PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 04 Mei 2013

KONSEP MODEL HILDEGARD PEPLAU

Dr. Suparyanto, M.Kes


KONSEP MODEL HILDEGARD PEPLAU

Menurut Peplau, keperawatan adalah terapeutik yaitu satu seni menyembuhkan, menolong individu yang sakit, atau membutuhkan pelayanan kesehatan. Keperawatan dapat dipandang sebagai satu proses interpersonal karena melibatkan interaksi antara dua atau lebih individu dengan tujuan yang sama. Peplau memandang keperawatan sebagai  kekuatan yang matang dan instrumen yang mendidik. Peplau percaya bahwa keperawatan adalah hasil pengalaman belajar mengenai diri sendiri dan orang lain yang terlibat dalam hubungan interpersonal - terapeutik.

Konsep ini didukung oleh Genevieve Burton (1950) penulis lain tentang keperawatan mengatakan, tingkahlaku orang lain harus dimengerti agar dapat mengerti diri sendiri secara jelas. Orang-orang yang tersentuh dengan diri sendiri akan lebih sadar terhadap berbagai ragam jenis reaksi bujukan individu yang lain. Peplau mengembangankan modelnya dengan memerinci konsep struktural dari proses antar personal disinilah letak fase hubungan perawat-klien (nurse patient reaetionship).

1. Hubungan terapeutik menurut Hildegard Peplau
Hubungan terapeutik berbeda dari hubungan sosial atau hubungan intim dalam banyak hal karena hubungan terapeutik berfokus pada kebutuhan pengalaman, perasaan, dan ide klien. Dalam hubungan ini, area kerja disepakati dan hasil akhir dievaluasi secara berkesinambungan. Perawat mengunakan ketrampilan komunikasi, kekuatan personal, dan pemahaman perilaku manusia untuk interaksi dengan klien. Dalam hubunngan terapeutik jelas parameternya adalah berfokus pada kebutuhan klien bukan kebutuhan perawat. Perawat tidak perlu khawatir apakah klien menyukai atau bahkan berterima kasih kepada perawat. Hal ini merupakan tanda bahwa perawat berfokus pada kebutuhan untuk disukai atau dibutuhkan. Perawat harus berusaha agar hubungan terapeutik tidak berkembang menjadi hubungan yang lebih sosial. Perawat harus secara konstan berfokus pada kebutuhan klien, bukan kebutuhan dirinya sendiri.

Tingkat kesadaran perawat bisa menguntungkan atau merugikan hubungan terapeutik, misalnya jika perawat merasa gugup dengan klien. Hubungan tersebut lebih bersifat sosial karena hubungan yang bersifat superfisial lebih aman. Apabila perawat menyadari ketakutannya, kekuatan itu dapat didiskusikan dan dihilangkan dengan bantuan pembimbing perawat tersebut. Hal ini membantu terbinanya hubungan yang lebih terapeutik  ( Sheila L Videbeck, 2008). Peplau menjelaskan tentang empat fase hubungan terapeutik yang saling berkaitan yaitu, orientasi, identifikasi, eksploitasi,  dan resolusi. Setiap fase diperlukan peran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan klien (Asmadi, 2005)

2. Fase hubungan terapeutik menurut Hildegard Peplau
a. Orientasi
Pada fase awal, orientasi perawat dan klien bertindak sebagai dua individu yang belum mengenal. Selama fase orientasi, klien merupakan seseorang yang memerlukan bantuan professional dan perawat berperan membantu klien mengenali dan memahami masalahnya serta menetukan apa yang klien perlukan saat itu.

Namun kebutuhan ini tidak dapat dengan mudah diidentifikasi atau dipahami oleh individu-individu yang terlibat. Ini sangat penting bahwa perawat bekerja sama dengan pasien dan keluarga dalam menganalisis situasi sehingga mereka bersama-sama dapat mengenali, memperjelas, dan mendefinisikan masalah yang ada.

Dengan saling menjelaskan dan mendefinisikan masalah dalam fase orientasi, pasien dapat mengarahkan energi yang terakumulasi dari kecemasan kebutuhan yang tidak terpenuhi untuk lebih konstruktif berhadapan dengan masalah yang diajukan. Hubungan didirikan dan terus diperkuat sementara kekhawatiran sedang diidentifikasi.
Saat pasien dan keluarga berbicara dengan perawat keputusan bersama perlu dibuat tentang jenis layanan professional apa yang harus digunakan.

Perawat sebagai narasumber, dapat bekerja dengan pasien dan keluarga. Sebagai alternatif perawat membuat kesepakatan bersama dari semua pihak yang terlibat lihat keluarga sebagai sumber lain seperti psikolog, psikiater, atau pekerja sosial. Pada tahap orientasi perawat, pasien, dan keluarga merencanakan apa jenis layanan yang dibutuhkan.

Fase orientasi secara langsung dipengaruhi oleh sikap pasien dan perawat tentang memberi atau menerima bantuan. Oleh karena itu, dalam tahap awal perawat perlu menyadari reaksi diri kepada pasien. Perawatan adalah proses interpersonal, baik pasien dan perawat memiliki bagian yang sama penting dalam interaksi terapeutik.

Hal ini dapat mengurangi ketegangan dan kecemasan terkait dengan kebutuhan yang dirasakan dan rasa takut yang tidak diketahui. Penurunan ketegangan dan kecemasan mencegah masalah lain yang timbul sebagai akibat dari depresi. Situasi stres diidentifikasi melalui interaksi terapeutik. Sangat penting bahwa pasien mengenali dan mulai bekerja melalui apa yang dirasakan terkait dengan penyebab penyakitnya.

Pada akhir fase orientasi perawat dan klien  bersama-sama mengidentifikasi adanya serta menumbuhkan rasa saling percaya sehingga keduannya siap untuk melangkah ke fase berikutnya ( Asmadi, 2005).

1. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam fase orientasi
a). Kontrak perawat – klien
Walaupun banyak klien memiliki pengalaman sebelumnya di sistem kesehatan jiwa, penting bagi perawat untuk sekali lagi menjelaskan tanggung jawab perawat dan klien. Tangung jawab ini pada awalnya harus disepakati dalam kontrak informal atau verbal. Apabila kontrak tertulis diperlukan klien dimasa lalu atau jika klien lupa kontrak verbal yang telah disepakati, kontrak tertulis mungkin tepat dilakukan. Kontrak tersebut harus berisi :
1)    Waktu, tempat, dan lama sesi pertemuan.
2)    Kapan sesi pertemuan berakhir.
3)    Siapa yang terlibat dalam rencana terapi.
4)    Tangung jawab klien (tiba tepat waktu, selesai tepat waktu).
5)    Tangung jawab perawat (tiba tepat waktu, selesai tepat waktu, menjaga kerahasiaan setiap waktu, mengevaluasi kemajuan klien,dan mendokumentasikan sesi pertemuan).

b). Kerahasiaan
Klien dewasa dapat memutuskan anggota keluarga yang dapat dilibatkan dalam terapi dan dapat memiliki akses informasi klinis jika ada. Idealnya, individu yang dekat dengan klien dan bertangung jawab untuk perawatan klien yang dilibatkan. Akan tetapi, klien memutuskan siapa yang akan dilibatkan, agar klien merasa aman dan batasan harus jelas.

Informasi tentang siapa yang memiliki akses ke data pengkajian klien dan evaluasi kemajuan klien harus disampaikan kepada klien dengan jelas. Klien harus diberitahu bahwa tim kesehatan jiwa saling berbagi informasi yang tepat untuk memberi perawatan yang konsisten  dan anggota keluarga dapat diberitahu hanya jika klien mengizinkan.

b. Identifikasi
Pada fase ini klien  memberikan respon atau mengidentifikasi  persoalan yang dihadapi bersama orang yang dianggap memahami masalahnya. Respon setiap klien berbeda satu sama lain. Disini perawat melakukan eksploitasi perasaan dan membantu klien menghadapi masalah yang dirasakan sebagai pengalaman yang mengorietasi ulang masalahnya dan menguatkan kekuatan positif pada pribadi klien serta memberi kepuasan yang diperlukan .

Selama fase identifikasi,  klien diharapkan mulai  memiliki perasaan terlibat dan mulai memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah dengan mengurangi rasa tidak berdaya dan putus asa. Upaya ini akan membuat sikap positif kepada diri klien guna melaju ke fase selanjutnya. 

Bagian pengalaman dari klien dan perawat akan memiliki titik tengah apa harapan mereka selama proses interpersonal. Seperti disebutkan dalam fase orientasi, sikap awal dari pasien dan perawat sangat penting dalam membangun hubungan kerja untuk mengidentifikasi masalah dan memutuskan bantuan yang tepat. Persepsi dan harapan klien dan perawat dalam fase identifikasi lebih kompleks dari pada fase sebelumnya.

c. Eksploitasi
Pada fase ini, perawat memberi layanan keperawatan berdasarkan  kebutuhan klien. Disini, masing-masing pihak mulai merasa menjadi bagian integral dari proses interpersonal. Selama fase eksploitasi klien mengambil secara penuh nilai yang ditawarkan kepadanya melalui sebuah hubungan (Asmadi, 2005). Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal. Dalam fase ini perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.

Prinsip tidakan pada fase ini adalah eksploitasi atau menggali, memahami keadaan klien, dan  mencegah meluasnya masalah. Perawat mendorong klien untuk menggali dan mengungkapkan perasaan, emosi, pikiran serta sikapnya tanpa paksaan dan mempertahankan suasana terapeutik yang mendukung. Melalui penentuan nasib sendiri, pasien semakin mengembangkan tanggung jawab untuk dirinya sendiri. Kepercayaan pada potensi, dan penyesuaian menuju kemandirian dan kemerdekaan. Pasien-pasien ini realistis mulai membangun tujuan mereka sendiri terhadap status kesehatan.

Mereka berjuang untuk mencapai pola atau arah hidup mereka kepada kesehatan. Hal ini dicapai dengan menjadi produktif, dengan percaya dan tergantung pada kemampuan mereka sendiri. Akibatnya, kepribadian mereka terus terbentuk, mereka mengembangkan sumber-sumber kekuatan batin yang menghadapi masalah baru atau tantangan. Klien mungkin dalam peran dependen sementara kebutuhan simultan untuk kemerdekaan. Ada berbagai penyebab dapat memicu timbulnya ketidakseimbangan psikologis ini. Klien akan terombang-ambing dan akan muncul perasaan bingung dan cemas. Dalam merawat pasien yang berfluktuasi antara ketergantungan dan kemandirian, perawat harus terlibat dengan perilaku tertentu untuk menangani masalah inkonsistensi komposit.

Pada fase ini, perawat juga dituntut menguasai keterampilan berkomunikasi secara terapeutik. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fase eksploitasi merupakan fase pemberian bantuan kepada klien sebagai langkah pemecahan masalah. Jika fase ini berhasil, proses interpersonal akan berlanjut ke fase akhir, yaitu fase resolusi.
a). Tugas khusus perawat dalam fase ekspoitasi
1)    Mempertahankan hubungan
2)    Mengumpulkan lebih banyak data
3)    Mengekspoitasi persepsi realitas
4)    Mengembangkan mekanisme koping positif
5)    Meningkatkan persepsi diri positif
6)    Mendorong verbalisasi perasaaan
7)    Memfasilitasi perubahan perilaku
8)    Mengatasi resistens
9)    Mengevaluasi kemajuan dan mendefinisikan kembali tujuan jika tepat
10) Memberi kesempatan klien untuk mempraktikkan perilaku baru
11) Meningkatkan kemandirian (Sheila L Videbeck, 2008).

d. Resolusi
Pada fase resolusi, tujuan bersama antara perawat dan klien sudah sampai pada tahap akhir dan keduanya siap mengakhiri hubungan terapeutik yang selama ini terjalin. Fase resolusi terkadang menjadi fase yang sulit bagi kedua belah pihak sebab disini dapat terjadi peningkatan kecemasan dan ketegangan jika ada hal-hal yang belum terselesaikan pada masing-masing fase. Indikator keberhasilan untuk fase ini  adalah  jika klien sudah mampu mandiri dan lepas dari bantuan perawat. Selanjutnya, baik perawat maupun klien akan menjadi individu yang matang dan lebih berpengalaman (Asmadi, 2005).


DAFTAR PUSTAKA

1.    Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta : Jakarta.
2.    Asmadi, 2008.  Konsep Dasar Keperawatan. EGC : Jakarta.
3.    Carpeniti, L,J, 2009. Buku Saku Diagnosa Keperawata. EGC : Jakarta.
4.    Gail W, Stuart, 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa,  Edisi 5. EGC : Jakarta.
5.    Gazalba, Sidi. 2007. Pengantar Sejarah sebagai Ilmu. Bhatara  : Jakarta.
6.    Haryanto, 2007. Konsep Dasar Keperawatan dengan Pemetaaan Konsep              (Concept Mapping). Salemba Medika : Jakarta.
7.    Herdman, T. Helther, 2009. NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. EGC : Jakarta.
8.    Hidayat, A.Alimul Aziz, 2006.  Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
9.    Irawati, Dewi, 2011. Kualitas perawat di Indonesia buruk.                                                                         http://www.wartakotalive.com/mobile/detil/70944. Diakses 12 April 2012.   
10. Keliat, Budi Anna, 2011. Manajemen Keperawatan Psikososial & Kader Kesehatan Jiwa CMHN ( Intermediate Course ). EGC : Jakarta.
11. Keliat, Budi Anna, 2011.  Manajemen Kasus Gangguan Jiwa CMHN                      ( Intermediate Course). EGC : Jakarta.
12. Keliat, Budi Anna, 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, edisi 2. EGC : Jakarta.
13. Nettina, Sandra M, 2002. Pedoman Praktik Keperawatan. EGC : Jakarta.
14. Notoatmodjo, Soekidjo, 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Rineka Cipta : Jakarta.
15. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.
16. Nursalam, 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
17. Potter, Perry, 2011. Fundamental Keperawatan,  Edisi . EGC : Jakarta.
18. Riyadi, Sujono dan Riyadi, Teguh, 2009.  Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu : Jakarta.
19. Riyanto, Agus, 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Offset : Yogjakarta.
20. Santosa, Singgih, 2012. Aplikasi SPSS pada Statistik Non Parametrik. PT Elex Media Komputindo : Jakarta.
21. Soesanto, Wibisono, 2009. Biostatistik Penelitian Kesehatan (spss 16 for windows). Perc. Duatujuh : Surabaya.
22. Surajiyo, 2006. Dasar Dasar Logika. Bumi Aksara : Jakarta.
23. Videbeck, Sheila L, 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. EGC : Jakarta.
24. Wiracahyo, 2011, Rata-rata 1000 orang di JATIM sakit jiwa. http://www.informasijatim.com/2011/10/rata-rata-1000-orang-di-jatim-sakit.html. Diakses 12 April 2012.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar