PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Rabu, 12 Maret 2014

EPIDEMIOLOGI TENIA VERSICOLOR (PANU)

Dr. Suparyanto, M.Kes

EPIDEMIOLOGI TENIA VERSICOLOR (PANU)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Penyakit kulit panu disebabkan oleh jamur. Biasanya diderita oleh seseorang yang sudah mulai banyak beraktifitas dan mengeluarkan keringat. Apakah ia itu anak kecil, orang muda atau orang tua. Panu, atau biasa disebut Pityriasis versicolor banyak disebabkan oleh jamur Pityrosporum ovale dan merupakan penyakit kronis yang sering berulang.Panu atau di dunia medis disebut dengan bahasa aneh Pityriasis versicolor, merupakan infeksi jamur di permukaan kulit. Biasanya kumat-kumatan dan tak jarang tanpa keluhan (asimptomatis). Penyakit ini disebabkan oleh Pityrosporum ovale.Definisi medisnya adalah infeksi jamur superfisial yang ditandai dengan adanya makula  di kulit, skuama halus, disertai rasa gatal. Infeksi jamur superfisialis yang kronis dan asimtomatis   disebabkan oleh Malassezia furfur menyerang stratum    korneum dari epidermis. Pada awalnya tidak ada gejala yang menunjukkan seseorang akan menderita panu. Tahu-tahu timbul bercak-bercak di kulit yang terasa gatal. Ada yang unik dari panu, bila diderita orang yang berkulit putih, maka bercak yang tampak adalah berwarna kemerahan. Bila diderita orang berkulit gelap, maka bercak yang tampak adalah warna keputihan (Pityriasis versicolor). Bila terdapat di daerah kulit yang tertutup, maka akan tampak sebagai bercak kecoklatan atau hitam (Pityriasis versicolor nigra). Karena terdapat beberapa warna itulah maka panu disebut Pityriasis versicolor.
1.2  Tujuan
-Tujuan umum
1.Mengetahui tentang tinea versicolor
2.Mengetahui penyebab tinea versicolor
3.Mengetahui terapi untuk tinea versicolor
-Tujuan khusus
Memberi penjelasan tentang faktor-faktor penyebab tinea versicolor
1.3  Sasaran
      Terselesainya makalah ini kami berharap dapat bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa, dan umum untuk menuju kesuksesannya dalam bidang kesehatan terutama di bidang kebidanan agar mudah dan aman dalam melayani masyarakat.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Penyakit kulit panu disebabkan oleh jamur. Biasanya diderita oleh seseorang yang sudah mulai banyak beraktifitas dan mengeluarkan keringat. Apakah ia itu anak kecil, orang muda atau orang tua. Panu, atau biasa disebut Pityriasis versicolor banyak disebabkan oleh jamur Pityrosporum ovale dan merupakan penyakit kronis yang sering berulang.Panu atau di dunia medis disebut dengan bahasa aneh Pityriasis versicolor, merupakan infeksi jamur di permukaan kulit. Biasanya kumat-kumatan dan tak jarang tanpa keluhan (asimptomatis). Penyakit ini disebabkan oleh Pityrosporum ovale.Definisi medisnya adalah infeksi jamur superfisial yang ditandai dengan adanya makula  di kulit, skuama halus, disertai rasa gatal. Infeksi jamur superfisialis yang kronis dan asimtomatis   disebabkan oleh Malassezia furfur menyerang stratum    korneum dari epidermis.

Pada awalnya tidak ada gejala yang menunjukkan seseorang akan menderita panu. Tahu-tahu timbul bercak-bercak di kulit yang terasa gatal. Ada yang unik dari panu, bila diderita orang yang berkulit putih, maka bercak yang tampak adalah berwarna kemerahan. Bila diderita orang berkulit gelap, maka bercak yang tampak adalah warna keputihan (Pityriasis versicolor). Bila terdapat di daerah kulit yang tertutup, maka akan tampak sebagai bercak kecoklatan atau hitam (Pityriasis versicolor nigra). Karena terdapat beberapa warna itulah maka panu disebut Pityriasis versicolor.

Di dalam berbagai literatur kedokteran ada beberapa istilah untuk menyebut penyakit panu, seperti:
 1. Tinea versicolor
 2. Tinea versikolor
 3. Pityriasis versicolor
 4. Pitiriasis versikolor
 5. Pitiriasis versikolor flava
 6. Tinea flava
 7. Chromophytosis
 8. Kromofitosis
 9. Dermatomycosis furfuracea
 10. Dermatomikosis
 11. Liver spots
 12. Aeromia parasitica
 13. Kleinenflechte
 14. Hodi-Potsy
15. Cutaneous fungal infection
Gejala yang biasanya timbul adanya bercak-bercak entah itu putih, coklat atau merah, tergantung warna kulit. Kemudian teraba seperti bersisik halus. Sisik itu bila digaruk, akan keluar putih-putih kecil seperti butiran bedak. Selain itu, bila sedang berkeringat akan terasa sangat gatal.

2.2 Faktor Agent
Malassezia furfur (dahulu dikenal sebagai Pityrosporum orbiculare, Pityrosporum ovale) merupakan jamur lipofilik yang normalnya hidup di keratin kulit dan folikel rambut manusia saat masa pubertas dan di luar masa itu.Alasan mengapa organisme ini menyebabkan panu, pada beberapa orang sementara tetap sebagai flora normal pada beberapa orang lainnya, belumlah diketahui.Sebagai organisme yang lipofilik, Malassezia furfur memerlukan lemak (lipid) untuk pertumbuhan in vitro dan in vivo. Lebih lanjut, tahap miselium dapat dirangsang in vitro dengan penambahan kolesterol dan ester kolesterol pada medium yang tepat. Karena organisme ini lebih cepat berkoloni/mendiami kulit manusia saat pubertas dimana lemak kulit meningkat lebih banyak dibandingkan pada masa remaja (adolescent) dan panu bermanifestasi di area yang “kaya minyak” atau sebum-rich areas (misalnya: di dada, punggung), variasi lemak di permukaan kulit individu dipercaya berperan utama dalam patogenesis penyakit.

2.3 Faktor Host
Bagaimanapun juga, penderita panu dan subjek kontrol tidak memperlihatkan perbedaan kuantitatif atau kualitatif pada lemak di permukaan kulit.Lemak di permukaan kulit penting untuk kelangsungan hidup M furfur pada kulit manusia normal, namun M furfur mungkin sedikit berperan pada perkembangan (pathogenesis) panu.Bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa dibandingkan lemak, asam amino lebih berperan di dalam kondisi sakit (diseased state) atau dengan kata lain sedang terkena panu. Secara in vitro, asam amino asparagin menstimulasi pertumbuhan organisme, sedangkan asam amino lainnya, glisin, menginduksi (menyebabkan) pembentukan hifa. Pada dua riset yang terpisah, tampak bahwa secara in vivo, kadar asam amino meningkat pada kulit pasien yang tidak terkena panu. Faktor kausatif lainnya yang juga signifikan adalah sistem kekebalan tubuh/imun penderita. Meskipun sensitization melawan antigen M furfur biasa terlihat pada populasi umum (sebagaimana dibuktikan oleh studi/riset transformasi limfosit), fungsi limfosit pada stimulasi organisme terbukti lemah (impaired) pada penderita yang terserang panu. Hasil (outcome) ini sama dengan situasi sensitization dengan Candida albicans. Singkatnya, kekebalan tubuh yang diperantarai oleh sel (cell-mediated immunity) berperan pada penyebab (timbulnya) penyakit.

2.3 Environment
           
            Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Kecenderungan (predisposition) genetik.
 2. Lingkungan yang lembab, hangat.
 3. Immunosuppression.
 4. Malnutrition.
 5. Cushing disease.

2.4   Portal of  Entry dan Portal of  Exit
·      Portal of entry  : kulit
·      Portal of exit : kulit
2.5  Transmisi
·      Transmisi : Pityrosporum ovale adalah infeksi jamur superfisial yang ditandai dengan adanya makula  di kulit,
·         Preventif :
a.       Kebersihan (hygiene)
Kurangnya kebersihan memudahkan penyebaran panu.
b.      Hindari ligkungan yag lembab
c.       Tidak bergantian pakaian
d.      Regimen 1 tablet satu bulan ketoconazole, fluconazole, dan itraconazole telah sukses sebagai profilaksis yang mencegah kambuh lagi.
2.6   Pengobatan
       Panu berespon baik dengan terpi antimikotik oral maupun topikal. Banyak pasien yang menyukai terapi oral karena kenyamanannya.
·         Kategori obat: antijamur (antifungals)
Antijamur topikal membasmi panu secara temporer, meskipun perlu diulangi secara rutin dan teratur untuk mencegah kambuh lagi. Terapi oral untuk panu nyaman dan efektif, namun tidak mencegah kekambuhan. Suatu alternatif yang populer adalah pemberian fluconazole sekali sebulan (selama 6 bulan) dosis oral.
1. Nama Obat: Terbinafine (Lamisil)
 Mekanisme Kerja :
 Menghambat squalene epoxidase, yang menurunkan sintesis ergosterol, menyebabkan kematian sel jamur. Gunakan obat ini sampai gejala membaik secara signifikan.Durasi pengobatan sebaiknya lebih dari 1 minggu namun jangan lebih dari 4 minggu.
2. Nama Obat: Clotrimazole (Mycelex, Lotrimin-AF)
Mekanisme Kerja :
 Agen antijamur berspektrum luas (broad-spectrum antifungal agent) yang menghambat pertumbuhan ragi dengan mengubah permeabilitas membran sel, menyebabkan kematian sel.Diagnosis dievaluasi kembali jika tidak ada perbaikan klinis setelah 4 minggu.
3. Nama Obat: Ketoconazole (Nizoral)
Mekanisme Kerja :
 Obat ini merupakan agen sistemik dan topikal. Agen antijamur berspektrum luas, yang dapat menghambat sintesis ergosterol, menyebabkan kebocoran komponen seluler, sehingga menimbulkan kematian sel jamurMencapai kadar yang maksimal di kulit dengan dosis oral yang minimal. M furfur dapat dibasmi dengan pemberian ketoconazole di permukaan luar kulit. Panu sangat jarang dijumpai pada anak-anak, sehingga jangan memberikan terapi pada anak berusia kurang dari 10 tahun dengan ketoconazole oral.
4. Nama Obat: Ciclopirox (Loprox)
 Mekanisme Kerja :
 Berinteraksi (mengganggu) sintesis DNA, RNA, dan protein dengan menghambat transportasi elemen-elemen esensial pada sel-sel jamur.
5. Nama Obat: Butenafine (Mentax)
 Mekanisme Kerja :
 Merusak membran sel jamur sehingga menghentikan pertumbuhan sel jamur.
6. Nama Obat: Naftifine (Naftin)
Mekanisme Kerja
 Agen antijamur berspektrum luas dan derivat (turunan) allylamine sintetis dapat menurunkan sintesis ergosterol, sehingga juga menghambat pertumbuhan sel jamur. Jika tidak ada perbaikan klinis setelah 4 minggu, evaluasi kembali.
7. Nama Obat: Econazole (Spectazole)
Mekanisme Kerja
 Efektif untuk infeksi kulit. Berinteraksi (mengganggu) metabolisme dan sintesis RNA dan protein. Mengganggu permeabilitas membran dinding sel, menyebabkan kematian sel jamur.
8. Nama Obat: Oxiconazole (Oxistat)
 Mekanisme Kerja
Merusak membran dinding sel jamur dengan menghambat biosintesis ergosterol. Permeabilitas membran         , menyebabkan kebocoran nutrisi/makanan (nutrients), sehingga sel jamur mati.
Pengobatan panu harus dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten.
Ø  Obat-obatan yang dapat dipakai misalnya:
 1. Suspensi selenium sulfide (selsun) dapat dipakai sebagai
     sampo 2-3 kali seminggu. Obat ini digosokkan pada lesi
     dan didiamkan 15-30 menit, sebelum mandi.
 2. Salisil spiritus 10%
 3. Derivat-derivat azol, misalnya: mikonazol, klotrimazol,  
     isokonazol, dan ekonazol
 4. Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%
 5. Tolsiklat
 6. Tolnaftat
 7. Haloprogin
 8. Larutan tiosulfas natrikus 25% dapat juga digunakan,
     dioleskan sehari 2x setelah mandi selama 2 minggu.
 9. Jika sulit disembuhkan, ketokonazol dapat dipertimbangkan
     dengan dosis 1×200 mg sehari selama 10 hari.


 BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Pencegahan
Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Kecenderungan (predisposition) genetik.
            2. Lingkungan yang lembab, hangat.
 3. Immunosuppression.
 4. Malnutrition.
            5. Cushing disease.
·         Preventif :
Ø  Kebersihan (hygiene) , Kurangnya kebersihan memudahkan penyebaran panu.
Ø  Hindari ligkungan yag lembab
Ø  Tidak bergantian pakaian
Ø  Regimen 1 tablet satu bulan ketoconazole, fluconazole, dan itraconazole telah sukses sebagai profilaksis yang mencegah kambuh lagi. Obat-obatan yang dapat dipakai misalnya:
 1. Suspensi selenium sulfide (selsun) dapat dipakai sebagai
     sampo 2-3 kali seminggu. Obat ini digosokkan pada lesi
     dan didiamkan 15-30 menit, sebelum mandi.
 2. Salisil spiritus 10%
 3. Derivat-derivat azol, misalnya: mikonazol, klotrimazol,  
     isokonazol, dan ekonazol
 4. Sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20%
 5. Tolsiklat
 6. Tolnaftat
 7. Haloprogin
 8. Larutan tiosulfas natrikus 25% dapat juga digunakan,
     dioleskan sehari 2x setelah mandi selama 2 minggu.
 9. Jika sulit disembuhkan, ketokonazol dapat dipertimbangkan
     dengan dosis 1×200 mg sehari selama 10 hari.

  
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Panu merupakan penyakit kulit yang tidak berbahaya (benign skin disease) yang menyebabkan papula atau makula bersisik pada kulit. Sebagaimana namanya, tinea versikolor, (versi berarti beberapa) kondisi yang ada dapat memicu terjadinya perubahan warna (discoloration) pada kulit, berkisar dari putih menjadi merah menjadi coklat. Keadaan ini tidak menular karena patogen jamur kausatif (causative fungal pathogen) merupakan penghuni normal pada kulit.    
Kulit penderita panu dapat mengalami hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. Pada kasus hipopigmentasi, inhibitor tyrosinase (hasil dari aksi/kerja inhibitor tyrosinase dari asam dicarboxylic yang terbentuk melalui oksidasi beberapa asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acids) pada lemak di permukaan kulit) secara kompetitif menghambat enzim yang diperlukan dari pembentukan pigmen melanocyte. Pada kasus panu dengan makula hiperpigmentasi, organisme memicu pembesaran melanosom yang dibuat oleh melanosit di lapisan basal epidermis.
Organisme ini lebih cepat berkoloni/mendiami kulit manusia saat pubertas dimana lemak kulit meningkat lebih banyak dibandingkan pada masa remaja (adolescent) dan panu bermanifestasi di area yang “kaya minyak” atau sebum-rich areas (misalnya: di dada, punggung), variasi lemak di permukaan kulit individu dipercaya berperan utama dalam patogenesis penyakit.
4.2  Kritik dan Saran
 Saya menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karna itu saran dan kritik Bapak pembimbing sangat diperlukan.



DAFTAR PUSTAKA

Gupta AK, Ryder JE, Nicol K, Cooper EA. Superficial fungal infections: an update on pityriasis versicolor, seborrheic dermatitis, tinea capitis, and onychomycosis. Clin Dermatol. Sep-Oct 2003;21(5):417-25.
Lopez-Garcia B, Lee PH, Gallo RL. Expression and potential function of cathelicidin antimicrobial peptides in dermatophytosis and tinea versicolor. J Antimicrob Chemother. May 2006;57(5):877-82.
Okuda C, Ito M, Naka W, et al. Pityriasis versicolor with a unique clinical appearance. Med Mycol. Oct 1998;36(5):331-4.
Schwartz RA. Superficial fungal infections. Lancet. Sep 25-Oct 1 2004;364(9440):1173-82.
Silva H, Gibbs D, Arguedas J. A comparison of fluconazole with ketoconazole, itraconazole, and clotrimazole in the treatment of patients with pityriasis versicolor. Curr Ther Res. 1998;59:203-14.
Silva V, Di Tilia C, Fischman O. Skin colonization by Malassezia furfur in healthy children up to 15 years old. Mycopathologia. 1995-1996;132(3):143-5.
Silva V, Fischman O, de Camargo ZP. Humoral immune response to Malassezia furfur in patients with pityriasis versicolor and seborrheic dermatitis. Mycopathologia. 1997;139(2):79-85.
Silva-Lizama E. Tinea versicolor. Int J Dermatol. Sep 1995;34(9):611-7. Sohnle PG, Collins-Lech C. Activation of complement by Pityrosporum orbiculare. J Invest Dermatol. Feb 1983;80(2):93-7.
Vander Straten MR, Hossain MA, Ghannoum MA. Cutaneous infections dermatophytosis, onychomycosis, and tinea versicolor. Infect Dis Clin North Am. Mar 2003;17(1):87-112.
Crespo-Erchiga V, Florencio VD. Malassezia yeasts and pityriasis versicolor. Curr Opin Infect Dis. Apr 2006;19(2):139-47.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar