PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 02 Mei 2013

SEKILAS TENTANG FLU BABI

Dr. Suparyanto, M.Kes


SEKILAS TENTANG FLU BABI

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Akhir-akhir ini marak sekali pemberitaan mengenai flu babi. World Health Organization mengumumkan jumlah kasus H1N1 di seluruh dunia sekarang telah bertambah menjadi 787 kasus dan tambahan 2 kasus yang disertai dengan kematian. WHO juga mengatakan bahwa virus yang populer dengan nama flu babi tersebut telah menyebar di 17 negara. Influenza babi atau flu babi awalnya merupakan penyakit respirasi akut sangatmenular pada babi yang disebabkan oleh salah satu virus influenza babi, termasuk diantaranya virus influenza tipe A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2.Angka kesakitan akibat infeksi virus yang menyebar di antara babi melalui udara baik dengan kontak langsung maupun tidak langsung dengan babi pembawa virus itu cenderung tinggi pada populasi babi namun tingkat kematian akibat penyakit ini rendah, antara satu persen hingga empat persen.

Kejadian flu babi pada populasi binatang tersebut umumnya sepanjang tahun dengan peningkatan kejadian pada musim gugur dan dingin..Kondisi yang demikian memungkinkan virus-virus tersebut saling bercampur danmemunculkan strain virus baru dari beberapa sumber (reassortant virus). Hal inilah yangantara lain membuat virus flu babi yang normalnya spesifik dan hanya menginfeksi babikadang bisa menembus batas spesies dan menyebabkan kesakitan pada manusia. Kejadianluar biasa penyakit infeksi influenza babi pada manusia beberapa kali pernah dilaporkanterjadi. Manusia biasanya tertular flu babi dari babi dan, meski sangat sedikit, dari orang yangterinfeksi karena berhubungan dengan babi atau lingkungan peternakan babi. Kasus penularan flu babi dari manusia ke manusia sendiri terjadi dalam beberapa kasus namunmasih terbatas pada kontak dekat dan sekelompok orang saja.Virus H5N1 merupakan jenis virus flu burung yang sangat ganas, yang menjadi penyebab utama penyakit pada unggas. Virus ini pernah ditemukan juga pada babi dankucing, tetapi tidak menimbulkan gejala sakit pada hewan tersebut.

Sampai dengan saat ini, belum ditemukan bukti ilmiah bahwa kedua jenis hewan tersebut bertindak sebagai sumber  penularan virus H5N1.Pada kasus yang langka, penyakit ini juga dapat menyebar pada manusia. Kasus infeksi virus H5N1 pada manusia yang pertama kali tercatat, terjadi di Hong Kong padatahun 1997, ketika virus H5N1 yang menyebabkan penyakit pernafasan sangat berat tersebut menyerang 18 orang, 6 di antaranya meninggal. Virus ini kemudian dapat dikendalikan dan kasus infeksi pada manusia lenyap tanpa dapat terdeteksi selama beberapa tahun, sampai timbul kembali di Asia pada tahun 2003. Sejak saat itu, virus tersebut kembali terdeteksi di banyak negara serta menyebabkan penyakit bahkan tingginya tingkat kematian pada jutaanunggas. Lebih dari 140 orang meninggal karena penyakit ini. Kasus pertama pada unggas diIndonesia diidentifikasikan di dua kabupaten yaitu Pekalongan dan Tangerang pada bulan Agustus 2003, sementara kasus pertama pada manusia terjadi di Kabupaten Tangerang pada bulan Juli 2005.

Saat ini virus H5N1 tidak mudah menyebar dari unggas ke manusia, atau dari manusiake manusia. Akan tetapi, kejadian yang terus berulang oleh virus H5N1 pada unggas danmanusia meningkatkan kemungkinan terjadinya virus baru yang dapat menular dari manusia ke manusia, yang berpotensi memicu pandemi di seluruh dunia. Pemerintah Indonesia, WorldHealth Organizaton (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO), dan badaninternasional lainnya serta mitra lokal bekerja sama untuk mengendalikan virus H5N1 dan mencegah pandemi pada manusia.

1.2 Tujuan Makalah
1)    Mahasiswa mengetahui pengertian dan gejala flu babi.
2)    Mahasiswa mengetahui cara pencegahan penularan flu babi.
3)    Mahasiswa mengetahui faktor agent pada flu babi
4)    Mahasiswa mengetahui faktor host pada flu babi
5)    Mahasiswa mengetahui faktor envirotment pada flu babi
6)    Mahasiswa mengetahui port of entry and exit pada flu babi
7)    Mahasiswa mengetahui trasmisi pada flu babi
8)    Mahasiswa mengetahui pengobatan pada flu babi


BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian flu babi
Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi. Disebabkan oleh influenza tipe A, wabah penyakit ini pada babi rutin terjadi dengan tingkat kasus tingginamun jarang menjadi fatal. Penyakit ini cenderung mewabah di musim semi dan musimdingin tetapi siklusnya adalah sepanjang tahun.

Flu babi(Swine influenza) adalah kasus-kasus influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi.Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai Influenza virus Catau subtipe genus Influenza virus A. Babi dapat menampung virus flu yang berasal dari manusia maupun burung, memungkinkan virus tersebut bertukar gen dan menciptakan galur pandemik. Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia.

2.2 Faktor Agent
Faktor utama penyebab penyakit flu babi (agent) adalah virusOrthomyxoviridae atau virus influenza tipe A (H1N1). Penyakit initermasuk penyakit zoonosis, karena selain dapat menginfeksi babi penyakit ini juga dapat menginfeksi manusia. Virus ini eratkaitannya dengan penyebab swine influenza ,equine influenzadanavian influenza (fowl plaque). Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dankeganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya geneticreassortment antara bangsa burung dan manusia adalah tempat dimana penyakit tersebut dapat hidup dan berkembang biak. Untuk flu babi sebagian besar reservoir-nyaadalah manusia dan babi. Karena flu babi dapat berkembang dimanusia maupun babi.

2.3 Faktor Host
Faktor host pada penyakit flu babi adalah manusia dalam hal ini contohnya peternak babi serta orang-orang yang tinggal disekitar  peternakan dan sering kontak langsung dengan babi, penularan virus flu babi bisa melalui manusia dengan manusia atau melalui hewan kemanusia. Faktor antibodi juga berpengaruh dalam masuknya virus ketubuh karena kondisi tubuh yang kurang sehat rentan terserang virus flu babi. Virus H1N1 dapat merusak sistem pernafasan pada manusia. Penularan virus ini dari manusia ke manusia terjadi karena terkenalangsung percikan bersin atau batuk dari penderita virus ini atau secara tidak langsung terinfeksi melalui alat-alat yang tercemar.

2.4 Faktor Environtment
Pada kondisi cuaca yang terlalu dingin maupun yang terlalu panas biasanyakondisi tubuh menjadi lemah sehingga mudah terserang penyakit, selain itu virusH1N1 ini akan cepat mati pada musim panas dan mungkin tidak akan sulit untuk menyebar. Virus H1N1 biasanya dapat hidup pada musim dingin dan gugur. Sesuai dengan sifat virus yang tidak tahan panas, maka pada saat musim dingin penyebarannya jauh lebih cepat dibandingkan saat musim panas. Sedangkan suhu lingkungan berpengaruh tidak langsung terhadap penyebaran virus H1N1 yaitumobilitas seseorang. Selain itu orang yang berternak babi memiliki risiko terkena penyakit flu babi. Flu babi ini juga biasanya terjadi di daerah empat musim.

Yang sangat mempengaruhi penularan flu babi adalah perilaku tidak sehat masyarakat contohnya perilaku peternak yang rentan terkena infeksi seperti tetap bekerja meskipun kondisi tubuh kurang sehat, bersin secara sembarangan di tempat umum, tidak mencuci tangan setelah memengang benda-benda ditempat umum, hal tersebut dikarenakan virus flu babi sangat mudah menyebar melalui droplet yang berasal dari tangan seorang yang terkena bersin kemudian memegang benda-benda ditempat umum

2.5 Port of entry and exit
Perjalanan alamiah penyakit Flu babi
Perjalanan alamiah penyakit flu babi terjadi dengan beberapa fase yaitu fase suspectibel, fase presimtomatis, dan fase klinis.

Fase Suspectibel
Pada fase ini penyakit belum terjadi, tetapi sudah muncul beberapafactor risiko yang memudahkan timbulnya penyakit. Para orang-orangseperti peternak, pedagang yang melakukan kontak langsung dengan babiyang berisiko terjangkitnya penyakit flu babi, tetapi tidak semua babidapat menularkan virus tersebut. Virus ini mudah sekali menyerangmanusia apalagi jika kondisi badan seseorang sedang tidak baik, apalagididukung dengan kondisi cuaca yang kurang baik.

Fase Presimtomatis
Pada fase ini penyakit sudah terjadi tetapi secara klinis belum tampak, namun sudah terjadi perubahan patologis. Pada fase ini merupakan masa inkubasi atau dimana agent mulai melakukan perkembangan dalam tubuh (host ), namun belum menunjukan gejalaanatomis dan fungsi kerja tubuh. Misalnya penderita telah menderita virusH1N1 tetapi belum disadari oleh penderita atau belum mununjukan gejalasalah satu cara mengetahuinya adalah dengan memeriksa ada tidaknya antibodi karena ubuh akan selalu membentuk antibodi apabial ada benda asing yang masuk ke dalam tubuh.

Fase Klinis
Pada fase ini sudah ada perubahan-perubahan anatomis dan fungsidari, sehingga sudah memberikan gejala yang sudah mulai timbul. Gejalainfluensa ini mirip dengan influensa. Gejalanya seperti demam, batuk,sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, danlemah lesu. Beberapa penderita juga melaporkan buang air besar danmuntah-muntah. Dalam mendiagnosa penyakit ini tidak hanya perlu melihat pada tanda atau gejala khusus, tetapi juga catatan terbaru mengenai pasien. Selain itu diagnose bagi penetapan virus ini memerlukan adanya uji makmal bagi contoh pernapasan agar hasil diagnosa menjadilebih akurat.

Fase Ketidak Mampuan
Pada fase ketidak mampuan orang menderita flu babi akan diisolasiagar virus tidak mengalami penyabaran keluar, selain itu para petugas kesehatan juaga menggunakan alat pelindung agar virus yang ada diruangan pasien tersebut tidak keluar. Pada fase ini penderita hanya memiliki dua kemungkinan yaitu sembuh total atau meninggal ini dikarenakan masa inkubasi virus flu babi yang sangat cepat.

2.6 Transmisi
Tindakan promotif dan preventif yang dapat dilakukan yaitu memberikan penyuluhan.
1)    Mengenalkan pada masyarakat karakteristik hewan khususnya unggas yang sakit dantindakan yang perlu dilakukan terhadap hewan yang sakit dan mati.
2)    Sering mencuci tangan dengan sabun atau disinfektan (termasuk pula deterjen danalkohol 70%) bila kontak dengan hewan yang sakit
3)    Bagi para peternak, petugas kesehatan, dan peneliti harus menggunakan AlatPelindung Diri (APD) seperti sarung tangan (double hand scoon), masker, kaca mata pelindung seperti kaca mata renang (goggles), sepatu.
4)    Bagi masyarakat yang memiliki unggas, penting untuk mengandangkan unggas untuk mencegah penularan pada hewan lain dan memudahkan jika dilakukan disinfeksimaupun vaksinasi
5)    Lebih baik membeli ayam yang sudah dipotong dan telah dihasilkan oleh rumah potong ayam yang telahdiawasi pemerintah.
6)    Bagi para pengusaha dan pekerja peternakan penting untuk menerapkan biosecurityyang ketat sehingga segala produk unggas dan hewan ternak aman dikonsumsi
7)    Memasak daging maupun produknya (telur, hati) pada suhu dan waktu yang cukup.Untuk suhu >80°C selama 1 menit, suhu 64°C selama 5 menit. Karena virus AI lebihmampu bertahan lama pada temperatur rendah (17°C) dan pada suhu minus 50°C akanlebih lama lagi.
8)    Masyarakat diberikan informasi untuk mengenali gejala-gejala awal


BAB III PEMBAHASAN

3.1 Pencegahan
Tahap-tahap pencegahan pada penyakit Flu babi

Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan segala usaha yang dilakukan supaya masyarakat tidak akan terjangkit dari penyakit flu babi. Pencegahan primer dilakukan pada fase suseptibel.
Pada penyakit ini pencegahan primer bisa dilakukan dengan;
1)    Melakukan penyuluhan mengenai bahaya penyakit flu babi, pencegahannya, serta penanganan penderita kepada peternak babi melalui promosi kesehatan masyarakat selain itu orang yang sering kotak dengan ternak maupun tinggal disekitar daerah peternakan babi juga perlumendapatkan penyuluhan.
2)    Mengajak masyarakat untuk melakukna PHBS (Perilaku Hidup BersihDan Sehat), contohnya dengan mencuci tangan setelah memegang benda- benda ditempat umum.
3)    Melakukan penyuluhan mengenai pemakaian masker yang benar kepada pekerja peternakan.
4)    Menyediakan tempat untuk mencuci tangan di tempat-tempat umum.
5)    Mengajak masyarakat umum untuk memakai masker apabila mengalamigangguan pernafasan atau demam dan segera menghubungi dokter.
6)    Penyemprotan disinfektan pada setiap babi dan kandang babi agar risiko penyebaran virus menjadi berkurang.

Pencegahan Sekunder
Pada pencegahan sekunder dilakukan diagnosa dini dan pengobatantepat. Pengobatan atau tindakan yang tepat bisa mencegah terjadinyakomplikasi atau memperlambat perjalanannya. Pencegahan sekunder dilakukan pada fase presimtomatis yakni dengan jalan mengidentifikasi sedini mungkin terjadinya penyakit dengan jalan melakukan deteksiterhadap perubahan patologis pada tubuh yang pada fase tersebut sudah terjadi. Misalnya; jika seseorang sudah menderita penyakit flu sebaiknya menggunakan masker jika melakukan bepergian. Melakukan pemeriksan ditempat-tempat umum seperti bandara, pertokoan dan tempat-tempat umum lainnya.

Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ialah semua usaha untuk membatasiketidakmampuan dan rehabilitasi. Pada keadaan ini, penyakit sudah terjadidan bahkan meninggalkan cacat. Pada penyakit flu babi pencegahansekunder dilakukan denga memberikan pengobatan secara tepat, mengisolasi pederita penyakit flu babi, dan melakukan rehabilitasi kepada para penderita penyakit flu babi. Selain itu pemerintah wajib menghimbau masyarakat agar mau menerima kembali penderita flu babi yang sudah sembuh agar tidak adatindakan pengucilan.

3.2 Pengobatan/penatalaksanaan
Petunjuk penggunaan obat antiviral untuk pengobatan dan pencegahan (kemoprofilaksis) terhadap infeksi flu babi.
Pasien yang mendapatkan obat antiviral (antivirus) antara lain :
1)    pasien didiagnosis pasti terinfeksi flu babi
2)    pasien kemungkinan terinfeksi flu babi
3)    pasien diduga (suspek) terinfeksi flu babi
4)    orang yang kontak langsung dengan pasien

Obat anriviral untuk flu babi
Ada 4 macam obat yang dapat digunakan untuk mengobati virus infuensa tipe A (termasuk didalamnya virus flu babi dan flu burung) yaitu amatandine dan rimantadine keduanya termasuk golongan adamantane serta zanamivir dan oseltamivir keduanya termasuk golongan neuramidase. Virus flu babi telah resisten tehadap amantadine dan rimantadine dan masih sensitif tehadap zanamivir dan oseltamivir sehingga kedua obat yang disebut terakhir direkomendasikan.

Zanamivir dikenal dengan merek dagang Relenza ®, dipakai untuk pengobatan influensa tipe A dan B pada penderita usia 7 tahun ke atas dan sebagai profilaksis influensa tipe A dan B pada penderita usia 5 tahun ke atas.
Oseltamivir dikenal dengan merek dagang Tamiflu ®, dipakai untuk pencegahan dan pengobatan influensa tipe A dan B pada penderita usia 1 tahun ke atas.

Proses pengobatan
Langkah pertama adalah mendiagnosis pasien terlebih dahulu dengan mengambil spesimen lendir dari saluran nafas dan memeriksannya dengan alat RT-PCR atau kultur virus. Alat pendeteksi cepat seperti rapid antigen test dan immunofluresence test tidak dapat dipakai sebagai alat untuk mendiagnosis pasti karena hanya dapat mendeteksi adanya influensa tipe A dan tidak dapat membedakan antara influensa tipe A manusia dengan influensa tipe A babi.

Setelah diketahui status penderita, maka obat antiviral (oseltamivir atau zanamivir) harus diberikan secepatnya setelah adanya gejala yang khas dari flu babi. Pemberian obat antiviral dibawah 48 jam dapat menurunkan angka kematian dan perawatan di rumah sakit bila dibandingkan pemberian diatas 48 jam. Lamanya pengobatan yang diberikan adalah selama 5 hari. Pemberian obat antiviral tersebut harus melalui resep dokter yang berpengalaman untuk mencegah resistensi obat. Berikut ini tabel  pemberian obat antiviral :

Tabel 1. Penggunaan Obat Antiviral untuk Pengobatan dan Pencegahan Flu Babi

Obat/Kelompok Umur
Pengobatan
Pencegahan
Oseltamivir


Dewasa
2 kali 75 mg kapsul selama 5 hari
1 kali 75 mg kapsul
Anak-anak (umur 12 bulan ke atas) berdasarkan berat badan


≤ 15 Kg
60 mg kapsul sehari dibagi dua dosis selama 5 hari
1 kali 30 mg kapsul sehari
15 – 33 Kg
90 mg kapsul sehari dibagi dua dosis selama 5 hari
1 kali 45 mg kapsul sehari
24 – 40 Kg
120 mg kapsul sehari dibagi dua dosis selama 5 hari
1 kali 60 mg kapsul sehari
> 40 Kg
150 mg kapsul sehari dibagi dua dosis selama 5 hari
1 kali 75 mg kapsul sehari
Zanamivir


Dewasa
2 kali 5 mg (10 mg) per inhalasi, 2 kali sehari
2 kali 5 mg (10 mg) per inhalasi, 1 kali sehari
Anak-anak (umur 7 tahun ke atas)
2 kali 5 mg (10 mg) per inhalasi, 2 kali sehari (umur 7 tahun ke atas)
2 kali 5 mg (10 mg) per inhalasi, 1 kali sehari (umur 5 tahun ke atas)


Penggunaan obat antiviral  bisa saja berubah tergantung dari efektivitas obat antiviral, gejala klinis, efek samping obat  dan suseptibilitas obat tersebut.

Kemoprofilaksis (pencegahan) dengan obat antiviral
Kemoprofilaksis diberikan pada orang-orang yang dianggap kontak langsung dengan penderita selama periode infeksi (1 sampai 7 hari setelah kontak). Jika kontak telah lebih dari 7 hari, maka kemoprofilaksis tidak dibutuhkan. Lamanya kemoprofilaksis yang diberikan adalah 10 hari mulai dari terpapar sampai penderita tersebut didiagnosis flu babi.

Pengobatan dan pencegahan untuk anak usia dibawah 12 bulan
Anak-anak dibawah 12 bulan termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terkena flu babi. Data keamanan pemakaian obat antiviral pada anak-anak dibawah umur 12 bulan sangat terbatas dan Oseltamivir tidak disarankan pada anak-anak dibawah 1 tahun. Tapi berdasarkan data penggunaan oseltamivir pada flu musiman menunjukkan jarang sekali terjadi efek samping yang parah. Oleh karena itu dengan alasan gawat darurat maka penggunaan oseltamivir pada anak-anak dibawah 1 tahun masih dapat dimungkinkan (menurut FDA). Berikut ini tabel penggunaan obat antiviral pada anak-anak dibawah 12 bulan :


Tabel 2. Penggunaan Obat Antiviral untuk Pengobatan dan Pencegahan pada Anak-anak dibawah 12 bulan

Umur
Pengobatan selama 5 hari dengan Oseltamivir
Pencegahan
< 3 bulan
2 kali 12 mg sehari
Tidak direkomendasikan kecuali keadaan yang kritis oleh karena terbatasnya data
3 – 5 bulan
2 kali 20 mg sehari
1 kali 20 mg sehari
6 – 11 bulan
2 kali 25 mg sehari
1 kali 25 mg sehari

Pemantauan yang ketat harus dilakukan dalam penggunaan obat antiviral tersebut mengingat data tentang keamanan dan dosis obat terbatas

Penggunaan obat antiviral pada wanita hamil
Oseltamivir dan Zanamivir termasuk obat kategori C yaitu efek pada wanita hamil dan janin yang dikandungnya tidak diketahui. Oseltamivir dan Zanamivir hanya digunakan bila diketahui ada efek yang menguntungkan pada janin yang dikandungnya. Belum ada efek samping yang dilaporkan pada wanita hamil yang mendapat menggunakan zanamivir dan oseltamivir. Oseltamivir dapat digunakan untuk pengobatan flu babi pada wanita hamil. Zanamivir digunakan untuk profilaksis pada wanita hamil oleh karena masuk ke dalam tubuh secara inhalasi sehingga absorpsi sistemik terbatas dan lebih aman

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penyakit flu babimemiliki tiga faktor penyebabnya diantaranya factor Host yaitu manusia,faktor  Agent yaitu virus H1N1, dan faktor lingkungan yaitu keadaan cuaca,iklim serta geografis di suatu daerah. Dan terjadi tiga fase dalam perjalananalamiah Flu Babi yaitu; fase suseptibel, fase presimtomatis, fase klinis. sertauntuk mencegah penyakit flu babi ini perlu dilakuna tiga tahap pencegahanyaitu:
1)    Pencegahan primer, misalnya; dengan melakukan penyuluhan mengenai bahaya penyakit flu babi kepada orang-orang yang berisiko terjangkit flu babi
2)    Pencegahan sekunder, misalnya; melakukan pemeriksaan ditempat-tempatumum seperti bandara, dan tempat-tempat umum lainya.
3)    Pencegahan tersier, misalnya; pemberian obat yang tepat pada penderitadan melakukan rehabilitas

4.2 Saran
Saat ini kasus flu babi di Indonesia tergolong rendah, untuk mencegah terjangkit penyakit flu babi ini, oleh karena itu sebaiknya kita membudayakan pola hidup PHBS (Prilaku Hidup Bersih Dan Sehat). Kemudian diwajibkan pada semua orang yang demam serta sedang mengalami gangguan pernafasan agar memakai masker agar penyebaran Flu Babi melalui droplet dapat dicegah. Selain itu perlu adanya alat penditeksi panas tubuh ditempat-tempat seperti bandara serta tempat yang kemungkinan penularan flu babi dari luar negeri sangat tinggi. Ini dimaksudkan guna mencegah datangnya wisatawan asing yang membawa virus flu babi ke Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

1.    Departemen Kesehatan R.I. 2006. Jakarta
2.    Doenges, Moorhouse & Geissler. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman & Pendokumentasian Perawatan Pasien.
3.    F.A. Davis Philadelphia, Pennsylvania. USA Abi, Nursing. 2009. Peran Perawat Komunitas dalam Praktek Asuhan Keperawatan, Diakses pada tanggal 25 maret 2013 dari http://abimuhlisin.blogspot.com/
4.    http://www.komnasfbpi.go.id/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar