PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PENYAKIT KUSTA

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT KUSTA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
 Penyakit kusta telah menyerang manusia sejak 300 SM dan telah dikenal oleh peradaban Tiongkok kuno, Mesir kuno, dan India pada 1995 organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan terdapat dua atau tiga juta jiwa yang cacat permanen karena kusta.

Walaupun pengisolasian atau pemisahan penderita dengan masyarakat dirasakan kurang perlu dan tidak etis beberapa kelompok penderita masih dapat ditemukan dibelahan dunia ,seperti India,dan Vietnam.

Pengobatan yang efektif pada kusta ditemukan pada akhir 1940-an dengan diperkenalkanya dapson dan derivatnya. Bagaimanapun juga bakteri penyebab lepra sertahap menjadi kebal terhadap dapson dan menjadi kian menyebar, hal ini terjadi hingga ditemukan pengobatan multi obat pada awal 1980an dan penyakit inipun mampu ditangani kembali.

Maka dari itu, penulis membuat makalah yang berjudul “Penyakit Kusta (Morbus Hansen)” dimaksudkan agar kita selaku tenaga kesehatan mengetahui apa itu penyakit kusta, penularan, bagaimana pencegahannya dan asuhan keperawatannya.

1.2 TUJUAN
Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut :
1)    Untuk menjelaskan definisi kusta.
2)    Untuk menjelasakan faktor agent dari penyakit kusta.
3)    Untuk menjelasakan faktor host dari penyakit kusta.
4)    Untuk menjelasakan faktor environment dari penyakit kusta.
5)    Untuk menjelasakan port of entry and exit dari penyakit kusta.
6)    Untuk menjelaskan transmisi dari penyakit kusta.
7)    Untuk menjelaskan bagaimana pencegahan dari penyakit kusta.
8)    Untuk menjelaskan bagaimana pemberantasan dari penyakit kusta.
9)    Untuk menjelaskan bagaimana pengobatan dari penyakit kusta


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit  kusta  adalah  penyakit  kronik  yang  disebabkan  oleh  kuman Micobacterium  leprae  (M.Leprae).  Yang  pertama  kali  menyerang  susunan saraf  tepi, selanjutnya  menyerang kulit,  mukosa  (mulut),  saluran  pernafasan  bagian  atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis (Amirudin.M.D,  2000).

Penyakit Kusta adalah penyakit menular menahun dan disebabkan oleh kuman kusta  (Mycobacterium  leprae)  yang  menyerang  kulit,  saraf  tepi,  dan  jaringan  tubuh lain  kecuali  susunan  saraf  pusat,  untuk  mendiagnosanya  dengan  mencari  kelainan-kelainan  yang    berhubungan  dengan  gangguan  saraf  tepi  dan  kelainan-kelainan  yang tampak pada kulit ( Depkes, 2005 ). 

2.2 FAKTOR AGENT
Kuman  penyebabnya  adalah  Mycobacterium  Leprae  yang  ditemukan  oleh G.A. Hansen pada tahun 1874 di Norwegia, secara morfologik berbentuk pleomorf lurus batang  panjang,  sisi  paralel  dengan  kedua  ujung  bulat,  ukuran 0,3-0,5  x  1-8  mikron.

Basil  ini  berbentuk  batang  gram  positif,  tidak  bergerak  dan  tidak  berspora,  dapat tersebar  atau  dalam  berbagai  ukuran  bentuk  kelompok,  termasuk  massa  ireguler  besar yang disebut sebagai globi ( Depkes , 2007).

Kuman  ini  hidup  intraseluler  dan  mempunyai  afinitas  yang  besar  pada  sel saraf  (Schwan  Cell)dan  sel  dari  Retikulo  Endotelial,  waktu  pembelahan  sangat  lama, yaitu  2-3  minggu,  diluar  tubuh  manusia  (dalam  kondisis  tropis  )kuman  kusta dari sekret  nasal  dapat  bertahan    sampai  9  hari  (Desikan  1977,dalam  Leprosy Medicine  in the  Tropics  Edited  by  Robert  C.  Hasting  ,  1985).  Pertumbuhan  optimal    kuman  kusta adalah pada suhu 27º30º C ( Depkes, 2005).

M. leprae  dapat  bertahan  hidup  7-9  hari,  sedangkan  pada  temperatur  kamar dibuktikan dapat bertahan hidup 46 hari , ada lima sifat khas :
1)    M.Leprae merupakan parasit intra seluler obligat yang tidak dapat dibiakkan dimedia buatan.
2)    Sifat tahan asam M. Leprae dapat diektraksi oleh piridin.
3)    M.leprae merupakan satu- satunya mikobakterium yang   mengoksidasi  D-Dopa (D-Dihydroxyphenylalanin).
4)    M.leprae adalah satu-satunya spesies micobakterium yang menginvasi  dan bertumbuh dalam saraf perifer.
5)    Ekstrak terlarut dan preparat M.leprae mengandung komponen  antigenik yang  stabil dengan  aktivitas    imunologis    yang    khas,  yaitu  uji  kulit  positif  pada  penderita tuberculoid dan negatif  pada penderita lepromatous  (Marwali Harahap, 2000).

2.3 FAKTOR HOST
Usia: Anak-anak lebih peka dari pada orang dewasa.
Jenis kelamin: Laki-laki lebih banyak dijangkiti
Ras: Bangsa Asia dan Afrika lebih banyak dijangkiti

2.4 FAKTOR ENVIRONMENT
Lingkungan: Fisik, biologi, sosial, yang kurang sehat.
Buruknya kondisi kesehatan lingkungan yang banyak ditemui pada warga miskin, diduga menjadi sarang yang nyaman untuk berkembangnya kuman kusta

2.5 PORT OF ENTRY AND EXIT
Cara-cara penularan penyakit kusta sampai saat ini masih merupakan tanda tanya. Yang diketahui hanya pintu keluar kuman kusta dari tubuh si penderita, yakni selaput lendir hidung. Tetapi ada yang mengatakan bahwa penularan penyakit kusta adalah:
1)    Melalui sekret hidung, basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang sudah mengering, diluar masih dapat hidup 2–7 x 24 jam.
2)    Kontak kulit dengan kulit. Syarat-syaratnya adalah harus dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis, dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.

Klinis ternyata kontak lama dan berulang-ulang ini bukanlah merupakan faktor yng penting. Banyak hal-hal yang tidak dapat di terangkan mengenai penularan ini sesuai dengan hukum-hukum penularan seperti halnya penyakit-penyaki terinfeksi lainnya.
Menurut Cocrane (1959), terlalu sedikit orang yang tertular penyakit kusta secara kontak kulit dengan kasus-kasus lepra terbuka.

Menurut Ress (1975) dapat ditarik kesimpulan bahwa penularan dan perkembangan penyakit kusta hanya tergantung dari dua hal yakni jumlah atau keganasan Mycrobacterium Leprae dan daya tahan tubuh penderita.

2.6 TRANSMISI
Beberapa asumsi menyebutkan bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui udara. Biasanya terjadi pada udara yang mengandung bakteri leprae, yang dihirup manusia.

BAB III PEMBAHASAN

3.1 PENCEGAHAN
Pencegahan primer
Pencegahan primer dapat dilakukan dengan :

a. Penyuluhan kesehatan
Pencegahan primer dilakukan pada kelompok orang sehat yang belum terkena penyakit kusta dan memiliki resiko tertular karena berada disekitar atau dekat dengan penderita seperti keluarga penderita dan tetangga penderita, yaitu dengan memberikan penyuluhan tentang kusta. Penyuluhan yang diberikan petugas kesehatan tentang penyakit kusta adalah proses peningkatan pengetahuan, kemauan dan kemampuan masyarakat yang belum menderita sakit sehingga dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya dari penyakit kusta. Sasaran penyuluhan penyakit kusta adalah keluarga penderita, tetangga penderita dan masyarakat (Depkes RI, 2006).

b. Pemberian imunisasi
Sampai saat ini belum  ditemukan upaya pencegahan primer penyakit kusta seperti pemberian imunisasi (Saisohar,1994). Dari hasil penelitian di Malawi tahun 1996 didapatkan bahwa pemberian vaksinasi BCG satu kali dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebesar 50%, sedangkan pemberian dua kali dapat memberikan perlindungan terhadap kusta sebanyak 80%, namun demikian penemuan ini belum menjadi kebijakan program di Indonesia karena penelitian beberapa negara memberikan hasil berbeda  pemberian vaksinasi BCG tersebut (Depkes RI, 2006).

Pencegahan sekunder 
Pencegahan sekunder  dapat dilakukan dengan :

a. Pengobatan pada penderita kusta
Pengobatan pada penderita kusta untuk memutuskan mata rantai penularan, menyembuhkan penyakit penderita, mencegah terjadinya cacat atau mencegah bertambahnya cacat yang sudah ada sebelum pengobatan. Pemberian Multi drug therapy pada penderita kusta terutama pada tipe Multibaciler karena tipe tersebut merupakan sumber kuman menularkan kepada orang lain (Depkes RI, 2006).

Pencegahan tertier
a. Pencegahan cacat kusta
Pencegahan tersier dilakukan untuk pencegahan cacat kusta pada penderita. Upaya pencegahan cacat terdiri atas (Depkes RI, 2006):

Upaya pencegahan cacat primer meliputi penemuan dini penderita sebelum cacat, pengobatan secara teratur dan penangan reaksi untuk mencegah terjadinya kerusakan fungsi saraf.

Upaya pencegahan cacat sekunder meliputi perawatan diri sendiri untuk mencegah luka dan perawatan mata, tangan, atau kaki yang sudah mengalami gangguan fungsi saraf.

b. Rehabilitasi kusta
Rehabilitasi merupakan proses pemulihan untuk memperoleh fungsi penyesuaian diri secara maksimal atas usaha untuk mempersiapkan penderita cacat secara fisik, mental, sosial dan kekaryaan untuk suatu kehidupan yang penuh sesuai dengan kemampuan yang ada padanya. Tujuan rehabilitasi adalah penyandang cacat secara umum dapat dikondisikan sehingga memperoleh kesetaraan, kesempatan dan integrasi sosial dalam masyarakat yang akhirnya mempunyai kualitas hidup yang lebih baik (Depkes RI, 2006). Rehabilitasi terhadap penderita kusta meliputi :
·         Latihan fisioterapi pada otot yang mengalami kelumpuhan untuk mencegah terjadinya kontraktur.
·         Bedah rekonstruksi untuk koreksi otot yang mengalami kelumpuhan agar tidak mendapat tekanan yang berlebihan.
·         Bedah plastik untuk mengurangi perluasan infeksi.
·         Terapi okupsi (kegiatan hidup sehari-hari) dilakukan bila gerakan normal terbatas pada tangan.
·         Konseling dilakukan untuk mengurangi depresi pada penderita cacat.

3.2 PEMBERANTASAN
Rujukan untuk operasi/ operasi rekonstruksi
Indikasi untuk rujukan operasi meliputi:
1)    Borok di telapak kaki (plantaris pedis) yang lebih dan 1 tahun
2)    Borok yang disertai dengan osteomyelitis
3)    Cacat sudah menetap, misalnya jari bengkok, tangan lunglai, kaki semper, dan mata yang tidak dpat menutup

Khusus untuk operasi rekonstruksi, ada hal-hal yang menjadi pra syarat yang harus dipenuhi sebelum operasi dilaksanakan, antara lain:
1)    Usia produktif dan bersedia dioperasi
2)    Mengerti apa manfaat dan batasan operasi
3)    RFT dan BTA negatif
4)    Bebas reaksi atau bebas prednison, minimal 6 bulan
5)    Cacat sudah menetap (lebih dan 1 tahun)
6)    Tidak ada kekuatan sendi/kontraktur pada jari-jari
7)    Tidak ada luka pada daerah yang akan dioperasi
8)    Kondisi umum baik, HB di atas 10 gr %
           
3.3 PENGOBATAN/ PENATALAKSANAAN
Terapi Medik
Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah penyembuhan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit. Program Multi Drug Therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. Program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan.

Rejimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai rekomendasi WHO 1995 sebagai berikut:

a). Tipe PB ( Pause Basiler)
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa :
Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas DDS tablet 100 mg/hari diminum di rumah. Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (Release From Treatment) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO(1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah Completion Of Treatment Cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan.

b). Tipe MB ( Multi Basiler)
Jenis obat dan dosis untuk orang dewasa:
Rifampisin 600mg/bln diminum didepan petugas. Klofazimin 300mg/bln diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg /hari diminum di rumah. DDS 100 mg/hari diminum dirumah, Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT.

c). Dosis untuk anak
Klofazimin: Umur, dibawah 10 tahun: /blnHarian 50mg/2kali/minggu, Umur 11-14 tahun, Bulanan 100mg/bln, Harian 50mg/3kali/minggu, DDS:1-2mg /Kg BB, Rifampisin:10-15mg/Kg BB.

d). Pengobatan MDT terbaru
Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut WHO(1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasim 400mg dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 jam.

e). Putus obat
Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kusta adalah penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman micobakterium leprae. Kuman  penyebabnya  adalah  Mycobacterium  Leprae  yang  ditemukan  oleh G.A.Hansen pada tahun 1874 di Norwegia, secara morfologik berbentuk pleomorf lurus batang  panjang,  sisi  paralel  dengan  kedua  ujung  bulat,  ukuran 0,3-0,5  x  1-8  mikron.  Micobakterium leprae masuk kedalam tubuh manusia, jika orang tersebut memiliki respon imunitas yang tinggi maka kusta akan lebih mengarah pada tuberkuloid, namun jika respon imunitas dari tubuh orang tersebut rendah maka kusta akan lebih mengarah pada lepromatosa. Penularan penyakit kusta sampai saat ini hanya diketahui melalui pintu keluar kuman kusta yaitu: melalui sekret hidung dan kontak langsung dengan kulit penderita. Selain itu ada faktor-faktor lain yang berperan dalam penularan ini diantaranya: usia, jenis kelamin, ras, kesadaran sosial dan lingkungan. Untuk pencegahan penyakit kusta terbagi dalam 3 tahapan yaitu : pencegahan secara primer, sekunder dan tersier.Dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien kusta yang perlu dilakukan adalah melakukan pengkajian, pemeriksaan fisik, menentukan diagnosa keperawatan, kemudian memberikan tindakan perawatan yang komprehensip.

4.2 Saran
Untuk menanggulangi penyebaran penyakit kusta, hendaknya pemerintah mengadakan suatu program pemberantasan kusta yang mempunyai tujuan sebagai  penyembuhan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada orang lain untuk menurunkan insiden penyakit.

Hendaknya masyarakat yang tinggal didaerah yang endemi akan kusta diberikan penyuluhan tentang, cara menghindari, mencegah, dan mengetahui gejala dini pada kusta untuk mempermudah pengobatanya.

Karena di dunia kasus penderita kusta juga masih tergolong tinggi maka perlu diadakanya penelitian tentang penanggulangan penyakit kusta yang efektif.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Graber,Mark A,1998,Buku Saku Kedokteran university of IOWA,EGC,Jakarta
2.    Mansjoer, Arif, 2000, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Ed. III, media Aeuscualpius, Jakarta.
3.    Juall, Lynda,1999 Rencana Asuhan Keperawatan Dan Dokumentasi Keperawatan Edisi II, EGC. Jakarta,
4.    Departemen Kesehatan RI Dirjen P2M dan PLP, 1996, Buku Pedoman Pemberantasan Penyakit Kusta, Jakarta.
5.    Harahap, M. 1997. Diagnosis and Treatment of Skin Infection, Blackwell Science, Australia
6.    Adhi, N. Dkk, 1997. Kusta, Diagnosis dan Penatalaksanaan, FK UI, Jakarta.
7.    http://j2ng.blogspot.com/2013/02/makalah-penyakit-kusta-morbus-hansen.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar