PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Sabtu, 04 Mei 2013

KONSEP MENARIK DIRI

Dr. Suparyanto, M.Kes


KONSEP MENARIK DIRI

1. Pengertian menarik diri
Gangguan hubungan sosial: menarik diri merupakan suatu gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan social (Sujono & Teguh, 2009).

Sedangkan menurut referensi yang lain mengatakan bahwa isolasi sosial adalah pengalaman kesendirian secara individu dan dirasakan segan terhadap orang lain dan sebagai keadaan yang negatif atau mengancam (Nanda, 2009).

Ada juga pendapat yang mengemukakan bahwa  Isolasi sosial : menarik diri merupakan kondisi ketika individu atau kelompok mengalami, atau merasakan kebutuhan, atau keinginan untuk lebih terlibatdalam aktivitas bersama orang lain, tetapi tidak mampu mewujudkannya (Carpenito, 2009).

Jadi, isolasi sosial : menarik diri adalah gangguan berhubungan yang ditandai dengan isolasi sosial dan usaha untuk menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa dia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi rasa, pikiran, prestasi, dan  kegagalan. Kondisi tersebut menjadikannya mengalami kesulitan untuk  berhubungan dengan orang lain.

2. Rentang respon.

a. Respon adaptif
Respons adaptif adalah respon yang diterima oleh norma sosial dan kultural dimana individu tersebut menjelaskan masalah dalam batas normal.

1. Menyendiri
Respon yang dibutuhkan untuk menentukan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan merupakan suatu cara mengawasi diri dan menentukan langkah berikutnya.

2. Otonomi
Suatu kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide individu.

3. Kebersamaan
Suatu keadaan dalam hubungan interpersonal di mana individu tersebut mampu untuk memberi dan menerima.

4. Saling ketergantungan
Saling ketergantungan individu dengan orang lain dalam hubungan interpersonal.


b. Respon yang berada di tengah antara sehat – sakit
1. Kesepian
Berkurangnya keintiman akibat kejadian yang bersifat subjektif sehingga individu sulit berhubungan dengan orang lain.

2. Menarik diri
Menghindari interaksi dengan orang lain.

3. Ketergantungan
Merasa tergantung dan tidak mampu mengambil keputusan.

c. Respon maladaptif
Respons maladaptif adalah respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan kebudayaan suatu tempat. Karekteristik dari perilaku maladaptif tersebut adalah:

1. Manipulasi
Orang lain diperlakukan seperti objek, hubungan terpusat pada masalah pengendalian, berorientasi pada diri sendiri atau pada tujuan, bukan berorientasi pada orang lain.

2. Impulsif
Tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mampu belajar dari pengalaman, penilaian yang buruk, tidak dapat diandalkan.

3. Narsisisme
Harga diri yang rapuh secara terus-menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, sikap egoisentris, pencemburuan, marah jika orang lain tidak mendukung.

3. Penyebab menarik diri
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan timbulnya menarik diri, adapun faktor tersebut adalah, antara lain :

a. Faktor predisposisi
Menurut Sujono & Teguh (2009 ), faktor predisposisi pada gangguan isolasi sosial : menarik diri yaitu :
1. Faktor perkembangan
Pada setiap tahap tumbuh kembang terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus terpenuhi. Apabila tugas tersebut tidak terpenuhi maka akan mempengaruhi hubungan sosial, misalnya anak yang kurang kasih sayang, dukungan, perhatian, dan kehangatan dari orang tua akan memberikan rasa tidak aman dan menghambat rasa percaya.

2. Faktor biologis
Organ tubuh dapat mempengaruhi terjadinya gangguan hubungan sosial, misalnya kelainan struktur otak dan struktur limbik diduga menyebabkan skizofrenia. Pada klien skizofrenia terdapat gambaran struktur otak yang abnormal otak atropi, perubahan ukuran dan bentuk sel limbik dan daerah kortikal.

3. Faktor sosial budaya
Norma-norma yang salah di dalam keluarga atau lingkungan dapat menyebabkan gangguan hubungan sosial, misalkan pada pasien lansia, cacat, dan penyakit kronis yang diasingkan dari lingkungan.

4. Faktor komunikasi dalam keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor  pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial. Dalam teori ini yang termasuk masalah dalam berkomunikasi sehingga, menimbulkan ketidak jelasan (double bind) yaitu suatu keadaan dimana seorang anggota keluarga menerima pesan yang saling bertentangan dalam waktu bersamaan atau ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga yang menghambat untuk berhubungan dengan lingkungan diluar keluarga.

b. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi pada klien dengan gangguan isolasi sosial : menarik diri, menurut Sujono & Teguh ( 2009 ) yaitu :

1. Stresor sosial budaya
Adalah stres yang ditimbulkan oleh sosial dan budaya masyarakat. Kejadian atau perubahan dalam kehidupan sosial budaya memicu kesulitan berhubungan dengan orang lain dan cara berperilaku.

2. Stresor psikologi
Adalah stres yang disebabkan karena kecemasan yang berkepanjangan dan  individu tidak mempunyai kemampuan mengatasinya.

4. Manifestasi klinis menarik diri
Gangguan isolasi sosial : menarik diri memiliki batasan  karakteristik, menurut buku panduan diagnosa keperawatan NANDA (2009-2011) meliputi:

a. Data Obyektif :
1)    Tidak ada dukungan dari orang yang penting (keluarga, teman,kelompok)
2)    Perilaku permusuhan
3)    Menarik diri
4)    Tidak komunikatif
5)    Menunjukan perilaku tidak diterima oleh kelompok kultural dominan
6)    Mencari kesendirian atau merasa diakui di dalam sub kultur
7)    Senang dengan pikirannya sendiri
8)    Aktivitas berulang atau aktivitas yang kurang berarti
9)    Kontak mata tidak ada
10) Aktivitas tidak sesuai dengan umur perkembangan
11) Keterbatasan mental/fisik/perubahan keadaan sejahtera
12) Sedih, afek tumpul.
b. Data Subyektif:
1)    Mengekpresikan perasaan kesendirian
2)    Mengekpresikan perasaan penolakan
3)    Minat tidak sesuai dengan umur perkembangan
4)    Tujuan hidup tidak ada atau tidak adekuat
5)    Tidak mampu memenuhi harapan orang lain
6)    Ekspresi nilai sesuai dengan sub kultur tetapi tidak sesuai dengan kelompok kultur dominan
7)    Ekspresi peminatan tidak sesuai dengan umur perkembangan
8)    Mengekpresikan perasaan berbeda dari orang lain
9)    Tidak merasa aman di masyarakat.

5. Sumber Koping
Sumber koping individual harus dikaji dengan pemahaman terhadap pengaruh gangguan otak pada perilaku. Kekuatan dapat meliputi seperti model intelegensia atau kreatifitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak dan dewasa muda tentang ketrampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dari pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan (Stuart & Sundeen, 2005).

Ada 5 sumber koping yang dapat membantu individu beradaptasi dengan stressor yaitu ketrampilan dan kemampuan, ekonomi, teknik  pertahanan, dukungan sosial dan motivasi (Rasmun, 2001).

Contoh sumber koping yang termasuk berhubungan dengan respon sosial maladaptif, menurut Stuart & Sundeen (2005):
1)    Keterlibatan dalam hubungan yang luas dalam keluarga dan teman.
2)    Hubungan dengan hewan peliharaan.
3)    Gunakan kreativitas untuk mengekspresikan stress interpersonal seperti kesenian, musik atau tulisan.

6. Mekanisme Koping
Individu yang mempunyai respon sosial maladaptif menggunakan berbagai mekanisme dalam upaya untuk mengatasi ansietas. Mekanisme koping yang berkaitan dengan dua jenis  hubungan yang spesifik, menurut Stuart& Sundeen (2005) yaitu:

a. Koping yang berkaitan dengan gangguan kepribadian antisosial.
1)    Proyeksi.
2)    Pemisahan atau splitting.
3)    Merendahkan orang lain.

b. Koping yang berhubungan dengan gangguan kepribadian ambang.
1)    Pemisahan atau  splitting.
2)    Reaksi formasi.
3)    Proyeksi.
4)    Isolasi.
5)    Idealisasi orang lain.
6)    Merendahkan orang lain.
7)    Identifikasi proyektif.

Jika individu berada pada kondisi stress, maka akan menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya, individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber koping yang tersedia (Rasmun, 2001).

7. Strategi pelaksanaan tindakan keperawatan
Strategi tindakan keperawatan terdir dari tiga fase, yaitu :

a. Fase orientasi
Fase orientasi berisi salam perkenalan, evaluasi atau validasi, kontrak waktu, dan tempat.

b. Fase kerja
Fase kerja dibagi menjadi dua subfase yaitu, fase identifikasi masalah dan fase eksploitasi.

c. Fase terminasi atau resolusi
Terdiri dari evaluasi subjektif, evaluasi objektif, dan rencana tindak lanjut.

8. Strategi pelaksanaan isolasi sosial menarik diri
a. Untuk pasien
1. Strategi pelaksanaan 1:
1)    Membina hubungan saling percaya.
2)    Membantu klien mengenal penyebab isolasi sosial.
3)    Membantu klien mengenal manfaat berhubungan & kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
4)    Mengajarkan klien cara berkenalan.

2. Strategi pelaksanaan 2:
1)    Mengajarkan klien cara berinteraksi secara bertahap dengan orang pertama (Perawat).

3. Strategi pelaksanaan 3:
1)    Mengajarkan klien cara berinteraksi secara bertahap dengan orang kedua

b. Untuk keluarga
1. Strategi pelaksanaan 1:
1)    Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang masalah isolasi sosial, penyebab & cara merawat klien isolasi sosial.

2. Strategi pelaksanaan 2:
1)    Melatih kelurga mempraktikan cara merawat klien isolasi sosial secara langsung dihadapan klien

3. Strategi pelaksanaan 3:
1)    Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.

9. Penatalaksaan medis
Penatalaksanaan medis pada pasien dengan isolasi sosial. Terapi medis psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa. Menurut Depkes (2000), jenis obat psikofarmaka adalah:

a. Clorpromazine (CPZ, Largactile)
Indikasi untuk sindrome psikosis yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu. Berdaya berat dalam fungsi-fungsi mental, waham, halusinasi, gangguan perasaan, dan perilaku yang aneh atau tidak terkendali. Berdaya berat dalam fungsi kehidupan sehari-hari, tidak mampu bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.

Mekanisme kerja dopamine pada pasca sinap di otak khususnya sistem piramidal. Efek sampingnya adalah sedasi, gangguan otonomi (hipotensi, antikolinergik/ parasimpatik,mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung, gangguan ekstra pyramidal (dystonia akut, akatsia, sindroma parkinson, tremor, bradikinesia rigiditas), gangguan endokrin (amenorhoe, ginekomasti), metabolik (jaundice).

Kontra indikasinya yaitu klien dengan penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran yang disebabkan CNS depresan.

b. Haloperidol (Haldol, Serenace)
Indikasinya yaitu berdaya berat dalam kemampuan menilai realita dalam fungsi netral serta dalam fungsi kehidupan sehari-hari. Mekanisme kerja dari obat ini adalah obat anti psikosis dalam memblock dopamine pada reseptor paska sinaptik neuron di otak khususnya sistem limbik dan sistem ekstra piramidal.

Efek sampingnya adalah sedasi, gangguan otonomi (hipotensi, antikolinergik atau parasimpatik, mulut kering, kesulitan dalam miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, tekanan intra okuler meninggi, gangguan irama jantung) (Keliat, 2011).
Kontra indikasnya adalah bagi pasien yang mempunyai penyakit hati, penyakit darah, epilepsy, kelainan jantung, febris, ketergantungan obat, penyakit SSP, gangguan kesadaran.

c. Trihexiphenidyl (THP, Artane, Tremin)
Indikasinya untuk segala jenis penyakit Parkinson, termasuk  paska ensepalitis dan idiopatik, sindrom Parkinson akibat obat misalnya resenpira dan fenotiazine. Mekanisme kerja sinergis dengan linidine, obat anti depresan trisklik dan kolinergik lainnya. Efek samping dari obat ini adalah mulut kering, penglihatan kabur, pusing,mual, muntah, bingung, agitas, konstipasi, takikardia dilatasi ginjalretensi urine. Kontra indikasinya meliputi hipersensitive terhadap Trihexiphenidyl, glaucoma sudut sempit, psikosis berat, psikoneurosis, hypertropi prostat dan obstruksi saluran cerna.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta : Jakarta.
2.    Asmadi, 2008.  Konsep Dasar Keperawatan. EGC : Jakarta.
3.    Carpeniti, L,J, 2009. Buku Saku Diagnosa Keperawata. EGC : Jakarta.
4.    Gail W, Stuart, 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa,  Edisi 5. EGC : Jakarta.
5.    Gazalba, Sidi. 2007. Pengantar Sejarah sebagai Ilmu. Bhatara  : Jakarta.
6.    Haryanto, 2007. Konsep Dasar Keperawatan dengan Pemetaaan Konsep              (Concept Mapping). Salemba Medika : Jakarta.
7.    Herdman, T. Helther, 2009. NANDA International Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-2011. EGC : Jakarta.
8.    Hidayat, A.Alimul Aziz, 2006.  Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
9.    Irawati, Dewi, 2011. Kualitas perawat di Indonesia buruk.                                                                         http://www.wartakotalive.com/mobile/detil/70944. Diakses 12 April 2012.   
10. Keliat, Budi Anna, 2011. Manajemen Keperawatan Psikososial & Kader Kesehatan Jiwa CMHN ( Intermediate Course ). EGC : Jakarta.
11. Keliat, Budi Anna, 2011.  Manajemen Kasus Gangguan Jiwa CMHN                      ( Intermediate Course). EGC : Jakarta.
12. Keliat, Budi Anna, 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, edisi 2. EGC : Jakarta.
13. Nettina, Sandra M, 2002. Pedoman Praktik Keperawatan. EGC : Jakarta.
14. Notoatmodjo, Soekidjo, 2007. Promosi Kesehatan & Ilmu Perilaku. Rineka Cipta : Jakarta.
15. Notoatmodjo, Soekidjo, 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta : Jakarta.
16. Nursalam, 2009. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
17. Potter, Perry, 2011. Fundamental Keperawatan,  Edisi . EGC : Jakarta.
18. Riyadi, Sujono dan Riyadi, Teguh, 2009.  Asuhan Keperawatan Jiwa. Graha Ilmu : Jakarta.
19. Riyanto, Agus, 2010. Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan. Nuha Offset : Yogjakarta.
20. Santosa, Singgih, 2012. Aplikasi SPSS pada Statistik Non Parametrik. PT Elex Media Komputindo : Jakarta.
21. Soesanto, Wibisono, 2009. Biostatistik Penelitian Kesehatan (spss 16 for windows). Perc. Duatujuh : Surabaya.
22. Surajiyo, 2006. Dasar Dasar Logika. Bumi Aksara : Jakarta.
23. Videbeck, Sheila L, 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. EGC : Jakarta.
24. Wiracahyo, 2011, Rata-rata 1000 orang di JATIM sakit jiwa. http://www.informasijatim.com/2011/10/rata-rata-1000-orang-di-jatim-sakit.html. Diakses 12 April 2012.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar