PERINGATAN

Dilarang meng-copy materi dari blog ini, tanpa mencantumkan nama penulis dan alamat web (URL). Terima Kasih

Selasa, 11 Maret 2014

MASALAH POSYANDU

Dr. Suparyanto, M.Kes

MASALAH POSYANDU

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Pembangunan kesehatan diarahkan untuk terciptanya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk, agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal sebagaimana tercantum pada pasal 3 Undang Undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Dalam permenkes RI No. 741/menkes/per/VII/2008 tentang standar pelayanan minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota pada bab 2 pasal 2 ayat 2a dijelaskan bahwa cakupan kunjungan ibu hamil k4 95 % pada tahun 2015, cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % pada tahun 2015, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 90 % pada tahun 2015, cakupan pelayanan nifas 90 % pada tahun 201, cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80 % pada tahun 2010, cakupan kunjungan bayi pada tahun 2010, cakupan desa/kelurahan universal child immunization 100 % pada tahun 2010, cakupan pelayan anak balita 90 % pada tahun 2010, cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 – 24 bulan 100 % pada tahun 2010, cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100 % pada tahun 2010, cakupan peserta KB aktif 70 % pada tahun 2010, dengan melihat indikator di atas tentu hal ini akan membutuhkan suatu upaya-upaya yang strategis yang harus segera dilakukan secepatnya. Dan salah satunya adalah pemberdayaan masyarakat melalui Upaya Kesehatan bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi yakni pos pelayanan terpadu (Posyandu).
Sejalan dengan otonomi daerah (desentralisasi pelayanan dasar) kehadiran posyandu semakin lama semakin berkurang tidak saja jumlahnya tetapi juga kegiatannya.Pernyataan otonomi menurunkan aktivitas posyandu ini didukung oleh Menkes Siti Fadilah.Masalah ini akhirnya disadari oleh pemerintah, dan mulai mengadakan program revitalisasi, seperti dalam ucapan pidato kenegaraan tahun 2006 oleh presiden bahwa "pemerintah akan terus berupaya, untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, guna menjangkau seluruh lapisan masyarakat.Kegiatan penyuluhan kesehatan, termasuk kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) juga mulai diaktifkan kembali. Hal ini sejalan dengan diterbitkannya Pedoman umum revitalisasi posyandu beberapa tahun yang lalu melalui surat edaran menteri dalam negeri dan otonomi daerah nomor : 411.3/1116/SJ tanggal 13 juni 2001.
Agar Posyandu dapat melaksanakan fungsinya, maka perlu upaya-upaya revitalisasi fungsi dan kinerjanya yang selama ini belum menunjukkan hasil yang optimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pengguna (user) Posyandu.Dimana dalam hal ini harus didukung oleh peningkatan peranan kader yang lebih berkualitas, tersedianya sarana dan prasarana, dukungan peran serta masyarakat setempat melalui kesadaran para pengguna posyandu itu sendiri serta adanya kerjasama dan sinergitas lintas sektor yang terkait.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



2.1  POSYANDU

2.1.1  Sejarah Lahirnya Posyandu
Perkembangan berbagai upaya kesehatan dengan prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat diharapkan dapat menguntungkan masyarakat, karena memberikan kemudahan bagi masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, sehingga pada tahun 1984 dikeluarkanlah Instruksi Bersama antara Menteri Kesehatan, Kepala BKKBN dan Menteri Dalam Negeri, yang mengintegrasikan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat ke dalam satu wadah yang disebut dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU). Kegiatan yang dilakukan, diarahkan untuk lebih mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi, yang sesuai dengan konsep ke dalam 5 kegiatan Posyandu, yaitu KIA, KB, Imunisasi, Gizi dan penanggulangan diare.

 2.1.2 Pengertian Posyandu
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi ( Depkes RI, 2006 ).
Setiap orang pasti sudah mendengar isitilah Posyandu atau Pos Pelayanan
Terpadu karena keberadaannya hampir di setiap kampung / lingkungan.Lalu seberapa
jauhkah masyarakat menilai fungsi dari Posyandu tersebut dan seberapa besarkah
manfaatnya bagi pembangunan kesehatan yang bertujuan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat terutama bagi masyarakat desa / kampung.Posyandu atau yang
dahulu dikenal dengan Pos Penimbangan merupakan pintu utama untuk meningkatkan
kondisi kesehatan di masyarakat di suatu wilayah kecil atau kampung.Keberadaan
Posyandu sangat membantu kinerja Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dalam
menjalankan tugasnya meningkatkan derajat kesehatan yang menjangkau hingga
masyarakat kecil.Dengan bantuan para kader yang berada dalam Posyandu tersebut
akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar (imunisasi, pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan) dapat terpenuhi.
Konsep awal pemerintah mencanangkan adanya Pos Penimbangan/Posyandu
adalah menurunkan angka malnutrisi dengan cara mendorong masyarakat untuk
melakukan monitoring pertumbuhan anak Balita, memberikan PMT (Pemberian
Makanan Tambahan) pemulihan dan zat gizi mikro serta penyuluhan gizi. Pada saat ini
Posyandu sudah mengalami perubahan pelayanan kesehatan hingga pemeriksaan ibu
hamil dan pelayanan sanitasi dasar.Namun sampai saat ini upaya-upaya tersebut
belum menunjukkan hal yang berarti, tetap saja angka malnutrisi dan kematian ibu dan
anak tetap tinggi.
Sebagai contoh, dalam hal penanganan balita malnutrisi, pendekatan tradisional
yang selama ini dilakukan, lebih cenderung untuk mencari masalah di dalam masyarakat
yang perlu diselesaikan, misalnya, apabila ditemukan banyak anak yang malnutrisi maka
solusinya adalah memberikan makanan yang bergizi kepada mereka tanpa menekankan
kepada perubahan perilaku keluarga. Makanan yang diberikan umumnya berasal dari
luar dan sulit untuk diperoleh oleh masyarakat setelah proyek berhenti, baik karena
faktor ketersediaan maupun keterjangkauan masyarakat untuk memperolehnya.
Akibatnya anak akan kembali ke keadaan semula (malnutrisi) sesaat setelah kegiatan
pemberian makan berakhir. Ini merupakan pemborosan yang sangat luar biasa karena
telah kita ketahui tidak sedikit dana yang dikeluarkan pemerintah untuk melaksanakan
kegiatan penanggulangan masalah malnutrisi ini.
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merubah situasi tersebut tanpa
mengurangi arti dari kegiatan kesehatan yang ada?.ita bisa lihat mulai dari sekarang dari keberadaan Posyandu itu sendiri. Apakah selamanya akan bergerak 1 bulan sekali hanya melayani penimbangan balita, pelayanan KB dan pemeriksaan ibu hamil secara berkala atau hanya sesekali diadakan kegiatan promosi kesehatan yang terkadang diulang-ulang materi penyuluhan tertentu. Jika seperti ini terus dilaksanakan masalah malnutrisi dan kematian ibu dan balita tidak akan pernah menurun. Posyandu itu sendiri harus direvitalisasi menjadi suatu sarana yang dapat menambah nilai plus bagi kegiatan posyandu itu sendiri dan bagi usaha peningkatan derajat kesehatan terutama dalam menangani masalah malnutrisi dan kematian ibu dan anak.
Posyandu dapat kita jadikan sebagai pusat kegiatan kesehatan berbasis masyarakat yang efektif dan efisien sehingga pemerataan akses pelayanan kesehatan
dasar dapat dirasakan oleh semua masyarakat terutama masyarakat pedesaan.
Posyandu dapat kita jadikan sebagai tempat pendidikan anak usia dini, tempat
penanggulangan masalah malnutrisi dan sebagai tempat pendidikan para pasangan usia
subur (PUS) dan ibu hamil.
Posyandu sebagai tempat pendidikan anak usia dini. Program untuk anak usia dini harus diprioritaskan jika negara ingin meningkatkan kualitas SDM karena kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan pada awal kehidupan (usia dini) setiap individu merupakan dasar yang sangat penting untuk pembentukan suatu masyarakat di masa datang. Posyandu sbagai bentuk nyata tempat pendidikan anak usia dini bertujuan untuk :
1. Memampukan keluarga dalam mempraktekkan pola asuh, asih dan asah yang
disarankan untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan
anak.
2. Meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar yang memadai bagi ibu
dan anak.
3. Mengembangkan potensi anak yang dibawa sejak lahir melalui kegiatan-kegiatan
dan interaksi yang memacu perkembangan fisik, mental dan psiko-sosial.
Posyandu sebagai tempat pendidikan anak usia dini ini memiliki sasaran utama yaitu
orangtua/pengasuh, anak usia 0 – 5 tahun, ibu hamil dan menyusui. Kegiatan posyandu
ini adalah :
• Pelayanan dasar kesehatan untuk pencegahan oleh petugas kesehatan, kader dan
dukun paraji terlatih
• Deteksi dini dan kegiatan untuk memacu perkembangan fisik, mental/kognisi dan
sosial anak Balita di Posyandu, dilakukan bersama oleh kader terlatih dan
orangtua/pengasuh anak
• Pendidikan bagi orang orangtua/pengasuh
• Perbaikan gizi bagi anak yang malnutrisi
Posyandu sebagai tempat penanggulangan malnutrisi. Tujuan dari Posyandu sebagai tempat penanggulangan anak malnutrisi adalah sebagai berikut :
1.      Merehabilitasi secara cepat anak Balita yang teridentifikasi menderita malnutrisi
2. Memampukan keluarga untuk mempertahankan status gizi lebih baik yang sudah
dicapai, dengan mempraktekkan pola asuh, asih dan asah yang disarankan
3. Mencegah terjadinya kasus-kasus malnutrisi pada anak-anak yang lahir berikutnya
dengan perubahan positif pola asuh, asih dan asah dalam keluarga.
Pendekatan yang dapat digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan yang
tidak memerlukan biaya banyak sehingga setiap posyandu dapat melakukan kegiatan
ini. Sebagai contoh kita dapat menggunakan pendekatan Positive Deviance.
Pendekatan ‘Positive Deviance’ adalah pendekatan pembangunan yang didasarkan
atas pengamatan bahwa di dalam setiap kelompok masyarakat, pasti ada beberapa
individu yang berperilaku dan mempunyai strategi khusus yang membuat mereka
mampu menemukan solusi dalam memecahkan masalah, sekalipun mereka mempunyai
akses yang sama terhadap sumber daya. Solusi untuk memecahkan masalah-masalah
yang terjadi di masyarakat sebenarnya sudah ada di dalam masyarakat itu sendiri,
namun mungkin belum disadari oleh sebagian besar masyarakat. Cara pemecahan
masalah yang ditemukan di dalam masyarakat diyakini akan lebih mudah ditiru dan
penerapannya akan lebih langgeng dibandingkan jika cara pemecahan masalah tersebut
berasal dari luar. Ada juga pendekatan lain yaitu Perbaikan dan Pendidikan Gizi
Berbasis Masyarakat yang memiliki prinsip sebagai berikut :
• Kemiskinan bukan penyebab utama kekurangan gizi, karena ditemukan beberapa
keluarga miskin yang anaknya sehat (gizi baik) karena menerapkan pola asuh yang
baik.
• Kekurangan gizi pada umumnya disebabkan oleh praktek pemberian makan/pola
asuh yang tidak benar sehingga pendidikan gizi ini bertujuan untuk menurunkan
jumlah anak yang kurang gizi dengan perubahan perilaku.
• Pada saat kegiatan, orangtua/pengasuh belajar perilaku positif bersama-sama dan
mempraktekkannya di rumah.
2.      • Kegiatan sangat membutuhkan dukungan dari aparat desa, LPM, PKK, BPD dan
masyarakat.
• Memanfaatkan bahan yang tersedia di rumah/sekitar untuk makanan anak (bisa
dibeli dengan harga terjangkau, atau diperoleh dari kebun/pekarangan, dll).
• Penyediaan bahan makanan pada waktu sesi pendidikan dan perbaikan gizi
ditanggung bersama oleh keluarga peserta dan masyarakat.
Posyandu sebagai tempat pendidikan untuk Pasangan Usia Subur dan ibu hamil
Ketidaktahuan para pasangan usia subur dan ibu hamil dalam kesehatan
reproduksi dan kesehatan pada saat kehamilan serta pentingnya pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan merupakan faktor yang ikut berkontribusi pada angka kematian
ibu dan anak. Untuk mencegah dan mengurangi ketidaktahuan ini posyandulah yang
berperan aktif memeranginya. Melalui kegiatan kelompok ibu hamil yang dikembangkan, semua ibu hamil dapat kita jangkau melalui promosi kesehatan khusus mengenai permasalahan kehamilan. Disinilah peran serta dari bidan desa, kader dan dukun terlatihikut andil dalam kegiatan ini. Kegiatan ini juga akan mendorong suatu kerjasama yangdinamis antara bidan desa, kader dan dukun paraji terlatih dalam menangani persalinan.Diharapkan dari kegiatan ini adalah perubahan perilaku dari masyarakat terutama dalampenanganan persalinan oleh tenaga kesehatan. Dalam kegiatan Posyandu Plus, peningkatan kapasitas kader terutama dalam hal memfasilitasi bidang kesehatan sangat diperlukan karena kaderlah yang akan berperan aktif dalam perwujudan Posyandu Plus ini. Selain itu, bidan desa dan puskesmas berkewajiban membantu dalam peningkatan kapasitas kader, monitoring kegiatan danikut terlibat dalam menjalankan kegiatan Posyandu Plus ini. Peran serta masyarakatsekitar posyandu pun sangat membantu sekali dalam proses perjalanan kegiatansehingga diharapkan Posyandu Plus ini dapat berkelanjutan dengan baik. Pada intinyaposyandu Plus ini bertujuan untuk perubahan perilaku kesehatan pada masyarakatsehingga derajat kesehatan masyarakat pun ikut meningkat. Sudah saatnya sekarangpemberdayaan masyarakat disetiap kegiatan harus diutamakan, masyarakat harusdilibatkan dalam setiap kegiatan dan kontribusi dari masyarakat harus benar-benar digalikarena kita yakin masyarakat kita adalah masyarakat yang mampu dalam segala halapalagi didukung oleh potensi sumber daya yang ada.

2.1.3 Tujuan Umum dan Khusus Posyandu
a.         Tujuan umum posyandu adalah menunjang percepatan penurunan
angka kematian ibu(AKI) dan angka kematian bayi(AKB) di indonesia melalui upaya pemberdayaan masyarakat.
   b.   Tujuan khusus posyandu adalah sebagai berikut :
     a. Meningkatkan peran masyarakat dalam penyelenggaran upaya kesehatan   dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
    b. Meningkatkan peran lintas sektor dalam penyelenggaraan posyandu, terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
    c. Meningkatnya cakupan dan jangkauan pelayanan kesehatan dasar, terutama yang berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
2.1.4  Sasaran
 1. Bayi berusia kurang dari 1 tahun
  2. Anak balita usia 1 sampai dengan 5 tahun
 3. Ibu hamil, Ibu menyusui dan Ibu nifas
  4. Wanita usia subur.

2.1.5 Pembentukan
Posyandu dibentuk dari pos-pos yang telah ada seperti :
 1. Pos penimbangan balita
 2. Pos imunisasi
 3.Pos keluarga berencana desa
    4.Pos kesehatan
    5. Pos lain yang dibentuk baru.

2.1.6  Persyaratan
    1. Penduduk RW tersebut paling sedikit terdapat 100 oran balita
    2. Terdiri dari 120 kepala keluarga
    3.Disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa)
    4.Jarak antara kelompok rumah, jumlah KK dlam satu tempat atau kelompok tidak jauh.

2.1.7  Fungsi Posyandu
    1. Sebagai wadah pemberdayaan masyarakat dalam alih informasi dan keterampilan dari
petugas kepada masyarakat dan antar sesama masyarakat dalam rangka mempercepat
penurunan AKI dan AKB.
 2. Sebagai wadah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar, terutama berkaitan
dengan  penurunan AKI dan AKB.
2.1.8 Manfaat Posyandu
   1. Bagi masyarakat
   a. Memperoleh kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan dasar,  
terutama berkaitan dengan penurunan AKI dan AKB.
   b. Memperoleh bantuan secara profesional dalam pemecahan masalah kesehatan terutama
terkait kesehatan ibu dan anak.
   c. Efisiensi dalam mendapatkan pelayanan terpadu kesehatan dan sektor lain terkait.
2. Bagi kader, pengurus Posyandu dan tokoh masyarakat
   a. Mendapatkan informasi terdahulu tentang upaya kesehatan yang terkait dengan
penurunan AKI dan AKB.
   b. Dapat mewujudkan aktualisasi dirinya dalam membantu masyarakat menyelesaikan
masalah kesehatan terkait dengan penurunan AKI dan AKB.
 3. Bagi Puskesmas
    a. Optimalisasi fungsi Pusskesmas sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan
kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
   b. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah kesehatan sesuai
kondisi setempat.
c. Meningkatkan efisiensi waktu, tenaga dan dana melalui pemberian pelayanan secara
terpadu.
4. Bagi sektor lain
   a. Dapat lebih spesifik membantu masyarakat dalam pemecahan masalah sektor terkait,
utamanya yang terkait dengan upaya penurunan AKI dan AKB sesuai kondisi setempat.
   b. Meningkatkan efisiensi melalui pemberian perlayanan secara terpadu sesuai dengan
tupoksi masing-masing sektor.
2.1.9        Nilai guna posyandu menjadi efektif dan efisiensi
Setiap orang pasti sudah mendengar isitilah Posyandu atau Pos Pelayanan
Terpadu karena keberadaannya hampir di setiap kampung / lingkungan.Lalu seberapa
jauhkah masyarakat menilai fungsi dari Posyandu tersebut dan seberapa besarkah
manfaatnya bagi pembangunan kesehatan yang bertujuan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat terutama bagi masyarakat desa / kampung.Posyandu atau yang
dahulu dikenal dengan Pos Penimbangan merupakan pintu utama untuk meningkatkan
kondisi kesehatan di masyarakat di suatu wilayah kecil atau kampung.Keberadaan
Posyandu sangat membantu kinerja Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) dalam
menjalankan tugasnya meningkatkan derajat kesehatan yang menjangkau hingga
masyarakat kecil.Dengan bantuan para kader yang berada dalam Posyandu tersebut
akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar (imunisasi, pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan) dapat terpenuhi. Konsep awal pemerintah mencanangkan adanya Pos Penimbangan/Posyandu adalah menurunkan angka malnutrisi dengan cara mendorong masyarakat untuk melakukan monitoring pertumbuhan anak Balita, memberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) pemulihan dan zat gizi mikro serta penyuluhan gizi. Pada saat ini
Posyandu sudah mengalami perubahan pelayanan kesehatan hingga pemeriksaan ibu
hamil dan pelayanan sanitasi dasar.Namun sampai saat ini upaya-upaya tersebut
belum menunjukkan hal yang berarti, tetap saja angka malnutrisi dan kematian ibu dan
anak tetap tinggi.
Sebagai contoh, dalam hal penanganan balita malnutrisi, pendekatan tradisional
yang selama ini dilakukan, lebih cenderung untuk mencari masalah di dalam masyarakat yang perlu diselesaikan, misalnya, apabila ditemukan banyak anak yang malnutrisi maka solusinya adalah memberikan makanan yang bergizi kepada mereka tanpa menekankan kepada perubahan perilaku keluarga. Makanan yang diberikan umumnya berasal dari luar dan sulit untuk diperoleh oleh masyarakat setelah proyek berhenti, baik karena faktor ketersediaan maupun keterjangkauan masyarakat untuk memperolehnya.
          Akibatnya anak akan kembali ke keadaan semula (malnutrisi) sesaat setelah kegiatan pemberian makan berakhir. Ini merupakan pemborosan yang sangat luar biasa karena telah kita ketahui tidak sedikit dana yang dikeluarkan pemerintah untuk melaksanakan kegiatan penanggulangan masalah malnutrisi ini. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk merubah situasi tersebut tanpa mengurangi arti dari kegiatan kesehatan yang ada? Kita bisa lihat mulai dari sekarang dari keberadaan Posyandu itu sendiri. Apakah selamanya akan bergerak 1 bulan sekali hanya melayani penimbangan balita, pelayanan KB dan pemeriksaan ibu hamil secara berkala atau hanya sesekali diadakan kegiatan promosi kesehatan yang terkadang diulang-ulang materi penyuluhan tertentu. Jika seperti ini terus dilaksanakan masalah malnutrisi dan kematian ibu dan balita tidak akan pernah menurun. Posyandu itu sendiri harus direvitalisasi menjadi suatu sarana yang dapat menambah nilai plus bagi kegiatan posyandu itu sendiri dan bagi usaha peningkatan derajat kesehatan terutama dalam menangani masalah malnutrisi dan kematian ibu dan anak.Posyandu dapat kita jadikan sebagai pusat kegiatan kesehatan berbasis masyarakat yang efektif dan efisien sehingga pemerataan akses pelayanan kesehatan dasar dapat dirasakan oleh semua masyarakat terutama masyarakat pedesaan. Posyandu dapat kita jadikan sebagai tempat pendidikan anak usia dini, tempat penanggulangan masalah malnutrisi dan sebagai tempat pendidikan para pasangan usia subur (PUS) dan ibu hamil. Posyandu sebagai tempat pendidikan anak usia dini Program untuk anak usia dini harus diprioritaskan jika negara ingin meningkatkan kualitas SDM karena kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan pada awal kehidupan (usia dini) setiap individu merupakan dasar yang sangat penting untuk pembentukan suatu masyarakat di masa datang. Posyandu sebagai bentuk nyata tempat pendidikan anak usia dini bertujuan untuk :
1. Memampukan keluarga dalam mempraktekkan pola asuh, asih dan asah yang
disarankan untuk menjamin kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan
anak.
2. Meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan dasar yang memadai bagi ibu
dan anak.
3.      Mengembangkan potensi anak yang dibawa sejak lahir melalui kegiatan-kegiatan
dan interaksi yang memacu perkembangan fisik, mental dan psiko-sosial.
Posyandu sebagai tempat pendidikan anak usia dini ini memiliki sasaran utama yaitu
orangtua/pengasuh, anak usia 0 – 5 tahun, ibu hamil dan menyusui. Kegiatan posyandu
ini adalah :
• Pelayanan dasar kesehatan untuk pencegahan oleh petugas kesehatan, kader dan
dukun paraji terlatih
• Deteksi dini dan kegiatan untuk memacu perkembangan fisik, mental/kognisi dan
sosial anak Balita di Posyandu, dilakukan bersama oleh kader terlatih dan
orangtua/pengasuh anak
• Pendidikan bagi orang orangtua/pengasuh
• Perbaikan gizi bagi anak yang malnutrisi
Posyandu sebagai tempat penanggulangan malnutrisi Tujuan dari Posyandu sebagai tempat penanggulangan anak malnutrisi adalah sebagai berikut :
1. Merehabilitasi secara cepat anak Balita yang teridentifikasi menderita malnutrisi
2. Memampukan keluarga untuk mempertahankan status gizi lebih baik yang sudah
dicapai, dengan mempraktekkan pola asuh, asih dan asah yang disarankan
3.Mencegah terjadinya kasus-kasus malnutrisi pada anak-anak yang lahir berikutnya
dengan perubahan positif pola asuh, asih dan asah dalam keluarga.
Pendekatan yang dapat digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan yang
tidak memerlukan biaya banyak sehingga setiap posyandu dapat melakukan kegiatan
ini.Sebagai contoh kita dapat menggunakan pendekatan Positive Deviance.
Pendekatan ‘Positive Deviance’ adalah pendekatan pembangunan yang didasarkan
atas pengamatan bahwa di dalam setiap kelompok masyarakat, pasti ada beberapa
individu yang berperilaku dan mempunyai strategi khusus yang membuat mereka
mampu menemukan solusi dalam memecahkan masalah, sekalipun mereka mempunyai
akses yang sama terhadap sumber daya. Solusi untuk memecahkan masalah-masalah
yang terjadi di masyarakat sebenarnya sudah ada di dalam masyarakat itu sendiri,
namun mungkin belum disadari oleh sebagian besar masyarakat.
          Cara pemecahan masalah yang ditemukan di dalam masyarakat diyakini akan lebih mudah ditiru dan penerapannya akan lebih langgeng dibandingkan jika cara pemecahan masalah tersebut berasal dari luar. Ada juga pendekatan lain yaitu Perbaikan dan Pendidikan Gizi Berbasis Masyarakat yang memiliki prinsip sebagai berikut :
• Kemiskinan bukan penyebab utama kekurangan gizi, karena ditemukan beberapa
keluarga miskin yang anaknya sehat (gizi baik) karena menerapkan pola asuh yang
baik.
• Kekurangan gizi pada umumnya disebabkan oleh praktek pemberian makan/pola
asuh yang tidak benar sehingga pendidikan gizi ini bertujuan untuk menurunkan
jumlah anak yang kurang gizi dengan perubahan perilaku.
• Pada saat kegiatan, orangtua/pengasuh belajar perilaku positif bersama-sama dan
mempraktekkannya di rumah.
• Kegiatan sangat membutuhkan dukungan dari aparat desa, LPM, PKK, BPD dan
masyarakat.
• Memanfaatkan bahan yang tersedia di rumah/sekitar untuk makanan anak (bisa
dibeli dengan harga terjangkau, atau diperoleh dari kebun/pekarangan, dll).
• Penyediaan bahan makanan pada waktu sesi pendidikan dan perbaikan gizi
ditanggung bersama oleh keluarga peserta dan masyarakat.
Posyandu sebagai tempat pendidikan untuk Pasangan Usia Subur dan ibu hamil
Ketidaktahuan para pasangan usia subur dan ibu hamil dalam kesehatan
reproduksi dan kesehatan pada saat kehamilan serta pentingnya pertolongan persalinan
oleh tenaga kesehatan merupakan faktor yang ikut berkontribusi pada angka kematian
ibu dan anak. Untuk mencegah dan mengurangi ketidaktahuan ini posyandulah yang
berperan aktif memeranginya.Melalui kegiatan kelompok ibu hamil yang dikembangkan, semua ibu hamil dapat kita jangkau melalui promosi kesehatan khusus mengenai permasalahan kehamilan.Disinilah peran serta dari bidan desa, kader dan dukun terlatih ikut andil dalam kegiatan ini. Kegiatan ini juga akan mendorong suatu kerjasama yang dinamis antara bidan desa, kader dan dukun paraji terlatih dalam menangani persalinan. Diharapkan dari kegiatan ini adalah perubahan perilaku dari masyarakat terutama dalam penanganan persalinan oleh tenaga kesehatan.
            Dalam kegiatan Posyandu Plus, peningkatan kapasitas kader terutama dalam hal
memfasilitasi bidang kesehatan sangat diperlukan karena kaderlah yang akan berperan
aktif dalam perwujudan Posyandu Plus ini. Selain itu, bidan desa dan puskesmas
berkewajiban membantu dalam peningkatan kapasitas kader, monitoring kegiatan dan
ikut terlibat dalam menjalankan kegiatan Posyandu Plus ini. Peran serta masyarakat
sekitar posyandu pun sangat membantu sekali dalam proses perjalanan kegiatan
sehingga diharapkan Posyandu Plus ini dapat berkelanjutan dengan baik. Pada intinya
posyandu Plus ini bertujuan untuk perubahan perilaku kesehatan pada masyarakat
sehingga derajat kesehatan masyarakat pun ikut meningkat.Sudah saatnya sekarang
pemberdayaan masyarakat disetiap kegiatan harus diutamakan, masyarakat harus
dilibatkan dalam setiap kegiatan dan kontribusi dari masyarakat harus benar-benar digali karena kita yakin masyarakat kita adalah masyarakat yang mampu dalam segala hal apalagi didukung oleh potensi sumber daya yang ada.Mulyana, S.KM Konsultan Manajemen Kabupaten Bidang Kesehatan Program P2DTK (Program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus) Kabupaten Flores Timur – Nusa Tenggara Timur.


                                                                    BAB III
                                                            PEMBAHASAN
3.1 Pokok bahasan
Posyandu bersumber dari masyarakat, pemerintah tetap ikut andil terutama dalam hal penyediaan bantuan teknis dan kebijakan.Kebijakan terkait posyandu terbaru adalah Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah tertanggal 13 Juni 2001 tentang Pedoman Umum Revitalisasin Posyandu.Salah satu indikator keberhasilan revitalisasi posyandu adalah meningkatnya status gizi anak sehingga jumlah anak yang berat badannya tidak naik semakin menurun.Kasus kurang gizi dan gizi buruk terkadang sulit ditemukan di masyarakat, salah satu penyebabnya adalah karena si ibu tidak membawa anaknya ke pusat pelayanan kesehatan.Akibatnya bermunculan berbagai kasus kesehatan masyarakat bermula dari kekurangan gizi yang terlambat terdeteksi pada banyak balita seperti diarae, anemia pada anak, dan lain-lain di beberapa provinsi di Indonesia.Kondisi ini juga ternyata melanda provinsi DKI Jakarta pada sekitar awal tahun 2005.
Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia masih cukup tinggi. Menurut Survei Kesehatan Demografi Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003 AKI untuk periode tahun 1998-2002, adalah sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) terjadi turun naik. Tahun 1997 AKB mencapai 46 per 1000 kelahiran hidup, kemudian tahun 2002 menurun menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup, kemudian tahun 2002 menurun menjadi 35 per 1000 kelahiran hidup (SDKI, 2002).
            Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI melalui Surat Nomor: 443/1334/SJ tanggal 8 Juni 2005, tentang program-program kesehatan dasar dan penyakit menular antara lain meminta untuk segera melakukan revitalisasi dan optimalisasi Posyanda. Dalam surat tersebut, mendagri agar pemerintah provinsi segera mengembangkan langkah-langkah kegiatan antara lain meningkatkan kualitas kemampuan dan keterampilan kade, meningkatkan pemenuhan kelengkapan sarana dan prasarana, meningkatkan fungsi pendampingan dan kualitas pembinaan, serta meningkatkan peranserta masyarakat, kemitraan dengan swasta dan dunia usaha.

Dari uraian diatas maka Program revitalisasi posyandu mempunyai tujuan agar terjadi peningkatan fungsi dan kinerja posyandu, dengan kegiatan utama adalah
1) pelatihan, untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas kader.
2) pelayanan, mencakup pelayanan lima program prioritas yang merupakan paket minimal dengan sasaran khusus balita dan ibu hamil serta menyusui dan;
3) penggerakan masyarakat.
Sedangkan kegiatan posyandu meliputi :
4 kegiatan posyandu (Panca Krida Posyandu)
1. Kesehatan ibu dan anak
2.Keluarga berencana
3.Imunisasi Peningkatan gizi
4. Penanggulangan diare


kegiatan posyandu (Sapta Krida Posyandu) :
1. Kesehatan ibu dan anak
2. Keluarga berencana
3.Imunisasi
4.Peningkatan gizi
5.Penanggulangan diare
6.Sanitasi dasar
7. Penyediaan obat esensial

Alasan Pendirian Posyandu antara lain :
1. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatan khususnya dalam upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan pelayanan KB
2. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana.

Penyelenggaraan posyandu meliputi :
1. Pelaksanaan kegiatan
Adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan puskesmas.
2. Pengelola posyandu
Adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal dari kader PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta kader kesehatan yang ada di wilayah tersebut. Lokasi
     1.Berada di tempat yang mudah didatangi oleh masyarakat
     2. Ditentukan oleh masyarakat iu sendiri
     3. Dapat merupakan lokal tersendiri
     4. Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan di rumah penduduk, balai rakyat, pos RT/RW

Pelayanan kesehatan yang dijalankan antara lain :
1. Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita.
      a. Penimbangan bulanan
      b. Pemberian tambahan makanan bagi yang berat badannya kurang
      c. Imunisasi bayi 3-14 bulan
      d. Pemberian oralit untuk mengurangi diare
      e. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama.
2. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur.
     a. Pemeliharaan kesehatan umum
     b. Pemeriksaan kehamilan dan nifas  
     c. Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah
     d. Imunisasi TT untuk ibu hamil
     e. Penyuluhan kesehatan dan KB
     f. Pemberian alat kontrasepsi KB
     g. Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare
     h. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama
     i. Pertolongan pertama pada kecelakaan

Ada Sistem Lima Meja untuk mendukung pelaksanaan posyandu :
1. Meja I
    a. Pendaftaran
    b. Pencatatan bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur.
2. Meja II
    Penimbangan balita, Ibu hamil
3. Meja III
    Pengisian KMS 
4. Meja IV
a. Diketahui berat badan anak yang naik/tidak naik, ibu hamil dengan resiko tinggi, PUS yang belum mengikuti KB
b. Penyuluhan kesehatan
c. Pelayanan TMT, oralit, vitamin A, tablet zat besi, pil ulangan, kondom
5. Meja V
   a. Pemberian imunisasi  
   b. Pemeriksaan kehamilan
  c. Pemeriksaan kesehatan dan pengobatan          
   d. Pelayanan kontrasepsi IUD, suntikan
Untuk meja I sampai IV dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh   petugas kesehatan diantaranya : dokter, bidan, perawat, juru immunisasi dan sebagainya.


3.2 Masalah yang terdapat pada Posyandu
Penentu keberhasilan pembangunan kesehatan dan tidak terpisahkan dari pembangunan nasional secara keseluruhan.Hal ini tercemin pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari umur harapan hidup, tingkat melek huruf dan pendapatan per kapita. IPM yang rendah antara lain dipengaruhi oleh status gizi dan kesehatan yang berdampak pada tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu. Status gizi pada anak menentukan pembangunan nasioanal karena anak merupakan generasi yang akan melanjutkan pembangunan ini. Kalau status gizi anak tidak baik, ini akan berpengaruh terhadap kondisi fisik dan psikologis pada anak tersebut. Masalah gizi pada anak sering kita lihat dan dengar dari berbagai media seperti masalah gizi buruk (marasmus maupun kwasiokor), gizi kurang (kekurangan zat mikro maupun makro) maupun gizi lebih (obesitas).
Penanganan dan penanggulangan terhadap masalah ini butuh kefokusan dan keseriusan dari semua stakeholder karena masalah ini bukan masalah anak itu sendiri, melainkan masalah bersama yang harus diselesaikan segera.Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberdayakan masyarakat mealui Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).Posyandu dan Kegiatannya Kata posyandu dalam masyarakat sudah sering kita dengar dan kita lihat dalam pelaksanaannya setiap bulan.Namun pelaksanaan posyandu hanya sebatas rutinitas yang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat. Padahal kalau kita lihat sendiri makna posyandu adalah salah satu usaha kesehatan yang bersumberdaya masyarakat(UKBM). Hal ini disebabkan karena dalam pelaksanaan posyandu tersebut yang banyak terlibat itu adalah kader, yang sudah dipilih dan ditunjuk oleh masyarakat.Sehingga posyandu itu bisa dikatakan miliknya masyarakat.
Pada hari buka posyandu dilakukan pelayanan masyarakat dengan system lima meja yang menunjuk pada jumlah dan jenis pelayanan dimana pelayanan tersebut dilakukan secara terpisah. System 5 meja yaitu meja I bagian pendaftaran, meja II bagian penimbangan, meja III bagian pengisian kartu menuju sehat (KMS), meja IV bagian penyuluhan berdasarkan KMS dan meja V bagian pelayanan KB dan Kesehatan. Meja I sampai meja IV dilakukan oleh kader dan meja V oleh petugas kesehatan.Posyandu upaya Preventif Masalah Gizi Anak Kalau kita dilihat dari kegiatan di posyandu, dapat kita jadi posyandu sebagai upaya preventif/pencegahan masalah gizi pada anak yaitu melalui kegiatan setiap meja I sampai meja IV. Pertama, memsosialisai dan mengajak masyarakat, keluarga yang punya anak untuk datang ke posyandu membawa anaknya dan mendaftarkannya pada meja I. Kedua , anak yang datang lalu ditimbang sesuai dengan ukuran anaknya di meja II, ketiga, hasil timbangan tadi diisikan dalam KMS dan buku registrasi miliki posyandu. Pada meja III ini kader sudah mengindentifikasi anak apakah status gizi anak ada masalah atau tidak, kalau berat badan anak tidak sesuai dengan standar maka kader mengarahkan ibu untuk berkonsultasi dengan kader yang dimeja IV. Keempat, ibu yang yang memiliki masalah berat badan, seorang kader akan memberikan penyuluhan dan pendidikan kepada ibu untuk member anak dengan makanan bergizi sehingga bulan berikutnya berat badan anaknya naik dan untuk ibu yang berat badan anak yang normal tetap diberikan peyuluhan untuk mempertahankan berat badan anaknya.





BAB IV
PENUTUP

4.1  Simpulan
1. Pos pelayanan terpadu merupakan kegiatan yang telah dilakukan oleh masyarakat dalam bentuk pos Timbangan, PMT, Pos kesehatan dan sebagainya, dengan motifasi baru yang merupakan bentuk operational dari pendekatan strategis keterpaduan 5 program atau KB kesehatan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian bayi, balita, penurunan angka fertilitas dalam rangka mempercepat terwujudnya norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS)
2. Peranan lintas sektoral dan lintas program berpengaruh dalam keberhasilan pos pelayanan terpadu
3. Peningkatan peran serta aktif masyarakat akan meningkatkan daya guna dan hasil guna posyandu
4. Alih teknologi, swakelola masyarakat merupakan aspek dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

4.2  Saran
1. Tenaga Kesehatan Khususnya Bidan di Komunitas
Diharapkan kepada bidan yang langsung sebagai pembina di posyandu dapat memberikan pelayanan yang bermutu di posyandu dan dapat bekerja sama dengan lintas sektor membuat program inovatif sehingga posyandu diminati masyarakat dan menganggapnya sebagai kebutuhan untuk alat pemantau kesehatan balita mereka.
2. Lintas Sektoral Diharapkan kepada lintas sektor agar lebih aktif bekerja sama dengan lintas balita yang sehat dan bermutu.
3. Masyarakat
Diharapkan partisipasi aktif masyarakat untuk aktif menjalankan posyandu, karena posyandu adalah milik masyarakat itu sendiri.
4. Kader = Diharapkan keikhlasan kader agar mau secara suka rela mengabdikan diri di posyandu demi suksesnya program posyandu tanpa memandang imbalan jasa.

 
DAFTAR PUSTAKA


Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2006.Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Jakarta.
Notoatmojo.2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta : Jakarta.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar