PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 02 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PERSEPSI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PERSEPSI

1. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkannya. Persepsi adalah memberikan makna kepada stimulus (Notoatmodjo, 2010 : 92).

Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses pengindraan, yaitu proses diterimanya stimulus oleh alat indra, kemudian individu ada perhatian, lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dinamakan persepsi. Dengan persepsi individu menyadari, dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya maupun tentang hal yang ada dalam diri individu yang bersangkutan (Sunaryo, 2004 : 93).

Menurut Bimo Walgito yang dikutip oleh Alex Sobur (2011), persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian, terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu.

2. Macam – macam Persepsi
Ada 2 macam persepsi :
1)    Eksternal perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang datang dari luar diri individu.
2)    Self-perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang berasal dari diri sendiri. Dalam hal ini yang menjadi objek adalah individu itu sendiri (Sunaryo, 2004 : 94).

3. Proses Persepsi
Dalam proses persepsi ada 3 komponen, yaitu :
a). Seleksi
Adalah proses penyaringan oleh indra terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.

b). Interpretasi
Yaitu proses pengorganisasian informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang, interpretasinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pengalaman masa lalu, motivasi, kepribadian dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkategorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.

c). Interpretasi dan persepsi kemudian diterjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi (Sobur, 2011 : 447).

1. Tahap-tahap dalam proses persepsi :
a). Terjadinya stimulasi alat indra (Sensory Stimulation)
Alat indra dirangsang. Contohnya melihat orang yang lama tidak jumpa. Meskipun memiliki kemampuan untuk  merasakan stimulus (rangsangan), kita tidak selalu menggunakannya.

b). Stimulasi oleh alat indra diatur
Rangsangan dari alat indra diatur menurut bagian prinsip. Salah satu prinsip yang digunakan adalah prinsip kemiripan, yaitu orang atau pesan yang secara fisik mirip satu sama lain, dipersepsikan bersama-sama, atau sebagai satu kesatuan (unity). Prinsip lain adalah kelengkapan (closure) yaitu kita memandang atau memersepsikan suatu gambar atau pesan dalam kenyataan tidak lengkap sebagai gambar atau pesan yang lengkap. Kemiripan atau kelengkapan hanyalah dua diantara banyak prinsip pengaturan yang akan kita singgung. Dalam membayangkan prinsip-prinsip ini, hendaknya kita ingat apa yang kita persepsikan, juga kita tata ke dalam pola yang bermakna bagi kita. Pola tentu benar atau logis dari segi objektif tertentu.

c). Stimulasi alat indra ditafsirkan – dievaluasi
Merupakan proses subjektif yang melibatkan evaluasi dipihak penerima. Penafsiran-evaluasi kita tidak semata-mata didasarkan pada rangsangan luar, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, kebutuhan, keinginan, keyakinan tentang yang seharusnya, keadaan fisik dan emosi pada saat itu, dan sebagainya pada diri kita (Sobur, 2011: 449-451).

2. Menurut Pareek yang dikutip oleh Alex Sobur (2011), proses persepsi terdiri dari :
a). Proses menerima
Merupakan proses pertama dalam persepsi yaitu untuk menerima rangsang atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan data diterima melalui panca indra, sehingga proses ini sering disebut dengan pengindraan atau sensasi.

b). Proses menyeleksi rangsang
Yaitu merupakan proses seleksi atau sebuah mekanisme dari sebuah persepsi.

c). Proses pengorganisasian
Data atau rangsang yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam suatu bentuk. Pengorganisasian sebagai proses seleksi atau screening berarti beberapa informasi akan diproses dan yang lain tidak. Dengan kata lain berarti bahwa informasi yang diproses akan digolongkan dan dikategorikan dengan beberapa cara. Hal ini akan memberikan arah untuk mengartikan stimulus. Kategorikan tersebut mungkin terjadi secara terperinci, yang terpenting adalah mengkategorikan informasi yang kompleks kedalam bentuk yang sederhana.

d). Proses penafsiran
Setelah rangsangan atau data diterima dan diatur, kemudian penerima menafsirkan data itu dengan berbagai cara. Dikatakan bahwa telah terjadi persepsi setelah data itu ditafsirkan. Dengan kata lain persepsi memberikan arti pada berbagai data dan informasi yang diterima.

e). Proses pengecekan
Setelah data diterima dan ditafsirkan, penerima mengambil beberapa tindakan untuk mengecek apakan penafsiran benar atau salah. Pengecekan dapat dilakukan untuk menegaskan apakah penafsiran atau persepsi dibenarkan oleh data baru.

f). Proses reaksi
Proses akhir dari persepsi yaitu bertindak sehubungan dengan apa yang telah diserap. Tindakan ini bisa tersembunyi dan bisa terbuka. Tindakan tersembunyi berupa pembentukan pendapat atau sikap, sedangkan tindakan terbuka berupa tindakan nyata sehubungan dengan persepsi (Sobur, 2011 :451-464)

4. Proses menyeleksi rangsangan
Ada banyak faktor yang akan menyebabkan stimulus masuk dalam rentang perhatian kita. Faktor penyebab ini dapat kita bagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah faktor yang melekat pada objeknya, sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat pada orang yang mempersepsikan stimulus tersebut.
1). Faktor internal
a). Kebutuhan psikologis
Kebutuhan psikologis seseorang mempengaruhi persepsinya.

b). Latar belakang
Latar belakang mempengaruhi hal-hal yang dipilih dalam persepsinya.

c). Pengalaman
Pengalaman mempersiapkan seseorang untuk mencari orang-orang, hal-hal, dan gejala yang mungkin serupa dengan pengalaman pribadinya.

d). Kepribadian
Kepribadian mempengaruhi persepsi, seseorang yang intovert mungkin akan tertarik kepada orang-orang yang sama sekali berbeda.

e). Sikap dan kepercayaan umum
Sikap dan kepercayaan umum juga mempengaruhi persepsi.

f). Penerimaan diri
Penerimaan diri merupakan sifat penting yang mempengaruhi persepsi. Beberapa telah menunjukkan bahwa mereka yang lebih ikhlas menerima kenyataan diri akan lebih tepat menyerap sesuatu daripada mereka yang kurang ikhlas menerima realitas dirinya.

2). Faktor eksternal
Beberapa faktor yang dianggap penting pengaruhnya terhadap seleksi rangsangan ialah:
a). Intesitas
Pada umumnya rangsangan yang lebih intensif mendapatkan lebih banyak tanggapan daripada rangsangan yang kurang intens.

b). Ukuran
Pada umumnya benda-benda yang lebih besar lebih menarik perhatiannya.

c). Kontras
Hal lain yang biasa kita lihat akan cepat menarik perhatian.

d). Gerakan
Hal-hal yang bergerak lebih menarik perhatian dari pada hal-hal yang diam.

e). Ulangan
Hal-hal yang berulang dapat menarik perhatian. Ulangan mempunyai nilai yang menarik perhatian selama digunakan dengan hati-hati.

f). Keakraban
Hal-hal yang akrab atau dikenal lebih menarik perhatian. Hal ini terutama jika hal tertentu tidak diharapkan dalam rangka tertentu.

g). Sesuatu yang baru bertentangan dengan faktor keakraban, akan tetapi hal-hal baru juga menarik perhatian. Jika orang sudah biasa dengan kerangka yang sudah dikenal, sesuatu yang baru menarik perhatian (Sobur, 2011 : 452-455)

5. Ada 4 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu :
a). Faktor Fungsional
Faktor fungsional dihasilkan dari kebutuhan, suasana hati, pelayanan, pengalaman masa lalu seorang individu.

b). Faktor Struktural
Yaitu faktor yang timbul atau dihasilkan dari bentuk stimulasi dan efek netral yang ditimbulkan dari sistem saraf individu.

c). Faktor Situasional
Faktor ini banyak berkaitan dengan bahasa nonverbal. Petunjuk proksemik, petunjuk kinesik, petunjuk wajah, dan petunjuk paralinguistik adalah beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi.

d). Faktor personal
Terdiri atas pengalaman, motivasi, kepribadian (Sobur, 2011 : 460-462)

6. Syarat individu dapat mengadakan Persepsi
Melalui persepsi individu menyadari dan dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada disekitarnya serta tentang hal – hal yang ada dalam diri individu yang bersangkutan (self-perception). Alat penghubungnya adalah indra.

Persepsi dimulai dari pengindraan, yaitu dengan diterimannya stimulus oleh reseptor, diteruskan ke otak yang diorganisasikan dan diinterfensikan sebagai proses psikologis dan akhirnya individu menyadari tentang apa yang dilihat dan didengar.
Syarat terjadinya persepsi yaitu :
1)    Adanya objek : objek  stimulus  alat indra (reseptor)
2)    Adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi
3)    Adannya alat indra sebagai reseptor penerima stimulus
4)    Syaraf sensori sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak (pusat saraf atau pusat kesadaran). Dari otak dibawa melalui saraf motorik sebagai alat untuk mengadakan respons (Sunaryo, 2004 : 97 – 98).

7. Proses terjadinya Persepsi
Proses terjadinya persepsi melalui 3 tahapan, yaitu :
1)    Proses fisik (kealaman), objek à stimulus à reseptor
2)    Proses fisiologis, stimulus à saraf sensori à otak
3)    Proses psikologis, proses dalam otak sehingga individu menyadari stimulasi yang diterima
Jadi syarat untuk mengadakan persepsi perlu ada proses fisik, fisiologis, dan psikologis. Secara bagan dapat digambarkan sebagai berikut

8. Gangguan Persepsi
Disperception (gangguan persepsi) adalah kesalahan atau gangguan dalam persepsi. Menurut Maramis yang dikutip oleh Sunaryo (2004) terdapat 7 macam gangguan persepsi, antara lain :
a). Ilusi
Ilusi adalah interpretasi yang salah atau menyimpang tentang penyerapan (persepsi) yang sebenarnya sungguh – sungguh terjadi karena adanya rangsang pada reseptor. Secara singkat ilusi persepsi atau pengamatan yang menyimpang.

b). Halusinasi atau maya
Yaitu penyerapan (persepsi) tanpa adanya rangsang apapun pada reseptor (alat indra) seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar atau bangun sadarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. Secara garis besar halusinasi diartikan sebagai persepsi atau pengamatan palsu.

c). Depersonalisasi
Dipersonalisasi ialah persaan yang aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tdak seperti biasa lagi, tidak menurut kenyataan atau kondisi patologis yang seseorang merasa bahwa dirinya atau tubunya sebagai tdak nyata.

d). Derealisasi
Ialah perasaan aneh tentang lingkungan di sekitar dan tidak menurut kenyataan sebenarnya.

e). Gangguan somatosensorik pada reaksi konversi
Secara harfiah soma adalah tubuh, dan sensori adalah mekanisme neurologis yang terlibat dalam proses pengindraan dan perasaan. Jadi, somatosensorik adalah suatu keadaan menyangkut tubuh yang secara simbolik menggambarkan adanya suatu konflik emosional.

f). Gangguan psikofisiologik
Yaitu gangguan pada tubuh yang disarafi oleh susunan saraf yang berhubungan dengan kehidupan (nervus vegetatif) dan di sebabkan oleh gangguan emosi.

g). Agnosia
Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan persepsi, baik sebagian maupun total sebagai akibat kerusakan otak (Sunaryo, 2004 : 94 – 97).

9. Ciri – ciri Persepsi
1)    Proses pengorganisasian berbagai pengalaman
2)    Proses menghubung – hubungkan antara pengalaman masa lalu dengan saat ini
3)    Proses pemilihan informasi
4)    Proses teoritis dan rasional
5)    Proses penafsiran atau pemaknaan pesan verbal dan nonverbal
6)    Proses interaksi dan komunikasi berbagai pengalaman internal dan eksternal
7)    Melakukan penyimpulan dan keputusan – keputusan, pengertian dan yang membentuk persepsi individu.

10. Pengukuran Persepsi
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian, fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian (Sugiyono, 2009)

Menurut Azwar (2010), pengukuran persepsi dapat dilakukan dengan menggunakan Skala Likert, dengan kategori sebagai berikut:
a). Pernyataan Positif/ Pernyataan Negatif
1)    Sangat Setuju: SS
2)    Setuju: S
3)    Ragu-ragu: R
4)    Tidak Setuju:TS
5)    Sangat Tidak Setuju:STS

b). Kriteria pengukuran persepsi yakni :
1)    Persepsi positif jika nilai T skor yang diperoleh responden dari kuesioner ≥ T mean.
2)    Persepsi negatif jika nilai T skor yang diperoleh responden dari kuesioner < T mean.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Azwar, Saifuddin, 2010, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta : 155-157
2.    BKKBN, 2011, Pasutri Jarang Pake Kontrasepsi BKKBN Turunkan 35 Ribu Bidan, http://ekbis.rmol.co/read/2011/10/02/41128/Pasutri-Jarang-Pake-Kontrasepsi-BKKBN-Turunkan-35-Ribu-Bidan, diakses tanggal 14 Januari 2013
3.    Depkes, 2011, Situasi Upaya Kesehatan, http://www.depkes.go.id/downloads/ Profil_Data_Kesehatan_Indonesia_Tahun_2011.pdf,  diakses tanggal 13 Januari 2013
4.    Depkes, 2011, Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi Untuk Remaja Putri Dan Wanita Usia Subur, gizi.depkes.go.id/anemia/Pedoman%20Anemia% 20Gizi.doc, diakses tanggal 18 Januari 2013
5.    Dinkes Jatim, 2011, Situasi Upaya Kesehatan, http://dinkes.Jatimprov .go.id/userfile/dokumen/1321926974_Profil_Kesehatan_Provinsi_Jawa_Timur_2011.pdf, diakses tanggal 13 Januari 2013.
6.    Dinkes Jombang, 2011, Situasi Derajat Kesehatan, http://www.jombangkab. go.id/egov/SatKerDa/page/1.2.6.2/2011%20Profil%20Kesehatan%20Bab%20IV.pdf, diakses tanggal 12 Januari 2013
7.    Dinkes Jombang, 2010, Situasi Upaya Kesehatan, http://www.jombangkab. go.id/egov/SatKerDa/page/1.2.6.2/2010%20Profil%20Kesehatan%20Bab%20IV.pdf, diakses tanggal 12 Januari 2013
8.    Dinkes Jombang, 2009, Situasi Upaya Kesehatan, http://www.jombangkab. go.id/egov/SatKerDa/page/1.2.6.2/2009%20Profil%20Kesehatan%20Bab%20IV.pdf, diakses tanggal 12 Januari 2013
9.    Hartanto, Hanafi, 2004, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta : 26-27
10. Hidayat, Azis Alimul, 2009, Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta : 60-79
11. Humas BKKBN Jatim, 2012, BKKBN Ajak Ulama Dukung Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Ber-KB, http://www.bkkbnjatim.com /berita.php?p=berita_detail&id=705, diakses tanggal 14 Januari 2013
12. Humas BKKBN Jatim, 2012, Upayakan Optimalisasi Pelayanan KB, Gelar Temu Koordinasi bersama IBI dan Dinkes, http://www.bkkbnjatim.com /berita.php?p=berita_detail&id=470, diakses tanggal 13 Januari 2013
13. Mansjoer, Arif, 2009, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculaplus, Jakarta : 350-355
14. Manuaba, Ida Bagus, 2005, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta : 441-444
15. Mochtar, Rustam, 2002, Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta : 268-276
16. Nazir, Moh, 2009, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor : 84-85
17. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010, Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta : 92
18. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta : 35-36
19. Nursalam, 2011, Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta : 109-111
20. Saryono, 2011, Metodelogi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendekia, Yogyakarta : 66-70
21. Setyaarum, Dyah Noviawati, 2009, Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini, Muha Medika, Yogyakarta : 96-115
22. Simbolon, Desnal, 2010, Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Pil Pada Akseptor KB Di Desa Pandiangan Kecamatan Laeparira Kabupaten Dairi, http://repository.usu .ac.id/bitstream/123456789/20492/7/09E02377.pdf, diakses tanggal 23 Februari 2013
23. Sobur,  Alex, 2011, Psikologi Umum, CV Pustaka Setia, Bandung : 446 – 497
24. Suparyanto, 2011, Wanita Usia Subur (WUS), http://dr.suparyanto. blogspot.com/2011/10/wanita-usia-subur-wus.html, diakses tanggal 20 Januari 2013
25. Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Alfabeta, Bandung : 147
26. Sunaryo, 2004, Psikologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta : 93-98
27. Syaifuddin, Abdul Bari, 2006, Buku Pelayanan Praktis Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : MK-29
28. Varney, Helen, 2008, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, EGC, Jakarta :462-465
29. Wiknjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : 534




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar