PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PENYAKIT HEPATITIS B

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT HEPATITIS B

BAB I PENDAHULUAN

1.1.      Latar Belakang
Hepatitis”merupakan penyakit peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus, bakteri, penyakit autoimun, racun dan lain sebagainya. Virus hepatitis , sebagai penyebab hepatitis virus telah banyak mengalami perkembangan. Namun demikian untuk mendeteksinya kini dapat sehari jadi. Saat ini, telah ditemukan jenis-jenis virus hepatitis antara lain virus hepatitis A, B, C, D, E, G dan TT (masih dalam tahap penelitian). Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut “Hepatitis akut”, hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut “hepatitis kronis”.

Penyebab Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan. Penyakit hepatitis telah menjadi masalah dunia saat ini. Diperkirakan sebanyak 400 juta orang di dunia mengidap penyakit hepatitis B kronis. Sekitar 1 juta orang meninggal setiap tahun karena penyakit hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis) B (VHB) ini.

Penyakit hepatitis juga menjadi masalah besar di Indonesia mengingat jumlah penduduk Indonesia yang juga besar, jumlah penduduk yang besar ini membawa konsekuensi yang besar pula. Penduduk dengan golongan sosial, ekonomi dan pendidikan rendah dihadapkan pada masalah kesehatan terkait gizi, penyakit menular serta kebersihan sanitasi yang buruk. Sedangkan penduduk dengan golongan sosial, ekonomi dan pendidikan tinggi memiliki masalah kesehatan terkait gaya hidup dan pola makan. Tak mengherankan jika saat ini penyakit hepatitis menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian serius di Indonesia.

Kasus hepatitis di Indonesia cukup banyak dan menjadi perhatian khusus pemerintah. Sekitar 11 juta penduduk Indonesia diperkirakan mengidap penyakit hepatitis B, ada sebuah asumsi bahwa 1 dari 20 orang di Jakarta menderita hepatitis B.

1.2 Tujuan
1)    Untuk mengetahui tentang penyakit hepatitis b
2)    Untuk memudahkan dalam mempelajari epidemiologi penyakit hepatitis b
3)    Untuk memudahkan dalam pembelajaran epidemiologi


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Faktor agent
Hepatitis disebabkan oleh virus, bakteri, penyakit autoimun, racun dan lain sebagainya. Virus hepatitis, sebagai penyebab hepatitis virus telah banyak mengalami perkembangan.

2.2 Faktor Host
Kelompok resiko tinggi yang terkena ppenyakit hepatitis b:
1)    Individu yang karena profesi / pekerjaannya atau lingkungannya relatif lebih.sering.ketularan, misal : petugas kesehatan (dokter, dokter gigi, perawat,bidan), petugas laboratorium, pengguna jarum suntik, wanita tuna susila, pria homoseksual, supir, dukun bayi, bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi hepatitis B.
2)    Individu dengan kelainan sistem kekebalan selular, misal penderita hemofilia,hemodialisa,  leukemia  limfositik,  penderita  sindroma  Down  dan  penderita yang mendapat terapi imunosupresif

2.3 Faktor Envaironment
Merupakan  keseluruhan  kondisi  dan  pengaruh  luar  yang  mempengaruhi perkembangan hepatitis B.

Yang termasuk faktor lingkungan adalah:
1)    Lingkungan dengan sanitasi yang jelek.
2)    Daerah dengan angka prevalensi VHB nya tinggi.
3)    Daerah unit pembedahan: Ginekologi, gigi, mata.
4)    Daerah unit laboratorium.
5)    Daerah unit Bank Darah.
6)    Daerah tempat pembersihan.
7)    Daerah dialisa dan transplantasi.
8)    Daerah unit perawatan penyakit dalam.

2.4 Transmisi
Mode transmisi adalah sama bagi human immunodeficiency virus (HIV), tetapi HBV adalah 50 sampai 100 kali lebih menular seperti HIV, VHB dapat bertahan hidup di luar tubuh setidaknya selama 7 hari. Selama waktu itu, virus tetap dapat menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh orang yang tidak terinfeksi.

Transmisi Virus Hepatitis secara vertical dan horizontal.
Infeksi pada bayi terjadi pada saat persalinan dari ibu pengidap HBsAg dan penularan ini disebut sebagai penularan vertikal. Selain itu juga terdapat penularan secara horizontal berupa kontak erat dengan pengidap hepatitis B.

Sumber.Penularan.Hepatitis.B:
a.Darah
Dalam perjalanan infeksi virus hepatitis B hati dan darah merupakan tempat yang mengandung konsentrasi virus hepatitis B yang tertinggi.

b.Air.Seni
HBsAg dapat ditemukan dalam jumlah yang kecil dalam air seni penderita hepatitis akut B dan pengidap dengan fungsi ginjal yang normal. Bukti yang nyata bahwa air seni dapat menularkan infeksi tidak jelas.
c.Tinja Dan Sekresi Usus
Pada waktu ini dianggap bahwa HBsAg tidak terdapat dalam tinja penderita hepatitis akut B dan pengidap.

d. Air Liur
HBsAg sering dijumpai pada air liur pada kasus hepatitis akut ataupun pengidap. Walaupun air liur dapat mengandung sejumlah kecil partikel virus hepatitis B namun agaknya daya infeksinya.rendah.

e.Semen (cairan mani), Sekresi Vagina dan Darah Menstruasi
HBsAg telah dijumpai pada semen, baik pada kasus akut maupun pengidap, demikian pula pada sekret vagina dan darah menstruasi. Kontak seksual merupakan salah satu penularan HbsAg yang penting.

f. Air Susu,Keringat dan cairan tubuh yang lain.
HBsAg telah dilaporkan dapat dijumpai pada air susu, keringat dan pada eksudat seperti cairan ketuban dan cairan sendi. Namun peranan dalam penularan HBsAg agaknya kecil.

g. Lain-lain:
Sisir, pisau cukur, selimut, alat makan, alat kedokteran yang terkontaminasi virus hepatitis B. Selain itu dicurigai penularan melalui.nyamuk atau serangga penghisap darah.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pencegahan
Pencegahan penyakit dapat dilakukan melalui immunisasi baik aktif maupun pasif.

1. Immunisasi Aktif
Pada negara dengan prevalensi tinggi, immunisasi diberikan pada bayi yang lahir dari ibu HBsAg positif, sedang pada negara yang prevalensi rendah immunisasi diberikan pada orang yang mempunyai resiko besar tertular. Tujuan utamanya adalah prevalensi HBsAg kurang dari 1% pada anak usia 5 tahun atau lebih. Strategi kunci untuk mencapai tujuannya adalah imunisasi bayi universal dengan tiga dosis vaksin hepatitis B, dengan dosis pertama, selanjutnya disebut sebagai dosis lahir, diberikan dalam waktu 24 jam setelah kelahiran. Intervensi harus diteruskan bahkan setelah tujuan telah dicapai. Vaksin hepatitis diberikan secara intra muskular sebanyak 3 kali dan  memberikan perlindungan selama 2 tahun.

Program pemberian sebagai berikut:
Dewasa: Setiap  kali  diberikan  20  µg  IM  yang  diberikan  sebagai  dosis  awal, kemudian diulangi setelah 1 bulan dan berikutnya setelah 6 bulan.

Anak     : Diberikan dengan dosis 10 µg IM sebagai dosis awal , kemudian diulangi
setelah 1 bulan dan berikutnya setelah 6 bulan.
2. Immunisasi Pasif
Pemberian Hepatitis B Imunoglobulin (HBIG) merupakan immunisasi pasif dimana daya lindung HBIG diperkirakan dapat menetralkan virus yang infeksius dengan  menggumpalkannya.  HBIG  dapat  memberikan  perlindungan  terhadap
Post Expossure maupun Pre Expossure. Pada bayi yang lahir dari ibu, yang HBsAs positif diberikan HBIG 0,5 ml intra muscular segera setelah lahir (jangan lebih dari 24 jam). Pemberian ulangan pada bulan ke 3 dan ke 5. Pada orang yan terkontaminasi dengan HBsAg positif diberikan HBIG 0,06 ml/Kg BB diberikan dalam 24 jam post expossure dan diulang setelah 1 bulan.

2. Pengobatan / Penatalaksanaan
Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan periksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai Hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi

a. Pengobatan, oral yang terkenal adalah;
1)    Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan.dari.dokter.
2)    Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.
3)    Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan pemberian obat ini belum dikatakan.stabil.

b. Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah:
Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar     ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (Intron A, Infergen, Roferon) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol


BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Hepatitis B merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang perlu segera ditanggulangi, mengingat prevalensi yang tinggi dan akibat yang ditimbulkan hepatitis B.

Penularan hepatitis B terjadi melalui kontak dengan darah / produk darah, saliva, semen, alat-alat yang tercemar hepatitis B dan inokulasi perkutan dan subkutan secara tidak sengaja. Penularan secara parenteral dan non parenteral serta vertikal dan horizontal dalam keluarga atau lingkungan.

Resiko  untuk  terkena  hepatitis  B  di  masyarakat  berkaitan  dengan kebiasaan      hidup  yang  meliputi  aktivitas  seksual,  gaya  hidup  bebas,  serta pekerjaan yang memungkinkan kontak dengan darah dan material penderita.

Pengendalian    penyakit    ini    lebih    dimungkinkan     melalui    pencegahan   diban-dingkan pengobatan yang masih dalam penelitian. Pencegahan dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit dengan kegiatan Health Promotion dan Spesifik Protection, maupun pencegahan penyakit dengan imunisasi aktif dan pasif.

4.2 Saran
Hepatitis B berasal dari infeksi virus hepatitis B, seperti yang kita tahu bahwa pengobatan virus lebih susah maka lebih diutamakan pencegahan. Pencegahan yang dilakukan meliputi pencegahan penularan penyakit hepatitis B melalui Health Promotion dan pencegahan penyakit melalui pemberian vasinasi.

DAFTAR PUSTAKA

1.    WHO, http://who.int/immunization/topics/hepatitis_b/en/index.html
2.    Sastrawinata, Ucke Sugeng. 2008. Virologi Manusia. Bandung: Penerbit PT Alumni
3.    Widoyono. 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasan. Jakarta : Penerbit Erlangga
4.    Profil Kesehatan Kota Palembang 2009, Dinas Kesehatan Kota Palembang diakses dari http://dinkes.palembang.go.id/tampung/dokumen35-37.pdf
5.    Siregar, Fazidah Aguslina. Hepatitis B ditinjau dari Kesehatan Masyarakat dan Upaya Pencegahan. FKM USU. Jurnal online http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3706/1/fkm-fazidah.pdf
6.    Harian Kompas http://health.kompas.com/read/2011/07/26/09381955/Indonesia.Peringkat.Ketiga.Pengidap.Hepatitis
7.    Lembar Fakta Hepatitis B http://who.int/mediacentre/factsheets/fs204/en/
8.    Manju Rani, Baoping Yang and Richard Nesbit. Hepatitis B controlled by 2012 in
9.    The WHO Pacific Region: Rationale and implications      http://www.who.int/bulletin/volume/87/9/08-059220/en/
10. Lembar Fakta Hepatitis http://www.depkes.go.id/hepatitis/index.php/component/content/article/34-press-release/799-lembar-fakta-hepatitis.html
11. Penyakit Hepatitis B http://www.infopenyakit.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar