PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG FAKTOR RISIKO ISPA

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG FAKTOR RISIKO ISPA

1. Faktor Resiko ISPA
Menurut Nastiti, (2008). Terdapat banyak faktor yang mendasari perjalanan penyakit ISPA pada anak. Hal ini berhubungan dengan host, agent penyakit dan environment.

Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kejadian ISPA antara lain :
1. Ventilasi Rumah
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar dan pengeluaran udara kotor secara alamiah atau mekanis (Keman, 2004). Ventilasi disamping berfungsi sebagai lubang pertukaran udara juga dapat berfungsi sebagai lubang masuknya cahaya alami atau matahari ke dalam ruangan. Kurangnya udara segar yang masuk ke dalam ruangan dan kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan peningkatan resiko kejadian ISPA. Adanya pemasangan ventilasi rumah merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA (Nindya dan Sulistyorini, 2005). Ventilasi merupakan determinan dari kejadian ISPA pada anak balita. Adapun besarnya risiko untuk terjadinya ISPA pada anak balita yang menempati rumah dengan ventilasi yang tidak memenuhi syarat sebesar 2,789 kali lebih besar dari pada anak balita yang menempati rumah dengan ventilasi yang memenuhi syarat (Chandra, 2007).

2. Kepadatan Hunian
Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya. Artinya, luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload . Hal ini tidak sehat karena disamping  menyebabkan kurangnya oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif bergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Untuk mencegah penularan penyakit pernapasan jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun (Yusuf, 2008).

3. Pencahayaan
Untuk memperoleh cahaya yang cukup pada siang hari, diperlukan luas jendela minimum 20% luas lantai. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri patogen di dalam rumah misanya, basil TB. Oleh karena itu, rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux. Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya. Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman  dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan kaca berwarna (Suryo, 2010).

4. Kebiasaan merokok
Merokok diketahui mempunyai hubungan dalam meningkatkan resiko untuk terkena penyakit kanker paru-paru, jantung koroner dan bronkitis kronis. Dalam satu batang rokok yang dihisap akan dikeluarkan sekitar  4.000 bahan kimia berbahaya, di antaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan Carbon Monoksida (CO). Asap rokok merupakan zat iritan yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan. Asap rokok mengandung ribuan bahan kimia beracun dan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kanker (karsinogen). Bahkan bahan berbahaya dan racun dalam rokok tidak hanya mengakibatkan gangguan kesehatan pada orang yang merokok, namun juga kepada orang-orang di sekitarnya yang tidak merokok yang sebagian besar adalah bayi, anak-anak dan ibu-ibu yang terpaksa menjadi perokok pasif oleh karena ayah atau suami mereka merokok di rumah. Kebiasaan merokok di dalam rumah dapat meningkatkan resiko terjadinya ISPA sebanyak 2,2 kali (Suryo, 2010).

5. Berat badan lahir rendah (BBLR)
Berat badan lahir memiliki peran penting terhadap kematian akibat ISPA. Di negara berkembang, kematian akibat pneumonia berhubungan dengan BBLR. Sebanyak 22% kematian pada pneumonia di perkirakan terjadi pada BBLR. Meta-analisis menunjukkan bahwa BBLR mempunyai RR kematian 6,4 pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan, dan 2,9 pada bayi berusia 6-11 bulan.

6. Imunisasi
Campak, pertusis dan beberapa penyakit lain dapat meningkatkan resiko terkena ISPA dan memperberat ISPA itu sendiri, tetapi sebetulnya hal ini dapat di cegah. Di india, anak yang baru sembuh dari campak, selama 6 bulan berikutnya dapat mengalami ISPA enam kali lebih sering dari pada anak yang tidak terkena campak. Campak, pertusis, dan difteri bersama-sama dapat menyebabkan 15-25% dari seluruh kematian yang berkaitan dengan ISPA. Vaksin campak cukup efektif dan dapat mencegah kematian hingga 25% usaha global dalam meningkatkan cakupan imunisasi campak dan pertusis telah mengurangi angka kematian ISPA akibat kedua penyakit ini. Vaksin pneomokokus dan H. Influenzae  type B saat ini sudah di berikan pada anak anak dengan efektivitas yang cukup baik.

7. Status gizi
Status gizi anak merupakan faktor resiko penting timbulnya pneumonia. Gizi buruk merupakan faktor predisposisi terjadinya ISPA pada anak. Hal ini di karenakan adanya gangguan respon imun. Vitamin A sangat berhubungan dengan beratnya infeksi. Grant melaporkan bahwa anak dengan defisiensi vitamin A yang ringan mengalami ISPA dua kali lebih banyak daripada anak yang tidak mengalami defisiensi vitamin A. Oleh karena itu, selain perbaikan gizi dan perbaikan ASI, harus di lakukan pula perbaikan terhadap defisiensi vitamin A untuk mencegah ISPA.

2. Penyakit yang timbul akibat ISPA
Beberapa penyakit yang merupakan infeksi pada saluran pernafasan atas akut yaitu influenza, otitis media, dan faringitis (Erlien, 2008).

A. Influenza
Influenza sering juga disebut flu, merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan gejala-gejala yang di timbulkan mengakibatkan terganggunya sistem pernafasan. Influensa berbeda dengan pilek (common cold). Perbedaan ini terdapat pada penyebab terjangkitnya penyakit maupun gejala-gejala yang ditimbulkannya.

1. Penyebab influenza
Influenza di sebabkan oleh tiga tipe virus influenza yang terdiri atas virus influensa A, B, dan C. Virus influenza tipe A dan tipe B dapat berubah secara konstan yang akan menimbulkan strain baru. Penularan virus influenza biasanya terjadi karena adanya kontak langsung dengan penderita. Selain itu penularan juga dapat terjadi jika menghirup virus flu secara langsung atau terkena virus dari benda-benda yang sebelumnya telah digunakan penderita flu. Penularan virus ini tidak hanya melalui alat pernafasan saja tetapi juga dapat disebarkan melalui mata atau mulut.

2. Gejala influenza
1)    Demam kadang-kadang lebih dari 38oC. Pada anak-anak demam ini cenderung lebih tinggi dari pada orang yang telah dewasa yaitu sekitar 40 oC.
2)    Gemetar dan berkeringat
3)    Sakit kepala dan sering bertambah parah jika berada ditempat yang terang
4)    Gangguan pada saluran pernafasan
5)    Nyeri dan sakit otot terutama pada daerah punggung, lengan dan kaki.
6)    Kelelahan dan merasa lemas
7)    Hilang nafsu makan
8)    Pada anak-anak sering disertai dengan diare dan muntah.

3. Pengobatan dan perawatan influenza
Seperti halnya penyakit yang di sebabkan virus, influenza juga tidak memiliki antibiotik maupun obat yang dapat mematikan virus. Akan tetapi orang yang terserang flu akan segera membentuk zat yang melawan virus yang masuk.
           
Zat tersebut merupakan sejenis protein yang di bentuk oleh tubuh dan disebut antibodi. Pembentukan maupun keampuhan antibodi dalam melawan virus yang masuk sangat tergantung daya tahan serta vitalitas tubuh. Apabila daya tahan tubuh masih baik, biasanya flu lebih cenderung cepat reda. Oleh karena itu, penderita flu sangat di sarankan untuk beristirahat yang baik serta mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung gizi yang diperlukan tubuh. Selain itu di sarankan pula untuk lebih banyak minum terutama air putih untuk mengganti cairan yang keluar dari hidung.
           
Apabila gejala yang di rasakan menjadi lebih berat dapat diberikan obat-obatan seperti asetaminofen, aspirin, ibuprofen, atau naproksen. Tidak jarang, infeksi influenza di sertai dengan infeksi sekunder. Infeksi sekunder ini berupa masuknya kuman lain seperti bakteri. Apabila muncul infeksi sekunder ini, pengobatan dilakukan dengan menggunakan antibiotik.
           
Selain pengobatan, penanggulangan influenza dapat di lakukan melalui pencegahan. Pencegahan influenza dapat dilakukan dengan memberikan vaksin. Akan tetapi virus influenza selalu bermutasi (berubah-ubah), sangat sulit di temukan vaksin yang dapat di gunakan untuk menanggulangi serangan influenza seumur hidup. Biasanya orang yang sudah di beri vaksin virus influenza tipe tertentu masih dapat terinfeksi virus influenza tipe lain. Sama halnya orang yang telah sembuh dari virus influenza dan tubuhnya sudah membentuk antibodi untuk virus influenza tipe tertentu juga dapat di serang oleh virus influenza tipe lain. Oleh karena itu, pengobatan dan pencegahan flu yang paling efektif  yaitu menjaga kebugaran, kesehatan, dan vitalitas tubuh dengan makan makanan yang bergizi, istirahat yang teratur serta mengembangkan pola hidup sehat sehingga dapat memiliki kekebalan tubuh yang baik.

B. Sinusitis
Sinusitis merupakan salah satu peradangan pada daerah sinus yang terjadi karena adanya infeksi virus, misalnya karena komplikasi influenza maupun karena alergi. Sinus terdapat di daerah daerah sekitar wajah, manusia mempunyai empat buah sinus yaitu sinus maksilaris, sinus frontalis, sinus sfenoidalis, sinus etmoidalis. Sinusitis dapat terjadi pada salah satu ke empat sinus tersebut.

1. Penyebab sinusitis
Berdasarkan penyebabnya sinusitis dapat di kelompokkan menjadi dua yaitu sinusitis akut dan sinusitis kronis. Sinusitis akut berlangsung sampai tiga minggu atau kurang, sedangkan sinusitis kronis berlangsung selama tiga sampai delapan minggu, tetapi dapat berlanjut hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Sinusitis akut dapat di sebabkan oleh hal-hal berikut

a). Infeksi virus
Sinusitis yang di sebabkan oleh infeksi biasanya terjadi setelah adanya infeksi saluran pernafasan atas terlebih dahulu misalnya pilek atau influenza.

b). Bakteri
Pada dasarnya dalam tubuh manusia terdapat bakteri yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan penyakit. Bakteri-bakteri tersebut sering disebut flora normal tubuh. Bakteri-bakteri tersebut antara lain Streptococcus pneomonia dan Haemophilus influenza. Apabilah sistem pertahanan tubuh menurun, atau sistem pada sinus tersumbat akibat pilek atau virus lain. Bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan menyusup dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.

c). Infeksi jamur
Jamur yang dapat menyebabkan sinusitis akut misalnya aspergillus. Aspergillus dapat menyebabkan sinusitis pada orang yang menderita gangguan pada sistem kekebalannya. Pada orang tertentu, sinusitis yang di sebabkan oleh infeksi jamur menyebabkan terjadinya reaksi alergi dan pada gilirannya dapat menyebabkan sinusitis.

d). Peradangan menahun pada saluran hidung
Orang-orang tertentu mempunyai reaksi alergi pada saluran pernafasannya terutama saluran hidung. Alergi ini bisa di sebabkan berbagai macam misalnya : debu, udara dingin, karena bau-bauan tertentu yang sangat menyengat. Gangguan pernafasan yang berupa alergi ini disebut rinitis alergi. Apabila orang terus-menerus mengalami gangguan pada saluran penafasannya yang di sebabkan oleh alergi, lama kelamaan dapat menimbulkan sinusitis akut.

e). Penyakit keturunan
Penyakit maupun gangguan saluran pernafasan juga disebabkan oleh faktor keturunan (genetis). Pada umumnya orang yang lebih sering terkena sinusitis akut yaitu orang yang menderita suatu penyakit keturunan yang di sebut kristik fibrosis. Kristik fibrosis merupakan suatu gangguan maupun kelainan pada sistem pembuangan lendir (sekresi).

Sementara itu, sinusitis kronis (menahun) dapat di sebabkan oleh hal-hal sebagai berikut :
1)    Asma
2)    Penyakit alergi
3)    Penyakit alergi misalnya rinitis alergi juga dapat menyebabkan sinusitis kronis
4)    Orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan dan gangguan pada sistem pembuangan lendir.
5)    Gejala sinusitis

Orang yang menderita sinusitis baik akut maupun kronis mempunyai gejala yang berupa gangguan yang khas. Gangguan-gangguan pada penderita sinusitis akut maupun kronis sebagai berikut :
1)    Sakit kepala yang dirasakan pada waktu pagi hari.
2)    Pembengkakan pada daerah sinus yang mengalami peradangan.
3)    Nyeri tekan pada daerah sinusitis yang mengalami peradangan.

Rasa nyeri tersebut berbeda-beda tergantung daerah sinus yang mengalami peradangan. Berdasarkan daerah sinus yang mengalami peradangan, gejala yang di rasakan penderita sebagai berikut.
1)    Peradangan yang terjadi pada sinus maksilaris menyebabkan nyeri tepat pada daerah bawah mata, timbul sakit gigi, dan sakit kepala.
2)    Peradangan pada sinus frontalis menimbulkan sakit kepala pada daerah dahi.
3)    Peradangan pada sinus etmoidalis menimbulkan rasa nyeri pada daerah belakang kepala dan sakit di antara kedua mata serta sakit kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga dapat menyebabkan nyeri apabila pinggir hidung ditekan. Peradangan pada daerah ini juga menimbulkan berkurangnya kemampuan indra penciuman dan hidung tersumbat.
4)    Peradangan pada sinus sfenoidalis menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang lokasinya tidak dapat di pastikan. Nyeri dapat di rasakan pada puncak kepala bagian depan atau belakang, atau bahkan dapat menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.

Pada penderita diabetes yang kadar gula darahnya kurang terkendali dengan baik, atau pada orang yang menderita gangguan pada sistem kekebalannya. Serangan jamur dapat menyebabkan timbulnya sinusitis yang sangat parah bahkan dapat berakibat fatal. Infeksi jamur pada daerah sinusitis pada orang yang menderita diabetes disebut mukormikosis atau fikomikosis.

Penderita diabetes yang mengalami serangan infeksi jamur pada daerah sinus akan menimbulkan adanya jaringan yang mati dan berwarna hitam pada rongga hidung. Jaringan ini dapat menyumbat aliran darah ke otak sehingga terjadi kerusakan pada sel-sel sarafnya (gangguan neurologis) misalnya kebutaan.

Sementara itu, pada orang yang mempunyai gangguan pada sistem kekebalannya, sering terserang oleh jamur aspergillosis atau kandidiasis. Jamur-jamur ini dapat menyerang sinus dan menimbulkan infeksi yang parah, infeksi ini dapat berakibat fatal pada orang yang penderita AIDS, leukimia (kanker darah), limfoma (kanker limfa), dan mieloma (kanker kulit). Infeksi jamur aspergillosis pada daerah rongga hidung sinus dapat menimbulkan polip. Polip yaitu pembengkakan kelenjar limfe pada saluran pernafasan sehingga menimbulkan gangguan pada sistem pernafasan.

C. Faringitis (radang tenggorokan)
Seperti halnya peradangan pada umumnya faringitis yaitu munculnya peradangan (infeksi) pada daerah tenggorokan (faring).

1. Penyebab faring
Faringitis dapat di sebabkan oleh virus atau bakteri. Akan tetapi faringitis pada umumnya disebabkan oleh virus. Virus yang menimbulkan peradangan tenggorokan ini (faringitis) termasuk virus yang menyebabkan pilek (common cold ), influenza.
Sementara itu bakteri yang dapat menyebabkan faringitis yaitu Streptococcus, Corinebacterium, Arcanobacterium, Neisseria gonorhoeae atau Chlamydia pneomonia. Masuknya infeksi ini menimbulkan peradangan pada selaput lendir yang melapisi tenggorokan (faring).

2. Gejala faringitis
Gejala pada faringitis umumnya sama meskipun penyebabnya dapat berupa virus maupun bakteri. Gejala faringitis sebagai berikut.
1)    Nyeri tenggorokan.
2)    Rasa nyeri ketika menelan.
3)    Munculnya selaput yang berwarna keputihan atau mengeluarkan nanah pada daerah faring.

Berdasarkan gejala yang muncul sebagai akibat adanya infeksi oleh virus maupun bakteri, faringitis dapat di bedakan menjadi dua jenis sebagai berikut.

A. Faringitis virus
Faringitis yang di sebabkan oleh virus memiliki gejala-gejala sebagai berikut.
1)    Biasanya tidak di temukan adanya nanah di tenggorokan (faring).
2)    Demam ringan atau tanpa demam sekali.
3)    Jumlah sel darah putih normal atau jika ada peningkatan hanya sedikit.
4)    Kelenjar getah bening normal atau jika membesar hanya mengalami pembesaran yang tidak signifikan.

B. Faringitis bakteri
Faringitis yang di sebabkan oleh bakteri menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut.
1)    Sering di temukan nanah pada daerah tenggorokan.
2)    Demam ringan hingga sedang (lebih kurang 380 C)
3)    Jumlah sel darah putih meningkat sebagai penanda dan reaksi tubuh karena masuknya kuman ke dalam tubuh.
4)    Muncul pembengkakan ringan sampai sedang pada kelenjar getah bening di daerah tenggorokan.

3. Pengobatan dan pencegahan
Pada faring yang di sebabkan virus tidak ada obatnya maupun anti biotik yang dapat membunuh virus. Sementara itu, pada faring yang di sebabkan oleh bakteri dapat diberikan antibiotik untuk membunuh kuman yang masuk.
Rasa nyeri yang menimbulkan dapat di antisipasi dengan di berikan obat pereda nyeri (analgesik) berupa obat yang ditelan.

A.Otitis Media
Otitis media merupakan infeksi atau peradangan pada telinga tengah, peradangan yang terjadi biasanya diawali oleh infeksi yang terjadi pada saluran pernafasan misalnya radang tenggorokan dan flu atau pilek.

Seperti halnya penyakit infeksi pada saluran pernafasan bagian atas yang lain, otitis media juga salah satu penyakit yang banyak menyerang pada anak-anak. Anak-anak lebih mudah terserang otitis media akut karena hal-hal berikut.
1)    Anak-anak yang belum mempunyai sistem kekebalan tubuh yang sempurna. Sistem kekebalan anak-anak masih dalam tahap perkembangan.
2)    Anak-anak memiliki saluran eustachius yang lebih lurus dan cenderung lebih horisontal. Saluran eustachieus pada anak-anak juga lebih pendek. Oleh karena itu, infeksi yang terjadi pada saluran pernafasan lebih muda menyebar ke telinga tengah.
3)    Anak-anak memiliki adenoid yang lebih besar di bandingkan orang dewasa. Adenoid merupakan salah satu organ di daerah tenggorokan bagian atas. Organ ini berperan dalam mempertahankan kekebalan tubuh. Posisi adenoid berdekatan dengan muara eustachius sehingga muara adenoid yang besar pada anak-anak ini dapat mengganggu terbukanya saluran eustachius. Selain itu adenoid juga dapat terinfeksi sehingga infeksi yang terjadi pada adenoid akan menyebar ke telinga tengah melalui saluran eustachius.

1. Penyebab otitis media
Otitis media sering di awali oleh infeksi pada saluran pernafasan misalnya radang tenggorokan (faringitis). Otitis media terjadi ketika bakteri yang menyerang saluran pernafasan masuk ke dalam saluran eustachius. Otitis media dapat disebabkan oleh virus atau bakteri.

Virus yang sering menyebabkan otitis media yaitu Haemophilus influenza dan Moraxella cattarhalis, sedangkan bakteri yang dapat menyebabkan otitis media yaitu Strecoccus pneomonia. Pada saat bakteri melalui saluran eustachius, bakteri-bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi pada saluran eustachius. Infeksi yang terjadi dapat terjadi munculnya pembengkakan jaringan di sekitar saluran tersebut.

Infeksi yang terjadi pada saluran eustachius menyebabkan banyak sel-sel darah putih menuju tempat tersebut untuk melawan bakteri yang ada. Akibatnya, banyak timbul nanah yang bersumber dari sel-sel darah putih yang telah mati. Selain menghasilkan nanah, pembengkakan yang terjadi menyebabkan munculnya lendir yang akan terkumpul di daerah belakang telinga.

Apabila lendir dan darah bertambah banyak. Dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Hal ini karena gendang telinga dan organ-organ pendengaran yang lain tidak dapat bergerak bebas. Semakin banyak cairan yang mengumpul menyebabkan gangguan pendengaran semakin bertambah parah. Bahkan hingga mencapai kisaran 45 desibell (kisaran bicara normal). Selain gangguan pendengaran, gangguan yang lain berupa munculnya rasa nyeri. Apabila gangguan ini terus menerus terjadi dan cairan semakin banyak dapat menyebabkan robeknya gendang telinga.

2. Gejala otitis media
Otitis media biasanya bersifat akut (secara tiba-tiba) oleh karena itu dikenal sebagai otitis media akut. Otitits media mempunyai gejala sebagai berikut.

a. Gejala peradangan telinga tengah tanda-tanda nya meliputi:
1)    Kemerahan pada gendang telinga.
2)    Nyeri telinga.

b. Menunjukkan gejala efusi. Efusi yaitu pengumpulan cairan dalam rongga tubuh. Efusi pada otitis media terjadi dalam telinga tengah. Tanda-tanda munculnya efusi meliputi:
1)    Gendang telinga menggembung.
2)    Gerakan gendang telinga terbatas atau tidak ada sama sekali.
3)    Terdapat bayangan cairan dibelakang gendang telinga.
4)    Adanya cairan yang keluar dari telinga.

Tanda-tanda terjadinya otitis media pada telinga anak-anak diantaranya muncul gerakan menarik-narik daun telinga, keluarnya cairan pada daun telinga, demam, sulit makan, serta muntah. Pada umumnya munculnya tanda-tanda tersebut di sertai dengan berkurangnya kemampuan mendengar.

Komplikasi yang terjadi dan disebabkan oleh virus otitis media berupa keluarnya berupa cairan dari satu atau kedua telinga yang berlangsung secara terus-menerus. Dapat pula di sertai dengan pecahnya gendang telinga. Apabila gendang telinga telah pecah, akan meningkatkan resiko infeksi. Apabila tidak di lakukan pengobatan kondisi ini akan menyebar ke otak. Selain itu otitis media yang tidak diobati dapat mengakibatkan kehilangan pendengaran (tuli) permanen. Adanya cairan pada telinga tengah terutama pada usia anak-anak, selain itu dapat mengurangi kemampuan indra pendengaran juga mempengaruhi kemampuan berbicara.

3. Pengobatan dan perawatan
Pada kasus yang tidak terlalu parah, biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Sekitar 80% penderita dapat sembuh dalam tiga hari tanpa pengobatan menggunakan antibiotik. Akan tetapi penderita yang telah parah, memerlukan antibiotik. Penggunaan antibiotik dapat mengurangi munculnya gejala agar tidak semakin bertambah parah. Biasanya gejala dapat membaik dalam waktu 48-72 jam.

Pada anak yang berusia kurang dari dua tahun antibiotik diberikan selama sepuluh hari. Pada anak yang berusia enam tahun ke atas, antibiotik cukup diberikan selama lima hingga tujuh hari. Hal ini antara lain karena pada anak yang berusia kurang dari dua tahun belum cukup memiliki kekebalan tubuh melawan serangan bakteri. Selain menggunakan antibiotik penggobatan terhadap otitis media juga disertai dengan pereda nyeri (analgesik).

Pada penderita otitis media yang berat serta telah disertai komplikasi, pengobatan dapat dilakukan dengan myringotomi. Myringotomi yaitu melubangi gendang telinga untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk dibelakang gendang telinga.

Selain dilakukan pengobatan, hal yang tidak kalah pentingnya yaitu dilakukan upaya pencegahan. Pencegahan ini dilakukan untuk mengurangi risiko terjangkitnya otitis media akut. Beberapa hal yang dapat mengurangi risiko terjangkitnya otitis media sebagai berikut.
1)    Banyak melakukan kegiatan berolahraga terutama berenang.
2)    Pemberian ASI pada bayi minimal hingga berusia enam bulan.
3)    Mencegah terjangkiti ISPA terutama pada bayi dan anak.

Sedangkan beberapa penyakit yang merupakan infeksi pada saluran pernafasan bawah akut yaitu bronkitis, laringitis, dan tonsilitis (Erlien, 2008).

A. Laringitis
Laringitis adalah peradangan pada daerah laring. Laring terletak pada ujung saluran pernafasan yang menuju paru-paru (trakea). Pada daerah ini terdapat pita suara. Oleh karena itu, laringitis juga kadang-kadang disebut sebagai radang pita suara.

1. Penyebab laringitis
Laringitis merupakan salah satu penyakit peradangan pada saluran pernafasan. Pada umumnya peradangan disebabkan infeksi oleh kuman penyakit. Akan tetapi laringitis juga dapat di sebabkan oleh hal-hal sebagai berikut.
1)    Penggunaan suara yang berlebihan (berteriak-teriak).
2)    Reaksi alergi.
3)    Menghirup zat-zat yang dapat mengiritasi, misalnya asap rokok.

Laringitis paling sering di sebabkan oleh infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas misalnya pilek (common cold ). Selain pilek, laringitis juga dapat menyertai bronkitis, pneomonia, influenza, pertusis, campak, dan difteri.

2. Gejala laringitis
Seperti pada kasus peradangan pada umumnya, peradangan pada daerah laring juga menimbulkan demam dan rasa tidak enak badan. Oleh karena laring berada pada daerah tenggorokan, peradangan pada daerah laring juga menimbulkan rasa gatal dan tidak nyaman di daerah tenggorokan. Semakin lama tidak nyaman di daerah tenggorokan tersebut berubah menjadi rasa sakit di tenggorokan apabila peradangan semakin parah. Akibatnya penderita mengalami kesulitan ketika menelan.

3. Pengobatan dan perawatan
Laringitis disebabkan oleh virus dan tergantung pada gejala yang muncul. Hal ini karena virus tidak dapat dimatikan oleh obat-obatan. Hingga saat ini belum di temukan obat yang dapat membunuh dan mematikan virus. Apabila laringitis disebabkan oleh bakteri, pengobatan dilakukan menggunakan antibiotik.

Akan tetapi, pada dasarnya cara yang paling efektif untuk menyembuhkan laringitis yaitu dengan mengistirahatkan pita suaranya. Salah satu mengistirahatkan pita suara yaitu dengan meminimalkan suara yang keluar (mengurangi bicara). Selain itu hindari berbicara berbisik. Menghirup uap dapat meringankan gejala yang muncul dan dapat menyembuhkan daerah yang mengalami peradangan.

B. Bronkitis
Bronkitis adalah peradangan yang terjadi didaerah bronkus. Bronkus merupakan salah satu sistem pernafasan yang menuju paru-paru. Peradangan ini biasanya bersifat ringan dan pada akhirnya dapat mengalami penyembuhan dengan sempurna. Akan tetapi, bronkitis dapat berubah menjadi penyakit yang serius pada orang yang memiliki penyakit menahun, misalnya penderita penyakit jantung atau penyakit paru-paru. Selain itu bronkitis juga dapat menjadi penyakit yang parah pada orang yang telah berusia lanjut.

1. Penyebab bronkitis
Bronkitis dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut.
1)    Bronkitis yang disebabkan oleh virus, bakteri, organisme yang menyerupai bakteri misalnya: Mycoplasma pneomonia, Chlamydia. Bronkitis yang di sebabkan oleh virus, bakteri, maupun organisme yang menyerupai bakteri ini dinamakan bronkitis infeksiosa.
2)    Bronkitis yang disebabkan oleh berbagai partikel antara lain:
a.    Berbagai jenis debu misalnya debu yang berupa partikel tanah yang terbawah angin.
b.    Asap dari bahan yang bersifat asam kuat, amonia, beberapa pelarut organik.
c.    Partikel yang berasal dari polusi udara
d.    Asap rokok

2. Gejala bronkitis
Tanda awal pada seseorang ditandai dengan batuk. Pada awalnya batuk tidak berdahak, tetapi setelah satu sampai dua hari kemudian batuk akan disertai dahak. Pada awalnya dahak berwarna putih kekuningan. Semakin lama dahak akan semakin bertambah banyak dan menjadi berwarna kuning atau hijau. Apabila bronkitis telah semaki parah, dahaknya bewarna kemerahan. Hal ini menandakan telah terjadi iritasi pada daerah saluran pernafasan terutama pada daerah bronkus.

Penderita bronkitis cenderung sangat mudah terjangkit menderita infeksi pada saluran pernafasan misalnya flu, bahkan muncul gejala seperti flu, yaitu hidung meler, lelah, menggigil, sakit punggung, sakit otot, demam dan nyeri tenggorokan.

3. Pengobatan dan pencegahan
Pengobatan pada penderita bronkitis tergantung pada penyebabnya. Apabila penyebabnya berupa infeksi bakteri, yang ditunjukkan oleh dahak yang berwarna kuning atau hijau dan demam yang terus menerus tinggi, diberikan antibiotik.

Pemberian antibiotik juga dilakukan pada penderita yang telah atau sebelumnya pernah menderita penyakit paru-paru. Apabila penyebabnya virus atau partikel-partikel polusi, tidak dapat diberikan antibiotik.

Obat-obatan pengurang rasa sakit, demam dan tidak enak badan dapat pula diberikan, akan tetapi hal yang dianjurkan untuk perawatan penderita bronkitis yaitu banyak beristirahat dan minum banyak cairan terutama air putih. Hindari minuman yang mengandung kafein dan alkohol. Menjaga lingkungan di dalam ruangan agar tetap bersih dan terhindar dari debu serta partikel-partikel yang dapat memperparah kondisi tubuh. Perawatan yang teratur dan berkelanjutan dapat menyembuhkan bronkitis.

C. Pneumonia
Pneumonia adalah infeksi akut pada jaringan paru-paru (alveoli). Pneumonia dalam bahasa sehari-hari sering disebut radang paru-paru. Pneumonia merupakan infeksi pada saluran pernafasan yang tergolong serius. Terjadinya pneumonia pada anak-anak seringkali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut broncopneumonia).

Pada dasarnya pneumonia dapat menyerang siapa saja dan semua kelompok umur. Akan tetapi, pada bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentang dan paling mudah terserang penyakit ini. Hal ini karena daya tahan bayi dan balita relatif masih rendah. Oleh karena itu, pneumonia merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan balita.

1. Penyebab pneumonia
Pneumonia bukan merupakan penyakit infeksi tunggal. Penyebabnya bermacam-macam. Sampai saat ini diketahui 30 sumber infeksi dengan sumber utama berupa bakteri, virus, mikoplasma, jamur, dan berbagai jenis senyawa kimia maupun partikel.

a. Pneumonia disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.
Sebenarnya, bakteri ini secara alami telah terdapat dalam kerongkongan manusia. Bakteri ini baru menimbulkan pneumonia apabila kondisi tubuh orang yang bersangkutan menurun atau berada pada usia lanjut, sakit, terlalu lelah, dan malnutrisi sehingga daya tahan tubuhnya melemah.

b. Pneumonia yang disebabkan oleh virus
Pneumonia umumnya yang ditimbulkan oleh serangan virus. Pada  dasarnya virus-virus yang menyerang saluran pernafasan bagian atas dapat memicu terjadinya pneumonia. Oleh karena itu, sampai saat ini belum dapat di pastikan jenis virus yang dapat menimbulkan pneumonia. Pada dasarnya pneumonia yang di sebabkan oleh infeksi virus tidak menimbulkan pneumonia parah sehingga dapat dengan mudah di sembuhkan. Akan tetapi apabila infeksi pneumonia terjadi bersamaan dengan infeksi virus influenza, gangguan yang timbul dapat menjadi berat dan parah, bahkan menyebabkan kematian. Virus yang menginfeksi paru-paru akan terus berkembang biak meskipun hal ini tidak dapat di amati secara pasti. Akibatnya, tiba-tiba diketahui bahwa jaringan paru-paru telah dipenuhi cairan.

c. Pneumonia yang di sebabkan oleh mikoplasma
Pneumonia mikoplasma mulai diidentifikasi ketika perang dunia kedua. Mikoplasma merupakan agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak dapat di klasifikasikan sebagai bakteri maupun virus, meskipun mikoplasma memiliki sifat-sifat bakteri maupun virus.

Pneumonia yang disebabkan oleh mikoplasma memiliki ciri-ciri yang berbeda di bandingkan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri maupun virus. Oleh karena itu, pneumonia yang disebabkan oleh mikoplasma disebut pneumonia yang tidak tipikal (atypical pneumonia)

Pneumonia jenis ini pada dasarnya menyerang segala lapisan usia, namun anehnya pneumonia ini justru menyerang laki-laki usia remaja maupun menjelang usia dewasa. Pneumonia ini cenderung tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya meskipun tanpa dilakukan pengobatan.

d. Pneumonia jenis lain
Pneumonia jenis ini diduga disebabkan oleh jamur. Pneumonia jenis ini biasanya menjadi awal serangan penyakit bagi pengidap HIV/AIDS. Pneumonia jenis ini disebut pneumocystis carinii pneumonia. Oleh karena itu, pneumonia jenis ini sering hanya disebut PCP saja. Sebenarnya jamur penyebab PCP terdapat dalam tubuh setiap orang. Orang dengan sistem kekebalan yang sehat dapat mengendalikan jamur ini. Akan tetapi orang yang memiliki daya tahan tubuh yang rendah seperti halnya penderita HIV/AIDS, sangat mudah terjangkit jamur ini.

2. Gejala pneumonia
Gejala yang ditimbulkan pneumonia tergantung penyebabnya. Gejala-gejala pneumonia sebagai berikut.

a. Pneumonia oleh bakteri
Gejala pneumonia yang timbul akibat serangan bakteri sebagai berikut
1)    Suhu badan tinggi dan berkeringat.
2)    Bibir dan kuku lama kelamaan akan membiru karena kekurangan oksigen.
3)    Denyut jantung meningkat karena dengan cepat disertai sakit pada dada.
4)    Mengeluarkan lendir berwarna hijau ketika batuk.
5)    Apabila pneumonia telah parah, penderita akan menggigil dengan gigi bergemeletuk.

b. Pneumonia oleh virus
Gejala pneumonia yang disebabkan oleh virus sama dengan gejala pada influenza. Gejala pneumonia yang timbul akibat serangan virus sebagai berikut.
1)    Demam tinggi kadang disertai dengan bibir yang membiru.
2)    Batuk kering disertai nafas sesak.
3)    Badan terasa letih dan lesu disertai ngilu diseluruh tubuh.
4)    Semakin lama batuk, semakin hebat disertai keluarnya lendir.

c. Pneumonia oleh mikoplasma
Pneumonia yang disebabkan oleh infeksi mikoplasma menunjukkan gejala sebagai berikut .
1)    Gejala yang paling sering berupa batuk berat, namun lendir yang dikeluarkan  hanya sedikit.
2)    Demam dengan tubuh menggigil, akan tetapi gejala ini hanya muncul pada awal terjangkitnya pneumonia.
3)    Kadang-kadang disertai mual dan muntah.
4)    Tubuh merasa lemah dalam waktu lama.

3. Pengobatan dan pencegahan pneumonia
Meskipun pneumonia menyebabkan kematian yang relatif tinggi, akan tetapi pneumonia masih dapat diobati. Pengobatan cenderung lebih mudah apabilah penderita masih berusia muda dan mempunyai sistem kekebalan tubuh yang baik. Selain itu pengobatan yang dilakukan juga  semakin manjur apabila pengobatan dilakukan secepatnya. Pengobatan dapat secepatnya dilakukan apabila penyakit dapat di deteksi sedini mungkin.

Pengobatan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri dapat dilakukan menggunakan antibiotik. Selain pneumonia yang disebabkan oleh bakteri, antibiotik juga dapat digunakan untuk mengobati pneumonia yang disebabkan oleh mikoplasma, dan jamur pada penderita HIV/AID (PCP).

Pneumonia yang disebabkan virus belum terdapat obat khusus yang dapat mematikan virus. Akan tetapi saat ini sudah terdapat beberapa antivirus yang dapat digunakan. Meskipun penderita telah membaik dan sembuh namun tetap memerlukan pengobatan lanjutan untuk mencegah pneumonia kambuh kembali.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Almasri (2011). Mycoplasma Pneumoniae Respiratory Tract Infections Among Greek Children. Hippokratia : 147–152.
  2. Arikunto, Suharsimin  (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
  3. Aziz, Hidayat (2010). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Surabaya : Health Books Publishing.
  4. Calvo C. (2007).  Role of rhinovirus in hospitalized infants with respiratory tract infections in Spain. Pediatric Infection Dis J; 26: 904-8.
  5. Cartamil S. (2008). Estudio de dos nuevos virus respiratorios en poblacion pediatrica con infeccion respiratoria aguda: el metapneumovirus (hMPV)y el bocavirus (hBoV). Revista Argentina Microbiologia; 40 Supl: 78.
  6. Chandra Budiman, (2007). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  7. Chandra Budiman, (2009). Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  8. Corwin, Elizabeth (2008). Buku Saku Patofisiologi, ed. 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  9. Debora N. (2012). Rhinovirus detection by real-time RT-PCR in children with acute respiratory infection in Buenos Aires, Argentina. Revista Argentina de Microbiologia; 44: 259-265
  10. Depkes RI. (2000). Informasi tentang ISPA pada Balita. Jakarta: Pusat Kesehatan Masyarakat Depkes RI.
  11. Depkes RI. (2004). Pedoman Program Pemberantasan Peneumonia Pada Balita. Jakarta : Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Pemukiman.
  12. Depkes RI. (2012). Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia Balita. Jakarta : Depkes RI.
  13. Dinkes Kab. Jombang. (2010). Kondisi Geografis Kecamatan Mancar Tahun 2010. Jombang : Bidang Yankesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang.
  14. Djaja S, dan Afifah T. (2001). Determinan Prilaku Pencarian Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita. Buletin Penelitian Kesehatan. 29:1-10.
  15. Erlien (2008). Penyakit Saluran Pernapasan. Jakarta : Sunda Kelapa Pustaka.
  16. Kartasasmita CB. (2010). Morbiditas dan Faktor Risiko ISPA pada Balita di Indonesia. Majalah Kedokteran Jakarta. 25:135-142.
  17. Keman S. (2004). Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 1: 30-43.
  18. Narbuko, Cholid (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Bumi Aksara
  19. Nastiti Rahajoe, dkk. (2008). Buku Ajar Respirologi. Jakarta : Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  20. Nindya TS dan Sulistyorini L. (2005). Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Anak Balita. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2:43-52.
  21. Notoadmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  22. Notoadmodjo, Soekidjo (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
  23. Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  24. Nursalam (2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrument Penelitian Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.
  25. Nursalam dan Siti pariani (2008). Pendekatan Riset Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
  26. Ranuh IGN. (1997). Masalah ISPA dan Kelangsungan Hidup Anak. Surabaya: Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak.
  27. Saryono (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Cendikia.
  28. Savolainen C. (2003). Human rhinoviruses.  Pediatric Respiratory. Rev 2003; 4: 91-8.
  29. Setiadi (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
  30. Sugiono (2000). Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabet.
  31. Sugiyono (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung :  Alfabeta.
  32. Suryo, Joko (2010). Herbal Penyembuh Gangguan Sistem Pernafasan. Yogyakarta :  PT Bentang Pustaka.
  33. Sylvia, Price A. (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis proses – proses Penyakit ; Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  34. Tambayong Jan (1999). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit buku Kedokteran EGC.
  35. Wasis (2008). Pedoman Riset Praktis untuk Profesi Perawat. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  36. Yusuf NA dan Sulistyorini L. (2008). Hubungan sanitasi rumah secara fisik dengan kejadian ISPA pada anak Balita.  Jurnal Kesehatan Lingkungan.1:110-119.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar