PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Rabu, 08 Mei 2013

SEKILAS TENTANG ANAK USIA SEKOLAH

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG ANAK USIA SEKOLAH

1. Pengertian
Usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun, yang artinya sekolah menjadi pengalaman inti pada anak. Periode ketika anak-anak dianggap mulai bertanggung jawab pada perilakunya sendiri dalam berhubungan dengan orang tua, teman sebaya, dan orang lain. Usia sekolah merupakan masa anak memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri pada kehidupan dewasa dan memperoleh keterampilan tertentu (Wong, 2009).

2. Perkembangan Anak Usia Sekolah
1) Perkembangan Biologis
Saat umur 6-12 tahun, pertumbuhan serata 5 cm pertahun untuk tinggi badan dan meningkat 2-3 kg pertahun untuk berat badan. Selama usia tersebut anak laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan ukuran tubuh. Anak laki-laki cenderung kurus dan tinggi, anak perempuan cenderung gemuk. Pada usia ini, pembentukan jaringan lemak lebih cepat perkembangannya dari pada otot.

2) Perubahan Proposional
Anak-anak usia sekolah lebih anggun daripada saat mereka usia pra sekolah, dan mereka dapat berdiri tegak diatas kaki mereka sendiri. Proporsi tubuh mereka tampak lebih ramping dengan kaki yang lebih panjang, proporsi tubuh bervariasi dan pusat gaya berat mereka lebih rendah, Postur lebih tinggi daripada usia pra sekolah untuk menfasilitasi lokomotor dan efisiensi dalam menggunakan lengan tubuh. Proporsi ini memudahkan anak untuk beraktifitas seperti memanjat, mengendarai sepeda, dan aktifitas lainnya. Lemak berkurang secara bertahap dan pola distribusi lemak berubah, menyebabkan penampakan tubuh anak yang lebih rampping selama tahun-tahun pertengahan.

Perubahan yang paling nyata dan dapat menjadi indikasi terbaik peningkatan kematangan pada anak-anak adalah penurunan lingkar kepala dalam hubungannya terhadap tinggi tubuh saat berdiri, penurunan lingkar pinggang dalam hubungannya dengan tinggi badan dan peningkatan panjang tungkai  dalam hubungannya dengan tinggi badan. Obserasi ini sering memberikan petunjuk terhadap tingkat kematangan fisik anak yang terbukti berguna dalam memprediksi kesiapan anak untuk memenuhi tuntutan sekolah.

Perubahan wajah, karakteristik dan anatomi tertentu adalah khas pada masa anak-anak pertengahan. Proporsi wajah berubah pada saat wajah tumbuh lebih cepat terkait dengan pertumbuhan tulang tengkorak yang tersisa. Tengkoran dan otak tumbuh sangat lambat saat periode ini dan setelah itu, ukurannya bertambah sedikit.

3) Kematangan Sistem
Sistem gastrointestinal: Direfleksikan dengan masalah lambung yang lebih sedikit, mempertahankan kadar glukosa darah dengan lebih baik, dan peningkatan kapasitas lambung yang memungkinkan retensi makanan lebih lama. Kapasitas kandung kemih: Umumnya lebih besar pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. Denyut jantung dan frekuensi: pernapasan akan terus-menerus menurun dan tekanan darah menigkat selama 6-12 tahun. Sisten Imun menjadi lebih kompeten untuk melokalisasi iinfeksi dan menghasilkan respon antigen dan antibody. Tulang terus mengalami pengerasan selama kanak-kanak tetapi kurang dapat menahan dan tarikan otot dibandingkan tulang yang sudah matur.

1). Prapubertas
Pra remaja adalah periode yang dimulai menjelang akhir masa kanak-kanak pertengahan dan berakhir pada ulang tahun ke tiga belas. Tidak ada usia universal saat anak mendapatkan karakteristik prapubertas tanda fisiologis pertama muncul kira-kira saat berusia 9 tahun terutama pada anak perempuan) dan biasanya tampak jelas pada umur 11-12 tahun.

2). Perkembangan Psikososial
Masa kanak-kanak pertengahan adalah periode perkembangan psikoseksual yang dideskripsikan oleh Freud sebagai periode laten, yaitu waktu tenang antara fase odipus pada masa kanak-kanak awal dan erotisme remaja. Selama waktu ini, anak-anak hubungan dengan teman sebaya sesama jenis setelah pengabaian pada tahun-tahun sebelumnya dan didahului ketertarikan pada lawan jenisnya yang menyertai pubertas.

3). Perkembangan Kognitif
Ketika anak memasuki masa sekolah, mereka mulai memperoleh kemampuan untuk menghubungkan serangkaian kejdian untuk menggambarkan mental anak yang dapat diungkapkan secara verbal ataupun simbolik. Tahap ini diistilahkan sebagai operasional konkret oleh piaget, ketika anak mampu menggunakan proses berpikir untuk mengalami peristiwa dan tindakan.

4). Perkembangan Moral
Pada saat pola pikir anak sudah berubahdari egosentrisme ke pola pikir lebih logis, mereka juga bergerak melalui tahap perkembangan kesadaran diri dan standar moral. Walaupun anak usia 6-7 tahun mengetahui peraturan dan perilaku yang diharapkan dari mereka, mereka tidak memahami alasannya. Penguatan dan hukuman mengarahkan penilaian mereka: suatu tindakan yang buruk adalah yang melanggar peraturan dan membahayakan. Oleh karena itu, anak usia 6-7 tahun kemungkinan menginterprestasikan kecelakaan dan ketidakberuntungan sebagai hukuman atau akibat tindakan “buruk” yang dilakukan anak. Anak usia sekolah yang lebih besar lebih mampu menilai suatu tindakan berdasarkan niat dibandingkan akibat yang dihasilkan.

5). Perkembangan spiritual
Anak-anak usia dini berpikir dalam batasan konkret tetapi merupakan pelajar yang baik dan memiliki kemauan yang besar untuk mempelajari Tuhan. Mereka tertarik pada konsep surga dan neraka, dan dengan perkembangan kesadaran diri dan perhatian terhadap peraturan, anak takut akan masuk neraka karena kesalahandalam berperilaku. Anak-anak usia sekolah ingin dan berharap dihukum jika berperilaku yang salah dan, jika diberi pilihan, anak cenderung memilih hukuman yang sesuai dengan kejahatannya. Oleh karenanya, konsep agama harus dijelaskan pada anak dalam istilah yang konkret. Mereka merasa nyaman dengan berdoa atau melakukan ritual agama dan jika aktifitas ini merupakan bagian dari kegiatan sehari-hari anak, hal ini dapat membantu anak melakukan koping dalam menghadapi situasi sehari-hari.

6). Perkembangan Sosial
Salah satu agen sosial penting dalam kehidupan anak usia sekolah adalah teman sebaya. Selain orang tua dan sekolah, kelompok teman sebaya memberi sejumlah hal yang penting kepada anggotanya.  Anak-anak memiliki budaya yang mereka sendiri, disertai rahasia, adat istiadat, dan kode etik yang meningkatkan rasa solidaritas kelompok dan melepaskan diri dari orang dewasa. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak belajar bagaimana menghadapi dominasi dan permusuhan, berhubungan dengan pemimpin dan pemegang kekuasaan, serta menggali ide-ide dari lingkungan fisik.

7). Perkembangan Konsep Diri
Istilah konsep diri merujuk pada pengetahauan yang disadari mengenai berbagai persepsi diri, seperti karakteristik fisik, kemmpuan, nilai, ideal diri, dan penghargaan serta ide-ide dirinya sendiri dalam hubungannya dengan orang lain, konsep diri juga termasuk juga termasuk citra tubuh, seksualitas, dan harga diri seseorang. Konsep diri yang positif membuat anak merasa senang, berharga dan mampu memberikan kontribusi dengan baik. Perasaan seperti itu menyebabkan penghargaan diri, keprecyaan diri, dan perasaan bahagia secara umum. Perasaan negatif menyebabkan keraguan terhadap diri sendiri. Anak usia sekolah memiliki persepsi yang cukup akurat dan positif tentang keadaan fisik mereka sendiri.

8). Bermain dianggap sangat penting bagi untuk perkembangan fisik dan fisiologi
Karena selama bermain anak mengembangkan berbagai keterampilan sosial memungkinkannya untuk menikmati keanggotaan kelompok dalam masyarakat anak-anak.

Bentuk permainan yang sering diamati pada usia ini:
1)    Bermain konstruktif: membuat sesuatu hanya untuk bersenang-senang saja tanpa memikirkan manfaatnya, seperti menggambar, melukis dan membentuk sesuatu.
2)    Menjelajah: Ingin bermain jauh dari lingkungan rumah.
3)    Mengumpulkan: benda-benda yang menarik perhatian dan minatnya, membawa benda ke rumah, menyimpan dalam laci, dan tidak memperlihatkan koleksinya dalam laci.
4)    Permainan dan olahraga: cenderung ingin memainkan permainan anak besar (bola basket dan sepak bola), dan senag pada permainan yang bersaing.
5)    Hiburan: anak ingin meluangkan waktu untuk membaca, mendengar radio, menonton atau melamun.

3. Masalah Anak Usia Sekolah
Masalah-masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah meliputi bahaya fisik dan psikologi:

1. Bahaya Fisik
a. Penyakit
Penyakit infeksi pada usia sekolah jarang sekali terjadi karena adanya kekebalan yang didapat dari imunisasi yang pernah didapatkan semasa bayi dan di ulang pada kelas satu atau kelas emam, tetapi yang berbahaya adalah penyakit palsu atau khayal untuk menghindarkan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Penyakit yang sering timbul adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak.

b. Kegemukan
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar, tetapi karena banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi. Bahaya kegemukan yang mungkin dapat terjadi:
1)    Anak kesulitan mengikuti kegiatan bermain sehingga kehilangan kesempatan untuk mencapai keterampilan yang penting untuk keberhasilan soaial.
2)    Teman-temannya sering mengganggu dan mengejek dengan sebutan-sebutan “Gendut” atau sebutan lain sehingga anak merasa rendah diri.

c. Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang menghaslkan bekas fisik, kecelakaan yang dianggap sebagai kegagalan dan anak bersikap hati-hati akan berbahaya bagi psikologisnya sehingga anak merasa takut terhadap kegiatan fisik. Bila hal ini terjadi dapat berkembang menjadi rasa malu yang mempengaruhi hubungan sosial.

d. Kecanggungan
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya. Bila muncul rasa tidak mampu dapat menjadi dasar untuk rendah diri.

2.Bahaya Psikologis

a.Bahaya dalam berbicara.
Ada empat bahaya yang umum terjadi pada anak usia sekolah:
1)    Kosakata yang kurang dari rata-rata yang menghambat tugas-tugas di sekolah dan menghambat komunikasi dengan orang lain.
2)    Kesehatan dalam berbicara seperti salah ucap, dan kesalahan tata bahasa, cacat dalam berbicara seperti gagap, akan membuat anak sadar diri sehingga anak hanya bicara bila perlu.
3)    Anak yang mempunyai kesulitan  berbicara dalam bahasa yang digunakan dalam lingkungan sekolah akan terhalang dalam usaha berkomunikasi dan merasa bahwa ia berbeda.
4)    Pembicaraan yang bersifat egosentris, yang mengkritik, dan merendahkan orang lain dan yang bersifat membual akan ditentang oleh temannya.

b. Bahaya Emosi.
Anak akan dianggap tidak matang baik oleh teman sebaya maupun oleh orang dewasa, bila ia masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang menyenangkan, seperti marah yang meledak-ledak sehingga kurang disenangi oleh orang lain.

c. Bahaya Bermain.
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan kesempatan untuk mempelajari permainan dan olahraga yang penting untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang dilarang menghayal akan membuang waktu atau dilarang membuat kegiatan kreatif dan berani akan mengembangkan kebiasaan yang penurut dan kaku.

d. Bahaya dalam konsep diri.
Anak yang mempunyai konsep diri yang ideal biasanya merasa tidak puas pada diri sendiri dan puas pada perlakuan orang lain. Bila konsep sosialnya didasarkan pada berbagai streotif, ia cenderung berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang lain. Karena konsepnya berbobot emosi maka itu cenderung menetap dan terus memberikan pengaruh buruk pada penyesuaian sosial anak.

e. Bahaya Moral.
1)    Perkembangan kode moral sesuai konsep teman-teman atau berdasarkan konsep media massa tentang benar dan salah yang tidak sesuai dengan kode etik orang dewasa.
2)    Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas dalam terhadap perilaku.
3)    Disiplin yang tidak konsisiten membuat anak tidak yakin akan apa yang sebaiknya dilakukan.
4)    Hukuman Fisik merupakan contoh agretifitas anak.
5)    Menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah begitu memuaskan sehingga perilaku menjadi kebiasaan.
6)    Tidak sabar terhadap perbuatan orang lain yang salah.

f. Bahaya yang menyangkut minat
1)    Tidak berminat dalam hal-hal yang dianggap penting oleh teman-teman sebaya.
2)    Mengembangkan sikap yang kurang baik terhadap minat yang dapat bernilai bagi dirinya, seperti kesehatan dan sekolah.

g. Bahaya dalam penggolongan peran seks
Ada dua bahaya yang umum dalam penggolongan peran seks. Kegagalan untuk mempelajari organ seks, peran seks yang dianggap pantas oleh teman sebaya, dan ketidakmauan untuk melakukan peran seks yang disetujui. Bahaya yang pertama,  Cenderung berkembang bila anak dibesarkan oleh keluarga ketika orang tuanya melakukan peran seks yang berbeda dengan orang tua teman-temannya. Bahaya yang kedua berkembang bilamana anak perempuan dan laki-laki diharapkan melakukan peran-peran tradisional.

h. Bahaya dalam perkembangan kepribadian
Ada dua bahaya yang serius dalam perkembangan kepribadian periode ini. Pertama, perkembangan konsep diri dan kedua egosentrisme yang merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak. Egosentrisme merupakan yang serius karena memberikan rasa penting dari yang palsu.

i. Bahaya hubungan keluarga
Pertentangan dengan anggota-anggota keluarga mengakibatkan  dua hal: melemahkan ikatan keluarga dan menimbulkan kebiasaan pola penyesuaian yang buruk, serta masalah-masalah yang dibawa keluar rumah (Cahyaningsih, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

1.    Azwar, S. 2011. Sikap Manusia Teori dan Pengukuran. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
2.    Cahyaningsih S.Dwi. 2011. Pertumbuhan Anak dan Remaja Dini. Trans info Media, Jakarta.
3.    Depkes RI. 2009. Panduan Penyelenggaraan Hari Cuci Tangan Sedunia. diakses tanggal 14 Desember 2009 pukul 08:10:15 AM.
4.    Depkes. 2011. Profil Kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
5.    Dinkes. 2011. Selayang Pandang. Dinas Kesehatan, Provinsi Jawa Timur
6.    Hidayat A, 2007. Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah. Jakarta : Salemba Medika.
7.    Samba, Suharyati. 2005. Buku Praktek Kebidanan. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
8.    Ratna E. 2009. Keterampilan Dasar Praktek Klinik. Nuha Medika, Yogyakarta.
9.    Riyanto, Agus. 2011. Aplikasi Metode Penelitian Kesehatan. Nuha Medika, Yogyakarta.
10. Siswanto, Hadi. 2010. Pendidikan Anak Usia Dini.Sawon,Bantul, Yogyakarta.
11. Maulana, Heri D.J. 2009. Promosi Kesehatan. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
12. Nazir, dkk. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Nuha Medika.
13. Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. PT Rineka Cipta, Jakarta.
14. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. metodologi penelitian kesehatan. Rineka cipta, Jakarta.
15. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. PT Rineka Cipta, Jakarta.
16. Nursalam. 2008. konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta : Salemba medika.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar