PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 04 Mei 2013

SEKILAS TENTANG REMAJA

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG REMAJA

1. Pengertian remaja
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statement ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang (Supriyatna, 2010).

Anak remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi ia tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua. Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisik maupun psikisnya. Ditinjau dari segi tersebut mereka masih termasuk golongan kanak-kanak, mereka masih harus menemukan tempat dalam masyarakat (Monks, 2006: 259).

Dikatakan bahwa masa remaja dikenal dengan masa mencari identitas diri. Yakni fase di mana individu mengalami pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi (Tridhonanto, 2010: 1).
Jadi, remaja adalah suatu periode perkembangan usia antara tahap anak-anak menuju tahap dewasa yang diiringi dengan pertumbuhan baik fisik maupun psikis yang bervariasi.

2. Batasan usia remaja
Menurut WHO dalam Benih Nirwana (2011 : 14) menyatakan bahwa anak dikatakan remaja apabila telah mencapai usia 10-28 tahun. Sedangkan dalam Sarwono (2011 : 12-17) dikemukakan beberapa pendapat para ahli diantaranya Monks (2000) memberi batasan usia remaja adalah ketika mencapai usia 12-21 tahun. Menurut Hurlock (1990) membagi menjadi masa remaja (13-16 atau 17 tahun) dan remaja akhir (16 atau 17-18 tahun).

Menurut Monks (2006 : 262)Suatu analisis yang cermat mengenai semua aspek perkembangan dalam masa remaja, yang secara global berlangsung antara umur 12-21 tahun, dengan pembagian :
1)    Masa remaja awal (12-15 tahun)
2)    Masa remaja pertengahan (15-18 tahun)
3)    Masa remaja akhir (18-21 tahun).

Tabel 2.1. Batasan Remaja Menurut Usia (Damayanti, 2012)

No.
Pendapat
Para Ahli
Remaja
Awal
Remaja Pertengahan
Remaja
Akhir
Dewasa
Muda
1.
Feldman-Elliot
10-14 Tahun
15-17 Tahun
18-20 Tahun
-
2.
Stantrock
10-13 Tahun
14-17 Tahun
18-22 Tahun
-
3.
James-Traore
10-14 Tahun
15-19 Tahun
-
20-24 Tahun
4.
Indonesia
-
10-19 Tahun
-
Belum
Menikah


3. Tahap tumbuh kembang remaja
Menurut Nasir (2010: 124) berikut ini adalah tahap perkembangan remaja (12-18 atau 20 tahun):
1)    Konsep diri berubah sesuai dengan perkembangan biologis
2)    Mencoba nilai-nilai yang berlaku
3)    Pertambahan maksimal pada tinggi dan berat badan
4)    Stress meningkat terutama saat terjadi konflik
5)    Anak wanita mulai mendapatkan haid, tampak lebih gemuk
6)    Berbicara lama di telepon, suasana hati berubah-ubah (emosi labil), serta kesukaan seksual mulai terlihat
7)    Menyesuaikan diri dengan standar kelompok
8)    Anak laki-laki lebih menyukai olahraga, anak perempuan suka bicara tentang pakaian atau make up
9)    Hubungan anak dengan orang tua mencapai titik terendah, anak mulai melepaskan diri dari orang tua
10) Takut di tolak oleh teman sebayanya
11) Pada masa akhir remaja mencapai maturitas fisik, mengejar carier, identitas seksual terbentuk, lebih nyaman dengan diri sendiri, kelompok sebaya kurang begitu penting, emosi lebih terkontrol, serta membentuk hubungan yang menetap.

4. Tugas perkembangan remaja
Menurut Robert Havighurst dalam Nasir (2010: 126), tugas perkembangan anak remaja (adolesence) sebagai berikut:
1)    Membina hubungan baru yang lebih dewasa dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan
2)    Pencapaian peran sosial maskulinitas atau feminitas
3)    Pencapaian kemandirian emosi dari orang tua, orang lain
4)    Pencapaian kemandirian dalam mengatur keuangan
5)    Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan secara efektif
6)    Memilih dan mempersiapkan pekerjaan
7)    Mempersiakan pernikahan dan kehidupan keluarga
8)    Membangun keterampilan dan konsep-konsep intelektual yang perlu bagi warga negara
9)    Pencapaian tanggung jawab sosial
10) Memperoleh nilai-nilai dan sistem etik sebagai penuntun dalam berperilaku.

5. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja
Menurut Supriyatna (2010) berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian. Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja :

a. Perubahan fisik masa remaja
1.Tinggi badan
Rata-rata anak perempuan mencapai tinggi dewasanya pada usia 17 atau 18 tahun dan bagi anak laki-laki satu tahun lebih dari usia tersebut.

2.Berat badan
Perubahan berat tubuh seiring dengan waktu sama dengan perubahan tinggi badan, hanya saja sekarang lebih menyebar ke seluruh tubuh.

3.Proporsi tubuh
Berbagai bagian tubuh secara bertahap mencapai proporsinya. Misal: badan lebih lebar dan lebih kuat.

4. Organ seksual
Pada laki-laki dan perempuan organ seksual mencapai ukuran dewasa pada periode remaja akhir, namun fungsinya belum matang sampai dengan beberapa tahun kemudian

5. Karakteristik seks sekunder
Karakteristik seks sekunder utama mengalami perkembangan pada level dewasa pada periode remaja akhir.

b. Emosionalitas masa remaja
Selain terjadi perubahan fisik yang sangat mencolok, juga terjadi perubahan dalam emosionalitas remaja yang cukup mengemuka, sehingga ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari perubahan pada aspek emosionalitas ini. Masa ini disebut sebagai masa storm and stress, dimana terjadi peningkatan ketegangan emosional yang dihasilkan dari perubahan fisik dan hormonal. Pada masa ini emosi seringkali sangat intens, tidak terkontrol dan nampak irrational, secara umum terdapat peningkatan perilaku emosional pada setiap usia yang dilalui. Misalnya, pada usia 14 tahun, remaja menjadi mudah marah, mudah gembira, dan meledak secara emosional, sedangkan pada usia 16 tahun terjadi kebalikannya mereka mengatakan tidak terlalu merasa khawatir.

Hal yang paling membuat remaja marah adalah apabila mereka diperlakukan seperti anak-anak atau pada saat merasa diperlakukan tidak adil. Ekspresi kemarahannya mungkin berupa mendongkol, menolak untuk bicara, atau mengkritik secara keras. Hal yang juga cukup mengemuka yaitu pada masa ini remaja lebih iri hati terhadap mereka yang memiliki materi lebih.

c. Perubahan sosial pada masa remaja
Salah satu tugas perkembangan yang paling sulit pada masa remaja adalah penyesuaian sosial. Penyesuaian ini harus dilakukan terhadap jenis kelamin yang berlainan dalam suatu relasi yang sebelumnya tidak pernah ada dan terhadap orang dewasa diluar keluarga dan lingkungan sekolah.

Pada masa ini remaja paling banyak menghabiskan waktu mereka di luar rumah bersama dengan teman sebaya mereka, sehingga bisa dipahami apabila teman sebaya sangat berpengaruh terhadap sikap, cara bicara, minat, penampilan, dan perilaku remaja.

Perubahan dalam perilaku sosial terlihat dengan adanya perubahan dalam sikap dan perilaku dalam relasi heteroseksual, mereka yang tadinya tidak menyukai keterlibatan lawan jenis menjadi menyukai pertemanan dengan lawan jenis. Secara umum dapat dikatakan bahwa minat terhadap lawan jenis meningkat. Selain itu, perubahan sosial yang terjadi dengan adanya nilai-nilai baru dalam memilih teman, dimana sekarang remaja lebih memilih yang memiliki minat dan nilai-nilai yang sama, bisa memahami dan membuat merasa aman, dapat dipercaya dan bisa diskusi mengenai hal-hal yang tidak bisa dibicarakan dengan guru atau orang tua. Pada masa ini pun remaja memiliki keinginan untuk tampil sebagai seorang yang populer dan disukai oleh lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

1)    Alimul Hidayat, A.Aziz, 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika: Jakarta.
2)    Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta.
3)    Benih Nirwana, Ade, 2011. Psikologi Ibu, Bayi dan Anak. Nuha Medika: Yogyakarta.
4)    Damayanti, Rita, 2012. Perilaku Berisiko Di Kalangan Orang Muda. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: Jakarta.
5)    Dio Martin, Anthony, 2011. Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda. Raih Asa Sukses: Jakarta.
6)    Gita, 2011. Emotional Quotient (EQ). http://sman1kayuagung.sch.id/index.php? pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=48, diakses 11 April 2012.
7)    Goleman, Daniel, 1996. Emotional Intelegence. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
8)    Hurlock, Elizabeth B, 1990. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga: Jakarta.
9)    Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009. Masalah Kesehatan Mental Emosional Remaja. http://www.idai.or.id/remaja.asp, diakses 20 maret 2012.
10) Koran Bogor, 2011. Menkes: 11,6% Penduduk Indonesia Penderita Gangguan Jiwa. http://koranbogor.com/nusantara/menkes-116-penduduk-indonesia-penderita-gangguan-jiwa.html, diakses 11 April 2012.
11) Luk Lukaningsih, Zuyina dan Siti Bandiyah, 2011. Psikologi Kesehatan. Nuha Medika: Yogyakarta.
12) Mahmudah, Hakimatul, 2011. Hubungan Emotional Quotient (EQ) dengan Derajat Depresi pada Siswi kelas XI Madrasah Aliyah Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta: Semarang.
13) Monks, Knoers, 2006. Psikologi  Perkembangan. Gajamada University Press: Yogyakarta.
14) Mutia, Evi dan Heru Fahlevi, 2007. Kecerdasan Emosional Dan Pengaruhnya Terhadap Tekanan Kerja. Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala : Banda Aceh.
15) Najmah, 2011. Managemen dan Analisa Data Kesehatan. Nuha Medika : Yogyakarta.
16) Nasir, Abdul dan Abdul Muhith, 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar dan Teori. Salemba Medika: Jakarta.
17) Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta.
18) Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.  Salemba Medika : Jakarta.
19) Nur Wulan Ningrum, Dian, 2009. Hubungan Antara Urutan Kelahiran dalam Keluarga dengan Kecerdasan Emosional pada Remaja di SMA Muhammadiyah I Klaten. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta.
20) Rachmi, Filia, 2010. Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang: Semarang.
21) Riyadi, Sujono dan Teguh Purwanto, 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu: Yogyakarta.
22) Riyanto, Agus, 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Medika: Yogyakarta.
23) Rizki, Arini, 2011. Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional. http://id.shvoong.com/tags/faktor-yang-mempengaruhi-kecerdasan-emosional/, diakses 11 April 2012.
24) Sarwono, Sarlito W, 2011. Psikologi Remaja. Rajawali Press: Jakarta.
25) Sriati, Aat, 2008. Tinjauan Tentang Stress. Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Keperawatan: Bandung.
26) Supriyatna, Ena, 2010. Remaja, Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya. Universitas Inderaprasta Fakultas Pendidikan Ekonomi: Jakarta.
27) Suyanto, 2011. Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Nuha Medika: Yogyakarta.
28) Tridhonanto, Al. dan Beranda Agency, 2010. Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosional. PT Elex Media Komputindo: Jakarta.
29) Yosep, Iyus, 2010. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama: Bandung.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar