PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 11 Maret 2014

MASALAH PENYAKIT TB (TUBERKULOSIS)

Dr. Suparyanto, M.Kes

MASALAH PENYAKIT TB (TUBERKULOSIS)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberculosis yang pada umumnya menyerang jaringan paru, tetapi dapat juga menyerang organ lainya. Indonesia merupakan Negara berkembang sebagai penderita TBC terbesar ketiga di dunia setelah India dan Cina (Depkes RI, 2006).
Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 TBC di Indonesia merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit cardiovascular yang merupakan penyakit nomor satu terbesar dalam kelompok penyakit infeksi. Kemataian akibat TBC pada wanita lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan, dan nifas. Setiap tahun terjadi 583.000 penderita baru dan kematian karena TBC sekitar 140.000. Selain itu setiap 100.000 penduduk Indonesia terdapat 130 penderita TBC dengan BTA (+) (Barmawi, 2004).
Pada tahun 2005 Indonesia telah berhasil mancapai angka kesembuhan sesuai dengan target global yaitu sebesar 85% yang tetap dipertahankan dalam lima tahun terakhir ini. Penemuan kasus TBC di Indonesia pada tahun 2005 baru mencapai angka 67%. Angka ini belum mencapai target yang diharapkan yaitu sebesar 70%, tapi angka penemuan kasus TBC mengalami peningkatan hingga melewati target yang diharapkan yaitu sebesar 76% pada tahun 2006 (Depkes RI, 2007).
World Health Organization (WHO) merekomendasikan strategi Directly Observed Treatment Short–Cours) (DOTS) sebagai upaya pendekatan kesahatan yang paling tepat saat ini untuk menanggulangi masalah TBC di Indonesia khususnya keberhasilan dalam penemuan kasus TBC yang diharapkan dapat mencapai target. Beberapa fokus utama dalam pencapain target yaitu pengawasan minum obat, memperkuat mobilisasi, dan advokasi serta memperkuat kemitraan dan kolaborasi dengan berbagai tingkat (Anonim, 2008).
Target yang digunakan dalam penanggulangan TBC di Indonesia mengacu pada target global penanggulangan TBC yang ditentukan oleh The Global Plant to Stop TBC dari inisiatif stop TBC partnership dengan bantuan WHO antara lain pertama, pada akhir tahun 2005–2015 diharapkan tingkat penemuan kasus mencapai 70%. Kedua, pada tahun 2015 prevalensi dan kematian akibat TBC berkurang hingga 50% dibanding tahun 1990. Ketiga, pada tahun 2050 TBC tidak lagi menjadi masalah kesehatan dunia.
1.2  Tujuan
Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas keperawatan komunitas pada khususnya dan untuk membantu mahasiswa mengetahui masalah yang muncul pada kasus TBC serta cara penanganannya.


 
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis tipe Humanus. Kuman tuberkulosis pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Jenis kuman tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium africanum dan Mycobacterium bovis.
Basil tuberkulosis termasuk dalam genus Mycobacterium, suatu anggota dari family dan termasuk ke dalam ordo Actinomycetales. Mycobacterium tuberculosis menyebabkan sejumlah penyakit berat pada manusia dan juga penyebab terjadinya infeksi tersering .
Basil–basil tuberkel di dalam jaringan tampak sebagai mikroorganisme berbentuk batang, dengan panjang berfariasi antara 1 – 4 mikron dan diameter 0,3 – 0,6 mikron. Bentuknya sering agak melengkung dan kelihatan seperti manik – manik atau bersegmen. Basil tuberkulosis dapat bertahan hidup selama beberapa minggu dalam sputum kering, ekskreta lain dan mempunyai resistensi tinggi terhadap antiseptik, tetapi dengan cepat menjadi inaktif oleh cahaya matahari, sinar ultraviolet atau suhu lebih tinggi dari 60 0C.
Mycobacterium tuberculosis masuk ke dalam jaringan paru melalui saluran napas (droplet infection) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer. Selanjutnya menyebar ke getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks. Infeksi primer dan primer kompleks dinamakan TB primer, yang dalam perjalanan lebih lanjut sebagian besar akan mengalami penyembuhan.
2.2 Tuberkulosis dan Permasalahannya
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycrobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB di seluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga, kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat terhadap kehilangan pendapat tahunan  rumah tangga sekitar 20 – 30%. Jika meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatan sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara social – stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.
Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah :
·         Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara0negara yang sedang berkembang.
·         Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh :
-        Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
-        Tidak memadainya organisasi pelayanan TB ( kurang terakses oleh masyarakat, penemu kasus/diagnose yang tidak stadar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang stadar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis)
-        Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG
-        Infrastruktur kesehatan yang buruk pada Negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.
·         Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.
·         Dampak pandemic infeksi HIV
Situasi TB didunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada Negara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanagkan TB sebagai kedaruratan dunia ( global emergency).
Munculnya pandemic HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi TB dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemic TB yang sulit ditangani.
Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insiden kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk.
Selain itu masalah yang sangat sering dijumpai disekitar kita mengenai TB adalah sebagai berikut :
      Penjaringan suspek kurang sehingga penemuan BTA positif juga kurang
      Belum semua kasus TB di RS dicatat dan dievaluasi
      Belum semua kasus TB di RS ditatalaksana dengan strategi DOTS.
      Pemeriksaan dahak ulang pada akhir pengobatan sering tidak dilakukan
2.3 penanggulangan TB
Pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangaan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif ( cost-efective). Strategi ini dikembangkan dari berbagai studi, clinical trials, best practices, dan hasil implementasi program penanggulangan TB selama lebih dari dua decade. Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular, juga mencegah berkembangnya MDR-TB.
Focus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalan upaya pencegahan penularan TB.
Pada tahun 1995, WHO telah merekomendasikan strategi DOTS sebagai strategi dalam penanggulangan TB. Bank Dunia menyatakan strategi DOTS sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling efektif. Integrasi strategi DOTS ke dalam pelayanan kesehatan dasar sangat dianjurkan demi efisiensi dan efektifitasnya. Satu studi cost benefit yang dilakukan oleh WHO di Indonesia menggambarkan bahwa dengan menggunakan strategi DOTS, setipa dolar yang digunakan untuk menbiayai program penaggulangan Tb, akan menghemat sebesar US$ 55 selama 20 tahun
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci :
1.      Komitmen politis
2.      Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya
3.      Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan
4.      Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu
5.      System pencatatan dan pelaporan yang mampu menberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.
Dalam perkambangannya dalam upaya ekspansi penanggulangan TB, kemitraan global dalam penanggulangan TB (stop TB partnership) mengembangkan strategi sebagai berikut :
1.      Mencapai, mengoptimalkan dan mempertahankan mutu DOTS
2.      Merespon masalah TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya
3.      Berkontribusi dalam penguatan system kesehatan
4.      Melibatkan semua pemberi pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta
5.      Memberdayakan pasien dan masyarakat
6.      Melaksanakan dan mengembangkan riset
Komitmen politis untuk menjamin keberlangsungan program penanggulangan TB adalah sangat penting bagi keempat komponen lainnya agar dapat dilaksanakan secara terus menerus dan untuk menjamin bahwa program penanggulangan TB adalah prioritas serta menjadi bagian yang esensial dalam system kesehatan nasional.
Penanggulangan tuberculosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP-4). Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Obat anti tuberculosis (OAT) yang digunakan adalah panduan standar standar INH, PAS dan streptomisin selama satu sampai dua tahun. Para Amino Acid (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Sejak 1977mulai digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH, Rifampisin dan Ethambutol selama 6 bulan.
Sejak tahun 1995, program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkan pada Puskesmas secara bertahap. Sampai tahun 2000, hamper seluruh Puskesmas telah komitmen dan  melaksanakan strategi DOTS yang diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar
Di Indonesia,TB masih merupakan Negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia.
Tahun 1995, hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwa penyakit Tb merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari golongan penyakit infeksi
Sampai tahun 2005 program Penaggulangan TB dengan Strategi DOTS menjangkau 98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan BP4/RSP baru sekitar 30%
Organisasi Pelaksana Penanggulangan TB
a.       Tingkat pusat
Upaya penanggulangan Tb dilakukan melalui Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis (Gerdunas-TB) yang merupakan forum lintas sector dibawah koordinasi Menko Kesra. Menteri Kesehatan RI sebagai penanggung jawab teknis upaya penanggulangan TB
b.      Tingkat propinsi
Di tingkat propinsi dibentuk Gerdunas-TB Propinsi yang terdiri dari Tim pengarah dan Tim Teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
c.       Tingkat Kabupaten/ Kota
Di tingkat kabupaten / kota dibentuk Gerdunas-TB kabupaten / kota yang terdiri dari Tim pengarah dan Tim teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan kabupaten / kota
d.      Unit Pelayanan Kesehatan
Dilaksanakan oleh Puskesmas, Rumah Sakit, BP4/Klinik dan Praktek Dokter Swasta
·         Puskesmas
Dalam pelaksanaan di Puskesmas, dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang terdiri dari Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM), dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5 (lima) Puskesmas Satelit (PS)
Pada keadaan geografis yang sulit, dapat dibentuk Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan fasilitas pemeriksaan sputum BTA
·         Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Paru (RSP) dan BP4
Rumah Sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana pasien TB. Rumah Sakit dan BP4 dapat merujuk pasien kembali ke puskesmas yang terdekat dengan tempat tinggal pasien untuk mendapat pengobatan dan pengawasan selanjutnya.
·         Balai Pengobatan dan Dokter Praktek Swasta (DPS)
Secara umum konsep pelayanan di Balai pengobatan dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah sakit dan BP4. Klinik dan DPS dapat merujuk pasien dan specimen ke puskesmas, rumah sakit atau BP4.
2.4 Kerangka Kerja Strategi Penanggulangan Tuberkulosis 2006-2012
Rencana strategi 2001-2005 telah meletakkan dasar-dasar strategi DOTS yang telah membawa program Pengendalian Tuberkulosis menuju akselerasi dalam pencapainnya. Diharapkan dalam 5 tahun kedepan Indonesia dapat menurunkan angka prevalensi kasus BTA (+). Untuk itu diperlukan suatu strategi dalam pencapaian target yang telah ditetapkan.
Strategi ini terbagi strategi umum dan strategi khusus
a.       Strategi umum
Strategi ini meliputi :
1.      Ekspasi Program Pengandalian Tuberkulosis
Strategi dapat berupa konsolidasi lebih lanjut untuk mempertahankan cakupan dan mutu strategi DOTS
      Memperluas dan meningkatkan pelayanan DOTS yang bermutu. Pelayanan harus menjangkau semua orang tanpa membedakan latar belakang. Kelompok masyarakat rentan umumnya memiliki keterbatasan dalam hal akses pelayanan. Pemanfaatan pelayanan dan pengobatan yang bermutu adalah hak semua lapisan masyarakat.
      Menghadapi tantangan TB-HIV, MDR-TB dan tantangan lainnya
Epidemic HIV merupakan ancaman bagi program kedepan yang harus diantisipasi. Sedangkan MDR-TB merupakan resiko dari upaya ekspansi strategi DOTS, dimana keadaan ini bile tidak diantisipasi dengan baik akan menyebabkan meningkatkan biaya yang diperlukan untuk mengendalikan pasien MDR TB, yang pada akhirnya tidak terjangkau dalam pembiayaan system kesehatan nasional
      melibatkan seluruh penyediaan pelayanan kesehatan
masih banyak penyedia pelayanan kesehatan belum menerapkan strategi DOTS sehingga kedepan dalam upaya mencapai target dan meningkatkan akses mesyarakat terhadap pengobatan maka keterlibatan seluruh penyedia pelayanan kesehatan menjadi penting dengan tetap mempertahankan mutu
2.      Melibatkan Masyarakat dan mantan pasien
Permasalahan yang berkaitan dengan akses, pembiayaan pengobatan TB bagi pasien, optimalisasi infrakstruktur dan sumber daya manusia yang tersedia dapat dikurangi dengan pelayanan DOTS berbasis masyarakat
b.      Strategi Fungsional
1.         Memperkuat kebijakan dan membangun kepemilikan daerah terhadap program
2.         Memberikan kontribusi dalam penguatan system kesehatan dan pengelolaan program
3.         Memperkuat penelitian operasional
2.5         Kemitraan dalam Penanggulangan TB
Kemitraan program penanggulangan tuberculosis adalah suatu upaya melibatkan berbagai sector, baik dari pemerintahan, swasta maupun kelompok organisasi masyarakat, mengingat :
1.      Beban maslah TB yang tinggi
2.      Keterbatasan sector pemerintah
3.      Potensi melibatkan sector lain
4.      Keberlanjutan program
5.      Akuntabilitas, mutu dan transparasi
Tujuan kemitraan tuberculosis adalah terlaksananya upaya percepatan penanggulangan tuberculosis secara efektif dan efisien dan berkesinambungan
Untuk tujuan diatas perlu diwujudkan melalui :
      Meningkatkan koordinasi
      Meningkatkan komunikasi
      Meningkatkan sumber daya, kemampuan dan kekuatan bersama dalam upaya mencapai target program nasional dalam penanggulangan tuberculosis
      Meningkatkan komitmen
      Membuka peluang untuk saling membantu
Mitra dalam penanggulangan TB antara lain terdiri dari : sector pemerintah, legislative, sector swasta, organisasi pengusaha dan organisasi pekerja, kelompok media massa, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi/kelompok akademis, organisasi keagamaan, organisasi internasional dan sector lain yang terkait.
Peran dan Tanggung Jawab dalam Kemitraan
a.       Tanggung Jawab Pemerintah
Pemerintah, baik di tingkat Pusat maupun daerah bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, termasuk penanggulangan tuberculosis dan membangun kemitraannya
b.      Peran Mitra
Peran utama mitra adalah mendukung program nasional penanggulangan tuberculosis. Melaksanakan kegiatan penanggulangan sesuai dengan kapasitas dan kompetensi dari mitra, antara lain :
      Penyediaan sumber daya (SDM, sarana dan prasarana, dana, dll)
      Memberikan pelayanan
      Pemberdayaan masyarakat
      Menyediakan tenaga ahli


 BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycrobacterium tuberculosis. Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Hal tersebut berakibat terhadap kehilangan pendapat tahunan  rumah tangga sekitar 20 – 30%.
Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah :
·         Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara0negara yang sedang berkembang.
·         Kegagalan program TB selama ini.
·         Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan.
·         Dampak pandemic infeksi HIV
Selain itu masalah yang sangat sering dijumpai disekitar kita mengenai TB adalah sebagai berikut :
      Penjaringan suspek kurang sehingga penemuan BTA positif juga kurang
      Belum semua kasus TB di RS dicatat dan dievaluasi
      Belum semua kasus TB di RS ditatalaksana dengan strategi DOTS.
      Pemeriksaan dahak ulang pada akhir pengobatan sering tidak dilakukan
3.2  Saran
·           Karena program TB masih belum terlaksanan dengan tepat, maka seyogyanya pemerintah bekerjasama dengan berbagai lintas sector untuk menyukseskan program penanggulangan TB agar dapat meminimalkan angka kejadian TB di Indonesia
·           Selain itu masyarakat sendiri harus menyadari tentang pentingnya melakukan pemeriksaan secara dini apabila dicurigai terjangkit penyakit TB, serta melaporkan pengembangan kesehatannya, agar masalah tersebut dapat terselesaikan dengan tuntas

 
DAFTAR PUSTAKA

Manaf, Abdul . dkk. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Depertemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006
http://medicastore.com/tbc/penyakit_tbc.htm
http://medicastore.com/tbc/pengobatan_tbc.htm
http://www.suyotohospital.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=3&Itemid=2
TBC, http:// www.mediacastore.com/tbc/
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar