PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)

1. Pengertian Pemberian Makanan Pendamping  ASI  (MP-ASI)
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan yang diberikan pada balita yang telah berumur 6 bulan, berperan penting bagi pertumbuhan, kesehatan, daya tahan tubuh balita, khususnya sebagai materi yang mengandung zat penangkal berbagai penyakit (Krisnatuti, 2005).

Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya ( Utami, 2006 ).

Makanan tambahan adalah makanan yang diberikan pada anak usia 6-24 bulan. Peranan  makanan tambahan sama sekali bukan untuk menggantikan ASI melainkan untuk melengkapi ASI. Jadi, makanan pendamping ASI harus tetap yydiberikan kepada anak, paling tidak sampai usia 24 bulan ( Yesrina, 2000 ).

2. Tujuan MP-ASI
Air Susu Ibu (ASI) hanya mampu mencukupi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan setelah itu, produksi Air Susu Ibu (ASI) semakin berkurang sedangkan kebutuhan gizi bayi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. Tujuan pemberian MP-ASI (Soenarno, 2007) sebagai berikut:    
1)    Melengkapi zat-zat gizi yang kurang dalam ASI
2)    Mengembangkan kemampuan bayi untuk bermacam-macam  makanan       dari berbagai rasa dan tekstur.
3)    Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
4)    Melakukan adaptasi terhadap makanan yang mengandung kadar energi yang tinggi.

Menurut WHO (2003) pada saat seorang bayi tumbuh dan menjadi lebih aktif akan dicapai usia tertentu dimana ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Dengan demikian, makanan tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI, ini berarti:
1)    Makanan tambahan diperlukan untuk mengisi kesenjangan energi.
2)    Jumlah makanan yang dibutuhkan meningkat sewaktu anak bertambah usianya.
3)    Jika kesenjangan tidak diisi anak akan berhenti pertumbuhannya atau    tumbuh lambat.

3. Manfaat MP-ASI
ASI hanya mampu mencukupi kebutuhan bayi sampai usia 4-6 bulan. Setelah itu, produksi ASI semakin berkurang, sedangkan kebutuhan gizi bayi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur dan berat badan. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang normal dapat diketahui dengan cara melihat kondisi pertambahan berat badan anak.

Apabila setelah usia 4-6 bulan, berat badan seorang anak tidak mengalami peningkatan, menunjukkan bahwa kebutuhan energi dan zat-zat gizi tidak terpenuhi. Hal ini dapat disebabkan asupan makanan bayi hanya mengandalkan ASI saja atau pemberian makanan tambahan kurang memenuhi syarat. Di samping itu, faktor terjadinya infeksi pada saluran pencernan memberikan pengaruh yang cukup besar (Krisnatuti dan Yenrina, 2000).

Menurut Indiarti ( 2008 ) manfaat makanan pendamping ASI adalah :
1)    Untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik psikomotor, otak dan kognitif si kecil yang semakin meningkat.
2)    Untuk melatih keterampilan mengunyah dan menelan si kecil.
3)    Untuk belajar mengembangkan kemampuan menerima berbagai rasa dan struktur makanan.


4. Syarat MP-ASI
Menurut Krisnatuti dan Yenrina ( 2000 ), makanan pendamping ASI yang baik harus memenuhi beberapa syarat, yaitu :
1)    Memiliki nilai energi dan kandungan protein tinggi.
2)    Memiliki nilai suplementasi yang baik serta mengandung vitamin dan mineral yang cocok.
3)    Dapat diterima oleh alat pencernaan bayi dengan baik.
4)    Harganya relatif murah.
5)    Sebaiknya dapat diproduksi dari bahan – bahan yang tersedia secara ideal.
6)    Bersifat padat gizi.
7)    Kandungan serat kasar atau bahan lain yang sukar dicerna dalam jumlah sedikit. Kandungan serat kasar yang terlalu banyak justru akan menggangu pencernaan bayi.

5. Pemberian MP-ASI Tidak Tepat Usia
Memberi makanan tambahan terlalu cepat atau dini menurut WHO (2006) akan berakibat :
1)    Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan saat ini, dan makanan tersebut dapat menggantikan ASI. Jika makanan diberikan, anak akan minum ASI lebih sedikit sehingga ASI yang diproduksi sedikit.
2)    Resiko infeksi meningkat
3)    Resiko diare meningkat karena makanan yang dikonsumsi tidak sebersih ASI.
4)    Ibu mempunyai resiko lebih tinggi untuk hamil kembali jika jarang menyusui.

6. MP-ASI Terlambat
Bahaya Pemberian MP-ASI terlalu lambat. Memulai pemberian makanan tambahan terlalu lambat juga berbahaya (Depkes RI, 2005) karena:
1)    Anak tidak mendapat makanan ekstra yang dibutuhkan untuk mengisi kesenjangan energi dan nutrien.
2)    Anak berhenti pertumbuhannya atau tumbuh lambat.
3)    Pada anak resiko malnutrisi dan defesiensi mikronutrien meningkat.

7. Makanan Bayi
Mengatur makanan bayi dapat dibagi dalam beberapa tahapan (Krisnatuti, 2007) sebagai berikut :

a. Makanan bayi usia 6 bulan
Makanan bayi usia 6 bulan sebagai berikut:
1)    ASI tetap diberikan
2)    Susu botol kecil (200 cc) diberikan 5 kali sehari
3)    Sereal: beras putih, beras merah diberikan 1 kali.
4)    Buah: pisang, alpukat, apel, pir diberikan satu kali

b. Makanan bayi usia 7-8 bulan
Makanan bayi usia 7-8 bulan adalah sebagai berikut:
1)    ASI tetap diberikan
2)    Susu botol kecil (220 cc) 4 kali sehari
3)    Sereal: lanjutan pemberian beras merah, beras putih 2 kali sehari
4)    Buah-buahan: mangga, pir, blewah, timun suri diberikan 1 kali sehari
5)    Daging dan makanan yang mengandung protein: daging sapi, daging ayam, hati, tahu, tempe diberikan 1 kali sehari.

c. Makanan bayi usia 9-12 bulan
Bayi mulai mendekati masa batita, ia sangat aktif dan cenderung sulit untuk berhenti bergerak. Semakin mendekati ulang tahun pertama, makanan semakin bervariasi dan bertekstur kasar. Frekuensi makanan juga sangat bisa ditingkatkan menjadi 2-3 kali dengan 1-2 kali makanan selingan. Walaupun dia sudah mulai kehilangan minat pada payudara atau botol, lanjutkan pemberian ASI kapanpun bayi memintanya karena ASI tetap menjadi dasar utama dari kebutuhan nutrisinya selama masa pertumbuhan yang pesat. Tetap perkenalkan jenis makanan baru untuk memperluas variasi makanan dan nutrisi yang dikonsumsi (Imelda, 2009).

Makanan yang diberikan pada bayi usia 9-12 bulan (Krisnatuti, 2007) sebagai berikut:
1)    ASI tetap diberikan atau susu formula
2)    Nasi tim atau sereal diberikan 2 kali sehari
3)    Buah: nanas, kiwi, mangga, melon diberikan 1 kali sehari
4)    Sayuran: buncis, kacang kapri, kacang panjang, labu diberikan dicampur pada nasi tim
5)    Daging sapi, daging ayam, hati, kuning telur diberikan satu kali sehari
6)    Biskuit sebagai selingan diberikan 2 kali sehari

8. Tumbuh Kembang Optimal.
Untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal, WHO dan UNICEF merekomen-dasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu:
1)    Memberikan ASI kepada bayi segera setengah jam setelah bayi lahir.
2)    Memberikan hanya ASI saja atau ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan.
3)    Memberikan MP-ASI sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan.
4)    Meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih.

9. Pengolahan MP-ASI
Cara pengolahan MP-ASI (Krisnatuti dkk, 2005) sebagai berikut:

a. Makanan pokok
Makanan pokok adalah makanan yang dikonsumsi dalam jumlah yang paling banyak dan mengandung zat tepung sebagai sumber tenaga jenis makanan pokok  adalah beras, jagung, singkong, ubi jalar, sagu umbi-umbian. Bubur susu yang lembut, kental dan gurih dapat dibuat dari makanan pokok apapun dan dapat diberikan sebagai pendamping ASI.

b. Kacang-kacangan
Kacang-kacangan diperlukan oleh bayi untuk memenuhi kebutuhan protein yang sangat penting untuk pertumbuhan. Jenis kacang- kacangan seperti kacang tanah, kedelai, kacang hijau, kacang tunggak, kacang merah, kacang karo, dan lain-lain. Kulit luar kacang-kacangan sulit dicerna, tetapi melalui pemasakan yang benar dan baik masalah ini dapat diatasi. Pertama kacang direndam beberapa saat, kemudian direbus sampai lunak. Buang kulit arinya lalu dihaluskan dengan cara menggerus dan menyaring.

c. Bahan pangan hewani
Bahan pangan hewani bergizi tinggi dan sangat baik untuk makanan bayi. Bahan pangan hewani yang baik untuk bayi antara lain daging sapi, ayam termasuk jeroannya (terutama hati), ikan segar, telur, susu beserta olahannya. Sebaiknya daging dicincang atau di tumbuk halus terlebih dahulu sebelum dimasak, sedangkan ikan dipisahkan dari durinya kemudian di cincang. Bagian telur yang diberikan biasanya kuningnya saja setelah direbus kemudian dihaluskan setelah itu dicampurkan ke dalam bubur.

d. Sayuran
Jenis sayuran yang mengandung gizi serta yang baik untuk dimakan oleh bayi adalah sayuran yang banyak mengandung karotennya, yaitu yang berwarna jingga dan hijau, seperti wortel, tomat merah, bayam, kangkung sawi. Cara mengolahnya, sayuran direbus dan dikukus hingga lunak, kemudian dicincang dan diparut dan dicampur kedalam bubur.

e. Buah-buahan
Buah harus dipilih yang sudah masak dan tidak masam. Pisang biasanya sering digunakan sebagai makanan bayi usia 4-6 bulan karena selain mengandung vitamin dan mineral juga mengandung karbohidrat. Buah-buahan yang baik antara lain pepaya, mangga, jeruk manis. Sebelum dikupas, cuci buah sampai bersih dan setelah dikupas cuci buah dengan menggunakan air matang. Untuk bayi usia 5-7 bulan, buah harus diparut atau ditumbuk, kemudian disaring. Dengan demikian bayi hanya diberi sari buah. Setelah bayi berusia 8 bulan buah tidak perlu disaring sehingga dapat diminum bersama ampasnya.

f. Lemak dan minyak.
Lemak dan minyak mengandung energi yang tinggi memberi rasa lebih gurih serta makanan lebih lunak  dan mudah ditelan. Beberapa jenis lemak yang harus ditambahkan antara lain mentega, margarine keju dan lemak dari binatang lainnya. Jenis minyak yang umum digunakan yaitu minyak kelapa, santan, minyak jagung, minyak kacang, minyak nabati.

10. Pemberian MP-ASI
Makanan MP-ASI dapat diberikan secara efisien, hal-hal yang perlu diperhatikan (Soenardi T, 2007) sebagai berikut:
1)    Berikan secara hati-hati, sedikit demi sedikit dari bentuk encer secara berangsur angsur kebentuk yang kental.
2)    Makanan baru dikenalkan satu persatu dengan memperhatikan bahwa makanan betul-betul dapat  diterima dengan baik.
3)    Makanan yang mudah menimbulkan alergi, yaitu sumber protein hewani diberikan terakhir. Urutan pemberiannya buah-buahan, tepung-tepungan, sayuran, daging dan lain-lain. Sedangkan telur diberikan pada usia 6 bulan.
4)    Cara memberikan makanan bayi mempengaruhi perkembangan emosionalnya. Oleh sebab itu jangan dipaksakan.

Tahap awal pemberian MP-ASI, perkenalkan bubur dan sari buah 2x sehari sebanyak 1-2 sendok makan penuh. Frekuensi pemberian ini lambat laun harus ditingkatkan.  Menginjak usia 7–9 bulan dapat diberikan makanan 3-6 sendok makan penuh  tiap kali makan paling tidak 4x sehari (Krisnatuti dkk, 2005). MP-ASI, ASI harus tetap diberikan kepada bayi sampai berusia sekitar dua tahun atau lebih (Depkes RI, 2005).

ASI merupakan makanan bayi paling utama karena:
1)    ASI mengandung anti bodi yang diperlukan bayi.
2)    Lemak yang dikandung oleh ASI lebih mudah dicerna bayi.
3)    ASI mengandung protein yang sangat baik  untuk pertumbuhan.
4)    ASI tidak mengandung alergen, sehingga tidak menimbulkan alergi.

Tabel 2.1       Jadwal Pemberian MP-ASI Menurut Umur Bayi, Jenis Makanan Dan Frekuensi Pemberian

UMUR
JENIS MAKANAN
FREKUENSI
6 Bulan
ASI/PASI
Bubur Susu
Sari buah
Kuning telur
Sekehendak / 5 x 185-200ml
1x sehari
1x sehari
1x sehari
7 Bulan
ASI/PASI
Bubur Susu
Buah-buahan
Nasi Tim saring
Kuning telur
Sekehendak / 4 x 210-220ml
1x sehari
1x sehari
2x sehari
1x sehari
8 Bulan
ASI/PASI
Bubur Susu
Buah-buahan
Nasi Tim saring
Kuning telur
Sekehendak / 4 x 200-210ml
1x sehari
1x sehari
2x sehari
1x sehari
9 Bulan
ASI/PASI
Bubur Susu
Buah-buahan
Nasi Tim Biasa
Kuning telur, dan
Selingan
Sekehendak / 4 x 200-210ml
1x sehari
1x sehari
2x sehari
1x sehari
10 Bulan
ASI/PASI
Buah
Nasi Tim Biasa
Kuning Telur,
Selinngan
Sekehendak / 3 x 220-230ml
1x sehari
3x sehari
1x sehari
1x sehari
11 Bulan
ASI/PASI
Buah
Nasi Tim Biasa
Kuning Telur,
Selingan
Sekehendak / 3 x 220-240ml
1x sehari
3x sehari
1x sehari
2x sehari
12 Bulan
ASI/PASI
Buah
Nasi Tim Biasa
Kuning Telur,
Selinngan
Sekehendak / 3 x 230-250ml
1x sehari
3x sehari
1x sehari
2x sehari
Sumber: Krisnatuti dkk, 2005


11. Pemberian makanan yang tidak tepat pada bayi (Krisnatuti, 2005)
1)    Pemberian makanan tambahan yang terlalu dini akan menurunkan frekuensi dan intensitas penghisapan bayi, yang akan merupakan suatu resiko untuk terjadinya penurunan produksi ASI.
2)    Pemberian makanan padat yang terlalu dini dapat mengganggu sistem pencernaan bayi, karena sistem pencernaannya belum sempurna.
3)    Pemberian makanan tambahan yang terlambat dapat menyebabkan bayi kurang gizi sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi, karena daya tahan tubuh menurun.

12. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian MP-ASI Tepat Waktu
1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari “Tahu” dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap sesuatu obyek. Penginderaan terjadi melalui panca indera yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman rasa dan raba. Namun sebagian besar pengetahuan seseorang didapat melalui panca indera mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2007).

Orang tua yang telah memberikan MPASI ke anaknya sebelum berumur 6 bulan, alasan yang diberikan karena memberikan MP-ASI < 6 bulan beranggapan jika anaknya kelaparan menyebabkan tidur nyenyak anak tidak lelap, anak menangis terus karena rasa lapar, hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki orang tua tentang pemberian MP-ASI masih kurang (Soraya, 2010). Memasuki usia 6 bulan Bayi sudah siap untuk menerima makanan bukan cair, karena gigi telah tumbuh dan lidah tidak lagi menolak makanan setengah padat. Pengetahuan tentang pemberian MP-ASI pada bayi usia > bulan diperlukan untuk memberikan MPASI yang sesuai dengan usia bayi.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Mubarok (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah sebagai berikut:
a. Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan dan pada aspek fisik dan psikologis (mental). Pertumbuhan pada fisik secara garis besar ada empat kategori perubahan pertama, perubahan ukuran, kedua, perubahan proporsi, ketiga, hilangnya ciri-ciri lama, keempat, timbulnya ciri-ciri baru. Ini terjadi akibat pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental taraf berpikir semakin matang dan dewasa.

b. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang kurang baik seseorang akan berusahan untuk melupakan, namun jika pengalaman terhadap obyek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan timbul kesan yang sangat mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaannya, dan akhirnya dapat pula membentuk sikap positif dalam kehidupannya.

c. Minat
Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.
           
d. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang pada orang lain terhadap sesuatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika seseorang tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap penerimaan, informasi dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.

e. Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.        

f. Kebudayaan lingkungan sekitar
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam suatu wilayah mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, karena lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau sikap seseorang.

g. Informasi
Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru.
Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.

Kriteria untuk pengetahuan menurut Nursalam (2008):
1)    Baik          : 76%-100%
2)    Cukup      : 56%-75%
3)    Kurang < 56%

2. Motivasi
a. Pengertian motivasi
Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu. Motivasi menurut Purwanto (2007) adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku.

Definisi motivasi menurut Stanford (1970), ada tiga point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang, baik fisiologis maupun psikologis. Dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebutuhan tadi, sedangkan tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi  (Sobur, 2005).

Umumnya orang menyebut dengan motif untuk menunjukkan mengapa seseorang itu berbuat sesuatu. Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam subjek untuk melakukan aktivitas- aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).

Berawal dari kata “motif” inilah, maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif, motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan atau mendesak. Purwanto (2007) mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului tanggapan terhadap adanya tujuan pengertian ini mengandung tiga elemen penting sebagai berikut :
1)    Bahwa motivasi ini mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa energi di dalam system Neurophysiological yang ada pada organisme manusia, karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu sendiri muncul dari dalam diri manusia). Penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2)    Motivasi ditandai dengan munculnya, rasa/feeling afeksi seseorang. Motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan afeksi dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
3)    Motivasi akan dirangsang karena ada tujuan. Jadi motivasi dalam hal ini sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi yaitu tujuan. Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, jadi motivasi ini dapat dirangsang oleh factor dari luar, walau motivasi itu sendiri tumbuhnya dari dalam diri seseorang.

Komponen utama dalam motivasi yaitu: kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidak seimbangan antara apa yang ia miliki dan apa yang ia harapkan; dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan; sedangkan tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu, artinya tujuanlah yang mengarahkan perilaku seseorang itu.

Motif adalah suatu istilah-istilah psikologis yang berasal dari bahasa Latin movere. Menurut Branca (dikutif Sobur, 2005) movere berarti bergerak. Selanjutnya pengertian motif lebih banyak dihubungkan dengan faktor penyebab timbulnya aktifitas dalam suatu proses terjadinya aktifitas itu sendiri.

Motif adalah suatu pengertian yang mencakup semua penyebab, alasan, dorongan di dalam diri manusia yang membuat manusia bergerak. Segala perilaku manusia dimulai dari adanya kebutuhan dalam diri. Kebutuhan inilah yang kemudian yang mendorong manusia untuk bergerak, berarti bahwa sumber dari motif adalah kebutuhan (need) dan dorongan (drive). Motif, disamping sebagai dorongan dari dalam diri manusia juga mengandung pengertian adanya suatu tujuan yang ingin dicapai (Sobur, 2005). Motif adalah kondisi internal yang membuat orang aktif dan mengarahkannya untuk mencapai tujuan tertentu. Sebagian ahli berpendapat bahwa istilah motif dan motivasi mengandung pengertian yang sama (Purwanto, 2007).

Dari pendapat kedua ahli tersebut ditarik kesimpulan bahwa motif adalah alasan atau dorongan yang menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motivasi adalah proses pembangkitan gerak agar seseorang bergerak untuk melakukan sesuatu.

b. Bentuk motivasi
Bentuk motivasi, maka dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang sangat bervariasi (Sobur, 2009) yakni:

1. Motivasi kebutuhan organis
Motivasi ini sama dengan motivasi physiological drives, misalnya: kebutuhan minum, makan dan lain-lain.

2. Motivasi darurat
Motivasi ini timbul karena rangsangan dari luar, misalnya: dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas dan lain-lain.

3. Motivasi objektif
Motivasi ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, manipulasi untuk menaruh minat. Motivasi ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.

4. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Motivasi jasmaniah, misalnya: refleks, intrinsik otomatis dan nafsu. Motivasi rohaniah adalah kemauan. Kemauan seseorang timbul melalui empat momen yaitu sebagai berikut:

a). Momen timbulnya alasan
Timbulnya alasan-alasan baru sehingga seseorang itu melakukan sesuatu kegiatan baru.

b). Momen pilih
Sesuatu keadaan dimana alternatif-alternatif atau alasan-alasan yang ada mengakibatkan persaingan, sehingga seseorang akan menimbang-nimbang dari berbagai alternatif atau alasan itu untuk kemudian menentukan pilihan alternatif atau alasan yang akan dijalankan.

c). Momen putusan
Persaingan antara berbagai alternatif atau alasan sudah barang tentu akan berakhir dengan pilihannya satu alternatif atau alasan. Alternatif atau alasan yang telah dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.

d). Momen terbentuknya kemauan
Momen terbentuknya kemauan disebabkan seseorang sudah menetapkan suatu putusan untuk dikerjakan maka timbul dorongan pada diri seseorang itu untuk bertindak melaksanakan putusan itu.

c. Pengukuran motivasi
Skala Likert digunakan untuk mengukur motivasi seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial, dengan Skala Likert maka motivasi akan dijabarkan menjadi suatu indikator. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan Skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai negatif, yang dapat berupa kata-kata antara (Azwar, 2008) lain:

Pernyataan positif :
1)    Sangat Setuju (SS) jika responden sangat setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 4
2)    Setuju (S) jika responden setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 3
3)    Tidak Setuju (TS) jika responden tidak setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 2
4)    Sangat Tidak Setuju (STS) jika responden sangat tidak setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 1.

Pernyataan negatif :
1)    Sangat Setuju (SS) jika responden sangat setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 4
2)    Setuju (S) jika responden setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 3
3)    Tidak Setuju (TS) jika responden tidak setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 2
4)    Sangat Tidak Setuju (STS) jika responden sangat tidak setuju dengan pernyataan kuesioner, dan diberikan melalui jawaban kuesioner skor 1.

d. Kategori Motivasi
Skala motivasi yang berisi pernyataan-pernyataan terpilih dan telah diuji reabilitas dan validitasnya maka dapat digunakan untuk mengungkapkan motivasi kelompok responden. Kriteria pengukuran motivasi (Azwar, 2008) yakni:
1)    Motivasi positif jika nilai T skor  yang diperoleh responden dari kuesioner > T mean.
2)    Motivasi negatif jika nilai T skor yang diperoleh responden dari kuesioner < T mean.

3. Pengalaman
Pengalaman dari diri sendiri maupun orang lain yang meninggalkan kesan paling dalam akan merubah perilaku seseorang.

4. Sosial Budaya
Sosial budaya adalah hal-hal yang komplek yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, adat-istiadat, kemampuan-kemampuan, serta kebiasaan berevolusi dimuka bumi ini sehingga hasil karya, karsa dan cipta dari masyarakat. Masyarakat kurang menyadari bahwa kurang mengetahui beberapa tradisi dan sosial budaya yang bertentangan dari segi kesehatan yang dimana hal ini tentunya berkaitan atau tidak terlepas dari suatu pendidikan.

5. Lingkungan
Lingkungan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku seseorang.

6. Penyuluhan
Meningkatkan pengetahuan masyarakat juga dapat melalui metode penyuluhan. Dengan penyuluhan bertambah seseorang akan merubah perilakunya.

7. Informasi
Informasi merupakan pemberitahuan secara kognitif baru bagi penambahan pengetahuan. Pemberian informasi adalah untuk menggugah kesadaran ibu hamil terhadap suatu motivasi yang berpengaruh terhadap perilaku.

8. Perilaku Pemberian MPASI
Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu dari sudut pandang biologis semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing.

Sehingga yang bermaksud dengan perilaku manusia, pada hakikatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berbicara, berjalan, menangis, tertawa, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2005).

Menurut Blum (1974) dalam Notoatmodjo (2005) mengemukakan bahwa perilaku merupakan faktor yang dominan mempengaruhi kesehatan setelah lingkungan, dimana perilaku selalu berperan dalam lingkungan, baik lingkungan fisik, sosial maupun sosial budaya dan kemudian baru ditunjang oleh tersedianya fasilitas kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat, dan terakhir adalah faktor keturunan, dimana faktor ini erat kaitannya dengan gen yang diturunkan terhadap individu.

Blum (1974) menambahkan bahwa dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat termasuk kepada orangtua yang ada anaknya mengalami penderita gizi buruk, memerlukan intervensi dengan dua upaya yang saling bertentangan melalui:

a. Tekanan (Enforcement)
Upaya agar masyarakat mau mengadopsi perilaku kesehatan dengan baik adalah cara tekanan, paksaan atau koersi (coertion). Upaya ini bisa dalam bentuk undang-undang, peraturan, intruksi, tekanan dan sanksi.

b. Edukasi (education)
Upaya agar masyarakat mau mengadopsi perilaku kesehatan dengan benar, adalah dengan cara persuasi, bujukan, himbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan kesadaran dan sebagainya. Seperti memberikan penyuluhan dan pendidikan dan sebagainya. Menurut Green (1980) dalam Notoatmodjo (2005) kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor, yakni faktor perilaku dan faktor diluar perilaku.

Selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk oleh 3 faktor yaitu :
1)    Faktor Predisposisi (Predisposing Factors) yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2)    Faktor pendukung (Enabling Factors) yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas atau sarana kesehatan, seperti kontrasepsi dan obat-obatan.
3)    Faktor pendorong (Reinforcing factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan ataupun petugas lainnya, merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

c. Proses Adopsi Perilaku
Pengalaman dan penelitian terbukti bahwa peilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1974), mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baik), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yakni: kesadaran, interes, evaluasi, percobaan dan adopsi.

Namun demikian dalam penelitian lanjutan Roger (1983), telah menemukan model baru dalam memperbaiki penelitiannnya proses perubahan perilaku  terdahulu dengan teori yang di kenal “ Deffusion of innovation “ meliputi :
1)    Knowledge (pengetahuan) terjadi bila individu (ataupun suatu unit perbuatan keputusan lainnya) diekspos terhadap eksistensi inovasi dan memperoleh pemahamannya.
2)    Persuasion (persuasi) terjadi bila suatu individu ( ataupun suatu unit keputusan lainnya) suatu sikap mendukung atau tidak mendukung terhadap inovasi.
3)    Decision (keputusan) terjadi bila individu (atau unit pembuat keputusan lainnya) terlibat dalam berbagai aktivitas yang mengarah kepada pilihan untuk menerapkan dan menolak inovasi.
4)    Implementation (implementasi) terjadi bila individu (atau unit keputusan lainnya) menggunakan inovasi.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Arikunto Suharsimi, 2008, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
2.    Azwar Saifudin, 2007, Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Jogyakarta. Pustaka Pelajar.
3.    Depkes RI, 2005, Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).  Surabaya.
4.    Dinkes Prop Jatim, 2011, Profil Kesehatan Jawa Timur.
5.    Hasan Iqbal, 2009, Analisis Statistik, Jakarta, Alfabeta.
6.    Hayati.2005. MP-ASI Pada Bayi Jakarta: Bina Cipta
7.    Krisnatuti, 2005, Menyiapkan Makanan Pendamping ASI.  Jakarta: Puspa Swara.
8.    Imelda Rina, 2009, Panduan Kehamilan dan Perawatan Bayi, Surabaya, Victory.
9.    Indiarti MT, 2009, Buku Pintar Ibu Kreatif, ASI, Susu Formula dan Makanan Bayi. Yogyakarta. Khasanah Ilmu Terapan.
10. Notoatmodjo Soekidjo, 2005, Pendekatan Praktis Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Seagung Seto.
11. Nursalam, 2008, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitan Ilmu Keperawatan, Edisi III . Jakarta: Salemba Medika
12. Nurpudji, 2007, Perkembangan Anak Usia 1-5 Tahun. Jakarta. Gramedia
13. Purwanto, 2007, Perilaku dan Sikap. Jakarta. Gramedia
14. Riduwan Muhammad, 2008, Penyusunan Tesis dan Skripsi, Bandung, Alfabeta.
15. Sobur Alex, 2005, Pengantar Psikologi Umum, Bandung, Alfabeta.
16. Soenardi T, 2007, Seri Menu Anak Makanan Untuk Tumbuh Kembang Bayi,
17. Soenarno, 2007, Panduan Merawat Bayi dan Balita Agar Tumbuh Sehat. Jakarta. Gramedia
18. Soraya, 2010, Panduan Makanan Bayi dan Balita, Surabaya, Victory.
19. Soekirman, 2003. Makanan Bergizi Pendamping ASI. Jakarta: Karya Cipta
20. Supariyasa.2004.  Status Ilmu Gizi.  Jakarta: EGC
21. Clumbey, Jane. 2004. Panduan Para Ibu untuk Menyusui dan Mengenalkan Bayi pada  Botol Susu. Jakarta: Erlangga
22. Yenrina, 2000. Gizi dan Pola Hidup Sehat. Bandung: Yrama Widya
23. Utami. 2006. Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif. Jakarta: Pustaka Bunda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar