PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 07 Juni 2011

TANDA BAHAYA KEHAMILAN

Dr. Suparyanto, M.Kes

TANDA BAHAYA KEHAMILAN

PENGERTIAN
  • Tanda bahaya kehamilan adalah suatu kehamilan yang memiliki suatu tanda bahaya atau risiko lebih besar dari biasanya (baik bagi ibu maupun bayinya), akan terjadinya penyakit atau kematian sebelum maupun sesudah persalinan (Tiran, 2007)

MACAM TANDA BAHAYA KEHAMILAN
  • Macam tanda bahaya kehamilan menurut Tiran (2007) terdiri dari:
a. Perdarahan Pervaginam
  • Perdarahan pervaginam dalam kehamilan adalah cukup normal. Pada masa awal kehamilan, ibu akan mengalami perdarahan yang sedikit (spotting) di sekitar waktu terlambat haidnya. Perdarahan ini adalah perdarahan implantasi dan normal, perdarahan kecil dalam kehamilan adalah pertanda dari “Friabel cervik”.
  • Perdarahan semacam ini mungkin normal atau mungkin suatu tanda adanya infeksi. Jika terjadi perdarahan yang lebih (tidak normal) yang menimbulkan rasa sakit pada ibu. Perdarahan ini bisa berarti aborsi, kehamilan molar atau kehamilan ektopik. Pada akhir kehamilan, perdarahan yang tidak normal adalah merah, banyak dan kadang-kadang tetapi tidak selalu disertai dengan rasa nyeri.

b. Sakit kepala yang hebat
  • Sakit kepala selama kehamilan adalah umum dan seringkali merupakan ketidaknyaman yang normal dalam kehamilan. Sakit kepala yang menunjukkan suatu masalah yang serius adalah sakit kepala yang hebat yang menetap dan tidak hilang dengan beristirahat. Kadang-kadang dengan sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan bahwa penglihatannya menjadi kabur atau berbayangan. Sakit kepala yang hebat dalam kehamilan adalah gejala dari pre eklamsia.
  • Sakit kepala sering dirasakan pada awal kehamilan dan umumnya disebabkan oleh peregangan pembuluh darah diotak akibat hormon kehamilan, khusunya hormon progesteron. Jika ibu hamil merasa lelah, pusing atau tertekan atau pandangan mata bermasalah, sakit kepala akan lebih sering terjadi atau makin parah, jika sebelumnya menderita migrain kondisi ini dapat semakin bermasalah selama 3 sampai 4 bulan pertama kehamilan.

c. Masalah visual
  • Karena pengaruh hormonal, ketajaman visual ibu dapat berubah dalam kehamilan. Perubahan yang kecil adalah normal. Masalah visual yang mengindikasikan keadaan yang mengancam jiwa adalah perubahan visual mendadak, misalnya pandangan kabur atau berbayangan/berbintik-bintik. Perubahan visual ini mungkin disertai dengan sakit kepala yang hebat. Perubahan visual mendadak mungkin merupakan tanda pre eklamsia.

d. Bengkak pada muka dan tangan
  • Hampir separuh dari ibu-ibu akan mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya muncul pada sore hari dan biasanya hilang setelah beristirahat atau meletakkan lebih tinggi. Bengkak bisa menunjukkan adanya masalah serius jika muncul pada muka dan tangan tidak hilang setelah beristirahat dan diikuti dengan keluhan fisik yang lain. Hal ini bisa merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau pre eklamsia.
  • Sistem kerja ginjal yang tidak optimal pada wanita hamil mempengaruhi system kerja tubuh sehingga menghasilkan kelebihan cairan. Ini dapat terlihat setelah kelahiran, ketika pergelangan kaki yang bengkak secara temporer semakin parah. Ini dikarenakan jaringan tambahan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin selama dalam kandungan tidak lagi dibutuhkan dan akan dibuang setelah sebelumnya diproses oleh ginjal menjadi urin.
  • Oleh karena ginjal belum mampu bekerja secara optimal, kelebihan cairan yang menempuk dihasilkan disekitar pembuluh darah hingga ginjal mampu memprosesnya lebih lanjut. Terkadang bengkak membuat kulit di kaki di bagian bawah meregang, terlihat mengkilat, tegang dan sangat tidak nyaman. Menurut pengobatan tradisional Cina, odem atau bengkak disebabkan karena penipisan energi pada meridian limpa dan ginjal.
  • Energi yang secara alami berkurang sesuai usia, sehingga wanita hamil dengan usia lebih dari 35 tahun lebih rentan pada penyakit ini dibandingkan wanita hamil dengan usia lebih muda.
  • Kram kaki sering terjadi di malam hari ketika tidur. Kram dihubungankan dengan kadar garam dalam tubuh dan perubahan sirkulasi. Pengobatan cina menganggap kram ada hubungannya dengan kekurangan energi pada darah dan ginjal.

  • Perawatan diri untuk ibu hamil yang mengalami kram kaki:
  1. Selama akhir masa kehamilan, berbaringlah dengan kaki lebih tinggi dari badan sesering mungkin, ini tidak hanya membuat libu hamil beristirahat lebih nyaman, tetapi juga meningkatkan aliran energi pada saluran ginjal.
  2. Hindari pemakaian jenis sepatu tertentu pada akhir kehamilan, terutama yang terbuat dari kulit akan melar dan longgar saat libu hamil ingin memakainya saat melahirkan.
  3. Jika bengkak terjadi pada tangan dan jari, pastikan untuk melepaskan cincin sebelum terlalu sempit. Jika ibu hamil lupa dan tetap memakainya cincin itu perlu dipotong agar tidak terjadi penyumbatan.
  4. Jika ibu hamil menderita kram jangan menambahkan garam pada makanan karena dapat meningkatkan risiko terjadinya penumpukan cairan. Ketika kram terjadi ulurkan sejauh mungkin untuk mencegah kontraksi otot.
  5. Kompreskan daun kubis (lebih baik yang berwarna hijau tua) di sekeliling kaki ibu hamil kemudian dibasuh, tetapi jangan cuci daun tersebut, lalu dinginkanj di lemari es kemudian dibalutkan di kaki. Biarkan sampai lembab dan layu kemudian ganti dengan yang baru sampai bengkak membaik.

e. Nyeri abdomen yang hebat
  • Nyeri abdomen yang tidak berhubungan dengan persalinan normal adalah tidak normal. Nyeri abdomen yang mungkin menunjukkan masalah yang mengancam keselamatan jiwa adalah yang hebat, menetap dan tidak hilang setelah beristirahat. Hal ini bisa berarti apendisitis, kehamilan ektopik, aborsi, penyakit radang pelviks, persalinan preterm, gastritis, penyakit kantong empedu, iritasi uterus, abrupsi plasenta, infeksi saluran kemih atau infeksi lain.

f. Bayi kurang bergerak seperti biasa
  • Ibu mulai merasakan gerakan bayinya selama bulan ke-5 atau ke-6, beberapa ibu dapat merasakan gerakan bayinya lebih awal. Jika bayi tidur, gerakannya akan melemah. Bayi harus bergerak paling sedikit 3 kali dalam periode 3 jam. Gerakan bayi akan lebih mudah terasa jika berbaring atau beristirahat dan jika ibu makan dan minum dengan baik. Apabila ibu tidak merasakan gerakan bayi seperti biasa, hal ini merupakan suatu risiko tanda bahaya. Bayi kurang bergerak seperti biasa dapat dikarenakan oleh aktivitas ibu yang terlalu berlebihan, keadaan psikologis ibu maupun kecelakaan sehingga aktivitas bayi di dalam rahim tidak seperti biasanya.

PENCEGAHAN TANDA BAHAYA KEHAMILAN
  1. Mengenal dan mengetahui ibu-ibu yang termasuk dalam kondisi yang mengalami tanda bahaya dengan adanya pengetahuan ibu-ibu sehingga dapat dilakukan rujukan ke tempat fasilitas yang lebih baik (rumah sakit).
  2. Meningkatkan mutu perinatal care
  3. Menganjurkan setiap ibu hamil kontrol ke BKIA.
  4. Penyuluhan oleh bidan desa terhadap kesehatan ibu, bayi serta penyakit yang dapat diderita oleh ibu selama kehamilan secara aktif.
  5. Bidan desa harus bertempat tinggal di desa yang ditugaskan yang merupakan ujung tombak tentang kesehatan ibu di desa yang ditempatinya.
  6. Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.
  7. Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X.
  8. Bila ditemukan kelainan saat pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.
  9. Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.(Rachmat, 2007)

KOMPLIKASI TANDA BAHAYA KEHAMILAN 

a. Perdarahan
  • Penyebab perdarahan paling sering pada trimester ketiga adalah:
  1. Kelainan letak plasenta.
  2. Pelepasan plasenta sebelum waktunya.
  3. Penyakit pada vagina atau leher rahim (misalnya infeksi).
  • Perdarahan pada trimester ketiga memiliki risiko terjadinya kematian bayi, perdarahan hebat dan kematian ibu pada saat persalinan. Untuk menentukan penyebab terjadinya perdarahan bisa dilakukan pemeriksaan USG, pengamatan leher rahim dan Pap smear.

b. Persalinan prematur lebih mungkin terjadi pada keadaan berikut:
  1. Ibu memiliki kelainan struktur pada rahim atau leher rahim.
  2. Perdarahan.
  3. Stress fisik atau mental.
  4. Kehamilan ganda.
  5. Ibu pernah menjalani pembedahan rahim.
  6. Bayi lahir belum cukup bulan.
  7. Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).
  8. Keguguran (abortus).
  9. Persalinan tidak lancar / macet.
  10. Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
  11. Janin mati dalam kandungan.
  12. Ibu hamil / bersalin meninggal dunia.
  13. Keracunan kehamilan/kejang-kejang. (Firdaus, 2006)

SKRINING TANDA BAHAYA KEHAMILAN
1. Batasan skrining
  • Suatu kegiatan deteksi pro-aktif pada semua ibu hamil untuk menemukan faktor risiko yang belum memberikan gejala atau keluhan dengan menggunakan alat skrining. Ibu hamil yang memiliki masalah/faktor risiko yang masih merasa atau kelihatan sehat disebut kelompok ibu hamil risiko tinggi, sedangkan ibu hamil tanpa faktor resiko disebut ibu hamil risiko rendah (Rochjati, 2003).
2. Tujuan skrining
  • Menjaring, menemukan dan mengenal ibu hamil yang mempunyai faktor risiko, yaitu faktor risiko tinggi.
3. Alat skrining
  • Dalam strategi pendekatan risiko, kegiatan skrining merupakan kompnen penting dalam pelayanan kehamilan, yang harus diikuti dengan komunikasi, informasi dan diikuti dengan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada ibu hamil, suami dan keluarga. Untuk perencanaan persalinan aman dilakukan persiapan rujukan terencana bila diperlukan. 
  • Melalui kegiatan ini beberapa faktor risiko yang ada pada ibu hamil telah dapat dilakukan prediksi/prakiraan kemungkinan macam misalnya, persalinan macet sudah dapat diperkirakan akan terjadi pada ibu hamil dengan tinggi badan rendah 140 cm, ibu dengan janin letak sungsang, pernah operasi sesar. Oleh karena itu kegiatan skrining harus dilakukan berulang kali sehingga dapat ditemukan secara dini faktor risiko yang berkembang pada umur kehamilan lebih lanjut (Rochjati, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ananta. 2009. Permasalah Pada Kehamilan Muda. Jakarta : Rineka Cipta
  2. Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta
  3. Azwar. 2005. Sikap Manusia. Jakarta : EGC
  4. Dinkes Jatim. 2009. Standar Pelayanan Minimal. http://www.dinkes-jatim.com. Diakses tanggal 15 Maret 2010
  5. Dinkes Jombang. 2009. Standar Pelayanan Minimal Kabupaten Jombang. http://www.dinkes.jombang.go.id. Diakses tanggal 15 Maret 2010
  6. Firdaus. 2006. Tingginya Angka Kematian Di Dunia. http://www.nakita.com.id diakses tanggal 15 Maret 2010
  7. Hamilton. 2001. Perawatan Maternitas. Jakarta : EGC
  8. Harymawan. 2007. Mandeteksi Tanda Bahaya Kehamilan. http://www.info-pult.com.id diakses tanggal 10 Maret 2010
  9. Hidayat. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika
  10. Hidayat. 2009. Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta: Salemba Medika
  11. Kurniawan. 2008. Bahaya Yang Sering Terjadi Pada Kehamilan Muda. http://www.info-cyber-neth.com.id diakses tanggal 15 Maret 2010
  12. Nazir. 2005. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia
  13. Nolan. 2004. Kehamilan Dan Melahirkan. Jakarta: EGC
  14. Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta PT. Rineka Cipta
  15. Nursalam, 2008. Konsep Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
  16. Putriazka. 2007. Kesehatan Reproduksi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: EGC.
  17. Rachmat. 2007. Komplikasi Kehamilan Risiko Tinggi (High Risk). http://www.info-wikipedia.com.id diakses pada tangal 4 Maret 2010
  18. Rusmi, 2006. Perilaku Manusia. Jakarta : PT. Rineka Cipta
  19. Rochjati. 2003. Skrining Antenatal Care Dan Komplikasi Kehamilan. Surabaya : Unair Press
  20. Sugiyono. 2008. Statistik Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
  21. Suririnah. 2008. Tanda Bahaya Pada Kehamilan Trimester I. http://www.kes-pro.com.id diakses tanggal 15 Maret 2010
  22. Tiran. 2007. Kehamilan Dan Permasalahannya. Jakarta : EGC
  23. Utami. 2008. Panduan Kehamilan Sehat. Yogyakarta : Dian Press
  24. Wijayakusuma. 2008. Peran Suami Dalam Mendeteksi Tanda Kehamilan. http://www.ciberindo-aditama. Diakses tyanggal 19 Maret 2010
  25. Yohana. 2008. Peran Suami Dalam Membantu Istri. http://www.info-sehat.com diakses tanggal 02 April 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar