PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 04 Mei 2013

SEKILAS TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL

1. Pengertian kecerdasan emosional
Goleman dalam Tridhonanto (2010 : 8) mendefinisikan kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi, dan menunda kepuasan serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan, dan mengatur suasana hati.

Cooper dan Sawaf mengatakan bahwa kecerdasan emosional sebagai kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa kecerdasan emosi menuntut seseorang untuk belajar mengakui, menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat dan menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari (Tridhonanto, 2010 : 8).

Howes dan Herald menegaskan bahwa kecerdasan emosional sebagai komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosinya. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional akan menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain (Tridhonanto, 2010 : 8-9).

Jadi, kecerdasan emosional adalah kumpulan dari kemampuan emosional dan kemampuan sosial yang dimiliki seseorang dalam menghadapi seluruh aspek kehidupan.

2. Komponen kecerdasan emosional
Menurut Tridhonanto (2010 : 9-12) pada kenyataannya perlu diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, wilayah tersebut meliputi sekelompok kemampuan emosional atau kemampuan sosial yang turut berperan dalam kecerdasan emosional, terbagi dalam lima wilayah utama. Kelima wilayah kecerdasan emosional tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kesadaran diri
Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada wilayah ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya yang berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.

b. Mampu mengelola emosi
Kemampuan dalam mengelola emosi sebagai landasan dalam mengenal diri sendiri atas emosi. Emosi dikatakan berhasil jika dikelola. Adapun langkah yang dilakukan, hendaknya mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu.

Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus-menerus bertarung melawan perasaan, melarikan diri pada hal-hal negatif. Maka pada dasarnya semua tersebut membawa akibat dalam kemampuan mengatasi emosi diri sendiri agar bisa mengungkapkan secara tepat dalam mengatasi emosi yang dialaminya.

c. Memotivasi diri
Arti dari memotivasi diri merupakan usaha yang dilakukan seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki. Kemampuan seseorang dalam memotivasi diri dapat ditelusuri melalui berbagai hal, di antaranya :
1)    Cara mengendalikan dorongan hati
2)    Derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja sekarang
3)    Kekuatan berpikir positif dan
4)    Optimisme.
Maka seseorang memiliki kemampuan memotivasi diri akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terajadi dalam dirinya. Selain itu juga memiliki keinginan yang berbeda-beda antara satu orang dan orang lain.

d. Mampu berempati
Kata empati sendiri memiliki arti kemampuan alam perasaan seseorang untuk menempatkan diri ke dalam alam perasaan orang lain sehingga bisa memahami pikiran, perasaan, dan perilakunya. Manusia yang berempati merupakan seseorang yang memiliki kemampuan menghangatkan suasana dalam menempatkan dirinya pada situasi dan perasaan orang lain, tetapi dia tetap berada di luar perasaan orang lain dan tetap mempertahankan perasaan dirinya.

e. Mampu menjalin sosial dengan orang lain
Di dalam menjalin sosial dengan orang lain sebagai sifat yang hakiki pada diri manusia sebagai makhluk sosial. Kemampuan tersebut dibuktikan manusia dalam pergaulan dengan orang lain dan penampilan yang selaras dengan alam perasaannya sendiri. Selain itu dia juga bisa memimpin dan mengorganisir orang lain dan mampu mengatasi permasalahannya yang muncul dalam pergaulan antar sesama manusia.

3. Aspek-aspek kecerdasan emosional
Menurut Tridhonanto (2010 : 17-24) aspek-aspek yang mendukung terbentuknya kecerdasan emosional adalah sebagai berikut:

a. Persepsi emosi
Persepsi emosi merupakan sikap manusia ketika ia mengenali berbagai jenis emosi dari ekspresi, musik, warna, dan cerita. Pengertian emosi adalah suatu bentuk energi batiniah yang muncul dari pusat alam perasaan seseorang yang merupakan daya pendorong untuk menuju hidup yang lebih baik. Emosi dapat muncul setiap saat selama manusia hidup, kemudian disalurkan untuk mewarnai bebagai kegiatan manusia. Emosi dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni emosi yang positif dan emosi yang negatif. Emosi positif meliputi rasa senang, bahagia, lega, dan puas. Emosi negatif meliputi rasa sedih, takut, gelisah, malu, dan marah. Namun kemudian ada tambahan yakni ketiga merupakan kombinasi perasaan, yakni antara emosi positif dan emosi negatif seperti bersalah, cemburu, frustasi, dan binggung.

Jika emosi yang diabaikan atau ditekankan akan makin kuat intensitasnya maka sebaiknya segera disalurkan untuk membawa kelegaan hati. Adapun jalan untuk mengenali atau menyadari jenis emosi yang muncul dapat melalui bagian tubuh yang mengisyaratkan munculnya emosi tersebut. Seperti misalnya ketika rasa sedih mendera yang terasa di dada kiri mengeras seperti terasa menjadi padat, rasa tegang disekitar leher, atau jika rasa senang tiba sepertinya tubuh seakan-akan terangkat ke langit, dan rasa lega seperti tidak terjadi apa-apa. Tetapi sering kali individu terlambat dalam mengenali emosi yang timbul.

Biasanya emosi dinyatakan ada perasaan yang tidak enak dan ada sesuatu yang tidak seperti biasanya. Apabila individu dapat mengidentifikasi jenis emosi tersebut lebih dini, maka ia dapat mengelola emosi tersebut lebih baik. Kesadaran atas emosi sangat penting sebab memiliki keterkaitan antara perasaan yang muncul dengan pemikiran dan perkataannya hal ini sangat mempengaruhi kegiatan dan perilakunya.

b. Pemahaman emosi
Sering kali perasaan peka dan sadar secara emosional tidak selalu dapat digunakan untuk memahami perasaan-perasaan anak. Sering kali anak remaja mengungkapkan bisa secara tidak langsung dengan cara-cara yang cukup membingungkan. Sebenarnya emosi yang bergejolak ini ditandai dengan berbagai isyarat dan isyarat ini dikenal sebagai isyarat emosional. Memang diperlukan kecermatan untuk memahami isyarat emosi yang muncul dari diri anak-anak remaja. Bila perubahan perilaku itu mulai berlebihan maka itu merupakan isyarat emosi yang buruk maka carilah penyebab terjadinya perubahan perilaku tersebut.

Pada kasus yang terjadi biasanya orang tua terlambat dalam mengenali emosi yang muncul. Kebiasaan emosi dinyatakan dengan adanya perasaan tidak enak dan ada sesuatu yang tidak seperti biasanya. Seandainya orang tua dapat mengidentifikasi jenis emosi tersebut lebih dini, maka orang tua akan mampu mengelola emosi lebih baik. Sebab munculnya emosi intensitasnya belum tinggi sehingga belum berlarut-larut.

c. Pengelolaan emosi
Selain mengenal akan berbagai jenis emosi dan memahami apa itu emosi, berikut proses untuk dapat membantu memecahkan permasalahan atau kesulitan yang dialami oleh anak remaja :
1)    Menetukan batas-batas dengan melihat perilaku mana yang tidak tepat
2)    Menentukan sasaran
Dalam menentukan sasaran sebaiknya menanyakan pada anak remaja, apa yang ingin dicapai berkaitan dengan masalah tersebut.

3. Pemecahan masalah
Dalam memecahkan masalah orang tua diharapkan bersedia untuk bekerjasama dengan anak dalam memikirkan pilihan-pilihan yang memungkinkan bagi pemecahan masalah atau kesulitan.

4. Mengevaluasi pemecahan masalah
Pemecahan masalah yang orang tua capai dengan anak, mencoba untuk menilainya kembali atas setiap kemungkinan pilihan di atas.

5. Memilih satu pilihan dalam pemecahan masalah

4. Faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional
Menurut Tridhonanto (2010:12) faktor yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosional ketika perkembangan anak setelah dilahirkan, adalah:

a. Faktor pengaruh lingkungan
Dalam mengembangkan kecerdasan emosi, dukungan sosial juga berpengaruh yaitu dengan pelatihan, penghargaan, pujian, nasehat, yang pada dasarnya memberi kekuatan psikologi pada seseorang sehingga merasa dan membuatnya mampu menghadapi situasi yang sulit, dapat juga berupa hubungan interpersonal yang didalamnya terdapat satu atau lebih bantuan dalam bentuk fisik, informasi dan pujian.

b. Faktor pengasuhan
Orang tua memegang peranan penting terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak, karena lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak dalam mempelajari emosi, pengalaman masa kanak–kanak dapat mempengaruhi perkembangan otak. Oleh karena itu, jika anak–anak mendapatkan perhatian emosi yang tepat maka kecerdasan emosionalnya akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Ada beberapa prinsip dalam mendidik dan melatih emosi anak sebagai peluang kedekatan dan mengajar, mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan empati anak, menentukan batas –batas emosi dan membantu anak dalam masalah yang dihadapi anak.

c. Faktor pendidikan
Sekolah memegang peran penting dalam pengembangan potensi anak didik melalui tehnik gaya kepemimpinan dan metode mengajar guru sehingga EQ dapat berkembang secara maksimal. Jadi sistem pendidikan hendaknya tidak mengabaikan perkembangan emosi dan konasi seseorang. Pemberdayaan pendidikan disekolah hendaknya mampu memelihara keseimbangan antara perkembangan intelektual dan psikologi anak sehingga dapat berekspresi bebas tanpa perlu banyak diatur dan diawasi secara ketat.

5. Tingkatan kecerdasan emosional
Menurut Gita (2011) berikut adalah jenis tingkatan dari kecerdasan emosional:
a. Ciri-ciri orang yang mempunyai EQ tinggi, yaitu:
1)    Tutur katanya sopan
2)    Menghargai dan menghormati pendapat orang lain
3)    Empati yang tinggi
4)    Menjalin hubungan dengan orang lain secara harmonis
5)    Tegas dan tidak sombong
6)    Mampu mengahadapi berbagai persoalan
7)    Kehadirannya sangat di dambakan.
b. Ciri-ciri orang yang mempunyai EQ rendah, yaitu :
1)    Cerewet
2)    Sering merendahkan, mempermalukan orang lain
3)    Berbicara kasar
4)    Tegas tapi sombong
5)    Tidak punya jiwa kemandirian
6)    Suka mengejek.


6. Ciri-ciri anak remaja yang memiliki kecerdasan emosional
Menurut Tridhonanto (2010: 42-43) ciri-ciri anak remaja yang memiliki kecerdasan emosional adalah sebagai berikut :
1)    Pandai mengendalikan diri, bisa dipercaya, mampu beradaptasi
2)    Memiliki sikap empati, bisa menyelesaikan konflik, dan bisa bekerja sama dalam tim
3)    Mampu bergaul dan membangun persahabatan
4)    Mampu mempengaruhi orang lain
5)    Berani mengungkapkan cita-cita, dengan dorongan untuk maju dan optimis
6)    Mampu berkomunikasi
7)    Memiliki sikap percaya diri
8)    Memiliki motivasi diri untuk menyambut tantangan yang menghadang
9)    Mampu berekspresi dengan kreatif dan inisiatif serta berbahasa lancar
10) Menyukai terhadap pengalaman yang baru
11) Memiliki sikap dan sifat perfeksionis dan teliti
12) Memiliki rasa ingin tahu yang besar
13) Memiliki rasa humor
14) Menyenangi kegiatan berorganisasi dengan aktivitasnya serta mampu mengatur diri sendiri.

7. Cara meningkatkan kecerdasan emosional
Menurut Tridhonanto (2010 : 48-58) cara mengasah kecerdasan emosional pada anak adalah sebagai berikut :

a. Membiasakan anak menentukan perasaan
Anak mampu mengungkapkan segala kegundahan yang dialaminya baik suka maupun duka.

b. Mengajak anak menyatakan kebutuhan emosinya
Emosi yang tersalurkan dengan baik akan membawa energi yang positif. Ada yang melampiaskan emosinya dengan cara bersenandung, bersiul, atau berteriak sekuat-kuatnya dilapangan yang luas, tetapi semua bergantung kebiasaan yang dialami tiap orang.

c. Anak mampu mementingkan hubungan dengan orang lain
Dalam pergaulannya dengan teman sebaya ataupun orang lain kadang anak mencari untung sendiri. Anak akan bersemangat ketika dipahami ataupun dilayani daripada memahami atau melayani orang lain.
Anak diberikan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial hendaknya peduli kepada sesama. Hidup manusia tidak bisa lepas dari orang lain, saling membutuhkan.

d. Anak mampu menghormati perasaan orang lain
Anak diperkenalkan untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

e. Mengajak anak menunjukkan empati
Adapun pengertian dari kata empati adalah kemampuan alam perasaan seseorang untuk menempatkan perasaan dirinya ke dalam alam perasaan orang lain, sehingga dapat memahami pikiran, perasaan, dan perilakunya.

f. Anak mampu memecahkan masalah yang terjadi
Seorang anak remaja yang menemui permasalahan tentunya akan mencari solusi yang tepat untuk dilakukan. Sebagai orang tua yang bijak sebaiknya memberikan ruang agar anak remajanya mampu menetukan sendiri atas masalah yang dihadapinya.

g. Anak mampu bersikap sportif
Sportifitas ini akan selalu tertanam hingga nanti dewasa, karena tidak selamanya seseorang itu berhasil meraih impian dan cita-cita. Kekalahan atau kegagalan itu hal yang tidak bisa dihindari namun bila tidak ingin mengalaminya maka seseorang harus berusaha mengoptimalkan potensi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Alimul Hidayat, A.Aziz, 2007. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Salemba Medika : Jakarta.
2.    Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta : Jakarta.
3.    Benih Nirwana, Ade, 2011. Psikologi Ibu, Bayi dan Anak. Nuha Medika : Yogyakarta.
4.    Damayanti, Rita, 2012. Perilaku Berisiko Di Kalangan Orang Muda. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia : Jakarta.
5.    Dio Martin, Anthony, 2011. Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda. Raih Asa Sukses : Jakarta.
6.    Gita, 2011. Emotional Quotient (EQ). http://sman1kayuagung.sch.id/index.php? pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=48, diakses 11 April 2012.
7.    Goleman, Daniel, 1996. Emotional Intelegence. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta.
8.    Hurlock, Elizabeth B, 1990. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga : Jakarta.
9.    Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2009. Masalah Kesehatan Mental Emosional Remaja. http://www.idai.or.id/remaja.asp, diakses 20 maret 2012.
10. Koran Bogor, 2011. Menkes : 11,6% Penduduk Indonesia Penderita Gangguan Jiwa. http://koranbogor.com/nusantara/menkes-116-penduduk-indonesia-penderita-gangguan-jiwa.html, diakses 11 April 2012.
11. Luk Lukaningsih, Zuyina dan Siti Bandiyah, 2011. Psikologi Kesehatan. Nuha Medika : Yogyakarta.
12. Mahmudah, Hakimatul, 2011. Hubungan Emotional Quotient (EQ) dengan Derajat Depresi pada Siswi kelas XI Madrasah Aliyah Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta : Semarang.
13. Monks, Knoers, 2006. Psikologi  Perkembangan. Gajamada University Press : Yogyakarta.
14. Mutia, Evi dan Heru Fahlevi, 2007. Kecerdasan Emosional Dan Pengaruhnya Terhadap Tekanan Kerja. Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala : Banda Aceh.
15. Najmah, 2011. Managemen dan Analisa Data Kesehatan. Nuha Medika : Yogyakarta.
16. Nasir, Abdul dan Abdul Muhith, 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar dan Teori. Salemba Medika : Jakarta.
17. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.
18. Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.  Salemba Medika : Jakarta.
19. Nur Wulan Ningrum, Dian, 2009. Hubungan Antara Urutan Kelahiran dalam Keluarga dengan Kecerdasan Emosional pada Remaja di SMA Muhammadiyah I Klaten. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta.
20. Rachmi, Filia, 2010. Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Perilaku Belajar Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang : Semarang.
21. Riyadi, Sujono dan Teguh Purwanto, 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu : Yogyakarta.
22. Riyanto, Agus, 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Medika : Yogyakarta.
23. Rizki, Arini, 2011. Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosional. http://id.shvoong.com/tags/faktor-yang-mempengaruhi-kecerdasan-emosional/, diakses 11 April 2012.
24. Sarwono, Sarlito W, 2011. Psikologi Remaja. Rajawali Press : Jakarta.
25. Sriati, Aat, 2008. Tinjauan Tentang Stress. Universitas Padjadjaran Fakultas Ilmu Keperawatan : Bandung.
26. Supriyatna, Ena, 2010. Remaja, Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya. Universitas Inderaprasta Fakultas Pendidikan Ekonomi : Jakarta.
27. Suyanto, 2011. Metodologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan. Nuha Medika : Yogyakarta.
28. Tridhonanto, Al. dan Beranda Agency, 2010. Meraih Sukses dengan Kecerdasan Emosional. PT Elex Media Komputindo : Jakarta.
29. Yosep, Iyus, 2010. Keperawatan Jiwa. Refika Aditama : Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar