PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Kamis, 30 Juni 2011

ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN) 1

Dr. Suparyanto, M.Kes

ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN) 1

  • Pelaksanaan Standar Asuhan Persalinan Normal dalam Pertolongan Persalinan
  • Seperti yang telah penulis uraikan pada bagian sebelumnya bahwa Standar pelayanan kebidanan terdiri dari 25 Standar, yaitu: Standar 1 s/d 25. Sesuai dengan materi penelitian, maka pada bagian ini penulis akan membahas lebih lanjut tentang standar dalam pertolongan Persalinan yang terdiri dari 4 Standar yaitu Standar 9 sampai dengan Standar 12.
  • Adapun penjelasan lebih rinci Standar tersebut adalah sebagai berikut:

STANDAR 9: ASUHAN PERSALINAN KALA I

1.Tujuan
  • Untuk memberikan perawatan yang memadai dalam mendukung pertolongan persalinan yang aman.
2.Pernyataan Standar:
  • Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadahi dengan memberikan kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.
3.Hasil
  1. Meningkatkan persalinan yang ditolong oleh bidan
  2. Berkurangnya kematian/kesakitan oleh ibu/bayi akibat partus lama
  3. Ibu bersalin mendapat pertolongan darurat yang memadai dan tepat waktu, bila diperlukan.
4.Prasyarat
  1. Bidan dipanggil apabila ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah.
  2. Bidan terampil dalam hal: a.Pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dan b.Penggunaan partograf dan pembacaannya.
  3. Tersedianya alat dan bahan habis pakai untuk pertolongan persalinan.
  4. Menggunakan KMS ibu hamil, partograf dan kartu ibu.

5.Proses
  • Bidan harus:
  1. Segera mendatangi ibu hamil ketika diberi tahu persalinan sudah dimulai/ketuban pecah.
  2. Melaksanakan pemeriksan kehamilan dengan memberikan perhatian terhadap tekanan darah, teratur tidaknya his dan denyut jantung janin (DJJ), bila ketuban sudah pecah.
  3. Catat semua temuan pemeriksaan dengan tepat. Jika ditemukan kelainan, lakukan rujukan ke Puskesmas/Rumah Sakit.
  4. Lakukan pemeriksaan dalam seccara aseptik dan sesuai dengan kebutuhan. (Jika his teratur dan tidak ada hal yang mengkhawatirkan atau his lemah tapi tanda-tanda vital ibu/janin normal, maka tidak perlu segera dilakukan pemeriksaan dalam).
  5. Dalam keadaan normal periksa dalam, cukup setiap 4 jam dan HARUS selalu secara aseptik.
  6. Jika sampai pada fase aktif, catat semua temuan dalam partograf dan kartu ibu.
  7. Anjurkan ibu untuk mandi dan tetap aktif bergerak seperti biasa, dan memilih posisi yang dirasa nyaman, kecuali bila belum terjadi penurunan kepala sementara ketuban sudah pecah. (Riset membuktikan banyak keuntungan jika ibu tetap aktif bergerak semampunya dan merasa senyaman mungkin).
  8. Amati kontraksi dan DJJ sedikitnya 30 menit pada kala I. Pada akhir kala II atau jika kontraksi sudah sangat kuat, periksa DJJ setiap 15 menit.
  9. Catat dan amati penurunan kepala janin dengan palpasi abdomen setiap 4 jam.
  10. Catat tekanan darah setiap 4 jam.
  11. Minta ibu hamil agar sering buang air kecil sedikitnya setiap 2 jam.
  12. Pada persalinan normal, mintalah ibu untuk banyak minum guna menghindari dehidrasi dan gawat janin. (Riset menunjukkan bahwa, pada persalinan normal, tidak ada gunanya untuk mengurangi minum dan makan makanan kecil yang mudah dicerna).
  13. Selama persalinan, beri dukungan moril dan perlakuan yang baik dan peka terhadap kebutuhan ibu hamil, suami/orang terdekat yang mendampingi.
  14. Jelaskan proses persalinan yang edang terjadi pada ibu, suami dan keluarganya. Beritahu mereka kemajuan persalinan secara berkala.
  15. Segera catat semua temuan pada partograf dan kartu ibu.
  16. Saat proses persalinan berlangsung, bersiaplah untuk menghadapi kelahiran bayi (lihat Standar 10).
  17. Lakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman (lihat Standar 10).

STANDAR 10: PERSALINAN YANG AMAN

1. Tujuan
  • Memastikan persalinan yang aman untuk ibu dan bayi.
2. Prasyarat
  1. Bidan dipanggil apabila ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah.
  2. Bidan sudah terampil dalam menolong persalinan secara bersih dan aman.
  3. Adanya alat untuk pertolongan persalinan dalam keadaan desinfeksi tingkat tinggi (DTT).
  4. Adanya bahan-bahan untuk pertolongan persalinan yang bersih

3.Pernyataan Standar:
  • Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan dan penghargaanterhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.
4.Hasil
  1. Persalinan yang bersih dan aman
  2. Meningkatnya kepercayaan terhadap bidan
  3. Menurunnya komplikasi seperti pendarahan postpartum, asfiksia neonatal,trauma kelahiran.
  4. Menurunnya angka sepsis puerperalis.
  5. Bidan sedapat mungkin menggunakan sarung tangan yang bersih.
  6. Tersedia ruangan yang hangat, bersih dan ehat untuk persalinan.
  7. Menggunakan kartu ibu.
5.Proses
  • Bidan harus:
  1. Memastikan tersedianya ruangan yang hangat, bersih dan sehat untuk persalinan, juga kain hangat untuk mengeringkan bayi baru lahir, tempat untuk plasenta. (Jika ibu belum mandi, bersihkan daerah perineum dengan air bersih).
  2. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih, kemudian keringkan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih)
  3. Bantu ibu untuk mengambil posisi yang paling nyaman. (Riet menunjukkan bahwa posisi duduk tau jongkok memberikan banyak keuntungan).
  4. Anjurkan ibu untuk meneran atau mengejan hanya jika merasa ingin atau saat kepala bayi sudah kelihatan. (Riset menunjukkan bahwa menahan nafas sambil meneran adalah berbahaya, dan meneran sebelum kepala bayi tampak tidaklah perlu. Bahkan meneran sebelum pembukaan serviks lengkap adalah berbahaya). Jika kepala belum terlihat, padahal ibu sudah sangat ingin meneran, periksa pembukaan serviks dengan periksa dalam. Jika pembukaan belum lengkap, keinginan meneran bisa dikurangi dengan memiringkan ibu ke sisi sebelah kiri.
  5. Pada kala II, dengarkan DJJ setiap his terakhir, irama dan frekuensinya harus egera kembali ke normal. Jika tidak cari pertolongan medis. (Jika kepala udah menegangkan perineum, dan terjadi kelambatan kemajuan persalinan atau DJJ menurun sampai 100x/menit atau kurang, atau meningkat menjadi 160x/menit atau lebih, maka percepat persalinan dengan melakukan episiotom),
  6. Hindari peregangan vagina secara manual dengaan gerakan menyapu atau menariknya ke arah luar. (Riset menunjukkan bahwa hal tersebut berbahaya).
  7. Pakai sarung tangan sedapat mungkin, saat kepala bayi kelihatan.
  8. Jika ada kotoran keluar dari rektum, bersihkan dengan kain kering.
  9. Bantu kepala bayi lahir perlahan, sebaiknya diantara his. (Riset menunjukkan bahwa robekan tingkat dua dapat sembuh sama baiknya dengan luka episiotomi, sehingga tidak perlu menggunting perineum, kecuali terjadi gawat janin atau kemungkinan terjadi robekan tingkat tiga yang mengenai rektum).
  10. Begitu kepala bayi lahir, bahu bai akan memutar. (Hal ini harusnya terjadi pontan, sehingga bayi tak perlu dibantu. Jika bahu tidak memutar).
  11. Begitu bahu sudah pada poisi anterior posterior yang benar, bantulah persalinan.
  12. Segera setelah lahir, keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat, dan berikan berikan pada ibu atau letakkan di dadanya untuk disusui. (Riset menunjukkan hal ini penting untuk keberhasilan dalam memberikan ASI dan membantu pelepasan plasenta. Kontak kulit dengan kulit adalah cara yang baik untuk menjaga kehangatan bayi, sementara handuk diselimutkan pada punggung bayi. Jika bayi tidak didekap oleh ibuya, selimuti bayi dengan kain yang bersih dan hangat. Tutupi bayi agar tidak kehilngan panas).
  13. Pembersihan jalan nafas bayi tidak selalu diperlukan. Jika bayi tidak menangis spontan gunakan pengisap lendir untuk membersihkan jalan naas
  14. Tali pusat di klem di dua tempat, lalu potong diantara dua klem denagn gunting steril yang tajam.
  15. Perhatikan tanda pelepasan plasenta (fundus membulat dan mengeras, darah meleleh, tinggi fundus meningkat, tali pusat memanjang). Kemudian mintalah ibu meneran saat his berikutnya. Pegang dan regangkan tali pusat, jangan ditarik, kemudian plsenta akan lahir dan terimalah dengan kedua tangan. Periksa kelengkapannya.
  16. Letakkan tangan pada fundus uteri untuk memeriksa kontraksi. Palpasi fundus dan jika tidak keras, keluarkan bekuan darah dan lakukan pengusapan/massase fundus dengan hati-hati agar terjadi kontraksi uterus. Perkirakan kehilangan darah secara akurat. (ingat pendarahan sulit diukur dan sering diperkirakan lebih sedikit).
  17. Lakukan pemeriksaan bayi, perawatan mata dan prosedur lain untuk perawatan bai baru lahir.

6. Pernyataan Standar:
  • Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.
  1. Bersihkan perineum dengan air bersih dan tutupi dengan kain bersih/telah dijemur.
  2. Berikan plasenta dan selaput ketuban kepada suami/keluarga ibu.
  3. Pastikan agar ibu dan bayi merasa nyaman. Berikan bayi kepada ibu untuk diberi ASI.
  4. Catat semua temuan dengan seksama.

STANDAR 11: PENGELUARAN PLASENTA DENGAN PENEGANGAN TALI PUSAT

1. Tujuan
  • Membantu pengeluaran plasenta dan selaputnya secara lengkap tanpa menyebabkan pendarahan.
2. Prasyarat
  • Bidan sudah terlatih dalam membantu pengeluaran plasenta secara
3. Hasil
  1. Ibu dengan resiko pendarahan postpartum primer mendapat penanganan yang memadai.
  2. Menurunnya kejadian pendarahan postpartum akibat salah penanganan kala III lengkap dengan penegangan tali pusat secara benar.
  3. Adanya alat dan bahan untuk melahirkan plasenta, termasuk air bersih, larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi, sabun dan handuk bersih untuk cuci tangan, juga tempat untuk plasenta. Sebaiknya Bidan menggunakan sarung tangan yang bersih.
  4. Tersedia oksitosika yang dikirim dan disimpan dengan benar.
4.Proses
  1. Masukkan okitosika (okitosin 10 IU IM) ke dalam alat suntik menjelang persalinan.
  2. Setelah bayi lahir, periksa kemungkinan adanya bayi kembar. Jika tidak ada, beri oksitosi secara IM secepatnya. (Kecuali jika terdapat hal lain yang mengharuskan pemberian secara IV).
  3. Tunggu tanda terlepasnya plasenta (yaitu fundus mengeras dan bulat, keluarnya tetesan darah, fundus naik, tali pusat memanjang). Periksa fundus untuk mengetahui adanya kontraksi, keluarkan gumpalan jika perlu.
  4. Bantu ibu untuk bersandar atauberbaring untuk pengeluaran plasenta dan selaputnya.
  5. Jika plasenta sudah terlepas dari dinding uterus, letakkan tangan kiri di atas simfisis pubis untuk menahan korpus uteri, dan regangkan tali pusat dengan tangan yang lain tetapi jangan ditarik. Mula-mula regangan diarahkan ke bawah, lalu secara perlahan diregangkan ke atas dengan mengikuti sumbu jalan lahir. Jangan menekan funus karena dapat menyebabkan inversio uteri.
  6. Jika plasenta sudah tampak dari luar, secara bertahap tarik ke atas
5. Pernyataan Standar:
  • Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk menperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum. sehingga plasenta mengikuti jalan yang sama dengan bayi. Lepaskan tangan kiri dari perut, untuk menerima plasenta.
  1. Keluarkan selaput dengan hati-hati. (Hal ini harus dikerjakan secara perlahan dan hati-hati. Jangan ditarik karena selaput mungkin robek).
  2. Begitu plasenta sudah lahir ecara lengkap, perikasa apakah uterus berkontraksi dengan baik. (Mungkin perlu mengeluarkan gumpalan darah dan mengusap fundus dari luar agar uterus berkontraksi, jika uterus tidak keras dan bulat).
  3. Taksir jumlah kehilangan darah secermat-cermatnya.
  4. Periksa apakah plasenta telah dilahirkan secara lengkap, jika tidak lengkap, ulangi pemberian oksitosida. Jika pendarahan tidak banyak dan rumah sakit dekat, ibu segera dirujuk. Bila pendarahan banyak dan rumah sakit jauh, lakukan plasenta manual Untuk penanganan pendarahan.
  5. Bersihkan vulva dan perineum dengan air bersih dan tutup dengan pembalut wanita/kain kering yang bersih.
  6. Periksa tanda-tanda vital. Catat semua temuan secermat-cermatnya.
  7. Berikan plsenta kepada suami/keluarga ibu.

STANDAR 12: PENANGANAN KALA II DENGAN GAWAT JANIN MELALUI EPISIOTOMI

1. Tujuan
  • Mempercepat persalinan dengan melakukan episiotomi pada keadaan gawat janin.
2. Hasil
  1. Penurunan kejadian asfiksia neonatorum berat.
  2. Penurunan kejadianlahir mati pada kala II
  3. Penurunan kejadian sepsi puerperalis
3. Prasyarat
  1. Bidan sudah terlatih dalam melaksanakan episiotomi dan menjahit perineum secara benar.
  2. Tersedia alat atu bahan untuk melakukan episiotomi, termasuk gunting tajam yang steril dan alat/bahan untuk penjahitan perineum (berikan anestesi lokal, misalnya dengan 5 ml 1% lidokain dan alat suntik/jarum hipodermik steril).
  3. Menggunakan kartu ibu.
4.Proses
  • Jika ada tanda gawat janin berat dan kepala sudah terlihat, mak satusatunya cara yang dapat dilakukan oleh Bidan untuk menyelamatkan janin adalah dengan melakukan episiotomi.
Bidan harus
  1. Mempersiapkan alat-alat steril untuk tindakan ini.
  2. Memberi tahu ibu tentang perlunya episiotomi dilakukan dan yang akan dirasakan.
  3. Anestesi lokal diberikan pada saat his. Sebelum menyuntikkannya, tarik jarum sedikit, (untuk memastikan jarum tidak menembus pembuluh darah). Msukkan dua jari tangan kiri ke dalam vagina untuk melindungi kepala bayi, dan dengan tangan kanan, tusukkan jarum sepanjang garis yang akan digunting hingga teranastesi.
  4. Tunggu satu menit agar anestesinya bekerja, lakukan tes kekebalan.
  5. Pada Puncak his berikutnya, lindungi kepala janin seperti di atas, kemudian lakukan pengguntingan tunggal yang mantap.
  6. Lindungi kepala bayi dengan tangan kiri agar kelahiran kepala terkendali dan tidak terlalu cepat. Minta ibu untuk meneran diantara dua his. Kemudianlahirkan bayi secara normal.
  7. Begitu bayi lahir, tutupi perineum dengan pembalut steril dan lakukan resusitasi neonatus jika diperlukan.
  8. Lahirkan plsenta secara lengkap, sesuai dengan Standar 11.
  9. Segera setelah plsenta dikeluarkan, lakukan penjahitan secara aseptik dengan peralatan yang steril.
  10. Lakukan penjahitan secara berlapis. Mulai dari vagina, lalu perineum.
  11. Sesudah penjahitan, masukkan jari dengan hati-hati ke rektum untuk memastikan bahwa penjahitan tidak menembus dinding rektum. Bila hal tersebut terjadi, lepaskan jahitan dan lakukan jahitan ulang. periksa vagina dan pastikan tidak ada bahan yang tertinggal.
  12. Bersihkan perineum dengan air bersih, usahakan agar ibu merasa bersih dan nyaman. Periksa apakah pendarahan dari raerah insisi sudah berhenti. Bila pendarahan masih ada, periksa sumbernya. Bila berasal dari luka episiotomi, temukan titik pendarahan dan segera ikat, jika bukan, ikuti Standar 22.
  13. Pastikan bahwa ibu diberi tahu agar menjaga perineum tetap bersih dan kering.
  14. Catat semua temuan secermat-cermatnya

DAFTAR PUSTAKA

  1. JNPK-KR, 2008, Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal, Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi, Jakarta, JNPK-KR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar