PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 04 Mei 2013

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN.

Dr. Suparyanto, M.Kes


IMPLEMENTASI KEPERAWATAN.

1. Pengertian Implementasi keperawatan
Implementasi keperawatan adalah kategori dari perilaku keperawatan,  dimana perawat melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan (Potter & Perry 1997, dalam Haryanto, 2007).
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 2011).

Implementasi keperawatan adalah kegiatan mengkoordinasikan aktivitas pasien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lain untuk mengawasi dan mencatat respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan (Nettina, 2002).
Jadi, implemetasi keperawatan adalah kategori serangkaian perilaku perawat yang berkoordinasi dengan pasien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lain untuk membantu masalah kesehatan pasien yang sesuai dengan perencanaan dan kriteria hasil yang telah ditentukan dengan cara mengawasi dan mencatat respon pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilakukan.

2. Tipe implementasi keperawatan
Secara garis besar terdapat tiga kategori dari implementasi keperawatan (Craven dan Hirnle, 2000) antara lain:

a. Cognitive implementations.
Meliputi pengajaran atau pendidikan, menghubungkan tingkat pengetahuan klien dengan kegiatan hidup sehari-hari, membuat strategi untuk klien dengan disfungsi komunikasi, memberikan umpan balik, mengawasi tim keperawatan, mengawasi penampilan klien dan keluarga, serta menciptakan lingkungan sesuai kebutuhan, dan lain lain.

b. Interpersonal implementations.
Meliputi koordinasi kegiatan-kegiatan, meningkatkan pelayanan, menciptakan komunikasi terapeutik, menetapkan jadwal personal, pengungkapan perasaan, memberikan dukungan spiritual, bertindak sebagai advokasi klien, role model, dan lain lain.

c. Technical implementations.
Meliputi pemberian perawatan kebersihan kulit, melakukan aktivitas rutin keperawatan, menemukan perubahan dari data dasar klien, mengorganisir respon klien yang abnormal, melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan rujukan, dan lain-lain.

3. Jenis implementasi keperawatan
Sedangkan dalam melakukan implementasi keperawatan, perawat dapat melakukannya sesuai dengan rencana keperawatan dan jenis implementasi keperawatan. Dalam pelaksanaannya terdapat tiga jenis implementasi keperawatan, antara lain:

a. Independent implementations.
Adalah implementasi yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu klien dalam mengatasi masalahnya sesuai dengan kebutuhan, misalnya: membantu dalam memenuhi activity daily living (ADL), memberikan perawatan diri, mengatur posisi tidur, menciptakan lingkungan yang terapeutik, memberikan dorongan motivasi, pemenuhan kebutuhan psiko-sosio-spiritual, perawatan alat invasive yang dipergunakan klien, melakukan dokumentasi, dan lain-lain.

b. Interdependen/ Collaborative implementations.
Adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama sesama tim keperawatan atau dengan tim kesehatan lainnya, seperti dokter. Contohnya dalam hal pemberian obat oral, obat injeksi, infus, kateter urin, naso gastric tube (NGT), dan lain-lain. Keterkaitan dalam tindakan kerjasama ini misalnya dalam pemberian obat injeksi, jenis obat, dosis, dan efek samping merupakan tanggungjawab dokter tetapi benar obat, ketepatan jadwal pemberian, ketepatan cara pemberian, ketepatan dosis pemberian, dan ketepatan klien, serta respon klien setelah pemberian merupakan tanggung jawab dan menjadi perhatian perawat.

c. Dependent implementations.
Adalah tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain, seperti ahli gizi, physiotherapies, psikolog dan sebagainya, misalnya dalam hal: pemberian nutrisi pada klien sesuai dengan diit yang telah dibuat oleh ahli gizi, latihan fisik (mobilisasi fisik) sesuai dengan anjuran dari bagian fisioterapi.

4. Prinsip implementasi keperawatan
Ada tiga prinsip pedoman implementasi keperawatan (Haryanto,2007), yaitu :

a. Mempertahankan keamanan klien
Keamanan merupakan focus utama dalam melakukan tindakan. Oleh karena, tindakan yang membahayakan tidak hanya dianggap sebagai pelanggaran etika standar keperawatan professional, tetapi juga merupakan suatu tindakan pelanggaran hukum yang dapat ditutut.

b. Memeberikan asuhan yang efektif
Asuhan yang efektif adalah memberiakan asuhan sesuai dengan yang harus dilakukan semakin baik pengetahuan dan pengalaman seorang perawat, maka semakin efektif asuhan yang diberikan.

c. Memberikan asuhan seefisien mungkin
Asuhan yang efisien berarti  perawat dalam memberikan asuhan dapat mengunakan waktu sebaik mungkin sehingga dapat menyelesaikan masalah kilen.
5. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dan diperhatikan dalam implementasi keperawatan
Dalam Implementasi tindakan keperawatan memerlukan beberapa pertimbangan, antara lain:
1)    Individualitas klien, dengan mengkomunikasikan makna dasar dari suatu implementasi keperawatan yang akan dilakukan.
2)    Melibatkan klien dengan mempertimbangkan energi yang dimiliki, penyakitnya, hakikat stressor, keadaan psiko-sosio-kultural, pengertian terhadap penyakit dan intervensi.
3)    Pencegahan terhadap komplikasi yang mungkin terjadi.
4)    Mempertahankan kondisi tubuh agar penyakit tidak menjadi lebih parah serta upaya peningkatan kesehatan.
5)    Upayakan rasa aman dan bantuan kepada klien dalam memenuhi kebutuhannnya.
6)    Penampilan perawat yang bijaksana dari segala kegiatan yang dilakukan kepada klien.

Secara operasional hal-hal yang perlu diperhatikan perawat dalam pelaksanaan implementasi keperawatan adalah:
a. Pada tahap persiapan.
1)    Menggali perasaan, analisis kekuatan dan keterbatasan professional pada diri sendiri.
2)    Memahami rencana keperawatan secara baik.
3)    Menguasai keterampilan teknis keperawatan.
4)    Memahami rasional ilmiah dari tindakan yang akan dilakukan.
5)    Mengetahui sumber daya yang diperlukan.
6)    Memahami kode etik dan aspek hukum yang berlaku dalam pelayanan keperawatan.
7)    Memahami standar praktik klinik keperawatan untuk mengukur keberhasilan.
8)    Memahami efek samping dan komplikasi yang mungkin muncul.
9)    Penampilan perawat harus menyakinkan.

b. Pada tahap kerja.
1)    Mengkomunikasikan atau menginformasikan kepada klien tentang keputusan tindakan keperawatan yang akan dilakukan oleh perawat.
2)    Beri kesempatan kepada klien untuk mengekspresikan perasaannya terhadap penjelasan yang telah diberikan oleh perawat.
3)    Menerapkan pengetahuan intelektual, kemampuan hubungan antar manusia dan kemampuan teknis keperawatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang diberikan oleh perawat.
4)    Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pelaksanaan tindakan adalah energi klien, pencegahan kecelakaan dan komplikasi, rasa aman, privasi, kondisi klien, respon klien terhadap tindakan yang telah diberikan.

c. Pada tahap terminasi.
1)    Terus memperhatikan respons klien terhadap tindakan keperawatan yang telah diberikan.
2)    Tinjau kemajuan klien dari tindakan keperawatan yang telah diberikan.
3)    Lakukan pendokumentasian.

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi proses keperawatan kesehatan jiwa
a. Tingkat pendidikan
Pendidikan adalah menarik atau menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif dan nyata. Tingkat aktif dan nyata yang timbul dari dan bergantung dari kesadaran-kesadaran yang mendukungnya pada tiap-tiap individu (Imam Barnadit, 1985).

b. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni : penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran (Notoatmojo, 2007).

c. Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa latin movere yang berarti mendorong dari dalam diri manusia atau berperilaku (Notoatmodjo, 2007).

d. Formulir Pengkajian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa
Adalah alat untuk mendapatkan data lengkap klien di RS Jiwa yang meliputi ; identitas klien, alasan masuk RS, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik, daftar masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan (Keliat, 2006). Formulir pengkajian proses keperawatan kesehatan jiwa tersebut diisi oleh perawat selama klien dirawat sampai persiapan pulang dari RS.

e. Petunjuk teknis (Juknis) Pengisian Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Adalah pedoman yang dapat menuntun perawat dalam mengisi formulir pengkajian proses keperawatan kesehatan jiwa yang meliputi cara pengisian identitas klien, alasan masuk RS, faktor predisposisi, fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme koping, masalah psikososial dan lingkungan, pengetahuan, aspek medik, daftar masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan (Keliat, 2006).

f. Prosedur Tetap (Protap) Kerja
Adalah standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa sehingga pelayanan keperawatan kesehatan jiwa dapat dipertanggung jawabkan atau gugatkan secara profesional. Standar tersebut merupakan komponen utama dalam mengendalikan mutu keperawatan karena dapat dijadikan tolak ukur dalam mengevaluasi asuhan keperawatan yang telah diberikan (Depkes RI, 1995).

7. Cara mengukur implemantasi pada fase kerja
Untuk mengukur implementasi pedomannya adalah pada standar asuhan keperawatan yang berlaku, oleh karena itu pengetahuan mengenai standar keperawatan harus mutlak harus dimiliki. Untuk mengukur setiap parameter yang harus diukur dapat mengunakan wawancara, kuesioner, observasi, dan sebagainya

DAFTAR PUSTAKA

1.    Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta : Jakarta.
2.    Asmadi, 2008.  Konsep Dasar Keperawatan. EGC : Jakarta.
3.    Carpeniti, L,J, 2009. Buku Saku Diagnosa Keperawata. EGC : Jakarta.
4.    Gail W, Stuart, 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa,  Edisi 5. EGC : Jakarta.
5.    Gazalba, Sidi. 2007. Pengantar Sejarah sebagai Ilmu. Bhatara  : Jakarta.
6.    Haryanto, 2007. Konsep Dasar Keperawatan dengan Pemetaaan Konsep              (Concept Mapping). Salemba Medika : Jakarta.
7.    Herdman, T. Helther, 2009. NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. EGC : Jakarta.
8.    Hidayat, A.Alimul Aziz, 2006.  Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
9.    Irawati, Dewi, 2011. Kualitas perawat di Indonesia buruk.                                                                         http://www.wartakotalive.com/mobile/detil/70944. Diakses 12 April 2012.   
10. Keliat, Budi Anna, 2011. Manajemen Keperawatan Psikososial & Kader Kesehatan Jiwa CMHN ( Intermediate Course ). EGC : Jakarta.
11. Keliat, Budi Anna, 2011.  Manajemen Kasus Gangguan Jiwa CMHN                      ( Intermediate Course). EGC : Jakarta.
12. Keliat, Budi Anna, 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, edisi 2. EGC : Jakarta.
13. Nettina, Sandra M, 2002. Pedoman Praktik Keperawatan. EGC : Jakarta.
14. Notoatmodjo, Soekidjo, 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Rineka Cipta : Jakarta.
15. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.
16. Nursalam, 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
17. Potter, Perry, 2011. Fundamental Keperawatan,  Edisi . EGC : Jakarta.
18. Riyadi, Sujono dan Riyadi, Teguh, 2009.  Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu : Jakarta.
19. Riyanto, Agus, 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Offset : Yogjakarta.
20. Santosa, Singgih, 2012. Aplikasi SPSS pada Statistik Non Parametrik. PT Elex Media Komputindo : Jakarta.
21. Soesanto, Wibisono, 2009. Biostatistik Penelitian Kesehatan (spss 16 for windows). Perc. Duatujuh : Surabaya.
22. Surajiyo, 2006. Dasar Dasar Logika. Bumi Aksara : Jakarta.
23. Videbeck, Sheila L, 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. EGC : Jakarta.
24. Wiracahyo, 2011, Rata-rata 1000 orang di JATIM sakit jiwa. http://www.informasijatim.com/2011/10/rata-rata-1000-orang-di-jatim-sakit.html. Diakses 12 April 2012.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar