif, seperti menganggap masalah sebagai hal yang lucu.

3. Positive reapprasial
Usaha mencari makna positif dari permasalahan dengan berfokus pada pengembangan diri, biasanya juga melibatkan hal-hal yang bersifat religius.

4. Accepting responsibility
Usaha untuk menyadari tanggung jawab diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik. Strategi ini baik, terlebih bila masalah terjadi karena pikiran dan tindakannya sendiri. Namun, strategi ini menjadi tidak baik bila individu tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah tersebut.

5. Escape (avoidance)
Usaha untuk mengatasi situasi menekan dengan lari dari situasi tersebut atau menghindarinya dengan beralih pada hal lain seperti makan, minum, merokok, atau menggunakan obat-obatan.

10. Prinsip dasar mengatasi stress
Untuk menangani stress tentu saja lebih dulu kita mencari sumber masalah yang membuat kita akhirnya mengalami stress.

Menurut Arnold Lazarus dalam Nasir (2011: 95-97) menemukan tujuh bidang pencetus stress yang perlu kita waspadai antara lain sebagai berikut :

a. Perilaku (behavior)
Perilaku yang buruk dipercaya berandil besar pada terjadinya stress. Anggap saja kita berperilaku buruk terhadap suatu keadaan, maka logikanya keadaan pun menjadi buruk akibat reaksi yang kurang baik sehingga keadaan menjadi lebih buruk. Pada akhirnya, semua itu kembali kepada kita yang akhirnya membuat stress. Untuk mengatasi stress karena perilaku buruk, tidak ada pilihan lain kecuali kita mengubah sikap dan perilaku kita menjadi positif. Hal ini akan mengurangi tingkat stress dalam hidup. Reaksi terhadap keadaan akan menentukan seperti apa keadaan beraksi kepada kita.

b. Perasaan (affect)
Sikap yang termasuk dalam affect di antaranya emosi, mood, dan berbagai perasaan orang lain, misalnya sifat mudah marah atau emosional perlu diatasi, sebab bisa memicu stress. Jangan berpikir bahwa sifat mudah marah, cepat emosional, dan mood yang buruk adalah sifat pembawaan yang tidak mungkin diubah. Untuk mengubah sifat yang mengakar kuat karena kebiasaan dan bentukan lingkungan, membutuhkan proses yang panjang dan kemauan diri yang kuat, tapi jika kita berani dan mau mengubah sifat-sifat buruk tersebut, kita akan lebih rileks dan tidak gampang menjadi stress.

c. Sensasi tubuh (sensation)
Kelelahan juga bisa menyebabkan stress, ada baiknya kita memiliki waktu yang cukup untuk istirahat. Ingatlah bahwa kehidupan harus berjalan seimbang. Ada waktunya untuk bekerja, tapi ada waktunya juga untuk beristirahat.

d. Penghayatan mentalitas (imagery)
Mentalitas yang buruk, seperti perasaan gagal, tidak bisa melakukan segala sesuatu, perasaan tidak berguna, atau berpikir bahwa dirinya ditakdirkan untuk miskin dan gagal bisa mengakibatkan stress. Kita harus belajar untuk memiliki cara pandang yang positif terhadap diri kita sendiri.

e. Proses berpikir merangkai pengertian (cognition)
Saya harus sempurna dan tidak boleh gagal. Sikap-sikap tersebut memang bisa memacu kita untuk menjadi lebih baik, namun bukan berarti menjadi ukuran pencapaian kesuksesan. Jangan buat standar hidup yang terlalu tinggi, yang justru akhirnya menjadikan kita stress.

f. Hubungan antar manusia (interpersonal leadership)
Cara terbaik untuk mengatasi masalah dengan orang-orang yang ada di sekitar kita adalah dengan saling menghargai. Dengan saling menghargai, kita bisa belajar untuk lebih sabar menghadapi mereka, mau mengampuni kesalahan mereka, mau mengahadapi mereka dengan kelembutan dan pengendalian diri.

g. Obat-obatan (drugs)
Menurut penelitian medis, obat memang diperlukan untuk mengatasi rasa sakit, tetapi ketergantungan akan obat bisa memicu terjadinya stress. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang stress akibat kecanduan obat-obat tertentu. Segala sesuatu dapat menjadi berbahaya jika sudah mengikat dan menjadi candu. Keadaan ini perlu ditangani secara serius, baik dengan berkonsultasi kepada dokter maupun melalui bimbingan konseling.

DAFTAR PUSTAKA

1)    Alimul Hidayat, A.Aziz, 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta.
2)    Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta.
3)    Benih Nirwana, Ade, 2011. Psikologi Ibu, Bayi dan Anak. Nuha Medika: Yogyakarta.
4)    Damayanti, Rita, 2012. Perilaku Berisiko Di Kalangan Orang Muda. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: Jakarta.
5)    Dio Martin, Anthony, 2011. Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda. Raih Asa Sukses: Jakarta.
6)    Gita, 2011. Emotional Quotient (EQ). http://sman1kayuagung.sch.id/index.php? pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=48, diakses 11 April 2012.
7)    Goleman, Daniel, 1996. Emotional Intelegence. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
8)    Hurlock, Elizabeth B, 1990. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga: Jakarta.
9)    Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009. Masalah Kesehatan Mental Emosional Remaja. http://www.idai.or.id/remaja.asp, diakses 20 maret 2012.
10) Koran Bogor, 2011. Menkes: 11,6% Penduduk Indonesia Penderita Gangguan Jiwa. http://koranbogor.com/nusantara/menkes-116-penduduk-indonesia-penderita-gangguan-jiwa.html, diakses 11 April 2012.
11) Luk Lukaningsih, Zuyina dan Siti Bandiyah, 2011. Psikologi Kesehatan. Nuha Medika: Yogyakarta.
12) Mahmudah, Hakimatul, 2011. Hubungan Emotional Quotient (EQ) dengan Derajat Depresi pada Siswi kelas XI Madrasah Aliyah Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta: Semarang.
13) Monks, Knoers, 2006. Psikologi  Perkembangan. Gajamada University Press: Yogyakarta.
14) Mutia, Evi dan Heru Fahlevi, 2007. Kecerdasan Emosional Dan Pengaruhnya Terhadap Tekanan Kerja. Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala : Banda Aceh.
15) Najmah, 2011. Managemen dan Analisa Data Kesehatan. Nuha Medika : Yogyakarta.
16) Nasir, Abdul dan Abdul Muhith, 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar dan Teori. Salemba Medika: Jakarta.
17) Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta.
18) Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.  Salemba Medika : Jakarta.
19) Nur Wulan Ningrum, Dian, 2009. Hubungan Antara Urutan Kelahiran dalam Keluarga dengan Kecerdasan Emosional pada Remaja di SMA Muhammadiyah I Klaten. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta.
20) Rachmi, Filia, 2010. Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang: Semarang.
21) Riyadi, Sujono dan Teguh Purwanto, 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu: Yogyakarta.
22) Riyanto, Agus, 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Medika: Yogyakarta.
23) Rizki, Arini, 2011. Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional. http://id.shvoong.com/tags/faktor-yang-mempengaruhi-kecerdasan-emosional/, diakses 11 April 2012.
24) Sarwono, Sarlito W, 2011. Psikologi Remaja. Rajawali Press: Jakarta.
25) Sriati, Aat, 2008. Tinjauan Tentang Stress. Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Keperawatan: Bandung.
26) Supriyatna, Ena, 2010. Remaja, Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya. Universitas Inderaprasta Fakultas Pendidikan Ekonomi: Jakarta.
27) Suyanto, 2011. Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Nuha Medika: Yogyakarta.
28) Tridhonanto, Al. dan Beranda Agency, 2010. Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosional. PT Elex Media Komputindo: Jakarta.
29) Yosep, Iyus, 2010. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama: Bandung.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar