PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Jumat, 02 Desember 2011

KEPUTIHAN (FLUOR ALBUS)

Dr. Suparyanto, M.Kes

KEPUTIHAN (FLUOR ALBUS)

1. PENGERTIAN KEPUTIHAN
  • Keputihan adalah semacam silim yang keluar terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-kuningan. Jika silim atau lendir ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi persoalan.(Handayani, 2008)
  • Keputihan adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan yang di keluarkan dari alat – alat genital yang tidak berupa darah (Sarwono, 2005)
  • Keputihan di devinisikan sebagai cairan dari kelamin perempuan (Vagina ) yang berlebihan selain air kencing atau darah. Sifatnya bisa normal atau tidak normal (Indriatmi, 2007)
  • Keputihan adalah semua pengeluarancairan alat genetalia yang bukan darah. Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan (Manuaba, 2005)
  • Keputihan adalah gejala penyakit yang ditandai oleh keluarnya cairan dari organ reproduksi dan bukan berupa darah. Keputihan yang berbahaya adalah keputihan yang tidak normal (Blankast, 2008)

2. KEPUTIHAN PADA IBU HAMIL
  • Keputihan adalah cairan yang keluar dari vagina yang berwarna putih yang biasanya keluar menjelang haid atau pada masa kehamilan. Keputihan biasanya terjadi menjelang ovulasi, badan lelah atau akibat rangsangan seksual (Purwantyastuti, 2004)
  • Keputihan muncul dikarenakan adanya peningkatan hormonal selama kehamilan. Dalam hal ini Vagina akan mengeluarkan Cairan berwarna putih seperti susu, encer dan tidak berbau. Cairan akan bertambah banyak seiring dengan bertambahnya usia kehamilan anda. Hal ini merupakan hal yang wajar, untuk itu kebersihan dan kelembaban disekitar area vagina harus tetap terjaga, juga pakailah pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat. Namun jika keputihan disertai gatal-gatal dan berbau segera periksa ke dokter anda. Karena dengan kondisi ini kemungkinan terjadi adanya infeksi, jika tidak segera mendapatkan pengobatan dapat menyebabkan perlunakan dalam leher rahim dan akan timbul kontraksi sebelum waktunya. (Kusumawati, 2008)
  • Seorang wanita lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan pada kondisi pencernaan. Semua ini berpengaruh terhadap peningkatan risiko terjadinya keputihan, khususnya yang disebabkan oleh infeksi jamur. Selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan terjadinya keputihan pada janin. (Ocvyanti, 2008)

3. KLASIFIKASI KEPUTIHAN
  • Ada dua jenis Keputihan yaitu :
  1. Keputihan tidak normal (patologis)
  2. Keputihan normal (fisiologis)
  • Perbedaan keputihan fisiologis dan yang patologis. Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang – kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang, sedang pada keputihan patologis terdapat banyak leukosit. (Sarwono, 2005)

4. GEJALA KEPUTIHAN
  • Keputihan normal mempunyai ciri – ciri :
  1. Cairan yang keluar encer
  2. Berwarna bening atau krem
  3. Tidak berbau
  4. Tidak gatal
  5. Jumlahnya sedikit
  • Disebut Keputihan tidak normal jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Cairan yang keluar bersifat kental
  2. Berwarna putih susu, kuning atau hijau
  3. Terasa gatal
  4. Berbau tidak sedap
  5. Menyiksa bercak pada pakaian dalam
  6. Jumlahnya banyak

5. FAKTOR PENYEBAB KEPUTIHAN
  • Adapun beberapa penyebab Keputihan antara lain :
a. Infeksi vagina oleh jamur (Candida albicans) atau parasit (Tricomonas)
  • Jenis infeksi yang terjadi pada vagina yakni, bacterial vaginosis, trikomonas, dan candidiasis. Bakterial vaginosis merupakan gangguan vagina yang sering terjadi ditandai dengan keputihan dan bau tak sdap. Hal ini di sebabkan oleh lactobacillus menurun, bakteri patogen (penyebab infeksi) meningkat, dan pH vagina meningkat.
b. Faktor Hygiene yang jelek
  • Kebersihan daerah vagina yang jelek dapat menyebabkan timbulnya keputihan. Hal ini terjadi karena kelembaban vagina yang meningkat sehingga bakteri patogen penyebab infeksi mudah menyebar.
c. Pemakaian obat-obatan (Antibiotik, Kortikosteroid, dan Pil KB) dalam waktu lama.
  • Karena pemakaian obat- obatan khususnya anti biotik yang terlalu lama dapat menimbulkan sistem imuitas dalam tubuh. Sedangkan penggunaan KB mempengaruhi keseimbangan hormonal wanita. Biasanya pada wanita yang mengkonsumsi antibiotik timbul keputihan.
d. Stress
  • Otak mempengaruhi kerja semua organ tubuh, jadi jika reseptor otak mengalami stress maka hormonal di dalam tubuh mengalami perubahan keseimbangan dan dapat menyebabkan timbulnya keputihan. Hal ini sesuai dengan pendapat Purwantyastuti (2004) yang mengatakan bahwa wanita bisa mengalami gangguan siklus menstruasi / keputihan yang disebabkan oleh stress.
  • Penyebab lain keputihan adalah alergi akibat benda-benda yang dimasukkan secara sengaja atau tidak sengaja ke dalam vagina, seperti tampon, obat atau alat kontrasepsi, rambut kemaluan, benang yang berasal dari selimut, celana dan lainnya. Bisa juga karena luka seperti tusukan, benturan, tekanan atau iritasi yang berlangsung lama. Karena keputihan, seorang ibu bahkan bisa kehilangan bayinya. (Suryana, 2009)

6. AKIBAT KEPUTIHAN PADA KEHAMILAN
  • Keputihan akibat infeksi yang terjadi pada masa kehamilan akan meningkatkan risiko persalinan prematur dan janinnya juga berisiko mengalami infeksi.(Atiwicaksono, 2008)
  • Namun jika keputihan disertai gatal-gatal dan berbau segera periksa ke dokter anda.karena dengan kondisi ini kemungkinan terjadi adanya infeksi, jika tidak segera mendapatkan pengobatan dapat menyebabkan perlunakan dalam leher rahim dan akan timbul kontraksi sebelum waktunya. (Kusumawati, 2008)
  • Misalnya, pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur). Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur Candida sp dapat meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan. (Dwiana, 2008)

7. CARA MENGATASI KEPUTIHAN

a. Tanpa Obat
  1. Menjaga agar daerah genetalia senantiasa bersih serta memperhatikan sabun yang di gunakan sebaiknya sabun yang tidak berparfum
  2. Hindari mandi dengan berendam
  3. Menggunakan celana dalam dari bahan katun, tidak menggunakan celana dalam yang ketat.
  4. Menghindari beraktivitas yang terlalu lelah, panas dan keringat yang berlebih.
  5. Liburan untuk mengurangi stress karena stress merupakan suatu faktor timbulnya keputihan.
b. Dengan obat
  • Konsultasi dengan dokter karena dokter akan memberikan obat-obatan sesuai dengan jenis keputihan yang di alami.
  • Keputihan sangat tidak mengenakan, terlebih bagi wanita hamil. Untuk keputihan normal tidak perlu dilakukan terapi khusus. Yang penting, bagaimana membersihkan organ intim secara benar dan teratur. Umumnya, cukup dengan sabun khusus vagina dan air bersih serta menjaga agar pakaian dalam tetap kering dan bersih. Sedangkan keputihan yang tidak normal harus segera mendapatkan pengobatan media. Keputihan yang terjadi selama kehamilan, misalnya disebabkan oleh infeksi jamur Candida sp, pengobatan yang paling aman adalah dengan menggunakan obat lokal berbahan krim atau sejenis kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina. Sementara keputihan yang dialami wanita hamil akibat infeksi bakteri diberikan obat dalam bentuk kapsul atau tablet yang aman dikonsumsi. Pada infeksi niceria gonorrhoeae, ada obat dalam bentuk kapsul yang dapat diminum. Sebaiknya, segera periksakan kandungan jika terjadi keputihan. Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan alat khusus untuk mendapatkan gambaran alat kelamin secara lebih baik, seperti melakukan kolpokopi yang berupa optik untuk memperbesar gambaran leher rahim, liang senggama, dan bibir kemaluan. Selain pengobatan medis, biasanya orang akan menggunakan daun sirih untuk mengurangi keputihan. Caranya, dengan meminum air daun sirih yang telah direbus terlebih dahulu. Cara ini cukup aman bagi ibu hamil dan bayinya. (Suryana, 2009)
  • Dan yang terpenting bila suatu keputihan yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa (antibiotika dan anti jamur) harus dipikirkan keputihan tersebut disebabkan oleh suatu penyakit keganasan seperti kanker leher rahim. Ini biasanya ditandai dengan cairan banyak, bau busuk, sering disertai darah tak segar. (Blankast, 2008 )

DAFTAR PUSTAKA

  1. Blankast, Ariev. (2008). Mengatasi Keputihan dengan Herbal, http://gealgeol.com/2008/08/27/agar-keputihan-tak-berulang.html. di akses 20 Mei 2009
  2. Handayani, Tri Asih. (2008). Memberantas dan mengobati keputihan, http://sangwanita.blogspot.com. Di akses 16 Mei 2009
  3. Kartono, (2006). Perilaku Manusia. PT Refika Aditama. Bandung
  4. Kusumawati, (2008). Kehamilan dan persalinan. TUGU PUBLISER.Yogyakarta. Majalah Kesehatan Keluarga edisi desember 2007
  5. Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta. Media Aculapius.
  6. Manuaba, Ida bagus Gde, (2005). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga berencana untuk Pendidikan Bidan. EGC. Jakarta.
  7. Narbuko,Kholid. (2005). Metodologi Penelitian. Jakarta. Bumi Aksara
  8. Notoatmodjo,Soekidjo Dr Prof. (2003). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. PT Rineka Cipta.
  9. Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis dan Instumen Penelitian Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika.
  10. Ocvyanti, Dwiana. (2009). Dunia Bunda. www. Dunia bunda.com. di akses15 Mei 2009
  11. Prawirohardjo, Sarwono. (2005).Ilmu Kandungan, Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  12. Prawirohardjo,Sarwono. (2002). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  13. Purwantiastuti, (2004). Penyakit terapi dan obatnya. Intisari Mediatama.
  14. Setiadi. (2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta. Graha Ilmu.
  15. Suryana, Hadi. (2009). Keputihan_dapat_sebabkan_keguguran, Http ://lifestyle. Okezone. Come / read/2009/01/20/27/184444/27. di akses 23 Mei 2009

1 komentar:

  1. trims infonya ya. sangat bermanfaat banget untuk mengatasi keputihan

    BalasHapus