PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Senin, 10 Maret 2014

PENYAKIT HERPES ZOSTER

Dr. Suparyanto, M.Kes

PENYAKIT HERPES ZOOSTER




BAB I
PENDAHULUAN
1.2 Latar Belakang
Herpes zoster telah dikenal sejak zaman Yunani kuno. Herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama dengan varisela, yaitu virus varisela zoster. 1,2 Herpes zoster ditandai dengan adanya nyeri hebat unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut saraf spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dan nervus kranialis.3,4
       Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara pria dan wanita. Angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Diperkirakan terdapat antara 1,3-5 per 1000 orang per tahun. Lebih dari 2/3 kasus berusia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% kasus berusia di bawah 20 tahun. Patogenesis herpes zoster belum seluruhnya diketahui. Selama terjadi varisela, virus varisela zoster berpindah tempat dari lesi kulit dan permukaan mukosa ke ujung saraf sensorik dan ditransportasikan secara sentripetal melalui serabut saraf sensoris ke ganglion sensoris. Pada ganglion terjadi infeksi laten, virus tersebut tidak lagi menular dan tidak bermultiplikasi, tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk berubah menjadi infeksius. Herpes zoster pada umumnya terjadi pada dermatom sesuai dengan lokasi ruam varisela yang terpadat. Aktivasi virus varisela zoster laten diduga karena keadaan tertentu yang berhubungan dengan imunosupresi, dan imunitas selular merupakan faktor penting untuk pertahanan pejamu terhadap infeksi endogen.
Komplikasi herpes zoster dapat terjadi pada 10-15% kasus, komplikasi yang terbanyak adalah neuralgia paska herpetik yaitu berupa rasa nyeri yang persisten setelah krusta terlepas. Komplikasi jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, tetapi hampir 1/3 kasus terjadi pada usia di atas 60 tahun. Penyebaran dari ganglion yang terkena secara langsung atau lewat aliran darah sehingga terjadi herpes zoster generalisata. Hal ini dapat terjadi oleh karena defek imunologi karena keganasan atau pengobatan imunosupresi.
Secara umum pengobatan herpes zoster mempunyai 3 tujuan utama yaitu: mengatasi inveksi virus akut, mengatasi nyeri akut ynag ditimbulkan oleh virus herpes zoster dan mencegah timbulnya neuralgia paska herpetik.
1
1.2 Tujuan
·      Tujuan Umum
Mahasiswa dapat mengetahui penyakit herpes zoster
·      Tujuan Khusus
-          Mahasiswa mengetahui factor agent, host dan environment dari herpes zoster
-          Mahasiswa mengetahui pencegahan, pemberantasan dan pengobatan atau penatalaksanaan

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan vesikel unilateral, sesuai dengan dermatomanya (persyarafannya).
Herpes zoster adalah sutau infeksi yang dialami oleh seseorang yang tidak mempunyai kekebalan terhadap varicella (misalnya seseorang yang sebelumnya tidak terinfeksi oleh varicella dalam bentuk cacar air).
·      Epidemiologi
Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Di negara maju seperti Amerika, penyakit ini dilaporkan sekitar 6% setahun, di Inggris 0,34% setahun sedangkan di Indonesia lebih kurang 1% setahun. Herpes zoster terjadi pada orang yang pernah menderita varisela sebelumnya karena varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama yaitu virus varisela zoster. Setelah sembuh dari varisela, virus yang ada di ganglion sensoris tetap hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika daya tahan tubuh menurun. Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% usia di bawah 20 tahun. Kurnia Djaya pernah melaporkan kasus hepes zoster pada bayi usia 11 bulan.
·      Menurut lokasi lesinya, herpes zoster dibagi menjadi:
1.      Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf  trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit. Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan.



3
                Gambar 1. Herpes zoster oftalmikus sinistra.
2.      Herpes zoster fasialis
Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gasseri yang menerima serabut saraf fasialis (N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 2. Herpes zoster fasialis dekstra.
3.      Herpes zoster brakialis
Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 3. Herpes zoster brakialis sinistra.

4

4.      Herpes zoster torakalis
Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 4. Herpes zoster torakalis sinistra.

5.      Herpes zoster lumbalis
Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
6.      Herpes zoster sakralis
Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 5. Herpes zoster sakralis dekstra.




5
2.2 Faktor Agent
     Secara umum, seluruh jenis penyakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk, pakaian yang tercemar dan sentuhan keatas gelembung/lepuh yang pecah. Seseorang yang telah mengalami cacar air kemudian sembuh, sebenarnya virus tidak 100% hilang dari dalam tubuhnya, melainkan bersembunyi didalam sel ganglion dorsalis system saraf sensoris penderita. Ketika daya tahan tubuh (immun) melemah, virus akan kembali menyerang dalam bentuk herpes zoster dimana gejala yang ditimbulkan sama dengan penyakit cacar air (chickenpox). Bagi seseorang yang belum pernah mengalami cacar air, apabila terserang virus varicella  zoster maka tidak langsung mengalami penyakit herpes akan tetapi mengalami cacar air telebih dahulu.
2.3 Faktor Host
Cara penularan penyakit cacar air (herpes) secara umum , seluruh jenis penyaakit herpes dapat menular melalui kontak langsung. Namun pada herpes zoster, seperti yang terjadi pada penyakit cacar (chickenpox), proses penularan bisa melalui bersin, batuk,, pakaian yang tercemar dan sentuhan keatas gelembung/lepuh yang pecah.
2.4 Faktor Environment
Lingkungan yang tidak terpelihara akan gampang sekali untuk terkena penyakit bagi para penduduknya, terutama penyakit menular. Agar semua yang kita takutkan selama  ini tidak menimpa kita dan penduduk yang lain, maka alangkah lebih baiknya kita sama-sama menjaga lingkungan hidup kita, karena tidak ada yang membersihkannya, kecuali dengan usaha kita agar terjadi penyakit yang dapat menular ke semua penduduk.
Unsur penyebab penyakit adalah unsur biologis. Butuh tempat ideal berkembang biak dan bertahan. Reservoir adalah organisme hidup/mati, dimana penyebab penyakit hidup normal dan berkembang biak. Reservoir dapat berupa manusia
2.5 Portal of Entry and Portal of Exit
·      Portal of Entry
Pintu masuknya agent kedalam host melalui oral (udara pernapasan) dan kulit
6
·       Portal of Exit
Pintu keluarnya agent dari host melalui napas dan kulit (sentuhan)
2.6 Tranmisi
Herpes zoster ditularkan antar manusia melalui kontak langsung, salah satunya adalah melalui pernapasan (oral udara) atau sekresi respirasi atau terkadang melalui transfer langsung dari kulit melalui tranmisi fetomaternal, sehingga virus tersebut dapat menjadi epidemik di antara inang yang rentan. Resiko terjangkit herpes zoster terkait dengan pertambahan usia. Hal ini berkaitan adanya immunosenescence, yaitu penurunan sistem imun secara bertahap sebagai bagian dari proses penuaan. Selain itu, hal ini juga terkait dengan penurunan jumlah sel yang terkait dalam imunitas melawan virus varicella-zoster pada usia tertentu. Penderita imunosupresi, seperti pasien HIV/AIDS yang mengalami penurunan CD4 sel-T, akan berpeluang lebih besar menderita herpes zoster sebagai bagian dari infeksi oportunistik.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pencegahan
Untuk mencegah herper zoster, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah pemberian vaksinasi. Vaksin berfungsi untuk meningkatkan respon spesifik limfosit sitotoksik terhadap virus tersebut pada pasien seropositif usia lanjut.Vaksin herpes zoster dapat berupa virus herpes zoster yang telah dilemahkan atau komponen selular virus tersebut yang berperan sebagai antigen.Penggunaan virus yang telah dilemahkan telah terbukti dapat mencegah atau mengurangi risiko terkena penyakit tersebut pada pasien yang rentan, yaitu orang lanjut usia dan penderita imunokompeten, serta imunosupresi.
3.2 Pemberantasan
    Untuk memberantas cacar/herpes, setiap wabah harus dihentikan dari menyebarnya, isolasi khusus dengan vaksinasi semua orang yang tinggal didekat. Proses ini dikenal sebagai dikenal sebagai “cincin vaksinasi”. Kunci untuk starategi ini pemantauan kasus dalam masyarakat (dikenal sebagai pengawasan ) dan penahanan.
3.3 Pengobatan/Penatalaksanaan
Pengobatan terhadap herpes zoster terdiri dari tiga hal utama yaitu pengobatan infeksi virus akut, pengobatan rasa sakit akut yang berkaitan dengan penyakit tersebut, dan pencegahan terhadap neuralgia pascaherpes. Penggunaan agen antiviral dalam kurun waktu 72 jam setelah terbentuk ruam akan mempersingkat durasi terbentuknya ruam dan meringankan rasa sakit akibat ruam tersebut. Apabila ruam telah pecah, maka penggunaan antiviral tidak efektif lagi. Contoh beberapa antiviral yang biasa digunakan untuk perawatan herpes zoster adalah Acyclovir, Famciclovir, dan Valacyclovir.
Untuk meringankan rasa sakit akibat herpes zoster, sering digunakan kortikosteroid oral (contoh prednisone). Sedangkan untuk mengatasi neuralgia pascaherpes digunakan analgesik (Topic agents), antidepresan trisiklik, dan antikonvulsan (antikejang).
Contoh analgesik yang sering digunakan adalah krim (loion) yang mengandung senyawa calamine, kapsaisin, dan xylocaine. Antidepresan trisiklik dapat aktif mengurangi sakit akibat neuralgia pascaherpes karena menghambat penyerapan kembali neurotransmiter serotonin dan norepinefrin. Contoh antidepresan trisiklik yang digunakan untuk perawatan herpes zoster adalah Amitriptyline, Nortriptyline, Nortriptyline, dan Nortriptyline. Untuk mengontrol sakit neuropatik, digunakan antikonvulsan seperti Phenytoin, carbamazepine, dan gabapentin.

9
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Herpes zoster adalah radang kulit akut yang bersifat khas seperti gerombolan vesikel unilateral, sesuai dengan dermatomanya (persyarafannya).
 Cara penularan herpes zoster dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu
·      Factor agent
·      Factor host
·      Environment
·      Tranmisi
4.2 Saran
Kami menyadari bahwa tiada gading yang tak retak. Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu kami segenap tim penyusun mohon maklum adanya karna kami masih dalam tahab pembelajaran. Akhir kata kami segenap tim penyusun mohon tanggapan berupa kritik dan saran yang membangun.

DAFTAR PUSTAKA
  1. Arif M, Mansjoer. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 2. Jakarta : Media Aesculapius
  2. Enjantjang, Indan. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi. Bandung : PT.Citra Aditya Bakti
  3. DjuandaA,Djuanda S, Hamzah M.,Aisah S.,editor.1993. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.Edisi Kedua. Jakarta : Fakultas Kedokteran Indonesia
  4. Arnold HL, Odom Rb, James WD.Andrews disease of the skin.1990. Clinical dermatology.8th ed. Philadhephia WB Saunders Company
  5. http://nyomankandun.tripod.com/sitebuildercontent/sitebuilderfiles/manual_p2m.pdf




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar