PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 09 Mei 2013

SEKILAS TENTANG KONSEP SEGITIGA (TRIAS) EPIDEMIOLOGI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG KONSEP SEGITIGA (TRIAS) EPIDEMIOLOGI

1. Konsep Agent penyakit, manusia (Host) dan lingkungan (Environment)
Ditinjau dari sudut ekologis ada tiga faktor yang dapat menimbulkan suatu kecacatan, kesakitan, ketidakmampuan dan kematian yang disebut sebagai trias epidemiologi yaitu agent penyakit, manusia dan lingkungan. Dalam keadaan normal terjadi suatu keseimbangan yang dinamis diantara tiga komponen ini atau dengan kata lain di sebut sehat. Pada suatu keadaan  terjadinya suatu gangguan pada keseimbangan dinamis ini, misalnya akibat menurunnya kualitas lingkungan hidup sampai pada tingkat tertentu maka akan memudahkan agen penyakit masuk kedalam tubuh manusia dan keadaan disebut sakit (Chandra, 2009).

2.  Konsep agen penyakit
Agen penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dan faktor mekanis, namun kadang kadang untuk penyakit tertentu, penyebabnya tidak di ketahui seperti pada penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner dan lain-lain. Agen penyakit dapat di klasifikasikan menjadi lima kelompok yaitu:
1)    Agen biologi: Bakteri, virus, riketsia, protozoa, metazoa
2)    Agen nutrisi: Karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan lainnya.
3)    Agen fisik: Panas, radiasi, kelembaban, dingin, tekanan, cahaya, dan kebisingan.
4)    Agen kimiawi: Dapat bersifat endogen seperti : asidosis, diabetes (hyperglikemia), uremia dan bersifat eksogen seperti alergen, debu, gas, debu dan lainnya.
5)    Agen mekanis: Gesekan, benturan, pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh host (pejamu).

3.  Konsep Host (pejamu)
Faktor manusia sangat komplek dalam proses terjadinya penyakit dan tergantung pada karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing individu antara lain:

1. Umur
Menyebabkan adanya perbedaan penyakit yang diderita seperti penyakit campak pada anak-anak, penyakit kanker pada usia pertengahan dan penyakit arteroklerosis pada usia lanjut.

2. Jenis kelamin
Frekwensi penyakit pada laki-laki lebih tinggi dibandingkan pada wanita dan penyakit tertentu seperti penyakit pada kehamilan serta persalinan hanya terjadi pada wanita sebagaimana halnya penyakit hypertrofi prostat hanya di jumpai pada laki-laki.

3. Ras
Hubungan antara ras dan penyakit tergantung pada tradisi, adat istiadat dan perkembangan kebudayaan. Terdapat penyakit tertentu yang hanya di jumpai pada ras tertentu seperti sicle cell anemia pada ras negro.

4. Genetik
Ada penyakit tertentu yang diturunkan secara herediter seperti mongolisme, buta warna, hemofilia dan lain-lain.

5. Pekerjaan
Status pekerjaan mempunyai hubungan erat dengan penyakit akibat pekerjaan seperti : kecelakan kerja, keracunan, silikosis, asbestosis dan lain lain.

6. Status nutrisi
Gizi jelek mempermuda seseorang menderita penyakit infeksi seperti TBC dan kelainan gizi seperti obesitas, kolestrol tinggi dan lainnya.

7. Status kekebalan
Reaksi tubuh pada penyakit tergantung pada status kekebalan yang dimiliki sebelumnya seperti kekebalan terhadap penyakit virus yang tahan lama dan seumur hidup.

8. Adat istiadat
Ada beberapa adat istiadat yang dapat menimbulkan penyakit seperti kebiasaan makan ikan mentah dapat menyebabkan penyakit cacing hati.

9. Gaya hidup
Kebiasaan minum alkohol, narkoba, merokok dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan.

10. Psikis
Faktor kejiwaan seperti stres, emosional dapat menyebabkan penyakit hypertensi, ulkus peptikum, depresi, insomnia.

2.4 Konsep Enviroment
Lingkungan hidup manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian yaitu lingkungan internal berupa keadaan yang dinamis dan seimbang yang disebut hemostatis. Dan lingkungan hidup eksternal di luar tubuh manusia. Lingkungan hidup eksternal terdiri dari tiga komponen yaitu :

1. Lingkungan fisik
Bersifat abiotik atau benda mati seperti air, tanah, udara, cuaca, makanan, rumah, panas dan lain lain. Lingkungan fisik ini berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang waktu dan masa . serta memegang peran penting dalam proses terjadinya penyakit pada masyarakat, seperti kekurangan persediaan air bersih terutama pada musim kemarau dapat menimbulkan penyakit diare dimana-mana.

2. Lingkungan biologis
Bersifat biotik atau benda hidup seperti tumbuh tumbuhan, hewan, virus, bakteri, jamur, parasit, serangga dan lain lain yang dapat berfungsi sebagai agen penyakit.reservoir infeksi, vektor penyakit atau penjamu.
Hubungan manusia dengan lingkungan biologisnya bersifat dinamis dan bila terjadi ketidakseimbangan antara hubungan manusia dengan lingkungan dengan lingkungan biologisnya maka manusia akan menjadi sakit.

3. Lingkungan sosial
Berupa kultur, adat istiadat, kebiasaan, kultur, agama, sikap, gaya hidup, pekerjaan,  kehidupan masyarakat. Bila manusia tidak dapat menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial, maka akan terjadi konflik yang bersifat kejiwaan dan menimbulkan penyakit psikosomatik, stres, depresi dan lainnya.


2.5 Interaksi agen penyakit, host dan environment
Dalam usaha pencegahan dan kontrol yang efektif terhadap penyakit perlu di pelajari mekanisme yang terjadi antara agen, host dan environment yaitu:

1. Interaksi antara agen penyakit dan lingkungan
Suatu keadaan terpengaruhnya agen penyakit secara langsung oleh lingkungan yang menguntungkan agen penyakit. Terjadi pada saat prapatogenesis suatu penyakit, misalnya viabilitas bakteri terhadap sinar matahari, stabilitas vitamin yang terkandung dalam sayuran di dalam ruang pendingin dan penguapan bahan kimia beracun oleh proses pemanasan bumi global.

2. Interaksi antara manusia dan lingkungan
Suatu keadaan terpengaruhnya manusia secara langsung oleh lingkungan dan terjadi pada saat prapatogenesis suatu penyakit, misalnya udara dingin, hujan dan kebiasaan membuat dan menyediakan makanan.

3. Interaksi antara host dengan agen penyakit
Suatu keadaan agen penyakit yang menetap, berkembangbiak dan dapat merangsang manusia untuk menimbulkan respon berupa tanda-tanda dan gejala penyakit berupa demam, perubahan fisiologi jaringan tubuh dan pembentukan kekebalan atau mekanisme pertahanan tubuh lainnya. Interaksi yang terjadi dapat berupa sembuh sempurna, kecacatan atau kematian.

DAFTAR PUSTAKA
1)    Almasri (2011). Mycoplasma Pneumoniae Respiratory Tract Infections Among Greek Children. Hippokratia: 147–152.
2)    Arikunto, Suharsimin  (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
3)    Aziz, Hidayat (2010). Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif. Surabaya: Health Books Publishing.
4)    Calvo C. (2007).  Role of rhinovirus in hospitalized infants with respiratory tract infections in Spain. Pediatric Infection Dis J; 26: 904-8.
5)    Cartamil S. (2008). Estudio de dos nuevos virus respiratorios en poblacion pediatrica con infeccion respiratoria aguda: el metapneumovirus (hMPV)y el bocavirus (hBoV). Revista Argentina Microbiologia; 40 Supl: 78.
6)    Chandra Budiman, (2007). Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7)    Chandra Budiman, (2009). Ilmu Kedokteran Pencegahan dan Komunitas. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
8)    Corwin, Elizabeth (2008). Buku Saku Patofisiologi, ed. 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
9)    Debora N. (2012). Rhinovirus detection by real-time RT-PCR in children with acute respiratory infection in Buenos Aires, Argentina. Revista Argentina de Microbiologia; 44: 259-265
10) Depkes RI. (2000). Informasi tentang ISPA pada Balita. Jakarta: Pusat Kesehatan Masyarakat Depkes RI.
11) Depkes RI. (2004). Pedoman Program Pemberantasan Peneumonia Pada Balita. Jakarta: Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Pemukiman.
12) Depkes RI. (2012). Buletin Jendela Epidemiologi Pneumonia Balita. Jakarta : Depkes RI.
13) Dinkes Kab. Jombang. (2010). Kondisi Geografis Kecamatan Mancar Tahun 2010. Jombang: Bidang Yankesmas Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang.
14) Djaja S, dan Afifah T. (2001). Determinan Prilaku Pencarian Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita. Buletin Penelitian Kesehatan. 29:1-10.
15) Erlien (2008). Penyakit Saluran Pernapasan. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka.
16) Kartasasmita CB. (2010). Morbiditas dan Faktor Risiko ISPA pada Balita di Indonesia. Majalah Kedokteran Jakarta. 25:135-142.
17) Keman S. (2004). Pengaruh Lingkungan Terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 1: 30-43.
18) Narbuko, Cholid (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Bumi Aksara
19) Nastiti Rahajoe, dkk. (2008). Buku Ajar Respirologi. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia.
20) Nindya TS dan Sulistyorini L. (2005). Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada Anak Balita. Jurnal Kesehatan Lingkungan. 2:43-52.
21) Notoadmodjo, Soekidjo (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
22) Notoadmodjo, Soekidjo (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
23) Nursalam (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
24) Nursalam (2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrument Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
25) Nursalam dan Siti pariani (2008). Pendekatan Riset Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
26) Ranuh IGN. (1997). Masalah ISPA dan Kelangsungan Hidup Anak. Surabaya: Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak.
27) Saryono (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
28) Savolainen C. (2003). Human rhinoviruses.  Pediatric Respiratory. Rev 2003; 4: 91-8.
29) Setiadi (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
30) Sugiono (2000). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabet.
31) Sugiyono (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung:  Alfabeta.
32) Suryo, Joko (2010). Herbal Penyembuh Gangguan Sistem Pernafasan. Yogyakarta:  PT Bentang Pustaka.
33) Sylvia, Price A. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis proses – proses Penyakit; Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
34) Tambayong Jan (1999). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC.
35) Wasis (2008). Pedoman Riset Praktis untuk Profesi Perawat. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
36) Yusuf NA dan Sulistyorini L. (2008). Hubungan sanitasi rumah secara fisik dengan kejadian ISPA pada anak Balita.  Jurnal Kesehatan Lingkungan.1:110-119.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar