PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 02 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PIL KB

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PIL KB

1. Pengertian
Pil KB adalah tablet yang berisi hormon esterogen dan progesterone yang berbeda-beda pula jenis dan takarannya (Mochtar, 2002 : 268).

Kontrasepsi pil adalah alat kontrasepsi yang berbentuk tablet yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan, mengandung hormone estrogen dan progesterone. Ada tiga macam pil kontrasepsi, yaitu minipil, pil kombinasi, dan pil pascasanggama (morning after pill). Yang umum digunakan adalah pil kombinasi antara esterogen dan progesteron. Minipil yang hanya mengandung progestin dosis rendah biasanya diberikan pada ibu menyusui (hingga kira-kira 9 bulan setelah melahirkan) (Mansjoer, 2009 : 360).

Pil KB merupakan kontrasepsi hormonal yang terdiri atas kombinasi esterogen dan progestin atau hanya berisi progestin saja. Hormon seks ini dapat menekan produksi gonadotropin sehingga menghambat ovulasi. Hormon yang dikonsumsi per oral ini juga bisa menjadi pilihan kontrasepsi pasca koitus dalam kondisi darurat (Varney.H, 2007 : 462).

Menurut Manuaba (2005), kontrasepsi hormonal pil telah mengalami penelitian panjang, sehingga sebagian besar wanita dapat menerima tanpa kesulitan, dengan patrun menstruasi normal serta durasi antara 4 samapi 6 hari. Disamping durasi antara 4 samapi 6 hari masih terdapat patrun menstruasi wanita :
1)    Wanita tergolong durasi menstruasi kurang dari 4 hari, memerlukan pil KB dengan efek esterogen tinggi
2)    Wanita tergolong durasi menstruasi lebih dari 6 hari, memerlukan pil KB dengan efek esterogen rendah

Menurut Guttmacher yang dikutip oleh Manuaba, karena sangat efektif kalau dimakan menurut aturan pakai, maka kontrasepsi pil adalah satu cara yang terbaik dalam usaha kontrasepsi pada masa sekarang ini. Pendapat ini didasarkan kepada hal-hal berikut :
1)    Meningginya pemakaian kontrasepsi pil pada segala usia
2)    Meningginya kepercayaan terhadap pil
3)    Menurunnya takaran esterogen dan progesteron beserta rangkaiannya
4)    Meningginya daya penerimaan dan fasilitas pengadaan
5)    Meningginya efektifitas dan menurunnya efek samping

2. Macam Kontrasepsi Pil
1. Pil Kombinasi
a. Profil
1)    Efektif dan reversible.
2)    Harus diminum setiap hari.
3)    Pada bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan perdarahan bercak yang tidak berbahaya dan segera akan hilang.
4)    Efek samping serius sangat jarang terjadi.
5)    Dapat dipakai oleh semua ibu usia reproduksi, baik yang sudah mempunyai anak atau belum.
6)    Dapat mulai diminum setiap saat bila yakin sedang tidak hamil.
7)    Tidak dianjurkan pada ibu yang menyusui.
8)    Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.

b. Jenis
1)    Monofasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif esterogen/progesteron dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
2)    Bifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif esterogen atau progesteron dengan dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
3)    Trifasik : pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif esterogen atau progesteron dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
           
c. Cara Kerja
1)    Menekan ovulasi.
2)    Mencegah implantasi.
3)    Lendir serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma.
4)    Pergeseran tuba tergantung sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.

d. Manfaat
1)    Memiliki efektifitas yang tinggi (hampir menyerupai efektifitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama pemakaian).
2)    Resiko terhadap kesehatan sangat kecil.
3)    Tidak mengganggu hubungan seksual.
4)    Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid.
5)    Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
6)    Dapat digunakan sejak usia remaja sampai menopause.
7)    Mudah dihentikan setiap saat.
8)    Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.
9)    Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
10) Membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium, kista ovarium, penyakit radang panggul, kelainan jinak pada payudara, dismenore, dan akne.

e. Keterbatasan
1)    Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari.
2)    Mual terutama pada 3 bulan pertama.
3)    Perdarahan bercak atau perdarahan sela terutama pada 3 bulan pertama.
4)    Pusing, nyeri payudara.
5)    Berat badan sedikit naik, tetapi pada perempuan tertentu kenaikan berat justru memiliki dampak positif.
6)    Berhenti haid (amenorea) jarang pada pil kombinasi.
7)    Tidak boleh diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI).
8)    Pada sebagian kecil perempuan dapat menimbulkan depresi dan perubahan suasana hati, sehingga keinginan untuk berhubungan seks berkurang.
9)    Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan, sehingga resiko stroke dan gangguan pembekuan darah dalam sedikit meningkat. Pada perempuan usia > 35 tahun dan merokok perlu hati-hati.
10) Tidak mencegah IMS (Infeksi Menular Seksual).

f. Yang Dapat Menggunakan Pil Kombinasi
Pada prinsipnya hampir semua ibu boleh menggunakan pil kombinasi seperti :
1)    Usia reproduksi.
2)    Telah memiliki anak atau pun yang belum memiliki anak.
3)    Gemuk atau kurus.
4)    Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektifitas tinggi.
5)    Setelah melahirkan dan tidak menyusui.
6)    Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif, sedangkan semua kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi ibu tersebut.
7)    Pasca keguguran.
8)    Anemia karena haid berlebihan.
9)    Nyeri haid hebat.
10) Siklus haid tidak teratur.
11) Riwayat kehamilan ektopik.
12) Kelainan payudara jinak.
13) Kencing manis tanpa komplikasi pad aginjal, pembuluh darah, mata, dan saraf.
14) Penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis, atau tumor ovarium jinak.
15) Menderita tuberkulosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin).
16) Varises vena.

g. Yang Tidak Boleh Menggunakan Pil Kombinasi
1)    Hamil atau dicurigai hamil.
2)    Menyusui eksklusif.
3)    Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya.
4)    Penyakit hati akut (hepatitis).
5)    Perokok dengan usia >35 tahun.
6)    Riwayat penyakit jantung, stroke, atau tekanan darah >180/110 mmHg.
7)    Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis >20 tahun.
8)    Kanker payudara atu dicurigai kanker payudara.
9)    Migrain atau gejala neurologik fokal (epilepsi/riwayat epilepsi).
10) Tidak dapat menggunakan pil setiap hari secara teratur.

h. Waktu Mulai Menggunakan Pil Kombinasi
1)    Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil.
2)    Hari pertama sampai hari ketujuh siklus haid.
3)    Boleh menggunakan pada hari ke 8 tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke 8 sampai hari ke 14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai anda menghabiskan paket pil tersebut.
4)    Setelah melahirkan : setelah 6 bulan pemberian ASI eksklusif, setelah 3 bulan dan tidak menyusui, pasca keguguran (segera atau dalam waktu 7 hari).
5)    Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi dan ingin menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid.

i. Instruksi Kepada Klien
Catatan : tunjukkan cara mengeluarkan pil dari kemasannya dan pesankan untuk mengikuti panah yang menunjuk deretan pil berikutnya.
1)    Sebaiknya pil diminum setiap hari. Lebih baik pada saat yang sama setiap hari.
2)    Pil yang pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ketujuh siklus haid.
3)    Sangat dianjurkan penggunaannya pada hari pertama haid.
4)    Pada paket 28 pil dianjurkan mulai minum pil plasebo sesuai dengan hari yang ada pada paket.
5)    Beberapa paket pil mempunyai 28 pil yang lain 21 pil. Bila paket 28 pil habis sebaiknya anda mulai minum pil dari paket yang baru. Bila paket 21 habis, sebaiknya tunggu 1 minggu baru kemudian mulai minum pil dari paket yang baru.
6)    Bila muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil, ambillah pil lain yang mungkin, dan tidak memperburuk keadaan anda. Pil dapat diteruskan.
7)    Bila muntah dan diare berlangsung sampai 2 hari atau lebih, cara menggunakan pil mengikuti cara menggunakan pil lupa.
8)    Bila lupa minum 1 pil (hari 1-21) segera minum pil setelah ingat, boleh minum 2 pil pada hari yang sama. Tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain. Bila lupa 2 pil atau lebih (hari 1-21), sebaiknya minum 2 pil setiap hari sampai sesuai jadwal yang ditetapkan. Juga sebaiknya gunakan metode kontrasepsi yang lain atau tidak melakukan hubungan seksual sampai tlah menghabiskan paket pil tersebut.
9)    Bila tidak haid, perlu segera ke klinik untuk tes kehamilan.

j. Informasi Lain Yang Perlu Disampaikan
1)    Pada permulaan penggunaan pil kadang-kadang timbul mual, pening atau sakit kepala, nyeri payudara, serta perdarahan bercak (spotting) yang bisa hilang sendiri. Kelainan seperti ini muncul terutama pada 3 bulan pertama penggunaan pil, dan semakin lama penggunaannya kelainan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Cobalah minum pil pada saat hendak tidur atau pada saat makan malam. Bila saja tetap timbul keluhan, silahkan berkonsultasi lagi ke dokter.
2)    Beberapa jenis obat dapat mengurangi efektivitas pil seperti rifampisin, fenitoin (dilantin), barbiturat, griseofulvin, trisiklik, antidepresan, ampisilin dan penisilin, tetrasiklin. Klien yang memakai obat-obatan di atas untuk jangka panjang sebaiknya menggunakan pil kombinasi dengan dosis etinilestradiol 50mg atau dianjurkan menggunakan metode kontrasepsi yang lain (Setyaarum, 2009 : 96-105).

2. Kontrasepsi Pil Progestin
a. Profil
1)    Cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai pil KB
2)    Sangat efektif pada masa laktasi.
3)    Dosis rendah.
4)    Tidak menurunkan produksi ASI.
5)    Tidak memberikan efek samping esterogen.
6)    Efek samping utama adalah gangguan perdarahan; perdarahan bercak atau perdarahan tidak teratur.
7)    Dapat dipakai sebagai sebagai kontrasepsi darurat.

b. Jenis Minipil
1)    Kemasan dengan isi 5 pil : 300 µg levonogestrel atau 350 µg noretindron.
2)    Kemasan dengan isi 28 pil : 75 µg desogestrel.

c. Cara Kerja Minipil
1)    Menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid di Ovarium (tidak begitu kuat).
2)    Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit.
3)    Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.
4)    Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.

d. Efektifitas
Sangat efektif (98,5%). Pada penggunaan minipil jangan sampai terlupa satu dua tablet atau jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah,diare), karena akibatnya kemungkinan terjadi kehamilan sangat besar. Agar didapatkan kehandalan yang tinggi, maka :
1)    Jangan sampai ada tablet yang lupa.
2)    Sebaiknya tablet digunakan pada jam yang sama (malam hari).

e. Keuntungan Kontrasepsi
1)    Sangat efektif bila digunakan secara benar.
2)    Tidak mengganggu hubungan seksual.
3)    Tidak mempengaruhi ASI.
4)    Kesuburan cepat kembali.
5)    Nyaman, mudah digunakan.
6)    Sedikit efek samping.
7)    Dapat dihentikan setiap saat.
8)    Tidak mengandung esterogen.

f. Keuntungan Nonkontraseptif
1)    Mengurangi nyeri haid.
2)    Mengurangi jumlah darah haid.
3)    Menurunkan tingkat anemia.
4)    Mencegah kanker endometrium.
5)    Melindungi dari penyakit radang panggul.
6)    Tidak meningkatkan pembekuan darah.
7)    Dapat diberikan pada penderita endometriosis.
8)    Kurang menyebabkan peningkatan tekanan darah, nyeri kepala, dan depresi.
9)    Dapat mengurangi keluhan premenstrual sindrom (sakit kepala, perut kembung, nyeri payudara, nyeri pada betis, lekas marah).
10) Sedikit sekali mengganggu metabolisme karbohidrat sehingga relatif aman diberikan pada perempuan pengidap kencing manis yang belum menglami komplikasi.

g. Keterbatasan
1)    Hampir 30-60% mengalami gangguan haid (perdarahan sela, spotting, amenorea).
2)    Peningkatan/penurunan berat badan.
3)    Harus digunakan setiap hari dan pada waktu yang sama.
4)    Bila lupa satu pil saja, kegagalan menjadi lebih besar.
5)    Payudara menjadi tegang, mual, pusing, dermatitis atau jerawat.
6)    Resiko kehamilan ektopik cukup tinggi (4 dari 100 kahamilan) tetapi resiko ini lebih rendah jika dibandingkan dengan perempuan yang tidak menggunakan minipil.
7)    Efektivitasnya menjadi rendah bila digunakan bersamaan dengan obat tuberkulosis atau obat epilepsi.
8)    Tidak melindungi diri dari infeksi menular seksual atau HIV/AIDS.
9)    Hirsutisme (tumbuh rambut/bulu berlebihan di daerah muka), tetapi sangat jarang terjadi.

h. Yang Boleh Menggunakan Minipil
1)    Usia reproduksi.
2)    Telah memiliki anak, atau yang belum memiliki anak.
3)    Menginginkan suatu metode kontrasepsi yang sangat efektif selama periode menyusui.
4)    Pasca persalinan dan tidak menyusui.
5)    Pasca keguguran.
6)    Perokok segala usia.
7)    Mempunyai tekanan darah tinggi (selama <180 atau="" darah.="" dengan="" masalah="" mmhg="" pembekuan="" span="">
8)    Tidak boleh menggunakan esterogen atau lebih senang tidak menggunakan esterogen.

i. Yang Tidak Boleh Menggunakan Minipil
1)    Hamil atau diduga hamil.
2)    Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.
3)    Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid.
4)    Menggunakan obat tuberkulosis rifampisin, atau obat untuk epilepsi fenitoin dan barbiturat.
5)    Kanker payudara atau riwayat kanker payudara.
6)    Sering lupa menggunakan pil.
7)    Miom uterus. Progestin memicu pertumbuhan miom uterus.
8)    Riwayat stroke. Progestin menyebabkan spasme pembuluh darah.

j. Waktu Mulai Menggunakan Minipil
1)    Mulai hari pertama sampai hari ke lima siklus haid. Tidak diperlukan pencegahan dengan kontrasepsai lain.
2)    Dapat digunakan setiap saat, asal saja tidak terjadi kehamilan. Bila menggunakannya setelah hari ke 5 siklus haid, jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan metode kontrasepsi lain untuk 2 hari saja.
3)    Bila klien tidak haid (amenorea), minipil dapat digunakan setiap saat asal saja diyakini tidak hamil. Jangan melakukan hubungan seksual selama 2 hari atau menggunakan kontrasepsi lain selama 2 hari saja.
4)    Bila menyusui antara 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan dan tidak haid, minipil dapat digunakan setiap saat. Bila menyusui penuh, tidak memerlukan kontrasepsi tambahan.
5)    Bila lebih dari 6 minggu pasca persalinan dan klien telah mendapat haid, minipil dapat dimulai pada hari ke 1-5 siklus haid.
6)    Minipil dapat digunakan segera pasca keguguran.
7)    Bila klien sebelumnya menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin menggantinya dengan benar atau ibu tersebut sedang tidak hamil, tidak perlu menunggu sampai datangnya haid beriktnya.
8)    Bila kontrasepsi yang sebelumnya adalah kontrasepsi suntikan, minipil diberikan pada jadwal suntikan berikutnya.
9)    Bila metode kontrasepsi sebelumnya non hormonal atau ibu tersebut ingin menggantinya dengan minipil diberikan pada hari ke 1-5 siklus haid dan tidak memerlukan metode kontrasepsi lainnya.
10) Bila kontrasepsi yang digunakan sebelumnya AKDR (termasuk AKDR yang mengandung hormon), minipil dapat diberikan pada hari ke 1-5 siklus haid. Dilakukan pengangkatan AKDR.

k. Instruksi Kepada Klien
1)    Minum minipil setiap hari pada waktu yang sama.
2)    Minum pil pertama pada hari pertama haid.
3)    Bila klien muntah pada waktu 2 jam setelah  menggunakan pil, minumlah pil yang lain atau gunakan metode kontrasepsi lain bila klien berniat melakukan hubungan seksual pada 48 jam berikutnya.
4)    Bila klien menggunakan pil terlambat 3 jam, minumlah pil tersebut begitu klien ingat. Gunakan metode pelindung selama 48 jam.
5)    Bila klien lupa 1 atau 2 pil, minumlah segera pil yang terlupa tersebut segera setelah klien ingat dan gunakan metode pelindung sampai akhir bulan.
6)    Walaupun klien belum haid, mulailah paket baru sehari setelah paket terakhir habis.
7)    Bila haid klien teratur setiap bulan dan kemudian kehilangan 1 siklus (tidak haid) atau bila merasa hamil, temui petugas klinik klien untuk memeriksa uji kehamilan.

l. Informasi Lain Yang Perlu Diperhatikan
1)    Terjadinya perubahan pola haid merupakan hal yang sering ditemukan selama menggunakan minipil, terutama pada 2 atau 3 bulan pertama. Perubahan pola haid tersebut umumnya hanya bersifat sementara dan tidak sampai mengganggu kesehatan.
2)    Kadang-kadang dapat timbul efek samping berupa peningkatan berat badan, sakit kepala ringan dan nyeri payudara. Semua efek samping ini tidak berbahaya dan biasanya hilang dengan sendirinya.
3)    Obat-obatan tertentu seperti obat untuk tuberkulosis (rifampisin) dan beberapa obat epilepsi dapat mengurangi efektivitas minipil. Minipil tidak mencegah terjadinya infeksi menular seksual, termasuk AIDS. Bila pasangan memilki resiko, kondom perlu digunakan.

m. Peringatan Khusus Untuk Pemakai Minipil
1)    Bila beberapa bulan mengalami haid teratur dan kemudian terlambat haid, perlu dipikirkan kemungkinan terjadi kehamilan.
2)    Bila mengeluh perdarahan bercak yang disertai nyeri perut hebat, maka yang pertama kali dipikirkan adalah kemungkinan kehamilan ektopik.
3)    Problem mata (kehilangan penglihatan atau kabur), nyeri kepala hebat, maka perlu dipikirkan kemungkinan terjadinya hipertensi atau problem vaskular (Setyaarum, 2009 : 106-115)

DAFTAR PUSTAKA

1.    Azwar, Saifuddin, 2010, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta : 155-157
2.    BKKBN, 2011, Pasutri Jarang Pake Kontrasepsi BKKBN Turunkan 35 Ribu Bidan,http://ekbis.rmol.co/read/2011/10/02/41128/Pasutri-Jarang-Pake-Kontrasepsi-BKKBN-Turunkan-35-Ribu-Bidan, diakses tanggal 14 Januari 2013
3.    Depkes, 2011, Situasi Upaya Kesehatan, http://www.depkes.go.id/downloads/ Profil_Data_Kesehatan_Indonesia_Tahun_2011.pdf,  diakses tanggal 13 Januari 2013
4.    Depkes, 2011, Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi Untuk Remaja Putri Dan Wanita Usia Subur, gizi.depkes.go.id/anemia/Pedoman%20Anemia% 20Gizi.doc, diakses tanggal 18 Januari 2013
5.    Dinkes Jatim, 2011, Situasi Upaya Kesehatan, http://dinkes.Jatimprov .go.id/userfile/dokumen/1321926974_Profil_Kesehatan_Provinsi_Jawa_Timur_2011.pdf, diakses tanggal 13 Januari 2013.
6.    Dinkes Jombang, 2011, Situasi Derajat Kesehatan, http://www.jombangkab. go.id/egov/SatKerDa/page/1.2.6.2/2011%20Profil%20Kesehatan%20Bab%20IV.pdf, diakses tanggal 12 Januari 2013
7.    Dinkes Jombang, 2010, Situasi Upaya Kesehatan, http://www.jombangkab. go.id/egov/SatKerDa/page/1.2.6.2/2010%20Profil%20Kesehatan%20Bab%20IV.pdf, diakses tanggal 12 Januari 2013
8.    Dinkes Jombang, 2009, Situasi Upaya Kesehatan, http://www.jombangkab. go.id/egov/SatKerDa/page/1.2.6.2/2009%20Profil%20Kesehatan%20Bab%20IV.pdf, diakses tanggal 12 Januari 2013
9.    Hartanto, Hanafi, 2004, Keluarga Berencana dan Kontrasepsi, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta : 26-27
10. Hidayat, Azis Alimul, 2009, Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis Data, Salemba Medika, Jakarta : 60-79
11. Humas BKKBN Jatim, 2012, BKKBN Ajak Ulama Dukung Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Ber-KB, http://www.bkkbnjatim.com /berita.php?p=berita_detail&id=705, diakses tanggal 14 Januari 2013
12. Humas BKKBN Jatim, 2012, Upayakan Optimalisasi Pelayanan KB, Gelar Temu Koordinasi bersama IBI dan Dinkes, http://www.bkkbnjatim.com /berita.php?p=berita_detail&id=470, diakses tanggal 13 Januari 2013
13. Mansjoer, Arif, 2009, Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculaplus, Jakarta : 350-355
14. Manuaba, Ida Bagus, 2005, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, EGC, Jakarta : 441-444
15. Mochtar, Rustam, 2002, Sinopsis Obstetri, EGC, Jakarta : 268-276
16. Nazir, Moh, 2009, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor : 84-85
17. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010, Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta : 92
18. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta : 35-36
19. Nursalam, 2011, Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta : 109-111
20. Saryono, 2011, Metodelogi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendekia, Yogyakarta : 66-70
21. Setyaarum, Dyah Noviawati, 2009, Panduan Lengkap Pelayanan KB Terkini, Muha Medika, Yogyakarta : 96-115
22. Simbolon, Desnal, 2010, Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Penggunaan Alat Kontrasepsi Pil Pada Akseptor KB Di Desa Pandiangan Kecamatan Laeparira Kabupaten Dairi, http://repository.usu .ac.id/bitstream/123456789/20492/7/09E02377.pdf, diakses tanggal 23 Februari 2013
23. Sobur,  Alex, 2011, Psikologi Umum, CV Pustaka Setia, Bandung : 446 – 497
24. Suparyanto, 2011, Wanita Usia Subur (WUS), http://dr.suparyanto. blogspot.com/2011/10/wanita-usia-subur-wus.html, diakses tanggal 20 Januari 2013
25. Sugiyono, 2009, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Alfabeta, Bandung : 147
26. Sunaryo, 2004, Psikologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta : 93-98
27. Syaifuddin, Abdul Bari, 2006, Buku Pelayanan Praktis Kontrasepsi, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : MK-29
28. Varney, Helen, 2008, Buku Ajar Asuhan Kebidanan, EGC, Jakarta :462-465
29. Wiknjosastro, Hanifa, 2005, Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta : 534





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar