PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PENYAKIT DISENTERI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PENYAKIT DISENTERI

BAB I PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Disentri merupakan salah satu jenis diare akut atau timbul mendadak , umumnya banyak dialami anak pada usia balita . penyebab disentri yakni infeksi kuman shigella (disentri basiler)  dan parasitentamoebah histolitika   (disentri amoba) . gejala disentri pada anak biasanya didahului demam ( pada disentri basiler) , ada gejala sakit perut ketika BAB dan setelahnya rasa sakit tersebut hilang serta feses berlendir dan berdarah.

Disentri juga dikenal sebagai fluks atau fluks berdarah yang merupakan gangguan peradangan usus terutama usus besar yang menghasilkan diare berat yang mengandung lender atau darah dalam feses . disentri jika terlambat di obati akan mengakibatkan fatal .
Disentri pada dasarnya mengacu pada ganggaun pencernaan yang ditandai dengan peradangan pada usus atau infeksi usus . Hal ini disebabkan oleh amuba yang disebut Entamoebahistolitika . Menurut Organisasi Kesehatan Dunia WHO , disentri ini dikategorikan dalam diare , diamana darah bisa muncul saat buang air besar dan encer.
           
Dalam musim penghujan penyakit disentri sangat umum terjadi pada setiap kelompok usia sehingga pada musim tersebut sangat perlu dilakuan pencegahan penyakit disentri. Dengan melakukan sedikit usaha dan memberikan perhatian yang layak kearah itu kita dapat mencegah diri kita dari terjangkit penyakit itu .
           
Disenti ini terkait dengan kondisi sanitasi yang buruk dan menyebar terutama melalui makanan dan air yang terkontaminasi . Ketika sesorang terinfeksi , organisme hidup pada usus dan dilewatkan dalam tinja orang yang terinfeksi . Jika ini terjadi kontak dengan makanan atau air , hal itu akan terkontaminasi hal ini biyasanya ditularkan oleh makanan atau air . 

3. Tujuan Masalah
Dengan mengetahui penyebab penyakit disentri diharapkan masyarakat  mampu  menjaga pola hidup yang bersih dan sehat

4. Rumusan Masalah
1)    Apakah yang dimaksud penyakit penyakit disentri?
2)    Bagaimana etiologi dan klasifikasi penyakit disentri?
3)    Apakah penyebab dan gejala penyakit disentri?
4)    Bagaimana pencegahan penyakit disentri?
5)    Bagaimana cara pemberantasan penyakit disentri dalam masyarakat?
6)    Bagaimana pengobatan dan penatalaksanaan penyakit disentri?
7)    Bagaimana penyakit disentri mempengaruhi factor host, agent dan environment?

BAB II PEMBAHASAN

1. Definisi
Disentri adalah penyakit yang timbul karena adanya infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan peradangan dan tukak pada usus besar. Pada kondisi tersebut penderita biasanya akan sering mengalami sindroma disentri seperti sakit perut dan diare yang bercampur darah dan  amper .

Penyakit disentri termasuk penyakit yang mudah menular,  penyebarannya dapat ditularkan melalui makanan dan air yang telah terkontaminasi oleh kotoran melalui perantara lalat yang membawa kuman-kuman penyebab disentri.  Penyakit ini umumnya lebih cepat menyerang anak-anak.

Kuman-kuman masuk ke dalam organ pencernaan yang mengakibatkan pembengkakan dan pemborokan sehingga timbul peradangan pada usus besar. Untuk itu perlu disadari bahwa kebersihan lingkungan dan kebiasaan hidup bersih merupakan  amper yang sangat penting dalam menekan angka penyakit ini

2. Etiologi
Bakteri (Disentri basiler) Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering         (± 60% kasus disentri yang dirujuk serta  amper semua kasus disentri yang berat dan mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella
1)    Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
2)    Salmonella
3)    Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
4)    Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak usia > 5 tahun.

3. Klasifikasi Disentri
Ada 2 macam disentri, yaitu
1)    Disentri Amoebica
2)    Disentri Bacilaris


Disentri Amoebica
Disentri Bacilaris
Penyebab

Dimulai

Panas

Berak



Berjangkitnya


Diagnosa


Prognosis
Entamoeba Histolitika

Tidak dengan tiba-tiba dan hebat

Tidak ada

Tidak sering kali, tidak banyak darah dan lender dan baunya amat busuk


Tidak berat dan tidak secara wabah


Dapat dengan mikroskop


Pada penyakit endokrin tergantung pada penyakit dasarnya. Pada penyebab obat-obatan tergantung kemampuan menghindari pemakaian obat.
Shigela Disentri

Dengan hebat dan tiba-tiba

Ada

Terlalu sering, lebih banyak darah, lender dan nanah, tidak bau busuk.

Hebat dan sering secara wabah

Menghendaki pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.

Pada bentuk berat angka kematian tinggi, kecuali mendapat pengobatan dini. Pada bentuk sedang angka kematian





4. Gejala
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus) yang berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dan tinja lendir bercampur darah.

a. Gejala-gejala disentri antara lain:
1)    Buang air besar dengan tinja berdarah
2)    Diare encer dengan volume sedikit
3)    Buang air besar dengan tinja bercampur lendir (mucus)
4)    Nyeri saat buang air besar (tenesmus)

b. Ciri-ciri saat jika terkena disentri adalah sebagai berikut :
1)    Panas tinggi (39,50°C – 400°C), appear toxic
2)    Muntah-muntah
3)    Sakit kram di perut dan sakit di anus saat BAB
4)    Kadang disertai gejala serupa ensefalitis dan sepsis
5)    Diare disertai darah dan lendir dalam tinja
6)    Frekuensi BAB umumnya lebih sedikit
7)    Sakit berut hebat (kolik)

5. Penyebab
Disentri biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau protozoa atau infestasi cacing parasit, tetapi juga dapat disebabkan oleh iritasi kimia atau infeksi virus. Dua penyebab yang paling umum adalah infeksi dengan basil dari kelompok Shigella, dan kutu oleh amuba, Entamoeba histolytica. Ketika disebabkan oleh basil itu disebut disentri basiler, dan ketika yang disebabkan oleh amuba itu disebut disentri amuba.

6. Pencegahan
Disentri tersebar sebagai akibat dari kebersihan yang buruk. Untuk meminimalkan risiko terkena kondisi tersebut, maka harus dilakukan pencegahan pada penyakit disentri:
1)    Disentri tersebar karena kebersihan yang buruk. Untuk meminimalkan risiko terkena penyakit ini, jaga selalu kebiasaan hidup bersih dan sehat.
2)    Cuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet atau sebelum dan sesudah makan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain/anak.
3)    Bila Anda bepergian, jangan minum air setempat kecuali telah direbus selama paling sedikit 10 menit. Atau gunakan  air kemasan atau minuman bersoda dari kaleng atau botol yang masih dalam kondisi bersegel.
4)    Jangan minum dari air mancur umum atau membersihkan gigi dengan air keran
5)    Jangan makan buah segar atau sayuran yang tidak bisa dikupas sebelum makan.
6)    Jangan makan atau minum produk susu, keju atau susu yang mungkin belum dipasteurisasi.
7)    Jangan makan atau minum apa pun yang dijual oleh PKL (kecuali minuman dari kaleng benar disegel atau botol).

7. Pengobatan Dan Penatalaksanaan

1. Perhatikan keadaan umum, bila pasien appear toxic, status gizi kurang, lakukan pemeriksaan darah (bila memungkinkan disertai dengan biakan darah) untuk mendeteksi adanya bakteremia. Bila dicurigai adanya sepsis, berikan terapi sesuai penatalaksanaan sepsis pada anak. Waspadai adanya syok sepsis.

2. Komponen terapi disentri :
1)    Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit.
2)    Diet
3)    Antibiotika
4)    Sanitasi

a). Koreksi dan maintenance cairan dan elektrolit
Seperti pada kasus diare akut secara umum, hal pertama yang harus diperhatikan dalam penatalaksanaan disentri setelah keadaan stabil adalah penilaian dan koreksi terhadap status hidrasi dan keseimbangan elektrolit.

b). Diet
pasien  dengan disentri harus diteruskan pemberian makanannya. Berikan diet lunak tinggi kalori dan protein untuk mencegah malnutrisi. Dosis tunggal tinggi vitamin A (200.000 IU) dapat diberikan untuk menurunkan tingkat keparahan disentri, terutama pada pasien yang diduga mengalami defisiensi. Untuk mempersingkat perjalanan penyakit, dapat diberikan sinbiotik dan preparat seng oral8,9. Dalam pemberian obat-obatan, harus diperhatikan bahwa obat-obat yang memperlambat motilitas usus sebaiknya tidak diberikan karena adanya risiko untuk memperpanjang masa sakit.

c). Antibiotika
1)    pasien dengan disentri harus dicurigai menderita shigellosis dan mendapatkan terapi yang sesuai. Pengobatan dengan antibiotika yang tepat akan mengurangi masa sakit dan menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
2)    Pilihan utama untuk Shigelosis (menurut anjuran WHO) : Kotrimoksazol (trimetoprim 10mg/kbBB/hari dan sulfametoksazol 50mg/kgBB/hari) dibagi dalam 2 dosis, selama 5 hari.
3)    Dari hasil penelitian, tidak didapatkan perbedaan manfaat pemberian kotrimoksazol dibandingkan plasebo10.
4)    Alternatif yang dapat diberikan : o Ampisilin 100mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis o Cefixime 8mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis o Ceftriaxone 50mg/kgBB/hari, dosis tunggal IV atau IM o Asam nalidiksat 55mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis.
5)    Perbaikan seharusnya tampak dalam 2 hari, misalnya panas turun, sakit dan darah dalam tinja berkurang, frekuensi BAB berkurang, dll. Bila dalam 2 hari tidak terjadi perbaikan, antibiotik harus dihentikan dan diganti dengan alternatif lain.
6)    Terapi antiamebik diberikan dengan indikasi : o Ditemukan trofozoit Entamoeba hystolistica dalam pemeriksaan mikroskopis tinja. o Tinja berdarah menetap setelah terapi dengan 2 antibiotika berturut-turut (masing-masing diberikan untuk 2 hari), yang biasanya efektif untuk disentri basiler.
7)    Terapi yang dipilih sebagai antiamebik intestinal pada anak adalah Metronidazol 30-50mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis selama 10 hari. Bila disentri memang disebabkan oleh E. hystolistica, keadaan akan membaik dalam 2-3 hari terapi.

d). Sanitasi
beritahukan pada pasien untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungannya khususnya kebiasaan mecuci tangan sebelum dan sesudah makan atau sebelum dan sesudah melakukan kegiatan dan buang air besar dan kecil.

8. Hubungan Host, Agent Dan Environment
Dalam epidemiologi atau penyebaran penyakit terdapat 3 faktor yang daapat mempengaruhi penyebaran penyakit yaitu adanya factor host ( penyakit ), agent ( inang/ tempat penyebaran penyakit) dan environment ( lingkungan ).

Dalam segitiga ini ketiga tiganya sangat berpengaruh pada epidemiologi masyarakat, apabila salah satunya tidak imbang atau lebih besar maka penyebaran penyakit akan semakin banyak, begitu pula dengan penyakit disentri dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh host, agent, dan environment.

A. Environment (lingkungan)
Saat kemarau banyak debu dan kotoran di tempat-tempat yang tersembunyi dan pada musim hujan maka air membawanya ke tempat yang lebih terbuka. Kotoran tersebut merupakan tempat potensial hidupnya berbagai kuman penyakit, termasuk di dalamnya kotoran berbagai binatang khususnya tikus.

Tikus merupakan vektor utama pembawa kuman leptospira (penyebab penyakit leptospirosis yang sangat berbahaya). Kuman tersebut hidup pada urin tikus. Jika kita
menginjak kotoran tikus, dan kebetulan pada telapak kaki kita lecet/terluka maka kuman masuk ke dalam tubuh.

Air hujan yang kotor dapat mencemari berbagai sumber air bersih. Air yang tercemar akan menurun kualitasnya sehingga tidak layak untuk dikonsumsi. Maka karena sanitasi masyarakat berkurang karena mungkin terkena banjir atau air hujan yang kotor dan mengkonsumsi air yang kotor maka sangat rentan terhadap penyakit disentri pada masyarakat. Jadi, factor lingkungan juga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit disentri dan kesehatan masyarakat.

B. Agent
Perubahan suhu dari panas ke dingin akan mempengaruhi daya tahan tubuh. Apalagi pada mereka yang dalam kesehariannya selalu terpapar dengan udara terbuka dan teriknya panas matahari, dan kini kehujanan, biasanya masyarakat yang mudah terserang adalah masyarakat yang kekebalan tubuhnya rendah. Akibat lingkungan yang tidak bersih dan mendukung akan menyebabkan masyarakat mudah terserang penyakit, khususnya disentri.Kelompok masyarakat yang paling rentan dalam kondisi ini adalah anak-anak khususnya anak balita, ibu hamil dan menyusui, orang-orang tua serta orang dengan berbagai penyakit kronis.

C. Host
Kuman atau bibit penyakit akan tumbuh subur pada lingkungan kotor, keadaan lingkungan saat musim hujan merupakan keadaan lingkungan yang memungkinkan tumbuh suburnya berbagai kuman penyakit khususnya kuman penyakit yang potensial untuk terjadinya wabah.

Ketika hujan, tumpukan sampah cenderung menjadi lembab sehingga mengundang datangnya lalat dan kecoa, vector penting pembawa kuman penyakit terutama kuman penyakit yang menyerang pencernaan. Berbagai kuman penyakit penyebab seperti Entamoeba histolitika dan shigela penyebab penyakit Disentri dan penyakit lainnya.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan
Penyakit disentri merupakan peradangan pada usus besar. Gejala penyakit ini ditandai dengan sakit perut dan buang air besar encer secara terus-menerus (diare) yang bercampur lendir, nanah, dan darah.

Berdasarkan penyebabnya disentri dapat dibedakan menjadi dua, yaitu disentri amuba dan disentri basiler. Disentri amuba disebabkan oleh infeksi parasit Entamoeba histolytica dan disentri basiler disebabkan oleh infeksi bakteri Shigella.
   
Bakteri tersebut dapat tersebar dan menular melalui makanan dan air yang sudah terkontaminasi kotoran dan bakteri yang dibawa oleh lalat. Lalat merupakan serangga yang hidup di tempat yang kotor dan bau, sehingga bakteri dengan mudah menempel di tubuhnya dan menyebar di setiap tempat yang dihinggapi.
Penyakit juga dipengaruhi oleh factor agent, host dan environment yang saling berkaitan dalam proses mewabahnya suatu penyakit dalam masyarakat. Jadi, tugas kita adalah berusaha menyeimbangkan segitiga epidemiologi tersebut agar masyarakat tetap sehat.
    
2. Saran
Adapun saran penulis kepada para pembaca adalah hendaknya menjaga kontaminasi makanan dan air, sayur yang dicuci dengan air hangat,membiasakan hidup dengan menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti menjaga kebersihan perorangan dengan selalu mencuci tangan memakai sabun setelah memegang sesuatu dan selalu menjaga kebersihan lingkungan.Kebersihan dan sanitasi yang memadai merupakan tantangan besar bagi orang yang hidup dalam kondisi miskin di negara berkembang di mana ada sedikit atau tanpa akses ke air tawar dan desinfektan. Jika Anda bepergian ke negara yang memiliki risiko tinggi kontaminasi oleh amuba penyebab disentri, saran di bawah ini dapat membantu mencegah infeksi

DAFTAR PUSTAKA

1. http://yanuarariefudin.wordpress.com/2011/03/03/sudahkah-kita-menerapkan-perilaku-hidup-bersih-dan-sehat/
2.    http://billybahrurrizki.blogspot.com/p/kesehatan-lingkungan-adalah.html
3.    Tulusputra, 2000, kapita selekta kodokteran jilid 2, Media Aesculapius.
4.    Braunwald E., Faucy AS, Kasper DL, Hauzer SL, et al. Harrison’s Manual of Medicine. McGraw Hill, ed 15. 2002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar